Claim Missing Document
Check
Articles

Dietary evaluation of cinnamaldehyde supplementation with different protein energy levels and ratios in Pacific whitleg Shrimp Litopenaeus vannamei Hendriana, Andri; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Suprayudi, Muhammad Agus; Ekasari, Julie; Wahjuningrum, Dinamella
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.1.79-91

Abstract

This study aimed to evaluate the growth performance and carbohydrate metabolism of Pacific whiteleg shrimp after feeding with different cinnamaldehyde concentrations and protein-energy ratios. The study used a completely randomized design with six treatments in triplicates. The treatments were S003213; treatment S053213; treatment S052814; treatment S102814; treatment S052815; and treatment S102815. The study was conducted for 56 days in a 76 L volume aquarium using shrimps with 1.38 ± 0.01 g at 200 individuals/m3. The results showed that the S053213 treatment was significantly different (P<0.05) compared to other treatments for the specific growth rate (SGR). Hexokinase (hk) and phosphoenolpyruvate carboxykinase (pepck) produced by the S053213 treatment were significantly different (P<0.05) from the S003213 treatment. The S052815 and S102815 treatments produced higher protein retention (PR) and protein efficiency ratio (PER) compared to other treatments (P<0.05) and also produced the same final average weight (FW) as the S003213 treatment. This research shows that vannamei fed by 0.10% supplementation dose of cinnamaldehyde with a decreased feed protein up to 28% and C/P ratio 14 and 15 are able to utilize feed as well as protein 32% without cinnamaldehyde. The addition of cinnamaldehyde with a higher C/P ratio requires a higher dose of cinnamaldehyde than the optimal dose. Keywords: Carbohydrate metabolism, cinnamaldehyde, growth, feed energy ratio, Pacific whiteleg shrimp ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan dan metabolisme karbohidrat udang vaname Litopenaeus vannamei yang diberikan kadar sinamaldehid pada protein dan rasio energi pakan berbeda. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan tiga ulangan. Adapun perlakuan terdiri dari perlakuan kontrol S003213; perlakuan S053213; perlakuan S052814; perlakuan S102814; perlakuan S052815; dan perlakuan S102815. Penelitian dilakukan selama 56 hari pemeliharaan pada akuarium volume 76 L menggunakan udang vaname berukuran 1,38 ± 0,01 g dengan kepadatan 200 individuals/m3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan S053213 berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan perlakuan lainnya untuk parameter laju pertumbuhan spesifik (SGR). Parameter heksokinase (hk) dan phosphoenolpyruvate carboxykinase (pepck) yang tertinggi dihasilkan oleh perlakuan S053213 dan berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan S003213. Pada perlakuan S052815 dan S102815 menghasilkan retensi protein (PR) dan rasio efisiensi protein (PER) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya (P<0,05) serta menghasilkan bobot rata-rata akhir (FW) sama dengan perlakuan S003213. Penelitian ini menunjukkan bahwa udang vaname yang diberikan suplementasi sinamaldehid sebesar 0,10% dengan protein pakan 28% dan rasio C/P menjadi 14 dan 15 mampu pemanfaatan protein pakan yang sama dengan protein pakan 32% tanpa suplementasi sinamaldehid. Penambahan sinamaldehid dengan rasio C/P yang lebih tinggi membutuhkan dosis sinamaldehid yang lebih tinggi dari dosis optimal. Kata kunci: metabolisme karbohidrat, pertumbuhan, rasio energi pakan, sinamaldehid, udang vaname
Rotifer Brachionus rotundiformis enriched with taurine for survival and growth of larval milkfish Chanos chanos Aimma, Muhammad Ariful; Dedi Jusadi; Suprayudi, Muhammad Agus; Alimuddin, Alimuddin; Adiasmara Giri, I Nyoman; Shofa Adestia, Talita
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.102-110

