Claim Missing Document
Check
Articles

Utilization of fermented sago pulp as a source of carbohydrate in feed for Nile tilapia Oreochromis niloticus Sumiana, I Kadek; Ekasari, Julie; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.106-117

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to evaluate sago pulp fermentation method and its effect on crude fiber content, digestibility, and utilization of sago pulp as a feed raw material for Nile tilapia. Fermentation was done using three different fermenters, i.e. yeast tapai and baker’s yeast with five doses of 10 g/kg, 20 g/kg, 50 g/kg,70 g/kg,100 g/kg, respectively, and sheep rumen liquid with five doses of 100 mL/kg, 200 mL/kg, 300 mL/kg, 500 mL/kg and 1000 mL/kg. The incubation time was 0, 24, 72, and 96 hours. In the digestibility test, tilapia (25 g) was stocked at a density of 7 fish/aquarium. Three different diets were applied in quadruplicate, i.e. reference diet (100% reference diet), unfermented sago pulp (AS), and fermented sago pulp (ASF). Three different dietary treatments (in quadruplicate) containing different carbohydrate sources were tested, i.e. cassava flour as a comparion (G), unfermented sago pulp (AS), and fermented sago pulp (ASF). Fermentation of sago pulp with tapai yeast at a dose of 50 g/kg at 72 hours incubation time could reduce crude fiber by 35.76%, neutral detergent fiber (NDF) by 32.68%, and hemicellulose by 60.39%. Fermentation with yeast tapai could significantly increase sago pulp dry matter digestibility by 34% and carbohydrate digestibility by 21%, as well as increase glucose absorption. The growth experiment showed that the use of ASF diets resulted in higher specific growth rate (3.31 ± 0.12%/ day), protein retention (47.34 ± 5.23%) and fat retention (85.58 ± 5.44%) than those of AS dietary. In conclusion, fermentation of sago pulp using yeast tapai at a dose of 50 g/kg at 72 hours incubation could reduce crude fiber content and increase dry matter and carbohydrate digestibilities, so that it can be used as a source of carbohydrates in tilapia diet. Keywords : carbohydrate, digestibility, fermentation, fiber, Nile tilapia, sago pulp ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi metode fermentasi ampas sagu dan pengaruhnya terhadap kandungan serat kasar, kecernaan, dan pemanfaatan ampas sagu sebagai bahan baku pakan ikan nila. Fermentasi dilakukan dengan penambahan tiga perlakuan bahan fermentor yaitu ragi tape dan ragi roti ditambahkan dengan dosis masing-masing sebanyak 10 g/kg, 20 g/kg, 50 g/kg, 70 g/kg, 100 g/kg, dan cairan rumen domba yang ditambahkan dengan dosis 100 mL/kg, 200 mL/kg, 300 mL/kg, 500 mL/kg, dan 1000 mL/kg. Lama waktu inkubasi 0, 24, 72, dan 96 jam. Pada uji kecernaan digunakan ikan nila (25 g) yang dipelihara dengan kepadatan tujuh ekor per akuarium. Pada uji ini dilakukan tiga perlakuan pakan dengan empat ulangan, yaitu pakan acuan, ampas sagu tanpa fermentasi (AS), dan ampas sagu fermentasi (ASF). Percobaan dilakukan dengan tiga perlakuan pakan (4 ulangan) dengan tiga sumber karbohidrat yang berbeda yaitu gaplek (G) sebagai pembanding, ampas sagu (AS), dan ampas sagu fermentasi (ASF). Fermentasi ampas sagu dengan menggunakan ragi tape sebanyak 50 g/kg dengan lama inkubasi 72 jam dapat menurunkan serat kasar tertinggi sebanyak 35.76%, dan menurunkan fraksi serat neutral detergent fiber (NDF) dan hemisellulosa masing-masing sebanyak 32.68% dan 60.39%. Perlakuan fermentasi ampas sagu dapat meningkatkan nilai kecernaan bahan sebesar 34%, kecernaan karbohidrat sebesar 21%, serta penyerapan glukosa. Hasil uji pertumbuhan menunjukkan bahwa perlakuan ASF memberikan nilai laju pertumbuhan spesifik (3.31 ± 0.12%/hari), retensi protein (47.34 ± 5.23%) dan retensi lemak (85.58 ± 5.44%) yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan AS (P<0.05). Dapat disimpulkan bahwa fermentasi ampas sagu dengan menggunakan ragi tape pada dosis 50 g/kg selama 72 jam dapat menurunkan kadar serat kasar dan meningkatkan kecernaan bahan dan karbohidrat sehingga dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat pada pakan ikan nila. Kata kunci : ampas sagu, fermentasi, ikan nila, karbohidrat, kecernaan, serat
Evaluation of processed rubber seed oil Hevea brasiliensis utilization as lipid source in Clarias gariepinus feed Annisa, Nuraini; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Fauzi, Ichsan Ahmad
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.131-141

