p-Index From 2021 - 2026
13.257
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah Al-Qanun: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam DE JURE El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam EGALITA El-QUDWAH JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES Al-Ahkam Arena Hukum Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial, dan Sains Jurnal Asy-Syari'ah AL-IDARAH: JURNAL KEPENDIDIKAN ISLAM Risâlah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam SAMARAH: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar Ibtida'iy : Jurnal Prodi PGMI Widya Yuridika Transformatif KABILAH : Journal of Social Community CENDEKIA: Jurnal Studi Keislaman At-Tafkir AL-ASASIYYA: Journal Of Basic Education TAHKIM AT-TURAS: Jurnal Studi Keislaman Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Murobbi: Jurnal Ilmu Pendidikan JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Madinah: Jurnal Studi Islam Islamika: Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan Ulumuna: Jurnal Studi Keislaman Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Islamic Insights Journal Bidayah: Studi Ilmu-Ilmu Keislaman Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan Al-Manhaj: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama Al-Muaddib : Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Al-Balad: Journal of Constitutional Law Al-Munir : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir FOCUS: Journal of Social Studies ALVEOLI: Jurnal Pendidikan Biologi Thawalib: Jurnal Kependidikan Islam Al-Fikru : Jurnal Pendidikan dan Sains Jihbiz: Jurnal Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Syariah Hakam : Jurnal Kajian Hukum Islam dan Hukum Ekonomi Islam el-Jizya: Jurnal Ekonomi Islam Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur'an and Tafsir Jurnal Islam Nusantara International Journal of Contemporary Islamic Law and Society YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Jurnal Ekonomi Syariah dan Hukum Islam SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Al-Aqwal : Jurnal Kajian Hukum Islam Jurnal Yustitia DIKTUM: JURNAL SYARIAH DAN HUKUM AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Islam International Journal of Islamic Thought and Humanities Moderasi : Journal of Islamic Studies Al Irfani: Journal of Al Qur'anic and Tafsir Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development Academic Journal Research Fonologi: Jurnal Ilmuan Bahasa dan Sastra Inggris EJLHSS EJHEAA Al Hakam: The Indonesian Journal of Islamic Family Law and Gender Issues el-Bait: Jurnal Hukum Keluarga Islam Journal of Social Science Maharot : Journal of Islamic Education International Journal of Sociology and Law An-nisa: Journal of Islamic Family Law JURNAL PUSAKA: Media Kajian dan Pemikiran Islam EL- Hayah Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Journal of Learning on History and Social Sciences Journal of Higher Education and Academic Advancement Qiyas : Jurnal Hukum Islam dan Peradilan
Claim Missing Document
Check
Articles

MAQASHID SYARIAH PADA PERIODE MODERN ALAL AL-FASHI DAN AR-RAISUNI Wahyuni Danial Khotimah; Radifa Isnain Nafila; Yusron Pahlevi; Tutik Hamidah; Ahmad Izzuddin
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art17

Abstract

Artikel ini membahas pemikiran maqāṣid al-syarī‘ah pada periode modern melalui perspektif dua tokoh penting, yaitu Alal al-Fasi dan Ahmad al-Raisuni. Kajian maqāṣid al-syarī‘ah memiliki peran strategis dalam pengembangan hukum Islam agar tetap relevan dalam merespons dinamika sosial dan tantangan modernitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep maqāṣid al-syarī‘ah menurut Alal al-Fasi, menganalisis teori maqāṣid al-syarī‘ah dan maqāṣid al-Qur’an menurut Ahmad al-Raisuni, serta membandingkan pemikiran keduanya dalam konteks hukum Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari karya-karya primer kedua tokoh serta literatur sekunder yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alal al-Fasi menekankan maqāṣid al-syarī‘ah sebagai ruh syariat yang harus diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui ijtihad, pendidikan, dan pembaruan pemikiran Islam. Sementara itu, Ahmad al-Raisuni mengembangkan maqāṣid secara lebih sistematis dan metodologis dengan membagi maqāṣid ke dalam maqāṣid umum, khusus, dan parsial, serta mengaitkannya dengan maqāṣid al-Qur’an. Perbandingan kedua pemikiran ini menunjukkan adanya kesinambungan antara dimensi praksis dan metodologis maqāṣid al-syarī‘ah, yang berkontribusi dalam memperluas cakrawala hukum Islam agar lebih kontekstual dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Integrasi Nilai-Nilai Al-Qur’an dan Hadith dalam Pengelolaan Pendidikan Islam Choirul Kurniawan; M. Ubaidillah Ridwanulloh; Tutik Hamidah; Bakhruddin Fanani
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.2871

