p-Index From 2021 - 2026
13.653
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Tahkim (Jurnal Peradaban dan Hukum Islam) Al-Qanun: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam Al-Mizan (e-Journal) Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam Nurani: Jurnal Kajian Syariah dan Masyarakat Dusturiah : Jurnal Hukum Islam, Perundang-undangan dan Pranata Sosial Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Ahkam: Jurnal Hukum Islam AL-HUKAMA´ Al-Qisth Law Review Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Jurnal Ilmiah AL-Jauhari Jurnal Studi Islam dan Interdisipliner Istinbath: Jurnal Hukum dan Ekonomi Islam Al-Maslahah Nizham Journal of Islamic Studies Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu Madinah: Jurnal Studi Islam Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton MONSU'ANI TANO Jurnal Pengabdian Masyarakat El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga El-Faqih : Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia Asy-Syariah TERAJU : Jurnal Syariah dan Hukum BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam Janaka : Jurnal Pengabdian Masyarakat Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan Al-Syakhshiyyah : Jurnal Hukum Keluarga Islam dan Kemanusiaan Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Riwayah : Jurnal Studi Hadis Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah: Jurnal Hukum Keluarga dan Peradilan Islam El-Ahli : Jurnal Hukum Keluarga Islam Jurnal Res Justitia : Jurnal Ilmu Hukum At-Tasyri Jurnal Hukum Islam dan Ekonomi Syariah Qisthosia JCDD Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab Izdihar : Jurnal Ekonomi Syariah Islamic Circle Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia (JPPMI) Audi Et AP : Jurnal Penelitian Hukum Familia: Jurnal Hukum Keluarga VIVA THEMIS- Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora JUSTICIA SAINS: Jurnal Ilmu Hukum Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Kalosara: Family Law Review Al-Mu'tabar Yurisprudentia: Jurnal Hukum Ekonomi Al-Aqwal : Jurnal Kajian Hukum Islam Doktrin: Jurnal Dunia Ilmu Hukum dan Politik Kegiatan Positif : Jurnal Hasil Karya Pengabdian Masyarakat Jurnal AL-MAQASID: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan Journal Of Humanity Dedication Al-Hukama: The Indonesian Journal of Islamic Family Law Jurnal AL-MAQASID: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan Jurnal Studi Islam dan Sosial Madania: Jurnal Kajian Keislaman Ambacang: Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Mizan: Journal of Islamic Law KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Diya al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
Claim Missing Document
Check
Articles

Pendampingan Guru Sekolah Penggerak Dalam Menganalisis Prinsip Asesmen dan Prinsip Pembelajaran Pada Kurikulum Merdeka Raja Ritonga; Rosni Harahap; Robiyatul Adawiyah
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 3 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : AMIK Veteran Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v3i1.1262

