Murdani Abdullah
Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine University of Indonesia/Dr. Cipto Mangunkusumo General National Hospital

Published : 37 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Diagnosis and Treatment of Celiac Disease Oktadiana, Harini; Abdullah, Murdani; Renaldi, Kaka
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 4, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Celiac disease is a reversible, proximal immune enteropathy resulting from the interaction of dietary gluten with the intestinal immune system. Celiac disease can produce varied manifestations and may develop at any age. New cases have increased substantially, due to increase awareness and better diagnostic tools. Standard diagnosis of celiac disease is based on positive serologic tests and histopathologic examination of duodenal biopsies. Treatment of celiac disease with free gluten diet will improve symptoms, quality of life, reduce risk of malignancy and complication. Nowadays, treatment strategy of celiac disease with non-dietary therapies is still underdevelopment.
Correlation of Fibroblast Growth Factor-23 Levels with Hand Grip Strength in Twice Weekly Hemodialysis Patients Lydia, Aida; Gaol, Donnie Lumban; Suhardjono, Suhardjono; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 7, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diagnostic Value and the Role of Inferior Vena Cava DiameterCollapsibility Index to Evaluate Dry Weight in HemodialysisPatients Yussac, Muhammad Artisto Adi; Dharmeizar, Dharmeizar; Abdullah, Murdani; Antono, Dono; Muhadi, Muhadi
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 3, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. In daily clinical practice, fluid status in Hemodialysis (HD) patients is well correlated with dry weight calculation. Dry weight calculation is commonly practiced by clinical observation, which is not accurate. Because of these, few methods has been suggested to calculate the dry weight non-invasively. Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) is widely available in overseas but not readily available in all dialysis center in Indonesia, while inferior vena cava diameter is a relatively inexpensive method, and readily available in all dialysis center because it can be performed with ultrasonography (USG) instrument. Methods. A cross-sectional study was performed in a group of regular HD patients at the Haemodialysis Unit, Cipto Mangunkusumo Hospital in Jakarta, June 2011. Dry weight was evaluated with bioelectrical impedance analysis, while the inferior vena cava collapsibility index was evaluated using USG performed by two different observer. Results. We have recruited 30 HD patients, in which 18 (60%) of the subjects were overload according to the bioelectrical impedance analysis, while 21 (70%) were overload according to the inferior vena cava collapsibility index. The mean age of the subjects is 52 years old with the minimum 24 and maximum 69 years. In this research, we found negative correlation (r = -0.957, P<0.0001) between inferior vena cava colapsibility index and BIA. We found a 94.4% sensitivity and 66.7% specificity for inferior vena cava colapsibility index. Both of USG operators showed a κ coefficient value of 0.92, which reflected a very strong agreement between them. Conclusions. The inferior vena cava colapsibility index have a good role as a screening method in determining dry weight in dialysis patients
Correlation of Frailty Status with Influenza Vaccine Seroconversion and Seroprotection among Elderly Population Koesnoe, Sukamto; Habibah, Ummu; Wahyudi, Edy Rizal; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 3, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Endoscopic Management of Esophageal Strictures Hazim, Ahmad; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 5, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan pH Lambung pada Pasien Dispepsia dengan atau Tanpa Diabetes Melitus Tipe 2 Anam, Ilum; Syam, Ari Fahrial; Saksono, Dante; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Sindroma dispepsia sering dialami oleh penderita DM. Asam lambung salah satu faktor agresif terjadinya sindroma dispepsia dan tukak lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mencari perbedaan pH lambung pada pasien dispepsia DM dengan yang bukan DM dan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara pH lambung dengan proteinuria dan HbA1c. Metode. Pasien terdiri dari 30 kelompok DM dan 30 kelompok bukan DM. Masing-masing kelompok dihitung pH lambung basal. pH lambung basal diukur dgn memasukkan elektroda kateter kedalam lambung selama 30 menit kemudian di rekam dgn alat pH Metri merek Digitrapper pH-Z. Beratnya komplikasi DM diukur dengan mikroalbuminuria, sedangkan kendali gula darah diukur dgn HbA1c. Dilakukan uji chi square utk mencari perbedaan pH lambung kelompok DM dgn yg bukan DM, dengan terlebih dahulu menentukan titik potong dgn analisa ROC (Receiver Operating Caracteristic). Dilakukan uji korelasi antara pH lambung basal dengan mikroalbuminuria dan HbA1c pada kelompok pasien DM Hasil. pH lambung basal pada dispepsia DM vs non DM (2.30±0.83 vs 2.19±0.52). Dgn uji chi square terdapat perbedaan bermakna antara kelompok DM dengan yang bukan DM. Pada uji korelasi antara pH lambung dengan mikroalbuminuria dijumpai r = 0.47 dan p < 0.05, sedangkan HbA1c dijumpai r=0,59 dan p > 0.05. Simpulan. Ada perbedaan bermakna pH lambung basal antara pasien dispepsia DM dengan pasien dispepsia bukan DM. Ada korelasi antara pH lambung basal dengan mikroalbuminuria, sedangkan dengan HbA1c tidak ada korelasi. pH lambung basal pada pasien DM adalah 2.03±0.83 sedangkan pada yang bukan DM adalah 2.19±0.52.
