Claim Missing Document
Check
Articles

MEASUREMENT OF SERUM TESTOSTERONE IN KACANG GOAT BYUSING ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA) TECHNIQUE: THE IMPORTANCE OF KIT VALIDATION (Pengukuran Testosteron Serum Kambing Kacang dengan Teknik Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA): Pentingnya Validasi Kit) G, Gholib; Wahyuni, Sri; Kadar, Okta Hilda; Adam, Mulyadi; Lubis, Triva Murtina; A, Azhar; Akmal, Muslim; Siregar, Tongku Nizwan; Armansyah, Teuku; Nugraha, Taufiq Purna
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 1 (2016): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i1.3367

Abstract

This study was conducted to validate a commercial testosterone enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) kits (DRG EIA-1559) inanalytic and biological manner for measuring serum testosterone concentrations in kacang goats. This study used 18 healthy kacang goats, six bucks (2 years), six kids (6 months), and six does (2 years). Blood samples were collected from jugular vein and prepared as serum. Two validation tests were performed, an analytical validation comprises a parallelism, accuracy, precision and sensitivity and a biological validation by comparing testosterone concentration from bucks, kids, and does. Testosterone concentrations were measured using ELISA technique. Data of analytical validation were analyzed descriptively and test of equality of slope was performed to see the parallelism between samples and standard curves. Analysis of variance (ANOVA) was used for biological validation data. Results of parallelism showed that sample curve was parallel to the standard curve. Accuracy, precision (% CV of intra-and inter-assay) and sensitivity of the assay were 99.654.27%, 10%, 15% and 0.083 ng/ml, respectively. Results of biological validation showed that the assay used were accurately measured testosterone which testosterone concentrations in bucks were significantly higher compared to kids and does (P0.05). In conclusion, a commercial testosterone ELISA kits (DRG EIA-1559) is a reliable assay for measuring serum testosterone concentration in kacang goats. Key words: analytical and biological validations, ELISA, testosterone, kacang goat
The Effect of the Follicle Size and Follicle Number Per Ovary on Oocyte Quality of Local Goat Sayuti, Arman; Siregar, Tongku Nizwan; Akmal, Muslim; H, Hamdan; H, Hamdani
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 1, No 1 (2007): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v1i1.3120

Abstract

This research was aimed to find out the relationship between the diameter of follicle and thedifferent of follicle number on oocyte quality of local goat. The oocyte originated from the ovary was takenfrom the Slaughterhouse in Banda Aceh. The ovary was aspirated in the Histology Laboratory ofVeterinary Medicine Faculty of Syiah Kuala University, Banda Aceh. This experiment consisted of twostages, the follicles were selected and divided into 3 groups according to their diameter size. The smalldiameter size 2 mm, medium size 2-5 mm, and big size 5 mm. The second, the ovaries were dividedinto three groups based on number of follicle, i.e; 1(5; 2(6-10); and 3 (11). The diameters of oocytetaken from the three groups of follicle size were measured by using eyepiece micrometer, while the oocytemorphology was categorized into 4 groups. The result of regression data indicated that the biggest folliclediameter yielded the oocyte that had bigger diameter, too. The model of regression is y = 0.955 + 0.157x, y is the diameter of oocyte and x is the diameter of follicle. The close relationship (r) between the diameter offollicle and the diameter of oocyte was 0.967. There are significant differences (P0.05) between the size offollicle and the morphology of oocyte. The oocytes originated from larger follicle tend to have bettermorphological appearance than the oocyte originated from smaller follicle.Keywords: oocyte, follicle
PEMBERIAN EKSTRAK EPIDIDIMIS BERPOTENSI MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING JANTAN LOKAL Akmal, Muslim; Siregar, Tongku Nizwan; Wahyuni, Sri; Hambal, Muhammad; S, Sugito; A, Amiruddin; S, Syafruddin; R, Roslizawaty; Z, Zainuddin; Adam, Mulyadi; G, Gholib; Iskandar, Cut Dahlia; R, Rinidar; Asmilia, Nuzul; H, Hamny; J, Joharsyah; S, Suriadi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2839

