Claim Missing Document
Check
Articles

Stress responses of transportation on red tilapia which given feed containing chromium Rakhmawati, Rakhmawati,; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Widanarni, Widanarni,; Junior, Muhammad Zairin; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3422.17 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.16-25

Abstract

ABSTRACTThis study was conducted to evaluate stress responses of transportation on red tilapia Oreochromis sp. which given feed containing chromium. Three isonitrogenous and isocaloric experimental feeds were prepared, these diets were control (without chromium), CrPic 1 mg/kg, and CrYst 2 mg/kg supplementation in feed, all group were arranged triplicate. Satiation feeding was done three times a day. After a 60-day feeding experiment, the experimental fishes were fasted and distributed in polyethylene bags (N=60 fish/bag) containing 3 L of water, subjected to condition of transport simulation for 13 hours. Survival rate, levels of plasma cortisol, blood glucose, superoxide dismutase (SOD), and malondialdehyde (MDA) enzyme were observed at before transportation, after transportation, one day, and two days after transportation. The result showed that chromium supplementation reduced the levels of plasma cortisol before and after transportation, one day, and two days after transportation. Also, it decreased blood glucose compared with control significantly before transportation and one day after transportation. The SOD enzyme concentration increased significantly after fish was fed with feed containing chromium for 30 days, while the MDA enzyme concentration increased significantly after two days of transportation. However, there was no significant difference in the survival of red tilapia between treatments. The best result was obtained in the treatment of fish which fed with feed containing chromium. CrPic supplementation 1 mg/kg and CrYst 2 mg/kg increased the body resistance in red tilapia by decreasing the negative effect of stress while transportation. Keywords: stress, transportation, red tilapia, chromium  ABSTRAKPenelitian dilakukan untuk mengevaluasi respons stres transportasi ikan nila merah Oreochromis sp. yang diberikan pakan yang mengandung kromium. Pada penelitian ini digunakan tiga jenis pakan, terdiri atas pakan tanpa suplementasi kromium (kontrol), pakan bersuplementasi kromium pikolinat (CrPic 1 mg/kg), dan kromium yeast (CrYst 2 mg/kg), semua perlakuan diulang sebanyak tiga ulangan. Pemberian pakan sebanyak tiga kali sehari dan dilakukan secara at satiation. Setelah 30 hari pemeliharaan, ikan uji dipuasakan dan didistribusikan dalam plastik polietilen (N=60 ekor ikan/kantong plastik) yang berisi 3 L air, dilakukan dengan simulasi transportasi selama 13 jam. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kelangsungan hidup, kortisol, glukosa darah, enzim superoksida dismustase (SOD), dan malondialdehida (MDA) saat sebelum transportasi, sesaat setelah transportasi, sehari, dan dua hari setelah transportasi. Hasil yang didapatkan adalah suplementasi kromium menurunkan konsentrasi kortisol secara signifikan sebelum transportasi, sesaat, sehari, dan dua hari setelah transportasi. Suplementasi kromium menurunkan glukosa darah secara signifikan pada saat sebelum transportasi dan sehari setelah transportasi. Konsentrasi enzim SOD meningkat secara signifikan setelah pemberian pakan bersuplementasi kromium selama 30 hari, sedangkan konsentrasi enzim MDA meningkat secara signifikan setelah dua hari transportasi pada ikan yang diberi pakan bersuplementasi kromium. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan pada kelangsungan hidup ikan nila merah antarperlakuan. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan ikan dengan suplementasi kromium. Suplementasi 1 mg/kg CrPic dan 2 mg/kg CrYst dapat meningkatkan daya tahan tubuh pada budidaya ikan nila merah dengan menurunkan pengaruh negatif stres akibat transportasi. Kata kunci: stres, transportasi, nila merah, kromium
Utilization of cinnamon Cinnamomum burmannii leaves and shrimp head in the feed on growth performance of catfish Pangasianodon hypopthalmus Dairun, Suclyadi; Setiawati, Mia; Suprayudi, Muhammad Agus; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3324.195 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.87-93