Abstract

This research evaluated the effect of taurine-enriched rotifers on the survival and growth of milkfish larvae. Twenty-five fertilized milkfish eggs were placed in a 250 L cylindrical fiber tank. This study used a completely randomized design with four treatments and five replications. Three days old larvae were given rotifers enriched with taurine at 0, 25, 50, or 75 mg/L. Larvae were cultured until they were 18 days old. The results showed that the taurine content in rotifers was higher in rotifer at 50 mg/L treatment, then decreased at the 75 mg/L treatment. Taurine content in the milkfish larvae aligned with taurine levels in rotifers. Furthermore, the taurine content in rotifers affected milkfish larvae' survival and body length. The highest larval survival and growth was obtained in the 50 mg/L taurine treatment. Thus, it can be concluded that taurine at 50 mg/L is the optimal rotifer enrichment dose for milkfish larvae. Keywords: growth, milkfish larvae, notochord, survival rate, taurine ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian rotifera yang diperkaya taurin terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan bandeng. Dua puluh lima butir telur ikan bandeng yang telah dibuahi ditempatkan pada tangki fiber berbentuk silinder berukuran 250 L. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Larva berumur tiga hari setelah menetas diberi rotifer yang diperkaya taurin dengan dosis 0, 25, 50, atau 75 mg/L. Larva dipelihara hingga berumur 18 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan taurin pada rotifer tertinggi diperoleh pada perlakuan rotifer 50 mg/L, kemudian menurun pada perlakuan rotifer 75 mg/L. Kandungan taurin pada larva ikan bandeng sebanding dengan kandungan taurin pada rotifer. Kandungan taurin pada rotifer berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dan panjang tubuh larva ikan bandeng. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva tertinggi diperoleh pada perlakuan dosis 50 mg/L. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian taurin 50 mg/L pada pengayaan rotifer merupakan dosis yang optimal untuk diberikan pada larva ikan bandeng. Kata Kunci: kelangsungan hidup, larva bandeng, notochord, pertumbuhan, taurin
Evaluation of food digestibility in Nile tilapia fish Oreochromis niloticus given NSP enzymes and organic chromiium Oktaviani, Amelia; Muhammad Agus Suprayudi; Setiawati, Mia; Achmad Fauzi, Ichsan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.136-147

Abstract

Feed is a crucial factor in tilapia farming because it contributes 92% of the total production cost. This study aims to evaluate the digestibility and utilization of carbohydrates in low-protein feed supplemented with NSP enzymes and organic chromium. The research method employed a factorial completely randomized design with treatments of organic chromium (0, 1, 2) and NSP enzymes (0, 1). The study used 18 aquariums, each measuring 50×40×35 cm. The fish used were tilapia with an average weight of 33.09 ± 0.06 g per fish. The feed used was commercial feed supplemented with organic chromium and NSP enzymes. The study focused on digestibility performance, digestive enzyme activity, growth performance, and antioxidant status. The results showed that the treatments E1C1 and E0C2 resulted in better total digestibility, energy digestibility, and protein digestibility compared to the control and other treatments. Lipase, protease, and amylase enzymes in tilapia fed with the E1C1 treatment showed significantly higher results (P<0.05) compared to the control. Growth performance in tilapia fed with NSP enzymes and organic chromium did not show significant differences from the control (P>0.05). However, antioxidant status, specifically SOD and GPx, was significantly higher in the E0C1 treatment compared to the control (P<0.05). The conclusion of this study is that the addition of NSP enzymes and organic chromium to low-protein feed can improve digestibility and optimize carbohydrate utilization, with the best results achieved with the E1C1 treatment. Keywords: antioxidant, digestive enzymes, Nile tilapia, nutrient digestibility ABSTRAK Pakan menjadi factor krusial dalam usaha budidaya ikan nila karena memiliki kontribusi sebesar 92% dari total biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kecernaan dan kemampuanpemanfaatan karbohidrat pada pakan protein rendah yang diberienzim NSP dan kromium organik. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan perlakuan kromium organic (0,1,2) dan enzim NSP (0,1). Wadah yang digunakan merupakan aquarium yang berukuran 50×40×35 cm sebanyak 18 unit. Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila dengan bobot rata-rata 33,09 ± 0,06 g/ekor. Pakan yang digunakan merupakan pakan komersial yang diberi penambahan kromium organik dan enzim NSP. Penelitian ini difokuskan pada kinerja kecernaan, aktivitas enzim pencernaan, kinerja Pertumbuhan serta status Antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan E1C1 dan E0C2 menghasilkan nilai kecernaan total, kecernaan energi dan kecernaan protein yang lebih baik dibanding perlakuan kontrol dan perlakuan lainnya. Enzim lipase, protease dan amilase pada ikan nila yang diberipakan perlakuan E1C1 menunjukkan hasil yang lebih tinggi secarasignifikan (P<0,05) terhadap kontrol. Kinerja pertumbuhan pada ikan nila yang diberienzim NSP dan kromium organik menghasilkan nilai yang tidak signifikan dengan kontrol (P>0,05). Walaupun demikian, status antioksidan yang dihasilkan yaitu SOD dan GPx pada perlakuan E0C1 menghasilkan nilai yang lebih tinggi secara signifikan terhadap kontrol (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan enzim NSP dan kromium organik pada pakan rendah protein mampu meningkatkan kinerja kecernaan dan memanfaatkan karbohidrat dengan optimal. Hasil terbaik pada perlakuan E1C1. Kata kunci: antioksidan, enzim pencernaan, kecernaan nutrient, ikan nila
Growth and health performance of pacific white shrimp fed diets with varying protein levels and citral supplementation Paramadina, Siwi; Ekasari, Julie; Agus Suprayudi, Muhammad; Achmad Fauzi, Ichsan; Shofa Adestia, Talita
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.185-198