Abstract

ABSTRACT Clarias gariepinus rearing is mostly done with intensive systems that use a lot of commercial feed. The price of raw material for the feed lipid source which is currently the main source of fatty acids in freshwater fish feed continues to increase and compete with human needs. Rubber seed oil (RSO) is considered feasible to be an alternative. This study aimed to evaluate the use of heated RSO as alternative lipid source in C gariepinus feed. The results of this study indicated that heating could reduce HCN levels in RSO by 95%. Even after heated RSO was inserted into the feed formulation there is still HCN in feed, however it did not affect the survival rate of C. gariepinus statistically. Heated RSO based feed shows a specific growth rate that was higher than non-heating RSO-based feed. Feeding with heated RSO also did not affect nutrient retention in C. gariepinus. This also followed by blood profile, blood chemistry and body fatty acids profile, MDA levels and SOD levels which were almost same as treatment feed using fish oil and corn oil. From these results, it can be concluded that heating can reduce 95% HCN content in RSO and can be used as a lipid source in C. gariepinus feed. Keywords: Aquaculture, essential fatty acids, growth performance, HCN, rubber seed oil. ABSTRAK Budidaya ikan lele Clarias gariepinus dengan sistem intensif menggunakan banyak pakan buatan. Harga bahan baku untuk sumber lemak pakan terus meningkat dan bersaing dengan kebutuhan manusia. Minyak biji karet (MBK) layak menjadi alternatif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan MBK yang dipanaskan sebagai sumber lemak alternatif dalam pakan ikan lele. Hasil penelitian menunjukkan proses pemanasan dapat mengurangi kadar HCN pada MBK hingga 95%. Walaupun masih terdapat sejumlah kecil HCN pada pakan berbasis MBK yang dipanaskan, tetapi tidak memengaruhi tingkat kelangsungan hidup ikan lele (p>0,05). Pakan berbasis MBK proses pemanasan menunjukkan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi dari pakan berbasis MBK yang tidak dipanaskan. Pemberian pakan berbasis MBK proses pemanasan juga tidak memengaruhi retensi nutrisi ikan lele. Demikian pula parameter profil darah, kimia darah, profil asam lemak tubuh, kadar MDA dan kadar SOD hampir sama dengan pakan perlakuan berbasis minyak ikan dan minyak jagung. Sehingga dapat disimpulkan MBK proses pemanasan dapat mengurangi 95% kandungan HCN dan dapat digunakan sebagai sumber lemak dalam pakan ikan lele. Kata kunci: Akuakultur, asam lemak esensial, HCN, kinerja pertumbuhan, minyak biji karet.
Cellulase hydrolyzed Indigofera zolingeriana leaf utilization as a feed ingredient for gourami fingerling Jefry, Jefry; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Fauzi, Ichsan Achmad
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.139-147

