Claim Missing Document
Check
Articles

Deteksi Sistiserkus Cacing Pita (Taenia spp) pada babi (Sus scrofa) di Rumah Potong Hewan Medan Sumatera Utara Connie Asty Pakpahan; Muttaqien Bakri; M. Hanafiah; Yudha Fahrimal; Nuzul Asmilia; T. Fadrial Karmil
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 1 (2021): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i1.5213

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeteksi ada atau tidaknya sistiserkus cacing pita (Taenia spp) pada babi yang dipotong di rumah potong hewan Medan Sumatera Utara. Sistiserkus merupakan metacestoda dari larva Taenia solium. Deteksi sistiserkus sangat diperlukan untuk memahami pola distribusi, prevalensi dan cara penularan penyakit (siklus hidup T. solium). Penelitian ini dilaksanakan pada Maret 2017. Sampel yang digunakan sebanyak 20 ekor dengan menggunakan dengan simple random sampling. Sampel yang sudah dikumpulkan diperiksa secara makroskopik postmortem dengan cara melihat tanda- tanda sistiserkosis pada daging seperti lepuhan pada sampel. Data yang di peroleh akan di analisis secara deskriptif. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh sampel negatif terdeteksi sistiserkus asal babi-babi milik peternak yang di potong di RPH.
Profil Darah Kucing Domestik (Felis domesticus) yang Menderita Ear Mites Yola Kartika; Erina Erina; Nuzul Asmilia
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 5, No 1 (2020): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v5i1.15315

Abstract

Ear mites merupakan salah satu penyebab paling umum pada kasus otitis eksterna yang merupakan salah satu penyakit yang penting secara klinis pada kucing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan profil darah pada kucing domestik yang menderita ear mites. Penelitian ini menggunakan 12 ekor kucing domestik yang dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok ear mites. Sampel darah diambil pada bagian vena cephalica antebrachii dengan menggunakan spuid steril, selanjutnya dilakukan penghitungan eritrosit, hemoglobin, hematokrit, leukosit dan trombosit menggunakan hematology analyzer, sedangkan untuk diferensial leukosit menggunakan preparat darah apus. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan independent t-test. Hasil analisis statistik menunjukkan rata-rata (±SD) jumlah eritrosit pada kelompok P1= 8,83 ±0,60 x10⁶/µL, P2= 7,52±1,22 x10⁶/µL. Kadar hemoglobin P1= 11,91±1,12 g/dl, P2= 11,64±1,92 g/dl. Nilai hematokrit P1= 42,60±3,25%, P2= 36,21±5,83%. Jumlah leukosit P1= 16,45±0,64 x10³/µL, P2= 16,64±4,16 x10³/µL. Jumlah trombosit P1= 4,11±1,53 x105/µL, P2= 5,77±1,78 x105/µL. Jumlah neutrofil P1= 5,89±1,55 x10³/µL, P2= 8,57±3,75 x10³/µL. Jumlah eosinofil P1= 0,33±0,01 x10³/µL, P2=4,28±2,10 x10³/µL. Jumlah basofil P1=0,00±0,00 x10³/µL, P2=0,14±0,14 x10³/µL. Jumlah limfosit P1= 4,15±0,35 x10³/µL, P2=4,72±1,80 x10³/µL. Jumlah monosit P1= 0,58±0,14 x10³/µL, P2=1,28±0,80 x10³/µL. Hasil uji analisis statistik menunjukkan jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit, leukosit total, trombosit dan diferensial leukosit yaitu neutrofil, basofil, limfosit dan monosit tidak berbeda secara nyata (P0,05), sedangkan jumlah eosinofil terdapat perbedaan yang nyata (P0,05). Kesimpulan kucing yang menderita ear mites mengalami perubahan profil darah yaitu jumlah eosinofil yang tinggi (eosinofilia).
KADAR HEMOGLOBIN DAN JUMLAH ERITROSIT TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) STRAIN WISTAR SETELAH PEMBERIAN FORMALIN (Haemoglobin Levels and Number of Erythrocyte in Rats (Rattus norvegicus) Wistar strain after Formalin Administration) Zea Ochtavia; Dasrul Dasrul; Nuzul Asmilia
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.528 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2781

