cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsied@unisba.ac.id
Phone
+6285157882369
Journal Mail Official
bcsied@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Islamic Education
ISSN : -     EISSN : 28282515     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsied.v2i2
Bandung Conference Series Islamic Education (BCSIED) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Pendidikan Agama Islam dengan ruang lingkup Akhlak Pendidik, Baca Tulis Quran, Iman, Taqwa, Karakter Kurikulum lokal, Kedisiplinan siswa, Kemandirian, Berbusana Muslimah, Kewajiban Suami, Konsep Pendidikan, Manajemen Tahfidz Quran, Manajemen Kepesantrenan, Manajemen Pendidikan, Manajemen Waktu, Mawaddah, Mentoring, Metode Tikrar, Model Pembinaan, Model Project Based Learning, Mufassir, Nilai Pendidikan, Pembelajaran Kitab Kuning, Pembelajaran Tahsin, Pendidikan Karakter, Rahmah (Sikap), Rasa Syukur (Hifdzun nafs), Religius Menulis, Remaja, Sakinah, Tanggung Jawab Pendidik. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari yang ahli dalam bidangnya.
Articles 477 Documents
Menguatkan Akhlak Pergaulan Remaja dari Rumah: Sikap, Tindakan, dan Hambatan Orang Tua dalam Membina Akhlak Pergaulan Sesama Remaja Siswa Kelas VIII SMP di Kabupaten Bandung Barat Nurdin Mulyono
Bandung Conference Series: Islamic Education 842-849
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25671

Abstract

Abstract. Adolescence, particularly at the age of eighth-grade junior high school students, is a period when the influence of peers and the digital environment is at its strongest, while the moral character of social interaction is still being formed. This article is based on a thesis study examining the role of the family, especially parents, in fostering moral conduct among peers among eighth-grade students at a junior high school in West Bandung Regency. The study used a qualitative approach with a survey method, involving parents as the main subjects, eighth-grade students as complementary subjects for source triangulation, and an Islamic Religious Education (PAI) teacher as supporting data. Data were collected through open-ended questionnaires, interviews, and observation, then analyzed using the Miles and Huberman model. The results show that parental attitudes toward fostering children's moral conduct are generally positive, parental actions are realized through four main patterns, namely supervision, exemplary behavior, rule enforcement, and admonition, while the obstacles faced are mostly external, such as environmental influence, gadgets, social media, and communication barriers with children. This article discusses these findings more broadly, linking them to the Qur'an, hadith, and theories of moral education and adolescent developmental psychology, while offering practical recommendations for parents, schools, and education stakeholders. Keywords: family role, moral conduct, adolescents, parents, Islamic religious education. Abstrak. Masa remaja, terutama pada usia siswa kelas VIII SMP, merupakan periode ketika pengaruh teman sebaya dan lingkungan digital berada pada titik paling kuat, sementara akhlak pergaulan anak masih terus dibentuk. Artikel ini disusun berdasarkan hasil penelitian skripsi yang mengkaji peran keluarga, khususnya orang tua, dalam membina akhlak pergaulan sesama remaja pada siswa kelas VIII di salah satu SMP di Kabupaten Bandung Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode survei, melibatkan orang tua siswa sebagai subjek utama, siswa kelas VIII sebagai subjek pelengkap untuk triangulasi sumber, dan seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai data pendukung. Data dikumpulkan melalui angket terbuka, wawancara, dan observasi, lalu dianalisis dengan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap orang tua terhadap pembinaan akhlak pergaulan anak pada umumnya positif, tindakan orang tua terwujud melalui empat pola utama yaitu pengawasan, keteladanan, penerapan aturan, dan teguran, sedangkan hambatan yang dihadapi lebih banyak bersumber dari faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan, gawai, media sosial, dan kendala komunikasi dengan anak. Artikel ini mengulas temuan tersebut secara lebih luas, mengaitkannya dengan landasan Al-Qur'an, hadis, serta teori pendidikan akhlak dan psikologi perkembangan remaja, sekaligus menawarkan rekomendasi praktis bagi orang tua, sekolah, dan pemangku kepentingan pendidikan. Kata Kunci: peran keluarga, akhlak pergaulan, remaja, orang tua, pendidikan agama Islam.
Konsep Pendidikan Paulo Freire tentang Banking Education dan Relevansinya bagi Pengembangan Sikap Kritis Siswa dalam Pendidikan Agama Islam Ibnu Syakie Nur Ilham; A. Mujahid Rasyid; M. Imam Pamungkas
Bandung Conference Series: Islamic Education
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25764

