Claim Missing Document
Check
Articles

Spatial Pattern Analysis of Schmidt–Ferguson Climate Classification in Gorontalo Province Based on Rainfall Data Gifari S Pratama; Ahmad Syamsu Rijal S; Talha Dangkua; Dewa Oka Suparwata
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 12 No 4 (2026)
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v12i4.14568

Abstract

Climate change has altered rainfall patterns in Indonesia; however, spatially detailed climate classification in Gorontalo Province remains limited. This study aims to identify climate patterns using the Schmidt–Ferguson method combined with spatial analysis. The novelty lies in integrating data consistency testing, quantitative Q index analysis, and GIS-based interpolation to produce spatial climate zoning. This study uses monthly rainfall data from 41 consistent observation stations (out of 48 stations) during 2015–2024, obtained from BWS Sulawesi II and BMKG. Data consistency was tested using the Double Mass Curve method, followed by calculation of the Q index and spatial interpolation using the Inverse Distance Weighting (IDW) method. Results show that rainfall data are highly consistent (R² ≈ 1). The Q index ranges from 7.6 to 119, indicating diverse climate types: very wet (A), wet (B), moderately wet (C), moderate (D), and slightly dry (E). Spatially, wet climates dominate mountainous areas, while relatively drier conditions occur in coastal regions. These findings are applicable for crop calendar planning, irrigation management, and disaster mitigation such as flood-prone and drought-prone zoning. However, the study is limited by uneven station distribution and a 10-year observation period. In conclusion, Gorontalo Province exhibits high spatial variability of climate influenced by topography and geographic location.
Review Progres Agropolitan pada Strategi dan Trend Ekspor Jagung di Gorontalo Hendra Haipi; Dewa Oka Suparwata; Merita Ayu Indrianti; Aditya Djaini
Student Scientific Creativity Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Student Scientific Creativity Journal
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/sscj-amik.v4i3.6125

Abstract

. The Agropolitan Program based on corn commodities in Gorontalo Province aims to enhance agricultural productivity, improve farmers’ welfare, and strengthen the competitiveness of corn. This study examines the progress of program implementation and its impact on production, quality, export volume, and competitiveness. A quantitative approach was employed, utilizing SWOT analysis and the Revealed Comparative Advantage (RCA) method. Data were obtained from the Central Bureau of Statistics, relevant institutions, as well as limited observations and interviews.The results indicate that the Agropolitan Program has contributed positively to the expansion of harvested areas and increased corn production, particularly during the 2020–2024 period. This increase is not only evident in terms of quantity but has also begun to show improvements in the quality of yields, although these improvements are not yet evenly distributed across regions. However, export performance remains fluctuating, with unstable RCA values, indicating that the competitiveness of corn in the international market still faces various challenges.This condition is influenced by limitations in logistics infrastructure, weak farmer institutions, dependence on middlemen, and the suboptimal integration of the value chain from upstream to downstream. In addition, access to technology, financing, and market information remains a significant constraint that needs to be addressed. It is concluded that the success of the program requires strengthening institutional capacity, improving distribution efficiency, and implementing sustainable and integrated export policies to support the stability and long-term competitiveness of corn.
Perbandingan Kualitas Rumput Odot (Pennisetum Purpureum Cv. Mott) dan Rumput Pakchong (Pennisetum Purpureum Cv. Thailand) terhadap Performa Sapi Bali di Cv. Rnb Farm Gorontalo Kadek Yadnyano; Widiastuti Ardiansyah; Susan Mokoolang; Dewa Oka Suparwata
Student Scientific Creativity Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Student Scientific Creativity Journal
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/sscj-amik.v4i3.6158