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian formalin melalui intraperitoneal terhadap kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit pada tikus putih (Rattus norvegicus) strain Wistar. Hewan yang digunakan dalam penilitian ini adalah 24 ekor tikus putih jantan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola searah dengan 4 kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok perlakuan terdiri atas enam ekor tikus. Kelompok kontrol tikus hanya diberi pakan dan air minum tanpa perlakuan apapun, kelompok 1 tikus diinjeksi formalin dengan dosis 1 mg/Kg bb, kelompok 2 diinjeksi formalin dengan dosis 2,5 mg/Kg bb, kelompok 3 diinjeksi formalin dengan dosis 5 mg/Kg bb. Masing-masing kelompok diberi perlakuan selama 14 hari berturut-turut secara intraperitoneal. Selama penelitian tikus diberi pakan dan air minum secara adlibitum. Pada hari ke 15, sampel darah diambil melalui sinus orbitalis menggunakan pipet kapiler. Hasil analisis statistik menunjukkan rata-rata (±SD) kadar hemoglobin (g/dl) K0 12,00±0,72, K1 9,63±1,67, K2 9,83±1,30, dan K3 9,76±1,41. Rata-rata (±SD) jumlah eritrosit (106/mm3) K0 7,06±0,78, K1 5,31±1,46, K2  5,35±0,97, dan K3 4,98±0,59. Hasil uji ANOVA menunjukkan kelompok K0 berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kelompok K1, K2, dan K3, sementara kelompok K1, K2, dan K3 tidak berpengaruh nyata (P0,05) antara kelompok perlakuan. Disimpulkan bahwa pemberian formalin secara intraperitoneal dapat menurunkan kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit tikus putih strain Wistar.Kata kunci: formalin, kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, Rattus norvegicusABSTRACTThe study aims to determine the effect of formalin administration via intraperitoneal on levels of haemoglobin and the number of erythrocyte in rats (Rattus norvegicus) Wistar strain. Animals used in this study were 24 male rat. The research design was used completely randomized design (CRD) with 4 unidirectional pattern groups treatments. Each group treatment consisted of six rat. Group control rat was given only fed and drinking without any treatment, group 1 rat injected formalin with dosage of  1 mg/Kg bw, group 2 rat  injected formalin with dosage of 2,5 mg/Kg bw, and group 3 rat injected formalin with dosage of 5 mg/Kg bw. Each group was given the specific treatment for 14 consecutive days intraperitoneally. During the study, rat were fed and drinking water in a adlibtum. On day 15, blood sample was taken through orbital sinus using a pipette capillary. The statistical analysis that showed mean (±SD) levels of haemoglobin (g/dl) K0 12,00±0,72, K1 9,63±1,67, K2 9,83±1,30, and K3 9,76±1,4. Mean (±SD) number of erythrocyte (106/mm3) K0 7,06±0,78, K1 5,31±1,46, K2  5,35±0,97, and K3 4,98±0,59. The results of ANOVA showed significant group K0 (P0,05) against groups K1, K2, and K3, while groups K1, K2, and K3 no significan effect (P0,05) in between group. It was concluded that the administration of formalin intraperitoneal can lower haemoglobin levels and the number of erythrocyte rats Wistar strain.Keywords:  formalin, haemoglobin levels, number of erythrocyte, Rattus norvegicus
DIFERNSIAL LEUKOSIT BIAWAK AIR (Varanus salvator) YANG TELAH DIDOMESTIKASI DAN BIAWAK AIR LIAR Fauzan Fajri; Mulyadi Adam; Nuzul Asmilia
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.811 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3396