Abstract

Abstract. This study addresses the gap between the ideal goals of Islamic Religious Education (PAI) in Indonesia, namely shaping learners who are faithful, morally upright, and capable of critical thinking, and the classroom reality in which many schools still deliver PAI instruction one-directionally, resembling the “banking education” model criticized by Paulo Freire. The research aims to: (1) analyze Freire’s concept of banking education; (2) examine his critique of banking education in relation to the development of students’ critical consciousness; (3) examine problem-posing education as an alternative to banking education; and (4) analyze the relevance of the banking education concept for developing students’ critical attitudes in PAI instruction. Using a qualitative approach through library research, the study draws primarily on Freire’s original works, particularly Pedagogy of the Oppressed, supported by books, journal articles, and prior studies, and analyzed through descriptive-qualitative content analysis. The findings show that banking education positions the teacher as the sole holder of knowledge and students as passive recipients, thereby inhibiting the growth of critical consciousness (conscientization). As an alternative, Freire proposes problem-posing education, a dialogical and participatory model. The concept of banking education proves diagnostically relevant for identifying structural problems in PAI instruction that still relies heavily on lecturing and rote memorization, while problem-posing education offers constructive inspiration, epistemologically, methodologically, and in terms of teachers’ roles, for developing a more dialogical and reflective PAI pedagogy aligned with Islamic values such as tafakkur, tadabbur, and syura. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan antara tujuan ideal Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk peserta didik yang beriman, berakhlak, dan berpikir kritis dengan realitas pembelajaran PAI di sejumlah sekolah yang masih berlangsung satu arah dan menyerupai pola banking education sebagaimana dikritik oleh Paulo Freire. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis konsep banking education menurut Paulo Freire; (2) mengkaji kritik Paulo Freire terhadap banking education dalam kaitannya dengan pengembangan kesadaran kritis siswa; (3) mengkaji konsep problem-posing education sebagai alternatif banking education; dan (4) menganalisis relevansi konsep banking education bagi pengembangan sikap kritis siswa dalam pembelajaran PAI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), menjadikan karya-karya Paulo Freire, terutama Pedagogy of the Oppressed, sebagai sumber data primer, didukung sumber sekunder berupa buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan, yang dianalisis secara deskriptif-kualitatif melalui teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa banking education menempatkan guru sebagai satu-satunya pemilik pengetahuan dan siswa sebagai penerima pasif, sehingga menghambat tumbuhnya kesadaran kritis (conscientization) pada level kognitif, afektif, dan sosial. Sebagai alternatif, Freire menawarkan problem-posing education yang bersifat dialogis dan partisipatif. Konsep banking education terbukti relevan secara diagnostik untuk mengidentifikasi persoalan struktural pembelajaran PAI yang masih banyak mengandalkan metode ceramah dan hafalan, sementara problem-posing education memberikan inspirasi konstruktif pada dimensi epistemologis, metodologis, peran guru, dan tujuan pembelajaran bagi pengembangan model PAI yang lebih dialogis, reflektif, dan selaras dengan nilai-nilai keislaman seperti tafakkur, tadabbur, dan syura, tanpa melepaskan otoritas wahyu.
Implementasi Metode Tilawah Evaluasi Sederhana (T.E.S) Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Dan Menghafal Al- Quran Di Sd Metode T.E.S Baleendah Yuslam Bahari Efendi; Khambali; Ulvah Nura’eni
Bandung Conference Series: Islamic Education 850-855
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25783

