Claim Missing Document
Check
Articles

Ornamen Makam Raja Sidabutar : Kajian Semiotika Panjaitan, Novita Marlina; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Siahaan, Jamorlan; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makam adalah tempat peristirahatan terakhir seseorang yang sudah meninggal dunia. Salah satunya makam Raja Sidabutar yang merupakan makam tertua di Tomok, raja Sidabutar ini adalah orang yang pertama berada di Tomok dan memiliki banyak sejarah kehidupan raja-raja Sidabutar yang dikenal dengan kesaktiannya. Raja Sidabutar ini sebelum meninggal mereka sudah mempersiapkan makam nya. Makam raja Sidabutar ini dibuat dari batu alam yang diukir berbentuk kepala yang ukiran dipahat oleh tangan (gorga) yang menjadi simbol spiritual orang Batak Toba dengan tiga warna yaitu: merah artinya keberanian, putih artinya kesucian, hitam artinya kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk simbol yang ditemukan dalam makam Raja Sidabutar, mendeskripsikan fungsi dan makna simbol yang terdapat pada makam Raja Sidabutar. Teori yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian ini merupakan teori semiotik yaitu simbol yang dikemukakan oleh Peirce dan makna yang dikemukan oleh Ogden dan Richard. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol yang terdapat pada makam Raja Sidabutar memiliki 13 bentuk Simbol, fungsi simbol dan makna simbol yang meliputi simbol peralatan, simbol mantra. Makam Raja Sidabutar memiliki 10 jenis simbol peralatan antara lain : Ulos, Pintu masuk makam Raja Sidabutar, cicak "Boras Pati", payudara "Odap-odap", makam Raja Sidabutar (Ompu Soribuntu Sidabutar), makam Raja Sojoloan Sidabutar (Ompu Na Ibatu), anting malela boru Sinaga, rambut panjang "Simba", Dalihan Na Tolu, bendera Batak Toba.1 jenis simbol mantra yaitu : bunga dan air. 3 jenis simbol peralatan antara lain : panglima Tengku Muhammad Said, makam Ompu Solompoan Sidabutar, pintu keluar makam Raja Sidabutar. Setiap simbol memiliki fungsi dan makna yang tertentu terhadap makam Raja Sidabutar. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa makam Raja Sidabutar masih memiliki tradisi yang hingga saat ini dilakukan dan dilaksanakan. Sehingga peninggalan sejarah raja Sidabutar tidak hilang dan masih memiliki simbol dan fungsi serta makna yang terdapat pada makam Raja Sidabutar.
Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja: Kajian Psikologi Sastra Simanjutak, Sadrak; Tampubolon, Flansius; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah unsur-unsur intrinsik dan aspek psikologi tokoh yaitu: id, ego, dan superego, pada tokoh Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengguanakan teori kepribadian psikoanalisis Sigmund Freud. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan, yakni: 1. Unsur intrinsik pada Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja: tema, alur, latar/setting, perwatakan, sudut pandang, dan amanat. 2. Selain itu, penelitian juga menghasilkan struktur kepribadian id, ego, dan superego, yang terdapat pada tokoh Raja Sumba, Sorbadibanua, Raja Sobu, Naipospos, dan Siboru Pareme, dalam Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja. Dalam legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja ada tokoh Raja Sumba yang menunjukkan kepribadian id, ego, superego. Peran id yang mengepresikan keinginan dan kebutuhan yang mendalam, ego menunjukkan kemampuan untuk berpikir realistis dan dapat di terima secara sosial, dan superego bagian moral dan kepribadian yang mewakili nilai-nilai atau aturan sosial yang di tanamkan melalui pendidikan, lingkungan dan budaya. Superego bekerja sebagai suara hati yang menilai apakah tindakan itu benar.