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak epididimis (EE) terhadap peningkatan kualitas spermatozoa kambing jantan lokal. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor kambing jantan lokal, berumur 1,5 tahun dengan bobot badan 10-15 kg dan dibagi atas empat kelompok (K0, KP1, KP2, dan KP3). Kelompok K0, hanya diinjeksi dengan NaCl fisiologis sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi EE masing-masing 1, 2, dan 3 ml/ekor selama 13 hari berturut-turut. Pada hari ke-14, dilakukan pengambilan semen kambing dengan elektroejakulator dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan kualitas spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EE dengan dosis 1 dan 3 ml/ekor EE selama 13 hari berturut-turut menyebabkan peningkatan kualitas spermatozoa dibanding kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa EE berpotensi meningkatkan kualitas spermatozoa pada kambing jantan lokal.
INHIBIN B MENURUNKAN KONSENTRASI FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus): UPAYA PENGEMBANGAN KONTRASEPSI HORMON PRIA BERBASIS PEPTIDA Akmal, Muslim; A, Aulanniam; Widodo, M. Aris; Sumitro, Sutiman B.; Purnomo, Basuki B.; Siregar, Tongku Nizwan; Hambal, Muhammad; A, Amiruddin; S, Syafruddin; Aliza, Dwinna; Sayuti, Arman; Adam, Mulyadi; Armansyah, T.; Rahmi, Erdiansyah
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2788

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B terhadap penurunan konsentrasi follicle stimulating hormone (FSH) di dalamserum pada tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 24 ekor tikus putih berjenis kelamin jantan dengan strain Wistar berumur 4 bulan dengan bobot badan 150-200 g. Tikus-tikus dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu KK0, KP1, KP2, dan KP3, masing-masing kelompok terdiri atas 6 ekor. Kelompok KK0 merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan phosphate buffer saline (PBS), sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis berturut-turut 25, 50, dan 100 pg/ekor. Injeksi inhibin B dilakukan secara intraperitoneum sebanyak 5 kali selama 48 hari dengan interval waktu 12 hari. Injeksi pertama inhibin B dilarutkan dengan0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freuds complete adjuvant (FCA). Injeksi kedua sampai kelima, inhibin B dilarutkan dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freuds incomplete adjuvant (FICA). Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis,lalu darah dikoleksi langsung dari jantung dan didiamkan hingga didapatkan serum untuk pemeriksaan konsentrasi FSH dengan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan konsentrasi FSH secara nyata (P0,05) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut, inhibin B berpeluang untuk dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria hormon berbasis peptida.
SUPLEMEN BUNGKIL INTI SAWIT TEPUNG DAUN KATUK BERPOTENSI MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA Akmal, Muslim; Reza Ferasyi, Teuku; Budiman, Hamdani; R, Razali; A, Azhari; A, Anwar; Aji Pamungkas, Fitra; Nasution, Saddat; Armansyah, T.; Hambal, Muhammad; S, Syafruddin; Sayuti, Arman
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i2.2638

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian suplemen bungkil inti sawit (BIS), tepung daun katuk (KAT), dan kombinasi bungkil inti sawit dan tepung daun katuk (BISKAT) terhadap peningkatan kualitas spermatozoa kambing jantan peranakan Ettawa (PE). Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor kambing jantan PE, berumur 1,5 tahun dengan berat badan antara 15 -20 kg dan dibagi atas empat kelompok yakni P0, P1, P2, dan P3 yang masing-masing diberi akuades, BIS 100 g/hari/ekor, kombinasi BIS 100 g/hari/ekor dan KAT 15 g/hari/ekor, dan KAT 15 g/hari/ekor. Pemberian perlakuan dilakukan selama 35 hari. Pada hari ke-36 dilakukan kastrasi dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan kualitas spermatozoa yang meliputi motilitas, viabilitas, integritas membran, dan abnormalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen kombinasi BISKAT dapat meningkatkan motilitas, viabilitas, integritas membran, dan menurunkan abnormalitas spermatozoa dibanding kelompok kontrol. Disimpulkan bahwa pemberian suplemen kombinasi BISKAT berpotensi meningkatkan kualitas spermatozoa kambing PE.
PEMBERIAN EKSTRAK VESIKULA SEMINALIS MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA TETAPI TIDAK MEMENGARUHI KONSENTRASI SPERMATOZOA DAN TESTOSTERON TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) Nizwan Siregar, Tongku; Akmal, Muslim; Wahyuni, Sri; Tarigan, Hermawaty; M, Mulyadi; Nasution, Idawati
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i2.2620