Abstract

Citral is known for its antimicrobial, antioxidant, and anti-diabetic properties. This study evaluates the effects of dietary citral supplementation on glucose absorption, growth, feed utilization, and health of Pacific white leg shrimp (Litopenaeus vannamei) fed different protein levels. A 2×3 factorial experiment was conducted with two variables: protein content (30% and 35%) and citral concentrations (0, 50, and 75 mg/kg). Shrimp (3.22 ± 0.01 g) were reared in 180 L tanks (30 shrimp/tank) for 60 days. Citral supplementation increased blood glucose levels in the first two hours post-feeding, with a faster return to basal levels. Growth and feed efficiency also improved with citral diets. After stress testing, citral and dietary protein showed a synergistic effect on superoxide dismutase (SOD), with the highest level in the 75 mg/kg citral, 35% protein diet, correlating with higher post-challenge survival. Total haemocyte count (THC), phenoloxidase (PO) activity, respiratory burst (RB), and blood clotting time improved with citral supplementation, while protein level only affected RB. After Vibrio challenge, higher protein increased THC and reduced clotting time, while citral enhanced THC, PO, and RB. The highest post-challenge survival was observed in shrimp fed 75 mg/kg citral with 35% protein (p<0.05). These findings suggest dietary citral supplementation may enhance shrimp health and resilience against stress and Vibrio infection. Keywords: Citral, Cymbopogon citratus, post-prandial glucose, Litopenaeus vannamei, V. parahaemolyticus ABSTRAK Citral dikenal memiliki sifat antimikroba, antioksidan, dan anti-diabetes. Studi ini mengevaluasi efek suplementasi citral dalam pakan terhadap absorpsi glukosa, pertumbuhan, pemanfaatan pakan, dan kesehatan udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang diberi pakan dengan kadar protein berbeda. Percobaan faktorial 2×3 dilakukan dengan dua variabel: kadar protein (30% dan 35%) serta konsentrasi citral (0, 50, dan 75 mg/kg). Udang (3,22 ± 0,01 g) dipelihara dalam tangki 180 L (30 ekor/tangki) selama 60 hari. Suplementasi citral meningkatkan kadar glukosa darah dalam dua jam pertama setelah makan, dengan penurunan lebih cepat ke tingkat basal. Pertumbuhan dan efisiensi pakan juga meningkat dengan pakan yang mengandung citral. Setelah uji stres, citral dan protein menunjukkan efek sinergis terhadap kadar superoksida dismutase (SOD), dengan kadar tertinggi pada perlakuan 75 mg/kg citral dalam diet protein 35%, yang berkorelasi dengan tingkat kelangsungan hidup pasca tantangan yang lebih tinggi. Jumlah hemosit total (THC), aktivitas fenoloksidase (PO), respiratory burst (RB), dan waktu pembekuan darah meningkat dengan suplementasi citral, sementara kadar protein hanya berpengaruh pada RB. Setelah tantangan Vibrio, kadar protein yang lebih tinggi meningkatkan THC dan mempercepat pembekuan darah, sedangkan citral meningkatkan THC, PO dan RB. Kelangsungan hidup pasca tantangan tertinggi ditemukan pada udang yang diberi 75 mg/kg citral dengan protein 35% (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa suplementasi citral dalam pakan dapat meningkatkan kesehatan dan ketahanan udang terhadap stres dan infeksi Vibrio. Kata kunci: Citral, Cymbopogon citratus, glukosa pasca makan, Litopenaeus vannamei, V. parahaemolyticus
Evaluation of protein and lipid on feed of Tilapia Oreochromis niloticus Niagara, Niagara; Muhammad Agus Suprayudi; Setiawati, Mia; Achmad Fauzi, Ichsan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.266-273

