Claim Missing Document
Check
Articles

Female maturation and rematuration acceleration of Mutiara strain catfish (Clarias gariepinus) using combination of oocyte developer hormone and astaxanthin addition diet Jufri, Fatahillah Maulana; Sudrajat, Agus Oman; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3483.51 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.23-32

Abstract

ABSTRACT Reproductive design for gonadal maturation process mostly related with some factors such as environmental signals, reproductive organs, hormonal and nutrition. This research was conducted on female Mutiara strain of North African Catfish, Clarias gariepinus by combining two kinds of materials administered to broodstock diet, namely oocyte developer (Oodev) which contains of PMSG hormone and antidopamin, and astaxanthin carotenoid. Research designs were divided into C (Control), A50 (astaxanthin 50 mg/kg feed), A100 (astaxanthin 100 mg/kg feed), Od0.5 (Oodev 0.5 mL/kg fish for two weeks), Od1 (1 mL/kg fish for 2 weeks), Od0.5A50 (combined Od0.5 with A50), Od1A50 (combined Od1 with A50), Od0.5A100 (combined Od0.5 with A100), and Od1A100 (combined Od1 with A100). This research was performed during twelve weeks of feeding. The Od1A100 treatment showed the best reproduction performance result compared to other treatment with highest hepatosomatic (HSI) and gonadosomatic (HSI) indexes (P<0.05), also fastest increase in egg diameters (P<0.05), shorter rematuration periods and highest proportion of mature broodstock. These results indicated that Oodev and astaxanthin could accelerate gonadal maturity in female broodstock of Mutiara catfish.Keywords: Broodstock, hormonal, reproduction, oocyte developer, astaxanthin  ABSTRAK Rekayasa reproduksi untuk proses pematangan gonad sebagian besar terkait dengan beberapa faktor seperti sinyal lingkungan, organ reproduksi, hormonal dan nutrisi. Penelitian ini dilakukan terhadap strain ikan lele Mutiara (Clarias gariepinus) betina menggunakan dua bahan yang dicampur pada pakan induk, yaitu oocyte developer (Oodev) yang mengandung hormon PMSG dan antidopamin, dan karotenoid astaxanthin. Eksperimen yang dirancang adalah K (Kontrol), A50 (Astaxanthin 50 mg/kg pakan), A100 (Astaxanthin 100 mg/kg pakan), Od0.5 (Oodev 0,5 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od1 (Oodev 1 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od0.5A50 (kombinasi Od0.5 dan A50), Od1A50 (kombinasi Od1 dan A50), Od0.5A100 (kombinasi Od0.5 dan A100), dan Od1A100 (kombinasi Od1 dan A100). Penelitian ini dilakukan dengan memberi makan dua belas minggu. Performa reproduksi terbaik didapat pada perlakuan Od1A100. Od1A100 memiliki indeks hepatosomatik (HSI) dan gonadosomatik (HSI) tertinggi (P <0,05), juga diameter telur paling cepat besar (p <0,05), periode rematurasi terpendek, dan proporsi induk matang gonad tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa Oodev dan astaxanthin dapat mempercepat kematangan gonad pada induk betina ikah lele Mutiara. Keyword: Induk, hormon, reproduksi, oocyte developer, astaxanthin 
Effect of zinc (Zn) supplementation on quality and quantity of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus sperm Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun; Setiawati, Mia; Carman, Odang; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3415.809 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.46-53

