Claim Missing Document
Check
Articles

Supplementation of astaxanthin and vitamin E in feed on the development of gonads white shrimp broodstock Litopenaeus vannamei Boone 1931 Maulana, Fajar; Arfah, Harton; Istifarini, Mita; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3478.477 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.124-135

Abstract

ABSTRACT The quality of white shrimp Litopenaeus vannamei broodstock can be improved through the addition of astaxanthin and vitamin E in the diet. This study aimed to determine the effect of administration of astaxanthin and vitamin E with different doses in the feed on the maturity gonad of prospective Pacific white shrimp broodstock. Supplementation of 0 mg/kg feed astaxanthin + 0 mg/kg feed vitamin E (control/A),  500 mg/kg feed astaxanthin (B),  350 mg/kg  feed vitamin E (C), 500 mg/kg feed astaxanthin and 350 mg/kg feed vitamin E (D), and  250 mg/kg feed astaxanthin and 175 mg/kg feed vitamin E (E) were applied in feed formulation. Shrimp was fed 2% of body weight three times daily at 06.00 am, 13.00 pm, and 20.00 pm. The result showed that the optimum dose for survival, specific growth rate and maturity level of Pacific white shrimp broodstock was obtained in the combination of 175 mg/kg vitamin E and 250 mg/kg astaxanthin. The  survival of shrimp by that treatment was 100.00±0.00%, specific growth rate 1.07±0.26%/day, the first level of gonad maturity growth was reached at day 14 (19.45±4.81%), the fourth level of gonad maturity was obtained at day 41, spawning rate 33.33±8.33%, fecundity 87,000±2,000 eggs, and hatching rate reached 49.00±1.53%. Keywords: astaxanthin, Litopenaeus vannamei, vitamin E  ABSTRAK Peningkatan kualitas induk udang vaname Litopenaeus vannamei dapat dilakukan dengan penambahan vitamin E dan astaxanthin pada pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh pemberian astaxanthin dan vitamin E dengan dosis berbeda dalam pakan terhadap tingkat kematangan gonad calon induk udang vaname. Dosis yang digunakan adalah 0 mg/kg pakan astaxanthin + 0 mg/kg pakan vitamin E (kontrol/A),  500 mg/kg pakan astaxanthin (B),  350 mg/kg  pakan vitamin E (C), 500 mg/kg pakan astaxanthin and 350 mg/kg pakan vitamin E (D), and  250 mg/kg pakan astaxanthin and 175 mg/kg pakan vitamin E (E). Pemberian pakan dengan penambahan vitamin E dan astaxanthin dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu jam 06.00, 13.00, dan 20.00 WIB sebanyak 2% dari bobot udang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimum untuk sintasan, laju pertumbuhan spesifik, dan tingkat kematangan induk udang vaname diperoleh dengan kombinasi 175 mg/kg vitamin E dan 250 mg/kg astaxanthin. Kelangsungan hidup udang dengan perlakuan tersebut adalah 100,00±0,00%, laju pertumbuhan spesifik 1,07±0,26%/hari, tingkat kematangan gonad pertama dicapai pada hari ke 14 (19,45±4,81%), tingkat kematangan gonad keempat diperoleh pada hari ke 41, tingkat pemijahan 33,33±8,33%, fekunditas 87.000±2.000 telur, dan tingkat penetasan mencapai 49,00±1,53%.  Kata kunci: astaxanthin, udang vaname Litopenaeus vannamei, vitamin E
The evaluation of different levels diets protein for growth performance of Clarias sp. fry cultured in biofloc-based system Khasanah, Noviati Rohmatul; Priyo Utomo, Nur Bambang; Setiawati, Mia; Yuhana, Munti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3314.234 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.136-143

