Claim Missing Document
Check
Articles

Digestibility of pre-treated cassava peel as feed ingredient for Nile tilapia Mulyasari, ,; Kurniawati, Feri; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2792.095 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.178-185

Abstract

ABSTRACT This research aimed at determining digestibility coefficient of cassava peel(Manihot utilissima) after immersion in 3% (w/v) NaOH for three days, fermentation using combined fungi of 10% Trichoderma viride and Phanerochaete chrysosporium for seven days, and fermentation using 15% (w/w) Bacillus megaterium for five days as feed ingredients for Nile tilapia Oreochromis niloticus. Total digestibility test was conducted by mixing 30% of cassava peel and 70% of reference diet. Nile tilapia at the average weight of 16.6 g were used as experimental fish. Fish was held for 28 days in aquarium (50x50x50 cm3) at the density of 10 fish/aquarium. Fish were fed twice daily to satiation. Feces collection started after five days of adaptation to chromium oxide diets. The results showed that the three treatments had significant effects compared to control (P<0.05), protein digestibility of were improved 5%, 15%, and 10%, energy digestibilitiy were 20%, 18%, 16%, and total digestibility of test cassava peel were 174%, 151%, and 164%, respectively. Cassava peel fermented with combined 10% mold showed the highest protein digestibility impliying it potency as feed ingredient for Nile tilapia diet. Keywords: Nile tilapia, cassava peel, NaOH, mold, bacteria, digestibility  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kecernaan kulit ubi kayu (Manihot utilissima) setelah perendaman dengan NaOH 3% (w/v) selama tiga hari, fermentasi kapang Trichoderma viride dan Phanerochaete chrysosporium 10% (w/w) selama tujuh hari, dan fermentasi bakteri Bacillus megaterium 15% (w/w) selama lima hari sebagai bahan baku pakan ikan nila. Uji kecernaan total bahan dilakukan dengan mencampurkan 30% kulit ubi kayu dengan 70% pakan acuan. Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila dengan bobot rata-rata 16,6 g. Ikan dipelihara selama 28 hari dengan kepadatan 10 ekor/akuarium berukuran 50x50x50 cm3. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari secara at satiation. Pengumpulan feses dimulai setelah lima hari adaptasi pakan uji yang diberi indikator kromium oksida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kontrol (P<0,05) dan meningkatkan nilai kecernaan protein pakan berturut-turut sebesar 5%, 15%, dan 10%, nilai kecernaan energi sebesar 20%, 18%, dan 16%, serta nilai kecernaan total bahan sebesar 174%, 151%, dan 164%. Perlakuan kulit ubi kayu yang difermentasi dengan kapang menunjukkan nilai kecernaan protein pakan yang tertinggi sehingga berpotensi sebagai bahan baku pakan ikan nila. Kata kunci: ikan nila, kulit ubi kayu, NaOH, kapang, bakteri, kecernaan
Acute and sublethal toxicity of copper in Siam-catfish juvenile Pangasianodon hypophthalmus Sihono, Dody; Supriyono\, Eddy; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2870.211 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.36-45

