Articles
Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Fraktur Tertutup Dengan Pemberian Terapi Kompres Dingin
Made Suryani;
Edy Soesanto
Ners Muda Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v1i3.6304
Nyeri merupakan sensasi yang tidak menyenangkan baik secara sensori maupun emosional bagi penderitanya, sehingga apabila tidak diatasi individu merasa tidak nyaman dan menderita yang akhirnya akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan psikis. Mengatasi nyeri fraktur tertutup dapat menggunakan cara non farmakologis salah satunya terapi kompres dingin. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui penurunan nyeri pasien fraktur tertutup setelah pemberian kompres dingin. Studi kasus ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Terapi kompres dingin dilakukan selama 3 hari, dalam 1 hari pemberian 1 kali dengan durasi 5-10 menit. Subjek pada studi kasus ini yaitu 2 pasien fraktur tertutup dengan gejala nyeri sedang yang diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan melakukan pre and post test tingkat nyeri dengan menggunakan lembar observasi numerical rating scale (NRS). Hasil studi kasus menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri setelah dilakukan terapi kompres dingin pada kedua pasien fraktur tertutup. Subjek 1 pada studi kasus terjadi penurunan intensitas nyeri sebesar 3 dan subjek 2 terjadi penurunan intensitas nyeri sebesar 2. Terapi kompres dingin mampu menurunkan tingkat nyeri pada pasien dengan fraktur tertutup.
Penurunan nyeri pada pasien post tiroidektomi menggunakan terapi musik suara alam
Marsella Eka Wardani;
Edy Soesanto
Ners Muda Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v3i1.6280
Nyeri bersifat subjektif dan merupakan sensasi rasa yang tidak nyaman, dampak yang yang akan terjadi pada pasien setelah melakukan tindakan pembedahan berupa nyeri. Upaya untuk menurunkan nyeri menggunakan terapi non farmakologi musik suara alam. Studi kasus ini bertujuan untuk mengurangi tingkat nyeri, memperbaiki kondisi fisik, emosional, dan kesehatan spiritual pasien. Desain studi kasus yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan, subjek studi kasus ini adalah pasien post tiroidektomi yang melakukan rawat inap yang berjumlah 2 orang. Pengambilan data nyeri dilakukan sebelum dan sesudah penerapan terapi musik suara alam, penerapan dilakukan 5 hari dengan durasi 30 menit. Setelah dilakukan terapi musik suara alam terdapat penurunan tingkat nyeri dari nyeri sedang kenyeri ringan pada kedua pasien dengan rata-rata 3. Musik suara alam terbukti mampu menurunkan nyeri post tiroidektomi.
Penurunan tekanan darah pasien hipertensi menggunakan terapi rendam kaki air hangat dengan campuran garam dan serai
Alifia Ingesti Augin;
Edy Soesanto
Ners Muda Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v3i2.8240
Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah lanjut usia terbanyak di dunia, pada tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia sebanyak 18,781 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2025 jumlahnya akan mencapai 36 juta jiwa dan hipertensi juga menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pengobatan hipertensi dapat dilakukan secara farmakologis dan non farmakologis. Salah satu terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi hipertensi adalah dengan terapi rendam air hangat dengan campuran garam dan serai. Studi ini bertujuan untuk mengetahui Terapi Rendam Kaki Air Hangat Dengan Campuran Garam Dan Serai Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi. Metode yang digunakan adalah desain deskriptif dengan studi kasus asuhan keperawatan menggunakan terapi rendam kaki air hangat dengan campuran garam dan serai pada pasien hipertensi. Responden yang diambil sebanyak dua pasien lanjut usia. Pengambilan data menggunakan Sphygnomanometer digital. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan terapi rendam kaki air hangat dengan campuran garam dan serai selama 1 kali dalam seminggu dalam waktu 10 menit. Setelah diberikan terapi terdapat penurunan tekanan darah pada kedua responden dengan nilai rata-rata penurunan nilai sistole 7,28 dan nilai diastole 12,48. Penerapan terapi rendam kaki air hangat dengan campuran garam dan serai efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.