Abstract

Sekolah penggerak mendorong bahwa proses pembelajaran harus berpusat pada peserta didik dengan mengaplikasikan profil pelajar Pancasila. Oleh karena itu, komite pembelajaran pada sekolah penggerak selalu berusaha melakuakan asesmen untuk menemukan pola yang tepat untuk diterapkan pada masing-masing peserta didik. Pengalaman belajar yang memberikan dampak positif pada kelas tertentu akan sangat bermanfaat untuk diterapkan pada kelas yang lain. Setiap komite pembelajaran mempunyai metode dan strategi jitu untuk penguasaan kelas dalam proses pembelajaran. Tujuan pengabdian ini adalah untuk melakukan pendampingan kepada guru penggerak atau komite pembelajaran dalam melakukan analisis terkait prinsip asesmen dan prinsip pembelajaran. Adapun metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah metode andragogy atau pembelajaran bagi orang dewasa dengan konsep lokakarya terpadu program sekolah penggerak. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa peserta kegiatan atau guru penggerak telah mampu melakukan analisis terhadap prinsip asesmen dan prinsip pembelajaran. Oleh karena itu, peserta mampu menemukan pola dan strategi baru dalam melakukan pembelajaran yang lebih bermakna.
ANALISIS NASH HADIS DAN AL-QUR’AN TERHADAP PRAKTIK AKAD PENGGUNAAN WIFI DI DESA PANYABUNGAN JULU Raja Ritonga; Nurlaili Mardia
Al-Mu'tabar Vol. 2 No. 2 (2022): Al-Mu'tabar
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Implementation of a muamalat contract is generally considered permissible and valid if there is no element of dhoror. The contract will be carried out between a person and another person who is already a mulatto. In practice, the contract often takes place with the loss of one of the parties. The practice of contracting the use of wifi carried out by residents of Panyabungan Julu related to using village wifi is carried out with a one-price model. This research is a field research. Namely by conducting a study of Hadith and Al-Qur'an texts related to the practice of contracting the use of village-owned wifi by residents of Panyabungan Julu. In collecting data, researchers conducted observations, interviews and documentation. Furthermore, all data were analyzed descriptively with a normative approach. The results of the study explained that the contract was not fully in accordance with the guidance of the Hadith and Al-Qur'an, because there was still an element of ghoror on one of the parties. That is, users pay the same price even if they use it from morning, afternoon and evening. ABSTRAK Pelaksanaan akad muamalat secara umum dianggap boleh dan sah apabila tidak ada unsur dhoror. Akad akan berlaku dilakukan oleh antara seseorang dengan orang lain yang sudah mukallaf. Dalam pelaksanaannya akad sering berlangsung dengan dirugikannya salah satu pihak. Praktik akad penggunaan wifi yang dilakukan oleh warga Panyabungan Julu terkait menggunakan wifi desa dilakukan dengan model satu harga. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan. Yaitu dengan melakukan kajian nash Hadis dan Alqur’an terkait praktik akad penggunaan wifi milik desa oleh warga Panyabungan Julu. Dalam pengumpulan data-data, peneliti melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya semua data dianalisis secara deskriptif dengan pendekatan normatif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa akad yang dilakukan belum sepenuhnya sesuai dengan tuntunan Hadis dan Alqur’an, karena masih ada unsur ghoror pada salah satu pihak. Yaitu pengguna membayar dengan harga yang sama meskipun menggunakannya mulai dari pagi, siang dan sore. Kata kunci: Akad, Alquran, Hadis, Mu’amalat, Wifi
Pelaksanaan Seminar Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini di SMK Negeri 1 Sungai Aur Mahdi Mulia; Alfiani Pulungan; Halidina Haris; Khoirul Amri; Mutiah Rangkuti; Seri Muslimah; Indah Futri; Lely Hayati; Husnil Khotimah; Raja Ritonga; Suryadi Nasution
Ambacang: Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2024): Edisi November
Publisher : PT. Willy Print Art

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan individu dan keluarga untuk melakukan pernikahan dini serta dampaknya terhadap kesejahteraan ekonomi dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama yang mendorong pernikahan dini adalah tekanan sosial dan budaya, keterbatasan akses pendidikan, serta kondisi ekonomi keluarga yang kurang memadai. Selain itu, pernikahan dini juga ditemukan memiliki dampak negatif terhadap kesejahteraan individu, terutama dalam hal kesehatan reproduksi dan akses terhadap pendidikan yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan perlunya intervensi kebijakan yang lebih efektif untuk mengurangi praktik pernikahan dini, seperti peningkatan akses pendidikan, program pemberdayaan ekonomi, dan kampanye kesadaran masyarakat mengenai dampak negatif pernikahan dini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pengentasan pernikahan dini dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.  
Progressive Islam: Examining the Differences and Synergies Between Islam Nusantara and Progressive Islam Ritonga, Raja; Mahmoud Ali Rababah
MADINAH Vol 12 No 2 (2025): Madinah: Jurnal Studi Islam
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM TARBIYATUT THOLABAH LAMONGAN, INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/madinah.v12i2.3972

Abstract

Islam Nusantara, rooted in Indonesia's local traditions and culture, offers a moderate and inclusive approach to Islam, emphasizing social harmony and interfaith tolerance. Meanwhile, Islam Berkemajuan, often associated with the Muhammadiyah movement, focuses on modernization, rationality, and social progress through education and community development. This study aims to explore and analyze the differences and potential synergies between the concepts of Islam Nusantara and Islam Berkemajuan. The method used is a literature review with content analysis. The study data is derived from various books, articles, and other scholarly works relevant to the study's theme. The findings indicate that Islam Nusantara and Islam Berkemajuan are two complementary concepts that can create a harmonious and progressive society. By examining the theological, historical, and sociological foundations of these two concepts, the study provides deep insights into their contributions to the development of Islam in Indonesia in integrating traditional values with the demands of modern progress.
Sosialisasi terhadap penetapan batas usia perkawinan dalam undang-undang nomor 16 tahun 2019 tentang perkawinan pada masyarakat Panyabungan Hamid, Asrul; Nst, Andri Muda; Idris, Idris; Hsb, Zuhdi; Siregar, Ilham Ramadan; Nasution, Suryadi; Akhyar, Akhyar; Ritonga, Raja; Ritonga, Syaipuddin; Siregar, Resi Atna Sari; Nahari, Lailan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.22170