Abstract

Abstract. The ability to read and memorize the Qur'an is a fundamental competency that should be developed from the elementary school level. Therefore, an instructional method that is systematic, effective, and appropriate to students' characteristics is needed. This study aims to describe the implementation of the Simple Evaluation Tilawah (T.E.S) Method in improving students' ability to read and memorize the Qur'an at SD Metode T.E.S Baleendah. The study is based on the concepts of instructional implementation, Qur'anic learning theory, and the T.E.S Method, which integrates tilawah (Qur'anic recitation), tahfiz (memorization), murajaah (review), and continuous evaluation. This research employed a qualitative approach using a case study method. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the implementation of the T.E.S Method involves systematic planning, learning activities tailored to students' abilities, continuous formative and summative evaluations, and the management of learning challenges through placement tests, teacher guidance, and collaboration with parents. The study concludes that the T.E.S Method effectively supports the improvement of students' ability to read and memorize the Qur'an while creating a structured, adaptive, and sustainable learning process. Keywords: Instructional Implementation, T.E.S Method, Qur’an Reading, Qur’an Memorization, Elementary School. Abstrak. Kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur'an merupakan kompetensi dasar yang perlu ditanamkan sejak usia sekolah dasar. Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran yang terstruktur, efektif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi Metode Tilawah Evaluasi Sederhana (T.E.S) dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur'an di SD Metode T.E.S Baleendah. Penelitian ini didasarkan pada konsep implementasi pembelajaran, teori pembelajaran Al-Qur’an, serta kajian mengenai Metode T.E.S sebagai pendekatan yang mengintegrasikan tilawah, tahfiz, murajaah, dan evaluasi berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Metode T.E.S dilaksanakan melalui perencanaan yang sistematis, pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik, evaluasi formatif dan sumatif yang berkelanjutan, serta penanganan kendala melalui placement test, pendampingan guru, dan kerja sama dengan orang tua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Metode T.E.S mampu mendukung peningkatan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an serta menciptakan proses pembelajaran yang terstruktur, adaptif, dan berkesinambungan Kata kunci: Implementasi Pembelajaran, Metode T.E.S, Membaca Al-Qur’an, Menghafal Al-Qur’an, Sekolah Dasar
Pengelolaan Program TAQWA (Tahfidz Al-Qur'an Wal Ad'iyyah) Juz 30 di MTs Negeri 2 Bandung Ida Faridah; Nan Rahminawati; Fitroh Hayati
Bandung Conference Series: Islamic Education 872-879
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25807

Abstract

Abstract. This study aims to describe the management of the TAQWA (Tahfidz Al-Qur'an Wal Ad'iyyah) Juz 30 Program at MTs Negeri 2 Bandung, covering the stages of planning, implementation, and evaluation, as well as the supporting and inhibiting factors. A descriptive qualitative approach was used, with data collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman; data validity was ensured through source triangulation. The results show that planning was carried out through the establishment of program objectives and policies, graded memorization targets recorded in the TAQWA Book, the appointment of homeroom teachers as supervisors, and the stipulation of memorization completion as a requirement for grade promotion and graduation. Implementation ran flexibly through talaqqi, muraja'ah, and tasmi' activities that utilized various learning environments, supported by an injury time mechanism for students who had not yet reached the target. Evaluation was conducted continuously on a weekly and semester basis with a minimum completion standard of 85 percent, and the results were used as feedback for program improvement. The supporting factors included the principal's policy, the dedication of homeroom teachers, and the optimal use of the TAQWA Book, while the inhibiting factors consisted of students' varying initial reading ability, fluctuating motivation, limited time, and the limited number of Islamic education teachers. The novelty of this study lies in the integration of learning, monitoring, control, and evaluation functions into a single management system that positions the TAQWA Program as part of the madrasah's academic culture and character education. Keywords: Program Management, Tahfidz Al-Qur'an, TAQWA. Abstrak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengelolaan Program TAQWA (Tahfidz Al-Qur'an Wal Ad'iyyah) Juz 30 di MTs Negeri 2 Bandung yang mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta faktor pendukung dan penghambat program. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, yang dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: perencanaan program dilakukan melalui penetapan tujuan dan kebijakan, penyusunan target hafalan berjenjang dalam Buku TAQWA, penunjukan wali kelas sebagai pembimbing, serta penetapan ketuntasan hafalan sebagai syarat kenaikan kelas dan kelulusan; pelaksanaan program berlangsung secara fleksibel melalui kegiatan talaqqi, muraja'ah, dan tasmi' dengan memanfaatkan berbagai lingkungan belajar, didukung mekanisme injury time; evaluasi dilakukan secara berkelanjutan melalui evaluasi mingguan dan semesteran dengan standar ketuntasan minimal 85%, dan hasilnya dijadikan umpan balik bagi perbaikan program; sedangkan faktor pendukung meliputi kebijakan kepala madrasah, dedikasi wali kelas, dan optimalisasi Buku TAQWA, sementara faktor penghambat meliputi keberagaman kemampuan awal peserta didik, fluktuasi motivasi, keterbatasan waktu, dan keterbatasan jumlah guru Pendidikan Agama Islam. Kebaruan penelitian ini terletak pada ditemukannya pola pengelolaan yang mengintegrasikan fungsi pembelajaran, monitoring, pengendalian, dan evaluasi dalam satu sistem sehingga Program TAQWA menjadi bagian dari budaya akademik dan pembinaan karakter religius peserta didik. Kata Kunci: Pengelolaan Program, Tahfidz Al-Qur'an, TAQWA.
Efektivitas Metode Tartil Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur'an Pada Siswa Kelas VIII Di SMP Negeri 22 Kota Bandung Halimah Tusaidah; Halimah Tusaidah
Bandung Conference Series: Islamic Education 880-887
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25857