Abstract

The goal of this study was to discover the optimal protein and lipid levels for increasing the growth performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus. A 2×2 randomized factorial design was used for this research, and two treatment factors were used: the protein level (28% and 32%) and the lipid level (6% and 8%). So, there were four test treatments and carried out with three replications. Nile tilapia with an average body weight of 5.60 ± 0.06 g were grown in a 900×45×35 cm3 aquarium at a density of 20 fish/aquarium. The experimental fish were grown for 60 days and fed three times daily until they appeared to be satisfied. Parameters evaluated in this study were growth performance and blood chemistry. The fish fed with diet 32;8 showed significantly higher growth than other treatments. Plasma protein in the fish fed with 32;6 diets were higher than those of plasma triglycerides, high density lipoprotein, and low density lipoprotein content were the same among the treatments. The result shows that feed 28;8 has the best protein efficiency ratio and protein retention. Keywords: Oreochromis niloticus, protein sparing effect, lipid, feed ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein dan lipid yang optimum dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak faktorial 2×2 dengan dua faktor perlakuan yaitu kadar protein (28% dan 32%) dan kadar lipid (6% dan 8%). Jadi terdapat empat perlakuan uji dan dilakukan dengan tiga kali ulangan. Ikan nila dengan rata-rata bobot badan 5,60 ± 0,06 g dipelihara dalam akuarium berukuran 900×45×35 cm3 dengan kepadatan 20 ekor/akuarium. Ikan dipelihara selama 60 hari dan diberi makan tiga kali sehari secara at satiation. Parameter yang dievaluasi dalam penelitian ini adalah kinerja pertumbuhan dan kimia darah. Ikan yang diberi perlakuan dengan pakan 32;8 menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Protein plasma pada ikan yang diberi pakan 32;6 lebih tinggi dibandingkan dengan trigliserida plasma, HDL dan LDL rendah yang sama antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan 28;8 mempunyai nilai protein efesiensi rasio dan retensi protein terbaik. Kata Kunci: Oreochromis niloticus, protein sparing effect, lemak, pakan
SUPLEMENTASI L-KARNITIN DAN KAYU MANIS PADA PAKAN TERHADAP PENURUNAN LEMAK DAN TEKSTUR FILET IKAN PATIN Pangasianodon hypophthalmus PADA FASE PEMBESARAN Wahyudi, Imam Tri; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Riset Akuakultur Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.18.1.2023.1-14