Abstract

AbstrakPerubahan batas usia perkawinan yang awalnya 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk Perempuan menjadi 19 tahun baik untuk laki-laki dan perempuan sesuai yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Perubahan dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan merupakan upaya pemerintah untuk menekan tingginya angka perkawinan di bawah umur dengan memperhatikan kemaslahatan. Tujuan pengabdian ini dilakukan untuk mensosialisasikan perubahan aturan hukum tersebut sehingga timbul kesadaran di masyarakat. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan kepada masyarakat desa binaan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal dengan latar belakang usia dan pendidikan yang berbeda dengan jumlah 100 orang. Metode dilakukan dengan beberapa tahapan; pertama, tahap persiapan dengan mengumpulkan peserta dan melakukan pretest secara sederhana kepada peserta untuk memahami sejauh mana tingkat pemahaman mereka terhadap materi sosialisasi, kedua, tahap pelaksanaan dengan memberikan materi sosialisasi, menjelaskan materi tersebut dengan baik, setelah itu dilakukan diskusi interaktif dengan peserta, ketiga,  tahap evaluasi dengan melakukan postest kepada peserta dan dari hasil postest tersebut dijadikan bahan evaluasi terhadap perbaikan pendampingan berikutnya. Hasil kegiatan pasca sosialisasi ini memberikan trend positif terlihat dari antusiasme dan kepuasan peserta mencapai 85% Puas dan 0% Tidak Puas, hal ini menunjukkan kegiatan berjalan dengan baik. Pemahaman peserta juga meningkat menjadi 45% dari sebelumnya 5%, namun karena masih ada dari peserta yang masih Tidak Paham 13% sehingga pendampingan yang berkelanjutan harus dilakukan dengan memberikan akses secara kontinu dengan berbagai media komunikasi untuk keberlanjutan dari kegiatan sosialisasi. Kata kunci : batas usia perkawinan; masyarakat panyabungan; undang-undang perkawinan. AbstractChanges to the marriage age limit from 19 years for men and 16 years for women to 19 years for both men and women as stated in Law Number 16 of 2019. Amendments to Law Number 1 of 1974 concerning Marriage are The government's efforts to reduce the high number of underage marriages by paying attention to welfare. The aim of this service is to socialize changes to legal regulations so that awareness arises in society. This outreach activity was carried out among the village community assisted by the Mandailing Natal State Islamic College with different age and educational backgrounds totaling 100 people. The method is carried out in several stages; first, the preparation stage by conducting a pretest on participants to understand the extent of their understanding of the socialization material, second, the implementation stage by providing socialization material, explaining the material well, after that an interactive discussion is held with the participants, third, the evaluation stage by conducting a posttest to participants and the results of the posttest are used as evaluation material for subsequent improvements in mentoring. The results of this post-socialization activity provided a positive trend as seen from the enthusiasm and satisfaction of participants reaching 85% Satisfied and 0% Dissatisfied, this shows that the activity went well. Participants' understanding also increased to 45% from the previous 5%, however, because there were still 13% of participants who did not understand, ongoing assistance must be carried out by providing continuous access to various communication media for the continuity of socialization activities. Keywords: marriage age limit; panyabungan community; marriage law.
Pendampingan Anak Balita Dan Remaja Di Desa Balakka Padang Lawas Utara Melalui Kegiatan Kuliah Kerja Nyata Raja Ritonga; Fuadi Fuadi; Anwar Husein; Abdul Lohir Rosyid Nasution; Rizka Nailah Lubis; Ummi Amira; Ida Sumarni; Nur Hayati; Nur Fifiyani Nst; Nur Paridah
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol. 2 No. 3 (2023): Oktober : Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI)
Publisher : Politeknik Pratama Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpmi.v2i3.2486