Korelasi Antara Kadar Matriks Metalloproteinase 9, Laju Endap Darah, Faktor Reumatoid, dan Lama Sakit dengan Gambaran Radiologis pada Pasien Artritis Reumatoid Aji, Giri; Sumariyono, Sumariyono; Kusumawidjaja, Kahar; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Artritis Reumatoid (AR) merupakan penyakit autoimun dengan etiologi yang belum jelas, gejala utama dari AR adalah keradangan pada sendi yang ditandai dengan sinovitis simetris dan erosi tulang, walaupun perjalanan penyakit AR sulit diduga dengan sifat kronik-remisi-eksaserbasi namun secara umum hasil akhir dari AR adalah deformitas sendi. Penelitian terakhir pada AR menunjukkan adanya overekspresi dari sejumlah enzim matrix metallopeoteinases (MMPs) yang mempunyai kemampuan degradasi komponen kolagen dam matriks ekstraseluler tulang rawan Beberapa penelitian menemukan keterlibatan MMP-2, MMP-9, MMP-1 ,MMP-8 dan MMP-3 pada penyakit AR. Penelitian di Taiwan oleh Chang Yh menunjukkan peningkatan kadar aktivitas MMP-9 pada pasien AR di Taiwan dibandingkan pada populasi normal. Giannelli melaporkan peningkatan kadar MMP-2, MMP- 9, Tissue Inhibitor Matrix proteinase 1 dan Tissue Inhibitor Matrix proteinase 2 pada pasien dengan AR dan artritis psoriasis, Gruber juga melaporkan adanya peningkatan yang bermakna dari kadar MMP-9 atau gelatinase B pada serum pasien AR. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai peran MMP-9 atau gelatinase B pada serum pasien AR, serta mencari korelasi antara kadar MMP-9, laju endap darah (LED), faktor reumatoid dan lama sakit dengan gambaran radiologis pada pasien AR. Metode. Penelitian ini menggunakan studi potong lintang analitik dengan metode sampling konsekutif yang dilakukan di poliklinik Reumatologi/Ilmu Penyakit Dalam RSUPN Cipto Mangunkusumo. Sebagai variabel bebas adalah : kadar matriks metalloproteinase 9, laju endap darah (LED) , faktor reumatoid dan lama sakit sementara variabel tergantung adalah skor radiologis Sharp. Hasil. Dari 46 subjek penelitian didapatkan peningkatan kadar rerata MMP-9 yaitu sebesar 104,82 ng/ml, rerata LED 58,5 mm/jam, rerata kadar faktor reumatoid 57,13 IU/ml dan rerata lama sakit adalah 4,83 tahun. Korelasi antara kadar MMP-9 dengan skor erosi tulang secara radiologis adalah r=0,3 dengan p=0,02 (bermakna), sementara korelasi antara lama sakit dengan gambaran radiologis ( skor Sharp) r=0,36 dengan p=0,014 (bermakna). Korelasi antara LED, dan faktor reumatoid dengan gambaran radiologis adalah r=0,10,p=0,24;dan r=0,19,p=0,09. Simpulan. Didapatkan peningkatan kadar MMP-9 pada pasien AR, kadar MMP-9 berkorelasi dengan gambaran erosi tulang secara radiologis, lama sakit berkorelasi dengan gambaran radiologis (skor Sharp), Faktor reumatoid dan LED tidak berkorelasi dengan gambaran radiologis (skor Sharp).
