Claim Missing Document
Check
Articles

Pembentukan Konselor Teman Sebaya dalam upaya preventif perilaku kekerasan pada remaja di SMP negeri 1 Pangandaran Nur Oktavia Hidayati; Mamat Lukman; Aat Sriati; Efri Widianti; Habsyah Safaridah Agustina
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.548 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v6i2.14861

Abstract

Remaja adalah kelompok beresiko mengalami masalah kesehatan, sesuai tahap perkembangannya, remaja berada pada masa transisi, pencarian identitas diri. Perilaku kekerasan merupakan salah satu masalah remaja yang menjadi fenomena akhir-akhir ini, seperti halnya tawuran, pendurungan (bullying) yang apabila tidak tertangani dengan akan membahayakan masa depan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Tujuan dari pengabdian pada masyarakat ini adalah membentuk konselor teman sebaya yang diharapkan nantinya mempunyai peran bagi teman sebayanya dalam membantu memberikan alternatif pemecahan masalah remaja khususnya dilingkugan sekolah dan sekitarnya pada umumnya. Metode yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan bagaimana mempersiapkan siswa untuk menjadi konselor sebaya bagi teman-teman sebayanya. Luaran yang dihasilkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah peningkatan pengetahuan dan pemahaman siswa dalam permasalahan remaja serta terbentuknya konselor teman sebaya. Kegiatan ini dihadiri oleh 11 siswa perwakilan dari setiap kelasnya. Hasil kegiatan terjadi peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam memahami materi dan terbentuknya 11 konselor sebaya. Melalui program pembentukan konselor sebaya ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan remaja yang terjadi di lingkugan sekolah ataupun sekitarnya.  
Efek Spiritual Emotional Freedom Techniqueterhadap Cemas dan Depresi, Sindrom Koroner Akut Derison Marsinova Bakara; Kusman Ibrahim; Aat Sriati
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.89 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v1i1.51

Abstract

Sindrom koroner akut (SKA) merupakan penyakit jantung penyebab kematian. Gejala depresi, kecemasan, dan stres meningkat pada pasien SKA. Gejala ini dapat memengaruhi proses pengobatan dan penyembuhan serta menimbulkan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh SEFT terhadap penurunan gejala depresi, kecemasan, dan stres pada pasien SKA yang dirawat di ruang rawat intensif jantung. Rancangan penelitian menggunakan quasi eksperimen, teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling,sebanyak 42 orang. Penetapan jumlah responsden untuk kontrol dan kelompok intervensi menggunakan number ramdom trial, sehingga ditetapkan kelompok intervensi berjumlah 19 responsden dan untuk kelompok kontrol berjumlah 23 responsden. Kelompok intervensi dan kelompok kontrol diukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres mengunakan kuesioner The Depression Anxiety Stres Scales 21(DASS 21) kemudian pada kelompok intervensi diberikan intervensi SEFT satu kali selama 15 menit dan diukur kembali tingkat depresi, kecemasan, dan stres pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Data dianalisis dengan Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil menunjukkan perbedaan yang bermakna antara tingkat depresi, kecemasan, dan stres sebelum dan sesudah intervensi SEFT antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p<0.05). Intervensi SEFT membantu menurunkan depresi, kecemasan, dan stres pada pasien SKA.Kata kunci:Depresi, intervensi SEFT, kecemasan, stres AbstractAcute coronary syndrome (ACS) is a cause of heart disease deaths. Symptoms of depressi on anxiety, and stres is increased in patients with ACS. These symptoms may affect treatment and healing processand cause complications. This study aims to determine the effect of intervention Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) to decrease depression, anxiety, and stres in patients with ACS who were treated in the cardiac intensive care unit. The research design was quasi-experimental, and using consequtive sampling as sampling technique, 42 responsdents were divided into intervention and control groups. Determination the number of responsdents for the control and intervention groups using a number ramdom trial, 19 responsdents intervention group and 23 responsdents the control group. Intervention group and control group measure levels of depression, anxiety, and stres using questionnaires The Depression Anxiety Stres Scales 21 (DASS 21) later in the intervention group was given SEFT intervention once for 15 minutes and measured return rates of depression, anxiety, and stres in the intervention group and the control group. Data were analyzed with the Wilcoxon and Mann Whitney. Results show significant differences between levels of depression, anxiety, and stres before and after the intervention SEFT between the intervention group and the control group (p<0.05). SEFT interventions help reduce depression, anxiety, and stres in patients with ACS. Limitations of this study is the difficulty in controlling the characteristics of the responsdents as a confounding variable. This research benefits that SEFT interventions can be used to reduce depression, anxiety, and stres in patients with ACS, and can be consider as one intervention.Key words: Anxiety, depression, stres, SEFT Intervention
Tingkat Kemandirian Pasien Mengontrol Halusinasi setelah Terapi Aktivitas Kelompok Dwi Handayani; Aat Sriati; Efri Widianti
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.78 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v1i1.52