Abstract

Toddler and Adolescent ages are phases that have great potential in forming a child's character. Education and morality are the topics most often compared in discussions between toddlers and teenagers. Balakka Village in North Padang Lawas has children under five and teenagers whose daily education is not provided outside of school. Of course, this means that a lot of children's time is wasted. Even though this age is the right moment for the formation of their character. The service is aimed at providing assistance to all Balakka village communities in North Padang Lawas. The dedication method is carried out by delegating Community Service Students (KKN) starting from program planning, program implementation and program evaluation. The results of the service show that the people of Balakka village in Padang Lawas Utara, with their strong customs, can be open to input and changes given by KKN students. Character development and basic education provided by students through the magrib recitation program, courses, Islamic boarding schools, game education and other forms of assistance can provide new impressions and experiences for members of the public, especially children aged toddlers and adolescents.
PRESERVING THE TRADITION OF HADITH SANAD IJAZAH IN PESANTREN OF MANDAILING NATAL: Scholarly Continuity and Academic Challenges Siregar, Ilham Ramadan; Ritonga, Raja; Hamid, Asrul; Hsb, Zuhdi; Nst, Andri Muda; Rababah, Mahmoud Ali
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31428

Abstract

The sanad tradition serves as a fundamental mechanism for preserving the authenticity and continuity of hadith through a reliable and accountable chain of transmission. In Indonesia, particularly in Mandailing Natal, this tradition is actively maintained in Pesantren (pesantren), where the transmission of canonical hadith texts—such as Arba‘in an-Nawawi, Bulugh al-Maram, and Sahih al-Bukhari—relies on a sanad-based educational system. This study explores the mechanism of granting ijazah sanad (sanad certificates) in selected pesantren—notably Musthafawiyah, Darul Ulum, and Roihanul Jannah—and examines their contribution to sustaining hadith scholarship. Employing a qualitative methodology that includes fieldwork and historical analysis, the research reveals that sanad certification is not a mere formal acknowledgment, but the result of a rigorous academic and spiritual process. Teaching methods such as musyafahah, talaqqi, and sorogan are employed alongside recitations in class, mosques, and during Ramadan. Certificates are granted only to students who meet strict academic criteria, including completion of hadith study under a teacher with authenticated sanad lineage, comprehension of the matan, and observance of proper adab. Most sanad lineages trace back to scholars connected to Madrasah Ash-Shalatiyah and Darul Ulum Makkah, including Shaykh Muhammad Yasin al-Fadani. Despite its critical role, academic studies on hadith sanad remain limited compared to Qur’anic sanad research. This study underscores the need to revitalize scholarly attention to hadith sanad traditions and affirms the strategic role of pesantren as institutions preserving the integrity and transmission of classical Islamic knowledge. [Tradisi sanad merupakan mekanisme fundamental dalam menjaga keautentikan dan kesinambungan hadis melalui rantai transmisi yang andal dan dapat dipertanggungjawabkan. Di Indonesia, khususnya di Mandailing Natal, tradisi ini secara aktif dilestarikan di lembaga pendidikan pesantren, di mana transmisi kitab-kitab hadis klasik seperti Arba‘in an-Nawawi, Bulugh al-Maram, dan Sahih al-Bukhari dilakukan melalui sistem pendidikan berbasis sanad. Penelitian ini mengkaji mekanisme pemberian ijazah sanad (sertifikat sanad) di beberapa pesantren—terutama Musthafawiyah, Darul Ulum, dan Roihanul Jannah—dan menelaah kontribusinya dalam mempertahankan keberlanjutan keilmuan hadis. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi lapangan dan analisis historis, penelitian ini menemukan bahwa pemberian ijazah sanad bukan sekadar formalitas, melainkan hasil dari proses akademik dan spiritual yang ketat. Metode pengajaran seperti musyafahah, talaqqi, dan sorogan diterapkan bersamaan dengan pengajian di kelas, masjid, dan selama bulan Ramadan. Sertifikat hanya diberikan kepada santri yang memenuhi kriteria akademik ketat, termasuk menyelesaikan kajian kitab hadis di bawah bimbingan guru bersanad sah, memahami matan hadis, dan menunjukkan adab serta komitmen belajar. Mayoritas rantai sanad ditelusuri hingga ulama-ulama yang terhubung dengan Madrasah Ash-Shalatiyah dan Darul Ulum Makkah, termasuk Syekh Muhammad Yasin al-Fadani. Meskipun memiliki peran krusial, kajian akademik tentang sanad hadis masih terbatas dibandingkan dengan kajian sanad Al-Qur’an. Studi ini menegaskan pentingnya revitalisasi perhatian akademik terhadap tradisi sanad hadis dan meneguhkan peran strategis pesantren dalam menjaga integritas dan transmisi keilmuan Islam klasik.]
IMPLIKASI DUALISME NORMA FIQH DAN HUKUM PERKAWINAN NASIONAL DALAM PERCERAIAN MASYARAKAT MANDAILING NATAL Asrul Hamid; Raja Ritonga; Ilham Ramadan Siregar; Andri Muda Nst; Zuhdi Hsb
Jurnal AL-SYAKHSHIYYAH Jurnal Hukum Keluarga Islam dan Kemanusiaan Vol 8 No 1 (2026): Volume 8, Nomor 1, Juni 2026
Publisher : IAIN BONE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/as-hki.v8i1.11559

