p-Index From 2021 - 2026
10.015
P-Index
This Author published in this journals
All Journal LAW REFORM Bestuur Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam Jurnal Dinamika Hukum Al-Ahkam Jurnal Media Hukum WARTA Jurnal Penelitian Humaniora Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam Diponegoro Law Review Jurnal IUS (Kajian Hukum dan Keadilan) Jurisprudence MILLATI: Journal of Islamic Studies and Humanities Jurnal Ilmiah Hukum LEGALITY Otoritas : Jurnal Ilmu Pemerintahan DE LEGA LATA: Jurnal Ilmu Hukum al-Afkar, Journal For Islamic Studies Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Varia Justicia SOEPRA Jurnal Hukum Kesehatan Mimbar Ilmu Sociological Jurisprudence Journal Jurnal Pro Hukum : Jurnal Penelitian Bidang Hukum Universitas Gresik Awang Long Law Review Istinbath: Jurnal Hukum dan Ekonomi Islam Jurnal Hukum Volkgeist TSAQAFAH Yustisia Merdeka : Jurnal Ilmiah Hukum Indonesian Journal of Criminal Law Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum UNTAG Law Review Cepalo IJECA (International Journal of Education and Curriculum Application) Walisongo Law Review (Walrev) Madani : Indonesian Journal of Civil Society LEGAL BRIEF Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology Journal of Indonesian Law (JIL) Journal of Transcendental Law JHCLS Jurnal Abdimas Bina Bangsa Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Aloha International Journal of Multidisciplinary Advancement (AIJMU) Bengkoelen Justice : Jurnal Ilmu Hukum Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB) Jurnal Dedikasi Hukum Legal Protection for the Partnership Agreement Parties Supremasi Hukum: Jurnal Kajian Ilmu Hukum IRSYADUNA: Jurnal Kemahasiswaan Lex Publica Journal of Global Pharma Technology SASI Journal of Transcendental Law Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam Fundamental : Jurnal Ilmiah Hukum Mouse Jurnal Jurisprudence
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Jurisprudence

DIVORCE IN KANGEAN ISLANDS: The Study on Judge's Legal Reasoning of Kangean Religious Court, 2020-2022 Zuhdi, Syaifuddin; Dimyati, Khudzaifah; Absori, Absori; Wardiono, Kelik; Syafirah, Filzah Ilda
Jurnal Jurisprudence Vol. 12, No. 2, December 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v12i2.1229

Abstract

Purpose of the study: This article aims to find out how the divorce conditions in the Kangean Islands are and to see how the factors that influence it and the legal reasoning used by the judge in deciding the divorce case. Methods: the method used in this study is a normative juridical method with a decision approach, the data used is secondary data, namely the decisions of the religious courts in 2020-2022, which every year 30% of the decisions are taken, the data are analyzed descriptively Results: From the research conducted, it was found that the majority of divorces in Kangean Island were carried out by a contested divorce mechanism, while the factors behind the majority were due to disputes, then followed by economic factors, legal reasoning judges were divided into empathy, namely the use of legal norms, conformity between facts and norms. , interpretation of problems and norms, as well as the use of the rules of Islamic law in its legal opinion Applications of this study: This article is useful to support research on divorce and legal opinions, especially on Kangean Island and Indonesia in general Novelty: The novelty of this research is that there are still very few people doing research on the Kangean Islands, as well as the discovery of several legal reasoning concepts for judges at the Kangean Religious Court.   ABSTRAK   Tujuan Penelitian: Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi perceraian di Kepulauan Kangean dan melihat bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhinya serta alasan hukum yang digunakan hakim dalam memutus perkara perceraian. Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif dengan pendekatan putusan, data yang digunakan adalah data sekunder yaitu putusan pengadilan agama tahun 2020-2022 yang setiap tahun diambil 30% putusannya, data tersebut dianalisis secara deskriptif Hasil: Dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa mayoritas perceraian di Pulau Kangean dilakukan dengan mekanisme cerai gugat, sedangkan faktor penyebab mayoritas adalah karena perselisihan, kemudian disusul faktor ekonomi, pertimbangan hukum hakim terbagi menjadi empati, yaitu penggunaan norma hukum, kesesuaian antara fakta dan norma. , interpretasi masalah dan norma, serta penggunaan aturan hukum Islam dalam opini hukumnya Aplikasi penelitian ini: Artikel ini bermanfaat untuk mendukung penelitian tentang perceraian dan opini hukum khususnya di Pulau Kangean dan Indonesia pada umumnya Kebaruan: Kebaruan dari penelitian ini adalah masih sedikitnya orang yang melakukan penelitian di Kepulauan Kangean, serta ditemukannya beberapa konsep penalaran hukum bagi hakim di Pengadilan Agama Kangean.
The Judicial Reasoning Behind Decision No. 262/Pid.B/2018/Pn.Skt on a Case of Mass Violence: The Perspective of Human Aggressiveness and the Ashobiyah Terminology Purwadi Wahyu Anggoro; Khudzaifah Dimyati; Absori; Kelik Wardiono; Waljinah, Sri
Jurnal Jurisprudence Vol. 12, No. 2, December 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v12i2.1314

