Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan SDM Berbasis Karakter dan Kepemimpinan Untuk Komunitas Pemuda Produktif Klemens Mere; Aslichah Aslichah; Eko Wahyu Hidayat; Revi Sesario; Raden Rara Ayu Widaningsih
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 4 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i5.9087

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pemuda melalui penguatan karakter dan kepemimpinan. Pemuda sebagai agen perubahan memiliki peran strategis dalam membangun komunitas produktif, namun masih banyak yang menghadapi tantangan terkait kedisiplinan, tanggung jawab, serta keterampilan kepemimpinan. Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif dengan metode workshop, diskusi kelompok, simulasi, dan pendampingan. Materi pelatihan difokuskan pada pengembangan nilai-nilai karakter seperti integritas, kerjasama, serta komitmen, yang dipadukan dengan keterampilan kepemimpinan seperti komunikasi efektif, pengambilan keputusan, dan manajemen tim.Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta observasi terhadap sikap dan perilaku peserta selama kegiatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mengenai pentingnya karakter dalam kepemimpinan, serta peningkatan keterampilan praktis dalam memimpin kelompok. Peserta juga lebih percaya diri untuk berperan aktif dalam kegiatan komunitas dan mulai menerapkan prinsip kepemimpinan kolaboratif. Program ini menegaskan pentingnya pembinaan pemuda berbasis karakter dan kepemimpinan untuk memperkuat kapasitas komunitas produktif. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pembinaan berkelanjutan dalam mendukung pembangunan SDM berkualitas di tingkat lokal.
Pemanfaatan Big Data Analytics Dalam Pengambilan Keputusan Manajerial Untuk Meningkatkan Daya Saing Perusahaan Klemens Mere
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 4 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i5.9177

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah menghasilkan ledakan data yang sangat besar dan kompleks, yang jika dikelola dengan tepat dapat memberikan nilai strategis bagi perusahaan. Big Data Analytics (BDA) hadir sebagai solusi untuk mengolah data dalam skala besar, baik terstruktur maupun tidak terstruktur, sehingga menghasilkan informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan manajerial. Tinjauan literatur 2020–2025 menunjukkan bahwa pemanfaatan BDA mendukung perusahaan dalam memahami perilaku konsumen, mengoptimalkan rantai pasok, meningkatkan efisiensi operasional, serta memprediksi tren pasar. Dengan demikian, BDA berperan penting dalam memperkuat daya saing melalui pengambilan keputusan yang lebih cepat, akurat, dan berbasis bukti. Namun, penerapan BDA menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur teknologi, kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten, serta isu etika dan keamanan data. Oleh karena itu, agar dapat memberikan keunggulan kompetitif berkelanjutan, perusahaan perlu membangun strategi implementasi BDA yang terintegrasi dengan visi bisnis, budaya organisasi, serta sistem tata kelola data yang baik.
Sinergi Komunitas dan Kepemimpinan Berbasis Karakter Untuk Pengembangan SDM Pemuda Klemens Mere
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 5 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i5.9245

Abstract

Pengembangan sumber daya manusia (SDM) pemuda merupakan agenda strategis dalam mendukung kemajuan bangsa, karena pemuda dipandang sebagai agen perubahan yang memiliki potensi besar dalam menentukan arah pembangunan di masa depan. Upaya untuk meningkatkan kualitas pemuda tidak cukup hanya dengan memberikan pendidikan formal, tetapi juga perlu memperkuat karakter, kepemimpinan, serta peran komunitas sebagai ruang pembinaan yang lebih luas. Sinergi komunitas dan kepemimpinan berbasis karakter memberikan pendekatan yang komprehensif dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul dalam keterampilan dan pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas moral, kepekaan sosial, serta daya juang yang tinggi. Komunitas dapat berfungsi sebagai wadah partisipasi aktif, kolaborasi, dan penguatan jaringan sosial yang memungkinkan transfer pengetahuan, pertukaran pengalaman, serta dukungan emosional. Sementara itu, kepemimpinan berbasis karakter menekankan nilai-nilai kejujuran, etika, tanggung jawab, dan keteladanan, sehingga pemuda dapat terinspirasi untuk menjadi pribadi yang visioner dan berorientasi pada kebaikan bersama. Integrasi antara kedua aspek ini mendorong terbentuknya SDM pemuda yang inovatif, adaptif, dan berkontribusi positif dalam menghadapi tantangan globalisasi serta pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Mencetak Generasi Pemuda Produktif Melalui Pengembangan Karakter Dan Kepemimpinan Klemens Mere
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 5 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i5.9321