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to determine the level of acute toxicity (LC50) and to analyze the effect of Cu on the survival, growth, haematological, and bioaccumulation of Cu in Pangasianodon hypophthalmus juvenile at sublethal conditions. The experiment trial used completely randomized design with five concentration treatments and two replications to determine LC50. The Cu concentration used were 0, 0.2, 0.7, 1.2, and 1.7 ppm. Sublethal treatment used four Cu concentrations with three replicates. The concentrations were 0, 0.167, 0.334 and 0.667 ppm. Experimental fish used had an average total length 11.0±1.7 cm and weight 13.00±1.72 g. Results showed that Cu was highly toxic to P. hypophthalmus with a LC50-96 hours value of 0.667 ppm (0.539–0.805 ppm). At sublethal concentrations, Cu significantly decreased survival and growth, and increased Cu accumulation started from concentration of 0.167 ppm. Bioaccumulation of Cu started from the highest were in liver, gills, skin and flesh, respectively. Decreased of erythrocytes, haemoglobin and hematocrit indicated anemia, while increased of leukocytes indicated infection and physical stress on the body tissues. Keywords: copper toxicity, haematological, bioaccumulation, Siam-catfish juvenile  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat toksisitas akut (LC50) dan menganalisis pengaruh Cu terhadap sintasan, pertumbuhan, kondisi hematologi, dan akumulasi Cu pada juvenil ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) pada kondisi subletal. Rancangan penelitian yang digunakan adalah lima perlakuan konsentrasi dengan dua ulangan untuk menentukan LC50. Konsentrasi Cu yang digunakan adalah 0; 0,2; 0,7; 1,2; dan 1,7 ppm. Pemeliharaan subletal menggunakan empat variasi konsentrasi dengan tiga ulangan. Konsentrasi Cu yang digunakan adalah 0; 0,167; 0,334; dan 0,667 ppm. Ikan uji yang digunakan memiliki panjang total rata-rata 11,0±1,7 cm dan berat 13,00±1,72 g. Hasil menunjukkan bahwa Cu sangat toksik terhadap juvenil P. hypophthalmus dengan nilai LC50-96 jam sebesar 0,667 ppm (0,539–0,805 ppm). Pada konsentrasi subletal, Cu berpengaruh nyata terhadap penurunan sintasan dan pertumbuhan serta menyebabkan peningkatan akumulasi Cu mulai pada konsentrasi 0,167 ppm. Bioakumulasi Cu secara berurutan mulai dari yang tertinggi yaitu pada hati, insang, kulit dan daging. Penurunan eritrosit, hemoglobin dan hematokrit menunjukkan terjadinya anemia, sementara peningkatan jumlah leukosit menunjukkan infeksi dan stres fisik pada jaringan tubuh. Kata kunci: toksisitas tembaga, hematologi, bioakumulasi, bioakumulasi, sintasan, juvenil patin siam
Evaluation of growth and meat performance of Pangasianodon hypopthalmus which fed with Cinnamomum burmanni leaves enriched diet Setiawati, Mia; Sakinah, Aliyah; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3056.031 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.171-178

Abstract

ABSTRACT This research was performed to evaluate growth performance and meat quality at different feeding period of striped catfish Pangasianodon hypopthalmus fed on cinnamon leaves Cinnamomum burmanni enriched diet. Twenty fishes at the average body weight of 21.24±2.39 g were distributed  into 100×40×50 cm3 of aquarium. Fish were fed on the diet contained C. burmanni leaves of either 0.0%, 0.5%, 1.0%, or 1.5% respectively for 60 days. Fish were fed on those diets three times a day at satiation. Fish meat quality was evaluated by organoleptic test and proximate analysis at day-20, 40, and  60. The result showed that until day-40, fish fed on the diet contained 0.0%, 0.5%, and 1.0% cinnamon leaves had no significant difference on growth, hence still showed higher growth than fish fed at the dose of 1,5%. Meanwhile at day-60, fish fed on the diets contained either 0.5%, 1.0%, and 1.5% cinnamon leaves significantly had lower growth than that fed on 0.0% cinnamon leaves. In accordance to the growth response, diet contained 0.5% cinnamon leaves given for 40 days has shown the best texture and the highest protein content of fish meat.               Keywords: cinnamon leaves, striped catfish, growth, meat texture  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan kualitas daging ikan patin Pangasianodon hypopthalmus yang diberi pakan mengandung tepung daun kayu manis Cinnamomum burmanni dengan dosis berbeda. Sebanyak 20 ekor ikan patin berukuran 21,24±2,39 g dipelihara dalam akuarium berukuran 100×40×50 cm3. Ikan diberi empat jenis pakan yang mengandung daun kayu manis masing-masing sebesar 0,0%, 0,5%, 1,0%, dan 1,5% selama 60 hari. Pemberian pakan dilakukan sebanyak tiga kali sehari secara at satiation. Kualitas daging ikan diuji melalui uji organoleptik dan analisis proksimat pada hari ke-20, 40, dan 60. Hasil menunjukkan bahwa sampai hari ke-40 pemeliharaan, pertumbuhan ikan yang diberi pakan mengandung 0,0%, 0,5%, dan 1,5% daun kayu manis menunjukkan kinerja pertumbuhan yang tidak berbeda nyata, tetapi bernilai lebih tinggi daripada ikan yang diberi  dosis 1,5%. Berbeda halnya dengan kinerja pertumbuhan ikan pada hari ke-60, ikan yang diberi pakan 0,5%, 1,0%, dan 1,5% secara signifikan memiliki pertumbuhan yang lebih rendah dari ikan yang diberi pakan 0,0%. Sesuai dengan respons pertumbuhan, ikan yang diberi pakan 0,5% daun kayu manis selama 40 hari memiliki tekstur daging yang terbaik dan protein tertinggi. Kata kunci: daun kayu manis, ikan patin, pertumbuhan, tekstur 
Application of different honey and dilution ratios on sperm quality of Pangasianodon hypopthalmus Arfah, Harton; Hasan, Fahmi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3050.604 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.164-170