Abstract

Penelitianinibertujuanmengetahuidiferensial leukositbiawak air (Varanussalvator) yang telahdidomestikasi dan biawak air liar. Dalampenelitianinidigunakan 16 ekor biawak air yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu8 ekorbiawak airyang didomestikasi (BD) dan 8 ekorbiawak air liar hasiltangkapan (BT).KelompokBDdipeliharaselama60 haridandiberimakananikan, udangdanjangkrik.Untukpembuatanpreparatdarahhapus, darahdiambildari BD padaharike 60, sedangkanuntuk BT pengambilan darah dilakukansaatpenangkapan.Hasil penelitian nilaidiferensial leukositBD sebagai berikut:heterofil 36,7%, basofil 13,0%, limfosit 12,0%,eosinofil 15,3%, monosit 14,0%, dan azurofil 8,8%;sedangkan BTsebagai berikut: heterofil29,3%, basofil16,3%,limfosit 14,1%,eosinofil 9,1%,monosit 17,7% danazurofil 13,2%. Hasil analisis datadenganmenggunakanuji Tmenunjukkanbahwadiferensialleukosit BD tidakberbedanyata (P0.05) dengan BT. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwadiferensial leukosit biawak air yang didomestikasi tidak berbeda dengan biawak air liar.
KADAR SGOT DAN SGPT SELAMA KESEMBUHAN FRAKTUR MENGGUNAKAN PIN INTRAMEDULAR DAN BONE PIN TULANG BIAWAK (SGOT and SGPT Value During Fracture Healing Using Intramedular Pin and Monitor Lizard’s Bone Pin) Novredha Rahmadita; Erwin Erwin; Amiruddin Amiruddin; Rusli Rusli; Nuzul Asmilia; T Fadrial Karmil; M Isa; Etriwati Etriwati
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 3 (2022): MEI-JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i3.16893

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui kadar SGOT dan SGPT selama kesembuhan fraktur menggunakan pin intramedular dan bone pin tulang biawak. Penelitian menggunakan 10 ekor merpati berumur 4-5 bulan, berat badan 300-500 g yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok 1 (P-1) diimplan pin intramedular dan kelompok 2 (P-2) diimplan bone pin. Pengambilan darah melalui vena brachialis pada hari ke-0 sebelum perlakuan, hari ke 3,7, dan 14 setelah perlakuan. Kadar SGOT dan SGPT dihitung menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan implan pin intramedular dan bone pin berpengaruh signifikan terhadap kadar SGOT (P0,05) dan tidak signifikan terhadap SGPT (P0,05). Kadar SGOT antara P-1 dan P-2 pada hari pertama dan hari terakhir pengamatan mengalami peningkatan yang masih dalam batas normal dengan perbedaan yang signifikan (P0,05). Kadar SGPT antara P-1 dan P-2 pada hari pertama pengamatan mengalami peningkatan dan penurunan pada hari terakhir pengamatan dengan perbedaan yang tidak signifikan (P0,05). Peningkatan kadar SGOT dan SGPT yang terjadi selama waktu pengamatan masih dalam batas normal, sehingga pin intramedular dan bone pin memiliki potensi sebagai alternatif alat fiksasi internal bagi burung.Kata kunci : Pin intramedular, bone pin,  SGOT dan SGPTABSTRACTThis study aims to determine the value of serum glutamic oxaloasetic transminase (SGOT) and serum glutamic pyruvic transminase (SGPT) during the fracture healing using internal fixation of monitor lizard bone (Varanus salvator). Ten pigeons aged 4-5-month-old, weighing 300-500 g were divided into two groups. Group 1 (P-1) implanted intramedular pin and group 2 (P-2)  implanted bone pin. Blood sample was taken from brachial vein on day 0 before implant, day three, seven, and 14 after implant. SGOT and SGPT value calculated using spectrophotometer. The results showed that intramedular pin and bone pin implant had effect significant on SGOT (P0,05) and not significant different SGPT (P0,05) value. SGOT value between P-1 and P-2 on the first and last day showed an increase which was still within normal limit with a significant difference (P0.05). SGPT value between P-1 and P-2 on the first day of observation showed an increase and decreased on the last day of observation with no significant difference (P0.05). The increase in SGOT and SGPT value that occurred during the observation period was still within normal limits, so that the intramedular pin and bone pin have potential as an alternative to internal fixation tools for birds.Key words : Intramedular pin, bone pin, SGOT and SGPT
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kadar Gula Darah Anjing Kampung (Canis Familiaris) Di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat Nadia Hanifah; Sugito Sugito; Nuzul Asmilia; M. Isa; Hamny Sofyan; Syafruddin Syafruddin; Abdullah Hamzah; M. Hasan; Ismail Ismail
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 7, No 1 (2022): NOVEMBER-JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v7i1.18632