Abstract

ABSTRACTCatfish farming has confronted with the problem of slow growth to reach the fillet size and less tender of fish fillets. This study aimed to investigate the effect of cinnamon leaf flour and shrimp head flour in formulated diets on growth of catfish Pangasianodon hypopthalamus. Catfish with an initial weight of 207.04 ± 2.70 g/fish reared in 12 cages with a dimension of  2×1×1.5 m3 (L×W×H)  and its fish density was 15 fishes for 60 days. Fish were fed with following experimental diets: (1) Control; (2) cinnamon leaf (1%) (CL); (3) 45% of protein source from shrimp head (SH); (4) CL+SH mix.  The fishes fed twice a day with feeding rate 3.5% of fish biomass. The study found that the use of cinnamon leaf and shrimp head increased the specific growth rate 1.67-1.70%, the feed efficiency 57.55-57.67%, and protein retention 55.61% compared to its control (P<0.05). Triglyceride level, cholesterol, and blood HDL were 416.00-524.05 mg/dL, 139.65-156.68 mg/dL, 73.18-103.70 mg/dL (P>0.05), respectively. HSI value ranged between 0.3-1.9% compared to its control (P<0.05).Keywords: Cinnamomum burmannii, feed, growth, Pangasianodon hypopthalmus, shrimp head.  ABSTRAKBudidaya ikan patin dihadapkan pada permasalahan pertumbuhan dan kualitas daging yaitu pertumbuhan yang lambat untuk mencapai ukuran fillet serta tekstur daging kurang kompak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh penggunaan tepung daun kayu manis dan tepung kepala udang dalam pakan terhadap pertumbuhan ikan patin Pangasianodon hypopthalmus. Ikan patin dengan bobot 207,04 ± 2,70 g/ekordipelihara selama 60 hari di hapa sebanyak 12 buah (berukuran 2×1×1,5 m3)dengan padat tebar 15 ekor/jaring. Ikan diberi pakan perlakuan yang terdiri dari: (1) Kontrol; (2) daun kayu manis 1% (DKM); (3) 45% sumber protein dari kepala udang (TKU); dan (4) campuran DKM+TKU. Pemberian pakan sebanyak 2 kali sehari dengan feeding rate 3,5% dari biomassa ikan. Hasil dari penelitian penggunaan daun kayu manis dan kepala udang meningkatkan nilai laju pertumbuhan harian 1,67-1,70%, efisiensi pakan 57,55-57,67% dan retensi protein 55,61% dibanding kontrol (P<0,05). Kadar trigliserida, kolesterol, dan HDL darah berturut-turut adalah 416,00-524,05 mg/dL, 139,65-156,68 mg/dL, 73,18-103,70 mg/dL (P>0,05). Nilai HSI ikan patin berkisar antara 0,3-1,9% dibanding kontrol (P<0,05).Kata kunci: Cinnamomum burmannii, kepala udang, pakan, Pangasianodon hypopthalmus, pertumbuhan. 
The growth performance and resistance to salinity stress of striped catfish Pangasius sp. juvenile in biofloc system with different feeding rates Meritha, Wellya Wichi; Suprayudi, Muhammad Agus; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3346.398 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.113-119

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to evaluate the growth performance and resistance to salinity stress of striped catfish juvenile reared in biofloc with different feeding rate (FR). The treatments applied in this study were rearing the fish in biofloc with FR 5% and 8% of biomass per day, and rearing the fish with a FR of 8% per day without biofloc system as the control. The fish with an initial average length of 1.81 ± 0.20 cm were stocked in 9 units of  50 L aquaria with density of 40 ind/aquaria (800 ind/m3) for 15 days rearing period. In biofloc systems, the addition of tapioca as a source of organic carbon was done every day with an estimated C/N ratio of 10. No water exchange was done in biofloc systems, whereas regular water exchange was applied in the control. Results of the experiment showed that survival was not significantly different amongst treatments (P>0.05).  However, the specific growth rate of the fish in biofloc system with a FR of 8% per day showed the highest value and was significantly different from other treatments (P<0.05). Fish reared in biofloc system tend to have lower feed conversion ratios (FCRs) than the control. The lowest FCR was found in fish reared in biofloc system with 5% FR and significantly lower than control (P<0.05).  Salinity stress test was conducted by soaking 15 juveniles in water with a salinity of 20 g/L for an hour. The survival of fish after salinity stress test were significantly higher for fish reared in bifloc system than control (P<0.05). These data showed that rearing striped catfish juvenile in biofloc system could reduce FCR, increase the growth, and robustness of fish. Keywords: biofloc, feeding rate, growth, salinity stress test, striped catfish  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan dan ketahanan benih ikan patin terhadap stres salinitas yang dipelihara dalam sistem bioflok dengan tingkat pemberian pakan (FR) berbeda. Perlakuan yang terdapat dalam penelitian ini adalah benih patin yang dipelihara dalam sistem bioflok dengan FR 5% dan 8% per hari, dan pemeliharaan benih dengan FR 8% per hari tanpa penambahan sumber karbon sebagai kontrol. Benih patin dengan panjang rata-rata awal 1,81 ± 0,20 cm dipelihara dalam 9 unit akuarium dengan volume air 50 L dan kepadatan 40 ekor/akuarium (800 ekor/m3) selama 15 hari. Pada sistem bioflok, penambahan tapioka sebagai sumber karbon dilakukan setiap hari dengan C/N 10. Pada sistem bioflok tidak dilakukan pergantian air, sedangkan pada kontrol dilakukan pergantian air. Kelangsungan hidup ikan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Namun, tingkat pertumbuhan spesifik ikan dalam sistem bioflok dengan FR 8% per hari menunjukkan nilai tertinggi dan berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05). Benih yang dipelihara pada sistem bioflok memiliki rasio konversi pakan (FCR) yang lebih rendah dibandingkan kontrol, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan bioflok (P>0,05). Uji stres salinitas dilakukan dengan merendam 15 ekor benih patin pada air dengan salinitas 20 g/L selama satu jam. Kelangsungan hidup setelah uji stres salinitas dari benih yang dipelihara di bioflok secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kontrol (P<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan benih patin pada sistem bioflok dapat menurunkan FCR, dan meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan ikan terhadap stres salinitas. Kata kunci: bioflok, feeding rate, pertumbuhan, uji stres salinitas, ikan patin 
Biochemical study of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced by PMSG hormone + anti‒dopamine and turmeric addition Arfah, Harton; Sudrajat, Agus Oman; Suprayudi, Muhammad Agus; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3416.018 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.191-198

