Claim Missing Document
Check
Articles

The growth of red tilapia fed on organic-selenium supplemented diet Suprayudi, Muhammad Agus; Faisal, Burhanudin; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2742.874 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.48-53

Abstract

ABSTRACT The experiment was conducted to evaluate the level of organic selenium in the diet on the growth performance of red tilapia Oreochromis sp. Four levels of organic selenium namely 0, 1, 2, and 4 g Se/kg diet were used as a treatment, and the selenium content on the diets are 0.12, 0.19, 1.05, and 1.42 mg Se/kg respectively. This experiment were used randomized design with four treatments and two replications. All the diet was formulated to have similar protein and energy. Juvenile red tilapia with average body weight of 9.49±0.94 g were reared in the 80×40×40 cm3 aquarium with density of 10 fish/aquarium. Fish were reared for 40 days and feed four times daily at satiation levels. The result of this study showed that fish fed diet containing 4 g organic Se/kg diet (1,42 mg Se/kg) had the best growth performance. Keywords: organic selenium, growth, red tilapia  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis selenium organik pada pakan terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila merah Oreochromis sp. Empat macam dosis selenium organik yang digunakan adalah 0, 1, 2, dan 4 g Se/kg pakan. Kandungan selenium pada setiap pakan berturut-turut adalah 0,12; 0,19; 1,05; dan 1,42 mg Se/kg pakan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak dengan empat perlakuan dan dua ulangan. Semua pakan diformulasikan memiliki protein dan energi yang sama. Ikan yang digunakan adalah juvenil nila merah dengan bobot rata-rata 9,49±0,95 g yang dipelihara dalam akuarium berukuran 80×40×40 cm3 dengan kepadatan 10 ekor/akuarium. Ikan tersebut dipelihara selama 40 hari dengan frekuensi pemberian pakan empat kali sehari secara at satiation. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan yang mengandung 4 g Se organik/kg pakan (1,42 mg Se/kg) memperlihatkan kinerja pertumbuhan terbaik. Kata kunci: selenium organik, pertumbuhan, nila merah 
Pengembangan pemakaian hasil samping agroindustri berbahan dasar jagung sebagai alternatif bahan baku pakan ikan kerapu tikus Cromileptes altivelis Suprayudi, Muhammad Agus; Yaniharto, Dedy; Abidin, Hasan; Priyo Utomo, Nur Bambang; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.347 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.116-123