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate the effects of Zinc (Zn) supplementation on the quality and quantity of striped catfish sperm. Experimental design for this study was a complete randomized design with five treatments and five replications. Male broods fed with Zn supplementation for eight weeks. The Zn supplemented into the fish diet at different concentrations (0, 50, 100, 150 and 200 mg/kg of feed). The results showed that Zn supplementation could improve the quality and quantity of striped catfish sperm. The treatments also showed significant effects on semen volume, sperm motility, sperm viability, and sperm concentration (P<0.05). Zn supplementation at a dose of 200 mg/kg feed demonstrated the best result has indicated by enhancement of quality and quantity of striped catfish sperm, increasing 51% of the volume, 11.6% of motility, 5.81% of viability, 54.1% of concentrations. The results suggested that Zn played an important role in improving reproductive performances of male striped catfish reproduction. Keywords: quality of sperm, a quantity of sperm, striped catfish, supplementation zinc                                                                                            ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi Zinc (Zn) terhadap kualitas dan kuantitas sperma ikan patinPangasianodon hypophthalmus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan  lima perlakuan danlima ulangan. Induk jantan diberi pakan dengan suplementasi Zn selama 8 minggu. Zn disuplementasikan dengan dosis berbeda (0, 50, 100, 150 dan 200 mg/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi Zn dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma ikan patin sehingga berpengaruh signifikan terhadap volume semen, motilitas, viabilitas dan konsentrasi sperma (P<0,05). Suplementasi Zn pada dosis pakan 200 mg/kg menunjukkan hasil terbaik yang ditunjukkan oleh peningkatan kualitas dan kuantitas sperma ikan patin 51% volume; 11,6% motilitas; 5,81% viabilitas; 54,1% konsentrasi sperma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Zn memainkan peran penting dalam meningkatkan reproduksi ikan patin. Kata kunci: kualitas dan kuantitas sperma, Ikan patin, suplementasi Zn 
Profile of 17ß-estradiol, vitellogenin, and egg diameter during gonad maturation process of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus Pamungkas, Wahyu; Jusadi, Dedi; Junior, Muhammad Zairin; Setiawati, Mia; Supriyono, Eddy; Imron, Imron
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4039.234 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.152-161

Abstract

ABSTRACT This study was conducted to evaluate the profile of 17ß-estradiol (E2) and vitellogenin (Vtg) in plasma and egg diameter during gonad maturity process of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus. Blood samples were collected from immature striped catfish, male and female with different stage of gonad maturity (stage I, II, III, and IV) to measure the concentrations of E2 and Vtg. Gonad maturity development of striped catfish was observed based on egg diameter. Result showed that E2 concentrations were the highest (843.65 pg/mL) on female with maturity stage III, the lowest on the male (26.34 pg/mL), and immature female fish (29.37 pg/mL). The protein band of Vtg was obtained on the plasma of the mature female (stage I, II, III and IV) with a molecular weight (MW) between 140−180 kDa, but it was not obtained on immature female dan male striped catfish. The highest concentration of Vtg was found in the plasma of the female fish with maturity stage III (87.34 mg/mL), then on the stage II (74.83 mg/mL), I (68.58 mg/mL), and IV (33.45 mg/mL). It showed that egg yolk formation occurred in the female mature. The average egg diameter was 0.107 ± 0.052 mm, 0.318 ± 0.086 mm, 0.864 ± 0.099 mm, and 1.041 ± 0.058 mm on the maturity stage I, II, III, and IV respectively. The increase of egg diameter along with development of gonad maturity stage indicated that egg development occurred due to the process of vitellogenesis and the addition of egg yolk on oocyte. Keywords : egg diameter, gonad maturity, striped catfish , 17ß–estradiol, vitellogenin ABSTRAK Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi profil estradiol-17β (E2), vitelogenin (Vtg) dalam plasma dan diameter telur pada proses pematangan gonad ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus). Sampel darah untuk pengukuran konsentrasi E2 dan Vtg plasma diperoleh dari ikan patin siam betina yang belum matang gonad, ikan jantan, ikan betina dengan tahap kematangan gonad yang berbeda (tahap I, II, III dan IV). Perkembangan kematangan gonad ikan patin siam diamati berdasarkan diameter telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi E2 tertinggi (843,65 pg/mL) pada ikan betina dengan kematangan tahap III, terendah pada ikan jantan (26,34 pg/mL), dan ikan betina tidak matang gonad (29,37 pg/mL). Pita protein Vtg pada sampel plasma diperoleh dari betina matang gonad (tahap I, II, III dan IV) dengan berat molekul antara 140-180 kDa, tetapi tidak diperoleh pada ikan patin siam betina yang belum dewasa dan jantan. Nilai konsentrasi tertinggi Vtg ditemukan dalam plasma darah ikan betina dengan tingkat kematangan III (87,34 mg/mL) kemudian pada tahap II (74,83 mg/mL), I (68,58 mg/mL) dan IV (33,45 mg/mL). Hal ini menunjukkan bahwa pada ikan betina dewasa terjadi proses pembentukan kuning telur (vitelogenesis). Rata-rata diameter telur adalah 0,107 ± 0,052 mm, 0,318 ± 0,086 mm, 0,864 ± 0,099 mm dan 1,041 ± 0,058 mm pada tingkat kematangan I, II, III dan IV secara berurutan. Peningkatan nilai diameter telur seiring dengan perkembangan tahap kematangan gonad menunjukkan bahwa perkembangan telur terjadi karena proses vitelogenesis dan penambahan bahan kuning telur pada oosit. Kata kunci : diameter telur, 17ß-estradiol, kematangan gonad, patin siam, vitelogenin
Utilization of green algae Caulerpa racemosa as feed ingredient for tiger shrimp Penaeus monodon Puspitasari, Widya; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie; Nur, Abidin; Sumantri, Iwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3516.423 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.162-171

