Claim Missing Document
Check
Articles

Pendekatan Analisis Wacana: Kohesi dalam Lagu Marsikkola Au Bapa oleh Trio Golden Heart Tampubolon, Flansius; Giawa, Puji Syukur; Entelina, Santi Monica; Naibaho, Dewes Agustina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peneliti mengangkat wacana dari sebuah lirik lagu daerah Batak Toba yang berjudul Marsikkola Au Bapa yang dipopulerkan oleh Trio Golden Heart pada kanal Mangasa Sitanggang Channel. Lagu ini berisi tentang seseorang anak yang ingin fokus bersekolah dulu, dan berharap orang tuanya tidak menyuruhnya bekerja di sawah. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan menentukan kohesi leksikal apa yang terdapat dalam objek lirik lagu Marsikkola Au Bapa. Metode yang dipakai yakni metode kualitatif deskriptif dan sumber data yang didapat ialah melalui Youtube. Teknik analisis datanya ialah dengan menyimak lalu mencatat serta membaca ulang data yang diperoleh dari sumber video. Dari hasil pembahasan tersebut peneliti menemukan kohesi leksikal pada lagu Marsikkola Au Bapa oleh trio Golden Heart meliputi: Repetisi (pengulangan) berupa: Repetisi Anafora (4 data) Repetisi Tautotes (2 data), Repetisi Mesodiplosis (2 data), Repetisi Epistrofa (4 data) dan Repetisi Utuh (7 data). Sinonim (1 data), Kolokasi (3 data), Hiponim (2 data), Antonim (1 data).
Tobus Huning dalam Upacara Marhajabuan Etnik Batak Simalungun : Kajian Kearifan Lokal Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina; Tampubolon, Flansius; Purba, Asriaty R; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang “Tobus Huning Dalam Upacara Marhajabuan Etnik Batak Simalungun: Kajian Kearifan Lokal.” Adapun tujuan dari penulisan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tahapan pada tobus huning dan mendeskripsikan nilai kearifan lokal pada tobus huning. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Berdasarkan hasil dari penelitian, terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan tobus huning yang dimulai dari manririt, martondur, mangangkat poldung, mambere tanda hata, marlasa-lasa, pajabu parsahapan, manurduk demban ruttas talun, manurduk demban bona niandar, manurduk demban ruttas dinding, manurduk demban dob das, manurduk demban sisei, manurduk demban buha sahap, manurduk demban panungkunan, manurduk demban hombar-hombar, manungkun hubani sipartunangan, manghorjahon parriahan, manurduk demban parhombaran, pattapei parsahapan, manurduk demban dob tappei parsahapan, manurduk demban pamuhuman, mangondoshon partadingan, manguge partadingan, manjujung partadingan, mambere boras tenger, manimpan partadingan, manurduk demban bangal, tobus huning, dan terdapat 11 nilai kearifan lokal pada tradisi tobus huning yaitu kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, rasa syukur, disiplin, pengelolaan gender, pelestarian dan kreativitas budaya, dan peduli lingkungan.