Abstract

upaya untuk mengurangi kadar lemak tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi suplementasi L-karnitin dan tepung kayu manis terhadap kadar lemak dan tekstur daging ikan patin pada fase pembesaran. Ikan patin berukuran 125,4 ± 7,85 g dan panjang 24,71±0,68 cm dipelihara selama 60 hari dalam wadah hapa berukuran 2 x 1 x 1 m3. Ikan diberi pakan tiga kali sehari ad satiation dengan perlakuan, sebagai berikut: kontrol (K), penambahan L-karnitin 1 g kg-1 (LK 1), L-karnitin 2 g kg-1 (LK 2), kayu manis 5 g kg-1 (KM 5), dan kayu manis 10 g kg-1 (KM 10). Sampel diambil pada awal, pertengahan, dan akhir pemeliharaan untuk pengukuran kadar lemak daging. Parameter yang diamati yaitu lemak daging dan tekstur daging. Hasil menunjukkan bahwa pemberian KM 10 menghasilkan kadar lemak yang lebih rendah dari perlakuan lainnya setelah 30 hari dan penurunan yang lebih besar yaitu berkisar 51,06% dan 42,55% pada perlakuan LK 2 dan KM 10 pada hari ke-60. Nilai indeks hepatosomatik juga menurun yang diikuti oleh penurunan kadar lemak hati. Nilai kekerasan daging menunjukkan peningkatan kualitas yang terlihat dari nilai yang semakin rendah. Pemberian tepung kayu manis 10 g kg-1 pada fase pembesaran menunjukkan hasil terbaik pada pemberian selama 60 hari dalam menurunkan lemak daging ikan patin hingga memenuhi standar filet, karena adanya proses lipolisis serta pemanfaatan lemak menjadi energi. Kayu manis ini menjadi sangat potensial untuk dikembangkan sebagai feed additive dalam upaya memperbaiki kualitas daging ikan patin fase pembesaran.Striped catfish meat has a high-fat content which is undesirable to markets and customers alike and needs to be reduced. This study aims to evaluate the effect of dietary L-carnitine and cinnamon powder on reducing the fat content of striped catfish meat in the grow-out stage. Striped catfish measuring 125.4 ± 7.85 g and 24.71 ± 0.68 cm body length were kept for 60 days in a hapa with size 2 x 1 x 1 m3. Thefish were fed three times a day at satiation with the following treatments: control (K), the addition of L-carnitine 1 g kg-1 (LK 1), L-carnitine 2 g kg-1 (LK 2), cinnamon 5 g kg-1 (KM 5) and cinnamon 10 g kg-1 (KM 10). Sampling was conducted on the initial, middle and final day for meat fat content analysis. The parameters observed were meat fat and meat texture. The results showed that dietary KM 10 significantly reduced meat fat content compared to controls on the 30th and it showed a more significant reduction, namely 51.06% and 42.55%, in the treatment LK 2 and KM 10 after 60 days treatment. The hepatosomatic index value also decreased, followed by decreased liver fat levels. The lower values of meat hardness imply an increase in meat quality. It can be concluded that the application of dietary cinnamon powder at 10 g kg-1 (KM 10) is the best level to reduce the fat content of striped catfish meat in meeting the fillet standards. This cinnamon has excellent potential to be developed as a feed additive to improve the quality of striped catfish meat in the rearing phase.
PENGARUH SUPLEMENTASI TRIPTOFAN MELALUI PAKAN TERHADAP KANIBALISME DAN KONSENTRASI HORMON STEROID BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Heltonika, Benny; Sudrajat, Agus Oman; Junior, Muhammad Zairin; Widanarni, Widanarni; Suprayudi, Muhammad Agus; Manalu, Wasmen; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.3.2022.133-144