Abstract

ABSTRACT The study aimed to evaluate the utilization of seaweed Caulerpa racemosa as feed ingredient for tiger shrimp Penaeus monodon. This research consisted of two different stages, i.e. digestibility and growth test. Tiger shrimp with average body weight of 5.70 ± 0.42 g was reared during digestibility test. The measured parameters were total protein, calsium, magnesium, and energy digestibility. The growth test was managed by using a completely randomized design consisted of four different treatments (in triplicates) of dietary C. racemosa meal addition levels, i.e. 0 (control), 10, 20, and 30%. Tiger shrimp with an average body weight of 0.36 ± 0.02 g were cultured for 42 days in plastic containers (70×45×40 cm) with a stocking density of 15 shrimp/container. Apparent dry matter, protein, calcium, magnesium, and energy digestibilities of C. racemosa were 51.82, 88.67, 68.44, 16.39, 60.30%, respectively. The results presented that the growth performance of tiger shrimp fed with diet containing 10% of C. racemosa was not significantly different with the control (P>0.05). However, the growth performance of the shrimp fed with diet containing more than 20% of C. racemosa decreased. The enzyme activitity of superoxide dismutase (SOD) increased with the higher level of dietary addition of C. racemosa. It can be concluded that C. racemosa was possibly applied up to 10% in the feed formulation for tiger shrimp. Keywords: Caulerpa racemosa, Penaeus monodon, digestibility, growth performance, shrimp  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemanfaatan rumput laut Caulerpa racemosa sebagai bahan baku pakan udang windu Penaeus monodon. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu uji kecernaan C. racemosa dan uji pertumbuhan udang. Udang windu yang digunakan pada uji kecernaan berbobot 5,70 ± 0,42 g. Parameter uji yang diukur meliputi kecernaan total, protein, kalsium, magnesium, dan energi. Uji pertumbuhan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu penggunaan tepung C. racemosa sebesar 0 (kontrol), 10, 20, dan 30%. Udang windu dengan bobot 0,36 ± 0,02 g dipelihara dalam wadah kontainer plastik ukuran 70×45×40 cm (volume air sebanyak 90 L) dengan kepadatan 15 ekor tiap wadah selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan kecernaan total C. racemosa pada udang windu 51,82%, kecernaan protein 88,67%, kecernaan kalsium 68,44%, kecernaan magnesium 16,39%, dan kecernaan energi 60,30%. Penelitian tahap kedua pada kinerja pertumbuhan udang yang mengonsumsi pakan mengandung 10% C. racemosa, tidak memberikan nilai yang berbeda nyata dengan udang yang mengonsumsi pakan kontrol. Namun, kinerja pertumbuhan udang menurun setelah mengonsumsi pakan yang mengandung C. racemosa di atas 20%, sedangkan aktivitas enzim superoxide dismutase (SOD) meningkat. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan C. racemosa ke dalam formula pakan sampai 10% dapat digunakan sebagai bahan baku pakan udang windu. Kata kunci: Caulerpa racemosa, Penaeus monodon, kecernaan, kinerja pertumbuhan, udang 
Evaluation of protein sparing effect in Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with organic selenium supplemented diet Pattipeilohy, Christian Ernsz; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.1.84-94