Abstract

ABSTRACTThis experiment was conducted to evaluate the use of by product of corn ethanol industry, DDGS (distiller dried grain with soluble) and hominy as feed raw material on digestibility and the growth performance of humpback grouper Cromileptes altivelis juvenile. Three experimental diets containing isoprotein (48%) but different in DDGS contain were used. Diet A containing 0% of DDGS and hominy while diet B and C containing 10.13% (6.13% of DDGS and 4% of hominy) and 19.05% (15.05% of DDGS and 4% of hominy). Reduce of fish meal level in the diet was happen as a consequence of balancing amino acid. For digestibility experiment and Cr2O3 at level of 0.05% was used as a tracer. The feces were daily collected 30‒60 minutes after feeding for 14 days. Dry matter and protein were used as digestibility parameters. Completely randomized design with three treatments and two replicates was used in this experiment. Humpback grouper with an average weight of 11‒14 g were reared at floating net cages (FNG) of 3×2×1.5 m3. The stocking density for each cage was 167 fish/FNG and reared for six months. For digestibility measurement 30 fish were held in cylindrical fiber tank filled with 800 L of sea water. Fish were fed three times daily at satiation level. For maintaining net in a clean condition net was changed in every ten days. Feed consumption, digestibility of protein and total, growth performance indicator i,e specific growth rate, feed efficiency protein and lipid retention were used as evaluating parameters. The results showed that the fish fed with diet containing DDGS (6.13%) dan hominy (4%), at the level of 10.13% (diet B), shows similar growth performance indicators with the fish fed diet A (0% of DDGS and hominy) and the growth performance indicator was higher when being compared to those fish fed diet C (containing 19.05% of DDGS (15.05%) and hominy (4%)) (p<0.05). More over the inclusion of DDGS and hominy at the level of 10,13% give no negatif impact to feed palatability (shown by total feed consumption value) and digestibility of protein. The increasing level of DDGS and hominy more than 10% reduced palatability and protein digestibility. Based on this research, DDGS and hominy can be used up to 10% in the feed formulation of humpback grouperKeywords: digestibility, growth performance, DDGS, hominy, humpback grouper, Cromileptes altivelisABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pemanfaatan limbah jagung dari industri etanol dalam bentuk distillate dried grain with soluble (DDGS) dan homini sebagai bahan baku pakan terhadap kinerja pertumbuhan ikan kerapu bebek Cromiliptes altivelis. Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah juvenil ikan kerapu bebek berukuran 11‒14 g. Ikan dipelihara dalam karamba jaring apung yang berukuran 3×1,5×2 m3 dengan kepadatan 167 ekor/jaring. Ikan diberi pakan sampai kenyang sebanyak dua kali sehari. Untuk menjaga agar jaring tetap bersih maka dilakukan pergantian jaring setiap satu sampai dua minggu sekali. Ikan dipelihara selama lima bulan dan setiap bulan dilakukan sampling. Tiga macam pakan digunakan dalam penelitian ini dengan kadar protein 47% dan rasio energi protein 10 kkal/g protein. Pakan A adalah pakan yang tidak mengandung DDGS dan homini, pakan B mengandung DDGS 6,13% dan 4% (total 10,13%), dan pakan C mengandung DDGS 15,05% dan Homini 4% (total 19,5%). Untuk mengevaluasi ketercernaan nutrien maka kromium oksida (Cr2O3) digunakan sebagai penelusur. Penelitian ketercernaan dilakukan di laboratorium dengan menggunakan fiber dengan volume 800 L. Rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan dua ulangan digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ketercernaan nutrien tidak berbeda sampai total kadar DDGS dan homini 10,13% (pakan B) dan peningkatan DDGS serta homini sampai 19,05% (pakan C) menurunkan nilai ketercernaan. Ikan yang diberi pakan dengan DDGS sebesar 10,13% (pakan B) memiliki nilai efisiensi pakan, sintasan, laju pertumbuhan spesifik, konsumsi pakan dan retensi protein yang sama dengan pakan tanpa DDGS (pakan A), akan tetapi nilai-nilai tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan ikan yang diberi pakan B (p<0,05). Retensi lemak ikan yang diberi pakan B memiliki nilai yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ikan yang diberi pakan A dan C. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa DDGS dan homini dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan kerapu bebek sampai level 10,13% (DDGS 6,13% dan homini 4%).Kata kunci: pertumbuhan, ketercernaan, DDGS, homini, ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis
Growth and immune response of Litopenaeus vannamei fed on β-(1, 3) glucan and poly-β hydroxybutyrate Sarmin, ,; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2786.38 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.121-127