Abstract

Perilaku kanibal pada benih ikan baung (Hemibagrus nemurus) menjadi permasalahan pada pembenihannya. Salah satu pendekatan yang sudah dilakukan untuk mengendalikan kanibalisme pada ikan adalah pemberian triptofan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh triptofan terhadap kejadian kanibalisme dan kandungan konsentrasi hormon steroid pada benih ikan baung. Panjang awal benih yang digunakan adalah 4,98±0,1 cm yang dipelihara di dalam akuarium berkapasitas 20 L dengan kepadatan 3 ekor per L.  Selama penelitian, benih ikan baung diberi pakan komersial (40% protein) yang disuplementasi triptofan dengan konsentrasi berbeda, yaitu tanpa suplementasi triptofan (A), suplementasi triptofan 0,25% (B), suplementasi triptofan 0,50% (C), suplementasi triptofan 0,75% (D), dan suplementasi triptofan 1% (E). Setiap perlakuan terdiri dari tiga kali ulangan. Pakan diberikan empat kali sehari secara satiasi. Parameter yang diamati adalah tipe kanibal, indeks kanibal, kematian normal, sintasan, performa pertumbuhan serta konsentrasi hormon (estradiol, testosteron, dan kortisol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang diperkaya triptofan memberikan penurunan kejadian kanibal dan peningkatan sintasan benih ikan baung. Pemberian triptofan juga menurunkan kandungan estradiol tubuh, dan penurunan ini ada kaitannya dengan penurunan kejadian kanibalisme. Performa pertumbuhan benih ikan baung meningkat dengan pemberian pakan yang ditambahkan triptofan.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi 0,50–0,75% triptofan pada pakan efektif menurunkan kejadian kanibalisme pada benih ikan baung.The cannibal behavior of Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) is a problem in the hatchery. One approach that has been used to control cannibalism in fish is the use of tryptophan. This study aimed to determine the effect of tryptophan on the incidence of cannibalism and the content of steroid hormones in Asian redtail catfish juveniles. The study was conducted using the fish with a body length of 4.98±0.14 cm reared in aquariums with a water volume of 20 L with a density of 3 fish per L. Fish were given commercial feed (40% protein) supplemented with tryptophan with different concentrations, namely without tryptophan supplementation (A), tryptophan supplementation 0.25% (B), tryptophan supplementation 0.5% (C), tryptophan supplementation 0.75% (D), and tryptophan supplementation 1% (E). Each treatment consisted of three replications. Feed were given four times a day at satiation level. Parameters observed were cannibal type, cannibal index, normal mortality, survival rate, growth performance, and hormone concentration (estradiol, testosterone, and cortisol). The results showed that giving tryptophan through feed decreased the incidence of cannibalism and increased the survival of Asian redtail catfish juveniles. The addition of tryptophan to the feed decreased the concentration of estradiol in the body of fish and it is associated with a decrease in the incidence of cannibalism, thereby improving survival.  Furthermore, the supplementation of tryptophan also increased growth performance. The results of this study showed that supplementation of 0.50-0.75% tryptophan in feed was effective in reducing the incidence of cannibals in Asian redtail catfish juveniles.
SELEKSI INDUK MATANG GONAD PADA SIPUT GONGGONG Laevistrombus turturella Muzahar; Jr., Muhammad Zairin; Yulianda, Fredinan; Suprayudi, Muhammad Agus; Alimuddin; Effendi, Irzal
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.294 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v12i1.28144

Abstract

Siput gonggong Laevistrombus turturella merupakan siput laut yang banyak dikonsumsi masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau sehingga populasinya diperkirakan menurun. Upaya pelestarian siput ini perlu dilakukan salah satunya dengan budidaya. Kegiatan budidaya memerlukan ketersediaan induk matang gonad. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis ukuran induk siput gonggong matang gonad berdasarkan panjang cangkang dan warna gonad, serta mengevaluasi pengaruh paparan suhu berbeda terhadap kecepatan penentuan jenis kelamin induk. Panjang cangkang siput gonggong diukur dengan jangka sorong, kemudian dipecahkan untuk mengamati warna gonadnya. Data dianalisis dengan student t-test. Perlakuan paparan suhu air 15°C (P1), 20°C (P2), dan 30°C (P3). Tujuh ekor induk siput gonggong dimasukkan ke dalam akuarium sesuai perlakuan, durasi waktu keluar tubuh lunak siput gonggong dari cangkang dicatat. Data dianalisis dengan uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan ukuran rata-rata panjang cangkang induk siput gonggong matang gonad dari laut Madong-Tanjungpinang adalah 63,449±5,352 mm (jantan) dan 66,953±5,876 mm (betina). Penentuan jenis kelamin siput gonggong dapat dipercepat dengan pemberian kejutan suhu dengan suhu air 20°C.
ENHANCING PROTEIN UTILIZATION AND GROWTH PERFORMANCE IN STRIPED CATFISH WITH CINNAMALDEHYDE AND OPTIMIZED ENERGY-TO-PROTEIN RATIOS Wahyudi, Imam Tri; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie; Suprayudi, Muhammad Agus; Kurniawinata, Mohamad Iqbal; Imlani, Ainulyakin Hasan
Indonesian Aquaculture Journal Vol 20, No 2 (2025): (December, 2025)
Publisher : Agency for Marine and Fisheries Extension and Human Resources