Abstract

Artikel ini menyajikan kajian mendalam tentang landasan teologis dan implementasi nilai-nilai wahyu (Al-Qur'an dan Hadith) dalam pengelolaan pendidikan Islam kontemporer. Berangkat dari pemahaman bahwa pendidikan Islam bukan sekadar transfer pengetahuan tetapi merupakan manifestasi dari konsep tarbiyah yang holistik, artikel ini mengidentifikasi berbagai disorientasi dalam praktik pengelolaan lembaga pendidikan Islam, seperti dikotomi kurikulum agama-umum, pendekatan pembelajaran yang doktriner, manajemen yang kurang mencerminkan prinsip syariah, serta evaluasi yang terlalu kognitif. Melalui metode penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat preskriptif-normatif dengan pendekatan analisis isi tematik terhadap teks suci, kajian ini berhasil merumuskan prinsip-prinsip manajemen pendidikan Islam yang meliputi keutamaan ilmu, tanggung jawab kolektif, akhlak sebagai inti, kepemimpinan yang bermusyawarah, efisiensi profesional, dan keadilan inklusif. Lebih lanjut, artikel ini menawarkan solusi strategis berupa rekonstruksi paradigma yang berporos pada tauhid, desain kurikulum integratif, transformasi kepemimpinan yang berlandaskan amanah, syura, dan mas'uliyyah, pemanfaatan teknologi digital sebagai wasilah, serta reformasi sistem evaluasi holistik berbasis muhasabah. Dengan memaparkan studi kasus historis dan kontemporer, artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai-nilai wahyu secara sistemik dan kontekstual sangat mungkin dan mendesak untuk dilakukan. Tujuannya adalah membentuk generasi Muslim yang unggul secara intelektual (fathanah), kuat secara spiritual (rabbaniyah), dan berakhlak mulia (akhlakul karimah), guna menghadapi kompleksitas era modern sekaligus berkontribusi membangun peradaban Islam yang berkeadaban
The Legal Implications of Breast Milk Donation on Nasab Status: Yusuf Qardhawi’s Perspective Salsabila, Tsaniatus; Hamidah, Tutik; Anam, Khoirul
MADINAH Vol 12 No 1 (2025): Madinah: Jurnal Studi Islam
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM TARBIYATUT THOLABAH LAMONGAN, INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/madinah.v12i1.3423

Abstract

This study examines the practice of breast milk donation in a village and its impact on nasab (lineage) status from Yusuf Qaradawi's perspective on breastfeeding regulations. The research aims to analyze how this practice influences mahram relationships in the village community. A qualitative approach with a case study method was used, employing in-depth interviews and documentation. The findings show that 19 residents have participated in breast milk donation. Among them, 10 individuals are considered mahram according to Yusuf Qaradawi’s criteria, having been breastfed more than five times, while eight individuals are not mahram as they were only breastfed once. A unique case was found where a couple unknowingly married their milk sibling, leading to their children performing tajdidunnikah (marriage renewal). The village community believes that a single instance of breastfeeding establishes a mahram relationship, differing from Yusuf Qaradawi’s view. The novelty of this research lies in its analysis of real cases within the context of Islamic family law and its application in rural society. This study contributes to the development of Islamic legal understanding regarding breast milk donation and provides a sociological perspective through Emile Durkheim's Structural Functionalism theory, demonstrating that mechanical solidarity plays a role in shaping legal norms in society.
MAQASHID SYARI’AH PADA PERIODE SAHABAT DAN TABI’IN Nafila, Radifa Isnain; Jayadiningrat, Ahmad Husein; Hamidah, Tutik
Jurnal Yustitia Vol 26, No 2 (2025): YUSTITIA
Publisher : Universitas Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53712/yustitia.v26i2.2934

