Claim Missing Document
Check
Articles

Improved quality of color sumatra barb, Puntigrus tetrazona (Bleeker, 1855) with artificial feed enriched red spinach flour (Amaranthus tricolor L.) Gamel Koncara; Nur Bambang Priyo Utomo; Mia Setiawati; Muhamad Yamin
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.398

Abstract

The Sumatra barb (Puntigrus tetrazona) is one of the Indonesia indigenous ornamental fish from Sumatra island. The breeding of sumatra barb fish has actually seen a decline in color quality because this species cannot produce carotenoid in the body. To solve this problem, needed an alternative using supplementation the carotenoid in the feed. The objective of this study was aimed to determine the effectiveness of red spinach flour doses as feed on the quality of the sumatra barb. The sumatra barb ornamental fish, with weight about 0.54 g and length about 3.50 cm, were reared in the aquarium (30 cm x 20 cm x 20 cm). The completely randomized design with 4 treatments (A=0% (control), B=2%, C=4%, and D=6%) and 3 replications were analyzed in this study. Parameters in this study consisted of body skin color qualities (e.g. L = lightness, C = chroma, and H = hue) and the number of carotenoid in the skin, fins, and meat. The fish were reared for 42 days and given feed 3 times per day. This result showed that supplementation of red spinach flour by 6% with carotenoid 45.26 ppm in feed, 50.44 ppm in fins, 16.10 ppm in the skin, and 3.69 ppm in meat, could increase sumatra barb color qualities. It was indicated decreasing lightness 60.83%, increasing chroma 20.57%, and sustaining hue 87,09°. Abstrak Ikan sumatra albino (Puntigrus tetrazona) merupakan salah satu ikan hias asli Indonesia yang berasal dari pulau Sumatera. Budidaya ikan sumatra albino mengalami penurunan dalam kualitas warna karena spesies ini tidak dapat memproduksi karotenoid dalam tubuhnya. Guna mengatasi permasalahan ini, maka dibutuhkan sebuah alternatif berupa penambahan karotenoid dalam pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas dosis tepung bayam merah sebagai pakan terhadap kualitas warna ikan sumatra albino. Ikan hias sumatra albino dengan bobot 0,54 g dan panjang 3,50 cm dipelihara di dalam akuarium (30 cm x 20 cm x 20 cm).Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empatperlakuan (A=0% (kontrol), B=2%, C=4%, dan D=6%) dan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi nilai kualitas warna kulit ikan (L=lightness, C=chroma, dan H=hue) dan total karotenoid pada kulit, sirip,serta daging ikan sumatra albino. Ikan dipelihara selama 42 hari dan diberi pakan tigakali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwapenambahantepung bayam merah pada dosis 6%dengan kandungan karotenoid 45,26 ppm pada pakan, 50,44 ppm pada sirip, 16,10 ppm pada kulit, dan 3,69 ppm pada daging, dapat meningkatkan kualitas warna ikan sumatra albino. Hal tersebut diindikasikan dengan menurunnya nilai L=60,83%, meningkatnya nilai C=20,57%, dan mempertahankan nilai H=87,09°.
Dietary free glutamine supplementation to increase physiological responses and survival rate of clown loach juvenile, Chromobotia macracanthus Bleeker, 1852 Siti Murniasih; Dedi Jusadi; Mia Setiawati; Sri Nuryati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 3 (2019): October 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i3.466