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/iaj.20.2.2025.221-230

Abstract

Efficient dietary protein utilization is essential to reduce feed costs and environmental impacts in sustainable aquaculture. This study aimed to evaluate the effects of cinnamaldehyde (CA) supplementation in feed with various energy-to-protein (E:P) ratios on the chemical composition of Pangasianodon hypophthalmus. The five feed formulas that made up the treatment feed were as follows: 28:13-C0 (28 % Protein with an E:P ratio of 13 and CIN 0 g kg-1); 25:14-C1 (25 % protein with an E:P ratio of 14 and CIN 1.2 g kg-1); 25:14-C2 (25 % protein with an E:P ratio of 14 and CIN 1.7 g kg-1); 25:15-C1 (25 % protein with an E:P ratio of 15 and CIN 1.2 g kg-1); and 25:15-C2 (25 % Protein with an E:P ratio of 15 and CIN 1.7 g kg-1). Striped catfish weighing 28.06 ± 0.19 g were placed in a hapa (2 × 1 × 1 m3) at a density of 25 fish per cage. Fish were fed to apparent satiation three times daily for 60 d. The 25:14-C2, 25:15-C1, and 25:15-C2 diets increased albumin levels and reduced cholesterol, while 25:15-C2 also yielded the highest total protein and lowest triglyceride levels. Growth performance and feed efficiency were comparable among 28:13-C0, 25:14-C2, 25:15-C1, and 25:15-C2 (final weight: 141.62–143.75 g; FCR: 1.16–1.19). Protein efficiency ratio was highest in 25:15-C1 and 25:15-C2, whereas protein retention peaked in 25:14-C2. The hepatosomatic index was elevated in 25:14-C1, 25:14-C2, and 25:15-C1. Body lipid content was highest in 25:15-C1, while muscle lipid content was lowest in 25:14-C2 and 25:15-C1. Reducing dietary protein from 28 % to 25 % did not compromise growth performance at the E:P ratio level of 15 with a supplementation of 1.2 g kg-1 CIN.
Optimization of Thalassiosira sp. Growth in Mixotrophic Culture by Adding Sucrose and Indole-3-Acetic Acid (IAA): Optimization of Thalassiosira sp. Growth in Mixotrophic Culture by Adding Sucrose and Indole-3-Acetic Acid (IAA) Talita Shofa Adestia; Anargya Pradipa Tristanandana; Muhammad Ridzky Adhory; Ichsan Achmad Fauzi; Muhammad Agus Suprayudi; Julie Ekasari
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 15 No. 2 (2026): JAFH Vol. 15 No. 2 June 2026
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v15i2.85600