Abstract

Halusinasi merupakan gejala positif yang paling sering dialami oleh pasien dengan gangguan jiwa. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi merupakan bagian dari terapi modalitas yang diberikan pada pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi dengan tujuan tercapainya kemandirian pasien. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu melihat gambaran tingkat kemandirian pasien dalam mengontrol halusinasi setelah mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi. Sebanyak 42 orang menjadi responsden dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Proses pengumpulan data menggunakan metode observasi, yang dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh numerator. Analisis data dengan persentase dan dideskripsikan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat kemandirian pasien dalam mengontrol halusinasi setelah mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah supportive28,6%, partially 61,9%, dan wholly9,5%. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar tingkat kemandirian pasien adalah partiallysehingga perlu dikembangkan strategi-strategi dalam upaya peningkatan kinerja perawat dalam pelaksanaan tindakan keperawatan sehingga dapat menumbuhkan kemandirian pasien.Kata kunci: Halusinasi, tingkat kemandirian, terapi aktivitas kelompok, stimulasi persepsi AbstractHallucinations are positive symptoms most commontly experienced bypatients with psychiatric disorders. Perceptual stimulation therapy group activities are part of the therapeutic modalities that are given to patients with schizophrenia who experienced hallucinations in order to achieve independence of patient. This is a descriptive study which saw the picture of the level of independence of the patients in the control hallucinations after following stimulation group activity. The sampling technique used was consecutive sampling, in which 42 people were interviewed. The process of data collection using the method of observation, which in practice researchers assisted by the numerator. Analysis of the data with the percentage and frequency distribution are described in the table. The result showed that the level of independence of patient hallucinations in controlling halluciantions after following stimulation group activity therapy activity perception is supportive 28.6%, partially 61,9%, and wholly 9,5%. Based on the findings that majority of patients a level of independence that is partially, developed strategies necessary in an effort to increase the performance of nurses in the implementation of nursing actions that can foster patient independence.Key words:Level of independence, hallucination, therapeutic group activity stimulation perception
Analisis Dukungan Psikososial yang dibutuhkan Keluarga dengan Anak yang mengalami Kekerasan Seksual Lia Novianty; Suryani Suryani; Aat Sriati
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 3 No. 3 (2015): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.003 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v3i3.115