Ndilo Wari Udan Pada Etnik Batak Karo Kajian : Semiotika Sosial Gultom, Frendy Hendrico; Sinaga, Warisman; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Ndilo Wari Udan pada Etnik Batak Karo Kajian : Semiotika Sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja bentuk symbol, fungsi simbol dan makna simbol yang terdapat pada Ndilo Wari Udan etnik Batak Karo. Ndilo Wari Udan adalah salah satu istilah dalam budaya etnik Batak Karo yang berkaitan dengan tradisi atau kepercayaan masyarakat setempat. Secara harfiah, istilah ini terdiri dari kata "Ndilo" yang berarti "mengundang" atau "memanggil", "Wari" yang artinya "hari", dan "Udan" yang berarti "hujan". Jika digabungkan, Ndilo Wari Udan dapat diartikan sebagai memanggil hujan pada hari tertentu, kegiatan ini dilaksanakan ketika musim kemarau panjang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori semiotika sosial yang dikemukakan oleh Haliday. Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan sebanyak 20 bentuk simbol, simbol peralatan sebanyak 8 bentuk dan simbol makanan ada sebanyak 12 bentuk simbol.
Psikosastra Legenda Pangulu Balang Pada Masyarakat Batak Toba di Desa Huta Godang Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara Tambunan, Wati; Damanik, Ramlan; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Legenda yang ada di Desa Huta Godang, Kecamatan. Muara, Kabupaten. Tapanuli Utara. Pendeskripsian legenda Pangulu Balang dengan menggunakan kajian psikosastra berdasarkan teori Sigmund Freud. Adapun unsur intrinsik yang di dapat dari legenda ini adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang, dan amanat serta id, ego, superego. Serta keperibadian tokoh yaitu, empati, emosional, bersifat keras, tidak tenang, suka menolong, pantang menyerah, ingatan baik, teliti, muda mengerti, dan lain sebagainya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini tentang sejarah Legenda Pangulu Balang dalam masyarakat. Dalam legenda maupun dalam masyarakat masing-masing memiliki struktur yang menjaga sistem yang selalu seimbang untuk menjaga untuk menjaga kenyamanan masyarakat. Legenda ini menceritakan sebuah patung Pangulu Balang yang merupan sebuah patung penjaga kampung dan antar marga, demi kenyamana masyarakata yang ada di kampung tersebut patung ini menjadi penolong bagi masyarakat yang ada di Desa Huta Godang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Legenda Pangulu Balang juga memberikan nilai yang positif bagi masyarakat serta mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan segala hal didalam kampung tersebut.
Pasu-Pasu Raja dalam Perkawinan Masyarakat Adat Batak Toba : Kajian Norma dan Etika Hutauruk, Febri Ola; Harefa, Evelina; Batubara, Monika Uli; Manulang, Doan; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Pasu-Pasu Raja dalam perkawinan adat Batak Toba. Pasu-Pasu Raja merupakan suatu perkawinan yang sudah ada sejak nenek moyang dahulu, sehingga pada proses perkawinan pasu-pasu raja hanya di berkati oleh penatua adat atau raja-raja ni huta (orang tua-tua kampung) setempat. Teori yang digunakan pada penelitian ini ialah pendekatan H. Burhanudin tentang suatu nilai-nilai dan norma yang dapat menentukan perilaku manusia dalam kehidupanya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Data yang diperlukan pada penelitian ini adalah membahas norma dan etika pasu-pasu raja dan faktor penyebab terjadinya pasu-pasu raja. Perkawinan pasu-pasu raja memiliki aturan dan pembelajaran agar dapat di terima secara agama. Maka sebab itu perkawinan pasu-pasu raja memberikan pandangan kepada anak muda serta masyarakat Batak Toba agar tidak melanggar aturan hukum yang tidak diterima oleh agama dan negara.
Nilai –Nilai Kehidupan Batak Toba Pada Tradisi Mamboan Sipanganon Tu Tulang Tampubolon, Flansius; Sigiro, Dony; Tambunan, Abel; Hutagalung, Andreas; Siregar, Eka Silviana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Mamboan Sipanganon tu Tulang dalam budaya Batak Toba memiliki peran yang sangat penting dalam menyampaikan nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, dan identitas budaya melalui seni lisan. Tulang, yang dalam konteks ini merujuk pada ungkapan atau istilah dalam sastra tradisional Batak, berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pesan moral, filosofis, dan sejarah masyarakat Batak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tulang dalam Mamboan Sipanganon diimplementasikan dalam bentuk puisi atau syair yang diwariskan secara turun-temurun, baik dalam konteks ritual, perayaan, maupun kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif terhadap teks-teks tulang yang ditemukan dalam masyarakat Batak, khususnya yang digunakan dalam acara adat dan upacara. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk menggali makna dan fungsi sosial dari Mamboan Sipanganon serta bagaimana penerapan nilai-nilai moral, sosial, dan budaya yang terkandung di dalamnya dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat Batak Toba saat ini.