Abstract

ABSTRACT The study was conducted to evaluate the performance of catfish fry grown using different dietary protein levels in the biofloc-base aquaculture system. Experiments using a completely randomized design, consisted of four treatments and three replications. The treatment consisted of:  protein 38% (A), 34% protein (B), 30% protein (C), and protein 26% (D). Catfish with initial weight of 0.83±0.01 g and length of 4.64±0.04 cm were cultured in 60 L tank with density of 90 fish each tank for 35 days. Inoculation of heterotrophic bacterial Staphylococcus lentus L1k were performed of 104 CFU/mL ratio of 15 was administrated once a day after two hours feeding in the morning. Feeding was conducted twice a day at 5% of the biomass weight. At the end of trial treatment (D) showed the highest survival rate (88.15±5.25%), the body lenght variance coefficient (9.58±0.51%) and protein retention (39.87±2.77%). Treatment (B) showed the highest growth rate (4.11±0.05%), total length (2.39±0.08 cm), and feed intake (318.76±4.63). Treatment (A) showed the highest feed efficiency (93.65±4.43%) while lowest lipid retention compared to others (22.20±1.20%.). Based on the results, it can be concluded that 34% protein feed (C) can replace 38% protein feed (B) catfish fry size 4−5 cm through biofloc-based system. Keywords: biofloc, fry, growth, protein, Staphylococcus lentus L1k ABSTRAK Penelitian bertujuan mengevaluasi kinerja pertumbuhan benih lele dengan menggunakan kadar protein pakan yang berbeda pada sistem bioflok. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas protein 38% (A), protein 34% (B), protein 30% (C), dan protein 26% (D), terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan. Benih lele dengan berat rata-rata 0,83±0,01 g dan panjang rata-rata 4,64±0,04 cm dipelihara di akuarium berukuran 90×50×40 cm3 dengan padat tebar 90 ekor/akuarium selama 35 hari. Inokulasi bakteri heterotrof berupa Staphylococcus lentus L1k dilakukan pada setiap perlakuan kepadatan 104 CFU/mL. Penambahan sumber karbon berupa molase dengan C/N (Carbon/Nitrogen) rasio 15 diberikan satu kali sehari setelah dua jam pemberian pakan di pagi hari. Pakan diberikan dua kali sehari sebanyak 5% dari berat biomasa. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kadar protein pakan berbeda memberikan hasil yang positif. Perlakuan (D) menunjukkan tingkat kelangsungan hidup (88,15±5,25%), koefisien keragaman panjang (9,58±0,51%) dan retensi protein (39,87±2,77%) terbaik. Perlakuan (B) menunjukkan laju pertumbuhan harian (4,11±0,05%), panjang total (2,39±0,08 cm), dan jumlah konsumsi pakan (318,76±4,63) tertinggi. Perlakuan (A) menunjukkan efisiensi pakan (93,65±4,43%) tertinggi namun menunjukkan retensi lemak (22,20±1,20%) terendah. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian pakan dengan kadar protein 34% mempunyai performa pertumbuhan yang sama dibandingkan protein 38% pada benih ikan lele berukuran 4−5 yang dipelihara menggunakan sistem budidaya bioflok. Kata kunci: benih lele, protein, pertumbuhan, bioflok, Staphylococcus lentus L1k 
Potential use of green algae Caulerpa lentillifera as feed ingredient in the diet of Nile tilapia Oreochromis niloticus Putri, Nadisa Theresia; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia; Sunarno, Mas Tri Djoko
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3341.699 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.184-192

Abstract

ABSTRACT The high composition of import raw material of fish diet in Indonesia causes feed price expensively and should be replaced using local materials such as green macro algae. It is, therefore, this study aimed to evaluate effect of diet containing the Caulerpa lentillifera, as feed ingredient in the diet of Nile tilapia Oreochromis niloticus. This study consisted of two experiments which were C. lentillifera digestibility test for raw material feed for tilapia and growth performance test of tilapia. C. lentillifera digestibility test was done by using Cr2O3 as indicators and analysis of faecal tilapia. The second experiment is growth performance test using a completely randomised design with four diets were formulated at variuos rates of C. lentillifera meal of 0 (control), 10, 20, and 30%. A number of 240 tilapia fingerlings of 3.41±0.10 g in mean weight were randomly stocked in 12 aquaria and fed on diet test for growth performanced of rearing period. C. lentillifera digestiility test result showed a good value as a raw material feed tilapia, the digestibility of C. lentiliifera and protein digestibility amounted to 68.81% and 86.31%. Growth performance parameters showed the use of 10% and 20% is not significantly different from the control (P>0.05), to the final body weight, protein efficiency ratio, protein retention, specific growth rate, and feed efficiency. But, the diet test at 30% performed the lowest growth performance and feed utilization as well of tilapia fingerlings. This study, therefore, concludes that C. lentillifera meal could be used up to 20% in the tilapia diet. Keywords: Caulerpa lentillifera, Nile tilapia, feed utilization, growth performance  ABSTRAK Tingginya jumlah bahan baku impor dalam pakan ikan di Indonesia menyebabkan harga pakan yang tinggi dan harus diganti menggunakan bahan alternatif lokal seperti makro alga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengunaan dari pakan yang mengandung Caulerpa lentillifera sebagai bahan baku pakan ikan nila Oreochromis niloticus. Tahapan penelitian terdiri atas uji kecernaan C. lentillifera sebagai bahan baku dan uji kinerja pertumbuhan ikan nila. Metode uji kecernaan menggunakan Cr2O3 sebagai indikator pakan dan analisis feses ikan nila. Tahap penelitian kedua adalah kinerja pertumbuhan menggunakan rancangan acak lengkap dengan pakan diformulasikan dengan inklusi 0 (kontrol), 10, 20, dan 30% tepung C. lentillifera. Ikan nila sebanyak 240 ekor, dengan berat rata-rata 3,41±0,1g dibagi kedalam 12 akuarium dan diberi pakan perlakuan untuk melihat kinerja pertumbuhan. Hasil uji kecernaan C. lentillifera menunjukkan nilai yang baik sebagai bahan baku pakan ikan nila, yaitu kecernaan bahan sebesar 68,81% dan kecernaan protein sebesar 86,31%. Parameter kinerja pertumbuhan menunjukkan perlakuan penambahan 10% dan 20% tepung C. lentillifera tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kontrol, yang terdiri atas: bobot tubuh akhir, pertumbuhan mutlak, protein efisiensi rasio, retensi protein, laju pertumbuhan spesifik dan efisiensi pakan. Namun, pakan perlakuan 30% menghasilkan kinerja pertumbuhan dan efisiensi pakan yang lebih rendah pada ikan nila. Penelitian ini memberikan hasil, penggunaan tepung C. lentillifera dapat digunakan sampai 20% dalam pakan ikan nila.   Kata kunci: Caulerpa lentillifera, nila, pemanfaatan pakan, kinerja pertumbuhan
Stress responses of transportation on red tilapia which given feed containing chromium Rakhmawati, Rakhmawati,; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Widanarni, Widanarni,; Junior, Muhammad Zairin; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3422.17 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.16-25