Abstract

ABSTRAKAnjing (Canis lupus familiaris) merupakan salah satu hewan peliharaan yang banyak dipelihara di dunia. Karakteristik anjing yang setia, mudah dilatih serta bersahabat dengan manusia menjadi nilai tambah hewan peliharaan satu ini, sejatinya anjing merupakan hewan karnivora yang menjadikan protein sebagai sumber energi utama. Namun, ditengah masyarakat masih banyak memberikan pakan berupa nasi kepada anjing peliharaannya untuk itu penelitian ini dilakukan guna mengetahui kadar gula darah anjing serta faktor-faktor yang memengaruhi kadar gula darah tersebut. Penelitian ini dilakukan secara observasi lapangan dan pemeriksaan sampel darah anjing sebanyak 30 sampel di Kota Bukittinggi, lalu dilakukan pengecekan menggunakan easy touch GCU dan didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar gula darah anjing sebelum dan sesudah makan, pada saat sebelum makan kadar gula darah anjing sebesar 73,37±10,88 mg/dL dan dua jam sesudah pemberian pakan sebesar 112,06±14,148 mg/dL hal ini berhubungan dengan karakteristik dari karbohidrat yang cepat dicerna dan diedarkan ke seluruh tubuh. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p0.05) antara usia dan jenis kelamin terhadap kadar gula darah anjing kampung. Dapat disimpulkan bahwa rata- rata kadar gula arah anjing kampung di kota Bukittinggi masih berada pada kisaran normal.Kata kunci: domestikasi, easy touch GCU, gula darah, karbohidratABSTRACTDogs (Canis lupus familiaris) are one of the most kept pets in the world. The characteristics of being loyal, easy to train and friendly with humans are added values for this pet, in fact dogs are carnivorous animals that made protein be their main energy source. However, in the midst of society, there are still give rice to their dogs, so this research was conducted to determine the blood sugar levels of dogs and the factors that influence it. This research was carried out by field observation and examination of 30 samples of dog blood samples in Bukittinggi City, then checked the sample using the easy touch GCU and the results showed that there were significant differences in the blood sugar levels of dogs before and after eating, which at the time of eating the dog blood sugar was 73.37±10.88 mg/dL and two hours after feeding was 112.06±14.148 mg/dL this was related to the characteristics of carbohydrates that were quickly digested and circulated throughout the body. The results of statistical tests showed that there was a significant difference (p0.05) between age and sex on blood sugar levels of domestic dogs. Based on the research concluded that the average sugar content of domestic dogs in the Bukittinggi City is still in the normal range.Keywords: Blood sugar, carbohydrates, domestication, easy touch GCU
PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN JALOH (Salix Tetrasperma Roxb) TERHADAP PERSENTASE PARASITEMIA PADA MENCIT (Mus musculus) YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei Nuzul Asmilia; Sugito Sugito; Erdiansyah Rahmi; Niko Febrianto
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 4, No 1 (2010): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.86 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v4i1.9796

Abstract

This study aimed to verify the effect of ethanol extract of jaloh leaves at various doses on parasitemia percentage of in mice (Mus musculus), wich inoculated Plasmodium berghei. This study used 12 male mice (Mus musculus) strains Balb / C with average body weight of 30.2 grams of 2-month-old. This research using Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications. All the mice were infected with Plasmodium berghei prior to treatment on three days post infected the mice in group 2,3 and 4 were given with extract ethanol jaloh leaves at dose 50, 100, 150 mg/kgbw inspectively. The mice in group 1 (K0) were not given anything and consident as control.Observations parasitemia percentage using microscopy on preparations stained thin blood smear Giemsa. The parasitemia percentage data were analyzed using one way ANOVA. On the average (±SD) percentage of parasitemia during the three days in four treatments (K0, K1, K2, and K3) on the first day were 24.87±1.86; 24.33±1.53; 24.20±1.06; and 24.93±1.01. On the second day were 22.67±2.52; 23.00±1.00; 22.80±1.20; and 24.13±2.01; and on the third day were 24.77±1.66; 22.97±3.76; 21.13±1.90; and 24.27±1.42. Statistical analysis showed that ethanol extract of the jaloh leaves for KO, KI, KII, and KIV respectively treatment did not affect the percentage of parasitemia in mice (Mus musculus) inoculated Plasmodium berghei.
DETERMINATION OF THE BEST ROSELLA (Hibiscus sabdarifa L.) FILTRATE CONCENTRATION IN EGG YOLK CITRATE DILUENT Arman Sayuti; Herdina Mayuri; Nuzul Asmilia; Tazul Arifin; Mulyadi Adam
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 15, No 4 (2021): December
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.427 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v15i4.22398