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to determine the effect of various types of honey (longan honey, lychee honey, and cottonwoods honey) on sperm quality of Siamese catfish Pangasianodon hypopthalmus with different dilution ratios after the storage period which includes sperm viability, fertilization rate, and hatching rate. The best treatment was obtained on the aplication of longan honey as a sperm diluent at 1:50 dilution ratio, with sperm viability 96.33±0.58%, fertilization rate 97.10±0.70%, and hatching rate 93.44±2.39%. Keywords: Siamese catfish, Pangasianodon hypophthalmus, honey, sperm dilution ratio  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh pemberian berbagai jenis madu (madu kelengkeng, madu leci, dan madu randu) terhadap kualitas sperma ikan patin siam Pangasianodon hypopthalmus dengan rasio pengenceran berbeda setelah masa penyimpanan, yang meliputi viabilitas sperma, tingkat fertilisasi, dan derajat penetasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik didapatkan pada pemberian madu kelengkeng dengan rasio pengenceran 1:50 dengan viabilitas sperma 96,33±0,58%, tingkat fertilisasi 97,10±0,70%, dan derajat penetasan 93,44±2,39%. Kata kunci: ikan patin, Pangasianodon hypopthalmus, madu, rasio pengenceran sperma 
Evaluasi pemberian ekstrak daun kayu manis Cinnamomum burmannii pada pakan terhadap kandungan lemak daging ikan patin Pangasianodon hypopthalmus Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Rolin, Febrina; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3150.053 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.132-138

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate the effects of cinnamon Cinnamomum burmannii leaves extract addition with different doses in diet for the lipid muscle content of catfish Pangsianodon hypophthalmus. The cinnamon leaves extract was mixed in to the diet with five doses i.e: 0 (control); 0.5; 1; 2; and 4 g/kg diet. Catfish (7.43±0.01 g) were reared in 15 aquariums (160 L volume) with density of 30 fishes in each aquarium for 60 days. Fish were fed until apparent satiation three times daily at 08.00, 12.00, 16.00 WIB. The addition of cinnamon leaves extract at 1 g/kg of diet showed the optimal dose because it could lower flesh fat content, cholesterol, and triglycerides of catfish. Keywords: Pangasianodon hypopthalmus, Cinnamomum burmannii, fat, flesh  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan ekstrak daun kayu manis Cinnamomum burmannii dengan dosis berbeda pada pakan terhadap kandungan lemak daging ikan patin Pangsianodon hypopthalmus. Ekstrak daun kayu manis dicampurkan ke dalam pakan dengan lima dosis yaitu: 0 (kontrol); 0,5; 1; 2; dan 4 g/kg pakan. Ikan patin (7,43±0,01 g) dipelihara dalam 15 akuarium (volume 160 L) dengan kepadatan 30 ekor/akurium selama 60 hari. Ikan diberi pakan secara at satiation sebanyak tiga kali sehari pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun kayu manis sebanyak 1 g/kg pakan memberikan hasil yang optimal karena dapat menurunkan kandungan lemak daging, kolesterol, dan trigliserida ikan patin. Kata kunci: Pangasianodon hypopthalmus, Cinnamomum burmannii, lemak, daging 
The sex ratio and testosterone levels in tilapia immersed in different doses of 17α-methyltestosterone Junior, Muhammad Zairin; Naufal, Muhammad Restya; Setiawati, Mia; Hardianto, Dian; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3270.844 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.51-59