Abstract

ABSTRACTThis study was conducted to evaluate stress responses of transportation on red tilapia Oreochromis sp. which given feed containing chromium. Three isonitrogenous and isocaloric experimental feeds were prepared, these diets were control (without chromium), CrPic 1 mg/kg, and CrYst 2 mg/kg supplementation in feed, all group were arranged triplicate. Satiation feeding was done three times a day. After a 60-day feeding experiment, the experimental fishes were fasted and distributed in polyethylene bags (N=60 fish/bag) containing 3 L of water, subjected to condition of transport simulation for 13 hours. Survival rate, levels of plasma cortisol, blood glucose, superoxide dismutase (SOD), and malondialdehyde (MDA) enzyme were observed at before transportation, after transportation, one day, and two days after transportation. The result showed that chromium supplementation reduced the levels of plasma cortisol before and after transportation, one day, and two days after transportation. Also, it decreased blood glucose compared with control significantly before transportation and one day after transportation. The SOD enzyme concentration increased significantly after fish was fed with feed containing chromium for 30 days, while the MDA enzyme concentration increased significantly after two days of transportation. However, there was no significant difference in the survival of red tilapia between treatments. The best result was obtained in the treatment of fish which fed with feed containing chromium. CrPic supplementation 1 mg/kg and CrYst 2 mg/kg increased the body resistance in red tilapia by decreasing the negative effect of stress while transportation. Keywords: stress, transportation, red tilapia, chromium  ABSTRAKPenelitian dilakukan untuk mengevaluasi respons stres transportasi ikan nila merah Oreochromis sp. yang diberikan pakan yang mengandung kromium. Pada penelitian ini digunakan tiga jenis pakan, terdiri atas pakan tanpa suplementasi kromium (kontrol), pakan bersuplementasi kromium pikolinat (CrPic 1 mg/kg), dan kromium yeast (CrYst 2 mg/kg), semua perlakuan diulang sebanyak tiga ulangan. Pemberian pakan sebanyak tiga kali sehari dan dilakukan secara at satiation. Setelah 30 hari pemeliharaan, ikan uji dipuasakan dan didistribusikan dalam plastik polietilen (N=60 ekor ikan/kantong plastik) yang berisi 3 L air, dilakukan dengan simulasi transportasi selama 13 jam. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kelangsungan hidup, kortisol, glukosa darah, enzim superoksida dismustase (SOD), dan malondialdehida (MDA) saat sebelum transportasi, sesaat setelah transportasi, sehari, dan dua hari setelah transportasi. Hasil yang didapatkan adalah suplementasi kromium menurunkan konsentrasi kortisol secara signifikan sebelum transportasi, sesaat, sehari, dan dua hari setelah transportasi. Suplementasi kromium menurunkan glukosa darah secara signifikan pada saat sebelum transportasi dan sehari setelah transportasi. Konsentrasi enzim SOD meningkat secara signifikan setelah pemberian pakan bersuplementasi kromium selama 30 hari, sedangkan konsentrasi enzim MDA meningkat secara signifikan setelah dua hari transportasi pada ikan yang diberi pakan bersuplementasi kromium. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan pada kelangsungan hidup ikan nila merah antarperlakuan. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan ikan dengan suplementasi kromium. Suplementasi 1 mg/kg CrPic dan 2 mg/kg CrYst dapat meningkatkan daya tahan tubuh pada budidaya ikan nila merah dengan menurunkan pengaruh negatif stres akibat transportasi. Kata kunci: stres, transportasi, nila merah, kromium
Utilization of cinnamon Cinnamomum burmannii leaves and shrimp head in the feed on growth performance of catfish Pangasianodon hypopthalmus Dairun, Suclyadi; Setiawati, Mia; Suprayudi, Muhammad Agus; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3324.195 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.87-93