Tahapan Pemberian Ulos dalam Upacara Adat Marunjuk Etnik Batak Toba : Kajian Kearifan Lokal Manurung, Lasmaria; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Siahaan, Jamorlan; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul “Tahapan Pemberian Ulos Dalam Adat Marunjuk Etnik Batak Toba” ini bertujuan untuk menggambarkan tahapan pemberian ulos dalam adat marunjuk suku Batak Toba, jenis-jenis ulos yang digunakan, serta nilai kearifan lokal yang terkandung dalam upacara tersebut. Teori yang digunakan untuk analisis adalah teori kearifan lokal dari Sibarani. Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik penelitian lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)Tahapan pemberian ulos dalam upacara adat marunjuk meliputi: Pemilihan ulos oleh pihak parboru untuk diberikan kepada penerima.Penerima ulos duduk di lokasi yang telah ditentukan.Ulos diberikan dengan cara dibentangkan dan disematkan sambil menyampaikan umpasa.Ulos pertama kali diberikan oleh orang tua pengantin wanita kepada orang tua pengantin pria, dan diakhiri dengan pemberian ulos tulang kepada kedua mempelai. Pesan dari pemberian ulos adalah untuk menyatukan dua jiwa dalam pemberkatan.(2)Jenis ulos yang digunakan dalam upacara adat marunjuk meliputi 7 jenis yang disepakati oleh kedua keluarga, yaitu: ulos passamot, ulos hela bersama dengan mandar hela, ulos pamarai, ulos simanggonghon, ulos simolohon, ulos sihutti ampang, dan ulos tulang yang diberikan pada akhir upacara oleh pihak tulang kepada kedua mempelai sambil menyampaikan umpasa. Selain itu, pengantin juga menerima ulos holong dari para tamu undangan sebelum pemberian ulos tulang.(3)Pesan tuturan dalam upacara ini mencakup saling mengasihi, saling percaya, menolak perceraian, mengandalkan Tuhan, saling menghargai, hidup rukun dalam rumah tangga, dan menghormati orang tua.(4)Nilai kearifan lokal dalam tata cara pemberian ulos mencakup nilai kesopanan, kerukunan, penyelesaian konflik, komitmen, rasa syukur, kepedulian dan kasih sayang, rasa hormat, gotong royong, pelestarian dan kreativitas budaya, serta cinta budaya.
Mukul pada Etnik Batak Karo: Kajian Tradisi Lisan Tampubolon, David Hasudungan; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul: “Mukul Pada Etnik Batak Karo: Kajian Tradisi Lisan”. Mukul disebut juga dengan persadaan tendi (mempersatukan roh) antara kedua pengantin melalui makan bersama dengan media manuk sangkep. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk medeskripsikan performansi teks, ko-teks, dan konteks dalam mukul dan mendeskripsikan nilai dan norma dalam mukul. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tradisi lisan oleh Robert Sibarani yaitu tradisi lisan adalah kecenderungan suatu daerah dalam mewariskan sejarah melalui percakapan dari satu keturunan ke keturunan lainnya, dan tradisi lisan mencakup suatu tradisi budaya yang diturunkan “dari mulut ke telinga”. Dari satu generasi ke generasi seterusnya. Berdasarkan hasil penelitian terdapat performansi teks yaitu teks verbal dan teks non-verbal dalam mukul, performansi ko-teks dalam mukul terdapat 4 unsur ko-teks yaitu unsur paralinguistik, unsur kinetik, unsur proksemik dan unsur material, dan performansi konteks yaitu konteks sosial budaya, konteks situasi dan koteks ideologi yang terdapat dalam mukul, terdapat juga fungsi dan makna dalam mukul dan terdapat 7 nilai yaitu nilai kejujuran, nilai kesetiakawanan sosial, nilai komitmen, nilai pikiran positif,nilai kerja keras, nilai disiplin, dan nilai gotong royong.
Kajian Sosiologi Sastra pada Cerita Rakyat Lingga dan Purba Etnik Batak Toba Sihotang, Alexander; Tampubolon, Flansius; Herlina, Herlina; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Kajian Sosiologi Sastra pada Cerita Rakyat Lingga dan Purba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui unsur intrinsik cerita rakyat Lingga dan Purba, nilai-nilai sosiologi sastra yang terkandung dalam cerita rakyat Lingga dan Purba, dan pandangan masyarakat terhadap cerita rakyat Lingga dan Purba. Cerita Rakyat Lingga dan Purba merupakan salah satu bentuk cerita yang dimiliki masyarakat Batak Toba, tepatnya yang berada di desa Pulo Godang, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan. Metode yang digunakan dalam menganalisis masalah penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori struktural dan teori sosiologi sastra. Adapun unsur-unsur intrinsik yang ada dalam cerita ini meliputi: tema, alur atau plot, latar atau setting, dan perwatakan atau penokohan. Adapun nilai-nilai sosiologi sastra yang terdapat dalam cerita ini meliputi : Kasih Sayang, Pertentangan, Religi/Kepercayaan, Sistem Mata Pencaharian, Kesehatan, Tolong Menolong, Material, Kesabaran dan Konsekuensi, Kerendahan Hati, dan religius.