Probabilitas Temuan Kanker Kolorektal pada Pasien Simtomatik Berdasarkan Unsur-Unsur Asia Pacific Colorectal Screening (APCS) Lubis, Muhammad Yamin; Abdullah, Murdani; Hasan, Irsan; Suwarto, Suhendro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Kanker Kolorektal (KKR) masih menjadi masalah besar di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya. Kolonoskopi dapat melihat lesi di kolon tetapi biayanya mahal bila dilakukan pada semua pasien asimtomatik. Memakai komponen unsur-unsur Asia Pacific Colorectal Screening (APCS) dapat memprediksi KKR pada pasien simtomatik sehingga kolonoskopi hanya merupakan modalitas untuk menstratifikasi KKR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui probabilitas kanker kolorektal menggunakan unsur-unsur APCS pada penderita simtomatik. Metode. Penelitian kasus-kontrol retrospektif dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, sejak bulan Februari 2014 hingga Mei 2014. Data dikumpulkan dari catatan rekam medis pasien di RSCM. Kelompok kasus adalah subjek dengan kanker kolorektal, kelompok kontrol adalah subjek non-kanker kolorektal. Analisis bivariat dilakukan pada 4 variabel bebas dari unsur-unsur APCS yaitu usia, jenis kelamin, riwayat keluarga menderita KKR dan merokok. Semua variabel yang mempunyai nilai p Hasil. Pada 246 subjek, didapatkan wanita 127 (51,6 %), laki-laki 119 (48,4 %). Rerata usia 53 tahun, rentang usia 17 sampai 90 tahun. Berdasarkan hasil analisis multivariat terdapat dua variabel probabilitas terjadinya KKR berdasarkan unsur-unsur APCS yang memiliki kemaknaan secara statistik, yaitu usia, ≥50 tahun (OR 1,682; IK95% 1,002-2,823; p=0,049) dan riwayat keluarga menderita KKR (OR 4,865; IK95% 1,340-17,665; p=0,016). Probabilitas terjadinya KKR usia ≥50 tahun: 53,33%; penderita yang ada riwayat keluarga menderita KKR: 76,49%, usia ≥50 tahun serta ada riwayat keluarga menderita KKR : 84,74%. Probabilitas terjadinya KKR penderita simtomatik pada jenis kelamin dan merokok tidak bisa digunakan pada penelitian ini. Simpulan. Probabilitas terjadinya KKR pada populasi simtomatik paling tinggi pada usia diatas 50 tahun disertai dengan riwayat keluarga KKR.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Terapi Antibiotik Empirik pada Pasien Sepsis Berat dan Syok Sepsis di Bangsal Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Katu, Sudirman; Suwarto, Suhendro; Pohan, Herdiman T.; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Salah satu faktor utama yang berperan pada keberhasilan terapi pada pasien sepsis berat dan syok sepsis adalah penggunaan antibiotika empirik yang adekuat. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui faktor utama apa yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan antibiotika empirik pada pasien sepsis berat dan syok sepsis. Metode. Studi kohort retrospektif dengan subjek dari data rekam medik (RM) pasien yang telah di rawat inap di ruang ICU dan perawatan Penyakit dalam RSCM Jakarta antara bulan Januari 2011 - Juni 2012. Kriteria inklusi adalah semua data RM pasien dewasa dengan sepsis, sepsis berat