Abstract

  Tilapia fish farming using monosex male population has been reported to have 10% higher productivity compared to mix-sex culture. This study aimed to determine immersion dose of 17α-metiltestosterone (MT) that allowed higher male percentage, growth, survival, and measure testosterone level in fish body. The experiment was designed as three immersion doses, namely: 0; 1.8; and 5.4 mg/L MT, each with three replications. Immersion was conducted to 14-day-old larvae for four hours, with density of 100 fish/L of water. Testosterone levels in fish was measured using ELISA method, and sex identification was performed by histology method. The result showed that percentage of male fish was the same in the treatment of 1.8 mg/L and 5.4 mg/L, and 53–65% higher than the control without MT treatment (54% male). Growth and survival of fish until day 56 post immersion were the same. By ELISA analysis, the levels of testosterone in larvae just after immersion was similar in 1.8 mg/L and 5.4 mg/L treatments, decreased drastically on day 14 after immersion, and then the levels of testosterone to be similar with the control on day 28, i.e. about 2 ng/g. By PCR method with specific primer, sex reversed and normal males could be distinguished, and on day 71 the testosterone levels in sex reversed and normal males fish was also the same, 0.3 ng/g (P>0.05). Thus, sex reversal by immersion at a dose of 1.8 mg/L can be consider as a standard protocol for monosex tilapia production. Testosterone level in the body of MT-treated fish becomes the same to the control of less than one month post immersion
Aromatase gene expression and masculinization of Nile tilapia immersed in water 36 °C containing 17α-methyltestosterone Fauzan, Agung Luthfi; Soelistyowati, Dinar Tri; Junior, Muhammad Zairin; Hardiantho, Dian; Setiawati, Mia; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3315.516 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.116-123

Abstract

ABSTRACT  Immersion of undifferentiated larval tilapia in high temperature and 17α-methyltestosterone (MT) cab increase the male ratio. However, the effectiveness of immersion in high temperature of water containing MT remains to be evaluated. The purposes of this study were: 1) evaluate the male ratio, growth, and survival of tilapia, and 2) analyze the aromatase brain-type gene expression level in tilapia after immersing in high temperature (36 °C) containing MT at 2 mg/L for four hour with single and double immersion. Aromatase gene expression was analyzed by semi-quantitative RT-PCR (sqRT-PCR) method. The result showed that higher monosex male ratio was obtained by single immersion of MT at 36 °C at room temperature. Gene expression level of aromatase brain-type was lower on single immersion and increased significantly at second immersion compared to control (immersion at room temperature without MT). Immersion using MT and high temperature had no significant effect on fish survival. However the specific growth rate and fish biomass were higher than control. Thus, monosex male tilapia can be produced by single immersion of undifferentiated larvae at 36 °C temperature containing MT. Keywords: male ratio, aromatase, Oreochromis niloticus, temperature, 17α-methyltestosterone  ABSTRAK  Perendaman larva ikan nila yang belum terdeferensiasi kelaminnya dengan suhu tinggi dan hormon 17α-metiltestosteron (MT) dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan. Tetapi, efektivitas perendaman menggunakan MT pada suhu tinggi belum diteliti. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengevaluasi nisbah kelamin jantan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup ikan nila, dan 2) menganalisis ekspresi gen aromatase tipe-otak pada ikan direndam menggunakan MT dengan dosis 2 mg/L selama empat jam sebanyak satu dan dua kali perendaman pada suhu 36 °C. Ekspresi gen aromatase dianalisis menggunakan metode RT-PCR semi-kuantitatif (sqRT-PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perendaman MT satu kali pada suhu 36 °C lebih tinggi menghasilkan ikan nila jantan monoseks dibandingkan perendaman MT satu kali pada suhu ruang. Tingkat ekspresi gen aromatase tipe otak pada perendaman satu kali lebih rendah, dan meningkat secara signifikan pada perendaman kedua dibandingkan dengan kontrol (perendaman pada suhu ruang tanpa MT). Perendaman larva menggunakan MT dan suhu 36 °C tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup, tetapi laju pertumbuhan spesifik dan biomassa ikan perlakuan tersebut lebih tinggi daripada kontrol. Dengan demikian, ikan nila jantan monoseks dapat diproduksi dengan perendaman satu kali pada larva yang belum terdeferensiasi jenis kelaminnya menggunakan MT pada suhu 36 °C. Kata kunci: rasio jantan, aromatase, Oreochromis niloticus, suhu, 17α-metiltestosteron
Supplementation of astaxanthin and vitamin E in feed on the development of gonads white shrimp broodstock Litopenaeus vannamei Boone 1931 Maulana, Fajar; Arfah, Harton; Istifarini, Mita; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3478.477 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.124-135