Abstract

This study was aimed to evaluate the utilization of hydrolyzed Indigofera zolingeriana by celullase enzyme as the feed ingredient of gourami fish. This study used a completely randomized design which contained three steps, whereas each step contained four treatments and four replications. The first step performed by evaluating the Indigofera leaf meal (ILM) added with cellulase enzyme of 0 g/kg (control), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, and 1.2 g/kg. The second step was the digestibility test of ILM on gourami seeds. The third step was feed evaluation added with ILM as much as 0% (control), 15%, 30%, and 45% against the growth performance on gourami seeds. The gourami seeds used in the second and third steps with a weight of 13.65 ± 0.39 g/seed and 5.95 ± 0.15 g/seed, respectively. The addition of 0.8 g/kg and 1.2 g/kg cellulase enzyme could significantly decrease the crude fiber of ILM with 43.33%, besides having the best value of total, ingredient, protein, lipid, and energy digestibility. The growth performance of gourami seeds given 15% ILM added feed had the best value and insignificantly different from the control feed without ILM addition based on the specific growth rate (SGR), protein retention (PR), and feed efficiency (FE). Keywords: Cellulase, feed, hydrolyze, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pemanfaatan daun Indigofera zolingeriana yang dihidrolisis enzim selulase sebagai bahan baku pada pakan benih ikan gurami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga tahap, dimana masing-masing tahap terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Pada tahap pertama dilakukan evaluasi tepung daun Indigofera (TDI) yang ditambahkan enzim selulase sebesar 0 g/kg (kontrol), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, dan 1.2 g/kg. Pada tahap kedua dilakukan uji kecernaan bahan TDI pada benih ikan gurami. Pada tahap ketiga dilakukan evaluasi pakan yang ditambahkan TDI sebesar 0% (kontrol), 15%, 30% dan 45% terhadap kinerja pertumbuhan pada benih ikan gurami. Benih ikan gurami yang digunakan pada penilitian tahap kedua dengan bobot 13.65 ± 0.39 g/ekor dan 5.95 ± 0.15 g/ekor. Penambahan enzim selulase pada dosis 0.8 g/kg dan 1.2 g/kg secara signifikan mampu menurunkan serat kasar TDI sebesar 43.33 % dan memberikan nilai terbaik terhadap nilai kecernaan total, kecernaan bahan, kecernaan protein, kecernaan lemak dan kecernaan energi. Kinerja pertumbuhan benih ikan gurami yang diberikan pakan yang ditambahkan TDI sebesar 15% memilki nilai terbaik dan tidak berbeda nyata terhadap pakan kontrol tanpa TDI dari aspek laju pertumbuhan spesifik (LPS), retensi protein (RP) dan efisiensi pakan (EP). Kata kunci: Hidrolisis, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy, pakan, selulase.
Bone formation and growth of climbing perch Anabas testudinieus larvae fed with Zn enriched Artemia nauplii Ismarica, Ismarica; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.153-159

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to determine the optimum level of Zinc (Zn) enrichment in Artemia sp. nauplii as a live feed to improve bone formation and growth of climbing perch Anabas testudinieus larvae. The study consisted of four different Zn enrichment levels (0.0, 0.05, 0.1, and 0.15 mg/mL) in Artemia sp.nauplii. The enrichment was performed for 12 hours with the nauplii density of 1 ind/mL. Climbing perch larvae with an average initial length of 1.65 ± 0.15 mm were fed four times daily with the enriched nauplii. For the first 5 days, all larvae were fed with rotifer followed by feeding with enriched Artemia nauplii ad libitum. The results showed that the application of Artemia sp. enrichment at 0.1 mg Zn/mL influenced the bone formation, increased the growth, and improved the fish survival of climbing perch larvae. Feeding with 0.1 mg/mL Zn enriched Artemia nauplii could be recommended as a strategy to improve the bone formation and growth performance of climbing perch larvae. Keywords: Anabas testudineus, Artemia sp., climbing perch, live feed, zinc ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menentukan dosis optimum pengayaan seng (Zn) pada naupli Artemia sp. terhadap pembentukan tulang dan peningkatan pertumbuhan larva ikan betok. Penelitian dilakukan selama 18 hari dengan empat dosis pengayaan Zn yang berbeda (0, 0,05, 0,1, dan 0,15 mg/mL) pada naupli Artemia. Pengayaan dilakukan selama 12 jam dengan kepadatan naupli 1 ind/mL. Larva ikan betok dengan ukuran panjang awal rata-rata 1.65 ± 0.15 mm diberi pakan naupli yang diperkaya sebanyak 4 kali sehari. Pada lima hari pertama, semua larva diberi pakan rotifer, diikuti dengan pemberian naupli Artemia yang diperkaya secara ad libitum. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pengayaan naupli Artemia sp. dengan Zn 0,1 mg/mL berpengaruh terhadap pembentukan tulang belakang dan dapat meningkatkan pertumbuhan serta meningkatkan kelangsungan hidup larva ikan betok. Pemberian naupli Artemia dengan Zn sebanyak 0.1 mg Zn/mL dapat direkomendasikan untuk perbaikan pembentukan tulang dan pertumbuhan larva ikan betok. Kata kunci: Naupli Artemia sp., ikan betok, pakan alami, seng
Productivity and quality of Moina sp. cultivated with various culture medium Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho; Ekasari, Julie; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.148-162