Abstract

Artikel ini membahas upaya mencetak generasi pemuda yang produktif melalui pengembangan karakter dan kepemimpinan. Pemuda merupakan pilar utama pembangunan bangsa yang memiliki potensi besar untuk mendorong perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Namun, di era globalisasi dan disrupsi teknologi, banyak tantangan yang dihadapi, seperti menurunnya nilai moral, kurangnya motivasi, dan rendahnya partisipasi sosial. Pengembangan karakter menjadi fondasi penting dengan menanamkan nilai integritas, disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan etos kerja. Sementara itu, kepemimpinan diperlukan untuk mengarahkan dan menggerakkan potensi pemuda agar mampu berperan aktif dalam menciptakan inovasi dan solusi bagi masyarakat. Artikel ini menyoroti pentingnya peran pendidikan formal, keluarga, organisasi masyarakat, dan program pelatihan kepemimpinan dalam memperkuat karakter serta membentuk jiwa kepemimpinan pemuda. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pemuda yang memiliki karakter yang baik dan kepemimpinan yang visioner lebih produktif dan mampu menghadapi tantangan global secara adaptif. Oleh karena itu, investasi pada pengembangan karakter dan kepemimpinan perlu diperkuat melalui kerja sama lintas sektor untuk membentuk generasi yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan tanggung jawab sosial.
Dialog Budaya Sebagai Upaya Pelestarian Keberagaman Budaya Nagekeo di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur Klemens Mere
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 5 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9491

Abstract

Dialog Budaya sebagai Upaya Pelestarian Keberagaman Budaya Nagekeo di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur merupakan kajian yang menelaah peran dialog antarpelaku budaya—termasuk tokoh adat, generasi muda, pemerintah daerah, dan pelaku pariwisata—dalam mempertahankan, merevitalisasi, dan mentransformasikan praktik budaya lokal. Artikel ini menggunakan metode literature review terhadap publikasi 2020–2025, mencakup jurnal, prosiding, laporan komunitas, dokumen kebijakan lokal, dan sumber daring. Analisis tematik mengidentifikasi variasi bentuk dialog budaya berupa ritual kolektif, forum lintas generasi, workshop kapasitas, kolaborasi pendidikan, serta kemitraan antara komunitas dan sektor pariwisata. Temuan menunjukkan dialog yang inklusif memperkuat kesadaran identitas, memfasilitasi transfer pengetahuan antargenerasi, dan membuka peluang ekonomi kreatif berbasis budaya. Kendala utama meliputi tekanan modernisasi, risiko komodifikasi, keterbatasan sumber daya, dan ketimpangan akses partisipasi. Berdasarkan sintesis literatur, artikel ini merekomendasikan strategi pelestarian yang menggabungkan pendekatan partisipatif, kebijakan pro-komunitas, integrasi pendidikan budaya formal dan informal, serta pengelolaan pariwisata yang menghormati nilai lokal. Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan praktisi budaya dalam merancang program pelestarian yang kontekstual, berkelanjutan, dan memperkuat kapasitas komunitas lokal, serta mendorong dialog antarpemangku kepentingan terus-menerus. Berkelanjutan.
Strategi Pelestarian Kearifan Lokal Nagekeo melalui Dialog Budaya di Era Modernisasi Klemens Mere
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 5 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9492

Abstract

Modernisasi yang semakin pesat telah membawa dampak signifikan terhadap perubahan sosial dan budaya di Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Arus globalisasi dan penetrasi teknologi informasi memengaruhi pola pikir, gaya hidup, serta sistem nilai masyarakat, yang secara perlahan menggeser peran kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pelestarian kearifan lokal melalui pendekatan dialog budaya sebagai instrumen penghubung antargenerasi dan antarkomunitas. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review terhadap berbagai publikasi ilmiah, laporan kebijakan, serta dokumentasi komunitas periode 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa dialog budaya dapat berfungsi sebagai mekanisme komunikasi partisipatif yang memperkuat pemahaman lintas generasi, memperbarui praktik budaya sesuai konteks modern, dan mengurangi risiko erosi nilai-nilai lokal. Strategi pelestarian yang efektif melibatkan integrasi antara pendidikan berbasis budaya, kolaborasi pemerintah dan masyarakat, serta pemanfaatan media digital untuk dokumentasi dan promosi kearifan lokal. Dengan mengedepankan dialog yang terbuka dan inklusif, masyarakat Nagekeo dapat mempertahankan identitas budayanya sekaligus beradaptasi secara kreatif terhadap perubahan zaman.
Analisis Peran Lembaga Adat dalam Fasilitasi Dialog Budaya di Nagekeo, Flores Klemens Mere
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 5 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9515