Abstract

Abstrak. Kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik karena berkaitan dengan ketepatan makhraj, penerapan tajwid, kefasihan, dan kelancaran membaca. Namun, masih terdapat peserta didik yang mengalami kesulitan membaca Al-Qur’an sesuai kaidah sehingga diperlukan metode pembelajaran yang efektif, salah satunya metode Tartil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan membaca Al-Qur’an peserta didik sebelum dan sesudah penerapan metode Tartil, perbedaan kemampuan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, serta efektivitas metode Tartil dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment dan desain Nonequivalent Control Group Design. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 22 Kota Bandung pada peserta didik kelas VIII C sebagai kelas eksperimen dan VIII D sebagai kelas kontrol. Perlakuan pada kelas eksperimen diberikan sebanyak tiga kali pertemuan menggunakan metode Tartil yang menekankan ketepatan makhraj, penerapan tajwid, dan kelancaran membaca, sedangkan kelas kontrol memperoleh pembelajaran dengan metode konvensional. Data diperoleh melalui observasi, tes (pretest dan posttest), dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, paired sample t-test, dan independent sample t-test, serta diuji validitas dan reliabilitas instrumennya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen meningkat dari 78,57 menjadi 82,33 dengan gain sebesar 3,76 atau persentase peningkatan 4,79%, sedangkan kelas kontrol meningkat dari 76,57 menjadi 78,97 dengan gain sebesar 2,40 atau persentase peningkatan 3,13%. Hasil Independent Sample t-Test memperoleh nilai signifikansi 0,001 < 0,05, dengan nilai posttest kelas eksperimen 4,25% lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Dengan demikian, metode Tartil terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 22 Kota Bandung. Abstract. The ability to read the Qur’an is a fundamental competency that students must possess, as it relates to the accuracy of articulation points (makhraj), the application of tajwid, fluency, and the ability to read smoothly. However, there are still students who struggle to read the Qur’an according to the rules, making an effective teaching method necessary—one of which is the Tartil method. This study aims to determine students’ Qur’an reading skills before and after the implementation of the Tartil method, the differences in skills between the experimental and control classes, and the effectiveness of the Tartil method in improving students’ Qur’an reading skills. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method and a Nonequivalent Control Group Design. The research was conducted at SMP Negeri 22 in Bandung City with eighth-grade students in Class VIII C serving as the experimental class and Class VIII D as the control class. The experimental class received three sessions using the Tartil method, which emphasizes the accuracy of articulation points (makhraj), the application of tajwid, and reading fluency, while the control class received instruction using conventional methods. Data were collected through observation, tests (pretest and posttest), and documentation, then analyzed using descriptive statistics, normality tests, homogeneity tests, paired-sample t-tests, and independent-sample t-tests; the validity and reliability of the instruments were also tested. The results of the study showed that the average score of the experimental class increased from 78.57 to 82.33, with a gain of 3.76 or a percentage increase of 4.79%, while the control class increased from 76.57 to 78.97, with a gain of 2.40 or a percentage increase of 3.13%. The results of the independent samples t-test yielded a significance value of 0.001 < 0.05, with the experimental class’s posttest score being 4.25% higher than that of the control class. Thus, the Tartil method proved effective in improving the Qur’an reading skills of eighth-grade students at SMP Negeri 22 in Bandung.
Efektivitas Metode Jurnaling Berbasis Muraqabah Dalam Mengurangi Academic Burnout Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VIII di SMPN 3 Cimahi Mauna Yasmin Rahayu; Imam Pamungkas; Enoh
Bandung Conference Series: Islamic Education 888-895
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25895

