Articles
Pelaksanaan Pembinaan Narapidana Perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tangerang
Nugroho, Aditya Pandu;
Subroto, Mitro
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2021): 2021
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jptam.v5i3.1956
Perkembangan peradaban dunia hari ini menunjukkan kompleksitas yang semakin meningkat dengan variasi pola pikir, tindakan, dan perilaku manusia yang disalurkan tidak sebatas sebagai suatu pola pikir, melainkan juga keluar dalam bentuk tindakan negatif yang mengakibatkan kerugian bagi pihak lain dan atau diri si pelaku tersebut. Tindakan tersebut umumnya dinamakan kejahatan. Di sisi lain, terdapat juga perilaku negatif yang dapat dikonotasikan dengan tindakan-tindakan “positif”, pelanggaran norma agama, sosial, atau peraturan dan kebijakan pemerintah. Umumnya pelanggaran terhadap kebijakan atau aturan pemerintah dinilai sebagai Kejahatan. Tulisan ini adalah gambaran awal mengenai Kehidupan Perempuan dalam Lapas yang membutuhkan penelitian lebih lanjut, diharapkan dapat menjadi referensi bagi untuk mempelajari kehidupan perempuan selama di dalam penjara.
IMPLEMENTASI PROGRAM PEMBINAAN TERHADAP NARAPIDANA LANJUT USIA DI LAPAS KELAS IIB SLEMAN
Avandi, Nur Said;
Subroto, Mitro
Jurnal Hukum Samudra Keadilan Vol 18 No Khusus (2023): Jurnal Hukum Samudra Keadilan
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33059/jhsk.v18iKhusus.8784
Elderly prisoners are an increasing group in the prison population worldwide. This article aims to evaluate the effectiveness of a development program specifically aimed at elderly prisoners in achieving the goals of rehabilitation and reintegration into society. This research used a combined approach involving statistical data analysis, interviews with elderly prisoners, and a literature review. The research results show that a program for developing elderly prisoners that focuses on their specific needs, such as appropriate health care, social support, skills training, and access to post-incarceration services, has a significant positive impact on improving their well-being. Apart from that, this research also identifies barriers that can reduce the effectiveness of coaching programs, such as lack of access to adequate health services, discrimination and social isolation. Therefore, it is important to integrate an approach centered on elderly prisoners in policy planning and development programs in correctional institutions. This research provides important insights for stakeholders in the criminal justice system to increase understanding of how to optimize senior prisoner development programs. Further efforts need to be made to improve the quality of these programs and ensure that elderly prisoners receive care and support appropriate to their needs to facilitate successful reintegration into society.
Efektivitas Penerapan Pembebasan Bersyarat pada Tahanan Dewasa di Indonesia
Pratiwi, Annisa Dewi;
Subroto, Mitro
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3157
Pembebasan bersyarat adalah pembebasan bersyarat narapidana sebelum mereka menyelesaikan hukumannya. Narapidana yang dibebaskan bersyarat diawasi oleh pejabat publik, biasanya disebut petugas pembebasan bersyarat. Jika tahanan yang dibebaskan bersyarat melanggar persyaratan pembebasan mereka, mereka dapat dikembalikan ke penjara. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu pembebasan bersyarat sering dipertanyakan efektivitasnya. Dalam jurnal ini dibahas mengenai efektivitas penerapan Pembebasan Bersyarat (PB). Dilakukan penelitian dengan menggunakan metode studi pustaka terhadap jurnal atau artikel ilmiah yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas. Pembebasan bersyarat wajib, yang saat ini merupakan bagian terbesar dari tahanan yang dibebaskan, tidak lebih baik dengan pengawasan daripada tahanan serupa yang dibebaskan tanpa pengawasan dalam hal hasil penahanan kembali. Sementara pembebasan bersyarat diskresioner agak kecil kemungkinannya untuk ditangkap kembali, perbedaan ini relatif kecil mengingat dewan pembebasan bersyarat memilih risiko terbaik untuk dibebaskan.
Peran Program Asimilasi dalam Upaya Pemulihan Hubungan dengan Masyarakat
Wibowo, Johari Tri;
subroto, Mitro
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3651
Dalam upaya meintegrasikan pelanggar hukum dengan masyarakat, di dalam lembaga pemasayarakatan yang bertujuan untuk memulihan hubungan baik maka perlu adanya pola pembinaan yang berhubungan antara pelanggar hukum dan masyarakat. hal ini juga berkitan dengan unsur program pembinaan terdiri dari : petugas, pelanggar hukum, dan masyarakat. konsep yang tepat untuk mengembalikan hubungan baik antara pelanggar hukum dan masyarakat dapat dilakukan dengan program pembinaan yang berbasis community based correction yang mana dalam hal ini masyarakat memiliki peran dalam progam pembinaan pelanggar hukum. Metode yang dapat di kategorikan sebagai upaya penerapan community based correction bagi pelanggar hukum dan masyarakat dapat berupa program asimilasi kerja diluar tembok maupun asimilasi rumah. Hal ini tentunya sesuai dengan konsep pemasyarakatan yang menitik beratkan kepada pemulihan hubungan hidup, kehidupan, dan penghidupan pelanggar hukum.