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate biochemical changes (cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, glucose, and plasma protein) on striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced with PMSG hormone and turmeric addition. An observation was also done to blood glycogen content. The striped catfish broodstock was fed on commercial feed without any addition (control) and with turmeric addition (HKu). In control treatment, there was a decreasing on cholesterol, meanwhile, the triglyceride (TG) value was increased. The HDL concentration was decreased in 2nd sampling and increased in 4th sampling. In 1st until 4th sampling, glucose was quite stable, while LDL was on extremely low concentration. In HKu treatment, the cholesterol value was higher than the control treatment. The TG concentration also higher than control in 3rd sampling and decreased in 4th sampling. The HDL concentration was increased and higher than the control treatment, while LDL concentration was lower. The liver glycogen content on the control and HKu treatment were 0.015 (mg/100 mL) and 0.181 (mg/100 mL) respectively; while in the flesh of the control and HKu treatment were 0.76 (mg/100 mL) and 1.19 (mg/100 mL) respectively; and in the gonad of control and HKu treatment were 0.10 (mg/100 mL) and 0.70 (mg/100 mL) respectively. It was shown that the glycogen content in the liver, flesh, and gonad on experimental fish was higher than control treatment. Keywords : biochemistry, hormone, turmeric, channel catfish, reproduction  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan biokimia (kolesterol, trigliserida, HDL, LDL, glukosa dan protein plasma) induk ikan patin Pangasianodon hypophthalmus yang diberi perlakuan hormon PMSG dan kunyit (HKu). Pengamatan juga dilakukan terhadap glikogen dalam darah induk patin. Induk ikan patin diberi pakan tanpa penambahan kunyit (kontrol) dan pakan yang diberi HKu. Hasil penelitian pada kontrol menunjukkan adanya penurunan kolesterol, sedangkan pada TG mengalami peningkatan. HDL menurun pada sampling ke‒2 dan meningkat pada sampling ke‒4. Sementara itu, pada LDL rendah sekali dan pada glukosa terlihat stabil dari sampling ke‒1 sampai ke‒4. Pada perlakuan HKu terlihat bahwa pada kolesterol menghasilkan nilai lebih tinggi dibanding kontrol. Pada TG terlihat juga nilai lebih tinggi dibanding kontrol pada sampling ke‒3 dan menurun pada sampling ke‒4. Konsentrasi HDL meningkat dan lebih tinggi dibanding kontrol, sedangkan nilai LDL lebih rendah. Data yang diperoleh pada kadar glikogen hati perlakuan kontrol adalah 0,015 (mg/100 mL) dan HKu 0,181 (mg/100 mL); sedangkan pada daging kontrol sebesar 0,76 (mg/100 mL) dan HKu 1,19 (mg/100 mL); serta gonad kontrol 0,10 (mg/100 mL) dan HKu 0,70 (mg/100 mL). Hal ini menunjukkan kadar glikogen pada hati, daging, dan gonad ikan yang diberi perlakuan bernilai lebih tinggi dibanding kontrol.           Kata kunci : biokimia, hormon, kunyit, ikan patin, reproduksi  
The digestibility of biofloc meal from African catfish culture medium as a feed raw material for Pacific white shrimp Ekasari, Julie; Suprayudi, Muhammad Agus; Elas, Putri; Senja, Reza Karunia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3465.216 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.1-8