Abstract

ABSTRACT The quality of white shrimp Litopenaeus vannamei broodstock can be improved through the addition of astaxanthin and vitamin E in the diet. This study aimed to determine the effect of administration of astaxanthin and vitamin E with different doses in the feed on the maturity gonad of prospective Pacific white shrimp broodstock. Supplementation of 0 mg/kg feed astaxanthin + 0 mg/kg feed vitamin E (control/A),  500 mg/kg feed astaxanthin (B),  350 mg/kg  feed vitamin E (C), 500 mg/kg feed astaxanthin and 350 mg/kg feed vitamin E (D), and  250 mg/kg feed astaxanthin and 175 mg/kg feed vitamin E (E) were applied in feed formulation. Shrimp was fed 2% of body weight three times daily at 06.00 am, 13.00 pm, and 20.00 pm. The result showed that the optimum dose for survival, specific growth rate and maturity level of Pacific white shrimp broodstock was obtained in the combination of 175 mg/kg vitamin E and 250 mg/kg astaxanthin. The  survival of shrimp by that treatment was 100.00±0.00%, specific growth rate 1.07±0.26%/day, the first level of gonad maturity growth was reached at day 14 (19.45±4.81%), the fourth level of gonad maturity was obtained at day 41, spawning rate 33.33±8.33%, fecundity 87,000±2,000 eggs, and hatching rate reached 49.00±1.53%. Keywords: astaxanthin, Litopenaeus vannamei, vitamin E  ABSTRAK Peningkatan kualitas induk udang vaname Litopenaeus vannamei dapat dilakukan dengan penambahan vitamin E dan astaxanthin pada pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh pemberian astaxanthin dan vitamin E dengan dosis berbeda dalam pakan terhadap tingkat kematangan gonad calon induk udang vaname. Dosis yang digunakan adalah 0 mg/kg pakan astaxanthin + 0 mg/kg pakan vitamin E (kontrol/A),  500 mg/kg pakan astaxanthin (B),  350 mg/kg  pakan vitamin E (C), 500 mg/kg pakan astaxanthin and 350 mg/kg pakan vitamin E (D), and  250 mg/kg pakan astaxanthin and 175 mg/kg pakan vitamin E (E). Pemberian pakan dengan penambahan vitamin E dan astaxanthin dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu jam 06.00, 13.00, dan 20.00 WIB sebanyak 2% dari bobot udang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimum untuk sintasan, laju pertumbuhan spesifik, dan tingkat kematangan induk udang vaname diperoleh dengan kombinasi 175 mg/kg vitamin E dan 250 mg/kg astaxanthin. Kelangsungan hidup udang dengan perlakuan tersebut adalah 100,00±0,00%, laju pertumbuhan spesifik 1,07±0,26%/hari, tingkat kematangan gonad pertama dicapai pada hari ke 14 (19,45±4,81%), tingkat kematangan gonad keempat diperoleh pada hari ke 41, tingkat pemijahan 33,33±8,33%, fekunditas 87.000±2.000 telur, dan tingkat penetasan mencapai 49,00±1,53%.  Kata kunci: astaxanthin, udang vaname Litopenaeus vannamei, vitamin E
The evaluation of different levels diets protein for growth performance of Clarias sp. fry cultured in biofloc-based system Khasanah, Noviati Rohmatul; Priyo Utomo, Nur Bambang; Setiawati, Mia; Yuhana, Munti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3314.234 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.136-143

