Articles
Physical Design Analysis Learning Videos Titled “What Is That Form?”
Rani Nuraeni;
Seni Apriliya;
Resa Respati
Indonesian Journal of Primary Education Vol 5, No 2 (2021): Indonesian Journal of Primary Education: December 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17509/ijpe.v5i2.35901
The purpose of this study is to describe the physical design of elementary school form learning videos in the Ruangguru application. This study uses a qualitative approach with content analysis methods. The source of data in this study is a video learning Indonesian class VI, the form material in the Ruangguru application entitled “Formulir Itu Apa Ya” is supported by the results of interviews with the narrator in the learning video. The results show that there is accessibility, visibility and timing. The accessibility of this learning video in the ease of accessing the video is classified as good access because the stages in accessing the video are easy to understand by the user, the exposure of the information displayed helps the user to access it as desired. Visibility regarding the clarity of audio, images and text in the learning video is quite clear because the audio is always clear, display in the form of animated images made with digital engineering technology with a resolution on this video that can be selected according to the user's wishes, namely 480p / 234 kbps or 720p / 351 kbps, and the text in this learning video is both the size, type and color of the writing in the proportional program. The timing of the tempo setting in the introduction, content, and closing of this learning video is quite efficient. The tempo setting in the introduction is 44 seconds, the tempo setting on the content is or 6 minutes 34 seconds, and the closing tempo setting is 10 seconds. Judging from the physical design, the learning video entitled “Formula Itu Apa Ya” is recommended to be used by teachers for teaching because it meets good video standards.
Profil Pengarang Anak Indonesia sebagai Role Model Pendidikan Karakter
Seni Apriliya;
Hodidjah Hodidjah;
Yajid Nur Salim;
Rizki Siddiq Nugraha
Indonesian Journal of Primary Education Vol 1, No 2 (2017): Indonesian Journal of Primary Education: December 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17509/ijpe.v1i2.9478
Tulisan ini mengajukan gagasan tentang pendidikan karakter yang didasarkan pada profil pengarang Indonesia. Telah diteliti sejumlah pengarang anak Indonesia yang terhimpun dalam buku Naskah Terbaik LMCA tahun 2011-2015 menggunakan metode analisis konten dengan teknik membaca berulang serta mencatat data melalui kegiatan kategorisasi, tabulasi, dan inferensi. Hasil penelitian menunjukkan gambaran/profil pengarang anak Indonesia relatif positif dan dapat dimanfaatkan untuk pendidikan karakter dengan pertimbangan (1). kebijakan dan orientasi pendidikan karakter kepada anak-anak akan efektif jika diberikan model atau contoh konkret; (2) secara umum karakteristik pengarang anak Indonesia (a). gemar membaca, (b). gemar menulis, (c) gemar olahraga, (d) gemar melukis dan (e) berprestasi di berbagai bidang; sehingga (3) para pengarang anak dapat dijadikan sebagai alternatif model atau contoh konkret untuk pendidikan karakter bagi anak-anak Indonesia pada umumnya.
Pengembangan Buku Cerita Anak tentang Makanan Bakso Khas Tasikmalaya
Engken Nurhalimah;
Hodidjah Hodidjah;
Seni Apriliya
Indonesian Journal of Primary Education Vol 3, No 1 (2019): Indonesian Journal of Primary Education: June 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17509/ijpe.v3i1.18603
Penelitian ini didasarkan karena tidak tersedianya buku cerita anak yang mengenalkan makanan bakso khas Tasikmalaya. Akibatnya siswa tidak memiliki pengetahuan tentang makanan bakso yang ada dilingkungan sekitarnya. Dalam kurikulum 2013 (revisi) terdapat materi tentang aspek kebudayaan salah satunya makanan. dalam materi tersebut siswa harus sampai mengetahui cara membuat dan cara menyajikannya. Namun hasil data yang diperoleh pada saat studi pendahuluan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum mengetahui komposisi pada makanan bakso. Hal ini dikarenakan belum adanya buku cerita anak yang memuat tentang makanan bakso khas Tasikmalaya untuk anak. Oleh karena itu peneliti melakukan pengembangan produk buku cerita anak tentang makanan bakso khas Tasikmalaya. Dengan mendesain produk awal, menguji kelayakan dan menghasilkan produk akhir buku cerita anak. Buku cerita yang dikembangkan memuat pengetahuan tentang alat yang digunakan, bahan dasar, cara membuat dan cara penyajian bakso khas Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan metode Educational Design Research model Reeves. Dengan melakukan identifikasi dan analisis masalah, mengembangkan solusi pada patokan teori, melakukan proses berulang dalam menguji dan memperbaiki produk, serta melakukan refleksi untuk menghasilkan design principle. Penelitian ini dilakukan di sekolah dasar kelas IV SDN 1 Nagarasari di Tasikmalaya. Buku cerita yang dibuat sudah diuji kelayakannya dan di validasi oleh ahli serta mendapatkan respons positif dari guru dan siswa sekolah dasar. Penelitian ini menghasilkan produk akhir yaitu buku cerita anak yang berjudul “Bakso Asik dan Kotak Ajaib”.