Abstract

ABSTRACT Purpose of the study: This research aimed to analyze the judicial rationing behind Decision No. 262/Pid.B/2018/Pn.Skt. According to Article 170 of the Indonesian Criminal Code in the legal event of a mass violence crime that occurred in Surakarta City.  Methodology: This was normative legal research that used the case approach. It emphasized the legal consideration of judges in deciding and giving a verdict upon a case. Results: This research analyzed Decision No. 262/Pid.B/2018/Pn.Skt. Judges considered that the actions committed by the group of perpetrators originated from the aggressive nature of humans due to their animal power that can cause law-violating actions. This aggressive human nature in a group caused a sense of affection and bond creates similarities in desires, goals, and ideas. It resulted in a sense of solidarity in the group according to the ashobiyah terminology. Applications of this study: to provide knowledge on: (1) the judicial analysis based on the factors that influence the occurrence of mass violence; and (2) the judicial consideration in deciding upon a case of mass violence in Surakarta City based on the judicial rationing in Decision No. 262/Pid.B/2018/PN.Skt. Novelty/Originality of this study: This paper provided new information on the action of mass violence on Decision No. 262/Pid.B/2018/PN.Skt correlated with Ibnu Khaldun’s ashobiyah terminology. Keywords: judicial reasoning, mass violence, aggressivity, ashobiyah    ABSTRAK  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan yuridis di balik Putusan Nomor 262/Pid.B/2018/Pn.Skt. Menurut Pasal 170 KUHP dalam peristiwa hukum tersebut, tindak pidana kekerasan massal terjadi di Kota Surakarta.  Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang menggunakan pendekatan kasus. Ditekankan pada pertimbangan hukum hakim dalam memutus dan memberikan putusan atas suatu perkara.  Hasil: Penelitian ini menganalisis Keputusan No. 262/Pid.B/2018/Pn.Skt. Hakim menilai bahwa perbuatan yang dilakukan oleh kelompok pelaku tersebut berawal dari sifat agresif manusia karena animal power yang dapat menimbulkan perbuatan melanggar hukum. Sifat agresif manusia dalam suatu kelompok menimbulkan rasa kasih sayang dan ikatan yang menimbulkan kesamaan keinginan, tujuan, dan gagasan. Hal itu mengakibatkan rasa solidaritas dalam kelompok menurut terminologi ashobiyah.  Aplikasi penelitian ini: memberikan pengetahuan tentang (1)analisis yuridis berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan massal, (2)pertimbangan yuridis dalam memutus perkara kekerasan massal di Kota Surakarta berdasarkan yuridis rationing dalam Putusan No. 262/Pid.B/2018/PN.Skt.  Kebaruan/Orisinalitas: Tulisan ini memberikan informasi baru tentang aksi kekerasan massal pada Putusan No. 262/Pid.B/2018/PN.Skt yang berkorelasi dengan terminologi ashobiyah Ibnu Khaldun.  Kata kunci: penalaran yudisial, kekerasan massal, agresivitas, ashobiyah
Comparison Of Legal Reasoning Models In Consideration Of Decision No. 064/G/2014/PTUN SMG, NO. 135/B/2015/PT.TUN.SBY, And No. 99/PK/TUN/2016 In The Case Of Pt Semen Gresik (Persero) Tbk Environmental Permit In Rembang Regency, Central Java Dwi Utomo, Hery; Absori, Absori; Kachippa Suvirat; Khudzaifah Dimyati; Wardiono, Kelik; Rochman, Saepul
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 1, June 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i1.1707