Abstract

Cultivation of Moina sp is still constrained by its quality, productivity, and sustainability. The alternative solution is the use of cultivation media materials that have high nutritional content and easily available in large quantities to support the quality and productivity of Moina sp. and meet the needs of live feed. The objective of the study was to evaluate the effect of various culture medium on the productivity and nutritional quality of Moina sp.. Five culture media were tested in laboratory scale, i.e. organic ingredient (BO), Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + organic ingredients (ChBO), biofloc (BF) and biofloc + organic ingredients (BFBO). While in mass scale, four culture media were tested, i.e. Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Organic Ingredients (ChBO), Biofloc (BF) and Biofloc + Organic Ingredients (BFBO). The peaks of Moina sp. density in different treatments were achieved in different days. ChBO treatments significantly had higher productivity (P<0.05). The highest protein content was found in Moina sp. cultured with ChBO media, even higher than artemia. Moina sp. cultured with Chlorella sp. (Ch) showed the highest PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acids) contents, while the highest MUFA (mono unsaturated fatty acids) contents was obtained from Moina sp. cultured with BFBO media lower than artemia. The study results indicates that different culture media produces different productivity and nutrient quality of Moina sp. The organic material combination of Chlorella sp. + organic material (ChBO) was the best media to improve the productivity and protein quality of Moina sp. Keywords : Biofloc, Chlorella sp., Moina sp., organic matter, productivity, quality ABSTRAK Budidaya Moina sp. masih terkendala pada kualitas, produktivitas dan kestabilan dalam ketersediaannya. Untuk itu diperlukan penggunaan bahan media budidaya yang memiliki kandungan nutrisi tinggi dan mudah didapat dalam jumlah banyak untuk mendukung kualitas dan produktivitas Moina sp. demi memenuhi kebutuhan pakan hidup. Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi pengaruh berbagai media budidaya terhadap produktivitas dan kualitas nutrisi Moina sp. Lima media kultur yang diuji dalam penelitian laboratorium yaitu Bahan Organik (BO), Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Bahan Organik (ChBO), Bioflok (BF) dan Bioflok + Bahan Organik (BFBO). Sedangkan pada penelitian skala massal diuji empat media kultur yaitu Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Bahan Organik (ChBO), Bioflok (BF) dan Bioflok + Bahan Organik (BFBO). Puncak kepadatan Moina sp. pada tiap perlakuan dicapai pada hari yang berbeda. Perlakuan ChBO memiliki produktivitas yang lebih tinggi (P<0,05). Kandungan protein Moina sp. tertinggi ditemukan pada media ChBO dan bahkan lebih tinggi dari pada artemia. Moina sp. yang dibudidayakan dengan Chlorella sp. (Ch), menunjukkan kandungan PUFA tertinggi, sedangkan kandungan MUFA yang tertinggi terdapat pada Moina sp. yang dibudidayakan dengan bahan media BFBO namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan pada artemia. Hasil penelitian menunjukkan media kultur yang berbeda menghasilkan produktivitas dan kualitas nutrisi moina yang berbeda. Kombinasi bahan organik Chlorella + bahan organik (ChBO) merupakan media terbaik dibandingkan dengan perlakuan lainnya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas nutrisi terutama protein Moina sp. Kata kunci : Bioflok, Chlorella sp., Moina sp., bahan organik, produktivitas, kualitas
Dietary supplementation of betain to improve the growth and feed utilization in hybrid grouper (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀) juvenile La Muhamad, Idul; Setiawati, Mia; Wiyoto, Wiyoto; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.24-33