Abstract

ABSTRACTCatfish farming has confronted with the problem of slow growth to reach the fillet size and less tender of fish fillets. This study aimed to investigate the effect of cinnamon leaf flour and shrimp head flour in formulated diets on growth of catfish Pangasianodon hypopthalamus. Catfish with an initial weight of 207.04 ± 2.70 g/fish reared in 12 cages with a dimension of  2×1×1.5 m3 (L×W×H)  and its fish density was 15 fishes for 60 days. Fish were fed with following experimental diets: (1) Control; (2) cinnamon leaf (1%) (CL); (3) 45% of protein source from shrimp head (SH); (4) CL+SH mix.  The fishes fed twice a day with feeding rate 3.5% of fish biomass. The study found that the use of cinnamon leaf and shrimp head increased the specific growth rate 1.67-1.70%, the feed efficiency 57.55-57.67%, and protein retention 55.61% compared to its control (P<0.05). Triglyceride level, cholesterol, and blood HDL were 416.00-524.05 mg/dL, 139.65-156.68 mg/dL, 73.18-103.70 mg/dL (P>0.05), respectively. HSI value ranged between 0.3-1.9% compared to its control (P<0.05).Keywords: Cinnamomum burmannii, feed, growth, Pangasianodon hypopthalmus, shrimp head.  ABSTRAKBudidaya ikan patin dihadapkan pada permasalahan pertumbuhan dan kualitas daging yaitu pertumbuhan yang lambat untuk mencapai ukuran fillet serta tekstur daging kurang kompak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh penggunaan tepung daun kayu manis dan tepung kepala udang dalam pakan terhadap pertumbuhan ikan patin Pangasianodon hypopthalmus. Ikan patin dengan bobot 207,04 ± 2,70 g/ekordipelihara selama 60 hari di hapa sebanyak 12 buah (berukuran 2×1×1,5 m3)dengan padat tebar 15 ekor/jaring. Ikan diberi pakan perlakuan yang terdiri dari: (1) Kontrol; (2) daun kayu manis 1% (DKM); (3) 45% sumber protein dari kepala udang (TKU); dan (4) campuran DKM+TKU. Pemberian pakan sebanyak 2 kali sehari dengan feeding rate 3,5% dari biomassa ikan. Hasil dari penelitian penggunaan daun kayu manis dan kepala udang meningkatkan nilai laju pertumbuhan harian 1,67-1,70%, efisiensi pakan 57,55-57,67% dan retensi protein 55,61% dibanding kontrol (P<0,05). Kadar trigliserida, kolesterol, dan HDL darah berturut-turut adalah 416,00-524,05 mg/dL, 139,65-156,68 mg/dL, 73,18-103,70 mg/dL (P>0,05). Nilai HSI ikan patin berkisar antara 0,3-1,9% dibanding kontrol (P<0,05).Kata kunci: Cinnamomum burmannii, kepala udang, pakan, Pangasianodon hypopthalmus, pertumbuhan. 
Female maturation and rematuration acceleration of Mutiara strain catfish (Clarias gariepinus) using combination of oocyte developer hormone and astaxanthin addition diet Jufri, Fatahillah Maulana; Sudrajat, Agus Oman; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3483.51 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.23-32