Pelaksanaan Asimilasi From Home Warga Binaan Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Kendal
Putra, Roby Agi;
Subroto, Mitro
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3692
Peraturan Menteri Hukum dan HAM R.I Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat,yang dimaksud asimilasi merupakan proses pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan dengan membaurkan warga binaan pemasyarakat dengan lingkungan masyrakat. Tujuan asimilasi sendiri adalah mempersiapkan warga binaan pemasyarakatan untuk kembali menjalani kehidupan bermasyarakat dengan baik. Lembaga Pemasyarakatan Kendal adalah salah satu tempat pembinaan warga binaan yang telah memasuki tahap asimilasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana syarat-syarat dan tata cara pelaksanaan asimilasi yang di berikan kepada para warga binaan yang berada pada Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Kendal. Penelitian ini menggunkan metode penelitian yang diperoleh menggunakan data sekunder yaitu dengan cara pengumpulan data-data atau sumber-sumber yang telah ada, yang berlandaskan kepada landasan teori. Ditengah wabah yang melanda dunia ini, hal ini setelah Kemenkumham mengeluarkan kebijakan asimilasi di rumah bagi narapidana atau warga binaan umum yang telah menjalani 2/3 dari masa hukuman sampai 31 desember 2020, sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri No. 10 Tahun 2020 dalam rangka pencegahan dan penanggulangan virus corona
Implementasi Integrasi dan Asimilasi sebagai Upaya Agar Narapidana Diterima Kembali di Lingkungan Masyarakat
Pratama, Imam Haidar;
Subroto, Mitro
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3693
Penulisan jurnal ini didasari oleh Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 24 Tahun 2021. Integrasi yaitu suatu hak yang diberikan kepada narapidana dalam bentuk pembebasan bersyarat bagi narapidana dengan memenuhi syarat yang telah ditentukan. Sedangkan definisi dari asimilasi yaitu suatu hak yang diberikan kepada narapidana dalam rangka mendapatkan sebuah perubahan attitude/perilaku dengan membaurkan kembali narapidana di lingkungan masyarakat. Dalam proses implementasi asimilasi tidak bisa dianggap mudah karena setiap lingkungan hidup dan budaya pada masyarakat selalu mengalami perubahan. Asimilasi dapat diterima oleh narapidana guna memenuhi hak narapidana setelah mereka memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan berdasarkan peraturan hukum yang berlaku. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 21 Tahun 2021 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 32 Tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat bagi Narapidana dan Anak dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19. Implementasi program integrasi dan asimilasi yang di laksanakan di kediaman masing masing guna memutus mata rantai penyebaran covid 19, tentunya dalam pelaksanaanya melalui bimbingan dan pengawasan yang ketat dari pihak BAPAS. Setiap implementasi kebijakan tentunya tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Dalam penulisan jurnal ini dicantumkan hambatan implementasi integrasi dan asimilasi dan cara mengatasi hambatan-hambatan tersebut..
Model Pembinaan Narapidana Berbasis Masyarakat (Community Based Corrections) dalam Sistem Peradilan Pidana
Akbar, Kukuh Al;
Subroto, Mitro
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3701
Community Based Correction adalah jenis program pembinaan bagi narapidana sewaktu mereka menjalani sisa pidananya. Mereka diberi kesempatan untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat dengan pengawasan atau supervisi tertentu. Untuk melaksanakan program operasional lapas terbuka diperlukan 5 (lima) prinsip dasar, antara lain: prinsip pertama narapidana harus memiliki kesempatan untuk memperoleh pekerjaan, prinsip kedua narapidana harus diseleksi terlebih dahulu, prinsip ketiga narapidana tidak boleh dieksploitasi, prinsip keempat sistem pengamanan harus minimum, dan prinsip kelima tanggung jawab pemindahan narapidana.