Abstract

Angka kekerasan seksual pada anak saat ini cukup tinggi baik di Indonesia maupun di dunia. Masalah yang dihadapi oleh anak yang mengalami kekerasan seksual bukan hanya masalah fisik, tetapi juga masalah psikologis dan sosial yang akan ditanggungnya seumur hidup. Masalah psikososial yang dialami oleh anak korban kekerasan seksual juga ikut dirasakan oleh keluarga. Masalah psikososial yang muncul pada keluarga dapat berupa stres pasca trauma, disfungsi keluarga, kecemasan dan depresi, oleh karena itu keluarga sangat memerlukan dukungan psikososial. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis berbagai dukungan psikososial yang dibutuhkan keluarga meliputi dukungan emosional, penghargaan, instrumental dan informasi. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang memiliki anak korban kekerasan seksual di Kota Sukabumi sebanyak 35 responden dengan pengambilan sampel menggunakan total sampel. Alat pengumpul data menggunakan kuesioner yang dibuat sendiri oleh peneliti serta sudah melalui content validity, uji validitas dengan rentang nilai p-value 0,00-0,17, dan uji reliabilitas dengan nilai r 0.75. Analisa data menggunakan metode RASCH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan psikosisial yang paling dibutuhkan oleh keluarga adalah dukungan penghargaan. Dukungan penghargaan memiliki nilai measure 0.72, dukungan emosional dengan nilai 0.01, dukungan instrumental -0.37 dan dukungan informasi -0.37. Simpulan penelitian adalah keluarga membutuhkan semua dukungan psikososial dan dukungan penghargaan merupakan dukungan yang paling dibutuhkan. Pihak P2TP2A mampu memberikan dukungan emosional, penghargaan, informasi maupun instrumental pada kelurga. Dan untuk pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan kolaborasi yaitu dengan membentuk Community Mental Health Nursing, dan dapat membangun kebijakkan untuk mengatasi stigma masyarakat terkait dengan kekerasan seksual.Kata kunci: Dukungan psikososial, kekerasan seksual anak, keluarga. Psychosocial Supports for Families of Children who have been Sexually AbusedAbstractProblems encountered by children who suffered from sexual abused involve multi-dimensional issues such as physical, psychological and social. Their families may also experience problems such as post- traumatic stres, family dysfunction, anxiety and depression. Thus, psychosocial support is needed to overcome these negative consequences. This study aimed to analyze a variety of psychosocial support needed by family includes emotional support, respect, instrumental and information. A descriptive explorative study was conducted involving 35 family members from children as victims of sexual abuse recruited using total sampling technique. Data were collected using modified questionnaire (r=0.75) then analysed using RASCH. The results showed that family needs esteem support as the most required support (r = 0.72) followed by emotional support (r=0.01), instrumental support (r=0.37) and information support (r=0.37). It is concluded that psychosocial support and esteem support are needed by most families. Thus, P2TP2A is thus expected to provide emotional, esteem support, information and instrumental in the family. Finding suggests local governments need to conduct collaboration for establishing community mental health nursing services, and make such policy to overcome social stigma associated with sexual abuse.Key words: Children, family, psychosocial support, sexually abused victim.
Pengaruh Sentuhan Spiritual Quantum terhadap Nyeri Saat Perubahan Posisi pada Pasien Paska Operasi di Ruang Perawatan Intensif Ani Haryani; F Sri Susilaningsih; Aat Sriati
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 4 No. 3 (2016): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.695 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v4i3.288

Abstract

Pasien paska operasi besar berisiko mengalami komplikasi yang mengancam kehidupan. Mobilisasi dinimerupakan salah satu prosedur untuk mencegah komplikasi tersebut, namun mobilisasi menyebabkan peningkatannyeri. Sentuhan Spiritual Quantum (SSQ) merupakan intervensi komplementer berbasis biofield energy yangtelah banyak digunakan pada praktik keperawatan untuk mengurangi nyeri post operasi. Tujuan penelitianini adalah untuk mengetahui pengaruh SSQ terhadap nyeri saat miring kiri kanan pada pasien paska operasi.Desain penelitian adalah pre-eksperimental one group pretest-post test design. Jumlah sampel dalam penelitianadalah 18 orang yang didapat melalui purposive sampling. Intensitas nyeri diukur dengan menggunakan NumericRating Scale (0-10). Analisis data menggunakan wilcoxon test untuk mengetahui perbedaan intensitas nyeri padapengukuran pre dan post test. Hasil penelitian menunjukkan nilai median intensitas nyeri saat istirahat adalah 5,posisi miring tanpa SSQ adalah 8, posisi miring setelah SSQ1 adalah 5,5 dan miring setelah SSQ 2 adalah 5. Terjadipenurunan yang bermakna saat miring setelah SSQ1(p=0,001) dan SSQ2. SSQ dapat menjadi alternatif bagiperawat di area keperawatan kritis dalam manajemen nyeri non farmakologis untuk meningkatkan kemampuanmobilisasi. Diperlukan penelitian lanjutan menggunakan sampel yang lebih besar dan kasus yang lebih bervariasi.
Pengaruh Terapi Psikoedukasi Keluarga terhadap Self Efficacy Keluarga dan Sosial Okupasi Klien Schizophrenia Rina Kartikasari; Iyus Yusep; Aat Sriati
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1366.765 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i2.450