Abstract

Betaine plays some important roles in feed utilization and fish metabolism. The aim of this study was to evaluate the effect of dietary betaine supplementation on the growth performance and feed utilizationin hybrid grouper (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀). A completely randomized experimental design with four dietary levels of betaine, i.e.0.0%, 0.5%, 1.0%, and 2.0% in quadruplicate was done.Hybrid grouper juvenile obtained from Brackishwater Aquaculture Development Center, Situbondo, with an initial body length and body weight of 5.89 ± 0.05 cm and 2.86 ± 0.09 g, respectively was used as the tested animal. The fish was maintained in 60 cm x 40 cm x 40 cm aquaria with 75 L working capacity with individual recirculating system with a fish density of 15 fish/aquarium for 50 days. Experimental diet was provided to apparent satiation twice a day. The results of this study demonstrated that dietary betaine at a level of 0.5% resulted in higher feed utilization efficiency, protein and methionine retentions, and growth performance and lower ammonia excretion than those of the control (P<0.05). Higher antioxidative status was indicated by the lower malondialdehyde (MDA) in the liver of fish fed with betaine supplemented diets at levels of 1 - 2%. In conclusion, betaine supplementation of 0.5% could increase feed utilization efficiency and growth performance of hybdrid grouper. Keywods: Betaine, Hybrid Grouper, Growth Performance, Feed, Antioxidative Status ABSTRAK Betain memegang beberapa peranan penting dalam pemanfaatan pakan dan metabolisme pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi betain pada pakan terhadap kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan pakan pada juvenil ikan kerapu hybrid cantang (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan pakan dengan tingkat suplementasi betain yang berbeda, yaitu 0.0%, 0.5%, 1.0%, dan 2.0% dengan empat ulangan. Juvenil ikan kerapu cantang yang berasal dari Balai Pengembangan Budidaya Laut Situbondo dengan panjang dan bobot awal masing-masing 5.89 ± 0.05 cm and 2.86 ± 0.09 g digunakan sebagai hewan uji dalam penelitian ini. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran 60 cm x 40 cm x 40 cm dengan kapasitas 75L yang dilengkapi dengan sistem resirkulasi individu dengan kepadatan 15 ekor per akuarium selama 50 hari. Pakan uji diberikan hingga sekenyangnya dua kali sehari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi betain sebanyak 0.5% menghasilkan pemanfaatan pakan, retensi protein, retensi metionina, kinerja pertumbuhan dan ekskresi ammonia yang lebih baik daripada kontrol (P<0.05). Status antioksidasi yang lebih juga yang ditunjukkan dengan lebih rendahnya konsentrasi malondialdehid (MDA) pada hati ikan yang diberi pakan dengan suplementasi 1-2% betain. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suplementasi betain sebanyak 0.5% dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dan kinerja pertumbuhan ikan kerapu cantang.
The effectiveness of cinnamon powder and cinnamon leaf extract to prevent Aeromonas hydrophila infection on striped catfish Pangasianodon hypophthalamus Susanti, Erni; Wahjuningrum, Dinamella; Nuryati, Sri; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.163-173