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak vesikula seminalis terhadap kualitas spermatozoa dan konsentrasi testosteron tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor tikus putih jantan dewasa, galur Wistar, berumur 3 -4 bulan, berat badan 250-300 g dan dibagi menjadi 4 kelompok (K1, K2, K3, dan K4), masing-masing kelompok berturut-turut diberikan 0,2 ml NaCl fisiologis, 25 g cloprostenol, 0,2 ml ekstrak vesikula seminalis (EVS), dan 0,4 ml EVS secara intraperitoneal. Pada akhir perlakuan, seluruh tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis. Selanjutnya, kauda duktus epididimis dinekropsi untuk dikoleksi spermatozoanya. Pemeriksaan kualitas spermatozoa, meliputi motilitas dan konsentrasi spermatozoa. Pemeriksaan konsentrasi testosteron serum darah dilakukan menggunakan teknik enzymelinked immunosorbant assay (ELISA). Motilitas dan konsentrasi (x10 6 ) spermatozoa pada kelompok K1; K2; K3; dan K4 masingmasing adalah 3,000,00; 3,200,28; 2,000,86; dan 3,200,28 dan 146,6071,90; 187,8060,80; 124,2064,70; dan 129,4027,07. Konsentrasi testosteron pada kelompok K1; K2; K3; dan K4 masing-masing adalah 5,53+1,75; 4,68+4,56; 2,51+1,33; dan 2,40+1,60 ng/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EVS mampu meningkatkan motilitas spermatozoa tetapi tidak memengaruhi konsentrasi spermatozoa dan testosteron serum darah tikus putih.
Gambaran Histologis Tubulus Seminiferus Kambing Kacang Jantan Lokal Pascapemberian Suplemen Daun Katuk Ferasyi, Teuku Reza; Budiman, Hamdani; Akmal, Muslim; Melia, Juli; R, Razali; Novita, Andi; Barus, Rina Aulia; Suprayogi, Agik
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1261

Abstract

Penelitian ini mengetahui pengaruh pemberian tepung atau ekstrak alkohol daun katuk terhadap perubahan histologis testis kambing kacang lokal jantan. Dalam penelitian ini digunakan 15 ekor kambing dengan umur sekitar 1,5 tahun. Semua hewan penelitian terlebih dahulu diaklimatisasi selama 2 minggu terhadap lingkungan penelitian. Hewan-hewan tersebut dibagi menjadi 3 kelompok yang masing-masing terdiri atas 5 ekor kambing. Kelompok P0 (kontrol) telah hanya diberikan air distilasi. Pada kelompok P1, diberikan perlakuan berupa suplementasi tepung daun katuk dan untuk kelompok P2 diberikan ekstrak alkohol daun katuk. Semua perlakuan diberikan secara oral sebanyak dua kali per hari (pada pagi dan sore hari) selama 35 hari berturut-turut. Setiap kambing percobaan diberikan pakan yang terdiri atas daun-daunan dan rumput, serta disediakan akses untuk memperoleh air minum secara ad libitum. Pada akhir waktu penelitian, seluruh hewan dikastrasi dan bagian tubulus seminiferus dari testis diambil dan diproses lebih lanjut untuk evaluasi secara histologis. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat indikasi peningkatan produksi spermatid dan spermatosit pada Kelompok P1 dan P2. Dengan demikian disimpulkan bahwa pemberian suplemen daun katuk dapat meningkatkan produksi spermatid dan spermatosit kambing kacang lokal jantan.
PENINGKATAN AKTIVITAS LUTEOLITIK SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK VESIKULA SEMINALIS SAPI PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) r, Rahmandi; Siregar, Tongku Nizwan; Akmal, Muslim; Armansyah, Teuku; s, Syafruddin
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.576

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak vesikula seminalis terhadap penurunan konsentrasi progesteron sertadiameter korpus luteum pada tikus putih. Dalam penelitian ini digunakan 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) betina dewasa, galur Wistar, berumur 3-4 bulan dengan berat badan antara 200-250 g dan dibagi atas dua kelompok (K1 dan K2) masing-masing diberi 25 g cloprostenol dan 0,2 cc ekstrak vesikula seminalis secara intravaginal pada hari ke-7 kebuntingan. Tiga ekor tikus masing-masing kelompok dibunuh pada jam ke-0, 3, 6, 12, dan 26. Pemeriksaan progesteron dilakukan menggunakan metode enzymelinkedimmunosorbantassay (ELISA). Konsentrasi progesteron pada kelompok perlakuan PGF2 dan ekstrak vesikula seminalis pada lima periode waktu pengukuran yakni jam ke-0, 3, 6, 12, dan 26 memperlihatkan perbedaan yang signifikan (P0,05). Ekstrak vesikula seminalis mempunyai kemampuan yang sama dengan PGF2 komersial dalam menurunkan diameter korpus luteum yang ditandai secara mikroskopis dengan berkurangnya vaskularisasi darah menuju ovarium (P0,05). Disimpulkan bahwa ekstrak vesikula seminalis mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan PGF2 komersial dalam menurunkan konsentrasi progesteron tikus putih dan mempunyai kemampuan yang sama dengan PGF2 komersial dalam menurunkan diameter CL.
INHIBIN B: KANDIDAT KONTRASEPSI PRIA BERBASIS HORMON PEPTIDA Akmal, Muslim; a, Aulanni'am; Widodo, Muhammad Aris; B. Sumitro, Sutiman; Purnomo, Basuki B.
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 5, No 1 (2011): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v5i1.391