Abstract

ABSTRACT Reproductive design for gonadal maturation process mostly related with some factors such as environmental signals, reproductive organs, hormonal and nutrition. This research was conducted on female Mutiara strain of North African Catfish, Clarias gariepinus by combining two kinds of materials administered to broodstock diet, namely oocyte developer (Oodev) which contains of PMSG hormone and antidopamin, and astaxanthin carotenoid. Research designs were divided into C (Control), A50 (astaxanthin 50 mg/kg feed), A100 (astaxanthin 100 mg/kg feed), Od0.5 (Oodev 0.5 mL/kg fish for two weeks), Od1 (1 mL/kg fish for 2 weeks), Od0.5A50 (combined Od0.5 with A50), Od1A50 (combined Od1 with A50), Od0.5A100 (combined Od0.5 with A100), and Od1A100 (combined Od1 with A100). This research was performed during twelve weeks of feeding. The Od1A100 treatment showed the best reproduction performance result compared to other treatment with highest hepatosomatic (HSI) and gonadosomatic (HSI) indexes (P<0.05), also fastest increase in egg diameters (P<0.05), shorter rematuration periods and highest proportion of mature broodstock. These results indicated that Oodev and astaxanthin could accelerate gonadal maturity in female broodstock of Mutiara catfish.Keywords: Broodstock, hormonal, reproduction, oocyte developer, astaxanthin  ABSTRAK Rekayasa reproduksi untuk proses pematangan gonad sebagian besar terkait dengan beberapa faktor seperti sinyal lingkungan, organ reproduksi, hormonal dan nutrisi. Penelitian ini dilakukan terhadap strain ikan lele Mutiara (Clarias gariepinus) betina menggunakan dua bahan yang dicampur pada pakan induk, yaitu oocyte developer (Oodev) yang mengandung hormon PMSG dan antidopamin, dan karotenoid astaxanthin. Eksperimen yang dirancang adalah K (Kontrol), A50 (Astaxanthin 50 mg/kg pakan), A100 (Astaxanthin 100 mg/kg pakan), Od0.5 (Oodev 0,5 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od1 (Oodev 1 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od0.5A50 (kombinasi Od0.5 dan A50), Od1A50 (kombinasi Od1 dan A50), Od0.5A100 (kombinasi Od0.5 dan A100), dan Od1A100 (kombinasi Od1 dan A100). Penelitian ini dilakukan dengan memberi makan dua belas minggu. Performa reproduksi terbaik didapat pada perlakuan Od1A100. Od1A100 memiliki indeks hepatosomatik (HSI) dan gonadosomatik (HSI) tertinggi (P <0,05), juga diameter telur paling cepat besar (p <0,05), periode rematurasi terpendek, dan proporsi induk matang gonad tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa Oodev dan astaxanthin dapat mempercepat kematangan gonad pada induk betina ikah lele Mutiara. Keyword: Induk, hormon, reproduksi, oocyte developer, astaxanthin 
Effect of zinc (Zn) supplementation on quality and quantity of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus sperm Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun; Setiawati, Mia; Carman, Odang; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3415.809 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.46-53

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate the effects of Zinc (Zn) supplementation on the quality and quantity of striped catfish sperm. Experimental design for this study was a complete randomized design with five treatments and five replications. Male broods fed with Zn supplementation for eight weeks. The Zn supplemented into the fish diet at different concentrations (0, 50, 100, 150 and 200 mg/kg of feed). The results showed that Zn supplementation could improve the quality and quantity of striped catfish sperm. The treatments also showed significant effects on semen volume, sperm motility, sperm viability, and sperm concentration (P<0.05). Zn supplementation at a dose of 200 mg/kg feed demonstrated the best result has indicated by enhancement of quality and quantity of striped catfish sperm, increasing 51% of the volume, 11.6% of motility, 5.81% of viability, 54.1% of concentrations. The results suggested that Zn played an important role in improving reproductive performances of male striped catfish reproduction. Keywords: quality of sperm, a quantity of sperm, striped catfish, supplementation zinc                                                                                            ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi Zinc (Zn) terhadap kualitas dan kuantitas sperma ikan patinPangasianodon hypophthalmus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan  lima perlakuan danlima ulangan. Induk jantan diberi pakan dengan suplementasi Zn selama 8 minggu. Zn disuplementasikan dengan dosis berbeda (0, 50, 100, 150 dan 200 mg/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi Zn dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma ikan patin sehingga berpengaruh signifikan terhadap volume semen, motilitas, viabilitas dan konsentrasi sperma (P<0,05). Suplementasi Zn pada dosis pakan 200 mg/kg menunjukkan hasil terbaik yang ditunjukkan oleh peningkatan kualitas dan kuantitas sperma ikan patin 51% volume; 11,6% motilitas; 5,81% viabilitas; 54,1% konsentrasi sperma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Zn memainkan peran penting dalam meningkatkan reproduksi ikan patin. Kata kunci: kualitas dan kuantitas sperma, Ikan patin, suplementasi Zn 
Profile of 17ß-estradiol, vitellogenin, and egg diameter during gonad maturation process of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus Pamungkas, Wahyu; Jusadi, Dedi; Junior, Muhammad Zairin; Setiawati, Mia; Supriyono, Eddy; Imron, Imron
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4039.234 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.152-161