Abstract

ABSTRACTThis study was conducted to evaluate the digestibility of biofloc meal collected from catfish culture as a feed raw material for Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei diet. A basal feed with 43% crude protein content was used as a control diet and mixed with 2% of binders and 0.5 % of Cr2O3 as a marker for digestibility. The experimental diets were made by mixing 67.5% of the basal diet with 30% of biofloc meal, 2% of binders and 0.5 % of Cr2O3. Nine units of glass tanks (90 cm ×40 cm× 35 cm) filled with 100 L seawater were used as the experimental culture units. White shrimp with an average body weight of 5.61 ± 0.09 g was randomly distributed to each experimental tank at a density of 20 shrimp/tank. The feed was offered at a level of 5% shrimp biomass per day at a frequency of four times a day. The results showed that the dry matter digestibility of feed with 30% biofloc meal in shrimp were similar to that of the reference diet. However, protein and fat digestibility of feed containing biofloc meal were considerably higher than those of the reference diet. Feeding shrimp with 30% biofloc meal diet resulted in higher survival and specific growth rate and lower feed conversion ratio than those of the control. The digestibility of bioflocs dry matter, protein and lipid in Pacific white shrimp obtained in this study were 54.9%, 76.3% and 79.3%, respectively.Keywords: biofloc, digestibility, catfish, shrimp  ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kecernaan tepung bioflok yang diambil dari media pemeliharaan ikan lele sebagai bahan pakan udang vaname Litopenaeus vannamei. Pakan yang mengandung kadar protein 43% digunakan sebagai pakan control dan dicampur dengan 2% binder dan 0.5% Cr2O3 sebagai marker untuk kecernaan. Pakan perlakuan dibuat dengan mencampurkan 67.5% pakan control dengan 30% tepung bioflok, 2% binder dan 0.5% Cr2O3. Penelitian menggunakan sembilan unit akuarium (90 cm ×40 cm ×35 cm) yang diisi 100 L air laut. Udang vaname dengan bobot rata-rata 5.61 ± 0.09 g ditebar secara acak pada setiap akuarium perlakuan pada kepadatan 20 ekor/akuarium. Pakan diberikan dengan tingkat pemberian pakan 5% biomassa per hari sebanyak empat kali sehari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecernaan pakan dengan 30% tepung bioflok tidak berbeda nyata dengan pakan acuan. Namun kecernaan protein dan lemak pakan yang mengandung tepung bioflok terlihat lebih tinggi daripada pakan kontrol. Pemberian pakan dengan tepung bioflok sebanyak 30% juga menghasilkan tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik udang dan rasio konversi pakan yang lebih baik daripada udang yang diberi pakan kontrol. Kecernaan bahan, protein dan lemak tepung bioflok pada udang yang didapat dalam penelitian masing-masing adalah 54.9%, 76.3% dan 79.3%.Kata-kata kunci: bioflok, ikan lele, kecernaan, udang 
Enhancement of colour quality, growth, and health status of rainbow Kurumoi fish Melanotaenia parva through dietary synthetic carotenoids supplementation Meilisza, Nina; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi; Junior, Muhammad Zairin; Artika, I Made; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3529.969 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.54-69