Abstract

Abstract. Islamic Religious Education (IRE) plays a crucial role in fostering students' spiritual and psychological maturity, particularly in coping with academic pressures that may lead to academic burnout. Academic burnout—comprising emotional exhaustion, cynicism, and reduced self-efficacy—remains widely experienced by students, resulting in decreased motivation and academic performance in IRE. A reflective-spiritual intervention, namely muraqabah-based journaling, is therefore needed to help students manage this condition. This study aims to determine the effectiveness of muraqabah-based journaling in reducing academic burnout among eighth-grade students in the Islamic Religious Education subject at SMPN 3 Cimahi. A quantitative approach with a quasi-experimental nonequivalent control group design was employed, involving an experimental group and a control group. Data were collected through pretests and posttests using an academic burnout scale, then analyzed using validity, reliability, normality, and homogeneity tests, as well as paired-sample and independent-sample t-tests. The results showed that the reduction in academic burnout among students who participated in muraqabah-based journaling was significantly greater than among those who did not. Thus, muraqabah-based journaling is effective in reducing academic burnout among eighth-grade students in the Islamic Religious Education subject at SMPN 3 Cimahi. Keywords: Journaling, muraqabah, academic burnout. Abstrak. Pendidikan Agama Islam (PAI) berperan penting dalam pembentukan kematangan spiritual dan psikologis siswa, khususnya dalam menghadapi tekanan akademik yang dapat memicu academic burnout. Academic burnout yang meliputi kelelahan emosional, sinisme, dan rendahnya efikasi diri masih banyak dialami siswa dan berdampak pada menurunnya motivasi serta hasil belajar PAI. Oleh karena itu, diperlukan intervensi reflektif-spiritual berupa jurnaling berbasis muraqabah untuk membantu siswa mengelola kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas jurnaling berbasis muraqabah dalam menurunkan academic burnout siswa pada mata pelajaran PAI kelas VIII di SMPN 3 Cimahi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen nonequivalent control group, melibatkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui pretest dan posttest menggunakan skala academic burnout, kemudian dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, normalitas, dan homogenitas, serta paired sample t-test dan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan academic burnout siswa yang mengikuti jurnaling berbasis muraqabah jauh lebih signifikan dibandingkan siswa yang tidak mengikuti intervensi tersebut. Dengan demikian, jurnaling berbasis muraqabah efektif dalam menurunkan academic burnout siswa pada mata pelajaran PAI kelas VIII di SMPN 3 Cimahi. Kata Kunci: Jurnaling, muraqabah, academic burnout.
Implementasi Ta'zir dalam Peningkatan Kedisiplinan Shalat Jama'ah Santri Putri di Pondok Pesantren Al-Basyariyah 2 Bandung Hayati; Nan Rahminawati; Khambali
Bandung Conference Series: Islamic Education 902-909
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25931

