Istilah scientific literacy dan science literacy banyak digunakan dalam pendidikan sains, namun hubungan di antara keduanya sering kali tidak dinyatakan secara eksplisit, sehingga menimbulkan ambiguitas konsep bagi calon guru yang harus menerjemahkan tujuan literasi tersebut ke dalam praktik kelas. Tinjauan pustaka ini menyintesis 30 studi dari ScienceDirect yang diterbitkan antara tahun 2017 hingga 2026 untuk memperjelas apakah kedua istilah tersebut mewakili konstruk yang berbeda, konstruk yang tumpang tindih, atau label yang bergantung pada konteks dalam pendidikan calon guru. Tinjauan ini dimulai dengan kueri yang menggabungkan istilah ‘*scientific literacy*’, ‘*science literacy*’, dan ‘calon guru’ (*prospective teacher*), kemudian menerapkan penyaringan kelayakan untuk memilih studi yang secara langsung membahas calon guru serta studi konseptual atau pedagogis terkait erat yang diperlukan untuk menafsirkan terminologi tersebut. Studi-studi tersebut dikodekan berdasarkan penggunaan istilah, populasi, dimensi konseptual, mekanisme pedagogis, dan implikasi terhadap pendidikan guru. Hasil sintesis menunjukkan adanya tumpang tindih konsep yang signifikan. Kedua label tersebut merujuk pada kapasitas untuk memahami gagasan ilmiah, mengevaluasi bukti, terlibat dalam inkuiri dan argumentasi, mengomunikasikan makna ilmiah, serta memanfaatkan sains dalam pengambilan keputusan pribadi maupun sosial. Namun, istilah ‘*scientific literacy*’ lebih sering digunakan sebagai konstruk payung yang dikaitkan dengan hakikat sains (*nature of science*), hakikat inkuiri ilmiah, isu sosio-saintifik, evaluasi bukti, dan kewarganegaraan yang berwawasan luas (*informed citizenship*); sedangkan istilah ‘*science literacy*’ sering muncul dalam konteks penilaian, literasi disiplin ilmu, komunikasi, dan pembelajaran terapan. Dengan demikian, perbedaan di antara keduanya terutama terletak pada penekanan dan tradisi wacana, bukan sebagai dua kompetensi yang berdiri sendiri. Bagi calon guru, implikasi praktisnya adalah memandang konstruk-konstruk tersebut sebagai hasil profesional yang terintegrasi, yang didukung oleh pembelajaran eksplisit mengenai hakikat sains dan inkuiri ilmiah (NOS/NOSI), inkuiri, argumentasi, bahasa disiplin ilmu, penalaran sosio-saintifik, literasi digital dan informasi, serta praktik pengajaran yang reflektif.