Abstract

ABSTRACT This study was conducted to evaluate the profile of 17ß-estradiol (E2) and vitellogenin (Vtg) in plasma and egg diameter during gonad maturity process of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus. Blood samples were collected from immature striped catfish, male and female with different stage of gonad maturity (stage I, II, III, and IV) to measure the concentrations of E2 and Vtg. Gonad maturity development of striped catfish was observed based on egg diameter. Result showed that E2 concentrations were the highest (843.65 pg/mL) on female with maturity stage III, the lowest on the male (26.34 pg/mL), and immature female fish (29.37 pg/mL). The protein band of Vtg was obtained on the plasma of the mature female (stage I, II, III and IV) with a molecular weight (MW) between 140−180 kDa, but it was not obtained on immature female dan male striped catfish. The highest concentration of Vtg was found in the plasma of the female fish with maturity stage III (87.34 mg/mL), then on the stage II (74.83 mg/mL), I (68.58 mg/mL), and IV (33.45 mg/mL). It showed that egg yolk formation occurred in the female mature. The average egg diameter was 0.107 ± 0.052 mm, 0.318 ± 0.086 mm, 0.864 ± 0.099 mm, and 1.041 ± 0.058 mm on the maturity stage I, II, III, and IV respectively. The increase of egg diameter along with development of gonad maturity stage indicated that egg development occurred due to the process of vitellogenesis and the addition of egg yolk on oocyte. Keywords : egg diameter, gonad maturity, striped catfish , 17ß–estradiol, vitellogenin ABSTRAK Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi profil estradiol-17β (E2), vitelogenin (Vtg) dalam plasma dan diameter telur pada proses pematangan gonad ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus). Sampel darah untuk pengukuran konsentrasi E2 dan Vtg plasma diperoleh dari ikan patin siam betina yang belum matang gonad, ikan jantan, ikan betina dengan tahap kematangan gonad yang berbeda (tahap I, II, III dan IV). Perkembangan kematangan gonad ikan patin siam diamati berdasarkan diameter telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi E2 tertinggi (843,65 pg/mL) pada ikan betina dengan kematangan tahap III, terendah pada ikan jantan (26,34 pg/mL), dan ikan betina tidak matang gonad (29,37 pg/mL). Pita protein Vtg pada sampel plasma diperoleh dari betina matang gonad (tahap I, II, III dan IV) dengan berat molekul antara 140-180 kDa, tetapi tidak diperoleh pada ikan patin siam betina yang belum dewasa dan jantan. Nilai konsentrasi tertinggi Vtg ditemukan dalam plasma darah ikan betina dengan tingkat kematangan III (87,34 mg/mL) kemudian pada tahap II (74,83 mg/mL), I (68,58 mg/mL) dan IV (33,45 mg/mL). Hal ini menunjukkan bahwa pada ikan betina dewasa terjadi proses pembentukan kuning telur (vitelogenesis). Rata-rata diameter telur adalah 0,107 ± 0,052 mm, 0,318 ± 0,086 mm, 0,864 ± 0,099 mm dan 1,041 ± 0,058 mm pada tingkat kematangan I, II, III dan IV secara berurutan. Peningkatan nilai diameter telur seiring dengan perkembangan tahap kematangan gonad menunjukkan bahwa perkembangan telur terjadi karena proses vitelogenesis dan penambahan bahan kuning telur pada oosit. Kata kunci : diameter telur, 17ß-estradiol, kematangan gonad, patin siam, vitelogenin
Utilization of green algae Caulerpa racemosa as feed ingredient for tiger shrimp Penaeus monodon Puspitasari, Widya; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie; Nur, Abidin; Sumantri, Iwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3516.423 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.162-171