Pemberian Posisi Pronasi Meningkatkan Saturasi Oksigen pasien Covid-19 dengan High Flow Nasal Canul Oxygen Non Invasive Ventilator Support
Ika Fahmawati;
Edy Soesanto;
Yunie Armiyati
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i1.8159
Virus Covid-19 berdampak pada pemberatan gangguan sistem pernafasan yang menyebabkan angka kematian tinggi yaitu acute respiratory distress syndrome (ARDS) sehingga pertukaran gas menjadi buruk. Posisi pronasi adalah posisi tengkurap yang dimaksudkan untuk meningkatkan ventilasi sehingga pertukaran gas akan lebih baik pada pasien yang terpasang non invasive ventilator. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengaplikasikan evidenced based practice nursing dalam tatalaksana gangguan pertukaran gas menggunakan posisi pronasi. Metode studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan terhadap 2 pasien Covid-19 dengan acute respiratory distress syndrome yang terpasang high flow nasal canula dan saturasi oksigen dibawah 96%. Intervensi dengan memberikan posisi pronasi selama 1 jam dan diukur saturasi oksigennya menggunakan oksimeter yang sudah terkalibrasi. Pemberian intervensi dilakukan selama 3 hari. Hasil studi menunjukkan ada peningkatan saturasi oksigen pada pasien dengan rata-rata peningkatan 3,5%. Posisi pronasi efektif meningkatkan saturasi oksigen pasien covid-19.
Efektivitas Relaksasi Otot Progresif dalam Menurunkan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di RW 04 Kelurahan Gemah Kota Semarang
Lesta Mega Diah Pratiwi;
Edy Soesanto
Ners Muda Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i2.13230
Hipertensi adalah kondisi peningkatan tekanan darah seseorang di atas normal sehingga mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Individu bisa dinilai terkena hipertensi jika didapatkan tekanan darah sistolik >140 mmHg dan diastolik >90 mmHg. Lansia termasuk kelompok yang rentan pada hipertensi. Penatalaksanaan hipertensi terbagi dalam dua upaya yakni non farmakologis dan farmakologis. Pemberian terapi non farmakologis diantaranya melalui relaksasi otot progresif. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif melalui asuhan keperawatan secara komprehensif yang diterapkan dalam waktu 10-20 menit dalam 3 hari secara rutin. Hasil studi kasus yang telah dilakukan diperoleh hasil: Subyek mengalami rata-rata menurunnya tekanan darah sistole yaitu 6,6 mmHg dan tekanan darah diastole 1,6 mmHg. Kesimpulannya bahwa relaksasi otot progresif efektif sebagai penurunan tekanan darah para pasien hipertensi. Saran dari penulis yaitu terapi ini dapat diterapkan sendiri oleh keluarga pasien sehingga dapat lebih menghemat biaya perawatan pasien. Penelitian berikutnya diharapkan dapat mengembangan penerapan ini sehingga dapat memperbarui informasi serta penelitian yang ada.
Edukasi kesehatan perawatan hipertensi dalam meningkatkan perilaku pemeliharan kesehatan dan menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi
Amalia, Nur Ulfa;
Soesanto, Edy
Ners Muda Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v5i2.13407
Hipertensi merupakan penyakit degeneratif dan kronis yang sering terjadi pada lanjut usia (lansia). Hipertensi menduduki proporsi tertinggi dari seluruh penyakit tidak menular sebesar 68,6%. Hipertensi yang tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan komplikasi seperi gagal jantung, gagal ginjal, dan stroke. Komplikasi dapat terjadi oleh beberapa faktor seperti kurangnya pengetahuan dan life style yang buruk. Studi kasus ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan lansia dalam manajemen hipertensi dengan harapan perilaku pemeliharaan kesehatan meningkat dan tekanan darah menurun. Metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan proses asuhan keperawatan. Subjek berjumlah satu orang klien dengan kriteria inklusi usia >60 tahun dengan tekanan darah >140/90 mmHg, tanpa komplikasi, dan telah menandatangani informed consent. Hasil studi kasus menunjukkan adanya peningkatan yaitu fungsi kognitif 93%, afektif 87% dan psikomotor 66%. Edukasi kesehatan menggunakan media leaflet dapat meningkatkan pengetahuan dan merubah perilaku pemeliharaan kesehatan dan menurunkan tekanan darah dari 169/97 mmHg menjadi 145/91 mmHg.