Abstract

Abstract. Congregational prayer discipline is a fundamental aspect of student life in Islamic boarding schools (pesantren). In practice, however, violations of congregational prayer regulations still occur, so pesantren apply ta’zir, an educational sanction, as a means of guidance. This study examines the forms of ta’zir applied, how ta’zir is implemented, and the supporting and inhibiting factors of ta’zir implementation in improving the congregational prayer discipline of female students at Al-Basyariyah 2 Islamic Boarding School, Bandung. A qualitative approach with a descriptive method was used. Data were collected through observation, interviews, and documentation with the head of the worship division, worship-division administrators, and female students, then analyzed using the Miles and Huberman model and validated through source and technique triangulation. The results show that the forms of ta’zir applied include islahul mubasyir (verbal reprimand), standing, talaran (memorization), tandzif (cleaning), and the use of violation boards and headscarves, given proportionally according to the type and frequency of violation. Implementation proceeds through supervision, violation recording, a student disciplinary forum, and graduated sanctions. Supporting factors include structured supervision, clear written rules, administrators’ consistency, and a culture of mutual reminders among students, while inhibiting factors include a limited number of administrators and students’ psychological adjustment. Ta’zir is concluded to function as an educational instrument that builds discipline, responsibility, and awareness among female students in performing congregational prayer. Keywords: Ta’zir, Congregational Prayer Discipline, Islamic Boarding School. Abstrak. Kedisiplinan shalat jama’ah merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan santri di pondok pesantren. Namun dalam praktiknya masih ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan shalat jama’ah sehingga pesantren menerapkan ta’zir, yaitu sanksi yang bersifat mendidik, sebagai salah satu bentuk pembinaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk ta’zir yang diterapkan, implementasi ta’zir, serta faktor pendukung dan penghambat implementasi ta’zir dalam peningkatan kedisiplinan shalat jama’ah santri putri di Pondok Pesantren Al-Basyariyah 2 Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap ustadzah koordinator bagian ibadah, pengurus bagian ibadah, dan santri putri, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk ta’zir yang diterapkan meliputi islahul mubasyir (teguran), berdiri, talaran (hafalan), tandzif (bersih-bersih), serta penggunaan papan dan kerudung pelanggaran yang diberikan secara proporsional sesuai jenis dan frekuensi pelanggaran. Implementasi ta’zir dilaksanakan melalui tahap pengawasan, pencatatan pelanggaran, forum mahkamah santri, dan pelaksanaan sanksi secara bertahap. Faktor pendukung meliputi pengawasan yang terstruktur, aturan tertulis yang jelas, konsistensi pengurus, serta budaya saling mengingatkan antarsantri, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan jumlah pengurus dan dinamika psikologis santri dalam masa adaptasi. Dapat disimpulkan bahwa ta’zir berfungsi sebagai instrumen pendidikan yang membangun kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran santri putri dalam melaksanakan shalat jama’ah. Kata Kunci: Ta’zir, Kedisiplinan Shalat Jama’ah, Pondok Pesantren.
Strategi Pengelola Pendidikan SDIT Al-Maqom untuk Mempertahankan Tingginya Minat Masyarakat Khalisha Nasywa Setiawan; Nan Rahminawati; Masnipal
Bandung Conference Series: Islamic Education 910-919
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25934

