Literasi digital menjadi fondasi penting dalam membekali generasi muda menghadapi era digital yang sarat peluang sekaligus risiko. Empat dimensi literasi digital (digital safety, digital culture, digital skill, dan digital ethic) saling melengkapi dalam menciptakan ruang siber yang aman dan sehat. Salah satu urgensi terbesar dari penguatan literasi digital adalah mencegah terjadinya kekerasan seksual di dunia maya, yang semakin marak menimpa remaja akibat rendahnya kesadaran akan keamanan data pribadi, lemahnya etika bermedia, serta kurangnya keterampilan mengelola interaksi digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMPN 4 Bekasi dirancang untuk memperkuat literasi digital siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama sebagai kelompok usia yang rentan terhadap ancaman daring. Pelatihan menekankan pada peningkatan kesadaran kritis, keterampilan teknis, serta pemahaman budaya dan etika digital agar remaja mampu mengenali modus kekerasan seksual secara daring, menolak manipulasi, serta melindungi diri dari eksploitasi berbasis teknologi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa mengenai bahaya kekerasan seksual daring serta cara-cara pencegahannya. Peserta semakin berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi, lebih peka terhadap tanda-tanda interaksi mencurigakan, serta memiliki keberanian untuk menolak dan melaporkan potensi pelecehan di ruang digital. Temuan ini menegaskan bahwasanya penguatan literasi digital yang komprehensif tidak hanya meningkatkan kecakapan teknologi, tetapi juga menjadi benteng strategis dalam melindungi remaja dari kasus-kasus kekerasan seksual di era digital.