Abstract

ABSTRACT This research was aimed to examine the growth performance and non-specific immune response of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) fed on the diet supplemented with β-(1,3) glucan (BG) and poly-β-hydroxybutyrate (PHB) as feed additives. Shrimp juvenile at an initial body weight of 2.06±0.03 g was randomly distributed into 12 units of aquaria at a density of 20 shrimps/tank and reared for 42 days. The treatments applied in this study were control (without feed additives), 1.5 g/kg BG, 10 g/kg PHB and 1,5 g/kg BG+10 g/kg PHB. Results showed that shrimp fed on 1.5 /kg BG-supplemented feed had significantly higher growth performance and non-specific immune response. Keywords: growth, shrimp, non-specific immune response, Litopenaeus vannamei  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji kinerja pertumbuhan dan respons imun nonspesifik udang vaname Litopenaeus vannamei yang diberi pakan dengan penambahan feed additive berupa β-(1,3) glukan (BG) dan poli-β-hidroksibutirat (PHB). Juvenil udang 2,06±0,03 g dipelihara pada 12 unit akuarium dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, serta padat tebar 20 ekor/tank selama 42 hari pemeliharaan. Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini yaitu penambahan BG (1,5 g/kg), PHB (10 g/kg), dan BG (1,5 g/kg)+PHB (10 g/kg), serta kontrol (tanpa penambahan feed additive). Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang yang diberi 1,5 g/kg BG memiliki kinerja pertumbuhan dan respons imun nonspesifik yang terbaik. Kata kunci: pertumbuhan, udang, respons imun nonspesifik, Litopenaeus vannamei
Feeding for larvae of catfish Pangasionodon sp. larvae in different ages Suprayudi, Muhammad Agus; Ramadhan, Ricky; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2875.18 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.193-200

Abstract

ABSTRACT Sludge worm (Tubifex sp.) as natural feed on catfish (Pangasionodon sp.) larvae rearing is available in limited amount especially during rainy season. It becomes a constraint factor for larvae rearing sector. This research was conducted to evaluate the appropriate initial age of catfish larvae to get artificial feed as sludge worm replacement. Evaluation was conducted on the growth and survival of catfish larvae in 14 days of culture. There were four treatments of feeding in triplicates i.e. larvae were given natural feed without artificial feed, given artificial feed started from d3, d6, and d9) with three replications. The results showed that larvae fed on artificial feed on d3 had the lowest growth compared to the other treatments, whereas the survival was not significantly different (P>0.05) among the treatments. As a conclusion, artificial feed could be used to replace natural feed for catfish larvae started at the age of nine days. Keywords: sludge worm, catfish larvae, artificial feed  ABSTRAK Cacing sutra (Tubifex sp.) tersedia dalam jumlah terbatas terutama pada musim penghujan sebagai pakan alami dalam usaha pembenihan ikan patin (Pangasionodon sp.). Ini menjadi kendala dalam usaha pembenihan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi umur larva ikan patin yang tepat untuk mulai diberi pakan buatan menggantikan cacing sutra. Evaluasi dilakukan pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan patin umur 14 hari. Selama pemeliharaan, larva diberi pakan dengan empat perlakuan; pemberian pakan alami tanpa pakan buatan, pemberian pakan buatan mulai d3, d6, dan d9 dengan tiga ulangan untuk masing-masing perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pakan buatan mulai d3 memiliki pertumbuhan panjang yang terkecil dibandingkan perlakuan lain, sedangkan tingkat kelangsungan hidup larva tidak berbeda nyata (P>0,05) antarperlakuan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pakan buatan dapat digunakan sebagai pengganti pakan alami mulai larva ikan patin umur sembilan hari. Kata kunci: cacing sutra, larva ikan patin, pakan buatan
Preliminary study of rubber seed Hevea brasiliensis oil utilization for tilapia diet Komariyah, Siti; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2810.148 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.61-67