Abstract

Lembaga adat di Nagekeo, Flores, memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial dan identitas budaya di tengah arus modernisasi yang pesat. Kajian literatur ini menelaah peran lembaga adat dalam memfasilitasi dialog budaya dan penyelesaian konflik di tingkat komunitas lokal. Berdasarkan berbagai penelitian tentang tata kelola budaya, kohesi sosial, dan praktik mediasi tradisional, ditemukan bahwa pemimpin adat berperan sebagai mediator, pendidik, sekaligus penjaga nilai-nilai budaya. Lembaga adat terbukti mampu menjembatani kesenjangan antargenerasi dan antar-etnis melalui integrasi norma tradisional dengan sistem pemerintahan modern. Selain itu, peran fasilitatif mereka memperkuat kearifan lokal sebagai mekanisme pembangunan perdamaian yang berkelanjutan. Namun, tantangan seperti menurunnya partisipasi generasi muda, intervensi politik, dan pergeseran nilai menuntut strategi adaptif agar lembaga adat tetap relevan. Penguatan kapasitas kelembagaan dan transfer pengetahuan antargenerasi menjadi kunci dalam menjaga warisan budaya hidup Nagekeo sekaligus mendorong dialog budaya yang inklusif.
Dari Wombu ke Woda: Transformasi Nilai budaya dalam siklus kehudupan masyarakat nagekeo di era modern Klemens Mere
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 6 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9669

Abstract

This study explores the transformation of cultural values within the life-cycle traditions of the Nagekeo community in Flores, focusing on how modernization and religion influence long-standing rituals from wombu (birth) to woda (death). The research employs a qualitative literature review approach based on studies from 2020–2025 that examine cultural continuity, adaptation, and intergenerational transmission in local communities. Findings reveal that traditional practices in Nagekeo are undergoing reinterpretation: symbolic rituals once centered on ancestral spirituality are increasingly blended with religious teachings and modern values. While modernization introduces efficiency and new forms of expression, it also challenges communal participation and spiritual depth. Nevertheless, the community demonstrates adaptive resilience—preserving core ethical and social meanings while reshaping ceremonies to align with contemporary life. The transformation from wombu to woda thus represents not a cultural decline, but an ongoing negotiation between heritage, faith, and modern identity.
Kearifan Lokal dalam siklus kehidupan manusia Nagakeo: Upaya pelestarian identitas budaya di tengah globalisasi Klemens Mere
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 6 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9670

Abstract

This study examines the role of local wisdom in the life cycle of the Nagekeo people of Flores and its function as a foundation for preserving cultural identity amid globalization. Using a qualitative cultural approach, the research explores how traditional rituals—from birth to death—serve not only as symbols of spirituality but also as expressions of social cohesion and intergenerational continuity. Findings indicate that the Nagekeo community has adapted to the pressures of modernization and religion by integrating new meanings into long-standing traditions. Rituals that once centered on ancestral belief are now practiced alongside Christian values, creating a form of cultural synthesis that sustains both heritage and faith. Despite challenges such as commercialization and generational gaps, local wisdom remains a living framework guiding moral, social, and spiritual life. Thus, the preservation of cultural identity in Nagekeo demonstrates how tradition can coexist with modernity through creative adaptation and intergenerational participation.
Keterkaitan Nilai-nilai Kearifan Lokal Nagekeo dengan Unsur-unsur Budaya Universal Klemens Mere
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 6 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9712