Abstract

Striped catfish Pangasianodon hypophthalamus is one of the intensive cultured commodities. Disease outbreak becomes inevitable to prevent in a fish culture. One of the most frequent disease occurred in striped catfish is the motile aeromonas septicemia (MAS) disease caused by Aeromonas hydrophila. This study aimed to evaluate the effectiveness of 1% dietary cinnamon powder and 0.5% dietary cinnamon leaf extract on the immune response of striped catfish challenged with A. hydrophila. Striped catfish used in this study sizing of 5.80 ± 0.21 g. This study contained two phases, namely in vitro and in vivo tests. In vitro test contained inhibition zone and antibacterial tests, which demonstrates that 1% cinnamon powder and 0.5% cinnamon leaf extract are effective to inhibit A. hydrophila activity. In vivo test contained four treatments, i.e fish fed with 1% cinnamon leaf powder supplemented diet; 0.5% cinnamon leaf extract supplemented diet, positive control diet, and negative control diet. Each treatment was performed in three replications. The result showed that 1% cinnamon leaf powder supplemented diet obtained the best results to enhance the immune response of striped catfish higher survival rate value at 83.33% than the positive control diet (P<0.05). Keywords: Aeromonas hydrophila, Cinnamomum burmannii, extract, Pangasianodon hypophthalmus, powder. ABSTRAK Ikan patin Pangasianodon hypophthalamus termasuk komoditas yang banyak dibudidayakan secara intensif. Kendala budidaya seperti penyakit pun sulit untuk dihindari. Salah satu jenis penyakit yang kerap menyerang ikan patin yaitu penyakit MAS (motile aermomonad septicaemia) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas 1% (w/w) tepung dan 0,5% (w/w) ekstrak daun kayu manis dalam pakan sebagai upaya pencegahan infeksi bakteri A. hydrophila pada ikan patin. Ikan patin yang digunakan berukuran 5,80 ± 0,21 g. Penelitian ini terdiri dua tahap yaitu uji in vitro dan uji in vivo. Hasil uji in vitro terhadap aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa dosis 1% (w/w) tepung daun kayu manis dan 0.5% (w/w) ekstrak daun kayu manis efektif dalam menghambat pertumbuhan A. hydrophila. Uji in vivo terdiri atas empat perlakuan yaitu pemberian pakan dengan penambahan tepung daun kayu manis 1% (w/w), pemberian pakan dengan penambahan ekstrak daun kayu manis 0,5% (w/w), kontrol positif, dan kontrol negatif dengan masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 1% (w/w) tepung daun kayu manis dalam pakan memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan respons imun ikan patin dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 83,33% lebih tinggi dibandingkan kontrol positif (P<0,05). Kata kunci: Aeromonas hydrophila, Cinnamomum burmannii, ekstrak, Pangasianodon hypophthalmus, tepung
Health Status of Spiny Lobster Panulirus homarus with Sub-Mersible Net Cage System in the Different Depths at Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Wahjuningrum, Dinamella; Effendi, Irzal; Hadiroseyani, Yani; Budiardi, Tatag; Diatin, Iis; Setiawati, Mia; Puji Hastuti, Yuni; Oman Sudrajat, Agus; Yonvitner; Sri Nuryati; Utami, Putri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.1.68-80

Abstract

ABSTRACT Cultivation of Panulirus homarus lobster is now carried out with sub-mersible net cage system at a certain depth in order to obtain optimal temperature, light and water pressure. The purpose of this study was to evaluate the health status of the sand lobster P. homarus which was kept in sub-mersible net cage system measuring 250 cm × 272 cm × 135 cm with a depth of 6 m and 8 m in the waters of Semak Daun Island, Seribu Islands, DKI Jakarta. The average size of lobster seeds used was 93.23 ± 0.99 g/head with a density of 4 lobsters/m2. Lobsters were fed trash fish, molluscs and crustaceans, with a frequency of twice a day at 07.00 WIB 30% and 17.00 WIB 70% of the lobster biomass weight. This study used a completely randomized design with the two depth treatments mentioned above and three replications. Observations of total haemocyte count, differential haemocyte count, phenoloxidase activity, respiratory burst phagocytic activity and histology of lobster hepatopancreas were performed twice every 14 days. Based on the above observations, the depth does not affect the immune response, there is no visible damage to the cells and tissues of the lobster hepatopancreas. Keywords: haemolymph, histology, lobster cultivation, sea, sub-mersible net cage system
The antibacterial activity of clove Syzygium aromaticum extract and its effects on the survival rate of hybrid grouper Epinephelus fuscoguttatus ♀ × E. lanceolatus ♂ infected with Vibrio alginolyticus Ode, Inem; Sukenda; Widanarni; Dinamella Wahjuningrum; Munti Yuhana; Mia Setiawati
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.1-11

Abstract

Vibrio alginolyticus which becomes the main cause of vibriosis disease in grouper culture and causes great economic loss in Asian aquaculture industries. This study investigated the antibacterial activity of clove extract and the effect of adding clove powder to the diet on survival cantang grouper infected with V. alginolyticus. The clove extraction used a maceration method. Two dose levels of clove powder were used, namely 10 and 15 g kg−1. The control treatments without clove powder supplementation contained positive control (CP) and negative control treatment (CN). The results found that the clove extract contained five major compounds. The highest compound was phenol, 2-methoxy-4-(2-propenyl)-Eugenol (64.07%). Phytochemical analysis of clove extract contained phenolics, flavonoids, and tannins at (28.53 ± 0.00) mg/g, (0.38 ± 0.00) mg/g, and (0.15 ± 0.00) %, respectively. The diameter of the clove extract inhibition zone was significantly different (P < 0.05) in all treatments. The Scanning Electron Microscopy (SEM) result presents that the clove extract can alter the V. alginolyticus cell morphology. The dietary supplementation of clove powder improves the survival rate significantly higher (P<0.05) post-challenge test. The conclusion of this research is that clove extract has antibacterial activity that can inhibit growth and cause cell morphological damage to V. alginolyticus. The application of clove powder at a dose of 15g kg-1 was able to improve the survival value which was a higher post-challenge test. Keyword: antibacterial activity, clove, grouper, phytochemical, Vibrio alginolyticus
Evaluation of dietary coffee Coffee canephora husk supplementation on the growth, blood chemicals, and antioxidative activity of red Nile tilapia Oreochromis sp. Azmi Afriansyah; Setiawati, Mia; Muhammad Agus Suprayudi; Ichsan Achmad Fauzi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.18-26