Abstract

Clown loach Chromobotia macracanthus is one of Indonesian native species and as a key species for ornamental aquaculture. The problem in mass production of this species are the low of growth rate which causes a long period of rearing and low of survival rate. The purpose of the present study was to evaluate free glutamine supplementation at different doses in diet to increase physiological response, growth performance and survival rate of clown loach. Expe-rimental diets contained four different free glutamine levels, viz 0, 1, 2 and 3%. These diets were given to six repli-cate groups of 50 juvenile clown loaches. The fish were reared in each aquarium with dimensions of 40×30×30 cm3 for 60 days. Fish were fed four times a day at satiation. Parameters observed including intestinal glutamine concen-tration, villous and intestinal morphometry, intestinal protease activity, feed efficiency, nutrient retention, growth performance, survival rate, superoxide dismutase (SOD) activity, and malondialdehyde (MDA). The results showed that supplementation of 1% free glutamine significantly affected the morphometry of villi. The length and surface area of villi at a dose of 1% showed the highest values i.e., 320.44 ± 10.39 μm and 27,046.79 ± 250.54 μm2, respect-ively. The 1% dose also had a significant effect on protease activity (13.57 ± 1.92 mg units of protein-1) compared to the 0% dose. The 2% dose showed the highest SOD activity (0.82 ± 0.07 mg protein-1 unit) and the lowest MDA level was found at a dose of 3% (0.25 ± 0.02 nmol mg protein-1). Feed consumption with the supplementation of free glutamine has a significant effect on survival rate with the highest value reached 97.00 ± 1.00%, but no significant effect on intestinal morphometry, feed efficiency, nutrient retention and growth performance. Dietary with the sup-plementation of free glutamine is not able to improve growth performance, but can improve the physiological res-ponse and survival rate. Abstrak Ikan botia merupakan salah satu spesies asli Indonesia. Permasalahan dalam budi daya ikan ini adalah pertumbuhan yang lambat dan sintasan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penambahan glutamin bebas de-ngan beberapa level dosis pada pakan terhadap respons fisiologis, kinerja pertumbuhan, dan sintasan ikan botia. Pene-litian menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri atas empat perlakuan dengan enam ulangan. Perlakuan berupa penambahan glutamin bebas pada pakan komersial dengan dosis berbeda yaitu 0, 1, 2, dan 3%. Ikan uji yang diguna-kan adalah yuwana ikan botia umur 40 hari, dipelihara dalam akuarium berukuran 40x30x30cm3 sebanyak 24 unit dengan padat tebar 50 ekor per akuarium. Pakan diberikan selama 60 hari dengan frekuensi pemberian empat kali se-hari secara at satiation. Parameter yang diamati meliputi konsentrasi glutamin usus, morfometri vili dan usus, aktivi-tas protease usus, efisiensi pakan, retensi nutrien, pertumbuhan, sintasan, aktivitas superoxide dismutase (SOD), serta malon-dialdehyde (MDA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan glutamin bebas 1% menunjukkan nilai paling tinggi untuk parameter panjang dan luas permukaan vili yaitu 320,44±10,39 µm dan 27.046,79±250,54 µm2. Dosis 1% menghasilkan pengaruh signifikan terhadap aktivitas protease (13,57±1,92 unit mg protein-1) dibandingkan dosis 0%. Perlakuan dosis 2% menunjukkan aktivitas SOD (0,82±0,07 unit mg protein-1) paling tinggi, sedangkan ka-dar MDA paling rendah terdapat pada dosis 3% (0,25±0,02 nmol mg protein-1). Konsumsi pakan dengan penambahan glutamin bebas berpengaruh nyata terhadap sintasan dengan nilai tertinggi 97,00±1,00%, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap morfometri usus, efisiensi pakan, retensi nutrien, dan pertumbuhan. Penambahan glutamin bebas da-lam pakan belum mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan, namun mampu meningkatkan respons fisiologis dan sintasan ikan botia.
Supplementation of corn oil Ω-6 fatty acids in feed for reproduction performance of threadfin rainbowfish Iriatherina werneri Meinken, 1974 Rahmadani Rahmadani; Mia Setiawati; Dinar Tri Soelistyowati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 2 (2019): June 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i2.479