Digital Flipbook-Based Teaching Material for Writing Poetry in Elementary School
Fauzi Gusman;
Seni Apriliya;
Ahmad Mulyadiprana
Indonesian Journal of Primary Education Vol 5, No 1 (2021): Indonesian Journal of Primary Education: June 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17509/ijpe.v5i1.35570
This study was conducted to solve the problem of children's difficulties in writing poetry in fourth grade by using digital teaching materials to write poetry in a form of flipbook. The purpose of this research is to design a flipbook-based digital teaching material product to facilitate learning to write poetry in elementary schools, especially in Grade IV. The method used was Educational Design Research (EDR) starting from analyzing needs according to problem identification and exploring what was found in elementary schools, design and construction of developed tools, to evaluation and reflection of developed tools. The results of developing digital teaching materials for writing poetry were contents that can be taught to fourth grade elementary school students including: (1) The concept of poetry, (2) Basic poetry, (3) Elements of poetry, (4) Looking for ideas, (5) Pouring ideas in the form of poetry that is supported by multimedia provided by flipbook so that the digital teaching material for writing poetry based on flipbook developed by researchers are suitable to use. Thus, digital teaching material for writing poetry in the form of a flipbook can meet the needs of learning to write poetry in elementary schools because there are multimedia such as animation, images, videos, and audio so that learning can be supported and more interesting by utilizing the sophistication of existing technology. The position of this digital teaching material is as an additional reference in learning literature in elementary schools.
Analisis program GLS (gerakan literasi sekolah) pada tahap pembiasaan di sekolah dasar
Salma Fitriati;
Seni Apriliya;
Nana Ganda
COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : IKIP Siliwangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22460/collase.v7i1.18577
AbstractResponding to the low literacy culture based on research which states that literacy skills in Indonesia are still lacking and lagging behind, the government held the GLS (School Literacy Movement) program as an effort to increase literacy culture. GLS (School Literacy Movement) activities in elementary schools at the habituation stage are the habit of reading 15 minutes before learning. This study aims to describe and pay attention to the implementation and overall support of GLS (School Literacy Movement) in one of the elementary schools in Tasikmalaya. The approach used in this study is descriptive qualitative using data collection techniques through interviews, observation, and documentation. The results of this study indicate that the implementation of the GLS (School Literacy Movement) in elementary schools was carried out based on indicators of achievement of the GLS program at the habituation stage before the Covid-19 pandemic, especially during the WJLRC (West Java Leader's Reading Challenge) program. Meanwhile, after the Covid-19 pandemic, GLS activities were carried out but not optimal with the damage to various facilities that were not maintained and the lack of programs from the government that could stimulate GLS (School Literacy Movement). Thus, a program that can stimulate the movement of the GLS (School Literacy Movement) program at the habituation stage should be held again in order to revive the GLS (School Literacy Movement) program which has hardly been cultivated in elementary schools. Keywords: GLS’s Program, Elementary school, Habituation Stage. AbstrakMerespon rendahnya budaya literasi berdasarkan riset yang menyebutkan bahwa kemampuan literasi di Indonesia masih kurang dan tertinggal, pemerintah mengadakan program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) sebagai upaya peningkatan budaya literasi. Kegiatan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) di sekolah dasar pada tahap pembiasaan berupa pembiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran.. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memperhatikan pelaksanaan dan keseluruhan penunjang GLS (Gerakan Literasi Sekolah) di salah satu sekolah dasar yang ada di Tasikmalaya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) di Sekolah dasar terlaksana berdasarkan indikator pencapaian program GLS pada tahap pembiasaan pada saat sebelum pandemi Covid-19 terutama saat adanya program WJLRC (West Java Leader’s Reading Challenge). Sedangkan pada saat setelah pandemic Covid-19 kegiatan GLS telaksana namun tidak optimal dengan rusaknya berbagai fasilitas yang tak terawatt dan kurangnya program dari pemerintah yang dapat menstimulasi GLS (Gerakan Literasi Sekolah). Sehingga, adanya program yang dapat menstimulasi bergeraknya program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) pada tahap pembiasaan sebaiknya diadakan kembali guna menghidupkan program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) yang sudah hampir tidak dibudayakan di sekolah dasar. Kata Kunci: Program GLS, Sekolah Dasar, Tahap Pembiasaan.