Abstract

Coffee by-products can be used as a feed additive for red Nile tilapia. This study aimed to evaluate the utilization of different dietary coffee husk supplementation dosages on the growth and antioxidative activity of red Nile tilapia (Oreochromis sp.). This study was designed following the completely randomized design experimental method, containing five dietary supplementation treatments, namely P0 (control, 0%), P1 (1%), P2 (2%), P3 (3%), and P4 (4%). Fish were reared for 8 weeks and fed three times a day. Parameters observed contained growth performance and antioxidative activity. The results showed that dietary coffee husk powder supplementation treatments provide higher growth than control treatment. Based on blood chemicals, coffee husk-supplemented diets could enhance the HDL content and reduce cholesterol, triglycerides, and LDL (P<0.05). Superoxide dismutase enzyme was also found higher in coffee husk supplemented diets than in control diet (P<0.05). The MDA level decreased on the coffee husk-supplemented diet treatment and was lower than the control treatment (P<0.05). Dietary supplementation of coffee husk could positively affect liver performance, based on hepatosomatic index and glycogen level. This study concludes that 4% coffee husk in the diet is considered the best treatment to improve the growth and antioxidation level of red Nile tilapia. Keywords: antioxidant, coffee husk, diet, growth, tilapia ABSTRAK Coffee by- product dapat digunakan dalam pakan ikan nila sebagai feed additive. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan tepung kulit dengan dosis berbeda terhadap kinerja pertumbuhan dan antioksidan ikan nila merah (Oreochromis sp.). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari lima perlakuan pakan, yaitu P0 (Kontrol), P1 (1%), P2 (2%), P3 (3%) dan P4 (4%). Pemeliharaan dilakukan selama 60 hari dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari. Parameter yang diamati adalah kinerja pertumbuhan dan antioksidan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian tepung kulit kopi dalam pakan memberikan pertumbuhan yang lebih tinggi dari perlakuan kontrol. Profil biokimia darah menunjukkan bahwa penambahan tepung kulit kopi meningkatkan HDL dan menurunkan kolesterol, trigliserida dan LDL pada ikan yang diberi pakan perlakuan yang mengandung kulit kopi lebih tinggi dibandingkan dengan control (P<0,05). Enzim SOD lebih tinggi pada ikan yang diberi pakan perlakuan kulit kopi dibandingkan control (P<0,05). Kadar MDA menurun pada perlakuan penambahan tepung kulit kopi dan lebih rendah dari perlakuan control (P<0,05). Suplementasi tepung kulit kopi berpengaruh positif terhadap kinerja hati yang ditunjukkan pada nilai indeks hepatosomatik dan glikogen hati. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, penggunaan tepung kulit sebesar 4% dalam pakan dianggap paling baik dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan dan antioksidan pada ikan nila. Kata kunci: antioksidan, kulit kopi, pakan, pertumbuhan, ikan nila