Kearifan Lokal Simbol pada Jenis Ulos Batak Toba Damanik, Oleg Isuando; Sibarani, Robert; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Damanik, Ramlan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulos merupakan sejenis kain atau selendang yang memiliki makna istimewa dalam budaya suku Batak. Kain ini dianggap suci dan mempunyai nilai penting pada pelaksanaan berbagai upacara adat suku Batak, termasuk upacara pernikahan, upacara tujuh bulanan kehamilan, dan upacara kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai kearifan lokal yang terdapat pada ulos Batak Toba. Teori yang digunakan dalam menganalisis data merupakan teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini ditemukan hasil, nilai kearifan lokal pada Ulos Batak Toba antara lain: (1) pelestarian dan kreativitas budaya; (2) gotong royong; (3) rasa syukur; (4) kesopansantunan; (5) komitmen; (6) kerukunan dan penyelesaian konflik; (7) kesetiakawanan sosial; (8) pikiran positif; (9) pendidikan; dan (10) kejujuran.
Legenda Pusuk Buhit: Kajian Antropologi Sastra Hutagalung, Irfan Hamonangan; Tampubolon, Flansius; Siahaan, Jamorlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Legenda Pusuk Buhit: Kajian Antropologi Sastra. Pusuk Buhit merupakan salah satu puncak di pinggir barat Danau Toba. Dalam mitologi Batak, puncak tersebut diceritakan sebagai tempat kelahiran Si Raja Batak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur-unsur instrinsik dan wujud budaya yang terdapat pada Legenda Pusuk Buhit di Desa Aek Sipitudai Kabupaten Samosir. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan dalam menganalisis data penelitian ini adalah teori struktural yang dikemukakan oleh Nurgianto dan teori budaya yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat. Pada penelitian ini ditemukan unsur-unsur intrinsik berupa (1) tema yaitu Perjuangan melawan rintangan dalam mencapai tujuan kehidupan; (2) latar/setting yaitu Latar tempat meliputi Banua Ginjang, samudera, Banua Tonga, dan langit, dengan suasana yang mencakup ketegangan, keputusasaan, harapan, dan kebahagiaan; (3) penokohan/perwatakan yaitu terdapat 8 tokoh antara lain Mulajadi Nabolon, Manuk-Manuk Halambujati, Batara Guru, Mangala Bulan, Si Boru Deak Parujar, Si Raja Odap-Odap, Naga Padoha, Leang Leang Mandi. (4) sudut pandang dalam cerita ini yaitu Legenda Pusuk Buhit memiliki sudut pandang orang ketiga; (5) gaya bahasa pada cerita ini yaitu bersifat naratif; dan (6) amanat pada cerita ini yaitu kesabaran dan kegigihan dalam menghadapi rintangan, kemandirian dan keberanian dalam menjalani hidup, penghargaan terhadap perubahan, serta pentingnya kerja keras dan inovasi yang bisa menghasilkan sesuatu yang besar dan bermakna. Selain itu, ditemukan hasil wujud budaya yang terdapat pada cerita Pusuk Buhit berupa: ide yang mencakup hamoraon, hagabeon, dan hasangapon; perilaku/aktivitas yang mencakup Somba Marhula-hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu. Serta hasil karya, yang mencakup adat-istiadat,marga dan aturan adat, Tala-tala, Persaktian Pusuk Buhit, Batu Hobon, dan Sopo Guru Tateabulan.
Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika Simbolon, Selvi; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif berlokasi di Desa Parhabinsaran Janji Matogu, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba. Hasil penelitian upacara adat mangongkal holi menjadi 3 tahapan. Tahapan pertama yaitu pra upacara adat mangongkal holi terbagi menjadi dua acara yaitu manopot angka hula-hula ni si ongkalon (menjumpai para marga dari pihak istri yang akan digali) dan martonggo raja (musyawarah tokoh adat Batak). Tahap kedua yaitu pelaksanaan mangongkal holi, terbagi dua acara yaitu acara penggalian tulang belulang (mangongkal holi), mata ni horja (pesta adat). Tahap ketiga, pasca mangongkal holi terbagi dua acara menguburkan kembali dan manambak (pesta tambak). Ada 25 simbol-simbol : Pinahan Lobu, Dekke Sitio-tio, Tambak : tugu, Gorga Simata Ni Ari, Gorga Ipon-Ipon, Gorga Gaja Dompak, Gorga Sompi-sompi, Ulos Ragidup, Gorga Jogia, Gorga Batu Assimun, Gorga Sigumang, Gorga Pinarhalak Boru, Gorga Pinarhalak Bawa, Gorga Lipan-Lipan, Ulos Sadum Panoropi, Uang, Air jeruk purut dan Kunyit, Ruma-ruma : Peti kecil, Demban Tiar, Sortali Boru, Sortali Bawa, Kerbau, Somba Marhula-Hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu
Pengenalan Aksara Batak Simalungun bagi Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan Kecamatan Panombean Panei Kabupaten Simalungun Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R; Tampubolon, Flansius; Herlina, Herlina; Mulyani, Rozanna; Fadlin, Fadlin; Baharuddin, Baharuddin; Sembiring, Sugihana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari aksara Latin yang biasa digunakan dalam sistem pendidikan nasional. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam membaca serta menulis aksara Batak Simalungun di kalangan generasi muda dapat mengancam keberlangsungan aksara ini. Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang lebih kompleks dan artistik, dengan garis-garis yang lebih meliuk-liuk dan berpola. Kesan ornamen dan hiasan tampak jelas dalam aksara ini. Aksara ini digunakan dalam naskah-naskah adat, cerita rakyat, dan seni ukir oleh suku Simalungun. Aksara Simalungun hanya memiliki 19 huruf dan harus menggunakan 8 tanda bacanya dalam penulisan. Oleh karena itu, pengenalan dan pembelajaran aksara Batak Simalungun di sekolah dasar sangatlah penting. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan aksara Batak Simalungun kepada siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan., meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal., membekali siswa dengan keterampilan dasar membaca dan menulis aksara Batak Simalungun. Kegiatan ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasil Pengabdian ini yakni terdapat 19 induk surat. Dalam Pelaksanaan Pengabdian ini Mengenalkan Aksara Batak Simalungun kepada Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan, Meningkatkan Kesadaran Siswa Akan Pentingnya Melestarikan Warisan Budaya Lokal, Membekali Siswa dengan Keterampilan Dasar Membaca dan Menulis Aksara Batak Simalungun. Dengan pengabdian inidiharap mendapatkan dukungan dari pihak sekolah serta masyarakat, diharapkan siswa dapat mengenali, memahami, dan mencintai aksara Batak Simalungun sebagai bagian dari identitas mereka. Upaya ini tidak hanya akan memperkaya wawasan budaya siswa, tetapi juga menjaga keberlangsungan aksara Batak Simalungun di masa depan.