Abstract

ABSTRACT This research was conducted as a preliminary study on utilization of RBO for Nile tilapia (Oreochromis sp.) diet by also evaluating its effect on growth the performance. This research used SULTANA strain at average initial body weights of 8.33±0.07 g/ind. Experimental design was set in completely randomized design. Each treatment was done in triplicates. The treatments were various additions of RBO to replace corn oil in the diet, which were 0%, 25%, 50%, 75%, and 100%. Feeding rate, feed efficiency, protein retention, fat retention, specific growth rate, glucose, cholesterol, triglycerides, HDL (high-density lipoprotein), and hematology were used as evaluating parameters. The results showed that the growth performance, blood chemistry and hematology of fish decreased as the increasing of RBO level in the diet. These are caused by feed intake decreased significantly, which were 583.5 g to 145.6 g of treatments 0% to 100% RBO. Blood glucose, haemoglobin and specific growth of fish in the treatment of 0–100% RBO were 48.7–22.2 mg/dL, 7.6–5.4%, and 3.5–0.8%, respectively. The lowest survival was observed in fish fed 100% RBO (66.7%). Fish growth performance of 0% RBO was the best, so RBO could not be utilized yet as a source of fatty acid or corn oil replacement in tilapia diet. Keywords: free radical, HCN, Oreochromis sp., rubber seed oil  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan sebagai studi awal pemanfaatan minyak biji karet (MBK) untuk pakan ikan nila dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan nila. Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila strain SULTANA dengan bobot awal rata-rata 8,33±0,07 g/ind. Penelitian didesain dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji berbagai sumbangan MBK untuk mengganti minyak jagung dalam pakan, yaitu 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%. Selama pemeliharaan, beberapa parameter yang diukur adalah jumlah konsumsi pakan, efisiensi pakan, retensi protein, retensi lemak, laju pertumbuhan spesifik, glukosa, kolesterol, trigliserida, high-density lipoprotein (HDL), dan gambaran darah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja pertumbuhan, kimia darah dan gambaran darah ikan semakin menurun seiring dengan penambahan MBK dalam pakan. Hal ini disebabkan semakin menurunnya jumlah konsumsi pakan secara signifikan, yaitu 583,5 g menjadi 145,7 g dari perlakuan 0% ke 100% MBK. Glukosa darah, hemoglobin dan laju pertumbuhan spesifik ikan pada perlakuan 0–100% MBK masing-masing adalah 48,7–22,2 mg/dL, 7,6–5,4% dan 3,5–0,8%. Sintasan ikan terendah terjadi pada perlakuan 100% MBK, yaitu 66,7%. Kinerja pertumbuhan pada perlakuan 0% MBK adalah yang paling baik sehingga MBK belum dapat dimanfaatkan sebagai sumber lemak menggantikan minyak jagung pada pakan ikan nila. Kata kunci: radikal bebas, HCN, Oreochromis sp., minyak biji karet
Evaluation of incubated defatted rubber seed meal with sheep rumen liquor for Pangasius diet Suprayudi, Muhammad Agus; Irawan, Winda Styani; Utomo, Nur Bambang Priyo
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2822.981 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.146-151

Abstract

ABSTRACT The research evaluated the use of rubber seed meal (Hevea brasiliensis; RBS) incubated with sheep rumen liquor as a subtitution of soybean meal in catfish Pangasionodon sp. diet. The fish was cultured for 40 days and fed with the experimental diet containing RBS at five different diet compositions regarding to soybean meal substitution level, i.e. 0% (control), 12%, 23%, 34%, and 44%. Feeding was done three times a day to satiation. No significant different was found on fish-protein retention and survival rate in all treatments. Based on the study result, the use of rubber-seed meal (Hevea brasiliensis; RBS) incubated with sheep rumen liquor could substitute soybean meal in catfish Pangasionodon sp. diet. Keywords: Hevea brasiliensis, Pangasionodon sp., catfish, sheep rumen liquor, rubber seed meal  ABSTRAK Penelitian ini mengevaluasi penggunaan tepung bungkil biji karet (Hevea brasiliensis; TBBK) yang diinkubasi dengan cairan rumen domba sebagai pengganti tepung bungkil kedelai pada pakan ikan patin Pangasionodon sp. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari dengan pemberian lima komposisi pakan berbeda sesuai tingkat substitusi tepung bungkil kedelai oleh tepung bungkil karet. TBBK yang ditambahkan untuk mengganti bungkil kedelai adalah sebesar 0%, 12%, 23%, 34% dan 44%. Pemberian pakan dilakukan selama tiga kali sehari secara at satiation. Tidak ditemukan perbedaan signifikan (P>0,05) pada nilai retensi protein dalam tubuh dan kelangsungan hidup ikan uji pada semua perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tepung bungkil biji karet yang diinkubasi dengan cairan rumen domba dapat digunakan sebagai pengganti bungkil kedelai pada pakan ikan patin Pangasionodon sp. Kata kunci: Hevea brasiliensis, Pangasionodon sp., patin, rumen domba, tepung biji karet 
Combination of Tubifex and artificial diet for catfish Pangasianodon hypophthalmus larvae Jusadi, Dedi; Anggraini, Ria Septy; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2926.874 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.30-37