Abstract

This study is motivated by the existence of normative dualism between fiqh and national marriage law in divorce practices within the Mandailing Natal community. Fiqh recognizes the validity of divorce (talak) pronounced outside the court as long as it fulfills the required pillars and conditions, whereas Indonesian marriage law requires that divorce be conducted through the Religious Court to obtain legal validity. This difference creates a normative tension between religious legitimacy and formal state legality, which affects social practices in society. This study aims to analyze the construction of divorce norms in fiqh and national marriage law, identify the forms of normative dualism in divorce practices in Mandailing Natal, and examine their implications for legal certainty and the protection of the parties’ rights. This research employs a socio-legal method with statutory and empirical approaches through interviews and observation. The findings reveal that normative dualism is manifested in the practice of divorce outside the court, settlement of divorce through family and customary mechanisms, and remarriage without an official divorce certificate. These conditions lead to legal uncertainty, weak protection of women’s and children’s rights, and administrative obstacles in social life. Therefore, harmonization efforts between fiqh and national law are necessary through educational, cultural, and institutional approaches to achieve legal certainty and justice.
Praktik Walimatul ‘Urs di Mandailing Natal: Antara Tradisi, Kepatuhan Sosial, dan Perspektif Maqashid Syariah: Walimatul ‘Urs Practices in Mandailing Natal: Between Tradition, Social Obligation, and the Maqasid al-Shariah Perspective Zuhdi Hasibuan; Raja Ritonga; Asrul Hamid; Andri Muda Nst; Ilham Ramadan Siregar
ISTIDLAL Vol 5 No 01 (2026): AL-AQWAL : Jurnal Kajian Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Fattahul Muluk Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53491/alaqwal.v5i01.2023

Abstract

Walimatul ‘Urs in Mandailing Natal constitutes an integral component of local matrimonial traditions; however, its contemporary practice is frequently marked by excessive expenditure and ostentatious display. In many cases, members of the community irrespective of their socioeconomic status experience considerable social pressure to organize elaborate wedding ceremonies in order to conform to prevailing societal expectations. This study seeks to critically examine the incongruity between such extravagant practices of walimatul ‘urs and the normative framework of Maqasid al-Shariah, which underscores the principles of moderation, prudent wealth management, and the prevention of wastefulness (israf) and harm (mafsadah). Employing a qualitative research design, this study investigates the socio-economic implications of lavish walimah practices and evaluates their alignment with the higher objectives of Islamic law. The findings reveal that the excessive implementation of walimatul ‘urs generates adverse consequences, including substantial financial burdens on the families of the bride and groom, as well as psychological distress arising from heightened social expectations. Furthermore, these practices risk undermining the ethical and social objectives envisioned within the Maqasid al-Shariah framework. In light of these findings, this study advocates for a paradigmatic shift in societal attitudes toward the implementation of walimatul ‘urs, emphasizing simplicity, proportionality, and sustainability. Such a transformation is essential to ensure that matrimonial practices remain aligned with the core values of Islamic teachings while simultaneously fostering long-term social and economic well-being
METODOLOGI KRITIK HADIS ‘Ā`IḌ AL-QARNĪ: Telaah Normatif dan Kontekstual terhadap Karya-karyanya Ilham Ramadan Siregar; Asrul Hamid; Raja Ritonga; Muhammad Irsan Barus; Andri Muda Nst; Zuhdi Hsb
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): June
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.20427