Penerapan edukasi metode audio visual terhadap self management pada lansia penderita hipertensi
Cabral, Gloria;
Soesanto, Edy;
Ernawati, Ernawati;
Aisah, Siti
Ners Muda Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v5i1.11841
Hipertensi pada lansia jika tidak terkontrol akan menimbulkan komplikasi, maka dari itu lansia perlu memahami terkait hipertensi dan melakukan self-management untuk menjaga kestabilan tekanan darah. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penerapan metode edukasi audiovisual dapat meningkatkan self-management pada lansia penderita hipertensi di Wilayah Kelurahan Meteseh RW 21 RT 04. Studi ini menggunakan metode studi kasus deskriptif berfokus pada kasus dan dianalisis dengan menerapkan asuhan keperawatan, sampel pada studi kasus ini dipilih sesuai dengan kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan lembar kuesioner dan alat pengukuran tekanan darah digital, prosedur pada studi kasus ini sebelum diberikan edukasi audiovisual durasi 8 menit, tekanan darah diukur dan mengkaji tingkat pengetahuan terkait hipertensi, setelah 7 hari diberikan penerapan dilakukan evaluasi. Lansia yang mengalami hipertensi mampu meningkatkan self-management, pengetahuan lansia meningkat, serta penurunan tekanan darah. Studi kasus ini yaitu edukasi audiovisual efektif dalam meningkatkan self-management pada lansia penderita hipertensi.
Penerapan teknik relaksasi benson untuk mengurangi nyeri pada pasien infark miokard acut
Ali, Ahmad;
Soesanto, Edy
Ners Muda Vol 5, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v5i3.9194
Infark Miokard Acut (IMA) adalah suatu nekrosis miokardium yang diakibatkan oleh ketidak adekuatan pasokan darah akibat dari sumbatan akut pada arteri koroner. Tanda dan gejala khas yang dialami pada pasien IMA adalah nyeri dada seperti diremas-remas, ditekan, ditusuk, panas atau ditindih barang berat. Pemberian terapi farmakologi seperti oksigen, nitrogliserin dan aspirin dapat menurunkan nyeri IMA, akan tetapi ketika efek obat mulai berkurang atau hilang pasien masih merasakan nyeri, sehingga perlu terapi komplementer untuk membantu menurunkan nyeri pasien IMA. Tujuan dari penulis untuk menerapkan relaksasi benson untuk menurunkan nyeri dada pada asuhan keperawatan Infark Miokard Acut (IMA). Metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan yang melibatkan 2 subjek yaitu pasien yang mengalami nyeri dada karena infark miokard akut. Intervensi di lakukan sebanyak 1 kali sehari dalam 2 hari dengan lama intervensi 30 menit. Hasil evaluasi di dapatkan, adanya penurunan nyeri dari skala 5 menjad skala 2 pada pasien 1 dan nyeri skala 5 turun menjadi skala 1 pada pasien 2. Kombinasi terapi farmakologi dengan relaksasi benson efektif terhadap penurunan skala nyeri. Saran relaksasi benson dapat di gunakan sebagai terapi komplementer dalam menurunkan nyeri pasien IMA.
Penerapan Pemberian Kapsul Ekstrak Daun Kelor Untuk Meningkatkan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri Dengan Anemia
Audia Pebriani;
Siti Aisah;
Edy Soesanto
Ners Muda Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v6i3.17530
Latar Belakang : Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi pengangkut oksigen dalam darah (hemoglobin) tidak mencukupi kebutuhan fisiologis. Masa pubertas sangat berisiko mengalami anemia gizi besi, hal ini disebabkan banyaknya zat besi yang hilang selama menstruasi. Cara untuk menanggulangi atau mencegah terjadinya anemia defisiensi besi yaitu dengan farmakologi (pemberian tablet tambah darah) dan non farmakologi, dan intervensi yang diberikan ialah pemberian ekstrak kapsul daun kelor 500mg, 2x1 yang dikonsumsi selama 14 hari. Tujuan : Pemberian ekstrak kapsul daun kelor ini bertujuan untuk meningkatkan HB dan menangani anemia. Metode : Desain studi ini menggunakan desain studi kasus singlecase dengan pendekatan studi pre and post test yang dilakukan dengan rangkaian proses asuhan keperawatan. Kriteria dalam subjek studi kasus ini adalah remaja putri yang berusia 16-18 tahun. Hasil : Pemberian ekstrak kapsul daun kelor efektif dalam meningkatkan kadar HB pada remaja putri yang mengalami anemia, dengan Δ rerata 1.4 g/dl. Kesimpulan : Pemberian kapsul ekstrak daun kelor yang diberikan dua kali sehari selama 14 hari dan konsumsi tablet tambah darah 1x/minggu, disertai pola makan yang baik dengan kualitas makanan yang mengandung banyak sumber gizi dan protein terbukti dapat meningkatkan kadar hemoglobin (HB).