Abstract

Klien schizophrenia mengalami penurunan kemandirian dalam perawatan diri, fungsi sosial, sehingga membutuhkan bantuan keluarga. Self efficacy dapat memengaruhi keyakinan keluarga ketika merawat klien schizophrenia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi psikoedukasi keluarga terhadap self efficacy keluarga dan sosial okupasi klien schizophrenia di Kecamatan Kersamanah Garut. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan pre-post test with control group. Populasi yaitu keluarga yang merawat (caregiver) klien schizophrenia di Desa Nanjungjaya, Sukamaju, Mekaraya, Sukamerang dan Girijaya. Jumlah sampel 32 responden dibagi menjadi kelompok kontrol (16) dan intervensi (16), Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sample. Pada kelompok intervensi dilakukan terapi psikoedukasi keluarga, kemudian sebelum dan sesudah intervensi dilakukan pengukuran self efficacy keluarga dan sosial okupasi klien schizophrenia. Kelompok kontrol tidak diintervensi, hanya mendapat pendidikan kesehatan dengan metode ceramah tentang perawatan klien schizophrenia. Penelitian menggunakan Perceived Collective Family Efficacy Quisioner dan Social Occupational Functioning Assessment Scale. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan bermakna self efficacy keluarga dengan sosial okupasi klien schizophrenia setelah diberikan terapi psikoedukasi p<0,05) dan terdapat perbedaan perubahan bermakna pada kelompok kontrol dan intervensi (p<0,05). Peneliti merekomendasikan penggunaan terapi psikoedukasi keluarga sebagai terapi modalitas pada keluarga yang merawat klien schizophrenia.Kata kunci: Keluarga, okupasi, psikoedukasi, self efficacy, schizophrenia. The Influence of Family Psychoeducation Therapy on Self Efficacy Family And Social Occupations Schizophrenia’s ClientsAbstractSchizophrenic clients have decreased in self-sufficiency in self-care, social functions,and thus those clients require family assistance. Self-efficacy, in this matter, can affect family beliefs when taking care the schizophrenic clients. Therefore, the study aims to determine the influence of family psychoeducation therapy on family self-efficacy and social occupation of schizophrenic clients in Kersamanah sub-district, Garut. The research method used is quasi experiment with pre-test and posttest with control group. The population is the caregiver family of schizophrenic clients in Nanjungjaya, Sukamaju, Mekaraya, Sukamerang and Girijaya villages. The sample size of 32 respondents are divided into control group (16) and intervention group (16), sampling technique used is quota sample. In the intervention group, family psychoeducation therapy is performed before and after the intervention (treatment), measuring the family self-efficacy and social occupation of schizophrenic clients. The control group is not intervened, they only received a health education with a lecture method on how to take care of a schizophrenic client. The study used the Perceived Collective Family Efficacy Quisioner and Social Occupational Functioning Assessment Scale. The results show that there are significant changes in family self-efficacy with social occupational schizophrenia patients after psychoeducation therapy aplllied p <0.05) and there are significant differences in control and intervention group of (p <0.05). Thus, the researcher recommends to use of family psychoeducation therapy as a modal therapy in families to treat their schizophrenic family.Keywords: Family, occupational, psychoeducation, self-efficacy, schizophrenia.
Terapi Murottal Efektif Menurunkan Tingkat Nyeri Dibanding Terapi Musik pada Pasien Pascabedah Eldessa Vava Rilla; Helwiyah Ropi; Aat Sriati
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 17 No 2 (2014): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v17i2.444