Abstract

ABSTRAKKajian maqāṣid syariah merupakan upaya memahami tujuan dan hikmah di balik pensyariatan hukum Islam. Meskipun istilah maqāṣid belum diformulasikan secara sistematis pada periode awal Islam, praktik dan kesadaran maqāṣid telah tampak sejak generasi sahabat hingga tabiin. Pada periode sahabat, orientasi hukum lebih menekankan aspek tekstual-normatif dengan berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Pertimbangan maslahat dilakukan secara terbatas, dengan kehati- hatian tinggi dalam berijtihad, terutama untuk menjaga agama dan persatuan umat. Sementara itu, pada periode tabiin, orientasi maqāṣid semakin berkembang melalui penggunaan qiyās, istihsān, dan ra’yu yang lebih luas. Hal ini didorong oleh meluasnya wilayah Islam, kompleksitas sosial, dan kebutuhan akan fatwa kontekstual. Tabiin menunjukkan keberanian lebih besar dalam menekankan maslahat sosial seperti perlindungan harta, jiwa, akal, dan keturunan, meskipun belum sampai pada perumusan teoritis. Dengan demikian, maqāṣid syariah pada periode sahabat dan tabi‘in menunjukkan kesinambungan, sekaligus perbedaan: sahabat cenderung konservatif dan tekstual, sedangkan tabi‘in lebih adaptif dan progresif. Perbedaan ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan konseptual maqāṣid syari’ah pada era ulama ushul fiqh klasik, hingga kemudian mencapai bentuk sistematis dalam karya al-Juwaynī, al-Ghazālī, dan al-Syāṭibī. 
Female Penghulu: Opportunities and Problems Within Indonesia's Civil Law System Abdul Hakim; Tutik Hamidah; Ali Hamdan
International Journal of Sociology and Law Vol. 3 No. 1 (2026): February: International Journal of Sociology and Law
Publisher : Asosiasi Penelitian dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijsl.v3i1.869

Abstract

This research is based on the shortage of functional penghulu officers, which has become a serious issue for the government, particularly the Ministry of Religious Affairs of Indonesia. This condition can affect the quality of services in marriage registration, family guidance, and the provision of legal certainty to the community. To overcome the emergency of penghulu personnel, it is necessary to propose that the position of penghulu also be granted equal access to women, whereas until now the position of penghulu has been dominated only by men. Therefore, this research aims to conduct a comprehensive study on the provisions regarding the opportunities and problems of female penghulu within Indonesia’s civil law system, in which civil law is the official positive legal umbrella governing penghulu affairs. This research is normative legal research employing a statutory approach and a conceptual approach. Meanwhile, the primary legal materials of this research consist of various laws and regulations directly related to penghulu affairs. The results of this research indicate that the opportunities for female penghulu within the civil law system are very open, constitutionally valid, and not subject to any normative prohibition. The problems arise when female penghulu are requested to act as guardians appointed by the court (wali hakim) or entrusted with the delegated guardianship of marriage (taukil wali). This is because, under Indonesia’s civil law, a wali hakim or a person receiving taukil wali is required to be male. In addition, another problem is the existence of a specific requirement to be male that must be fulfilled in the recruitment of penghulu personnel as stated in the Announcement Letter on the Recruitment of Candidates for Civil Servants of the Ministry of Religious Affairs.
Telaah Sosio-Antropologis Hukum Nafkah dalam Dinamika Sosial & Perubahan Peran Gender di Keluarga Muslim Mukhammad Mustaqim; Tutik Hamidah; Mustafa Lutfi
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 3 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Juni 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i3.2342

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hukum nafkah dalam konteks keluarga melalui lensa sosio antropologis. Nafkah, sebagai kewajiban fundamental dalam relasi keluarga, tidak hanya memiliki dimensi hukum yang mengatur hak dan kewajiban, tetapi juga terikat erat dengan konstruksi sosial, nilai budaya, dan praktik kekerabatan yang berlaku dalam masyarakat. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis dokumen, penelitian ini mengelaborasi bagaimana konsep dan implementasi hukum nafkah dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya yang beragam. Penelitian ini mengidentifikasi variasi pemahaman dan praktik nafkah lintas budaya, peran gender dalam pemenuhan nafkah, serta dinamika kekuasaan & hierarki dalam keluarga yang berpengaruh pada penegakan hukum nafkah. Di sisi lain, peneliti juga menganalisis bagaimana perubahan sosial dan modernisasi berpengaruh terhadap interpretasi dan aplikasi hukum nafkah dalam konteks keluarga kontemporer. Pembahasan mendalam pada data penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kompleksitas hukum nafkah, melampaui perspektif legal formal semata, serta memberikan implikasi bagi pengembangan kebijakan hukum keluarga agar lebih responsif terhadap realitas sosial dan budaya masyarakat
RECONSTRUCTION OF THE DIGITAL ECONOMY ALGORITHM FROM KHITAB WAD’I TO KHITAB TAKLIF: A PERSPECTIVE FROM JASSER AUDA’S SYSTEM THEORY Doni Ekasaputra; Tutik Hamidah; Slamet Slamet
JURNAL HAKAM Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jhi.v10i2.14668