Abstract

High-quality forage selection is a central factor in improving Bali cattle performance, particularly in smallholder systems that rely heavily on local feed resources. This study evaluated the effects of odot grass (Pennisetum purpureum cv. Mott) and pakchong grass (Pennisetum purpureum cv. Thailand) on feed intake, average daily gain, and feed conversion ratio of male Bali cattle. The experiment was conducted for 30 days from February to March 2026 at CV. RnB Farm, Gorontalo Regency. Nine male Bali cattle with relatively homogeneous initial body weights of 150–200 kg was assigned to a completely randomized design with three treatments and three replications. The treatments were P0, field grass as the control; P1, 100% odot grass plus concentrate; and P2, 100% pakchong grass plus concentrate. Dry matter intake did not differ significantly among treatments, with values of 6.47 ± 0.19, 6.52 ± 0.19, and 6.55 ± 0.16 kg/head/day for P0, P1, and P2, respectively. In contrast, average daily gain differed significantly, with the highest value observed in P2 at 0.56 ± 0.08 kg/head/day, followed by P1 at 0.52 ± 0.09 kg/head/day and P0 at 0.45 ± 0.06 kg/head/day. Feed conversion ratio also differed significantly, with the most efficient value recorded in P2 at 11.98 ± 2.10. These findings indicate that pakchong grass combined with concentrate provides the best feed efficiency and growth performance, while odot grass remains a promising alternative forage for improving Bali cattle productivity.
Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Pada Sapi Simmental Di Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo Yanto Yanto; Ramlan Pomolango; Mohammad Ervandi; Wahyu Sulistyo; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9971

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan inseminasi buatan (IB) serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi status kebuntingan pada sapi Simental induk di Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara purposive sampling terhadap 27 ekor sapi Simental induk yang memenuhi kriteria sebagai akseptor IB. Variabel bebas yang diamati meliputi umur, paritas, Body Condition Score (BCS), kualitas pakan, dan kemampuan deteksi birahi, sedangkan variabel terikat adalah status kebuntingan. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan regresi logistik dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan IB masih tergolong rendah, dengan nilai Service per Conception (S/C) sebesar 3,44, Conception Rate (CR) sebesar 16,36%, dan Non Return Rate (NRR) sebesar 59,26%. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kualitas pakan berpengaruh nyata terhadap status kebuntingan dengan nilai signifikansi 0,036 (P<0,05) dan nilai odds ratio sebesar 6,806. Hal ini menunjukkan bahwa sapi induk yang memperoleh kualitas pakan lebih baik memiliki peluang bunting 6,806 kali lebih tinggi dibandingkan ternak dengan kualitas pakan yang kurang baik. Sementara itu, variabel umur, paritas, BCS dan kemampuan deteksi birahi tidak menunjukkan pengaruh nyata secara statistik terhadap status kebuntingan (P>0,05). Nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,467 menunjukkan bahwa variabel penelitian mampu menjelaskan variasi status kebuntingan sebesar 46,7%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat keberhasilan inseminasi buatan pada sapi Simental induk di Kecamatan Mootilango masih belum optimal dan kualitas pakan merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan kebuntingan.
Analisis Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Pada Sapi Potong Di Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo Supriyanto Bahuwa; Wahyu Sulistyo; Ishak Korompot; Susan Mokoolang; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9973

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keberhasilan inseminasi buatan (IB) pada sapi potong di Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan tersebut. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan pengambilan data primer melalui observasi dan wawancara terhadap peternak. Variabel yang diamati meliputi umur induk, paritas, Body Condition Score (BCS) dan waktu inseminasi buatan sebagai variabel bebas, serta status kebuntingan sebagai variabel terikat. Tingkat keberhasilan IB dianalisis menggunakan indikator Service per Conception (S/C), Conception Rate (CR) dan Non Return Rate (NRR), sedangkan analisis faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan IB dilakukan menggunakan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai S/C sebesar 2,77, CR sebesar 37,04% dan NRR sebesar 40,12%, yang secara keseluruhan menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan inseminasi buatan di lokasi penelitian berada pada kategori kurang baik. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa secara simultan variabel umur induk, paritas, BCS dan waktu inseminasi buatan berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan kebuntingan. Secara parsial, variabel BCS dan waktu inseminasi berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan IB dengan nilai signifikansi < 0,05, sedangkan variabel lainnya tidak berpengaruh signifikan. Variabel yang paling dominan memengaruhi keberhasilan IB adalah variabel BCS. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan inseminasi buatan pada sapi potong dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis dan manajemen reproduksi, sehingga diperlukan upaya peningkatan melalui perbaikan kondisi ternak dan optimalisasi pelaksanaan inseminasi buatan.
Hubungan Body Condition Score Dengan Interval Beranak Pada Sapi Potong Pada Sistem Pemeliharaan Rakyat Di Desa Sukamakmur Kecamatan Tolangohula Miskam Miskam; Widiastuti Ardiansyah; Mohammad Ervandi; Susan Mokoolang; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9990