Abstract

ABSTRACT Carotenoids were known as pigment sources, the precursor of vitamin A, potential antioxidant and can improve the health status of fish. Furthermore, there are also studies that reveal the role of carotenoids in bone formation and metabolism. This study was conducted to determine the effect of different carotenoids at two different doses in the feed on growth, pigmentation, vitamin A conversion, blood profile, antioxidant activity, and calcium bone of the rainbow fish. Twenty-one aquariums with a volume of 20 L each stocked with 20 fish (1.08 ± 0.03 g of body weight and 4.56 ± 0.07 cm of body length). The experiment applied seven experimental diets (in triplicates) consisted of three types of carotenoids were astaxanthin (AS), canthaxanthin (CS), and lutein (LS) and two doses (130 and 260 mg/kg), i.e. AS-130, AS-260, CS-130, CS-260, LS-130, LS-260 and basal (without carotenoids) as the control. The fish were fed for 56 days of experimental period. The results showed that carotenoid diets were able to increase growth, total carotenoids, percentages of chromatophores, vitamin A conversion, erythrocyte, leukocytes, packed cell volume (PCV), neutrophils, and hemoglobin (Hb) compared to the control. Fish fed dietary astaxanthin at a level of 260 mg/kg was superior compared to other diets. Dietary carotenoids were also capable of decreasing the endogenous antioxidant activity of superoxide dismutase (SOD) and malonyl dialdehyde (MDA) and increased the calcium level in fish bone than basal diet. Keywords: carotenoids, growth, health status, Melanotaenia parva, pigmentation  ABSTRAK Karotenoid diketahui sebagai sumber pigmen, prekursor vitamin A, antioksidan potensial dan dapat meningkatkan status kesehatan ikan. Selain itu, karotenoid juga memiliki peran dalam formasi dan metabolism tulang. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh jenis dan dosis karotenoid yang berbeda terhadap pertumbuhan, pigmentasi, konversi vitamin A, gambaran darah, aktifitas antioksidan dan kalsium tulang ikan rainbow Kurumoi. Sebanyak 20 ekor ikan (bobot tubuh rata-rata 1,08 ± 0,03 g dan panjang total rata-rata 4,56 ± 0,07 cm) dan diberi makan pakan yang mengandung karotenoid. Pakan uji terdiri atas tiga jenis karotenoid dengan tiga ulangan yaitu astaksantin (AS), cantaksantin (CS), dan lutein (LS) dan dua dosis (130 dan 260 mg/kg) dikodekan dengan AS-130, AS-260, CS-130, CS-260, LS-130, LS-260 dan basal (tanpa karotenoid) sebagai kontrol. Ikan diberi makan selama 56 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karotenoid dapat meningkatkan pertumbuhan, total karotenoid, persentase kromatofora, konversi vitamin A, eritrosit, leukosit, hematokrit, neutrofil, dan hemoglobin dibandingkan dengan kontrol. Ikan yang diberi pakan mengandung astaksantin 200 mg/kg lebih baik dibandingkan denga pakan uji lainnya. Pakan yang mengandung karotenoid juga mampu menurunkan antioksidan endogenus superoxide dismutase (SOD) dan malonyl dialdehyde (MDA), serta meningkatkan kalsium tulang ikan dibandingkan pakan kontrol. Keywords: Melanotaenia parva, karotenoid, pertumbuhan, pigmentasi, status kesehatan. 
Interaction of dietary protein and energy-protein ratio on growth performance of snakehead Channa striata Wijianti, Hani; Suprayudi, Muhammad Agus; Utomo, Nur Bambang Priyo; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3451.682 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.70-79

Abstract

ABSTRACTThe study proposed to discover the optimum protein content and energy-protein ratio in practical diet for snakehead, Channa striata. The experiment applied complete randomized design, consisted of six treatments with four replications on each treatment. The treatments were: A (32.5%; 11.82 kcal GE/g), B (32.5%; 13.32 kcal GE/g), C (37.17%; 10.64 kcal GE/g), D (37.33%; 12.07 kcal GE/g), E (43.08%; 10.02 kcal GE/g), and F (42.88%; 10.66 kcal GE/g). Snakehead with average weight of 6.21 ± 0.03 g were reared for 8 weeks. The treatments showed significant results. Increased protein dietary level had increased the growth rate and treatment with high energy-protein ratio at the same protein dietary level provided better growth performance. However, increased energy-protein ratio at E and F treatments caused a decline in growth performance. The improvement of energy-protein dietary ratio had positive correlation with the level of lipid and protein content in fish body. Similar finding was found in liver and muscle glycogen. The results also showed that the increament of energy-protein dietary ratio was significantly and positively correlated with cholesterol, triglyceride, HDL, glucose, and albumin, yet it had no significant effect on LDL. It can be concluded that excellent growth performance was achieved by protein dietary level of 37.33% and energy-protein ratio of 12.07 kcal GE/g.Keywords: energy-protein ratio, growth, snakehead ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh kadar protein dan rasio energi-protein pakan buatan yang optimum bagi performa pertumbuhan ikan gabus. Penelitian ini mengaplikasikan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan, yaitu: A (32,78%;11,82  kkal GE/g), B (32,56%;13,32 kkal GE/g), C (37,17%:10,64 kkal GE/g), D (37,33%:12,07 kkal GE/g), E (43,08%:10,02 kkal GE/g), dan F (42,88%:10,66 kkal GE/g) dan masing-masing terdiri 4 ulangan. Bobot rata-rata ikan gabus yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 6,21 ± 0,03 g dan dipelihara selama 8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar protein pakan meningkatkan laju pertumbuhan, dan perlakuan dengan rasio energi-protein tinggi pada level protein pakan yang sama memberikan kinerja pertumbuhan yang lebih baik. Namun demikian, pada perlakuan E dan F, peningkatan rasio energi-protein menyebabkan penurunan kinerja pertumbuhan. Peningkatan rasio energi-protein pakan berkorelasi positif terhadap kadar lemak dan protein tubuh ikan. Hal yang sama juga terjadi pada glikogen hati dan otot. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan rasio energi-protein pakan berpengaruh nyata (P<0,05) dan  berkorelasi positif terhadap kolesterol, trigliserida, HDL, dan albumin, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap LDL  (P>0.05). Kesimpulan yang didapat adalah kinerja pertumbuhan optimal dihasilkan oleh kadar protein pakan 37,33% dan rasio energi protein pakan 12,07 kkal GE/g.Kata kunci: albumin, energi, ikan gabus, pertumbuhan, protein 
Biofloc technology on the intensive aquaculture of bronze corydoras ornamental fish Corydoras aeneus with different stocking densities Diatin, Iis; Suprayudi, Muhammad Agus; Budiardi, Tatag; Harris, Enang; Widanarni, Widanarni
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3552.973 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.202-213