Abstract

ABSTRACT This research was conducted to evaluate the effect of different combination of feeding frequency of Tubifex (C) and artificial diet (P) on survival and growth rate of larval yellow tail catfish Pangasianodon hypophthalmus. Newly hatched larvae (d0) with total length of 0.44±0.04 cm were cultured for 14 days in 30×20×20 cm3 aquarium. Water volume in each aquarium was 9 L. At d5, larvae were fed on five different feeding frequencies either 6C+0PB, 5C+2PB, 3C+3PB, 2C+5PB, dan 0C+6PB. Feeding method used in this research was ad libitum. Results showed that survival and total length of d14 old larvae fed on 0C+6PB was lower than the groups fed on either 6C+0PB or three combinations of C+PB. Lipase activity tend to be increase in line with the increasing amount of artificial feed. On the other hand, larvae fed on 6C+0PB and 0C+6PB had the lowest protease activity. Therefore, larval catfish can be fed by combination of Tubifex and artificial feed. Keywords: artificial diet, lipase activity, protease activity, sludge worm, Pangasianodon hypophthalmus  ABSTRAK Penelitian ini mengevaluasi pengaruh perbedaan frekuensi pemberian pakan harian cacing sutra (C) dan pakan buatan (PB) terhadap sintasan dan pertumbuhan larva ikan patin Pangasianodon hypophthalmus. Larva ikan patin yang baru menetas berukuran 0,44±0,04 cm dipelihara dalam akuarium kaca berukuran 30×20×20 cm3 yang diisi air setinggi 15 cm selama 14 hari. Mulai dh5, larva diberi lima perlakuan frekuensi pemberian pakan, yaitu 6C+0PB, 5C+2PB, 3C+3PB, 2C+5PB, dan 0C+6PB. Pemberian pakan dilakukan secara ad libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva yang diberi 6C+0PB dan kombinasi C+PB memiliki tingkat kelangsungan hidup dan panjang akhir yang tidak berbeda nyata. Namun larva yang diberi 0C+6PB, menghasilkan tingkat kelangsungan hidup dan panjang akhirnya terendah. Semakin banyak porsi sering frekuensi pemberian PB yang diberikan menunjukkan tren aktivitas lipase yang cenderung meningkat. Tetapi pada aktivitas protease pada pemberian 6C+0PB dan 0C+6PB lebih rendah dari ketiga perlakuan kombinasi C+PB. Dengan demikian, larva ikan patin dapat dibudidaya dengan menggunakan kombinasi cacing sutra dan pakan buatan. Kata kunci: pakan buatan, aktivitas lipase, aktivitas protease, cacing sutra, Pangasianodon hypophthalmus
Digestive enzymes activities in Oreochromis niloticus fed diet supplemented with recombinant growth hormone Vinasyiam, Apriana; Suprayudi, Muhammad Agus; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3186.108 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.15-23