Abstract

This article examines the reconstruction of digital economic algorithms from the category of khitab wad’i to khitab taklif through the perspective of Jasser Auda’s systems theory. The rapid expansion of digital transactions has transformed algorithms from merely technical instruments into automated decision-making systems that influence contracts, pricing, recommendations, credit scoring, and user access to economic services. This development raises a fundamental question in Islamic economic law: whether algorithms should remain understood as passive legal means or be positioned as functional extensions of human action. This study employs normative legal research with conceptual, philosophical, and maqasidi approaches. The data are derived from classical usul al-fiqh literature, Jasser Auda’s systems theory, and contemporary studies on algorithmic governance in the digital economy. The findings show that classical usul al-fiqh tends to position algorithms as wasilah or sabab, while systems theory enables a more holistic reading by connecting human intention, technological design, automated action, legal consequence, and maqasid. This article argues that algorithms in the digital economy may be reconstructed as part of fi’l al-mukallaf because their operation reflects human intention, design, and responsibility. This reconstruction contributes to the development of Islamic digital economic law by strengthening legal accountability, ethical responsibility, and maqasid-based governance in automated transactions.
ZAKAT DAN PAJAK: PERBANDINGAN MALAYSIA DAN INDONESIA Royun Niswati Ahada; Tutik Hamidah
el-Jizya: Jurnal Ekonomi Islam Vol. 9 No. 2 (2021): el-Jizya : Jurnal Ekonomi Islam
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.726 KB) | DOI: 10.24090/ej.v9i2.4905

Abstract

Zakat and tax are two things that are obligatory in the field of property, but they also have different philosophies, principles and characteristics. Zakat is part of the assets that must be issued by Muslims, while taxes are mandatory contributions by the people to the state and must be paid to the state in accordance with the rules that have been decided by the government. Here the researcher discusses the implementation of zakat and comparative taxes between Malaysia and Indonesia. This research uses literature study method with qualitative approach. Zakat and Taxes in Malaysia are managed by the central government through the territory of the respective states. Also, zakat is claimed to be a deduction from tax obligations, if the muzaki pays zakat at the Zakat Collection Center then, there is a reduction in zakat for tax reduction. Meanwhile in Indonesia, Zakat is managed by the Amil Zakat Agency and the Amil Zakat Institution formed by the Government. There is a regulation between zakat and taxes, in which there is a deduction of zakat and taxes if the zakat is deposited by muzaki through BAZNAS or LAZ by including proof of tax payment.
Nikah Sirri Perspektif Hukum Positif Indonesia Dan Hukum Islam Fajrina Dhia Salsabila; Vanda Kamila Alfi Syahri; Tutik Hamidah; Kasuwi Saiban
An-Nisa: Journal of Islamic Family Law Vol. 1 No. 4 (2024): Desember
Publisher : Yayasan Cendekia Gagayunan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63142/an-nisa.v1i4.89

Abstract

The implementation of Marriage Act No. 1/1974, which was later amended by Act No. 16/2019, and its various provisions, led to the emergence of the phenomenon of nikah siri. Nikah siri is a marriage that takes place in secret and is not registered in accordance with the provisions of the current Marriage Law. This research will include an in-depth analysis of 1) An explanation of nikah siri according to Indonesian positive law and Islamic law. 2) The legal status and criminal sanctions of nikah sirri under Indonesian positive law and Islamic law. This research is normative in nature with a comparative approach to analyse the crime of nikah sirri by comparing Indonesian positive law and Islamic law. The data collected will be analysed descriptively and comparatively to identify the similarities, differences and legal implications of the crime of nikah sirri in the two perspectives. Therefore, it is hoped that this research can increase understanding of the phenomenon and make a positive contribution to our knowledge of the dynamics of human relationships in the context of hidden marriages.
Keluarga Sebagai Preventif Radikalisme Dalam Diskriminasi Hak Beragama Perspektif Sad Dzari’ah Dan Islam Nusantara Raya Hidayat; Kasuwi Saiban; Tutik Hamidah
An-Nisa: Journal of Islamic Family Law Vol. 2 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Yayasan Cendekia Gagayunan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63142/an-nisa.v2i1.99