Kesopansantunan dalam Pergaulan Batak Toba Suatu Perspektif Etika Sosial : Kajian Normatif Sitompul, Yulia Saftania; Saragih, Dinda Apriani; Sianipar, Trynanda; Simarmata, Tioara Monika; Pasaribu, Jefri Harniko; Saragih, Risdo; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini secara mendalam menganalisis konsep kesopanan dan santunan dalam konteks pergaulan masyarakat Batak Toba melalui pendekatan normatif. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai, norma, dan etika yang menjadi landasan perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak Toba. Selain itu, penelitian ini juga akan mengidentifikasi bagaimana nilai-nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun dan diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan. Melalui studi literatur, penelitian ini akan mengungkap makna yang lebih luas dari kesopanan dan santunan dalam konteks masyarakat Batak Toba. Konsep kesopanan tidak hanya sebatas perilaku lahiriah, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai batin seperti hormat, rendah hati, dan gotong royong. Penelitian ini juga akan menganalisis bagaimana nilai-nilai kesopanan dan santunan berinteraksi dengan dinamika sosial yang terus berubah, termasuk pengaruh globalisasi dan modernisasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam beberapa hal. Pertama, penelitian ini akan memperkaya pemahaman kita tentang kekayaan budaya Batak Toba, khususnya dalam dimensi etika dan moral. Kedua, penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang tertarik pada kajian budaya dan antropologi. Ketiga, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi bagi masyarakat Batak Toba dalam menjaga kelestarian nilai-nilai luhur budaya di tengah perubahan zaman. Terakhir, penelitian ini juga dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai lokal.
Norma dan Etika dalam Marhata Sinamot pada Pernikahan Batak Toba Naibaho, Dewes Agustina; Pasaribu, Niken Kirey; Sihombing, Patar Kristian; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marhata Sinamot adalah salah satu tradisi penting dalam pernikahan adat Batak Toba yang berfungsi sebagai forum diskusi formal antara keluarga calon pengantin pria dan wanita untuk mencapai kesepakatan terkait pelaksanaan pernikahan, terutama mengenai mahar (sinamot). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tahapan, norma, dan etika yang terkandung dalam tradisi Marhata Sinamot. Dengan menggunakan metode deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa setiap tahapan dalam Marhata Sinamot dari Marhori-hori dingding, Marhusip, hingga Pasahat Sinamot mengandung norma kesopanan, keadilan, keterbukaan, dan penghormatan, serta etika komunikasi, kejujuran, dan kebersamaan. Tradisi ini tidak hanya merupakan praktik adat, tetapi juga representasi nilai-nilai luhur masyarakat Batak Toba yang tetap relevan dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah perubahan zaman. Marhata Sinamot memperlihatkan bagaimana adat dan budaya mampu menjadi pengikat sosial serta simbol identitas budaya yang kokoh.
Nilai Pendidikan Pada Gondang Naposo Etnik Batak Toba Kajian Kearifan Lokal Siallagan, Intan Putri; Saragi, Mery Grace Jenita; Sekali, Emmya Kristina Br Karo; Siregar, Helda; Sitorus, Oliviya Sera; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam artikel ini membahas tradisi nilai pendidikan Gondang Naposo pada etnik Batak Toba kajian kearifan lokal. Gondang Naposo merupakan salah satu tradisi masyarakat Batak Toba yang sudah dikenalkan oleh nenek moyang sejak dahulu, dan merupakan tradisi yang dianggap unik. Tradisi ini merupakan sarana untuk membangun hubungan antara muda-mudi dan membantu para muda-mudi dalam mencari jodoh. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan teknik analisis data yang dipakai adalah survei literatur melalui buku pendukung dan sumber data berasal dari beberapa artikel ilmiah yang ada di Google Scholar. Analisis dilakukan melalui analisis tematik, yang membantu memahami dan memahami data yang diperoleh dari analisis dokumen artikel ilmiah. Hasil dari penelitian ini ditemukan adanya tujuh tahapan dalam tradisi Gondang Naposo yaitu tahap martonggo raja, tahap ritual gondang joujou, tahap gondang mula-mula, tahap gondang somba-somba, tahap gondang liat, tahap gondang olopolop, tahap gondang sitio-tio. Sedangkan nilai-nilai pendidikan Gondang Naposo yaitu yaitu nilai agama, nilai sejarah, nilai sosial.
