Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search
Journal : Kompetensi

SULANG-SULANG PAHOMPU ETNIK BATAK TOBA KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK Ayu Andari Nainggolan; Jekmen Sinulingga; Asriaty R Purba
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 14 No 2 (2021): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.486 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v14i2.48

Abstract

Penelitian ini berjudul Sulang-sulang Pahompu Etnik Batak Toba: Kajian Antropolinguistik. Metode pengumpulan data yang digunakan ada 3 (tiga) yaitu metode observasi, metode wawancara dan metode kepustakaan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif yang bersifat deskriptif. Lokasi pengambilan data untuk penelitian ini terletak di desa Matiti I, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tahapan-tahapan yang terdapat dalam Sulang-sulang Pahompu etnik Batak Toba, pesan yang terkandung di dalam Sulang-sulang Pahompu etnik Batak Toba, beserta nilai yang terkandung dalam Sulang-sulang Pahompu etnik Batak Toba. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori antropolinguistik oleh Duranti. Hasil temuan yang penemuan ini ditemukan ada 12 tahapan. Fungsi yang terdapat dalam upacara adat sulang-sulang pahompu yaitu fungsi asertif, fungsi direktif, fungsi ekspresif, fungsi komisif dan fungsi deklaratif. Nilai terdapat dalam upacara adat sulang-sulang pahompu antara lain nilai rasa syukur, Nilai pelestarian dan kreativitas budaya, Nilai gotong royong, Nilai kesopansantunan, Nilai kerja keras, dan nilai pengelolaan gender.
MANUMPAN SOLU-SOLU ETNIK BATAK TOBA: KAJIAN SEMIOTIK Switno Rajagukguk; Jekmen Sinulingga
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 14 No 2 (2021): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.167 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v14i2.56

Abstract

Penelitian ini berjudul Manumpan Solu-Solu Etnik Batak Toba : Kajian Semiotik. Metode pengumpulan data yang digunakan ada 3 (tiga) yaitu metode observasi, metode wawancara dan metode kepustakaan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif yang bersifat deskriptif. Lokasi pengambilan data untuk penelitian ini terletak di desa Sibandang, Kecamatan Muara, Kabupaten Humbang Hasundutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Bentuk, fungsi dan makna simbol yang terdapat dalam Manumpan Solu-solu Etnik Batak Toba , Teori yang digunakan untuk menganalisis riset ini merupakan teori Semiotik yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce. Hasil penelitian yakni : Manumpan solu solu terhadap Etnik Batak Toba terdapat 20 jenis simbol peralatan antara lain : Rindang ( kayu), sibola aek, gading -gading (rusuk), panontar, lambung solu-solu, ulos ragi hotang, ulos mangiring, belek-belek, sanggul-sanggul, unte pangir (jeruk purut), pinggan nabontar (cawan putih), sijagaron, pirani ambalungun (telur ayam kampung), itak gurgur, tandok, boras, hepeng atau uang, mesin , propeller (kipas), hole (kemudi). 5 jenis simbol makanan antara lain : Napuran ( sirih), pining (pinang), ikan mas, Daging babi, Daging ayam. 4 jenis simbol penanda status antara lain : Hula hula, Dongan tubu, boru, dongan sahuta serta 1 jenis simbol waktu antara lain :Pagi hari atau manogot ni ari.
UPACARA SAUR MATUA ETNIK BATAK ANGKOLA/MANDAILING: KAJIAN SEMOTIKA SOSIAL Stephanie Grace Ester Harahap; Jekmen Sinulingga
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.341 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.77