Abstract

ABSTRACT  Purpose of the study: This study aims to understand the lawsuit of the Samin Community in Rembang Regency against Governor's Decree No. 660.1/17/2012, which permits the development and exploitation of natural resources in the Kendeng Mountains. This dispute not only shows a lawsuit but, more broadly, is the counter-hegemonic movement between local law and national law, which is marked by the victory of the Samin Community at the level of Judicial Review at the Supreme Court. Methodology: The research was carried out through observation, interview, and literature review to explain local and national legal disputes, which were analyzed qualitatively using legislation, unwritten law, and the Gramsci Counter Hegemony approach. Results: The study revealed that: first, local law disputes against national law in Rembang Regency occurred because of the dominance of national law over local law, which recognizes indigenous people only when stated in the law. Second, the Samin Indigenous people still adhere to traditions, myths, and ecological principles called Saminism, which only allow them to farm and serve as a cultural identity. Therefore, they may not be able to survive if they have another profession. Third, the judge's decision in the form of a caliph on earth is influenced by the soul of the mother earth community of the Samin Community and forms a new norm so that it becomes a new hegemony against national law. Application of the study: This research can be used by law enforcers so that their legal decisions rely on not only legal positivism values but also transcendental local legal concepts. Novelty/Originality of research: No previous research has linked the dispute over permits for constructing a cement factory in the Rembang Regency and Decision No. 99/PK/TUN/2016 with a counter-hegemonic approach and transcendental-based local laws. Keywords: legal comparison, legal reasoning, environmental law, court judgment   ABSTRAK  Tujuan Kajian: Kajian ini bertujuan untuk memahami gugatan masyarakat Samin di Kabupaten Rembang terhadap Keputusan Gubernur No. 660.1/17/2012 yang mengizinkan pembangunan dan ekspolitasi sumber daya alam di pegunungan Kendeng. Sengketa ini tidak hanya menunjukan gugatan hukum namun yang lebih luas adalah gerakan kontra hegemoni antara hukum lokal dengan hukum nasional yang ditandai dengan kemenangan masyarakat Samin pada tingkat Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung. Metodologi: Penelitian dilaksanakan dengan melakukan observasi, wawancara, dan kajian literatur yang dimaksudkan untuk menjelaskan sengketa hukum lokal dan nasional yang dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan perundang-undangan, hukum tidak tertulis dan pendekatan Kontra Hegemoni Gramsci. Hasil-hasil: Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa pertama, Sengketa hukum lokal melawan hukum nasional di Kabupaten Rembang terjadi karena adanya dominasi hukum nasional atas hukum lokal yang hanya mengakui masyarakat adat hanya jika disebutkan oleh Undang-Undang. Kedua, masyarakat Adat Samin masih berpegang pada tradisi, mitos dan prinsip-prinsip ekologis yang disebut Saminisme yang yang hanya mengizinkan mereka untuk bertani saja dan sebagai identitas budaya, sebab itu mereka tidak mungkin mampu bertahan hidup apabila berprofesi lain; dan Ketiga, Amar putusan hakim berupa khalifah di muka bumi dipengaruhi oleh jiwa masyarakat ibu bumi masyarakat Samin dan membentuk norma baru sehingga menjadi hegemoni baru melawan hukum nasional. Aplikasi Kajian: Penelitian ini dapat digunakan bagi penegak hukum agar putusan hukumnya tidak hanya bersandar pada nilai-nilai positivisme hukum, namun juga konsep hukum lokal yang bersifat transendental. Kebaruan/Originalitas Penelitian: Belum ada penelitian sebelumnya yang menghubungkan sengketa izin pembangunan Pabrik Semen di Kabupaten Rembang dan putusan No. 99/PK/TUN/2016 dengan pendekatan kontra hegemoni dan hukum local berbasis transendental. Katakunci : Perbandingan Hukum, Penalaran Hukum, Hukum Lingkungan, Putusan Pengadilan
The Relationship Of State Law And Customary Law:: Reinforcement And Protection Of Customary Law In Constitutional Court Judgment Asnawi Mubarok; Absori; Harun; Sheela Jayabalan
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 2, December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i2.2914