Abstract

Abstract. This study was motivated by the high public interest in SDIT Al-Maqom, shown by applicants exceeding admission capacity and resulting in a waiting list, despite limitations in land, facilities, and financing. This raises the question of how educational managers maintain educational quality and sustain public trust so that interest remains high. The study aims to describe efforts to maintain educational quality, analyze efforts to sustain public trust, and identify challenges faced by educational managers. This research used a qualitative descriptive method, involving the foundation board, principal, teachers, staff, and the admission committee. Data were collected through interviews, observation, and documentation, analyzed using the Miles and Huberman model, and validated through triangulation. Findings, analyzed using Mintzberg's Five Ps of Strategy, reveal that maintaining quality involves policy formulation (Plan), coordination and program evaluation (Pattern), and teacher competence development (Perspective); sustaining trust involves communication and affordable-cost policies (Position), character formation (Perspective), and consistent religious programs (Pattern); while challenges of limited land, facilities, and financing are addressed through adaptive, short-term tactics (Ploy). This research offers a conceptual reference for private Islamic school managers facing similar dynamics of high demand amid limited resources. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya minat masyarakat terhadap SDIT Al-Maqom, ditunjukkan oleh jumlah pendaftar yang melebihi daya tampung sekolah sehingga menimbulkan waiting list, di tengah keterbatasan lahan, sarana-prasarana, dan pembiayaan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan bagaimana pengelola pendidikan menjaga mutu pendidikan dan mempertahankan kepercayaan masyarakat agar minat tersebut tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan upaya menjaga mutu pendidikan, menganalisis upaya mempertahankan kepercayaan masyarakat, serta menemukan tantangan yang dihadapi pengelola pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, melibatkan Yayasan, Kepala Sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan panitia PPDB. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dianalisis dengan model Miles dan Huberman, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi. Hasil penelitian yang dianalisis menggunakan teori Five Ps of Strategy Mintzberg menunjukkan bahwa upaya menjaga mutu tercermin dalam penetapan kebijakan (Plan), koordinasi dan evaluasi program (Pattern), serta peningkatan kompetensi guru (Perspective); upaya mempertahankan kepercayaan tercermin dalam komunikasi dan kebijakan biaya terjangkau (Position), pembentukan karakter (Perspective), serta konsistensi program keagamaan (Pattern); sementara tantangan keterbatasan lahan, sarana, dan pembiayaan direspons melalui taktik adaptif jangka pendek (Ploy). Penelitian ini memberikan referensi konseptual bagi pengelola pendidikan Islam swasta yang menghadapi dinamika serupa antara tingginya permintaan dan keterbatasan sumber daya.
Implementasi Program Pesantren Sabtu Ahad (PETUAH) dalam Meningkatkan Akhlakul Karimah Peserta Didik di SMAN 1 Bantarujeg Muhammad Ikhsan Rizky Fadilla; Dedih Surana; Iwan Sanusi
Bandung Conference Series: Islamic Education 929-936
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25972

Abstract

Abstract. This research is motivated by the challenges of character building in the modern era, marked by declining morals among students. SMAN 1 Bantarujeg responded with the flagship PETUAH program as a systematic effort to shape akhlakul karimah through a pesantren-based approach. Theoretically, PETUAH integrates general education with the pesantren system through intensive weekend activities, this program aiming to instill Islamic values, worship habituation, and noble character awareness. Akhlakul karimah refers to the concept of Ibn Miskawaih and Al-Ghazali as traits embedded in the soul that drive spontaneous actions, encompassing five domains: morals towards Allah, the Prophet, fellow humans (parents, teachers, neighbors, friends), oneself (patience, gratitude, trustworthiness, responsibility, humility), and the environment. The research used a qualitative approach with a descriptive method, while data collection was carried out using in-depth interview techniques, participant observation, and documentation. Informants included the principal, supervising teachers, guidance counselors, students, and pesantren administrators. Data analysis used the Miles, Huberman, and Saldana model, with validity ensured through source and technique triangulation. The findings revealed that planning was conducted systematically through needs identification, objective formulation, collaboration with two pesantren, appointment of supervising teachers, scheduling, and socialization. Implementation was carried out regularly with a two-day-one-night boarding system, including congregational prayers, Qur'an recitation, Islamic studies, worship habituation, and discipline training. Supporting factors included the principal's commitment, pesantren collaboration, parental and community support, and student enthusiasm. Inhibiting factors included weather, distance, schedule conflicts, and lack of motivation among a small number of students. Evaluation was conducted through Qur'an reading assessment, behavioral observation, and mandatory participation as an academic requirement. The implementation results show that the PETUAH program can shape akhlakul karimah (noble character), reflected in improved worship, Qur'an reading ability, respect for teachers, discipline, responsibility, social concern, independence, and environmental awareness. Keywords: Implementation, Islamic Boarding School, PETUAH, Akhlakul Karimah Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan pembentukan karakter peserta didik di era modern, ditandai dengan menurunnya moral di kalangan pelajar. SMAN 1 Bantarujeg merespons dengan program unggulan PETUAH (Pesantren Sabtu Ahad) sebagai upaya sistematis membentuk akhlakul karimah melalui pendekatan berbasis pesantren. Secara teoretis, PETUAH mengintegrasikan pendidikan umum dengan sistem pesantren melalui kegiatan akhir pekan yang intensif, program ini bertujuan menanamkan nilai keislaman, pembiasaan ibadah, dan kesadaran akhlak mulia. Akhlakul karimah merujuk pada konsep Ibnu Miskawaih dan Al-Ghazali sebagai sifat tertanam dalam jiwa yang melahirkan perbuatan spontan, mencakup lima ranah: akhlak kepada Allah, Rasul, sesama manusia, diri sendiri, dan lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, adapun teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Informan terdiri atas kepala sekolah, guru pembimbing, guru BK, peserta didik, dan pengurus pesantren mitra. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana, dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan perencanaan program dilakukan secara sistematis melalui identifikasi kebutuhan, penyusunan tujuan, kerja sama dengan dua pondok pesantren, pembentukan guru pembimbing, penyusunan jadwal, dan sosialisasi. Pelaksanaan berlangsung rutin dengan sistem boarding dua hari satu malam, meliputi shalat berjamaah, tilawah, kajian Islam, pembiasaan ibadah, dan pembinaan disiplin. Faktor pendukung meliputi komitmen kepala sekolah, kerja sama pesantren, dukungan orang tua dan masyarakat, serta antusiasme siswa. Faktor penghambat meliputi cuaca, jarak, benturan jadwal, dan kurangnya motivasi sebagian kecil siswa. Evaluasi dilakukan melalui penilaian baca Al-Qur'an, observasi perilaku, dan kebijakan keikutsertaan sebagai syarat akademik. Hasil implementasi menunjukkan program PETUAH dapat membentuk akhlakul karimah, tercermin dari peningkatan ibadah, kemampuan baca Al-Qur'an, hormat kepada guru, disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemandirian, dan kepedulian lingkungan. Kata Kunci: Implementasi, Pesantren, PETUAH, Akhlakul Karimah
Strategi Guru PAI Membina Percaya Diri melalui Program Muhadloroh Puja Buana Syifa Laduni; Ikin Asikin; Haditsa Qurani Nurhakim
Bandung Conference Series: Islamic Education 937-944
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsied.v6i2.25986