Abstract

ABSTRACT Ornamental fish is non consumption fish which is an important source of Indonesian foreign exchange. The objective of this study is to analyze the productivity of bronze corydoras Corydoras aeneus ornamental fish through increased stocking density with biofloc technology. The average weight of the experimental corydoras was 0.61 ‒0.72 g with 2.32‒2.40 cm standard length. This study used a randomized design method with biofloc technology treatment in 3000, 4500, and 6000 fish/m2 stocking densities. The results showed that the daily length and weight-growth rate among treatments were not significantly different (P>0.05), while survival rate and the number of fish production on all treatments were significantly different (P<0.05). The water quality during the rearing period, such as temperature, pH, alkalinity, ammonia, nitrite, and nitrate, were in a tolerable range for corydoras culture. The total suspended solids tended to be higher due to higher stocking density. The best productivity using biofloc technology obtained from 6000 fish/m2 stocking density. Keywords: Biofloc technology, Corydoras aeneus, growth rate, stocking density, survival rate. ABSTRAK Ikan hias merupakan produk perikanan non konsumsi yang menjadi sumber devisa Indonesia yang cukup penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas ikan hias koridoras melalui peningkatan padat tebar dengan teknologi bioflok. Ikan yang digunakan adalah ikan hias koridoras (Corydoras aeneus) berbobot 0,61‒0,72 g dan panjang baku 2,32‒2,40 cm. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan teknologi bioflok pada padat tebar 3000, 4500, dan 6000 ekor/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian panjang dan bobot antar perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan kelangsungan hidup dan jumlah produksi ikan pada semua perlakuan berbeda nyata (P<0,05). Nilai kualitas air selama pemeliharaan yakni suhu, pH, alkalinitas, amonia, nitrit, dan nitrat yang berada pada kisaran yang cukup baik untuk budidaya ikan. Total padatan tersuspensi cenderung tinggi akibat dari semakin tinggi padat tebar. Produktivitas terbaik pada budidaya ikan koridoras dengan teknologi bioflok adalah pada padat tebar 6000 ekor/m2. Kata kunci:  Corydoras aeneus, kelangsungan hidup, padat tebar, pertumbuhan, teknologi bioflok 
Evaluation of karamunting Melastoma malabathricum L leaf extract on gonad development and growth performance of tilapia Oreochromis niloticus Samalei, Ermianus; Zairin Jr., Muhammad; Carman, Odang; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.1-13