Abstract

ABSTRACT Purpose of the study: This research analyzes the relationship between state law and customary law and Constitutional Court judgment in strengthening the rights of indigenous peoples and legal protection of the rights of indigenous peoples. Methodology: This article used normative legal research. Normative legal research is a scientific research procedure based on the logic of jurisprudence (doctrine) to seek truth from a normative perspective, which is conducted in the literature study in the form of relevant legal regulations and norms, especially in the Constitutional Court Judgment Number 35/PUU-X/2012, as well as other relevant sources. Results: This study reveals that recognition of the nature of the norms created by Indonesian indigenous peoples in the constitution is a facultative norm rather than imperative. Therefore, the state's obligation to recognize and respect indigenous peoples does not have strong binding force, so it is difficult to use apparent guidelines, procedures and mechanisms. This situation provokes conflicts, including between the government and society, society and entrepreneurs, and within society. The protection and reinforcement of indigenous communities still requires improvements and stronger law enforcement. Applications of this study: The research provides a comprehensive understanding analysis given that the interaction of state law with customary law or non-state laws both have influences and intersect with each other. However, conflicts between laws that apply to an area often let local laws to be defeated through the authorization process. The state has the right to issue and ratify all policies. State law should not eliminate the existence of customary law, but it is expected that shared likeliness can be sought so that it is consistent in its implementation. Novelty/ Originality of this study: This research gives a conceptual proposal of protecting indigenous peoples' land rights through: First, strengthening recognition. Indigenous communities whose customary land is in need for development should be recognized, not in the form of funds, but through the construction of public facilities or other forms of benefit to local communities. Second, establishing an independent institution under the President that resolves problems, conflicts, recognition, protection and promotion of the rights of indigenous peoples. Third, regulatory integration between ministries. Fourth, reinforcing the role of regional government and Regional Legislative Council. This conceptual proposal emphasizes the significance of respecting and protecting the rights of indigenous peoples before law, political recognition, autonomy and policies to ensure that the rights of indigenous peoples are respected and upheld. Keywords: Indigenous People, Legal Protection, Constitutional Court   ABSTRAK   Tujuan: Penelitian ini menganalisis tentang relasi hukum negara dengan hukum adat dan Putusan MK dalam penguatan hak masyarakat adat serta perlindungan hukum terhadap hak masyarakat adat Metodologi: Artikel ini menggunakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah berdasarkan logika yurisprudensi (doktrin) untuk mencari kebenaran dari sisi normatif, yang dilakukan dalam kajian bahan pustaka berupa peraturan dan norma hukum yang terkait terutama dalam putusan Mahkamah Konstitusi nomor 35/ PUU-X/2012, juga sumber lain yang terkait. Temuan: Kajian ini mengungkapkan bahwa pengakuan terhadap hakikat norma-norma yang diciptakan oleh masyarakat adat Indonesia dalam konstitusi adalah sebuah norma opsional dan bukan norma wajib. Oleh karena itu, kewajiban negara untuk mengakui dan menghormati masyarakat adat tidak mempunyai kekuatan mengikat yang kuat, sehingga tidak mudah untuk dijadikan pedoman, prosedur dan mekanisme yang lebih konkrit. Keadaan ini memunculkan banyak konflik, antara lain antara pemerintah dengan masyarakat, masyarakat dengan pengusaha, serta masyarakat dengan masyarakat. Perlindungan dan pemberdayaan masyarakat adat masih memerlukan perbaikan dan penegakan hukum yang lebih kuat. Kegunaan: Penelitian memberikan analisis pemahaman yang lebih komprehensif melihat bahwa interaksi hukum negara dengan hukum adat atau hukum yang bukan berasal dari negara sama-sama memiliki pengaruh dan