Abstract

Abstrak. Rasa percaya diri merupakan aspek penting yang perlu dikembangkan dalam proses pendidikan karena mendukung kemampuan siswa dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan menyampaikan pendapat. Namun, masih terdapat siswa yang merasa gugup, kurang berani, dan belum yakin terhadap kemampuan dirinya ketika berbicara di depan umum. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah melalui program muhadloroh sebagai wadah latihan berbicara di depan audiens. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membina rasa percaya diri siswa melalui program muhadloroh yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di MTs Ar-Riyadl. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru PAI dilaksanakan secara sistematis melalui perencanaan kegiatan, pelaksanaan yang mencakup pemberian motivasi, bimbingan, latihan, dan kesempatan tampil secara bergiliran, serta evaluasi melalui penilaian, koreksi, dan apresiasi. Strategi tersebut memberikan dampak positif terhadap peningkatan keberanian siswa untuk berbicara di depan umum, kemampuan berkomunikasi, serta rasa percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Dengan demikian, program muhadloroh menjadi salah satu strategi yang efektif dalam membina rasa percaya diri siswa melalui pembiasaan dan pendampingan secara berkelanjutan. Abstract. Self-confidence is an important aspect that needs to be developed in the educational process because it supports students' ability to communicate, interact, and express opinions. However, some students still feel nervous, lack courage, and are unsure of their abilities when speaking in public. One effort that can be done to overcome this condition is through the muhadloroh program as a forum for practicing speaking in front of an audience. This study aims to describe the strategies of Islamic Religious Education (PAI) teachers in fostering student self-confidence through the muhadloroh program, which includes the planning, implementation, and evaluation stages. The study used a qualitative approach with a case study method at MTs Ar-Riyadl. Data were obtained through observation, interviews, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model, while data validity was tested through triangulation of sources, techniques, and time. The results showed that the PAI teacher's strategies were implemented systematically through activity planning, implementation that included providing motivation, guidance, practice, and opportunities to perform in turns, as well as evaluation through assessment, correction, and appreciation. This strategy had a positive impact on increasing students' courage to speak in public, their communication skills, and their confidence in expressing opinions. Thus, the muhadloroh program is an effective strategy in fostering students' self-confidence through continuous habituation and mentoring.