Optimalsasi Kegiatan Kerja Laduta Bistro sebagai Sarana Asimilasi Luar Tembok di Lapas Kelas IIA Tangerang
Pramana, Alvin Surya;
Subroto, Mitro
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3702
Pembinaan kemandirian merupakan serangkaian kegiatan untuk menciptakan wargabinaan yang berkualitas , dengan tujuan untuk memberikan bekal kemampuan agar dapat kembali hidup bermasyarakat pada umumnya, sehingga dapat kembali sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan bebas. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana bentuk optimaslisasi dari kegiatan kerja Laduta Bistro sebagai sarana asimilasi luar tembok di Lemabaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tangerang dan mengetahui bagaimana faktor penghambat dalam kegiatan kerja Laduta Bistro berlangsung serta cara mengatasi faktor penghambat agar kegiatan kerja Laduta Bistro dapat berjalan dengan maksimal. Hasil dari optimalisasi kegiatan kerja laduta bistro sebagai sarana asimilasi luar tembok di lapas kelas iia tangerang yaitu dengan melatih keterampilan narapidana, memberikan materi dan metode pembinaan keterampilan, serta melaksanakan program optimalisasi yang telah dilakukan. dan ada beberapa faktor penghambatnya yaitu dari segi rasa malas warga binaan pemasyarakatan dan anggaran, sarana prasarana yang harus di maksimalkan. Dengan memberikan motivasi kepada warga binaan pemasyarakatan dan memberikan pelatihan dapat mengatasi faktor penghambat dari kegiatan kerja Laduta Bistro.
Penerapan Konsep Community Based Correction alam Pembinaan Anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak
Andriani, Hestin Febbia;
Subroto, Mitro
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3703
Kegiatan pembinaan wajib diberikan kepada warga binaan pemasyarakatan yang sedang menjalani pidana. Akan tetapi mengingat bahwa pelaku pelanggar hukum tidak hanya berasal dari kalangan dewasa namun ada juga yang masih berusia anak maka proses pembinaan tetap harus diberikan secara adil. Adil disini artinya adalah sesuai porsi penerima, bukan diberikan sama percis antara warga binaan dewasa dan anak-anak. Community Based Correction (CBC) adalah bagian dari proses pembinaan yang didalamnya melibatkan masyarakat. Program CBC akan diberikan pada proses pembinaan tahap akhir bagi warga binaan pemasyarakat. Kali ini, penulis akan membahas mengenai penerapan konsep Community Based Correction dalam pembinaan anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak. Tulisan ini akan menguraikan tentang apa saja isi dari konsep Community Based Correction dan bagaimana perannya dalam upaya pembinaan anak di LPKA. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa study kepustakaan yang kemudian diuraikan secara deskriptif yaitu menuturkan data yang ada misalnya mengenai situasi yang dialami, satu hubungan, kegiatan, pandangan, sikap yang menampak, atau tentang proses yang sedang berlangsung. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran penerapan konsep Community Based Correction dalam proses pembinaan anak sehingga dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa program CBC penting dan berguna diberikan dalam proses pembinaan karena dalam program ini warga binaan dibaurkan langsung dilingkungan masyarakat dan masyarakat tentunya ikut mengambil peran dalam usaha memperbaiki karakter anak pidana.
Pembinaan Narapidana Lanjut Usia melalui Program Asimilasi Rumah di Lembaga Pemasyarakatan
Fahmi, Alvin Pradana;
Subroto, Mitro
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3704
Tahanan yang menempuh kejahatan di Badan Sosialisasi, pada hakikatnya sepanjang menempuh kejahatan, sudah kehabisan independensi buat beraksi, maksudnya tahanan yang berhubungan cuma bisa berkiprah di dalam Badan Sosialisasi saja. Wujud perlakuan dituangkan dalam upaya Badan Sosialisasi atau Rutan buat membina tahanan, buat memahami diri sendiri, alhasil bisa mengubah diri sendiri jadi lebih bagus, jadi positif tidak lagi melaksanakan perbuatan kejahatan ataupun meningkatkan diri sendiri jadi orang yang lebih bermanfaat untuk negeri, agama, serta keluarganya. Tahap tahap yang ditempuh oleh Badan Sosialisasi buat menghindari terbentuknya klise kesalahan sebagimana sudah dipaparkan dimuka merupakan lewat pembinaan salah satunya berupa asimilasi rumah yang ditujukan untuk narapidana lanjut usia. Dalam riset ini, pengarang mempraktikkan tata cara kualitatif yang dilakukan bersumber pada riset pustaka. Dengan Pelaksanaan pembinaan narapidana ini adalah untuk pencegahan terjadinya pengulangan kehajatan. Dengan demikian Narapidana yang lanjut usia ini dapat memperoleh HAM walaupun ada di Lembaga Pemasyarakatan.