Abstract

ABSTRACT The objective of this research was to determine the optimum level of organic selenium supplementation in improving the growth performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with diet containing low protein level. Basal diet was formulated to contain 28% protein with three different levels of organic selenium supplementation, namely 0 (control), 3, and 6 mg Se/kg feed. Furthermore, to evaluate selenium function on protein utilization and sparring effect, a diet with 30% of protein content was also used as a comparison. In this regard, this study was conducted using a completely randomized experimental design with four treatments and three replications. Nile tilapia with an average body weight of 8.05 ± 0.25 g were reared in the 100×50×50 cm3 aquarium at a density of 15 fish/aquarium. The experimental fish were reared for 60 days and fed three times daily to apparent satiation levels. Dietary supplementation of organic Se resulted in higher fish biomass, lower feed conversion ratio, higher protein retention and daily growth rate compared to the control diets with 28% and 30% protein levels. In conclusion, dietary supplementation of organic Se at 3 mg organic Se/kg feed could significantly increase protein utilization and improve the growth performance of Nile tilapia. Keywords: tilapia, protein sparing effect, organic selenium, feed ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat suplementasi selenium organic pada pakan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Pakan basal diformulasikan mengandung 28% protein dengan tiga tingkat selenium organik yaitu 0 (kontrol), 3, dan 6 mg Se/kg pakan. Selanjutnya untuk mengevaluasi penggunaan selenium pada pemanfaatan protein dan efek sparring, pakan dengan 30% protein juga ditambahkan sebagai perlakuan pembanding. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Ikan nila dengan bobot rata-rata adalah 8.05 ± 0.25 g dipelihara dalam akuarium 100 × 50 × 50 cm3 dengan kepadatan 15 ikan/akuarium. Ikan dipelihara selama 60 hari dan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation. Pemberian pakan dengan suplementasi Se organic menghasilkan biomassa ikan yang lebih tinggi, rasio konversi pakan yang lebih rendah, retensi protein dan laju pertumbuhan harian yang lebih tinggi daripada perlakuan control dengan kadar protein 28% dan 30%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa suplemtasi pakan ikan nila dengan 3 mg Se organik/kg pakan dapat meningkatkan pemanfaatan protein pakan dan kinerja pertumbuhan ikan Nila. Kata kunci: ikan nila, protein sparing effect, selenium organik, pakan.
Utilization of fermented sago pulp as a source of carbohydrate in feed for Nile tilapia Oreochromis niloticus Sumiana, I Kadek; Ekasari, Julie; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.106-117

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to evaluate sago pulp fermentation method and its effect on crude fiber content, digestibility, and utilization of sago pulp as a feed raw material for Nile tilapia. Fermentation was done using three different fermenters, i.e. yeast tapai and baker’s yeast with five doses of 10 g/kg, 20 g/kg, 50 g/kg,70 g/kg,100 g/kg, respectively, and sheep rumen liquid with five doses of 100 mL/kg, 200 mL/kg, 300 mL/kg, 500 mL/kg and 1000 mL/kg. The incubation time was 0, 24, 72, and 96 hours. In the digestibility test, tilapia (25 g) was stocked at a density of 7 fish/aquarium. Three different diets were applied in quadruplicate, i.e. reference diet (100% reference diet), unfermented sago pulp (AS), and fermented sago pulp (ASF). Three different dietary treatments (in quadruplicate) containing different carbohydrate sources were tested, i.e. cassava flour as a comparion (G), unfermented sago pulp (AS), and fermented sago pulp (ASF). Fermentation of sago pulp with tapai yeast at a dose of 50 g/kg at 72 hours incubation time could reduce crude fiber by 35.76%, neutral detergent fiber (NDF) by 32.68%, and hemicellulose by 60.39%. Fermentation with yeast tapai could significantly increase sago pulp dry matter digestibility by 34% and carbohydrate digestibility by 21%, as well as increase glucose absorption. The growth experiment showed that the use of ASF diets resulted in higher specific growth rate (3.31 ± 0.12%/ day), protein retention (47.34 ± 5.23%) and fat retention (85.58 ± 5.44%) than those of AS dietary. In conclusion, fermentation of sago pulp using yeast tapai at a dose of 50 g/kg at 72 hours incubation could reduce crude fiber content and increase dry matter and carbohydrate digestibilities, so that it can be used as a source of carbohydrates in tilapia diet. Keywords : carbohydrate, digestibility, fermentation, fiber, Nile tilapia, sago pulp ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi metode fermentasi ampas sagu dan pengaruhnya terhadap kandungan serat kasar, kecernaan, dan pemanfaatan ampas sagu sebagai bahan baku pakan ikan nila. Fermentasi dilakukan dengan penambahan tiga perlakuan bahan fermentor yaitu ragi tape dan ragi roti ditambahkan dengan dosis masing-masing sebanyak 10 g/kg, 20 g/kg, 50 g/kg, 70 g/kg, 100 g/kg, dan cairan rumen domba yang ditambahkan dengan dosis 100 mL/kg, 200 mL/kg, 300 mL/kg, 500 mL/kg, dan 1000 mL/kg. Lama waktu inkubasi 0, 24, 72, dan 96 jam. Pada uji kecernaan digunakan ikan nila (25 g) yang dipelihara dengan kepadatan tujuh ekor per akuarium. Pada uji ini dilakukan tiga perlakuan pakan dengan empat ulangan, yaitu pakan acuan, ampas sagu tanpa fermentasi (AS), dan ampas sagu fermentasi (ASF). Percobaan dilakukan dengan tiga perlakuan pakan (4 ulangan) dengan tiga sumber karbohidrat yang berbeda yaitu gaplek (G) sebagai pembanding, ampas sagu (AS), dan ampas sagu fermentasi (ASF). Fermentasi ampas sagu dengan menggunakan ragi tape sebanyak 50 g/kg dengan lama inkubasi 72 jam dapat menurunkan serat kasar tertinggi sebanyak 35.76%, dan menurunkan fraksi serat neutral detergent fiber (NDF) dan hemisellulosa masing-masing sebanyak 32.68% dan 60.39%. Perlakuan fermentasi ampas sagu dapat meningkatkan nilai kecernaan bahan sebesar 34%, kecernaan karbohidrat sebesar 21%, serta penyerapan glukosa. Hasil uji pertumbuhan menunjukkan bahwa perlakuan ASF memberikan nilai laju pertumbuhan spesifik (3.31 ± 0.12%/hari), retensi protein (47.34 ± 5.23%) dan retensi lemak (85.58 ± 5.44%) yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan AS (P<0.05). Dapat disimpulkan bahwa fermentasi ampas sagu dengan menggunakan ragi tape pada dosis 50 g/kg selama 72 jam dapat menurunkan kadar serat kasar dan meningkatkan kecernaan bahan dan karbohidrat sehingga dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat pada pakan ikan nila. Kata kunci : ampas sagu, fermentasi, ikan nila, karbohidrat, kecernaan, serat
Evaluation of processed rubber seed oil Hevea brasiliensis utilization as lipid source in Clarias gariepinus feed Annisa, Nuraini; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Fauzi, Ichsan Ahmad
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.131-141

