There were 3 main causes of maternal death in 2021, namely bleeding with 7 cases, hypertension in pregnancy with 2 cases, the most deaths occurred during the postpartum period (10 cases), pregnancy (6 cases), and the delivery process (4 cases) (Semarang Regency Health Office, 2021). The causes of frequent MMR cases are usually due to lack of access to quality health services, especially timely emergency services, which are caused by late recognition of danger signs and decision making, delays in reaching health facilities, and delays in receiving services at health facilities. In addition, the causes of maternal death cannot be separated from the condition of the mother herself and are one of the 4 "too" criteria, namely too old at birth (> 35 years), too young at birth (4 children) The main causes of IMR include low birth weight (LBW), asphyxia, and other factors such as infection, aspiration, congenital abnormalities, diarrhea, pneumonia, and others (Central Java Health Profile, 2018). Steps that can be taken to reduce maternal mortality and infant mortality include providing quality and comprehensive midwifery care for every mother and baby. These services include health checks for pregnant women with integrated ANC, delivery assistance by trained medical personnel at health facilities, postpartum care for mothers and babies, special attention, and referrals when problems occur, as well as family planning services including postpartum contraception (Central Java Health Profile, 2018). To accelerate the achievement of the target of reducing maternal and infant mortality rates, Indonesia has a program focused on continuous midwifery services. In the Indonesian context, the term "Continuity of Care" refers to ongoing care from pregnancy, childbirth, newborn care, postpartum care, neonatal care, and quality family planning services. When implemented comprehensively, this effort has proven highly effective in reducing mortality and morbidity, as planned by the government (Diana, 2017). Abstrak Terdapat 3 penyebab utama kematian ibu di tahun 2021, yaitu perdarahan dengan 7 kasus, hipertensi pada kehamilan dengan 2 kasus, Kematian terbanyak terjadi pada masa nifas (10 kasus), kehamilan (6 kasus), dan proses persalinan (4 kasus) (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2021). Penyebab kasus MMR yang sering terjadi biasanya disebabkan oleh kurangnya akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, terutama layanan darurat tepat waktu, yang diakibatkan oleh terlambatnya pengenalan tanda-tanda bahaya dan pengambilan keputusan, keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatan, serta keterlambatan dalam menerima pelayanan di fasilitas kesehatan Selain itu, penyebab kematian maternal juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi ibu itu sendiri dan merupakan salah satu dari 4 kriteria "terlalu", yaitu terlalu tua saat melahirkan (> 35 tahun), terlalu muda saat melahirkan Kurang dari 20 tahun (< 20 tahun ) terlalu sering melahirkan (4 anak), Penyebab utama AKB meliputi BBLR, asfiksia, serta faktor lain seperti infeksi, aspirasi, kelainan bawaan, diare, pneumonia, dan lainnya (Profil Kesehatan Jateng, 2018). Langkah yang dapat diambil untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan angka kematian bayi meliputi pemberian asuhan kebidanan yang berkualitas dan komprehensif bagi setiap ibu serta bayi. Pelayanan ini termasuk pemeriksaan kesehatan ibu hamil dengan ANC terpadu, bantuan persalinan oleh tenaga medis terlatih di fasilitas kesehatan, perawatan setelah melahirkan untuk ibu dan bayi, perhatian khusus, serta rujukan saat terjadi masalah dan juga pelayanan Keluarga Berencana termasuk kontrasepsi pasca persalinan (Profil Kesehatan Jateng, 2018). Untuk mempercepat pencapaian target penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi, Indonesia memiliki program yang terfokus pada pelayanan kebidanan yang berkelanjutan. Istilah Continuity of Care dalam konteks bahasa Indonesia mengacu pada perawatan yang berlangsung dari masa kehamilan, persalinan, perawatan bayi baru lahir, asuhan postpartum, perawatan neonatus, dan pelayanan KB berkualitas. Jika dilaksanakan secara menyeluruh, upaya ini terbukti sangat efektif dalam mengurangi angka kematian serta morbiditas sesuai dengan rencana pemerintah (Diana, 2017).