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B sebagai kandidat kontrasepsi pria berbasis hormonpeptida terhadap berat badan, berat dan panjang testis, dan duktus epididimis. Sebanyak 24 ekor tikus (Rattusnovergicus) jantan strain Wistar berumur 4 bulan dengan berat badan 150-200 g dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu kontrol (KO), KI, KII, dan KIII. Kelompok kontrol, tikus hanya diinjeksi dengan 0,1 ml PBS tanpa inhibin B; Kelompok KI, KII, dan KIII tikus diinjeksi dengan 25, 50, dan 100 pg inhibin B/ekor. Injeksi dilakukan secara intra peritoneal sebanyak 5 kali dengan selang waktu 12 hari selama 48 hari. Injeksi pertama, isolat inhibin B dilarutkan dalam PBS sebanyak 0,05 ml dan diemulsikan dengan 0,05 ml Freud's complete adjuvant (FCA). Pada injeksi kedua, ketiga, keempat, dan kelima menggunakan inhibin B dalam PBS 0,05 ml dan diemulsikan dengan 0,05 ml Freud's incomplete adjuvant (FICA). Pada hari keenam setelah injeksi terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis setelah terlebih dahulu dilakukan penimbangan berat badan. Berat testis dan duktus epididimis ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik, sedangkan diameter dan panjang testis dan duktus epididimis diukur dengan menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (P0,05) antara kelompok kontrol dan perlakuan terhadap berat badan, berat, panjang, dan diameter testis dan duktus epididimis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa inhibin B berpotensi dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria berbasis hormon peptida yang aman dan reversible.
INHIBIN B MENGHAMBAT EKSPRESI MOLEKUL PROTAMINE P2 DI DALAM KEPALA SPERMATOZOA TIKUS (Rattus norvegicus) a, Aulanni'am; Akmal, Muslim; Widodo, M. Aris; Sumitro, Sutiman B.; Purnomo, Basuki B.
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 5, No 2 (2011): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v5i2.365