Abstract

Artikel ini berjudul “Tradisi Upacara Saur Matua Etnik Batak Angkola/Mandailing: Kajian Semiotika Sosial”. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk simbol yang terdapat dalam upacara saur matua etnik Batak Angkola/Mandailing, (2) mendeskripsikan fungsi simbol yang terdapat dalam upacara saur matua etnik Batak Angkola/Mandailing, dan (3) mendeskripsikan nilai simbol yang terdapat dalam upacara saur matua etnik Batak Angkola/Mandailing. Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif  dengan observasi wawancara terstruktur. Berdasarkan analisis data dan pembahasan, maka ditemukan bahwa terdapat 34 simbol, yakni (1) 20 bentuk simbol peralatan, (2) 7 bentuk simbol makanan, (3) 5 bentuk simbol penanda status sosial, (4) 2 bentuk simbol waktu, kemudian dari hasil penelitian terhadap fungsi simbol berdasarkan bentuk simbol yang telah ditemukan, ialah (1) menyatakan pesan ekspresif, (2) menyatakan pesan direktif, (3) menyatakan pesan komisif, (4) menyatakan pesan representatif, dan (5) menyatakan pesan deklaratif. Untuk nilai simbol pada upacara, ditemukan 11 nilai simbol kesetiakawanan sosial, kesopansantunan, gotong royong, disiplin, pelestarian dan kreativitas budaya, pengelolaan gender, kerukunan, komitmen, kesejahteraan, dan rasa syukur.
Komodifikasi Budaya Tradisi Mangebang Solu Bolon dalam Meningkatkan Pariwisata di Kecamatan Baktiraja Simamora, Aprianto; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 1 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i1.94

Abstract

Artikel ini berjudul Komodifikasi budaya tradisi Mangebang Solu Bolon dalam meningkatkan pariwisata di Kecamatan Baktiraja. Tujuan penulisan artikel ini adalah  mendeskripsikan nilai dalam tradisi mangebang solu bolon, tahapan-tahapan yang ada dalam tradisi mangebang solu bolon, dan hasil karya budaya dari tradisi mangebang solu bolon dalam peningkatan pariwisata. Tradisi mangebang solu bolon adalah tradisi yang dilakukan untuk memperkenalkan solu bolon yang baru kepada masyarakat sekaligus meminta doa. Tradisi adalah suatu  bentuk perbuatan yang dilakukan secara berulang ulang dengan cara yang sama. Teori yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah teori budaya yang kemukakan oleh Koenjaraningrat, teori komodifikasi budaya. Metode yang digunakan dalam menganalisis masalah penelitian ini adalah  metode deskriptif analisis. Hasil yang ditemukan dalam artikel ini yakni (6) enam tahapan dalam tradisi mangebang solu bolon : marmula hau, panangkokhon rindang, mangadati pande, maraek tio, mangebanghon solu bolon, marsigabe-gabe. (2) nilai dalam tradisi mangebang solu bolon : adat istiadat dan nilai budaya,  1 (satu) hasil karya berupa solu bolon dan  (5) hasil komodifikasi  budaya berupa : atraksi budaya, festival solu bolon, paket wisata, olahraga tradisional, cenderamata.
TURI-TURIAN NAIMARBINTANG ETNIK MANDAILING KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Pakpahan, Siti Annisah; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 1 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i1.98

Abstract

Karya ilmiah ini berjudul Turi-turian Nai Marbittang Etnik Mandailing Kajian Psikologi Sastra. Rumusan masalah yang terdapat dalam karya ilmiah ini adalah id, ego, dan superego dalam Turi-turian Nai Marbittang etnik Mandailing kajian Psikologi Sastra. Penelitian ini memiliki tujuan untuk dapat mengetahui dan memahami id, ego, dan superego yang terdapat dalam Turi-turian Nai Marbittang etnik Mandailing Kajian Psikologi Sastra. Teori yang penulis gunakan adalah teori struktural dan teori kepribadian Sigmud Freud. Dan metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Turi-turian Nai Marbittang menceritakan kisah cinta yang melibatkan Putri Bintang yang merupakan putri dari Raja Huta Baringin dengan seorang pemuda dari keturunan bunian keduanya saling jatuh hati satu sama lain dan menjalin kasih tanpa mengindahkan hal-hal yang berbeda di antara mereka. Hingga pada akhirnya hubungan mereka diketahui oleh keluarga kedua belah pihak yaitu keluarga Kerajaan Huta Baringin dan keluarga Kerajaan Bunian hal ini memunculkan banyak sekali permasalahan hingga pada akhirnya mereka dapat bersama dan tinggal di Kerajaan Bunian. Adapun hasil analisis yaitu seluruh tokoh dalam Turi-turian Nai Marbittang memiliki kepribadian yang sejalan dengan teori kepribadian Sigmud Freud hal ini dapat dilihat dan dipahami dari awal hingga akhir turi-turian ini yang menggambarkan kepribadian para tokoh. Harapannya dengan adanya penelitian ini dapat menjadi pembelajaran untuk generasi muda agar dapat bijak dalam mengambil keputusan dan lebih bijak dalam hal menjalin hubungan dengan siapa pun.
ANALISIS CERITA TAMBUN RAJA ETNIK BATAK TOBA Sinulingga, Jekmen; Tambunan, Putri Indah Agustina
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 1 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i1.104