Abstract

The objective of this study was to determine the optimum dose of melastoma Melastoma malabathricum leaf extract that can inhibit the gonad development of Nile tilapia and increase its growth rate. This study used a completely randomized design containing five extract dose treatments (0, 0.5, 1, 2, and 4 g/kg diet doses) and three replications. The undifferentiated Nile tilapia larvae (7 days post hatching) were randomly distributed (n=30) to fifteen aquaria (100×50×50 cm3) and maintained for 112 days using a common recirculation system. The results showed that all dose treatments were not significantly different (P>0.05) in gonadosomatic index values of the D84 and D98 samplings. However, the 1 g/kg diet (D112) was significantly different (P<0.05) in all dose treatments. The final histological results (D112) showed that the 1 g/kg diet obtained the highest inhibition level of the testis and ovary developments, which were still in stage II compared to 0.5 g/kg diet (stage III) and control (stage IV and V). The highest average weight, absolute growth rate, and specific growth rate were obtained in the 1 g/kg diet dose which was significantly different (P<0.05) compared to the control. The percentage of males increased significantly (P<0.05) following the increased dose treatment fed to the fish (4 g/kg diet) with 80.12±4.67%, but the survival rate significantly decreased (P<0.05) compared to the control. The administration of 1 g/kg diet dose obtained the best dose and potential as an inhibiting agent for gonad development in Nile tilapia. Keywords: Melastoma malabathricum, gonad inhibition, cytosterol, Oreochromis niloticus ABSTRAK Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis optimum ekstrak daun melastoma Melastoma malabathricum yang dapat menghambat perkembangan gonad ikan nila sehingga meningkatkan laju pertumbuhan somatik dan mengevaluasi efektivitasnya sebagai agen seks reversal alami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas lima perlakuan (dosis 0; 0,5; 1,0; 2,0; dan 4,0 g/kg pakan) dan tiga ulangan. Larva ikan nila sebelum kelamin terdiferensiasi (7 hari pascatetas) secara acak (n=30) dimasukkan ke dalam 15 buah akuarium (100×50×50 cm3) dan dipelihara selama 112 hari pada sistem resirkulasi. Hasil menunjukkan bahwa semua perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap nilai GSI pada sampling D84 dan D98. Namun, perlakuan 1 g/kg pakan pada sampling D112 berbeda nyata (P<0,05) dengan semua perlakuan. Hasil histologi terakhir (D112) menunjukkan bahwa perlakuan 1 g/kg pakan mengindikasikan penghambatan perkembangan testis dan ovari yang paling besar yang masing-masing berada pada TKG II, dibandingkan dengan perlakuan 0,5 g/kg pakan (TKG III), dan dibandingkan dengan kontrol (TKG IV dan TKG V). Pengamatan terhadap bobot rata-rata, laju pertumbuhan mutlak, dan laju pertumbuhan harian tertinggi diperoleh pada perlakuan 1 g/kg pakan yang berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Persentase jantan meningkat secara signifikan (P<0,05) seiring meningkatnya konsentrasi ekstrak yang mencapai 80,12±4,67% pada perlakuan 4 g/kg pakan, namun tingkat kelangsungan hidup menurun secara signifikan (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Pada keseluruhan parameter, pemberian ekstrak 1 g/kg pakan merupakan dosis terbaik dan potensial sebagai agen penghambat perkembangan gonad pada ikan nila. Kata kunci:Melastoma malabathricum, penghambatan gonad, sitosterol, Oreochromis niloticus
Evaluation of protein sparing effect in Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with organic selenium supplemented diet Pattipeilohy, Christian Ernsz; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.1.84-94