Co-Authors , Alimuddin , Mulyasari , Susan . Kurdianto . Melati . Yuniarti A.D. Akbar Achmad Fauzi, Ichsan Ade Dwi Sasanti Afiff , Usamah Agus Oman Sudrajat Alimuddin Alimuddin A alimuddin alimuddin Aliyah Sakinah, Aliyah Amelia Oktaviani, Amelia Apriana Vinasyiam Arbajayanti, Rahma Dini Arfani, Muhammad Dicky Arini Resti Fauzi Aris Tri Wahyudi Arlita, Kriswidya Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atma Jaya Salman Muin Audia Wuryas Pradita Negara, Grenda Azmi Afriansyah Bambang Priyo Utomo Bianingrum Bianingrum Burhanudin Faisal, Burhanudin C. Nuraeni D. Jusadi D. Shafruddin Dadang Kurniawan Dadang Syafruddin Dairun, Suclyadi Darina Putri Darsiani Darsiani darsiani, Darsiani DEDI JUSADI dedy yaniharto Dewi Yuniati Dewi Yuniati, Dewi Diamahesa, Wastu Ayu Dian Hardiantho Dian Hardianto Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dody Sihono Eddy Supriyono Eka Hidayatus Solikhah Eko Harianto, Eko Enang Harris Erni Susanti Fahmi Hasan, Fahmi Fahmi Rajab Fardila Putri, Rizqiyatul Fauzan, Agung Luthfi Fauzi, Arini Resti Febrina Rolin Ferdinand Hukama Taqwa Feri Kurniawati Firsty Rahmatia Gamel Koncara Goro Yoshizaki Gustina, Ira Hany Handajani Harton Arfah Hasan Abidin Hendriana, Andri Huaida, Chatya Iqlima I Mokoginta I Nyoman Adi Asmara Giri I. Mokoginta I. Tepu Ichsan Achmad Fauzi Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Ika Wahyuni Putri Imlani, Ainulyakin Hasan Imron Imron, Imron Inem Ode Ing Mokoginta Iqbal Kurniawinata, Mohamad Irzal Effendi Ismail Rahmat Ismarica, Ismarica Istifarini, Mita Ita Apriani Jefry Jefry Jr., Muhammad Zairin Jufri, Fatahillah Maulana Juli Ekasari Julia Eka Astarini Julie Ekasari Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun Karno Setyotomo Ketut Sugama Ketut Sugama Khasanah, Noviati Rohmatul Kukuh Nirmala Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti La Muhamad, Idul M. Zairin Junior M.A. Suprayudi MA Suprayudi Mala Nurilmala Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno, Mas Tri Djoko Maulana, Fajar Mohammad Mukhlis Kamal Muhamad Yamin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Safir Muhammad Zairin Jr. MUNTI YUHANA N. Nurjanah N.B.P Utomo N.R. Azwar Nadisa Theresia Putri Naufal, Muhammad Restya nFN Safratilofa Niagara, Niagara Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyoutomo Nur Hikma Mahasu Nur, Abidin Nuraini Annisa, Nuraini Nurhayati Nurhayati Nuri Kamaliah, Syarifah Nurly Faridah Octaviana, Myrza Fikry Odang Carman Ode, Inem P. Purnama Pangentasari, Dwinda Pattipeilohy, Christian Ernsz Pratama, Muhammad Aldo Puji Hastuti, Yuni Putri Pratamaningrum Arifin Putri Utami, Putri Putri, Anisa Permata Putri, Savira Nurindra R. Affandi Rahma, Balqis Aulia Rahmadani Rahmadani Rakhmawati, Rakhmawati, Ranti Melasari Rasidi Rasidi Rasidi, Rasidi Retno Astrini Reza Samsudin RIDWAN AFFANDI Riska Diana Rizkan Fahmi Ronny I. Wahju Rosliana, Rosliana Shella Marlinda Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho Siti Khodijah SITI KHODIJAH Siti Murniasih Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci antoro Suclyadi Dairun Sujono Sujono Sukenda . Sukenda Sukenda Sukenda Sukenda Sumantri, Iwan Sumiana, I Kadek Suryadi Saputra Syefti Palmi, Revita T.M. Haja Almuqaramah Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Thoy Batun Citra Rahmadani TI Winarno Toshiro Masumoto Triana Retno Palupi Upmal Deswira Uttari Dewi W Manalu W. Manalu Wahyu Pamungkas Wahyudi, Imam Tri WAODE MUNAENI Wasjan WIDANARNI WIDANARNI Widya Puspitasari Wildan Nurussalam Windu Sukenda Wiwik Hildayanti Wiyoto Wiyoto, Wiyoto Y. Hadiroseyani Yonvitner - Yuli Andriani Yuni Puji Hastuti