Abstract

This study examines ‘Ā`iḍ al-Qarnī's approach to understanding ḥadīth, focusing on matan analysis and the application of maqāṣid al-sharī‘ah in contextual interpretation. The research method used is qualitative through a literature review of ‘Ā`iḍ al-Qarnī's works and classical and contemporary ḥadīth literature. The main findings indicate that al-Qarnī criticises the literalist approach to ḥadīth matan, which often overlooks the maqāṣid dimension, and offers a thematic understanding model that integrates social context and universal Islamic values. Although he does not explicitly develop a methodology for sanad criticism, al-Qarnī emphasises the validity of meaning and the relevance of ḥadīth messages in the context of modern life. This study contributes theoretically by expanding the discourse on contemporary ḥadīth methodology through the integration of textual validity and maqāṣid al-sharī‘ah, while also providing practical implications for the renewal of a more adaptive and applicable approach to ḥadīth studies in modern Islamic education. Penelitian ini mengkaji pendekatan ‘Ā`iḍ al-Qarnī dalam memahami hadis dengan fokus pada analisis matan dan penerapan maqāṣid al-sharī‘ah dalam tafsir kontekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya ‘Ā`iḍ al-Qarnī dan literatur hadis klasik serta kontemporer. Temuan utama menunjukkan bahwa al-Qarnī mengkritisi pendekatan literalistik terhadap matan hadis yang sering mengabaikan dimensi maqashid, serta menawarkan model pemahaman tematik yang mengintegrasikan konteks sosial dan nilai universal Islam. Meskipun tidak membangun metodologi kritik sanad secara eksplisit, al-Qarnī menekankan validitas makna dan relevansi pesan hadis dalam konteks kehidupan modern. Studi ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas wacana metodologi hadis kontemporer melalui integrasi antara validitas tekstual dan maqāṣid al-sharī‘ah, sekaligus memberikan implikasi praktis bagi pembaruan pendekatan studi hadis yang lebih adaptif dan aplikatif dalam pendidikan Islam modern.
Co-Authors Abdul Lohir Rosyid Nasution Adawiah, Robiyatul Adawiyah, Robiyatul Affandi, Hazrul Aida Sapitri Akhyar Akhyar Akhyar Akhyar Akhyar Akhyar Akhyar Akhyar Alfiani Pulungan Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amiruddin Andri muda Nst Anwar Husein Anwar Husein Arobiah Nasution Asmaret, Desi Asril Fauzi Asrul Hamid Asrul Hamid Aulia Rezi Baehaqi Dahlan, Dasrizal Dedisyah Putra Dongoran, Irham Edi, Sabrun Elhusein, Shofwan Karim Endah Nopita Sari Faza, Amrar Mahfuzh Fuadi Fuadi Fuadi Fuadi Halidina Haris Hamid, Asrul Harahap, Amhar Maulana Harahap, Haritsah Hammamah Harahap, Titi Martini Hasibuan, Ahmad Jasa Hasibuan, Nur Asiah Husnil Khotimah Iana Tresia A Sibagariang Ida Sumarni Ida Sumarni Idris . Idris Idris Ilham Ramadan Ilham Ramadan Siregar Ilham Ramadan Siregar, Ilham Ramadan Indah Futri Jannus Tambunan Jesslyn, Jesslyn Julhadi Julhadi, Julhadi Junda Harahap Kamal, Tamrin Khairani Rangkuti Khairul Bahri Nasution Khoirul Amri Lahmi, Ahmad Lailan Nahari Lailan Nahari Lely Hayati Lubis, Nurhidayah Mahdi Mulia Mahmoud Ali Rababah Mahyudin Ritonga Mawaddah Maya Borotan Muda, Andri Muhadi Khalidi Muhammad Ikbal Muhammad Irsan Barus Mutaqin, Ilyas Mutiah Rangkuti Nahari, Lailan Nasution, Abdul Lohir Rosyid Nasution, Liantha Adam Nasution, Martua Nasution, Suryadi Nst, Andry Muda Nur Fifiyani Nst Nur Fifiyani Nst Nur Hayati Nur Hayati Nur Paridah Nur Paridah Nurlaili Mardia Panggabean, Rizky Mubarok Parulian Siregar Putri Anisah Nasution Rababah, Mahmoud Ali Rabiatul Adawiyah Rangkuti, Rosipa Rahmi Resi Atna Sari Siregar Rina Riski Ritonga, Ahmad Roisuddin Ritonga, Hasir Budiman RITONGA, SYAIPUDDIN Rizka Nailah Lubis Rizka Nailah Lubis Robiyatul Adawiyah Robiyatul Adawiyah Robiyatul Adawiyah Lubis Roisuddin Ritonga, Ahmad Rosni Harahap Rosniati Hakim Rukiah Rukiah Rusydi Sahata Panjaitan Saifullah Seri Muslimah Shofwan Karim Siswahyudianto Siti Aminah Siti Rohimah Srg, Kartina Sri Wahyuni Sri Wahyuni Hasibuan Suci, Putri Wulan Sumper Mulia Harahap Sumper Mulia Harahap Sumper Mulia Harahap, Sumper Mulia Suryadi Suryadi Syaipuddin Ritonga Tambunan, Jannus Ummi Amira Ummi Amira Wendra Yunaldi Zuhdi Hasibuan