Abstract

ABSTRACT The specific activity of the digestive enzymes, namely: pepsin, amylase, lipase, trypsin, and chymotrypsin were studied in Nile tilapia Oreochromis niloticus fed diet supplemented with recombinant Ephinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH). The results showed that fish treated with rE1GH showed lower lipase and chymotrypsin specific activities (P>0.05), while the trypsin/chymotrypsin specific activity (T/C ratio) was found higher compared to control fish. Moreover, higher protein digestibility, higher protein retention and a lower ammonia excretion rate were measured for rE1GH treated fish. Oral rElGH administration enhanced Nile tilapia growth up to 20.04%, without affecting survival. This study suggested that rapid growth performance induced by rElGH was linked with T/C ratio rather than the specific activity of other digestive enzymes. Keywords: recombinant growth hormone, digestive enzyme, digestibility, Oreochromis niloticus  ABSTRAK Aktivitas spesifik enzim pencernaan pepsin, amilase, lipase, tripsin, dan kemotripsin diamati pada ikan nila Oreochromis niloticus yang diberi pakan mengandung hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang Ephinephelus lanceolatus (rElGH)). Hasil menunjukkan bahwa ikan uji pada perlakuan rElGH memiliki aktivitas spesifik enzim lipase dan kemotripsin yang lebih rendah, sedangkan rasio tripsin/kemotripsin (rasio T/C) yang lebih tinggi dibandingan ikan kontrol. Kecernaan protein dan retensi protein bernilai lebih tinggi sementara laju ekskresi amonia bernilai lebih rendah pada ikan perlakuan. Pemberian rElGH secara oral mampu mempercepat laju pertumbuhan ikan nila hingga 20,04% tanpa memengaruhi kelangsungan hidup. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan cepat yang diinduksi oleh rElGH berhubungan dengan rasio T/C dibandingkan dengan aktivitas spesifik enzim pencernaan lain. Kata kunci: hormon pertumbuhan rekombinan, enzim pencernaan, kecernaan, Oreochromis niloticus 
Quality improvement of rubber seed meal diet for Nile tilapia with amino acid supplemetation Yusuf, Didi Humaedi; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3099.562 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.63-69

Abstract

ABSTRACT This experiment was conducted to improve the quality of rubber seed meal fermented using sheep rumen liquor based diet (RSMF) with amino acid supplementation for Nile tilapia Oreochromis niloticus. This experiment consisted of five treatments with three replications. The treatments were 0% protein from RSMF as control; 50% RSMF; 50% RSMF with lysine; 75% RSMF and 75% RSMF with lysine. Tilapia with an initial body weight of 6.29±0.12 g were reared for 40 days and the fish were fed three times daily at satiation level (8.00 am, 12.00 pm and 16.00 pm). The data were statistically analysed by using one-way analysis of variance (ANOVA) using software SPSS version 16.0 at 95% (p<0.05) confidence interval and Tukey test for the post hoc test. The results showed that the addition of lysine in the 75% RSMF diets could increased final weight, but did not significantly different to protein efficiency ratio (PER), decreased feed convertion ratio (FCR) and biochemical body composition. The data indicated that quality of 75% RSMF could improved after lysine supplementation, but still lower than using 50% RSMF and soybean meal as protein source. Keywords: amino acid supplementation, Oreochromis niloticus, rubber seed meal ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pakan dengan tepung bungkil biji karet yang difermentasi dengan cairan rumen domba (TBBKF) melalui suplementasi asam amino untuk ikan nila Oreochromis niloticus. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas  0% protein dari TBBKF sebagai kontrol; 50% TBBKF; 50% TBBKF + Lisin; 75% TBBKF dan 75% TBBKF + lisin. Ikan nila dengan bobot awal 6,29±0,12 g dipelihara selama 40 hari dan pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari hingga sekenyangnya (08.00, 12.00 dan 16.00 WIB). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan menggunakan software SPSS 16.0 dan diuji lanjut menggunakan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lisin pada pakan 75% TBBKF meningkatkan bobot tubuh ikan akhir, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap rasio efisiensi protein (PER), rasio konversi pakan (FCR) dan komposisi biokimia tubuh ikan nila. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas protein 75% TBBKF meningkat setelah suplementasi lisin, tetapi masih lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan 50% TBBKF dan tepung kedelai sebagai sumber protein. Kata kunci: suplementasi asam amino, Oreochromis niloticus, tepung biji karet
The population growth and the nutritional status of Moina macrocopa feed with rice bran and cassava bran suspensions Mubarak, Ahmad Shofy; Jusadi, Dedi; Junior, Muhammad Zairin; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3490.003 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.223-233