Abstract

Rainbow fish (Iriatherina werneri) is a type of partial spawner fish with the little number of eggs production. The high contain of essential fatty acid (Linoleic acid 18:2 Ω-6) in corn oil was widely used as a source of fatty acid in the broodstock feed. The aim of this study was to evaluate the additional of LA fatty acid in feed for reproduction performance of rainbow fish. This study used a complete random design consists of three treatments and six replicates with different doses of corn oil LA in feed, Ω-6 0%, Ω-6 1%, and Ω-6 2%. Rainbow fish broodstock as sampel test with body weight 0.10-0.18g for females 0.21 ± 0.001 g, were kept separately in each tanks (size 30 cm x 30 cm x 30 cm) with density 15 fish per tanks. Broodstock were given diet three times daily at 08:00 am, 12:00 am and 17:00 pm by at satiation. The trial feed was administrated for 30 days before conducted the mass spawning for seven days with ratio of the male and female broodstock was 1:3. The results showed that treatment without supplementation of Ω-6 corn oil performed highest number of eggs 290 ± 125, hatching rate 55,99 ± 14,80%, survival rate 8,43% and the proportion of vitellogenic cell was more dominant, but the best of larval performance was observed in tretament of Ω-6 1% of highest larval length 3.00 mm and 100% percentage of normal larvae. It can be concluded that the supplementation of 1 % the Ω-6 fatty acid corn oil in the feed to produce reproductive performance was supported by the results of the histology of the eggs and larvae of the best performance in rainbowfish. Abstrak Ikan pelangi (Iriatherina werneri) tergolong jenis ikan pemijah bertahap dengan jumlah telur yang dihasilkan relatif sedikit. Kandungan asam lemak esensial linoleat (18:2Ω-6) yang tinggi dalam minyak jagung banyak digunakan sebagai sumber asam lemak pada pakan induk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penambahan asam lemak linoleat Ω-6 minyak jagung dalam pakan terhadap kinerja reproduksi ikan pelangi. Penelitian menggunakan rancang-an acak lengkap yang terdiri atas tiga perlakuan dan tiga ulangan yaitu dosis penambahan asam lemak Ω-6 minyak jagung dalam pakan n-6 0%, n-6 1% dan n-6 2%. Ikan uji yang digunakan adalah induk ikan pelangi betina dengan kisaran bobot 0,10-0,18 g dan induk jantan 0,21±0,001g, dipelihara secara terpisah di akuarium berukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm dengan padat tebar 15 ekor per akuarium. Ikan diberi pakan uji dengan frekuensi tiga kali dalam sehari yaitu pada pukul 08.00, 12.00 dan 17.00 secara at satiation. Pakan perlakuan diberikan selama 30 hari kemudian dilakukan pemijahan secara massal selama tujuh hari dengan perbandingan induk jantan dan betina 1:3. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa perlakuan tanpa penambahan Ω-6 minyak jagung menghasilkan jumlah telur 290±125 butir, derajat penetasan telur 55,99±14,80%, sintasan 8,43% tertinggi serta proporsi vitellogenic cell yang lebih dominan, namun performa larva terbaik diperoleh pada perlakuan Ω-6 1% dari panjang larva tertinggi 3,00 mm dan persentasi larva normal 100%. Disimpulkan bahwa penambahan 1% asam lemak Ω-6 minyak jagung dalam pakan menghasilkan performa reproduksi yang didukung oleh hasil histologi telur serta performa larva yang terbaik pada ikan pelangi.
Enrichment Daphnia sp. with glutamin to improve the performance of the growth and survival rate of gurami Osphronemus goramy Lacepede, 1801 larvae Rizkan Fahmi; Mia Setiawati; Mas Tri Djoko Sunarno; Dedi Jusadi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 3 (2019): October 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i3.501

Abstract

This study aimed to evaluate the effectiveness of giving Daphnia sp. as a natural feed enriched with the doses of glutamine to increase growth performance and survival rate of larvae. This study used a completed randomized design which consisted of four treatments, namely 0, 25, 50, dan 75 mgL-1 and three replications. The test feed was given to larvae stocked with 60 fish/aquarium (40 cm x 30 cm x 30 cm) for 21 days. The results showed that significant on growth performance and survival rate were revealed on larvae fed with Daphnia sp. which enriched by glutamine dose of 25-75 mgL-1.The physiological response of protease enzyme and antioxidant activity showed that better performance was found in the treatment with addition of glutamine rather than control. In short, enrichment of Daphnia sp. using glutamine can improve the growth performance and survival rate of goramy larvae. The optimal dose of glutamine for improving the survival of gorami larvae is 25 mg L-1. Abstrak Penelitian dilakukan dengan tujuan mengevaluasi efektivitas pemberian Daphnia sp. sebagai pakan alami yang diper-kaya dengan berbagai dosis glutamin untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan dan sintasan larva ikan gurami. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan ditentukan berdasarkan dosis glutamin yang berbeda yaitu 0, 25, 50, dan 75 mg L-1. Pakan uji diberikan pada larva ikan gurami yang ditebar 60 ekor ikan setiap akuarium (40 x 30 x 30 cm3) selama 21 hari. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa larva ikan gurami yang diberi pakan Daphnia sp. dengan pengayaan menggunakan glutamin dosis 25-75 mg L-1 memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja pertumbuhan dan sintasan dibandingkan dengan kontrol (0 glutamin). Respon fisiologi aktivitas enzim protease dan aktivitas antioksidan menunjukkan kinerja yang lebih baik pada perlakuan penambahan glutamin dibandingkan dengan kontrol. Disimpulkan bahwa pengayaan Daphnia sp. menggunakan glutamin mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan dan sintasan larva ikan gurami. Dosis optimal untuk meningkatkan sintasan larva ikan gurami adalah 25 mg L-1.
The evaluation of turmeric (Curcuma longa) supplementation within feed as an antioxidant towards growth performance of catfish Clarias gariepinus Burchell 1822 in zero water exchange condition Thoy Batun Citra Rahmadani; Dedi Jusadi; Mia Setiawati; Yuni Puji Hastuti
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 2 (2020): June 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i2.518