Abstract

ABSTRACT The study was conducted to evaluate the performance of catfish fry grown using different dietary protein levels in the biofloc-base aquaculture system. Experiments using a completely randomized design, consisted of four treatments and three replications. The treatment consisted of:  protein 38% (A), 34% protein (B), 30% protein (C), and protein 26% (D). Catfish with initial weight of 0.83±0.01 g and length of 4.64±0.04 cm were cultured in 60 L tank with density of 90 fish each tank for 35 days. Inoculation of heterotrophic bacterial Staphylococcus lentus L1k were performed of 104 CFU/mL ratio of 15 was administrated once a day after two hours feeding in the morning. Feeding was conducted twice a day at 5% of the biomass weight. At the end of trial treatment (D) showed the highest survival rate (88.15±5.25%), the body lenght variance coefficient (9.58±0.51%) and protein retention (39.87±2.77%). Treatment (B) showed the highest growth rate (4.11±0.05%), total length (2.39±0.08 cm), and feed intake (318.76±4.63). Treatment (A) showed the highest feed efficiency (93.65±4.43%) while lowest lipid retention compared to others (22.20±1.20%.). Based on the results, it can be concluded that 34% protein feed (C) can replace 38% protein feed (B) catfish fry size 4−5 cm through biofloc-based system. Keywords: biofloc, fry, growth, protein, Staphylococcus lentus L1k ABSTRAK Penelitian bertujuan mengevaluasi kinerja pertumbuhan benih lele dengan menggunakan kadar protein pakan yang berbeda pada sistem bioflok. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas protein 38% (A), protein 34% (B), protein 30% (C), dan protein 26% (D), terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan. Benih lele dengan berat rata-rata 0,83±0,01 g dan panjang rata-rata 4,64±0,04 cm dipelihara di akuarium berukuran 90×50×40 cm3 dengan padat tebar 90 ekor/akuarium selama 35 hari. Inokulasi bakteri heterotrof berupa Staphylococcus lentus L1k dilakukan pada setiap perlakuan kepadatan 104 CFU/mL. Penambahan sumber karbon berupa molase dengan C/N (Carbon/Nitrogen) rasio 15 diberikan satu kali sehari setelah dua jam pemberian pakan di pagi hari. Pakan diberikan dua kali sehari sebanyak 5% dari berat biomasa. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kadar protein pakan berbeda memberikan hasil yang positif. Perlakuan (D) menunjukkan tingkat kelangsungan hidup (88,15±5,25%), koefisien keragaman panjang (9,58±0,51%) dan retensi protein (39,87±2,77%) terbaik. Perlakuan (B) menunjukkan laju pertumbuhan harian (4,11±0,05%), panjang total (2,39±0,08 cm), dan jumlah konsumsi pakan (318,76±4,63) tertinggi. Perlakuan (A) menunjukkan efisiensi pakan (93,65±4,43%) tertinggi namun menunjukkan retensi lemak (22,20±1,20%) terendah. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian pakan dengan kadar protein 34% mempunyai performa pertumbuhan yang sama dibandingkan protein 38% pada benih ikan lele berukuran 4−5 yang dipelihara menggunakan sistem budidaya bioflok. Kata kunci: benih lele, protein, pertumbuhan, bioflok, Staphylococcus lentus L1k 
Potential use of green algae Caulerpa lentillifera as feed ingredient in the diet of Nile tilapia Oreochromis niloticus Putri, Nadisa Theresia; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia; Sunarno, Mas Tri Djoko
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3341.699 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.184-192