Abstract

ABSTRACT The objective of this research was to determine the optimum level of organic selenium supplementation in improving the growth performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with diet containing low protein level. Basal diet was formulated to contain 28% protein with three different levels of organic selenium supplementation, namely 0 (control), 3, and 6 mg Se/kg feed. Furthermore, to evaluate selenium function on protein utilization and sparring effect, a diet with 30% of protein content was also used as a comparison. In this regard, this study was conducted using a completely randomized experimental design with four treatments and three replications. Nile tilapia with an average body weight of 8.05 ± 0.25 g were reared in the 100×50×50 cm3 aquarium at a density of 15 fish/aquarium. The experimental fish were reared for 60 days and fed three times daily to apparent satiation levels. Dietary supplementation of organic Se resulted in higher fish biomass, lower feed conversion ratio, higher protein retention and daily growth rate compared to the control diets with 28% and 30% protein levels. In conclusion, dietary supplementation of organic Se at 3 mg organic Se/kg feed could significantly increase protein utilization and improve the growth performance of Nile tilapia. Keywords: tilapia, protein sparing effect, organic selenium, feed ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat suplementasi selenium organic pada pakan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Pakan basal diformulasikan mengandung 28% protein dengan tiga tingkat selenium organik yaitu 0 (kontrol), 3, dan 6 mg Se/kg pakan. Selanjutnya untuk mengevaluasi penggunaan selenium pada pemanfaatan protein dan efek sparring, pakan dengan 30% protein juga ditambahkan sebagai perlakuan pembanding. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Ikan nila dengan bobot rata-rata adalah 8.05 ± 0.25 g dipelihara dalam akuarium 100 × 50 × 50 cm3 dengan kepadatan 15 ikan/akuarium. Ikan dipelihara selama 60 hari dan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation. Pemberian pakan dengan suplementasi Se organic menghasilkan biomassa ikan yang lebih tinggi, rasio konversi pakan yang lebih rendah, retensi protein dan laju pertumbuhan harian yang lebih tinggi daripada perlakuan control dengan kadar protein 28% dan 30%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa suplemtasi pakan ikan nila dengan 3 mg Se organik/kg pakan dapat meningkatkan pemanfaatan protein pakan dan kinerja pertumbuhan ikan Nila. Kata kunci: ikan nila, protein sparing effect, selenium organik, pakan.
Co-Authors , Alimuddin , Sarmin . Ridwan . Vera Dewi Mulia, Troef Soemarno A Halim A. Malik Serang A. Shofy Mubarak Achmad Noerkhaerin Putra Adang Saputra Adiasmara Giri, I Nyoman Agus Oman Sudrajat Ahmad Yazid Latif Aimma, Muhammad Ariful Akhmad Baihaqi Alimuddin alimuddin alimuddin Amelia Oktaviani, Amelia Anargya Pradipa Tristanandana Apriana Vinasyiam Aprilianti Pratiwi Arief Boediono Aris Sudiyanto Aris Tri Wahyudi Arradini, Dewi Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atmojo, Joko Tri Azmi Afriansyah Benny Heltonika Burhanudin Faisal, Burhanudin D. Jusadi Dairun, Suclyadi DARMAWAN SETIA BUDI Darsiani Darsiani Darsiani Darsiani Deddy Yaniharto Deddy Yaniharto Dedi Jusadi Dedi Jusadi DEDI JUSADI Dedi Yaniharto dedy yaniharto Denny Wahyudi DIAH AYU SATYARI UTAMI Diamahesa, Wastu Ayu Dian Novita Sari Didi Humaedi Yusuf, Didi Humaedi Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dini Harianto Dodi Hermawan E. Mursitorini Eddy Supriyono Edy Marsudi Elas, Putri Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Surawidjaja Endriatmo Soetarto F. Hapsyari Faiqotul Himmah, Maihardiyanti Fatma Hajiali Fauzan Fredinan Yulianda Gadis Sri Haryani Gebbie Edriani Ghina Raudathul Jannah Giri Maruto Darmawangsa, Giri Maruto Hadi Pratama, Ricky Harton Arfah Hasan Abidin Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasrah Hasrah Helena Sahusilawane Hendriana, Andri Husnidar Husnidar I Dewa Putu Oka Suardi I Gede Setiawan Adi Putra I Gusti Agung Gede Wiadnyana I GUSTI AGUNG GEDE WIADNYANA . I Gusti Ayu Rai I Made Artika I MADE ARTIKA I Wayan Budiyasa I Wayan Nurjaya I Wayan Suanda I. Mokoginta Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Imah, Nenden Imlani, Ainulyakin Hasan Inarto, Hendri ING MOKOGINTA Iqbal Kurniawinata, Mohamad Ira Akhdiana Irmawati Irvan Faizal Irzal Effendi Ismarica, Ismarica Jr., Muhammad Zairin Juli Ekasari Julie Ekasari Jullie Ekasari KATSUYUKI HAMASAKI KATSUYUKI HAMASAKI KETUT BUDI SUSRUSA Komang Adi Wika Wiguna Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti Latifah Kosim Darusman Ligaya I. T. A. Tumbelaka M. Ikhsan M. Setiawati M. Tri Djoko Sunarno M. Zairin Junior Mas Tri Djoko Sunarno Meilisza, Nina Meritha, Wellya Wichi Mia Setiawati Muhaimin Hamzah Muhammad Jailani Muhammad Junior Zairin Muhammad Raditya Gumelar Muhammad Ridzky Adhory Muhammad Roikhan Amanullah Muhammad Safir Muhammad Zairin JR Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. MUHAMMAD ZAIRIN Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Mulyasari Mulyasari Munawar Khalil Muslim Muslim Muzahar Niagara, Niagara Nina Meilisza Nur Bambang Priyo Utomo Nuraini Annisa, Nuraini Nuril Farizah Odang Carman Otie Dylan Soebhakti Hasan Padlilah, Rahmi Paramadina, Siwi Pattipeilohy, Christian Ernsz R Rifai R. Sutajaya Raditya Gumelar, Muhammad Rahminiwati, Min Rakhmawati, Rakhmawati, Ria Septy Anggraini, Ria Septy Ricky Ramadhan Ridhia Putri RIDWAN AFFANDI Rina Hirnawati Rizky Nafaida Samalei, Ermianus Sarwititi Sarwoprasojdo, Sarwititi Senja, Reza Karunia Setyorini, Catur Siti Komariyah Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci antoro Suci Antoro Suclyadi Dairun Sukenda, Sukenda, Supriyadi Hari Respati Suryadi Saputra T. Makmur Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Titin Kurniasih TOSHIO TAKEUCHI TOSHIO TAKEUCHI Tulas Aprilia Upmal Deswira Utomo, Nurbambang Priyo Wahyudi, Imam Tri Wasmen Manalu Wida Lesmanawati WIDANARNI WIDANARNI Widiyanto, Aris Wijianti, Hani Wijiwinarsih, Amallia Wika Wiguna, Komang Adi Winda Styani Irawan, Winda Styani Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yessy Rahmayanti Yogo Tri Saloko Yudha Trinoegraha Adiputra Yudha Trinoegraha Adiputra Yutaka Haga Zairin Jr., Muhammad Zinatul Hayati