Abstract

The objective of this research was to evaluate the supplementation of turmeric in the diet on antioxidant status and growth performance of African catfish (Clarias gariepinus) in zero water exchange condition. This study used a completely randomized design with 4 treatments and 4 replications. Each treatment consisted of feed supplementation turmeric at dosage of 0; 2.5; 5 or 7.5 g kg-1 diet. One hundred catfish juvenile (5.95±0.05 g) were stocked in intermediate bulk container (IBC) tank (1×1×1 m3) and rearing in zero water exchange condition for 60 days. Catfish were fed at satiation twice a day, in the morning and evening. The results showed that an increase in antioxidant content in catfish fed with the addition of turmeric, which simultaneously also reduced the percentage of liver damage. The parameters of liver damage can be seen from several parameters i.e. pale liver, droplet fat and fat content in the addition of turmeric treatment is lower than without the addition of turmeric. However, catfish fed with the addition of turmeric did not show significant results in terms of growth performances. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penambahan kunyit ke dalam pakan sebagai antioksidan dan kinerja pertumbuhan ikan lele Afrika (Clarias gariepinus). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap perlakuan terdiri atas penambahan dosis kunyit sebanyak 0; 2,5; 5 dan 7,5 g kg-1 pakan. Seratus benih ikan lele (5,95±0,05 g) dipelihara dalam tangki Intermediate Bulk Container (IBC) (1×1×1 m3) dan dipelihara tanpa pergantian air selama 60 hari. Ikan lele diberi pakan secara at satiation dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kandungan antioksidan pada ikan lele yang diberi pakan dengan penambahan kunyit di dalamnya, yang secara bersamaan juga mengurangi persentase kerusakan hati. Parameter kerusakan hati dapat dilihat dari beberapa parameter, seperti hati pucat, droplet lemak dan kandungan lemak pada perlakuan penambahan kunyit lebih rendah dibandingkan tanpa penambahan kunyit. Namun ikan lele yang diberikan pakan dengan penambahan kunyit tidak menunjukkan hasil yang signifikan dari segi pertumbuhannya.
Evaluation of glutamine supplementation in the diet on the structure and function of the intestine and the growth performance of African catfish, Clarias gariepinus (Burchell 1822) juvenile Ismail Rahmat; Dedi Jusadi; Mia Setiawati; Ichsan Ahmad Fauzi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 2 (2021): June 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i2.575

Abstract

A triplicate experiment was conducted to evaluate the effect of the diet supplemented with free glutamine (Gln) on intestinal structure and function, as well as the growth performance of African catfish Clarias gariepinus juvenile. The commercial feed was supplemented with Gln of either 0% (control), 0.7%, 1.4% or 2.1%. Fish measuring 2 ± 0.02 cm were stocked in 12 aquariums 50x40x35 cm filled with water at a volume of 50 L with a density of 2,000 fish m-2. Fish were cultured for 30 days and fed on the diets three times a day at satiation. Results showed that the growth rate and biomass of the fish at the end of the experiment had a quadratic response, with the maximum growth achieved at 0.7% Gln treatment. The response pattern of fish growth was in line with the distribution of fish length. Fish in 0.7% Gln treatment had number fish measuring 5-6 cm more than 12% less than other treatments, while fish measuring 7-8 cm were more than other treatments. Higher growth in the 0.7% Gln treatment correlated with longer villi, higher protein retention, and ultimately higher feed efficiency. Increased intake of Gln in the diet also caused an increase in intestinal protease enzyme activity, and accumulation of Gln in the liver, but did not increase the enzymes activity of the liver Superoxidase Dismutase (SOD). It can be concluded that feeding on a diet supplemented with 0.7% Gln can improve the structure and function of the intestine, as well as increase the target size of catfish juvenile production. Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penambahan Glutamin bebas (Gln) pada pakan yang menghasilkan struktur dan fungsi usus, serta kinerja pertumbuhan benih ikan lele Clarias gariepinus yang terbaik. Pakan komersil disuplementasi Gln sebanyak 0% (kontrol), 0,7%, 1,4% dan 2,1%. Ikan lele ukuran 2 ± 0,02 cm ditebar ke dalam 12 akuarium 50x40x35 cm3 yang diisi air setinggi 30 cm dengan kepadatan 2000 ekor m-2. Ikan dipelihara selama 30 hari, dan diberi pakan sesuai perlakuan tiga kali sehari sekenyangnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan dan biomassa ikan di akhir penelitian memiliki respon kuadratik, dengan pertumbuhan maksimal tercapai pada perlakuan Gln 0,7%. Pola respon pertumbuhan ikan sejalan dengan distribusi panjang ikan. Ikan pada perlakuan 0,7% Gln memiliki jumlah ikan berukuran 5-6 cm lebih sedikit 12% dibandingkan dengan perlakuan lainnya, sedangkan ikan dengan ukuran 7-8 cm lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Lebih tingginya pertumbuhan di perlakuan 0,7% Gln berkorelasi dengan vili yang lebih panjang, retensi protein yang lebih tinggi, yang pada akhirnya efisiensi pakan juga tinggi. Peningkatan asupan Gln di pakan juga menyebabkan peningkatan aktivitas enzim protease usus, dan akumulasi Gln di hati, namun tidak meningkatkan aktivitas enzim Superoksidase Dimutase (SOD) hati. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan Gln 0,7% pada pakan dapat memperbaiki struktur dan fungsi usus, serta meningkatkan target ukuran produksi benih ikan lele.
The evaluation of glutamine supplementation into the diet on the growth performance, intestinal structure and function of striped catfish Pangasius hypophthalmus (Sauvage, 1878) fry Uttari Dewi; Dedi Jusadi; Mia Setiawati; Sri Nuryati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 22 No 1 (2022): February 2022
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v22i1.598