Abstract

ABSTRACT Moina macrocopa culture density can be improved by optimizing the fecundity, and somatic growth through the regulation of quality and quantity of feed. The purpose of this study were to determined how to use effectively the rice bran and cassava bran Manihot utilisima suspension on Moina, based on population, neonates production, adult percentage, biomass, metabolisme and nutritional state. In this study, Moina were cultured for eighth days using four concentrations of rice bran suspension and three concentrations of cassava suspension. This research found that M. macrocopa culture with rice bran suspension has higher population, neonates production, adult percentage and biomass than its culture with cassava bran suspension (P<0.05). This study also found that Moina culture with rice bran suspension has higher total value of RNA, total value of DNA, the ratio RNA/ DNA, FCR, and concentration of protein and amino acid than Moina culture with cassava bran suspension. Treatment D with the initial rice bran suspension concentration was 0.3 mL/L  and was increased starting the second day and the end concentration on the eighth day was 1.2 mL/L has highest peak population of Moina 17,975 ind/L in seventh day, weight wet biomass 439 mg/L in eighth day and lower FCR 0.94. Keywords: suspension, rice bran, cassava, population, ratio RNA/DNA  ABSTRAK Kepadatan populasi dalam budidaya Moina macrocopa dapat ditingkatkan dengan mengoptimalkan fekunditas dan pertumbuhan somatik melalui pengaturan kualitas dan kuantitas pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas pengunaan pakan suspensi dedak dan tepung ketela pohon Manihot utilisima dalam budidaya M. macrocopa terhadap populasi, produksi anak per induk, persentase dewasa, biomasa, FCR, dan metabolismenya (asam amino, DNA, RNA, dan RNA/DNA). Di dalam penelitian ini, M. macrocopa dibudidayakan selama delapan hari  menggunakan empat konsentrasi suspensi dedak dan tiga konsentrasi suspensi tepung  ketela pohon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, budidaya M. macrocopa dengan pakan suspensi dedak menghasilkan populasi, produksi anak/induk, persentase dewasa dan biomasa yang lebih tinggi dibandingkan budidaya Moina dengan pakan suspensi ketela pohon (P<0,05). Budidaya M. macrocopa dengan pakan suspensi dedak juga menghasilkan total RNA, total DNA dan  nisbah  RNA/DNA, konsentrasi protein, dan asam amino yang lebih tinggi dibandingkan Moina dengan pakan suspensi ketela pohon. Perlakuan D dengan pakan suspensi dedak awal 0,2 mL/L dan meningkat mulai hari kedua dengan konsentrasi hari kedelapan 1,2 mL/L menghasilkan puncak populasi tertinggi pada hari ketujuh sebanyak 17.975 ind/L, berat basah biomasa hari kedelapan kultur 439 mg/L, dan FCR yang rendah yaitu 0,94.   Kata kunci: suspensi, dedak, ketela pohon, populasi, nisbah RNA/DNA