Abstract

ABSTRACT Clarias gariepinus rearing is mostly done with intensive systems that use a lot of commercial feed. The price of raw material for the feed lipid source which is currently the main source of fatty acids in freshwater fish feed continues to increase and compete with human needs. Rubber seed oil (RSO) is considered feasible to be an alternative. This study aimed to evaluate the use of heated RSO as alternative lipid source in C gariepinus feed. The results of this study indicated that heating could reduce HCN levels in RSO by 95%. Even after heated RSO was inserted into the feed formulation there is still HCN in feed, however it did not affect the survival rate of C. gariepinus statistically. Heated RSO based feed shows a specific growth rate that was higher than non-heating RSO-based feed. Feeding with heated RSO also did not affect nutrient retention in C. gariepinus. This also followed by blood profile, blood chemistry and body fatty acids profile, MDA levels and SOD levels which were almost same as treatment feed using fish oil and corn oil. From these results, it can be concluded that heating can reduce 95% HCN content in RSO and can be used as a lipid source in C. gariepinus feed. Keywords: Aquaculture, essential fatty acids, growth performance, HCN, rubber seed oil. ABSTRAK Budidaya ikan lele Clarias gariepinus dengan sistem intensif menggunakan banyak pakan buatan. Harga bahan baku untuk sumber lemak pakan terus meningkat dan bersaing dengan kebutuhan manusia. Minyak biji karet (MBK) layak menjadi alternatif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan MBK yang dipanaskan sebagai sumber lemak alternatif dalam pakan ikan lele. Hasil penelitian menunjukkan proses pemanasan dapat mengurangi kadar HCN pada MBK hingga 95%. Walaupun masih terdapat sejumlah kecil HCN pada pakan berbasis MBK yang dipanaskan, tetapi tidak memengaruhi tingkat kelangsungan hidup ikan lele (p>0,05). Pakan berbasis MBK proses pemanasan menunjukkan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi dari pakan berbasis MBK yang tidak dipanaskan. Pemberian pakan berbasis MBK proses pemanasan juga tidak memengaruhi retensi nutrisi ikan lele. Demikian pula parameter profil darah, kimia darah, profil asam lemak tubuh, kadar MDA dan kadar SOD hampir sama dengan pakan perlakuan berbasis minyak ikan dan minyak jagung. Sehingga dapat disimpulkan MBK proses pemanasan dapat mengurangi 95% kandungan HCN dan dapat digunakan sebagai sumber lemak dalam pakan ikan lele. Kata kunci: Akuakultur, asam lemak esensial, HCN, kinerja pertumbuhan, minyak biji karet.
Cellulase hydrolyzed Indigofera zolingeriana leaf utilization as a feed ingredient for gourami fingerling Jefry, Jefry; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Fauzi, Ichsan Achmad
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.139-147