Abstract

A triplicate experiment was conducted to evaluate the effect of glutamine supplementation in the diet on the structure and function of intestine and the growth performance of striped catfish Pangasius hypopthalmus. Forty fishes with an initial body weight of 0.82 ± 0.01 g were distributed into a rectangular aquarium with a size of 60×50×40 cm and a water volume of 70 L. Fish were fed on the diet supplemented with glutamine of either 0, 1, 2, or 3%, respectively. Fish were fed on the diet at satiation for 60 days. Results showed that fish fed on the diet supplemented with 1, and 2% of glutamine significantly had the highest growth performance, including specific growth rate, protein retention, and feed efficiency. On the other hand, feeding on a diet supplemented with 3% of glutamine did not significantly affect the growth performance of fish. Fish in 1% and 2% glutamine treatments had better structure and function of intestine than two other groups of fish, namely the ratio of intestine length with body length, villus surface area, and protease enzyme activity. Thus, supplementation of 1% and 2% glutamine in the diet improves the structure and function of intestine and the growth performance of striped catfish. Abstrak Percobaan dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan glutamin pada pakan terhadap struktur dan fungsi usus, serta kinerja pertumbuhan ikan patin Pangasius hypopthalmus. Ikan uji yang digunakan sebanyak 40 ekor dengan bobot awal 0,82 ± 0,01 g dipelihara dalam akuarium berukuran 60 × 50 × 40 cm dan volume air 70 L. Ikan diberi pakan uji dengan penambahan glutamin 0, 1, 2, dan 3%. Ikan diberi pakan uji secara at satiation selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan dengan penambahan glutamin 1% dan 2% secara signifikan menghasilkan kinerja pertumbuhan tertinggi, termasuk laju pertumbuhan spesifik, retensi protein, dan efisiensi pakan. Di sisi lain, pakan yang ditambah dengan glutamin 3% tidak signifikan memengaruhi kinerja pertumbuhan ikan. Ikan uji pada perlakuan glutamin 1% dan 2% menghasilkan struktur dan fungsi usus yang lebih baik dibanding perlakuan lainnya, yakni rasio panjang usus dengan panjang tubuh, luas permukaan vili dan aktivitas enzim protease. Disimpulkan bahwa penambahan glutamin 1% dan 2% pada pakan meningkatkan struktur dan fungsi usus serta kinerja pertumbuhan benih ikan patin.
PENGARUH PENAMBAHAN ASAM HUMAT PADA PAKAN MENGANDUNG KADMIUM (Cd) DARI KERANG HIJAU TERHADAP BIOELIMINASI Cd, STATUS KESEHATAN, DAN PERTUMBUHAN IKAN KAKAP PUTIH Lates calcarifer Rasidi Rasidi; Dedi Jusadi; Mia Setiawati; Munti Yuhana; Muhammad Zairin Jr.; Ketut Sugama
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.1.2020.31-40