Rurun Merga Silima dalam Etnik Batak Karo : Kajian Semiotika Sosial Depari, Edi; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1). Mendeskripsikan rurun merga silima dalam etnik Batak Karo. (2). Mendeskripsikan fungsi rurun merga silima dalam etnik Batak Karo. (3). Mendeskripsikan makna rurun merga silima dalam etnik Batak Karo. Teori yang digunakan dalam penelitian ini merupakan teori semiotika sosial oleh Pateda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Adapun hasil yang didapatkan penulis dari penelitian ini adalah rurun merga silima dalam etnik Batak Karo antara lain sebagai berikut: untuk Karo-karo memiliki 17 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu sekali Riong, kemit Logos, samura Tabong, sitepu Ganding, sinulingga Mangkok, sinuraya Tabong, sinuhaji Logos, sinukaban Cinor, surbakti Gajah, kacaribu Mitut, barus Cinor, bukit Logos, kaban Cinor, ujung Logos, purba Lagat, ketaren Kolam dan gurusinga Pabelo. Untuk Ginting memiliki 16 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu babo Gajut, sugihen Nangkul, suka Mburak, beras Mbayak, anjartambun Kapor, garamata Mburak, jandibata Canggah, pase Gudam, munte Mburak, manik Mangat, sinusinga Mburak, seragih Mburak, jawak Lajor, tumangger Lajor, capah Ciak dan gurupatih Gurah. Untuk Tarigan memiliki 14 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu bondong Batu, jampang Lumbung, gersang Mondan, gana-gana Gombong, pekan Kawas, tambak Turah, purba Batu, sibero Batu, silangit Segar, tegur Batu, tambun Mondan, tua Mondan, gerneng Kawas, dan tendang Kawas. Untuk Sembiring memiliki 19 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu kembaren Ropo, keloko Daram, sinulaki Rontang, sinupayung Ropo, brahmana Kawar, pandia Gobang, colia Kuliki, gurukinayan Pagoh, keling Gawah, pelawi Talah, depari Togong, busuk Jambe, bunuaji Baji, meliala Jemput, maha Pasir, muham Bugan, pandebayang Jemput, sinukapur Bugan dan tekang Jambe. Dan perangin-angin memiliki 18 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu mano Mundong, sebayang Rabun, pencawan Jambor, sinurat Tangko, perbesi Rabun, ulunjandi Ramban, penggarun Guni, pinem Jaren, uwir Sagu, laksa Batonggan, singarimbun Kerangen, keliat Teger, kacinambun Njorang, bangun Teger, tanjung Tuluk, manjerang Batok, namohaji Gudong dan sukatendel Gantang. Fungsi rurun merga silima dalam etnik Batak Karo yaitu memudahkan memanggil seseorang dan pengenalan asal-usul merga seseorang. Makna rurun merga silima dalam etnik Batak Karo berupa pengenalan karakter dari merga seseorang.
Co-Authors Aritonang, Rebecca Saulina Asriaty R Purba Baharuddin Baharuddin Barus, Asni Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Br Karo Sekali, Emmya kristina BrSimatupang, Nori Marta Marselina Damanik, Oleg Isuando David Kristopani Marpaung Depari, Edi Elena Simatupang Entelina, Santi Monica Fadlin Fadlin Gaol, Zacklyn Dwi Vanesa Imanuela Lumban Giawa, Puji Syukur Gultom, Frendy Hendrico Harefa, Evelina Herlina Herlina Hutagalung, Adreas Hutagalung, Andreas Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutauruk, Febri Ola Indah Agita Saragih Indah Sari Jamorlan Siahaan Jekmen Sinulingga Jonathan Liviera Marpaung Judika Panggabean Krista Dayanti Hutasoit Ma Samuel Rt Simanjuntak Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manulang, Doan Manullang, Doan Yohannes Manurung, Lasmaria Manurung, Yohana Afriani Marpaung, Jonathan Halomoan Meutia, Amalia Naibaho, Dewes Agustina Pakpahan, Hod Burju Pandiangan, Johannes Pangaribuan, Dion Nardi Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Patricia, Marissa Libry Pollatu, Maurits Junard Purba, Roma Hotni Uhur Ramlan Damanik Risdo Saragih Robert Sibarani, Robert Rozanna Mulyani Saing, Filemon Anthony Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sembiring, Sugihana Siahaan, Jamorlan Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Tidora Putri Sigiro, Dony Sigiro, Triputri Sihombing, Martin Roberto Sihombing, Patar Kristian Sihotang, Alexander Sijabat, Anggun Yuni Sarah Silaban, Ridho Wahyu Silaban, Ridho Wahyu C. Silaban, Robin M Simamora, Devina C Simamora, Yustina Jindi Lusmiran Simanjuntak, Elisa Simanjutak, Sadrak Simarmata, Murni Simarmata, Tioara Monika Simbolon, Efran Jonathan Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Selvi Sinaga, Lastiur Sinaga, Regina Sinar Indra Kesuma Sinulingga, Samerdanta Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Sitanggang, Basri Natan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Oliviya Sera Sitorus, Revi Angel Sonata Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Rahel Theresia Rodame Tambunan, Abel Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Wati Tampubolon, David Hasudungan Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tifany Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Warisman Sinaga Zalukhu, Esther Ria Zul Fahmi, Lisan Shidqi