dan syok sepsis yang di rawat di ruang rawat inap penyakit dalam/HCU/ICU RSCM. Kriteria eksklusi adalah data tidak lengkap dan SOFA skor >14. Analisis multivariat dilakukan untuk menilai kuat hubungan relative risk (RR) di antara masing-masing variabel determinan yang memiliki kemaknaan statistik sebagai prediktor kesesuaian dosis, jenis, kombinasi dan waktu pemberian antibiotika empirik terhadap akhir perawatan sepsis berat dan syok sepsis dengan ROC (receiver operator curve) dan nilai AUC (area under curve) serta mencari faktor yang paling berperan dari variabel determinan tersebut. Hasil. Waktu pemberian antibiotika empirik lebih dari 6 jam, pemberian jenis antibiotika empirik yang tidak sesuai berdasarkan sumber infeksi, pemberian dosis antibiotika empirik yang tidak sesuai, pemberian antibiotika empirik tunggal, jumlah disfungsi organ yang lebih dari 3 berdasarkan skor SOFA berpengaruh terhadap meningkatnya angka kematian pada pasien sepsis berat dan syok sepsis. Dari faktor tersebut di atas yang paling berpengaruh terhadap meningkatnya angka kematian adalah waktu pemberian antibiotika lebih dari 6 jam, dosis antibiotika yang tidak sesuai, penggunaan antibiotika empirik tunggal dan skor SOFA yang lebih dari 8. Simpulan. Hal yang paling berpengaruh terhadap meningkatnya angka kematian adalah waktu pemberian antibiotika lebih dari 6 jam, dosis antibiotika yang tidak sesuai, penggunaan antibiotika empirik tunggal dan skor SOFA yang lebih dari 8.
Faktor-faktor Risiko Terjadinya Proktitis Radiasi Kronik pada Pasien Kanker Leher Rahim yang Mendapatkan Terapi Radiasi Mulia, Mulia; Makmun, Dadang; Abdullah, Murdani; Supriana, Nana
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Proktitis radiasi merupakan komplikasi yang sering dijumpai akibat terapi radiasi pada pasien keganasan pelvis. Berbeda dengan proktitis radiasi akut yang umumnya self-limiting, proktitis radiasi kronik (PRK) dapat berdampak pada menurunnya kualitas hidup dan meningkatnya biaya kesehatan, morbiditas, dan bahkan mortalitas pasien. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi insidens dan faktor-faktor risiko terjadinya PRK pada pasien kanker leher rahim (KLR) yang mendapatkan terapi radiasi. Metode. Dilakukan analisis retrospektif pada pasien-pasien KLR yang mendapatkan terapi radiasi di Departemen Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta selama kurun waktu 1 Januari 2010 sampai dengan 31 Desember 2010. Data mengenai pasien, faktor yang berhubungan dengan terapi radiasi, dan PRK akibat komplikasi lanjut dari terapi radiasi dikumpulkan dari catatan medik pasien. Hasil. Selama periode tersebut, terdapat 234 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Dengan median follow-up selama 30 bulan, didapatkan 12 pasien [5,1% (IK 95% 2,28-7,92%)] mengalami PRK (6 proktitis, 6 proktosigmoiditis). PRK terjadi pada 7-29 bulan setelah terapi radiasi selesai (median 14,5 bulan) dan 87% dari seluruh PRK terjadi dalam 24 bulan pertama setelah terapi radiasi. Dengan analisis multivariat Cox regresi, didapatkan hubungan bermakna antara dosis total radiasi yang diterima rektum >65 Gy (HR 7,96; IK 95% 2,30-27,50; p=0,001) dan usia ≥60 tahun (HR 5,42; IK 95% 1,65-17,86; p=0,005) dengan terjadinya PRK. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara teknik radiasi 2 dimensional external radiation therapy (2D-XRT) (HR 1,36; IK 95% 0,41-4,51; p=0,616), riwayat histerektomi (HR 1,14; IK 95% 0,34-3,79; p=0,83), dan indeks massa tubuh (IMT) Simpulan. Insidens kumulatif PRK selama 3 tahun pada pasien KLR yang mendapatkan terapi radiasi adalah 5,1% (IK 95% 2,28-7,92%). Dosis total radiasi yang diterima rektum >65 Gy dan usia ≥60 tahun merupakan faktor risiko potensial terjadinya PRK pada pasien KLR yang mendapatkan terapi radiasi. Teknik radiasi 2D-XRT, riwayat histerektomi, dan IMT
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Aan Santi Abdul A. Rani Abdul Aziz Rani Abdullah, Arman Adel Achmad Fauzi Achmad, Ibrahim Adang Bachtiar Adeputri Tanesha Idhayu Adiningsih Srilestari Aditya Rachman, Aditya Adityo Susilo, Adityo Adli, Mizanul Afifah Is Afistianto, Muhammad Fikri Agus Sudiro Waspodo Ahmad Soefyani Ahmar Abyadh Aida Lydia, Aida Akmal Taher Alexander, Reinaldo Ali Djumhana Ali Imron Yusuf Amanda P Utari, Amanda P Amanda Pitarini Utari Anastasia Yoveline Andri Sanityoso Angraeni, Sri Ari F Syam Ari F. Syam Ari Fahrial Syam Ari Wijayanti Ariadi Humardani Arleni Bustami Arman A Abdullah Arnelis Arnelis Artati Murwaningrum, Artati Ascobat, Purwantyastuti Asysyifa, Nisrina Aziz Rani Azzaki Abubakar, Azzaki Birry Karim Bisuk, Batara Bona Adhista Budhi Setianto Budi Tan Oto Budiman Bela Budiman Budiman Budimutiar, Felix C Martin Rumende Ceva W. Pitoyo Chairul R Nasution Chatarina Umbul Wahyuni Chudahman Manan Chyntia Olivia Maurine Jasirwan, Chyntia Olivia Maurine Chyntia Olivia MJ Cleopas Martin Rumende Cosphiadi Irawan Czeresna Heriawan Soejono Dadang Makmun Daldiyono Daldiyono Daldiyono Hardjodisasto Daldiyono Hardjodisastro Dante Saksono Harbuwono Dasril Nizam Deddy Gunawanjati Dewantoro, Okto Dharmeizar Dharmeizar Dharmika Djojoningrat Diah Rini Handjari Diani Kartini Diany N Taher Diding Heri Prasetyo Djumhana A Dolly Dolven Kansera Dono Antono Dyah Purnamasari E. Mudjaddid A. Siswanto Deddy N.W.Achadiono Hamzah Shatri E. Mujaddid Edy Rizal Wahyudi Ekowati Rahajeng Ellen Susanti Elli Arsita Em Yunir, Em Ening Krisnuhoni Eric Daniel Tenda Evy Yunihastuti Fauzi Ahmad Muda Fiastuti Witjaksono Firsyada, Fajar Fransiska Hardi Fumiaki Kitahara Gaol, Donnie Lumban Giri Aji, Giri Guntur Darmawan Haloho, Raja Mangatur Harini Oktadiana, Harini Harmani Kalim Harry Isbagio Haryana, Sofia M Haryanto Surya Hasan Maulahela, Hasan Hasan Mihardja Hayatun Nufus Hazim, Ahmad Herdiman T Pohan Herdiman T. Pohan Heri Wibowo Hiroyuki Otsuka Hotmen Sijabat I. D.N. Wibawa Ibrahim Basir Ibrahim Basyir Ibrahim, Febiansyah Idrus Alwi Ifransyah Fuadi, Ifransyah Ika Prasetya Wijaya Ikhwan Rinaldi Ilum Anam, Ilum Ilyas, Mohammad Imelda Maria Loho, Imelda Maria Indra Marki Inge Sutanto Ingrid S. Surono Irfan Maulani Iris Rengganis Irsan Hasan Irwin Tedja Iskandar, Rizka Puteri Ivo