Abstract

Asam humat (AH) terdiri atas AH alami (AHA) dan sintetik (AHS), namun efektivitasnya sebagai feed additive pada pakan ikan kakap putih belum dikaji. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penambahan AH pada pakan yang mengandung kadmium (Cd) dari kerang hijau Perna viridis terhadap status kesehatan dan pertumbuhan ikan kakap putih, Lates calcarifer. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas lima pakan uji mengandung AH yang berbeda, yaitu 0; 1.600; 10.000; dan 20.000 mg.kg-1 (AHA) dan sebagai pembanding menggunakan AHS sebesar 1.600 mg.kg-1 pakan. Benih ikan kakap putih (4,18 ± 0,25 g) dipelihara dalam akuarium ukuran 80 cm x 35 cm x 28 cm yang diisi air laut dengan sistem resirkulasi selama 70 hari. Ikan diberi pakan uji sesuai perlakuan tiga kali sehari sampai kenyang. Hasil penelitian menunjukkan penambahan AH baik jenis AHA maupun AHS pada pakan dapat menurunkan akumulasi Cd dalam daging, ginjal, dan hati; kedua jenis AH tersebut mampu mengeliminasi Cd di dalam daging ikan. Pada dosis 1.600 mg.kg-1 kedua jenis AH tersebut mampu meningkatkan performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan, namun pada dosis AHA > 1.600 mg.kg-1 pertumbuhannya relatif menurun. Pola respons pertumbuhan ikan bersesuaian dengan parameter hematologi, enzim pencernaan, dan status antioksidan di hati ikan. Kesimpulan penelitian ini, penambahan asam humat pada dosis yang sama (1.600 mg.kg-1) pada pakan, AHS lebih efisien dibandingkan AHA dalam hal meningkatkan pertumbuhan. Penambahan AH dari jenis asam humat alami dan sintetik dalam pakan uji dapat meningkatkan status kesehatan dan mengeliminasi Cd di dalam daging ikan. Penambahan AHA pada dosis tinggi pada pakan memberikan respons negatif terhadap status kesehatan, kelangsungan hidup, dan kinerja pertumbuhan ikan kakap putih.Humic acids (HAs) are available in natural and synthetic forms. HA has potential applications in aquaculture, yet its effectiveness as a feed additive in Asian seabass, Lates calcarifer has not well studied. The purpose of this study was to asses the effectiveness of the addition of natural and synthetic humic acids to reduce cadmium (Cd) concentration in green mussels Perna viridis used for Asian seabass feed and evaluate the fish health status and growth performance. The experiment was designed using a completely randomized design (CRD) with five treatments and three replications. Five test feeds containing different levels of humic acid, i.e., 0; 1,600; 10,000; and 20,000 mg natural humic acid kg-1 feed. As a comparison, a test feed was added with 1,600 mg synthetic humic acid kg-1 feed. Asian seabass juveniles (4.18 ± 0.25 g) were cultivated in seawater aquarium equipped with a recirculation system for 70 days. Fifteen aquaria of 80 cm x 35 cm x 28 cm were used as the culture tanks. The fish were fed with the experimental diet three times every day at the satiation level. The results showed that the addition of both HAs (natural, AHA and synthetic, AHS) in feed could reduce Cd level in the fish meat, kidneys, and liver. At a dose of 1,600 mg.kg-1, both HAs were able to improve the growth performance and survival of fish. However, at doses > 1,600 mg.kg-1, fish growth was relatively suppressed. Fish growth response patterns were concomitant with the hematological parameters, digestive enzymes, and antioxidant status in fish liver. This study concludes that the addition of AHS at 1,600 mg.kg-1 feed is more efficient in terms of increasing growth compared with the same AHA level. The addition of HA, either natural and synthetic humic acid in the feed, can improve the health status of Asian seabass and eliminate Cd in the fish meat. The addition of AHA at higher doses (> 1,600 mg.kg-1 feed) might cause a negative response to health status, survival, and growth performance of Asian seabass. 
ISOLASI DAN SELEKSI BAKTERI PROBIOTIK DARI LINGKUNGAN TAMBAK DAN HATCHERI UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT VIBRIOSIS PADA LARVA UDANG WINDU, Penaeus monodon Widanarni Widanarni; Fahmi Rajab; Sukenda Sukenda; Mia Setiawati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.26 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.103-113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri probiotik yang mampu menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi untuk pengendalian penyakit vibriosis pada larva udang windu. Jumlah isolat bakteri yang berhasil diisolasi dari 34 sumber yang berbeda di lingkungan tambak dan hatcheri ada 118 isolat. Dari total isolat tersebut setelah diseleksi secara in vitro menggunakan metode Kirby-Bauer dipilih 3 isolat bakteri kandidat probiotik yang paling potensial dalam menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi MR5339, yaitu isolat 9a berasal dari Cyclotella dengan zona hambat 12,8 mm; isolat Ua berasal dari saluran pencernaan udang vaname dengan zona hambat 14,5 mm; dan isolat P17Bb berasal dari air pemeliharaan kerapu bebek dengan zona hambat 15,0 mm. Hasil uji patogenisitas dengan konsentrasi bakteri 106 CFU/mL menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut tidak bersifat patogen pada larva udang windu. Hasil uji tantang pada larva udang juga menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut mampu meningkatkan sintasan larva udang windu. Nilai sintasan larva pada perlakuan yang selain diinfeksi dengan V. harveyi MR5339 juga ditambah probiotik Ua, 9a, dan P17Bb masing-masing adalah 88,3%; 88,3%; dan 76,7% sedangkan pada perlakuan yang hanya diinfeksi dengan V. harveyi MR5339 tanpa probiotik nilai sintasannya hanya mencapai 65,0%. Populasi V. harveyi pada perlakuan dengan penambahan bakteri probiotik tampak lebih rendah dibanding perlakuan tanpa probiotik, hal ini menunjukkan kemungkinan adanya kompetisi antara bakteri V. harveyi dengan bakteri probiotik
SELEKSI BAKTERI PROBIOTIK UNTUK BIOKONTROL VIBRIOSIS PADA LARVA UDANG WINDU, Penaeus monodon MENGGUNAKAN CARA KULTUR BERSAMA Widanarni Widanarni; I. Tepu; Sukenda Sukenda; Mia Setiawati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.757 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.95-105