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik cerita Raja Tambun Etnik Batak Toba, mendeskripsikan nilai-nilai sosial cerita Raja Tambun Etnik Batak Toba, dan mendeskripsikan pandangan masyarakat keturunan Raja Tambun terhadap cerita Raja Tambun Etnik Batak Toba. Lokasi penelitian penulis memilih di Desa Tambunan Sunge, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara. Metode dalam menganalisis artikel ini mengunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Dalam menganalisis, penulis memakan kajian sosiologi sastra dalam buku Damono. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai sosiologi sastra dalam penelitian ini yakni kasih sayang antara lain tolong menolong, kekeluargaan, kesetiaan dan kepedulian. Nilai tanggung jawab terdiri dari rasa memiliki dan disiplin serta empati. Nilai keserasian hidup terdiri atas keadilan, toleransi, kerja sama. Pandangan masyarakat terhadap cerita Tambun Raja yaitu masih merupakan cerita yang dihormati dan melestarikannya agar terdengar oleh generasi-generasi baru keturunan Tambun Raja.
KAJIAN BUDAYA PARIWISATA TERHADAP TURI-TURIAN DIKECAMATAN NAINGGOLAN SAMOSIR Manurung, Evita; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 1 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i1.105

Abstract

Artikel ini berjudul ”Pemanfaatan Legenda Turi-urian dalam Rangka Pengembangan Wisata Budaya di Kecamatan Nainggolan Samosir”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan Objek Legenda yang ada di Kecamatan Nainggolan Samosir, mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Legenda tersebut serta Pemanfaatan objek Legenda tersebut dalam pengembangan wisata budaya di Kabupaten Samosir. Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi tetapi tidak dianggap suci oleh yang mempunyai cerita dan juga dibumbui dengan keajaiban. Nilai budaya merupakan sesuatu yang berbentuk nilai yang tertanam dan disepakati oleh masyarakat berupa kebiasaan sebagai bentuk perilaku dan tanggapan terhadap sesuatu keadaan sesudah atau sebelum terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, simpulan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Folklor. Teori Folklor merupakan sebuah pola yang terbentuk dari suatu masyarakat yang awalnya mengacu pada budaya lisan di mana teori folklor ini untuk mengetahui Nilai budaya yang terkandung dalam setiap objek legenda tersebut yaitu nilai ritual, nilai kesederhanaan, nilai kebersamaan, nilai religius, nilai sosial, nilai kerukunan, nilai kesejahteraan dan keadilan,  nilai pelestarian dan kreativitas budaya, nilai peduli lingkungan. Kemudian teori komodifikasi budaya menjadi alat dalam pelestarian, mempertahankan, memelihara dan mengembangkan identitas kultural bangsa.  Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu terdapat 3 Legenda yang ada di Kecamatan Nainggolan Samosir yaitu Legenda batu guru, Legenda manuk-manuk, Batu makam ompu soimbangon parhusip dan juga pemanfaatan objek legenda dalam pengembangan situs budaya. 2 hasil dari komodifikasi budaya pada Batu Guru, 2 hasil komodifikasi budaya pada Manuk-manuk, 2 hasil komodifikasi budaya pada Batu Makam Soimbangon Parhusip.
SEMIOTIKA TAHAPAN MOSSAK BATAK TOBA Pakpahan, Angeli; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 1 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i1.106