Abstract

ABSTRACT The high composition of import raw material of fish diet in Indonesia causes feed price expensively and should be replaced using local materials such as green macro algae. It is, therefore, this study aimed to evaluate effect of diet containing the Caulerpa lentillifera, as feed ingredient in the diet of Nile tilapia Oreochromis niloticus. This study consisted of two experiments which were C. lentillifera digestibility test for raw material feed for tilapia and growth performance test of tilapia. C. lentillifera digestibility test was done by using Cr2O3 as indicators and analysis of faecal tilapia. The second experiment is growth performance test using a completely randomised design with four diets were formulated at variuos rates of C. lentillifera meal of 0 (control), 10, 20, and 30%. A number of 240 tilapia fingerlings of 3.41±0.10 g in mean weight were randomly stocked in 12 aquaria and fed on diet test for growth performanced of rearing period. C. lentillifera digestiility test result showed a good value as a raw material feed tilapia, the digestibility of C. lentiliifera and protein digestibility amounted to 68.81% and 86.31%. Growth performance parameters showed the use of 10% and 20% is not significantly different from the control (P>0.05), to the final body weight, protein efficiency ratio, protein retention, specific growth rate, and feed efficiency. But, the diet test at 30% performed the lowest growth performance and feed utilization as well of tilapia fingerlings. This study, therefore, concludes that C. lentillifera meal could be used up to 20% in the tilapia diet. Keywords: Caulerpa lentillifera, Nile tilapia, feed utilization, growth performance  ABSTRAK Tingginya jumlah bahan baku impor dalam pakan ikan di Indonesia menyebabkan harga pakan yang tinggi dan harus diganti menggunakan bahan alternatif lokal seperti makro alga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengunaan dari pakan yang mengandung Caulerpa lentillifera sebagai bahan baku pakan ikan nila Oreochromis niloticus. Tahapan penelitian terdiri atas uji kecernaan C. lentillifera sebagai bahan baku dan uji kinerja pertumbuhan ikan nila. Metode uji kecernaan menggunakan Cr2O3 sebagai indikator pakan dan analisis feses ikan nila. Tahap penelitian kedua adalah kinerja pertumbuhan menggunakan rancangan acak lengkap dengan pakan diformulasikan dengan inklusi 0 (kontrol), 10, 20, dan 30% tepung C. lentillifera. Ikan nila sebanyak 240 ekor, dengan berat rata-rata 3,41±0,1g dibagi kedalam 12 akuarium dan diberi pakan perlakuan untuk melihat kinerja pertumbuhan. Hasil uji kecernaan C. lentillifera menunjukkan nilai yang baik sebagai bahan baku pakan ikan nila, yaitu kecernaan bahan sebesar 68,81% dan kecernaan protein sebesar 86,31%. Parameter kinerja pertumbuhan menunjukkan perlakuan penambahan 10% dan 20% tepung C. lentillifera tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kontrol, yang terdiri atas: bobot tubuh akhir, pertumbuhan mutlak, protein efisiensi rasio, retensi protein, laju pertumbuhan spesifik dan efisiensi pakan. Namun, pakan perlakuan 30% menghasilkan kinerja pertumbuhan dan efisiensi pakan yang lebih rendah pada ikan nila. Penelitian ini memberikan hasil, penggunaan tepung C. lentillifera dapat digunakan sampai 20% dalam pakan ikan nila.   Kata kunci: Caulerpa lentillifera, nila, pemanfaatan pakan, kinerja pertumbuhan