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri probiotik yang mampu menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi mengggunakan metode kultur bersama. Sebanyak 51 isolat kandidat probiotik berhasil diisolasi dari larva udang dan lingkungan pemeliharaannya di Balai Pengembangan Benih Ikan Air Payau dan Udang (BPBILAPU), Pangandaran serta hatcheri udang PT Biru Laut Khatulistiwa dan tambak udang intensif di Lampung. Dari total isolat tersebut setelah diseleksi secara in vitro menggunakan metode kultur bersama dipilih 3 isolat kandidat probiotik yang paling potensial dalam menekan atau menghambat pertumbuhan V. harveyi MR 5399 RfR yakni 1Ub, P20Bf, dan 10a. Ketiga isolat tersebut selanjutnya digunakan pada uji patogenisitas dan uji tantang pada larva udang windu. Hasil uji patogenisitas dengan konsentrasi bakteri 106 CFU/mL menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut tidak bersifat patogen pada larva udang windu. Hasil uji tantang pada larva udang juga menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut mampu meningkatkan sintasan larva udang windu. Nilai sintasan larva pada perlakuan yang selain diinfeksi dengan V. harveyi MR5399 RfR juga ditambah probiotik 1Ub, P20Bf, dan 10a masing-masing adalah 90,0%; 86,7%; dan 78,3% sedangkan pada perlakuan yang hanya diinfeksi dengan V. harveyi MR5399 RfR tanpa probiotik nilai sintasannya hanya mencapai 73,3%. Populasi bakteri V. harveyi pada perlakuan dengan penambahan bakteri probiotik lebih rendah dibanding perlakuan tanpa probiotik, hal ini menunjukkan kemungkinan adanya kompetisi antara bakteri V. harveyi dengan 1Ub.This research was aimed to obtain probiotic bacteria that can be used to inhibit the growth of Vibrio harveyi using co-culture method. This method succeeded in isolating 51 probiotic bacteria candidates from shrimp larva and their rearing environment in Balai Pengembangan Benih Ikan Laut Payau dan Udang (BPBILAPU), Pangandaran and shrimp hatchery of PT Biru Laut Khatulistiwa and intensively managed shrimp pond in Lampung. After in vitro selection of the total isolates using co-culture method, three most potential probiotic bacteria candidates in inhibiting or suppressing growth of V. harveyi MR 5399 RfR bacteria were chosen. The three isolates were then used in pathogenicity and challenge test in tiger shrimp larva. Results of pathogenicity test at the concentration of 106 CFU/mL bacteria showed that the three isolates were not pathogen to tiger shrimp larvae. Challenge test results in shrimp larvae also showed that the three isolates could increase survival rates of tiger shrimp larva. Larva survival rate value of treatment using V. harveyi MR5399 RfR with 1Ub, P20Bf, dan 10a probiotic were 90.0%, 86.7% dan 78.3%, respectively; whereas infection treatment merely using V. harveyi MR5399 RfR without probiotic only gave 73.3% survival rate. V. harveyi population in treatment with addition of probiotic bacteria were lower than that of without probiotic. This suggested the existence of possible competition between V. harveyi and 1Ub bacteria.