Abstract

ABSTRACT The study aimed to evaluate the utilization of seaweed Caulerpa racemosa as feed ingredient for tiger shrimp Penaeus monodon. This research consisted of two different stages, i.e. digestibility and growth test. Tiger shrimp with average body weight of 5.70 ± 0.42 g was reared during digestibility test. The measured parameters were total protein, calsium, magnesium, and energy digestibility. The growth test was managed by using a completely randomized design consisted of four different treatments (in triplicates) of dietary C. racemosa meal addition levels, i.e. 0 (control), 10, 20, and 30%. Tiger shrimp with an average body weight of 0.36 ± 0.02 g were cultured for 42 days in plastic containers (70×45×40 cm) with a stocking density of 15 shrimp/container. Apparent dry matter, protein, calcium, magnesium, and energy digestibilities of C. racemosa were 51.82, 88.67, 68.44, 16.39, 60.30%, respectively. The results presented that the growth performance of tiger shrimp fed with diet containing 10% of C. racemosa was not significantly different with the control (P>0.05). However, the growth performance of the shrimp fed with diet containing more than 20% of C. racemosa decreased. The enzyme activitity of superoxide dismutase (SOD) increased with the higher level of dietary addition of C. racemosa. It can be concluded that C. racemosa was possibly applied up to 10% in the feed formulation for tiger shrimp. Keywords: Caulerpa racemosa, Penaeus monodon, digestibility, growth performance, shrimp  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemanfaatan rumput laut Caulerpa racemosa sebagai bahan baku pakan udang windu Penaeus monodon. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu uji kecernaan C. racemosa dan uji pertumbuhan udang. Udang windu yang digunakan pada uji kecernaan berbobot 5,70 ± 0,42 g. Parameter uji yang diukur meliputi kecernaan total, protein, kalsium, magnesium, dan energi. Uji pertumbuhan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu penggunaan tepung C. racemosa sebesar 0 (kontrol), 10, 20, dan 30%. Udang windu dengan bobot 0,36 ± 0,02 g dipelihara dalam wadah kontainer plastik ukuran 70×45×40 cm (volume air sebanyak 90 L) dengan kepadatan 15 ekor tiap wadah selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan kecernaan total C. racemosa pada udang windu 51,82%, kecernaan protein 88,67%, kecernaan kalsium 68,44%, kecernaan magnesium 16,39%, dan kecernaan energi 60,30%. Penelitian tahap kedua pada kinerja pertumbuhan udang yang mengonsumsi pakan mengandung 10% C. racemosa, tidak memberikan nilai yang berbeda nyata dengan udang yang mengonsumsi pakan kontrol. Namun, kinerja pertumbuhan udang menurun setelah mengonsumsi pakan yang mengandung C. racemosa di atas 20%, sedangkan aktivitas enzim superoxide dismutase (SOD) meningkat. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan C. racemosa ke dalam formula pakan sampai 10% dapat digunakan sebagai bahan baku pakan udang windu. Kata kunci: Caulerpa racemosa, Penaeus monodon, kecernaan, kinerja pertumbuhan, udang 
Evaluation of protein sparing effect in Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with organic selenium supplemented diet Pattipeilohy, Christian Ernsz; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.1.84-94