Abstract

This study was aimed to evaluate the utilization of hydrolyzed Indigofera zolingeriana by celullase enzyme as the feed ingredient of gourami fish. This study used a completely randomized design which contained three steps, whereas each step contained four treatments and four replications. The first step performed by evaluating the Indigofera leaf meal (ILM) added with cellulase enzyme of 0 g/kg (control), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, and 1.2 g/kg. The second step was the digestibility test of ILM on gourami seeds. The third step was feed evaluation added with ILM as much as 0% (control), 15%, 30%, and 45% against the growth performance on gourami seeds. The gourami seeds used in the second and third steps with a weight of 13.65 ± 0.39 g/seed and 5.95 ± 0.15 g/seed, respectively. The addition of 0.8 g/kg and 1.2 g/kg cellulase enzyme could significantly decrease the crude fiber of ILM with 43.33%, besides having the best value of total, ingredient, protein, lipid, and energy digestibility. The growth performance of gourami seeds given 15% ILM added feed had the best value and insignificantly different from the control feed without ILM addition based on the specific growth rate (SGR), protein retention (PR), and feed efficiency (FE). Keywords: Cellulase, feed, hydrolyze, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pemanfaatan daun Indigofera zolingeriana yang dihidrolisis enzim selulase sebagai bahan baku pada pakan benih ikan gurami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga tahap, dimana masing-masing tahap terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Pada tahap pertama dilakukan evaluasi tepung daun Indigofera (TDI) yang ditambahkan enzim selulase sebesar 0 g/kg (kontrol), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, dan 1.2 g/kg. Pada tahap kedua dilakukan uji kecernaan bahan TDI pada benih ikan gurami. Pada tahap ketiga dilakukan evaluasi pakan yang ditambahkan TDI sebesar 0% (kontrol), 15%, 30% dan 45% terhadap kinerja pertumbuhan pada benih ikan gurami. Benih ikan gurami yang digunakan pada penilitian tahap kedua dengan bobot 13.65 ± 0.39 g/ekor dan 5.95 ± 0.15 g/ekor. Penambahan enzim selulase pada dosis 0.8 g/kg dan 1.2 g/kg secara signifikan mampu menurunkan serat kasar TDI sebesar 43.33 % dan memberikan nilai terbaik terhadap nilai kecernaan total, kecernaan bahan, kecernaan protein, kecernaan lemak dan kecernaan energi. Kinerja pertumbuhan benih ikan gurami yang diberikan pakan yang ditambahkan TDI sebesar 15% memilki nilai terbaik dan tidak berbeda nyata terhadap pakan kontrol tanpa TDI dari aspek laju pertumbuhan spesifik (LPS), retensi protein (RP) dan efisiensi pakan (EP). Kata kunci: Hidrolisis, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy, pakan, selulase.
Bone formation and growth of climbing perch Anabas testudinieus larvae fed with Zn enriched Artemia nauplii Ismarica, Ismarica; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.153-159

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to determine the optimum level of Zinc (Zn) enrichment in Artemia sp. nauplii as a live feed to improve bone formation and growth of climbing perch Anabas testudinieus larvae. The study consisted of four different Zn enrichment levels (0.0, 0.05, 0.1, and 0.15 mg/mL) in Artemia sp.nauplii. The enrichment was performed for 12 hours with the nauplii density of 1 ind/mL. Climbing perch larvae with an average initial length of 1.65 ± 0.15 mm were fed four times daily with the enriched nauplii. For the first 5 days, all larvae were fed with rotifer followed by feeding with enriched Artemia nauplii ad libitum. The results showed that the application of Artemia sp. enrichment at 0.1 mg Zn/mL influenced the bone formation, increased the growth, and improved the fish survival of climbing perch larvae. Feeding with 0.1 mg/mL Zn enriched Artemia nauplii could be recommended as a strategy to improve the bone formation and growth performance of climbing perch larvae. Keywords: Anabas testudineus, Artemia sp., climbing perch, live feed, zinc ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menentukan dosis optimum pengayaan seng (Zn) pada naupli Artemia sp. terhadap pembentukan tulang dan peningkatan pertumbuhan larva ikan betok. Penelitian dilakukan selama 18 hari dengan empat dosis pengayaan Zn yang berbeda (0, 0,05, 0,1, dan 0,15 mg/mL) pada naupli Artemia. Pengayaan dilakukan selama 12 jam dengan kepadatan naupli 1 ind/mL. Larva ikan betok dengan ukuran panjang awal rata-rata 1.65 ± 0.15 mm diberi pakan naupli yang diperkaya sebanyak 4 kali sehari. Pada lima hari pertama, semua larva diberi pakan rotifer, diikuti dengan pemberian naupli Artemia yang diperkaya secara ad libitum. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pengayaan naupli Artemia sp. dengan Zn 0,1 mg/mL berpengaruh terhadap pembentukan tulang belakang dan dapat meningkatkan pertumbuhan serta meningkatkan kelangsungan hidup larva ikan betok. Pemberian naupli Artemia dengan Zn sebanyak 0.1 mg Zn/mL dapat direkomendasikan untuk perbaikan pembentukan tulang dan pertumbuhan larva ikan betok. Kata kunci: Naupli Artemia sp., ikan betok, pakan alami, seng
Productivity and quality of Moina sp. cultivated with various culture medium Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho; Ekasari, Julie; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.148-162