Analisis literasi emosi guru sekolah dasar (penelitian survei terhadap guru-guru di gugus wilayah V Kecamatan Panumbangan, Jawa Barat)
Sri Dewi Rahayu;
Seni Apriliya;
Dwi Alia
COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : IKIP Siliwangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22460/collase.v7i1.18792
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur literasi emosi guru Sekolah Dasar. Penelitian dilakukan karena literasi emosi sangat penting bagi setiap individu dan guru merupakan salah satu yang menentukan perkembangan literasi emosi sehingga sebelum memberikan pemahaman terhadap murid, guru sendiri harus memahami literasi emosi pada dirinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei deskriptif. Teknik pengambilan data dilakukan dengan penyebaran angket kepada sejumlah guru di Kecamatan Panumbangan dengan total 62 orang guru. Data diolah secara kuantitatif dan dikategorikan untuk mengetahui kategori literasi emosi guru di wilayah tersebut. Aspek yang terdapat pada literasi emosi berdasar pada Teori Steiner yaitu aspek memahami perasaan diri, aspek berempati, asppek mengelola emosi, aspek mengatasi dan memperbaiki kerusakan emosi, dan aspek mengembangkan interaksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi emosi guru dalam aspek berempati, aspek mengelola emosi, aspek mengatasi dan memperbaiki kerusakan emosi dan aspek mengembangkan interaksi sosial berada dalam kategori sedang atau cukup baik. Sedangkan pada aspek mengetahui perasaan diri berada dalam kategori tinggi. Sehingga secara keseluruhan literasi emosi guru di Gugus Wilayah V Kecamatan Panumbangan masih berada dalam kategori sedang dan masih memerlukan peningkatan.Kata Kunci: Literasi, Literasi Emosi, Literasi Emosi Guru.
Analisis kebutuhan flashcard sebagai media pelatihan literasi emosi pada anak usia sekolah dasar
Ana Anggi Anggraini;
Seni Apriliya Apriliya;
Erwin Rahayu Saputra
COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Vol. 7 No. 3 (2024)
Publisher : IKIP Siliwangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22460/collase.v7i3.19298
Dewasa ini, perundungan merupakan masalah yang marak dialami anak usia sekolah dasar. Rendahnya literasi emosi dianalisis menjadi salah satu penyebab masalah tersebut. Namun, media pelatihan literasi emosi (Emotional Literacy) belum banyak dikembangkan. Sehingga, tujuan penelitian untuk memaparsajikan spesifikasi produk yang diperlukan dalam pengembangan flashcard sebagai media pelatihan literasi emosi. Pendekatan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan metode analisis kebutuhan dengan teknik pengumpulan data diantaranya wawancara, observasi dan studi pustaka. Pada tahap ini dilakukan analisis meliputi analisis kebutuhan dan analisis konten media flashcard literasi emosi. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung, kemampuan literasi emosi pada anak usia sekolah dasar masih dinilai rendah. Sedangkan upaya sementara guru untuk mengatasi masalah perilaku dan konflik emosi peserta didik berupa kesepakatan kelas dan nasihat. Sementara itu hasil studi literatur mengemukakan bahwa media flashcard literasi emosi untuk anak usia sekolah dasar belum banyak digunakan dan dikembangkan. Berdasarkan hasil wawancara, media flashcard literasi emosi dibutuhkan untuk dikembangkan dengan syarat perlu menarik dari tampilan warna, ilustrasi dan isi. Media flashcard pelatihan literasi emosi yang dikembangkan akan memuat lima aspek literasi emosi dengan mengikuti langkah pelatihan literasi emosi Steiner diantaranya: 1) opening the heart; 2) surveying the emotional landscape; 3) taking responsibility.