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Body Condition Score (BCS) dengan interval beranak pada sapi potong dalam sistem pemeliharaan rakyat di Desa Sukamakmur, Kecamatan Tolangohula. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap kondisi tubuh ternak untuk penilaian BCS serta wawancara dengan peternak untuk memperoleh data reproduksi, khususnya interval beranak. Sampel penelitian terdiri dari induk sapi potong yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial. Uji normalitas menggunakan metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal (p<0,05), sehingga analisis hubungan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ternak memiliki BCS pada skor 3 (kondisi ideal) dan interval beranak berada pada kisaran 12 - 14 bulan (kategori efisien). Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan kuat antara BCS dan interval beranak dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0,738 dan signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai BCS diikuti dengan penurunan interval beranak, yang berarti kondisi tubuh ternak yang optimal berperan dalam meningkatkan efisiensi reproduksi. Dengan demikian BCS dapat digunakan sebagai indikator praktis dalam pengelolaan reproduksi sapi potong pada sistem pemeliharaan rakyat.
Karakteristik Sosial Ekonomi Peternak Sapi Potong Dan Kaitannya Dengan Skala Usaha Di Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo Irhamni Abdullah; Ishak Korompot; Ramlan Pomolango; Meity Melani Mokoginta; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.10158

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosial dan ekonomi peternak sapi potong serta hubungannya dengan skala usaha di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 91 responden yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Variabel penelitian meliputi karakteristik sosial (umur, pendidikan, pengalaman beternak dan jumlah tanggungan keluarga), karakteristik ekonomi (sumber modal, biaya operasional dan pendapatan), serta skala usaha yang diukur berdasarkan jumlah kepemilikan ternak. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik sosial peternak berada pada kategori sedang hingga tinggi dan relatif homogen, sedangkan karakteristik ekonomi berada pada kategori rendah hingga sedang. Skala usaha peternakan sapi potong didominasi oleh skala kecil hingga menengah. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa karakteristik sosial tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan skala usaha (rs = 0,037; p > 0,05), sedangkan karakteristik ekonomi memiliki hubungan yang sangat kuat dan signifikan (rs = 0,837; p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi merupakan determinan utama dalam pengembangan skala usaha peternakan sapi potong, karakteristik sosial tidak berpengaruh secara langsung. Peningkatan skala usaha perlu difokuskan pada penguatan akses terhadap sumber daya ekonomi, khususnya modal dan pendapatan usaha.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Dan Efisiensi Teknis Usahatani Kacang Panjang (Vigna Sinensis L.) Di Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo Abdul Rahman Gani; Moh Muchlis Djibran; Yusriyah Atikah Gobel; Meity Melani Mokoginta; Merita Ayu Indrianti; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 2 No. 4 (2024): Oktober - Desember
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v2i4.647

Abstract

Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi dan gizi tinggi yang menunjukkan pertumbuhan produksi sangat signifikan di Kabupaten Gorontalo, namun kajian kuantitatif tentang faktor-faktor produksi dan efisiensi teknisnya belum pernah dilakukan di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh simultan dan parsial faktor-faktor produksi serta mengkaji tingkat efisiensi teknis usahatani kacang panjang di Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Survei kuantitatif diterapkan dengan melibatkan 86 petani melalui pendekatan total sampling (sensus). Analisis menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas yang diestimasi dengan Ordinary Least Square (OLS) melalui perangkat lunak EViews 10. Seluruh uji asumsi klasik terpenuhi: normalitas (Jarque-Bera: JB=3,596; p=0,166), bebas multikolinearitas, dan homoskedastisitas. Hasil menunjukkan bahwa secara simultan seluruh faktor produksi berpengaruh nyata (F=14,207; p<0,001; R2=54,60%). Secara parsial, luas lahan (beta=0,341; p=0,002), benih (beta=0,241; p=0,024), dan pupuk (beta=0,315; p=0,045) berpengaruh nyata pada taraf alpha=5%, sedangkan tenaga kerja dan pestisida tidak berpengaruh nyata. Total elastisitas sebesar 1,009 mengindikasikan constant return to scale (CRS) pada level sistem produksi keseluruhan, sementara seluruh faktor produksi secara parsial berada pada kondisi decreasing return to scale (DRS). Temuan ini mengimplikasikan perlunya reorientasi penggunaan input melalui optimalisasi lahan, peningkatan kualitas benih unggul bersertifikat, dan penerapan pemupukan berimbang sebagai prioritas program penyuluhan pertanian di Kabupaten Gorontalo.  
Karakteristik Sosial Ekonomi, Struktur Biaya Produksi, Dan Kontribusi Pendapatan Usahatani Padi Terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Di Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango Yuyan Mahmud; Moh Muchlis Djibran; Aditya Djaini; Yusriyah Atikah Gobel; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 3 No. 1 (2025): Januari - Maret
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v3i1.701