Abstract

Cultivation of Moina sp is still constrained by its quality, productivity, and sustainability. The alternative solution is the use of cultivation media materials that have high nutritional content and easily available in large quantities to support the quality and productivity of Moina sp. and meet the needs of live feed. The objective of the study was to evaluate the effect of various culture medium on the productivity and nutritional quality of Moina sp.. Five culture media were tested in laboratory scale, i.e. organic ingredient (BO), Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + organic ingredients (ChBO), biofloc (BF) and biofloc + organic ingredients (BFBO). While in mass scale, four culture media were tested, i.e. Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Organic Ingredients (ChBO), Biofloc (BF) and Biofloc + Organic Ingredients (BFBO). The peaks of Moina sp. density in different treatments were achieved in different days. ChBO treatments significantly had higher productivity (P<0.05). The highest protein content was found in Moina sp. cultured with ChBO media, even higher than artemia. Moina sp. cultured with Chlorella sp. (Ch) showed the highest PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acids) contents, while the highest MUFA (mono unsaturated fatty acids) contents was obtained from Moina sp. cultured with BFBO media lower than artemia. The study results indicates that different culture media produces different productivity and nutrient quality of Moina sp. The organic material combination of Chlorella sp. + organic material (ChBO) was the best media to improve the productivity and protein quality of Moina sp. Keywords : Biofloc, Chlorella sp., Moina sp., organic matter, productivity, quality ABSTRAK Budidaya Moina sp. masih terkendala pada kualitas, produktivitas dan kestabilan dalam ketersediaannya. Untuk itu diperlukan penggunaan bahan media budidaya yang memiliki kandungan nutrisi tinggi dan mudah didapat dalam jumlah banyak untuk mendukung kualitas dan produktivitas Moina sp. demi memenuhi kebutuhan pakan hidup. Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi pengaruh berbagai media budidaya terhadap produktivitas dan kualitas nutrisi Moina sp. Lima media kultur yang diuji dalam penelitian laboratorium yaitu Bahan Organik (BO), Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Bahan Organik (ChBO), Bioflok (BF) dan Bioflok + Bahan Organik (BFBO). Sedangkan pada penelitian skala massal diuji empat media kultur yaitu Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Bahan Organik (ChBO), Bioflok (BF) dan Bioflok + Bahan Organik (BFBO). Puncak kepadatan Moina sp. pada tiap perlakuan dicapai pada hari yang berbeda. Perlakuan ChBO memiliki produktivitas yang lebih tinggi (P<0,05). Kandungan protein Moina sp. tertinggi ditemukan pada media ChBO dan bahkan lebih tinggi dari pada artemia. Moina sp. yang dibudidayakan dengan Chlorella sp. (Ch), menunjukkan kandungan PUFA tertinggi, sedangkan kandungan MUFA yang tertinggi terdapat pada Moina sp. yang dibudidayakan dengan bahan media BFBO namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan pada artemia. Hasil penelitian menunjukkan media kultur yang berbeda menghasilkan produktivitas dan kualitas nutrisi moina yang berbeda. Kombinasi bahan organik Chlorella + bahan organik (ChBO) merupakan media terbaik dibandingkan dengan perlakuan lainnya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas nutrisi terutama protein Moina sp. Kata kunci : Bioflok, Chlorella sp., Moina sp., bahan organik, produktivitas, kualitas