Representasi Etika dan Norma Pada Nilai Kesopanan dalam Tradisi Patio Baba Ni Mual Etnik Batak Toba: Kajian Kearifan Lokal Siahaan, Wahyu Satria Boy; Tarigan, Sarah Nathasia Br; Aritonang, Rebecca Saulina; Panjaitan, Santi Monica Entelina; Giawa, Puji Syukur; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Patio Baba Ni Mual adalah adat-istiadat masyarakat Batak Toba yang wajib dilaksanakan jika seorang laki-laki Batak ingin menikah, apalagi jika ia tidak menikahi pariban (putri dari paman) nya. Sehingga ia harus melakukan adat Patio Baba Ni Mual ini dengan tujuan untuk meminta doa dan restu kepada tulang (paman/saudara laki-laki ibu) nya dengan membawa makanan sebagai bentuk rasa hormat. Pada penelitian ini digunakan metode penelitian yang bersifat kualitatif dengan pemerolehan data adalah sumber data sekunder yang diperoleh melalui kajian kepustakaan atau dengan menggunakn referensi dari jurnal-jurnal terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian ini. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik dengan pedekatan deskriptif, di mana peneliti akan menjabarkan data penelitian dengan penjabaran teks dan penarikan simpulan. Penelitian ini bermanfaat sebagai informasi dan pengetahuan kepada masyarakat khususnya suku Batak Toba terutama generasi muda yang lahir dan besar di perkotaan agar tetap menjaga dan melestarikan tradisi budaya etnik sendiri.
Co-Authors Aritonang, Rebecca Saulina Asriaty R Purba Baharuddin Baharuddin Barus, Asni Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Br Karo Sekali, Emmya kristina BrSimatupang, Nori Marta Marselina Damanik, Oleg Isuando David Kristopani Marpaung Depari, Edi Dewes Agustina Naibaho Elena Simatupang Entelina, Santi Monica Fadlin Fadlin Giawa, Puji Syukur Gultom, Frendy Hendrico Harefa, Evelina Herlina Herlina Herlina Hutagalung, Adreas Hutagalung, Andreas Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutauruk, Febri Ola Indah Agita Saragih Jamorlan Siahaan Jekmen Sinulingga Jekmen Sinulingga Jonathan Liviera Marpaung Judika Panggabean Krista Dayanti Hutasoit Ma Samuel Rt Simanjuntak Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manulang, Doan Manullang, Doan Yohannes Manurung, Lasmaria Meutia, Amalia Naibaho, Dewes Agustina Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Patricia, Marissa Libry Pollatu, Maurits Junard Purba, Roma Hotni Uhur Ramlan Damanik Risdo Saragih Robert Sibarani, Robert Rozanna Mulyani Saing, Filemon Anthony Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sembiring, Sugihana Siahaan, Jamorlan Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Tidora Putri Sigiro, Dony Sigiro, Triputri Sihombing, Martin Roberto Sihombing, Patar Kristian Sihotang, Alexander Silaban, Ridho Wahyu Silaban, Robin M Simamora, Devina C Simanjuntak, Elisa Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simbolon, Efran Jonathan Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Selvi Sinaga, Regina Sinar Indra Kesuma Sinulingga, Samerdanta Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Putri Adelina Br Tambunan, Abel Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Wati Tampubolon, David Hasudungan Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br Tarigan, Sarah Nathasia Br. Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Warisman Sinaga Zul Fahmi, Lisan Shidqi