Abstract

Local wisdom embodies a community’s worldview and ethical system, yet it often resonates with broader universal cultural elements such as social cohesion, moral order, ecological balance, and intergenerational continuity. This literature review examines how the values of Nagekeo local wisdom in Flores relate to universal cultural elements commonly found across societies. Synthesizing studies published from 2020 onward, the review identifies that Nagekeo values—expressed through communal rituals, oral traditions, local moral narratives, and shared work ethics—align with universal patterns of cultural sustainability and collective identity. The findings show that Nagekeo’s emphasis on communal solidarity, respect for elders, reciprocal support, and human–nature harmony parallels universal cultural principles that support social resilience and ethical life. However, globalization and modernization can weaken the transmission of these values if local culture is treated as symbolic rather than lived practice. The review argues that recognizing Nagekeo wisdom as part of universal cultural structures provides a stronger rationale for integrating it into education, community revitalization programs, and cultural heritage initiatives.
Co-Authors Abas, Sofyan Abda Abda Abu Bakar ADE RISNA SARI Afriwes Afriwes Agung Nurmansyah Agus Suyatno Ahmad Fauzi Ahmad Nur Budi Utama Alfiana Alfiana Alfiana Alfiana Alfiana Alisyah Pitri Amanda, Mabella Andi Hidayatul Fadilah Andi Hidayatul Fadlilah Andi Primafira Bumandava Eka Andi Primafira Bumandava Eka Angga Priakusuma Anindita Evelyn Jessica Putri aslichah aslichah Aslichah, Aslichah Astrid Octavia Bahari Atikah Tri Budi Utami Audrey M. Siahan Azizi, Muhammad Badriyah Badriyah Basyirah Basyirah Betty Rahayu Cakranegara, Pandu Adi Cakranegara, Pandu Adi Citra Arta, Deddy Novie Danar Tri Hartanto Daniel Nemba Dambe Delfian Zaman Dewi Puspita Sari Dewi, Maftuhah Dody Hadi Wibowo Eka, Andi Primafira Bumandava Eko Wahyu Hidayat Eko Wahyu Hidayat, Eko Wahyu Eko Wahyu Widayat Elda Martha Suri Emy Yunita Rahma Pratiwi, Emy Yunita Rahma Encil Puspitoningrum, Encil Fahmi Kamal Fahrur Rozi Farini Limbong Feny Fidyah Ferdy Leuhery Fitria Fitria Fitriani Fitriani Fitriani Fitriani Fitriningsih Amalo Hafidz Hanafiah Heidi Siddiqa Heppy Sapulete Herdiyanti Herianto Hasibuan Heriswanto Herni Utami Rahmawati I KADEK WIRA DHARMA PRAYANA I KETUT KUSUMA WIJAYA Iin Dwi Aristy Putri Indra Krishernawan Irdawati Irdawati Irdawati Irdawati Irma Hakim Irma Maria Dulame Irwan Moridu Irwan Moridu Jayanto, Imam Jemi Pabisangan Tahirs Judijanto, Loso Karyono Karyono Koerniawati, Dwi Kusumaningtyas, Daru Putri LAUNTU, ANSIR Lestari, Utami Puji Lilis Istiqomah Lilis, Lilis Longginus Gelatan Loso Judijanto Lukitaningtyas, Firina Lumentah, Natalia Reyne M. Imron Mas’ud M. Joni M. Joni M. Joni Mabella Amanda Makatita, Josephus Alberth Marlin, Khairul Mekar Meilisa Amalia Miftahorrozi Miftahorrozi Muammar Revnu Ohara Muh. Abduh Anwar Muhammad Ade Kurnia Harahap Muhammad Asir Muhammad Hidayat Muhammad Sujai Muhammad Ybnu Taufan Mustika, Vera Herlina Mutiasari Mutiasari Mutmainah Mutmainah Nasution, Annio Indah Lestari Nawangwulan, Irma M Nilfatri Nilfatri Nugroho, Dwiyanjaya Santyo Nur Savitri, Hilda Nuridayanti Nuridayanti Nurlia Nurlia Nurnoviyati, Ikhda PA Andiena Nindya Putri PA Andiena Nindya Putri Pagala, Izharuddin Piartrini, Putu Saroyini Purbha Sakti, Bayu Putu Saroyini Raden Mohamad Herdian Bhakti Raden Rara Ayu Widaningsih Rahayu, Betty Ratih Kusumastuti Reni Yesi. S Resya, Kusuma Ningtyas Pramita Retnowati, Eli Revi Sesario Rihfenti Ernayani Rita Anggraini Rita Zulbetti Rizqy Aiddha Yuniawati Santoso, Muhammad Hery Sari Zulfiana Hasan Sarni Handayani Puspita Sari Sarni Handayani Puspita Sari Sesario, Revi Siddiqa, Heidi Siti Mardiana Siti Nurhayati Soelistiyono, Anitiyo Sofyan Abas Solissa, Everhard Markiano Sri Muryaningsih Sukardi, Karina Sunardi Ginting Sungkawati, Endang Susi Puspita Sari Syahril Hasan Syamsuri Syamsuri Teguh Setiawan Wibowo Timotius Agus Rachmat, Timotius Agus Tirta Mulyadi Tri Apriyono Tri Apriyono Tri Seno Anjanarko Trio Ongko Wibowo Umi Setyorini Ummu Kalsum Ummu Kalsum Upik Djaniar Utami Puji Lestari Vera Herlina Mustari Wahyudin Rahman Yenni Kurnia Gusti Zulfiah Larisu Zulfiah Larisu