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek inhibin B terhadap ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada kauda epididimis. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus jantan berumur 4 bulan yang dikelompokkan secaraacak ke dalam 4 kelompok (KO, KI, KII, dan KIII), setiap kelompok terdiri atas 6 ekor tikus. Kelompok KO merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan PBS. Kelompok KI, KII, dan KIII diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis masing-masing adalah 25, 50, dan 100 pg/ekor. Tikus diinjeksi sebanyak 5 kali secara intra peritoneal dengan interval waktu pemberian 12 hari selama 48 hari. Injeksi pertama, inhibin B dicampur dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml CFA. Injeksi kedua hingga kelima, inhibin B dicampur dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml IFA. Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, hewan coba dikorbankan secara dislocatio cervicalis lalu jaringan kauda epididimis dikoleksi dan difiksasi dengan paraformaldehid 4%. Setelah melalui proses dehidrasi, jaringan blok di dalam parafin dipotong dengan ketebalan 6 mikron dan diwarnai secara imunohistokimia dengan menggunakan antibodi anti protamine P2. Pengamatan secara imunohistokimia menunjukkan adanya ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada semua kelompok perlakuan. Akan tetapi, seiring dengan penambahan dosis inhibin B menyebabkan terjadinya penurunan tingkat ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada kauda epididimis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan secara nyata jumlah ekspresi protamine P2 di dalam kepala spermatozoa pada epididimis (P0,05) dibanding KO.
Co-Authors a, Aulanni'am A, Aulanniam Abdul Harris Abdullah, Mohd Agus Nashri Agik Suprayogi Al Azhar Al Azhar Amiruddin . Amiruddin A Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amiruddin Andi Novita Andriani, Mira Annisa, Aiza Anwar A, Anwar Arman Sayuti Arman Sayuti Arman Sayuti Aulanni'am, Aulanni'am Awaluddin Awaluddin Awaluddin Awaluddin Ayuti, Siti Rani Azhar A, Azhar Azhari A Bagus Dwijayanti Bani, Ika I. Basuki B. Purnomo Basuki B. Purnomo Boni Anggara budianto panjaitan Chintya Desfariza Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi, Cut Nila Darmawi . Darnifayanti, Darnifayanti Dasrul Dasrul Dedy Syahrizal Delima, Mira Sukma Denny Irmawati Dewi Ratna Sari Dewi Ratna Sari Dian Masyitah, Dian Dian Masyitha Dian Masyitha Dian Masyitha Dwinna Aliza Dwinna Aliza Dwinna Aliza Eka Meutia Sari Eka Meutia Sari Erdiansyah Rahmi Erwin Erwin Etriwati E Fadli A. Gani Faisal Mustafa Fajar Fakri Fajri, Fauzan Farida Athaillah Ferdian, Riyan Filphin Adolfin Amalo Fitra Aji Pamungkas, Fitra Fitriani Fitriani Fitriani Fitriani Fitriani Fitriani Fitriani Fitriani Gholib G, Gholib Gholib Gholib Gholib Gholib, Gholib Hafizuddin Hafizuddin Hamdan - Hamdan H Hamdan h Hamdan Hamdan Hamdani Budiman Hamdani Budiman Hamdani H Hamdani H, Hamdani Hamny H, Hamny Hamny Hamny Hamny Sofyan Hasan, Denny Irmawati Helmi, T. Zahrial Herlina Dimiati, Herlina Hermawaty Tarigan Hermawaty Tarigan, Hermawaty Husmimi Husmimi Husmimi Husmimi Husmimi, Husmimi Husnur rizal Husnurrizal . Husnurrizal, Husnurrizal I. Ketut Mudite Adnyane, I. Ketut Mudite Idawati Nasution Idawati Nasution Idawati Nasution Imran Imran Indra Sitorus Ismail Ismail Joharsyah J Joharsyah J, Joharsyah Juli Melia Juli Melia Ketut Adnyane Mudite Listin Handayani M Nur Salim M Nur Salim M. Aris Widodo M. Aris Widodo M. Nur Salim Mahdi Abrar Masda Admi Mauliza , Mauliza Mauliza, Mauliza Mohd. Agus Nashri Abdullah Morteza Almuthahhar Mudastsir, Mudastsir MUHAMMAD AGIL Muhammad Aris Widodo Muhammad Hambal Muhammad Jalaluddin Muhammad Jalaluddin Muhammad Jalaluddin, Muhammad Muhammad Toras Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam, Mulyadi Mulyadi M Mulyadi M, Mulyadi Mustafa Sabri N. Nazaruddin Nanda Yulian Syah Nazaruddin N Nirmala, Fadya Nora Maulina, Nora Nora Usrina Nuzul Asmilia Nuzul Asmilia Okta Hilda Kadar, Okta Hilda Patrick Flaggellata Qomariyah, Novia Rahma Melinda Rahmandi r Rahmandi r Ramadhan, Akmal Rastina Rastina Razali Daud Razali R Razali R rina aulia barus Rina Aulia Barus Rinidar - Rinidar R Rinidar R, Rinidar Roslizawaty R Roslizawaty r Rusli - Sadarman , Saddat Nasution, Saddat Sariadi Sariadi Satria Tanjung Siska Pratiwi Siswandy Siswandy Siti Aisyah Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Subagyo, Djoko Sugito Sugito Sugito Sugito Sukma, Zahwa Tamara Sulaiman Yusuf Sultan Fadhilla Taqwa Suriadi S Suriadi S, Suriadi Susi Darmayanti Sutiman B. Sumitro Suwandi, Abdulhadi Syafruddin s Syafruddin S Syafruddin S Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syahrun Nur Syamsiar, Syamsiar T. Armansyah T. Armansyah T. Armansyah, TR T. Reza Ferasyi Tanjung, Satria Taufiq P. Nugraha, Taufiq P. Taufiq Purna Nugraha, Taufiq Purna Teuku Reza Ferasyi Teuku Reza Ferasyi, Teuku Tongku N Siregar Tongku N. Siregar, Tongku Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Triva Murtina Lubis Triva Murtina Lubis Tuty Laswardi Yusuf Ummu Balqis Wahono Esthi Prasetyaningtyas Wahyu Sihombing Wahyuni, Sri Wibi Riawan Yuza Al Iqwal Zachreini, Indra Zainuddin Z Zainuddin Z Zainuddin, Zainuddin Zamzami, Rumi Sahara Zuhrawaty Zuhrawaty Zulfitri Zulfitri, Zulfitri Zulkarnain Zulkarnain Zulkifli, Baidillah Zulyazaini Zulyazaini Zulyazaini, Zulyazaini