Abstract

 Tindakan pembedahan dapat menimbulkan nyeri dan perubahan tanda-tanda vital. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbandingan efektivitas terapi musik dan terapi murottal terhadap penururunan tingkat nyeri dan kestabilan tanda-tanda vital pada pasien pascabedah. Penelitian kuasi eksperimen dengan pendekatan Pretest-Posttest Control Group ini melibatkan 36 responden. Pengukuran tingkat nyeri menggunakan Numerik Rating Scale. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara terapi murottal dan terapi musik pada penurunan tingkat nyeri. Rerata penurunan nyeri pada kelompok terapi murottal lebih besar dibandingkan dengan penurunan nyeri dengan pada kelompok terapi musik. Akan tetapi, penelitian ini tidak menemukan perbedaan pada kestabilan tanda-tanda vital antara kelompok yang diberikan terapi murottal dan terapi musik. Terapi murottal dapat menjadi pertimbangan sebagai terapi non farmakologis untuk menurunkan tingkat nyeri pada pasien muslim setelah tindakan pembedahan. Abstract Murottal Therapy Reduces Pain Level Effevtively Compare to Music Therapy on the Post Surgery Patients. Surgery causes painful and vital signs alteration. The objective of this study was to compare the effectiviness of music therapy and murottal therapy on reducing of the pain level and stability of vital signs in post surgery patiens. This quasi experimental with pretest-posttest control group study involved 36 respondents. Numeric Rating Scale was used to measure pain level. The result showed that there was significantly difference between murottal therapy and music therapy in reducing pain level. The average of pain level on murottal therapy group was higher than pain level in the music therapy group. On contrary, there no diffirence on average of vital signs stability of both murottal dan musc therapy groups. The murottal therapy should considere as non-pharmacologic measures to reduce pain level in post-surgery patients. Keywords: Murottal therapy, music therapy, pain, post-surger, vital signs stability
Faktor faktor yang memengaruhi cyberbullying pada remaja: A Systematic review Heni Aguspita Dewi; Suryani Suryani; Aat Sriati
Journal of Nursing Care Vol 3, No 2 (2020): Journal of Nursing Care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.15 KB) | DOI: 10.24198/jnc.v3i2.24477

Abstract

Cyberbullying adalah bentuk intimidasi yang dilakukan melalui teknologi informasi dan komunikasi, terutama internet dan telepon seluler. Bagi remaja, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga remaja berpotensi untuk terlibat dalam cyberbullying. Banyak faktor yang bisa mendukung keterlibatan remaja dalam cyberbullying. Tujuan penelitian ini adalah untuk mereview berbagai faktor yang berhubungan dengan cyberbullying pada remaja. Metode penelitian : pencarian sistematik artikel penelitian terpublikasi dilakukan di tiga database yaitu ProQuest, PubMed dan Ebsco. Ketiga database dipilih dengan pertimbangan bahwa ketiganya merupakan database yang kredibel untuk memilih artikel berbahasa Inggris yang relevan dalam rentang tahun 2014-2019, dengan mengunakan kombinasi kata kunci : ‘factors’ AND ‘cyberbullying’ AND ‘Adolescents’ OR ‘Teenagers’ OR ‘young adults’. Kemudian didapatkan 489 artkel dan dipilih lima belas artikel untuk dianalisis. Hasil penelitian : didapatkan lima faktor yang mempengaruhi cyberbullying pada remaja yaitu faktor individu diantaranya pengalaman kekerasan, persepsi, gander, usia, kontrol psikologis, dan penggunaan zat adiktif. Faktor keluarga meliputi pola asuh, dukungan keluarga, dan stress orang tua. Faktor teman berupa dukungan. Faktor sekolah yaitu jenis sekolah. Faktor terakhir yaitu penggunaan internet berupa intensitas dan kompetensi media etis. Kesimpulannya : kelima faktor tersebut dapat memengaruhi keterlibatan remaja dalam cyberbullying baik sebagai pelaku maupun korban. Penelitian lanjut diharapkan dapat melakukan analisis faktor-faktor cyberbullying pada remaja sehingga diharapkan dapat mencegah dan dapat melakukan intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah cyberbullying.
Tingkat Kecanduan Media Sosial pada Remaja Rizki Aprilia; Aat Sriati; Sri Hendrawati
Journal of Nursing Care Vol 3, No 1 (2020): Journal of Nursing Care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1267.85 KB) | DOI: 10.24198/jnc.v3i1.26928