Co-Authors , Alimuddin , Mulyasari , Susan . Kurdianto . Melati . Yuniarti A.D. Akbar Ade Dwi Sasanti Afiff , Usamah Agus Oman Sudrajat Alimuddin Alimuddin A alimuddin alimuddin Aliyah Sakinah, Aliyah Amelia Oktaviani, Amelia Apriana Vinasyiam Arini Resti Fauzi Aris Tri Wahyudi Arlita, Kriswidya Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atma Jaya Salman Muin Azmi Afriansyah Bambang Priyo Utomo Bianingrum Bianingrum Burhanudin Faisal, Burhanudin C. Nuraeni D. Jusadi D. Shafruddin Dadang Kurniawan Dadang Syafruddin Dairun, Suclyadi Darina Putri Darsiani Darsiani Darsiani Darsiani DEDI JUSADI Dedi Jusadi Dedi Jusadi dedy yaniharto Dewi Yuniati Dewi Yuniati Diamahesa, Wastu Ayu Dian Hardiantho Dian Hardianto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dody Sihono Dwinda Pangentasari Eddy Supriyono Eka Hidayatus Solikhah Eko Harianto, Eko Enang Harris Erni Susanti Fahmi Hasan, Fahmi Fahmi Rajab Fardila Putri, Rizqiyatul Fauzan, Agung Luthfi Fauzi, Arini Resti Febrina Rolin Ferdinand Hukama Taqwa Feri Kurniawati Firsty Rahmatia Gamel Koncara Goro Yoshizaki Grenda Audia Wuryas Pradita Negara Hany Handajani Harton Arfah Hasan Abidin Hendriana, Andri I Mokoginta I Nyoman Adi Asmara Giri I. Mokoginta I. Tepu Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Ika Wahyuni Putri Imlani, Ainulyakin Hasan Imron Imron, Imron Inem Ode Ing Mokoginta Iqbal Kurniawinata, Mohamad Irzal Effendi Iskandar, Andri Ismail Rahmat Ismarica, Ismarica Istifarini, Mita Ita Apriani Jefry Jefry Jufri, Fatahillah Maulana Juli Ekasari Julia Eka Astarini Julie Ekasari Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun Karno Setyotomo Ketut Sugama Ketut Sugama Khasanah, Noviati Rohmatul Kukuh Nirmala Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti La Muhamad, Idul Laifa Farihah M. Zairin Junior M.A. Suprayudi MA Suprayudi Mala Nurilmala Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno, Mas Tri Djoko Maulana, Fajar Mohammad Aghistni Rahman Mohammad Mukhlis Kamal Muhamad Yamin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Safir Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. MUNTI YUHANA N. Nurjanah N.B.P Utomo N.R. Azwar Nadisa Theresia Putri Naufal, Muhammad Restya nFN Safratilofa Niagara, Niagara Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyoutomo Nur Hikma Mahasu Nur, Abidin Nuraini Annisa, Nuraini Nurhayati Nurhayati Nuri Kamaliah, Syarifah Nurly Faridah Odang Carman Ode, Inem P. Purnama Pangentasari, Dwinda Pattipeilohy, Christian Ernsz Putri Pratamaningrum Arifin Putri Utami, Putri R. Affandi Rahma Dini Arbajayanti Rahma Dini Arbajayanti Rahma, Balqis Aulia Rahmadani Rahmadani Rakhmawati, Rakhmawati, Rasidi Rasidi Rasidi Rasidi Retno Astrini Reza Samsudin RIDWAN AFFANDI Riska Diana Rizkan Fahmi Ronny I. Wahju Shella Marlinda Sheny Permatasari Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho SITI KHODIJAH Siti Khodijah Siti Murniasih Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci antoro Suclyadi Dairun Sujono Sujono Sukenda, Sukenda, Sumantri, Iwan Sumiana, I Kadek Suryadi Saputra Syefti Palmi, Revita T.M. Haja Almuqaramah Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Thoy Batun Citra Rahmadani TI Winarno Toshiro Masumoto Triana Retno Palupi Upmal Deswira Uttari Dewi W Manalu W. Manalu Wahyu Pamungkas Wahyudi, Imam Tri WAODE MUNAENI Wasjan WIDANARNI WIDANARNI Widya Puspitasari Wildan Nurussalam Windu Sukenda Wiwik Hildayanti Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yonvitner - Yuli Andriani Yuni Puji Hastuti