Abstract

ABSTRACT The objective of this research was to determine the optimum level of organic selenium supplementation in improving the growth performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with diet containing low protein level. Basal diet was formulated to contain 28% protein with three different levels of organic selenium supplementation, namely 0 (control), 3, and 6 mg Se/kg feed. Furthermore, to evaluate selenium function on protein utilization and sparring effect, a diet with 30% of protein content was also used as a comparison. In this regard, this study was conducted using a completely randomized experimental design with four treatments and three replications. Nile tilapia with an average body weight of 8.05 ± 0.25 g were reared in the 100×50×50 cm3 aquarium at a density of 15 fish/aquarium. The experimental fish were reared for 60 days and fed three times daily to apparent satiation levels. Dietary supplementation of organic Se resulted in higher fish biomass, lower feed conversion ratio, higher protein retention and daily growth rate compared to the control diets with 28% and 30% protein levels. In conclusion, dietary supplementation of organic Se at 3 mg organic Se/kg feed could significantly increase protein utilization and improve the growth performance of Nile tilapia. Keywords: tilapia, protein sparing effect, organic selenium, feed ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat suplementasi selenium organic pada pakan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Pakan basal diformulasikan mengandung 28% protein dengan tiga tingkat selenium organik yaitu 0 (kontrol), 3, dan 6 mg Se/kg pakan. Selanjutnya untuk mengevaluasi penggunaan selenium pada pemanfaatan protein dan efek sparring, pakan dengan 30% protein juga ditambahkan sebagai perlakuan pembanding. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Ikan nila dengan bobot rata-rata adalah 8.05 ± 0.25 g dipelihara dalam akuarium 100 × 50 × 50 cm3 dengan kepadatan 15 ikan/akuarium. Ikan dipelihara selama 60 hari dan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation. Pemberian pakan dengan suplementasi Se organic menghasilkan biomassa ikan yang lebih tinggi, rasio konversi pakan yang lebih rendah, retensi protein dan laju pertumbuhan harian yang lebih tinggi daripada perlakuan control dengan kadar protein 28% dan 30%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa suplemtasi pakan ikan nila dengan 3 mg Se organik/kg pakan dapat meningkatkan pemanfaatan protein pakan dan kinerja pertumbuhan ikan Nila. Kata kunci: ikan nila, protein sparing effect, selenium organik, pakan.
Co-Authors , Alimuddin , Mulyasari , Susan . Kurdianto . Melati . Yuniarti A.D. Akbar Achmad Fauzi, Ichsan Ade Dwi Sasanti Afiff , Usamah Agus Oman Sudrajat Alimuddin Alimuddin A alimuddin alimuddin Aliyah Sakinah, Aliyah Amelia Oktaviani, Amelia Apriana Vinasyiam Arbajayanti, Rahma Dini Arfani, Muhammad Dicky Arini Resti Fauzi Aris Tri Wahyudi Arlita, Kriswidya Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atma Jaya Salman Muin Azmi Afriansyah Bambang Priyo Utomo Bianingrum Bianingrum Burhanudin Faisal, Burhanudin C. Nuraeni D. Jusadi D. Shafruddin Dadang Kurniawan Dadang Syafruddin Dairun, Suclyadi Darina Putri Darsiani Darsiani darsiani, Darsiani DEDI JUSADI dedy yaniharto Dewi Yuniati Dewi Yuniati, Dewi Diamahesa, Wastu Ayu Dian Hardiantho Dian Hardianto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dody Sihono Eddy Supriyono Eka Hidayatus Solikhah Eko Harianto, Eko Enang Harris Erni Susanti Fahmi Hasan, Fahmi Fahmi Rajab Fardila Putri, Rizqiyatul Fauzan, Agung Luthfi Fauzi, Arini Resti Febrina Rolin Ferdinand Hukama Taqwa Feri Kurniawati Firsty Rahmatia Gamel Koncara Goro Yoshizaki Gustina, Ira Hany Handajani Harton Arfah Hasan Abidin Hendriana, Andri Huaida, Chatya Iqlima I Mokoginta I Nyoman Adi Asmara Giri I. Mokoginta I. Tepu Ichsan Achmad Fauzi Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Ika Wahyuni Putri Imron Imron, Imron Inem Ode Ing Mokoginta Irzal Effendi Ismail Rahmat Ismarica, Ismarica Istifarini, Mita Ita Apriani Jefry Jefry Jr., Muhammad Zairin Jufri, Fatahillah Maulana Juli Ekasari Julia Eka Astarini Julie Ekasari Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun Karno Setyotomo Ketut Sugama Ketut Sugama Khasanah, Noviati Rohmatul Kukuh Nirmala Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti La Muhamad, Idul M. Zairin Junior M.A. Suprayudi MA Suprayudi Mala Nurilmala Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno, Mas Tri Djoko Maulana, Fajar Mohammad Mukhlis Kamal Muhamad Yamin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Safir Muhammad Zairin Jr. MUNTI YUHANA N. Nurjanah N.B.P Utomo N.R. Azwar Nadisa Theresia Putri Naufal, Muhammad Restya nFN Safratilofa Niagara, Niagara Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyoutomo Nur Hikma Mahasu Nur, Abidin Nuraini Annisa, Nuraini Nurhayati Nurhayati Nuri Kamaliah, Syarifah Nurly Faridah Octaviana, Myrza Fikry Odang Carman Ode, Inem P. Purnama Pangentasari, Dwinda Pattipeilohy, Christian Ernsz Pratama, Muhammad Aldo Puji Hastuti, Yuni Putri Pratamaningrum Arifin Putri Utami, Putri Putri, Anisa Permata Putri, Savira Nurindra R. Affandi Rahmadani Rahmadani Rakhmawati, Rakhmawati, Ranti Melasari Rasidi Rasidi Rasidi, Rasidi Retno Astrini Reza Samsudin RIDWAN AFFANDI Riska Diana Rizkan Fahmi Ronny I. Wahju Rosliana, Rosliana Shella Marlinda Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho Siti Khodijah SITI KHODIJAH Siti Murniasih Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci antoro Suclyadi Dairun Sujono Sujono Sukenda . Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sumantri, Iwan Sumiana, I Kadek Suryadi Saputra Syefti Palmi, Revita T.M. Haja Almuqaramah Tatag Budiardi Thoy Batun Citra Rahmadani TI Winarno Toshiro Masumoto Triana Retno Palupi Upmal Deswira Uttari Dewi W Manalu W. Manalu Wahyu Pamungkas Wahyudi, Imam Tri WAODE MUNAENI Wasjan WIDANARNI WIDANARNI Widya Puspitasari Wildan Nurussalam Windu Sukenda Wiwik Hildayanti Wiyoto Wiyoto, Wiyoto Y. Hadiroseyani Yonvitner - Yuli Andriani Yuni Puji Hastuti