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tiga dimensi yang saling berkaitan dalam usahatani padi di Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, yaitu: (1) karakteristik sosial ekonomi petani padi sawah dan padi ladang; (2) struktur biaya produksi serta efisiensi penggunaan input pada kedua sistem usahatani; dan (3) kontribusi pendapatan usahatani padi terhadap kesejahteraan rumah tangga petani yang diukur melalui perbandingan terhadap garis kemiskinan, Upah Minimum Kabupaten (UMK), dan rata-rata pengeluaran rumah tangga berdasarkan publikasi BPS. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei terhadap 64 responden, terdiri atas 43 petani padi sawah (simple random sampling, rumus Slovin α=15%) dan 21 petani padi ladang (sampling jenuh). Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur, sedangkan data sekunder bersumber dari BPS Kabupaten Bone Bolango dan Dinas Pertanian setempat. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan formula standar usahatani (TC, TR, π, dan R/C Ratio). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata umur petani 53 tahun, dengan pendidikan dominan SMA (36 persen) dan pengalaman berusahatani 10–30 tahun pada seluruh responden. Biaya tenaga kerja mendominasi struktur biaya variabel pada kedua sistem, yaitu 67,1 persen pada padi sawah dan 65,1 persen pada padi ladang. Pendapatan bersih per musim tanam mencapai Rp 3.907.744 untuk padi sawah dan Rp 3.003.523 untuk padi ladang, dengan R/C Ratio masing-masing 1,48 dan 1,59. Setelah dikonversi ke basis bulanan, pendapatan usahatani padi hanya mencapai 21,5 persen dan 16,5 persen UMK Bone Bolango, serta 52,2 persen dan 40,1 persen pengeluaran rumah tangga rata-rata. Temuan ini mengindikasikan bahwa usahatani padi belum mampu menjadi sumber pendapatan tunggal yang memadai, sehingga diversifikasi pendapatan non-farm menjadi strategi yang esensial bagi rumah tangga petani.
Huyula Sebagai Modal Sosial Pada Usahatani Tomat: Persepsi Petani Terhadap Efisiensi Waktu Dan Biaya Di Kecamatan Limboto, Gorontalo Jumriaty Maleba; Moh Muchlis Djibran; Meity Melani Mokoginta; Yusriyah Atikah Gobel; Merita Ayu Indrianti; Dewa Oka Suparwata
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 3 No. 1 (2025): Januari - Maret
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v3i1.703