Abstract

The aim of this research was to determine if the substitution of rosella filtrate (Hibiscus sabdarifa L.) in citrate-based diluent and egg yolks with the ratio 4:1 (16 mL citrate + 4 mL yolk) would help maintain the progressive motility of Kacang goat spermatozoa at room temperature. This study used a male Kacang goat with an average sperm quality of approximately ≥ 205 x 107 spermatozoa/mL and motility of 81.6%. An electro-ejaculator was used once a week to collect the semen. The treatments were labelled as follows: P0 was the negative control group, treatment P1 was given 5% rosella filtrate, treatment P2 was given 10% rosella filtrate, and treatment P3 was given 15% rosella filtrate. Examination of the motility of the spermatozoa was carried out at room temperature. The examination was carried out once every four hours. It was concluded that the rosella filtrate could maintain the progressive motility of spermatozoa of the Kacang goat at optimal concentrations. The optimal motility percentage was found at a concentration of 15% at a storage life of 0-4 hours.
ANTI-TRYPANOSOMA ACTIVITY OF ETHANOLIC EXTRACT OF NEEM LEAF (Azadirachta indica) ON Trypanosoma evansi IN RATS (Rattus norvegicus) Yudha Fahrimal; Siti Maghfirah; Rinidar Rinidar; Al Azhar; Nuzul Asmilia; Erina Erina
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 11, No 1 (2017): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.734 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v11i1.5450

Abstract

The aim of this study was to determine the effect of neem leaf extract (Azadirachta indica) on parasitemia of rats infected with Trypanosoma evansi (T. evansi) Aceh local isolate. A total of 24 male rats aged three months were used in this study and randomly divided into six treatment groups equally. The negative control group (K0) without T. evansi infection and neem leaf extract, the positive control group (K1) was infected with T. evansi but no neem leaf extract given, group K2, K3, K4, and K5 were infected with 5x104 T. evansi and were given neem leaf extract after patent infection with dose of 50, 100, 400, and 800 mg/kg BW respectively. The extract was given orally for three consecutive days. On the fourth day, rat blood was drawn for parasitemia examination. The results showed that no T. evansi detected in rats in negative control group (K0), while parasitemia in group K1; K2; K3; K4; and K5 was 12,295 x106/mL; 10,495 x106/mL; 9,360 x106/mL; 5,080x106/mL; and 2,398x106/mL of blood, respectively. Percentage of inhibition of parasitemia in K2, K3, K4, and K5 reached 14.64, 23.78, 58.68, and 80.50%, respectively. Based on the result of the study, neem leaf extract of 800 mg/kg BW gave the highest reduction of parasitemia in rats infected with T. evansi.
PROFIL DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINFEKSIKAN Trypanosoma evansi DAN DIBERIKAN EKSTRAK KULIT BATANG JALOH (Salix tetrasperma Roxb) Yudha Fahrimal; Eliawardani E; Afira Rafina; Al Azhar; Nuzul Asmilia
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.256 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i2.2653