Co-Authors , Alimuddin , Mulyasari , Susan . Kurdianto . Melati . Yuniarti A.D. Akbar Achmad Fauzi, Ichsan Ade Dwi Sasanti Afiff , Usamah Agus Oman Sudrajat Alimuddin Alimuddin A alimuddin alimuddin Aliyah Sakinah, Aliyah Amelia Oktaviani, Amelia Apriana Vinasyiam Arini Resti Fauzi Aris Tri Wahyudi Arlita, Kriswidya Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atma Jaya Salman Muin Azmi Afriansyah Bambang Priyo Utomo Bianingrum Bianingrum Burhanudin Faisal, Burhanudin C. Nuraeni D. Jusadi D. Shafruddin Dadang Kurniawan Dadang Syafruddin Dairun, Suclyadi Darina Putri Darsiani Darsiani darsiani, Darsiani Dedi Jusadi DEDI JUSADI dedy yaniharto Dewi Yuniati Dewi Yuniati, Dewi Diamahesa, Wastu Ayu Dian Hardiantho Dian Hardianto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dody Sihono Eddy Supriyono Eka Hidayatus Solikhah Eko Harianto, Eko Enang Harris Erni Susanti Fahmi Hasan, Fahmi Fahmi Rajab Fardila Putri, Rizqiyatul Fauzan, Agung Luthfi Fauzi, Arini Resti Febrina Rolin Ferdinand Hukama Taqwa Feri Kurniawati Firsty Rahmatia Gamel Koncara Goro Yoshizaki Grenda Audia Wuryas Pradita Negara Gustina, Ira Hany Handajani Harton Arfah Hasan Abidin Hendriana, Andri I Mokoginta I Nyoman Adi Asmara Giri I. Mokoginta I. Tepu Ichsan Achmad Fauzi Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Ika Wahyuni Putri Imlani, Ainulyakin Hasan Imron Imron, Imron Inem Ode Ing Mokoginta Iqbal Kurniawinata, Mohamad Irzal Effendi Ismail Rahmat Ismarica, Ismarica Istifarini, Mita Ita Apriani Jefry Jefry Jr., Muhammad Zairin Jufri, Fatahillah Maulana Juli Ekasari Julia Eka Astarini Julie Ekasari Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun Karno Setyotomo Ketut Sugama Ketut Sugama Khasanah, Noviati Rohmatul Kukuh Nirmala Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti La Muhamad, Idul M. Zairin Junior M.A. Suprayudi MA Suprayudi Mala Nurilmala Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno, Mas Tri Djoko Maulana, Fajar Mohammad Mukhlis Kamal Muhamad Yamin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Safir Muhammad Zairin Jr. MUNTI YUHANA N. Nurjanah N.B.P Utomo N.R. Azwar Nadisa Theresia Putri Naufal, Muhammad Restya nFN Safratilofa Niagara, Niagara Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyoutomo Nur Hikma Mahasu Nur, Abidin Nuraini Annisa, Nuraini Nurhayati Nurhayati Nuri Kamaliah, Syarifah Nurly Faridah Odang Carman Ode, Inem P. Purnama Pangentasari, Dwinda Pattipeilohy, Christian Ernsz Pratama, Muhammad Aldo Puji Hastuti, Yuni Putri Pratamaningrum Arifin Putri Utami, Putri R. Affandi Rahma Dini Arbajayanti Rahma, Balqis Aulia Rahmadani Rahmadani Rakhmawati, Rakhmawati, Ranti Melasari Rasidi Rasidi Rasidi, Rasidi Retno Astrini Reza Samsudin RIDWAN AFFANDI Riska Diana Rizkan Fahmi Ronny I. Wahju Rosliana, Rosliana Shella Marlinda Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho SITI KHODIJAH Siti Khodijah Siti Murniasih Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci antoro Suclyadi Dairun Sujono Sujono Sukenda . Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sumantri, Iwan Sumiana, I Kadek Suryadi Saputra Syefti Palmi, Revita T.M. Haja Almuqaramah Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Thoy Batun Citra Rahmadani TI Winarno Toshiro Masumoto Triana Retno Palupi Upmal Deswira Uttari Dewi W Manalu W. Manalu Wahyu Pamungkas Wahyudi, Imam Tri WAODE MUNAENI Wasjan WIDANARNI WIDANARNI Widya Puspitasari Wildan Nurussalam Windu Sukenda Wiwik Hildayanti Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yonvitner - Yuli Andriani Yuni Puji Hastuti