Novita Sah Bandar Jacobus Albertus Jamhari Jamhari Jane Estherina Jeffri Gunawan Jeffry Beta Tenggara Jimmy Posangi Jonlean, Reganedgary Joseph JY Sung Judo Prihartono Julwan Pribadi Jumhana Atmakusuma Jusman, Sri W Kahar Kusumawidjaja, Kahar Kaka Renaldi Katharina Setyawati Kemalasari, Indira Kemalasari, Indira Khie Chen Khomimah Khomimah, Khomimah Kuntjoro Harimurti Laras Budiyani, Laras Lianda Siregar Liem, Isabella Kurna Liem, Isabella Kurnia Lies Luthariana Lili Indrawati Lusiani Rusdi, Lusiani Lutfiah, Evah M Purnomo Isnaeni M Usman SM Maharani, Shabrina Mansur, M. Tasrif Marcellus Simadibrata Marcellus Simadibrata K Margaluta, Ariansah Marthino Robinson Martin, Cleopas Maruhum B.H. Marbun Masayuki A Fujino Masayuki A. Fujino Masdalina Pane Maulana Suryamin, Maulana Meriza, Tanggo Minarma Siagian Moch Ikhsan Mokoagow Mochamad Iqbal Hassarief Putra, Mochamad Iqbal Hassarief Mohammad Adi Firmansyah Mondrowinduro, Prionggo Muhadi Muhadi, Muhadi Muhammad Artisto Adi Yussac MUHAMMAD SYAFIQ Muhammad Yamin Muhammad Yamin Lubis, Muhammad Yamin Mulia Mulia Mustikarani, Dewi Mutiara, Rizka Muzellina, Virly Nanda Nababan, Saut Horas H. Nana Supriana Nanda N. Muhammad, Nanda N. Nata Pratama Nikko Darnindro Novie Rahmawati Zirta Nully Juariah M Nur Rasyid Nur Riviati, Nur Nury Dyah, Nury Oktarina, Caroline Pambudi, Joko Rilo Pamela Abineno Pamela Abineno Damaledo Pangarapen Tarigan Pangestu Adi Parhusip, Santi Sumihar Rumondang Pattiiha, Arief Paulus Kusnanto Paulus Simadibrata Pawitan , Jeanne Adiwinata Pradipta, Saraswati Primariadewi Rustamadji Purwantyastuti Purwantyastuti Purwita W Laksmi, Purwita W Purwoko, Reza Yuridian Rabbinu Rangga Pribadi Raden Nur Ista Rahmad Mulyadi, Rahmad Ralph Girson Rambe, Dirga S. Ratu Ratih Kusumayanti Raymond R. Tjandrawinata Riahdo Saragih Rianto Setiabudy Rino A Gani Rino Alvani Gani Rio Zakaria Risa Ismadewi, Risa Rizki Yaruntradhani Rozaliyan, Anna Rudi Putranto Rumagesan, Djahalia Rumende, Cleopas M. Ryan Ranitya Sabarudin, Adang Saleha Sungkar Salius Silih Sally Aman Nasution, Sally Aman Sari, Nina Kemala Sarwono Waspadji Saskia Aziza Nursyirwan, Saskia Aziza Sedijono Sedijono Seri Mei Maya Ulina Simadibrata, Daniel Martin Simanjuntak, Tiroy Sari Bumi Sirowanto Inneke Siti Setiati Soleha, Winna Sonar S. Panigoro Sri Wahdini Starry H. Rampengan Steven Sumantri Sudirman Katu, Sudirman Sugita, Peter Suhardjono Suhardjono Suharko Soebardi Suhendro Suhendro Suhendro Suwarto, Suhendro Sukamto Koesnoe Sumariyono Sumariyono Surono, Ingrid S Suryantini Suryantini Susanto, Liana W SUWIJIYO PRAMONO Suzana Ndraha Suzanna Immanuel Syari, Lucky Novita Tadashi Sato Tanadi, Caroline Tandan, Manu Tandarto, Kevin Telly Kamelia Tito Ardi Tjahjadi Robert Tedjasaputra Toman L Toruan Tonny Loho TR Fitriyani, TR Tri Juli Edi T Ummi Ulfah Madina, Ummi Ulfah Ummu Habibah, Ummu Velma Herwanto Vera Yuwono Wijaya, Anthony Eka Wirasmi Marwoto Wismandari Wisnu Wulandari, Yohannessa Wulyo Rajabto Yoga, Vesri Yohana Sitompul, Yohana Yonathan, I Wayan Murna Yuichiro Kojima Yundari, Yundari Yustar Mulyadi Zubairi Djoerban