Co-Authors , Alimuddin , Mulyasari , Susan . Kurdianto . Melati . Yuniarti A.D. Akbar Achmad Fauzi, Ichsan Ade Dwi Sasanti Afiff , Usamah Agus Oman Sudrajat Alimuddin Alimuddin A alimuddin alimuddin Aliyah Sakinah, Aliyah Amelia Oktaviani, Amelia Apriana Vinasyiam Arbajayanti, Rahma Dini Arfani, Muhammad Dicky Arini Resti Fauzi Aris Tri Wahyudi Arlita, Kriswidya Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atma Jaya Salman Muin Azmi Afriansyah Bambang Priyo Utomo Bianingrum Bianingrum Burhanudin Faisal, Burhanudin C. Nuraeni D. Jusadi D. Shafruddin Dadang Kurniawan Dadang Syafruddin Dairun, Suclyadi Darina Putri Darsiani Darsiani darsiani, Darsiani DEDI JUSADI dedy yaniharto Dewi Yuniati Dewi Yuniati, Dewi Diamahesa, Wastu Ayu Dian Hardiantho Dian Hardianto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dody Sihono Eddy Supriyono Eka Hidayatus Solikhah Eko Harianto, Eko Enang Harris Erni Susanti Fahmi Hasan, Fahmi Fahmi Rajab Fardila Putri, Rizqiyatul Fauzan, Agung Luthfi Fauzi, Arini Resti Febrina Rolin Ferdinand Hukama Taqwa Feri Kurniawati Firsty Rahmatia Gamel Koncara Goro Yoshizaki Gustina, Ira Hany Handajani Harton Arfah Hasan Abidin Hendriana, Andri Huaida, Chatya Iqlima I Mokoginta I Nyoman Adi Asmara Giri I. Mokoginta I. Tepu Ichsan Achmad Fauzi Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Ika Wahyuni Putri Imron Imron, Imron Inem Ode Ing Mokoginta Irzal Effendi Ismail Rahmat Ismarica, Ismarica Istifarini, Mita Ita Apriani Jefry Jefry Jr., Muhammad Zairin Jufri, Fatahillah Maulana Juli Ekasari Julia Eka Astarini Julie Ekasari Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun Karno Setyotomo Ketut Sugama Ketut Sugama Khasanah, Noviati Rohmatul Kukuh Nirmala Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti La Muhamad, Idul M. Zairin Junior M.A. Suprayudi MA Suprayudi Mala Nurilmala Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno, Mas Tri Djoko Maulana, Fajar Mohammad Mukhlis Kamal Muhamad Yamin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Safir Muhammad Zairin Jr. MUNTI YUHANA N. Nurjanah N.B.P Utomo N.R. Azwar Nadisa Theresia Putri Naufal, Muhammad Restya nFN Safratilofa Niagara, Niagara Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyoutomo Nur Hikma Mahasu Nur, Abidin Nuraini Annisa, Nuraini Nurhayati Nurhayati Nuri Kamaliah, Syarifah Nurly Faridah Octaviana, Myrza Fikry Odang Carman Ode, Inem P. Purnama Pangentasari, Dwinda Pattipeilohy, Christian Ernsz Pratama, Muhammad Aldo Puji Hastuti, Yuni Putri Pratamaningrum Arifin Putri Utami, Putri Putri, Anisa Permata Putri, Savira Nurindra R. Affandi Rahmadani Rahmadani Rakhmawati, Rakhmawati, Ranti Melasari Rasidi Rasidi Rasidi, Rasidi Retno Astrini Reza Samsudin RIDWAN AFFANDI Riska Diana Rizkan Fahmi Ronny I. Wahju Rosliana, Rosliana Shella Marlinda Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho Siti Khodijah SITI KHODIJAH Siti Murniasih Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci antoro Suclyadi Dairun Sujono Sujono Sukenda . Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sumantri, Iwan Sumiana, I Kadek Suryadi Saputra Syefti Palmi, Revita T.M. Haja Almuqaramah Tatag Budiardi Thoy Batun Citra Rahmadani TI Winarno Toshiro Masumoto Triana Retno Palupi Upmal Deswira Uttari Dewi W Manalu W. Manalu Wahyu Pamungkas Wahyudi, Imam Tri WAODE MUNAENI Wasjan WIDANARNI WIDANARNI Widya Puspitasari Wildan Nurussalam Windu Sukenda Wiwik Hildayanti Wiyoto Wiyoto, Wiyoto Y. Hadiroseyani Yonvitner - Yuli Andriani Yuni Puji Hastuti