Abstract

Indonesia faces several issues regarding the discrimination of religious worship rights, which clearly violates the regulations in Indonesia. In many cases of religious discrimination in the country, the neutrality of the government as a public servant is often called into question. Consequently, our society still lacks a proper understanding of religious tolerance. Instilling an understanding of appropriate solutions within families related to the discrimination of worship rights in Indonesia must be addressed more seriously. This study is essential to analyze radicalism in the discrimination of worship rights through the lens of sad dzari’ah. Furthermore, the researcher will examine the role of families in preventing worship rights discrimination from the perspective of Islam Nusantara. This research employs a qualitative approach based on library research. The findings indicate that discrimination against worship rights is inconsistent with sad dzari’ah because it can lead to significant harm, such as division and conflict. Therefore, worship rights discrimination must be prevented to align with the principles of sad dzari’ah. Additionally, strengthening family resilience through the cultivation of Islam Nusantara values can serve as a preventive effort against radicalism in worship rights discrimination.
Co-Authors A. Adib Dzulfahmi Abbas Arfan Abdul Wahid Zaini Achmad Kadarisman Adnin Zahir Ahmad Barizi Ahmad FAOZAN Ahmad Fawaid Ahmad Izzuddin Ahmad Izzuddin Ahmad Rifai Ahmad Walid Ali Hamdan Amar Ma'rup Nahi Munkar Arie Muhammad D Aunul Hakim AUNUR ROFIQ Aunur Rofiq Azizah, Nurul Aini Bagus, Sobirin Bakhruddin Fanani Cahayaningsih, Ica Putri Choirul Kurniawan Dafa Achmad Ardian Doni Ekasaputra Dzaki Aflah Zamani Erfaniah Zuhriah Ery Santika Adirasa Fadil SJ Faizah , Nur Fajrina Dhia Salsabila Fantika Febry Puspitasari Fery, Muhammad Fitriani Fitriani Furaida, Asni Haj, Habil Syahril Handoko Budi Prasetiyo Heni Pujiastuti Ibrahim Maulana Syahid Nur 'Ala Imam Syafi'i Irma Nur Hayati Hayati Irzak Yuliardy Nugroho istiadah istiadah, istiadah Jamilah Jayadiningrat, Ahmad Husein Jazil, Syokron Kasuwi Saiban Kasuwi Saiban Kasuwi Saiban KHOIRUL ANAM Khoirul Hidayah Kiptiyah, Arofatul Komairatul Fitria, Nur Laili M. Ihsan Fauzi M. Ubaidillah Ridwanulloh Manggala, Kayan Mardati Mas'ud, Ali Masykur, Muhammad Riduwan Maulidina, Fitrotul Miftakur Rohman Mochammad Rafi’ Muta’ali Mohammad Samsul Ulum Mohammad Sofi Mohammad Toriquddin Mokhamad Rohma Rozikin Mubarok, Mohammad Anas Muchtar, Ibnu Hasan Mufliha Wijayati Muhamad Abduh Muhammad Hamdani, Muhammad Muhammad Izzul Islam An Najmi Muhammad Muhammad Muhammad Nasiuddin Muhammad Ulil Albab Mukhammad Mustaqim Munirul Abidin Munkar, Amar Ma'rup Nahi Mustafa Lutfi Mustajib Daroini Nafila, Radifa Isnain Nasrudin, Muhamad Nasrulloh Nata, Yolies Yongky Ni'ami, Mohammad Fauzan Ni'ami Ni'mah Siti Zuhrotun Ni'mah Nisa'atun nafisah Noer Yasin Noor Naemah Abdul Rahman Noviyanti, Shobihatul Fitroh Nur Faizah Nur Faizin Nur Maslikhatun Nisak oktora, nency dela Pepy Marwinata Prayudi Rahmatullah Radifa Isnain Nafila Ramadhita Ramadhita, Ramadhita Ramdanil Mubarok Ramli, Nurleli Raya Hidayat Rifki Rufaida Romzi, Moh Rosdiana, Aprilia Mega Royun Niswati Ahada Rozi , Fahrur Ruli Astuti Salsabila, Tsaniatus Shofiatul Jannah Sismanto Sismanto Siti Rohmah Slamet Sobirin Bagus Sofy, Malik Sudirman Sudirman Sulalah Sulalah Sumiyati Sumiyati Sunarto, Muhammad Zainuddin Suryanto, Muhammad Handika Syamsul Arifin Syari'ah, Atiris Tamimi, Lalu Muhammad Tazkiyah, I'anatut Tulus Setiyono Ulum , Moh. Rafiqil Umam, Rizal Khoirul Umar Muhammad Umi Azizah Tahta Almuna Vanda Kamila Alfi Syahri Vanda Kamila Alfi Syahri Wahyuni Danial Khotimah Walid, Ahmad Wardatul Hani'ah Yusron Pahlevi Zainal Arifin Zainuddin Zamani, Dzaki Aflah Ziadul Ulum Wahid Zuhroh, Ni'matuz