Abstract

Aktivitas penggunaan media sosial di Indonesia didominasi oleh kalangan remaja. Media sosial memberikan dampak negatif pada remaja, salah satunya adalah kecanduan. Hal tersebut dikarenakan dapat mengganggu berbagai kegiatan, diantaranya belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecanduan media sosial pada remaja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah siswa-siswi SMAS Plus Al-Falah kelas X, XI dan XII yang tinggal bersama orang tua sejumlah 72 siswa. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen yang dibuat oleh Sahin (2018) dan dianalisis dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja atau sebanyak 51,4% mengalami kecanduan media sosial tingkat rendah, sedangkan hampir setengah dari remaja atau sebanyak 48,6% mengalami kecanduan media sosial tingkat tinggi. Kecanduan media sosial pada remaja penting untuk segera diatasi agar tidak semakin mengalami peningkatan. Oleh karena itu, disarankan bagi pihak sekolah untuk bekerjasama dengan perawat jiwa terkait pencegahan pada kecanduan media sosial yaitu dengan memberikan pendidikan kesehatan mengenai penggunaan media sosial yang baik dan dampak negatif kecanduan media sosial. Sedangkan, penanganan yang dapat dilakukan bagi remaja yang mengalami kecanduan media sosial tingkat tinggi yaitu dengan memberikan terapi CBT pada remaja.
Efektivitas Hipnoterapi sebagai Intervensi untuk Mengurangi Stres pada Remaja: Studi Literatur Azka Aflahatinufus; Aat Sriati; Iwan Shalahuddin
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 10, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.10.2.2022.245-256