Abstract

Thalassiosira sp. is a significant marine diatom utilized as live feed in aquaculture; however, its culture productivity frequently remains below optimal levels. The present study evaluated the growth performance and culture quality of Thalassiosira sp. under two parallel cultivation strategies: a mixotrophic system supplemented with sucrose and a system supplemented with Indole-3-Acetic Acid (IAA). Both cultivation schemes were maintained for seven days under identical environmental conditions. Sucrose was administered at concentrations ranging from 0.25 to 1 g/L, while IAA was applied at 2.5 to 10 mg/L. Cell density, specific growth rate, dry biomass, and total Vibrio count were measured. Sucrose supplementation, particularly at 1 g/L, resulted in increased growth and biomass accumulation but was accompanied by elevated Vibrio abundance. IAA supplementation also promoted growth and biomass production, with the most pronounced effect observed at 10 mg/L, although it did not reduce bacterial proliferation. These findings indicate that both sucrose and IAA can enhance Thalassiosira sp. culture productivity under controlled conditions, but effective microbial management remains essential for practical implementation.
Co-Authors , Alimuddin , Sarmin . Ridwan . Vera Dewi Mulia, Troef Soemarno A Halim A. Malik Serang A. Shofy Mubarak Achmad Noerkhaerin Putra Adang Saputra Adiasmara Giri, I Nyoman Agus Oman Sudrajat Ahmad Yazid Latif Aimma, Muhammad Ariful Akhmad Baihaqi Alimuddin alimuddin alimuddin Amelia Oktaviani, Amelia Anargya Pradipa Tristanandana Apriana Vinasyiam Aprilianti Pratiwi Arief Boediono Aris Sudiyanto Aris Tri Wahyudi Arradini, Dewi Artin Indrayati Asda Laining Asda Laining Atmojo, Joko Tri Azmi Afriansyah Benny Heltonika Burhanudin Faisal, Burhanudin D. Jusadi Dairun, Suclyadi DARMAWAN SETIA BUDI Darsiani Darsiani Darsiani Darsiani Deddy Yaniharto Deddy Yaniharto Dedi Jusadi DEDI JUSADI Dedi Jusadi Dedi Yaniharto dedy yaniharto Denny Wahyudi DIAH AYU SATYARI UTAMI Diamahesa, Wastu Ayu Dian Novita Sari Didi Humaedi Yusuf, Didi Humaedi Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Dini Harianto Dodi Hermawan E. Mursitorini Eddy Supriyono Edy Marsudi Elas, Putri Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Surawidjaja Endriatmo Soetarto F. Hapsyari Faiqotul Himmah, Maihardiyanti Fatma Hajiali Fauzan Fredinan Yulianda Gadis Sri Haryani Gebbie Edriani Ghina Raudathul Jannah Giri Maruto Darmawangsa, Giri Maruto Hadi Pratama, Ricky Harton Arfah Hasan Abidin Hasan Nasrullah Hasan Nasrullah Hasrah Hasrah Helena Sahusilawane Hendriana, Andri Husnidar Husnidar I Dewa Putu Oka Suardi I Gede Setiawan Adi Putra I Gusti Agung Gede Wiadnyana I GUSTI AGUNG GEDE WIADNYANA . I Gusti Ayu Rai I MADE ARTIKA I Made Artika I Wayan Budiyasa I Wayan Nurjaya I Wayan Suanda I. Mokoginta Ichsan Achmad Fauzi Iis Diatin Imah, Nenden Imlani, Ainulyakin Hasan Inarto, Hendri ING MOKOGINTA Iqbal Kurniawinata, Mohamad Ira Akhdiana Irmawati Irvan Faizal Irzal Effendi Ismarica, Ismarica Jr., Muhammad Zairin Juli Ekasari Julie Ekasari Jullie Ekasari KATSUYUKI HAMASAKI KATSUYUKI HAMASAKI KETUT BUDI SUSRUSA Komang Adi Wika Wiguna Kusriyati Kusriyati L. Indriastuti Latifah Kosim Darusman Ligaya I. T. A. Tumbelaka M. Ikhsan M. Setiawati M. Tri Djoko Sunarno M. Zairin Junior Mas Tri Djoko Sunarno Meilisza, Nina Meritha, Wellya Wichi Mia Setiawati Muhaimin Hamzah Muhammad Jailani Muhammad Junior Zairin Muhammad Raditya Gumelar Muhammad Ridzky Adhory Muhammad Roikhan Amanullah Muhammad Safir Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin Jr Muhammad Zairin JR Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. MUHAMMAD ZAIRIN Jr. Mulyasari Mulyasari Munawar Khalil Muslim Muslim Muzahar Niagara, Niagara Nina Meilisza Nur Bambang Priyo Utomo Nuraini Annisa, Nuraini Nuril Farizah Odang Carman Otie Dylan Soebhakti Hasan Padlilah, Rahmi Paramadina, Siwi Pattipeilohy, Christian Ernsz R Rifai R. Sutajaya Raditya Gumelar, Muhammad Rahminiwati, Min Rakhmawati, Rakhmawati, Ria Septy Anggraini, Ria Septy Ricky Ramadhan Ridhia Putri RIDWAN AFFANDI Rina Hirnawati Rizky Nafaida Samalei, Ermianus Sarwititi Sarwoprasojdo, Sarwititi Senja, Reza Karunia Setyorini, Catur Siti Komariyah Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Suci Antoro Suci antoro Suclyadi Dairun Sukenda, Sukenda, Supriyadi Hari Respati Suryadi Saputra T. Makmur Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Titin Kurniasih TOSHIO TAKEUCHI TOSHIO TAKEUCHI Tulas Aprilia Upmal Deswira Utomo, Nurbambang Priyo Wahyudi, Imam Tri Wasmen Manalu Wida Lesmanawati WIDANARNI WIDANARNI Widiyanto, Aris Wijianti, Hani Wijiwinarsih, Amallia Wika Wiguna, Komang Adi Winda Styani Irawan, Winda Styani Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yessy Rahmayanti Yogo Tri Saloko Yudha Trinoegraha Adiputra Yudha Trinoegraha Adiputra Yutaka Haga Zairin Jr., Muhammad Zinatul Hayati