Analisis kebutuhan media pada pembelajaran teks eksplanasi di SD
Restu Nana Irawan;
Seni Apriliya;
Agnestasia Ramadhani Putri
COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Vol. 7 No. 3 (2024)
Publisher : IKIP Siliwangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22460/collase.v7i3.19413
Abstract Indonesian language subjects, especially explanatory text material, are compulsory lessons for elementary school students listed in the 2013 curriculum. Explanation text learning activities require careful planning of learning activities in order to achieve the desired learning objectives. Achieving learning objectives can be achieved if the teacher is able to choose the right learning methods and media. This study aims to reveal the need for media in learning explanatory text in grade V elementary school. This research was conducted through a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques were carried out through interviews and observations at one of the elementary schools in Ciamis Regency. The results of the research based on the results of interviews and observations show data that there are limitations to learning media such as only using teacher and student thematic books in the learning process and using newspaper media. In addition, students prefer visual learning with play learning methods. Therefore, it is necessary to develop learning media on explanatory text material in accordance with these characteristics. Keywords: Explanation text, Learning media, Grade V students. Abstrak Mata pelajaran bahasa Indonesia terkhusus materi teks eksplanasi menjadi pelajaran wajib bagi peserta didik sekolah dasar yang tercantum dalam kurikulum 2013. Kegiatan pembelajaran teks eksplanasi diperlukan perencanaan kegiatan belajar yang matang agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pencapaian tujuan pembelajaran dapat tercapai apabila guru mampu memilih metode dan media pembelajaran yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kebutuhan media dalam pembelajaran teks eksplanasi di kelas V SD. Penelitian ini dilaksanakan melalui penekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara dan observasi di salah satu SD di Kabupaten Ciamis. Adapun hasil penelitian yang didasarkan pada hasil wawancara dan observasi menunjukkan data bahwasannya terdapat keterbatasan media pembelajaran seperti hanya menggunakan buku tematik guru dan siswa dalam proses belajar serta menggunakan media koran. Selain itu, siswa lebih menyukai pembelajaran secara visual dengan metode belajar bermain. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan media pembelajaran pada materi teks eksplanasi yang sesuai dengan karakteristik tersebut. Kata Kunci: Teks eksplanasi, Media pembelajaran, Peserta didik kelas V SD.
Analisis kebutuhan modul ajar berbasis pjbl terhadap ecoliteracy siswa kelas IV materi SDA
Eva Andriyani;
Seni Apriliya;
Pidi Mohamad Setiadi
COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Vol. 7 No. 4 (2024)
Publisher : IKIP Siliwangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22460/collase.v7i4.19727
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan dan masalah terkait ketersediaan modul ajar IPS berbasis PjBL materi SDA dengan muatan ecoliteracy. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Penelitian bertempat di dua SD berbeda yakni SDN 1 dan 2 Sukasenang. Partisipan dalam penelitian ini yakni 2 guru kelas IV masing-masing dari SD yang berbeda dan 2 siswa kelas IV. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pedoman observasi dan wawancara. Fakta yang diperoleh dari wawancara adalah belum ada modul yang memuat materi SDA secara khusus dan belum tersedia modul yang memfasilitasi pengembangan berbagai kompetensi siswa. Adapun kebutuhan modul yang harus dikembangkan, yakni: 1) Sesuai dengan kurikulum 2) sesuai karakteristik siswa 3) sesuai kondisi 4) memuat gambar yang kontekstual 5) kegiatan latihan yang menarik 6) memfasilitasi ecoliteracy 7) cetak dan 8) ilustrasi dan warna yang menarik. Secara garis besar disimpulkan bahwa pengembangan modul memang dibutuhkan untuk pembelajaran IPS di sekolah.
Implementasi GLS melalui Program Petualangan Literasi (PELITA) di Sekolah Dasar
Saadah, Endah;
Apriliya, Seni
Jurnal Basicedu Vol. 7 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/basicedu.v7i6.6724
Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan Gerakan Literasi Sekolah sebelum dan sesudah program Petualangan Literasi (PELITA) dilaksanakan di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Tasikmalaya. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriftif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sekolah tersebut sudah melaksanakan kegiatan GLS melalui pembiasaan literasi selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai pada tahun 2018 dengan jumlah buku yang sangat terbatas. Peserta didik merasa bosan dikarenakan setiap pagi guru selalu menggunakan cara yang sama dan setelah pandemi kegiatan GLS tersebut mengalami mati suri. Namun setelah program PELITA dilaksanakan, minat membaca peserta didik meningkat secara signifikan dibandingkan dengan program GLS yang dilaksanakan sebelumnya. Program PELITA berhasil mengubah secara positif minat membaca melalui kegiatan guru membacakan nyaring, kegiatan membaca berkelompok, kegiatan virtual reality dan kegiatan kreatif serta memberikan pengalaman yang berbeda layaknya peserta didik sedang berpetualang