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran darah (hematokrit, eritrosit, leukosit, dan diferensial leukosit) tikus yang diinfeksi Trypanosoma evansi (T. evansi) dan diberi ekstrak kulit batang jaloh (Salix tetrasperma Roxb). Duapuluh lima ekor tikus jantan dibagi secara acak ke dalam 5 kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri atas 5 ekor tikus. Kelompok 0 (K0) tanpa perlakuan, kelompok I (K1) hanya diinfeksikan dengan 103 T. evansi, kelompok II (K2) diinfeksikan dengan 103T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 30 mg/kg bobot badan, kelompok III (K3) diinfeksikan 103 T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 45 mg/kg bobot badan, dan kelompok IV (K4) diinfeksi dengan 103 T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 60 mg/kg bobot badan. Infeksi T. evansi dilakukan secara intraperitoneal sedangkan ekstrak diberikan secara oral selama 3 hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ± SD nilai hematokrit dan eritrosit tikus dari K1, K2, K3 dan K4 lebih rendah dari K0. Sebaliknya, rata-rata ± SD jumlah leukosit (103/µl) lebih tinggi dari K0. Diferensial leukosit menunjukkan jumlah masing-masing sel leukosit semua tikus dalam kelompok perlakuan meningkat setelah pemberian ekstrak kulit batang jaloh kecuali eosinofil dan limfosit yang justru menurun. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa Infeksi T. evansi menurunkan kadar hematokrit dan eritrosit namun meningkatkan kadar leukosit tikus dan pemberian ekstrak kulit batang jaloh dosis rendah dalam waktu yang singkat mampu mengembalikan profil darah tikus mendekati nilai normal.
Co-Authors . Darniati Abd. Rasyid Syamsuri Abdul Harris Abdullah Hamzah Afira Rafina Agung Prayogi Ajirni Ajirni Al Azhar Al Azhar Al Azhar Amalia Sutriana Amiruddin . Amiruddin A Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amiruddin Angga Putra Adinata arif gumilar Arman Sayuti Arman Sayuti Arman Sayuti Asri Rizky Asri Rizky Awaluddin Awaluddin Ayu Andella Agustina AZHAR - Baradillah Abdyad Budi Panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Connie Asty Pakpahan Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi Cut Nurlaila Sari Dasrul Dasrul Dasrul Dasrul Delvy Yuana Mustika Dian Masyitha Dina Maulidya Siregar Doly Ihsan Siregar Dwina Aliza Dwinna Aliza Ela Sesdapepi Hadi Eliawardani Eliawardani Emilaza Pratama Erdiansyah Rahmi Erdiansyah Rahmi Erdiansyah Rahmi Erina Erina Erina Erina Erina Erina Erina Erina Erwin - Erwin Erwin Erwin Erwin Etriwati E Fadli Saputra Faisal Jamin Fakhrurrazi Fakhrurrazi Fakhrurrazi Fakhrurrazi Farida Athaillah Fauzan Fajri Fitriani Fitriani Florentina Magdalena Girsang Gholib Gholib Ginta Riady Ginta Riady Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdani Budiman Hamny Sofyan HEFRI YUNALDI Hennivanda Hennivanda Herdina Mayuri Herrialfian Herrialfian Intan Firdaus Intan Fitri Aprila Ismail Ismail Ismail Ismail Jauhari Jauhari Joharsyah J Juli Melia Latifa Suryandari Lingga Surya Maret Daulay M Isa M Jalaluddin M. Hanafiah M. Hasan M. Hasan M. Hasan M. Isa M. Isa M. Isa M. Nur Salim Mahdi Abrar mahmudi kamaruddin Maryulia Dewi Mentari Azhari L Muhammad Hambal Muhammad Hambal Muhammad Hanafiah Muhammad Hasan Muhammad Isa Muhammad Jalaluddin Mulyadi Adam Mulyadi Adam Muslim Akmal Muslim Akmal Mustafa Sabri Muttaqien Bakri Muttaqien Muttaqien Nada Sarah Syahputri Nadia Hanifah Nauval Gibran Lubis Nazaruddin N Nazaruddin Nazaruddin Nellita Meutia Niko Febrianto Novi Masitah Novredha Rahmadita Priyo Sambodo Puja Cikal Bangsa Putri Dewi Razali Daud Razali Daud Rinidar R Rinidar Rinidar Rinidar Rinidar Rinidar Rinidar Rizki Ading Anugrah Robbi Ghani Roslizawaty - Roslizawaty R Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Rosmaidar Rosmaidar Rosmaidar Rosmaidar Rusli Rusli Rusli Rusli Safika S, Safika Siti Aisyah Siti Maghfirah Sri Wahyuni Sudi Indriany Sugito - Sugito Sugito Suriadi S Syafruddin S Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syinta Ramadhani t fadrial karmil T. Armansyah T. Armansyah T. Armansyah T. Armanyah TR T. Fadrial Karmil T. Reza Ferasyi Tazul Arifin Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Triva Murtina Lubis Triva Murtina Lubis Ummu Balqis Yola Heryanita Yola Kartika Yolanda Sari Yopi Mardian Yudha Fahrimal Yudha Fahrimal Yusmadi Yusmadi Zainuddin Z Zainuddin Zainuddin Zea Ochtavia Zuhrawati - Zuhrawati NA Zuhrawati NA Zuhrawati Zuhrawati Zuhrawati Zuhrawati Zuhrawaty NA Zuhrawaty Zuhrawaty Zuraida - Zuraidawati Zuraidawati Zuraidawati Zuraidawati