saling bersinggungan, meskipun demikian konflik antar hukum yang berlaku atas suatu wilayah sering kali menyebabkan hukum lokal dikalahkan melalui proses otorisasi negara yang berhak mengeluarkan dan mengesahkan segala kebijakan. Hukum negara hendaknya tidak menyingkirkan keberadaan hukum adat, namun diharapkan dapat dicari titik-titik persamaan yang ada sehingga sejalan dalam pelaksanaannya. Kebaruan/Orisinalitas: Penelitian ini memberikan tawaran konsepsional perlindungan hak atas tanah masyarakat adat dapat melalui: Pertama, memperkuat recognitie. masyarakat adat yang tanah ulayatnya diperlukan untuk pembangunan harus diberikan pengakuan, bukan dalam bentuk uang, tetapi melalui pembangunan fasilitas umum atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. Kedua, Membentuk lembaga independen di bawah Presiden yang menangani permasalahan, konflik, pengakuan, perlindungan dan pemajuan hak-hak masyarakat adat. Ketiga, Integrasi Regulasi antar Kementerian. Keempat, Penguatan Peran Pemerintah Daerah dan DPRD. Seluruh tawaran konsepsionel ini menekankan pentingnya menghormati dan melindungi hak-hak masyarakat adat dalam konteks hukum, pengakuan politik, otonomi, dan kebijakan untuk memastikan hak-hak masyarakat adat dihormati dan ditegakkan. Kata Kunci: Masyarakat Adat, Perlindungan Hukum, Mahkamah Konstitusi
Co-Authors , Eren Arif Budiman Ach. Nurul Luthfi Achmadi Achmadi Adiantika, Hanif Nurcholish Afiful Ikhwan Agatha Jumiati Agiyanto, Ucuk Aida Dewi Aidul Fitriciada Azhari Ajid Abdul Syawal Akhmad Muslih Alirahman, Agus Dian Andria Luhur Prakoso Andriadin, Andriadin Anis Khairiyah Apreliyanti, Virra Ervita Arief Budiono Arum Prastyanti, Rina Bambang Sukoco Bangsawan, Moh Indra Bangsawan, Mohammad Indra Chatarina Umbul Wahyuni Dewi Kusuma Diarti Dewi Kusuma Diarti Dewi, Aida Diana Fitriana Dianto Dianto Dianto, Dianto Diatmoko, Tri Dinil Abrar Sulthani Disemadi, Hari Sutra Elviandari Elviandari Elviandri, Elviandri Elya Kusuma Dewi Emovwodo, Silaas Oghenemaro Esmara Sugeng Etyn Ariyani Susilowati Fadhilah, Astutik Fahmi Fairuzzaman Farkhani Farkhani Farkhani Farkhani Fatkhul Muin Fauziyah Putri Meilinda Fitrah Hamdani Fitriana, Diana Fitriani Nur Damayanti Fitriani Nur Damayanti Gamal Abdul Nasir Genta Arya Mohammad Gulyamov, Said Saidakhrarovich Hakim, Rusydi Hamdani, Fitrah Hanafi, Akhmad Hanafi, Muhammad Amin Hangabei, Sinung Mufti Haq, Hilman Syahrial Harun Harun Harun Harun Harun Harun Harun Harun Harun Harun Harun Hery Dwi Utomo Ibrahim, Alisa Iksan Iksan Irawansah, Didik Istani Izziyana, Wafda Vivid Johan Cahya Kusuma Sakti Kachippa Suvirat Kelik Wardiono Khudzaifah Dimyati Khuzaefah Dimyati Lyandova, Vanka M Junaidi M Junaidi, M M Taufan Badollahi M. Mu’inudinillah Basri Marisa Kurnianingsih Moh Ikbal Moh Ikbal Moh Indra Bangsawan Moh. Indra Bangsawan Mohammad, Genta Arya Mubarok, Asnawi Muh Nashiruddin Muh Zuhri Muhamad Latif Muhammad Husnur Rofiq Muhammad Nurcholis Alhadi Muhammad, Fadil Mukhlishin Mukhlishin Munir, Usman Mustofa Fahmi Nanik Rumiati Nasri Nasri Nasri Nasri, Nasri Natangsa Subakti Natangsa Surbakti Ngestiningrum, Ayesha Hendriana Nugroho, Sigit Sapto Nurani, Siti Syahida Nurjannah S Nurkhaeriyah Nurkhaeriyah Pambudi, Satriyo Rahman Nur Pamungkas, Yuli Prasetyo Tri Peggy Dian Septi Nur Angraini Purwadi Wahyu Anggoro Rahmad, Noor Rahmatullah Ayu Hasmiati Ramadhan, Jelang Ramon, Tomás Mateo Ridwan Rika Maya Rizka Rizka Rizka Rizka Rizka Rizka Rizka, Rizka Rochman, Saepul Rohayu H, Rina Rohayu, Rina Romi Saputra Rusydi Hakim Said Saidakhrarovich Gulyamov Sakti, Johan Cahya Kusuma Sapruddin Saprudin Saputri, Heni Sarip Sarip Satriyo Rahman Nur Pambudi Setiyawan, Wahyudi Sheela Jayabalan Sigit Sapto Nugroho Silaas Oghenemaro Emovwodo Siti Hasanah Siti Soekiswati Siti Syahida Nurani Sitti Nurkhaerah Sri Rejeki Sri Suwartini, Sri Subakti, Natangsa Sudiyo Widodo, Sudiyo Syafirah, Filzah Ilda Syaifuddin Zuhdi Syaifuddin Zuhdi Syawal, Ajid Abdul Syifa Rana Tsary Taadi Taadi Trias Hernanda Trisno Raharjo Trisno Raharjo Tsary, Syifa Rana Ucuk Agiyanto Wafdah Vivid Iziyana Wahyudi Setiyawan Waljinah, Sri Wardah Yuspin Wibowo, Sugeng Widayati Widayati Widayati, Widayati Widihartati S Widihartati Setiasih Yogi Prasetyo Yogi Prasetyo Yogi Prasetyo Yulianingrum, Aullia Vivi Zamawi, Bahrudin Zuhdi, Syaifuddin