Abstract

Remaja lebih rentan mengalami stres dibandingkan kelompok usia lainnya karena sedang mengalami masa transisi dari anak-anak ke dewasa. Kejadian stres ini harus ditangani dengan baik sebelum berdampak negatif pada fisik dan psikologis. Salah satu intervensi yang dapat menurunkan stres adalah hipnoterapi. Tujuan review ini untuk mengetahui efektivitas hipnoterapi sebagai intervensi dalam mengurangi stres pada remaja. Metode: Metode review yang digunakan adalah narrative review. Pencarian artikel menggunakan PubMed, EBSCO, dan Google Scholar. Kriteria artikel yang digunakan adalah artikel mengenai hipnoterapi untuk mengurangi stres pada remaja, tahun terbit 2000 –2020, berbahasa Inggris atau Indonesia, dan artikel full text. Artikel yang telah disortir, dianalisis, dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil: Didapatkan tujuh artikel yang termasuk kedalam kriteria. Hasil literatur menunjukkan bahwa hipnoterapi efektif untuk mengurangi stres pada remaja. Hal tersebut signifikan berdasarkan hasil uji statistik setiap artikel, dengan nilai p value: 0,000; < 001; < 01; dan < 0,02. Tujuh artikel ini menggunakan teknik hipnoterapi yang berbeda – beda. Kesimpulan: Hipnoterapi terbukti efektif dalam mengurangi stres pada remaja.
Co-Authors Afriliani, Anne Cintya Agiesta Sephya Shobarina Agustina, Habsyah Safaridah Ahmad Gimmy Prathama Siswadi Ahmad Yamin Ahmad Yamin AI MARDHIYAH, AI Algia Nuruliani Andri Nugraha Andri Nugraha, Andri Andriani, Wulan Selvia Andrini, Nadia Putri Ani Haryani Annisa Khaerera Annisa, Vena Arumsari, Dinda Piranti Atmadiyanti, Ayu Lita Ayu Lita Atmadiyanti Ayu, Rahadiani Azka Aflahatinufus Azzahra Salsabila B.M.L, Valentina Bakti, Sarah Kusumah Cecep Eli Kosasih Chaerani, Aisha Chandra Isabella Hostanida Purba Chatarina Suryaningsih Damar Irza Derison Marsinova Bakara Dewi Amir, Mayasyanti Dewi, Heni Aguspita DEWI, SANG AYU MADE SRI UTAMI Dian Dewi Novianty Dwi Handayani Efri Widianti Eldessa Vava Rilla Elfani, Karisha Citra Ema Arum Rukmasari Emma Aprilia Hastuti Etika Emaliyawati F Sri Susilaningsih Fernandes, Intan Agusti Fifi Siti Fauziah Yani Fitri Aulia Habsyah Safaridah Agustina Hadi Suprapto Arifin Hana Rizmadewi Agustina Hartinah, Siti Hasanah, Ulung Hastuti, Hediati Helwiyah Ropi Hendrawati H Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hikmat, Rohman Iceu Amira Iceu Amira Iceu Amira D.A Iceu Amira DA Ikeu Nurhidayah Imas Maesaroh Imas Rafiah Imas Rafiyah Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana` Indra Maulana Iskandarsyah, Aulia Iwan Shalahuddin Iyus Yosep Iyus Yusep Khairunnisa, Nisrina Hasna Khoirunnisha, Naylla Kombong, Rita Kosim Kosim Kuntari, Retyan Rahmi Kurnia, Ihsan Kusman Ibrahim Latuheru, Jerwilsem Andrulin Lia Novianty Mahali, Nia Ainun Nadina Mamat Lukman Maria komariah Mediawati, Ati Surya Muhammad Luthfi Mutiara Syagitta, Mutiara Nandi Prima Yuda Nazhifah, Alifa Niara, Kinaya Vathia Zalva Nina Sumarni Nita Fitria Novianty, Dian Dewi Nur Oktavia Hidayati Nur Oktavia Hidayati Nurmansyah, Andri Nurmansyah, Donny Nursyafaat, Anastia Nurul Aeni Pamuji, Fajar Galih Puspowati, Ni Luh Nyoman Sri Putri, Khansa Aisah Rahayu, Kusila Devi Rahmawati, Nur Rini Ratu Nurafni Rina Kartikasari Rini Aprianti Rinjani, Santi Rizka Aisyah Rizki Aprilia Rizki Muliani Rossa, Nikita Sari, Lia Septiani, Nurul Serenity, Kinar Shivji, Noureen Asif Siti Rahmawati Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Siti Yuyun Rahayu Fitri Siti Zulva Sri Hendrawati Sukma Senjaya Suryani S Suryani Suryani Suryani Suryani Suryani Suryani Taty Hernawati Taty Hernawati Taty Hernawati, Taty Taty Hernawaty Theresia Eriyani Titin Sutini Tuti Pahria Udin Rosidin Uluwiyya, Rahma Ummi Kulsum, Dewi utomo, shella Valentina B.M.L Windy Rakhmawati Wulan Selvia Andriani Yanti Hermayanti Yolanda Yolanda Yudistira, Andi Yulianita, Henny Yuniar, Nasya Zahara Farhan