Abstract

Kearifan lokal Huyula merupakan praktik gotong royong khas masyarakat Gorontalo yang diimplementasikan dalam sistem pertanian komunal, termasuk usahatani tomat. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi petani tomat terhadap kontribusi Huyula dalam meningkatkan efisiensi waktu (X1), efisiensi biaya (X2), dan produktivitas usahatani (Y) di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Desain penelitian bersifat deskriptif kuantitatif dengan teknik sensus terhadap 48 petani tomat di tiga desa sampel: Bolihuangga, Hunggaluwa, dan Tenilo. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berbasis skala Likert lima poin dengan 15 item pernyataan (5 item per variabel, skor total teoritis 5-25). Analisis deskriptif kategoris menggunakan interval kelas empat poin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor efisiensi waktu berada pada rentang 21-25 (Sangat Tinggi), efisiensi biaya pada 17-23 (Tinggi hingga Sangat Tinggi), dan persepsi produktivitas pada 18-23 (Tinggi hingga Sangat Tinggi). Ketiga variabel secara konsisten menunjukkan persepsi positif terhadap manfaat Huyula. Data sekunder produksi tomat 2019-2022 menunjukkan pola fluktuasi signifikan: 3.212 kuintal (2019) turun 57% menjadi 1.394 kuintal (2020) akibat pandemi COVID-19, kemudian pulih ke 1.569 kuintal (2021) dan 3.109 kuintal (2022). Temuan ini mengkonfirmasi Huyula sebagai modal sosial produktif yang efektif sebagai mekanisme efisiensi tenaga kerja kolektif dan buffer ketahanan produksi. Penelitian merekomendasikan integrasi Huyula secara formal dalam program penyuluhan pertanian berbasis komunitas di Gorontalo.
Co-Authors A. Hasan, Zuarni Abdul Rahman Gani Abu Muna Almaududi Ausat Aditya Djaini Adnani Adnani Agustinus Moonti Ahmad Junaidi Ahmad Syamsu Rijal S Ahmad Yani Amaludin, Moh. Baitullah Amruddin Amruddin, Amruddin Andriya Risdwiyanto Arafah, Muhammad Nur Arief Sudrajat ARIEF SUDRAJAT Arjang Arjang Arsyad, Silviana Azzaakiyyah, Hizbul Khootimah Bagu, Fitria S. Bakari, Dwinanda Bokingo, Zulkarnain Budi Sunarso Cakranegara, Pandu Adi Chatun, Sri Darmawan Listya Cahya Denny Bernardus Dewi Shinta Achmad Diawati, Prety Dien, Wawan Moh. R. Djaini, Aditya Djibran, Moh Muchlis Djibran, Moh. Muchlis Dude, Suyono Echan Adam Eko Sutrisno Eko Sutrisno, Eko Emmy Hamidah Ervandi, Mohamad Fahrullah Fahrullah Fatma Sarie Fatmawati Fatmawati Fauzan Zakaria Firmansyah Firmansyah Fitriah S. Jamin Frans Sudirjo Gifari S Pratama Gomes, Lucio Marcel Gusti Rusmayadi Hakiman, Mansor Hamka Hazmi, Muhammad Hendra Haipi Hertini, Etty Sri Ika Okhtora Angelia Imam Jayanto Imam Widodo Imam Widodo Indri Afriani Yasin Indri Afriyani Yasin Indrianti, Ayu Intes, Amina Irhamni Abdullah Irjanto, Bambang Ishak Korompot Ishak Korompot Iwan Harsono Judijanto, Loso Jumriaty Maleba Kadek Yadnyano Karma Karma Koto, Arthur Gani Laiko, Rizal Susanto Liz Yanti Andriyani Loso Judijanto Ma'rifani Fitri Arisa Madawi, Chandra Bahar Marjan, M Merita Ayu Indrianti Miskam Miskam Mislan Sihite, Mislan Mitra Musika Lubis Moh Muchlis Djibran Moh. Muchlis Djibran Mohamad Ilyas Abas Mohamad, Asna Kasim Mohammad Ervandi Mokoginta, Meity M Muchlis Djibran Muh. Saleh Nurdin Muhamad, Lili Fadli Muhammad Ade Kurnia Harahap Muhammad Arief Azis Muhammad Hazmi Mustafa, Fahrina Nasaru, Yurni Ninik Sri Rahayu, Ninik Sri Novaria, Rachmawati Nurdin . Nurhayati Nurhayati Nurhikmah Paddiyatu Nurwijayanti Ohara, Muammar Revnu Paddiyatu, Nurhikmah Putu Doddy Heka Ardana Rachmawati Novaria Rajib, Md. Mijanur Rahman Ramlan Pomolango Ramlan Pomolango Ratnawati Yuni Suryandari Riantin Hikmah Widi Riko Mersandro Permana Rival Rahman, Rival Robby D.J. Rempas, Robby D.J. Sabalius Uhai Safruddin Safruddin Sari, Ade Risna Sarie, Fatma Satria Wati Pade Silvana Apriliani Soelistianto, Farida Arinie Sri Chatun Sufa, Siska Armawati Suherlan Sulandjari, Kuswarini Supriandi Supriandi, Supriandi Supriyanto Bahuwa Susan Mokoolang SUTRISNO Sutrisno SYAHRIAL SYAHRIAL Syamsu Rijal Tahrayani Purnama Sari A.N Haming Talha Dangkua Talha Dangkua Terri Repi Trimulyono Trimulyono Tusaban Tusaban Uloli, Fristawati Umi Salawati Utami, Cahyaning Rini Wahyu Sulistyo Wardani, Dini Tri Wawan Pembengo Widiastuti Ardiansyah Widiyanto, Sigit Wily Mohammad Winarto Ramlan Wisnujatia, Nugrahini Susantinah Wiwid Widianto Yanto Yanto Yohan Yohan Yusriyah Atikah Gobel Yuyan Mahmud Zainal Arifin