Co-Authors , Alimuddin , Sarmin . Ridwan . Vera Dewi Mulia, Troef Soemarno A Halim A. Malik Serang A. Shofy Mubarak Achmad Noerkhaerin Putra Adang Saputra Adiasmara Giri, I Nyoman Agus Oman Sudrajat Ahmad Yazid Latif Aimma, Muhammad Ariful Akhmad Baihaqi Alimuddin alimuddin alimuddin Amelia Oktaviani, Amelia Anargya Pradipa Tristanandana Apriana Vinasyiam Aprilianti Pratiwi Arief Boediono Aris Sudiyanto Aris Tri Wahyudi Arradini, Dewi Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atmojo, Joko Tri Azmi Afriansyah Benny Heltonika Burhanudin Faisal, Burhanudin D. Jusadi Dairun, Suclyadi DARMAWAN SETIA BUDI Darsiani Darsiani Darsiani Darsiani Deddy Yaniharto Deddy Yaniharto Dedi Jusadi DEDI JUSADI Dedi Jusadi Dedi Yaniharto dedy yaniharto Denny Wahyudi DIAH AYU SATYARI UTAMI Diamahesa, Wastu Ayu Dian Novita Sari Didi Humaedi Yusuf, Didi Humaedi Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dini Harianto Dodi Hermawan E. Mursitorini Eddy Supriyono Edy Marsudi Elas, Putri Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Surawidjaja Endriatmo Soetarto F. Hapsyari Faiqotul Himmah, Maihardiyanti Fatma Hajiali Fauzan Fredinan Yulianda Gadis Sri Haryani Gebbie Edriani Ghina Raudathul Jannah Giri Maruto Darmawangsa, Giri Maruto Hadi Pratama, Ricky Harton Arfah Hasan Abidin Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasrah Hasrah Helena Sahusilawane Hendriana, Andri Husnidar Husnidar I Dewa Putu Oka Suardi I Gede Setiawan Adi Putra I Gusti Agung Gede Wiadnyana I GUSTI AGUNG GEDE WIADNYANA . I Gusti Ayu Rai I MADE ARTIKA I Made Artika I Wayan Budiyasa I Wayan Nurjaya I Wayan Suanda I. Mokoginta Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Imah, Nenden Imlani, Ainulyakin Hasan Inarto, Hendri ING MOKOGINTA Iqbal Kurniawinata, Mohamad Ira Akhdiana Irmawati Irvan Faizal Irzal Effendi Ismarica, Ismarica Jr., Muhammad Zairin Juli Ekasari Julie Ekasari Jullie Ekasari KATSUYUKI HAMASAKI KATSUYUKI HAMASAKI KETUT BUDI SUSRUSA Komang Adi Wika Wiguna Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti Latifah Kosim Darusman Ligaya I. T. A. Tumbelaka M. Ikhsan M. Setiawati M. Tri Djoko Sunarno M. Zairin Junior Mas Tri Djoko Sunarno Meilisza, Nina Meritha, Wellya Wichi Mia Setiawati Muhaimin Hamzah Muhammad Jailani Muhammad Junior Zairin Muhammad Raditya Gumelar Muhammad Ridzky Adhory Muhammad Roikhan Amanullah Muhammad Safir Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin JR Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. MUHAMMAD ZAIRIN Jr. Mulyasari Mulyasari Munawar Khalil Muslim Muslim Muzahar Niagara, Niagara Nina Meilisza Nur Bambang Priyo Utomo Nuraini Annisa, Nuraini Nuril Farizah Odang Carman Otie Dylan Soebhakti Hasan Padlilah, Rahmi Paramadina, Siwi Pattipeilohy, Christian Ernsz R Rifai R. Sutajaya Raditya Gumelar, Muhammad Rahminiwati, Min Rakhmawati, Rakhmawati, Ria Septy Anggraini, Ria Septy Ricky Ramadhan Ridhia Putri RIDWAN AFFANDI Rina Hirnawati Rizky Nafaida Samalei, Ermianus Sarwititi Sarwoprasojdo, Sarwititi Senja, Reza Karunia Setyorini, Catur Siti Komariyah Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci antoro Suci Antoro Suclyadi Dairun Sukenda, Sukenda, Supriyadi Hari Respati Suryadi Saputra T. Makmur Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Titin Kurniasih TOSHIO TAKEUCHI TOSHIO TAKEUCHI Tulas Aprilia Upmal Deswira Utomo, Nurbambang Priyo Wahyudi, Imam Tri Wasmen Manalu Wida Lesmanawati WIDANARNI WIDANARNI Widiyanto, Aris Wijianti, Hani Wijiwinarsih, Amallia Wika Wiguna, Komang Adi Winda Styani Irawan, Winda Styani Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yessy Rahmayanti Yogo Tri Saloko Yudha Trinoegraha Adiputra Yudha Trinoegraha Adiputra Yutaka Haga Zairin Jr., Muhammad Zinatul Hayati