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan sebelum melakukan bela diri (marmossak), di mana tahapan itu ada dua yaitu: Mandi jeruk purut, dan memakan ayam napinadar, kedua tahapan ini harus dijalankan saat sebelum melakukan mossak. Mendeskripsikan simbol jurus yang ada pada mossak, serta simbol ramuan dan peralatan yang terdapat pada mossak, dan mendeskripsikan fungsi dan makna terhadap simbol ramuan dan peralatan yang terdapat pada beladiri mossak Etnik Batak Toba. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif, teori yang digunakan adalah  teori semiotik yaitu simbol yang dikemukakan oleh Pierce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian terdapat dua tahapan dan tujuh jurus mossak, dan terdapat tujuh belas bentuk simbol peralatan dan ramuan, fungsi dan makna yang meliputi simbol ramuan dan simbol peralatan pada ritual mossak. Yang di mana simbol ramuan yaitu: Silinjuang atau kelinjuang, Sipilit atau gandarasa, bane-bane atau kemangi, Hariara na bontar atau beringin putih, Napuran  atau daun sirih,  gambir na bontar  atau gambir putih, hapur  kapur sirih, pangir atau jeruk purut, boras atau beras, Haminjon  atau kemenyan,  pira ni manuk kampung atau telur ayam kampung. Dan simbol peralatan antara lain: Ulos Sibolang, ulos sitolu tuho, kain sampe-sampe, tali bolit, dan mahkota kepala.
Analisis Kohesi Leksikal Lirik Lagu Mauliate Ma Inang : Kajian Wacana Struktur Saragi, Mery Grace Jenita; Siallagan, Intan Putri; Pasaribu, Niken Kirey; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 2 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i2.194

Abstract

Dalam artikel ini akan membahas tentang analisis wacana struktural yang terdapat pada sebuah lagu berbahasa Batak Toba dengan judul Mauliate Ma Inang yang diciptakan oleh seorang musisi Batak bernama Tagor Tampubolon. Lagu ini bercerita tentang ungkapan terima kasih anak kepada ayah dan ibunya atas segala pengorbanan yang diberikan demi kesuksesan anak-anaknya. Analisis wacana dalam lagu ini berfokus pada pembahasan untuk menetapkan kohesi-kohesi leksikal apa saja yang terkandung dalam lagu Batak Mauliate Ma Inang dengan menggunakan metode penelitian kulitatif deskriptif dengan data bersumber dari YouTube. Hasil dari penelitian ini ditemukan adanya kohesi leksikal yaitu 1) repetisi yang terdiri dari (1) Repetisi tautotes meliputi kalimat Ditaon ho do udan lasni ari  dan Lao manomu ari na naeng ro. (2) Repetisi epistrofa meliputi kalimat Dang boi tarbalos au dan kalimat Nang sipata salah au. (3) Repetisi utuh meliputi kalimat  Mauliate ma inang dan Mauliate Ma Amang,  2) sinonim (persamaan) meliputi kata dainang bersinonim dengan inang; kata anak bersinonim dengan kata gelleng, 3) antonim (lawan kata) meliputi kata udan >< lasni ari, inang><amang, 4) hiponim meliputi kata anak, gelleng, inang, amang, dan 5) ekuivalensi (kesepadanan) meliputi kata gellengmi dan gellengmon.
Pergeseran Makna dan Fungsi Sinamot Pada Upacara Pernikahan Etnik Batak Toba Naibaho, Dewes Agustina; Ethelin, Santi Monica; Sitorus, Olivia Sera; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 2 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i2.195

Abstract

Pernikahan yang sah harus dilakukan sesuai dengan hukum agama dan kepercayaan yang dianutnya. Jurnal ini bertujuan untuk mengetahui pengertian dan makna sinamot; mengetahui pergeseran makna dan fungsi sinamot; mengetahui penyebab terjadinya pergeseran makna dan fungsi sinamot. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dimana pengumpulan data yang dilakukan melalui analisis data, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penulis memperoleh hasil bahwa pengertian sinamot pada etnik Batak Toba adalah maskawin yang diserahkan oleh pihak laki-laki (paranak) kepada pihak keluarga perempuan (parboru) pada saat akan melangsungkan pernikahan. Selanjutnya, fungsi sinamot pada zaman dahulu adalah untuk menjamin hak perempuan berupa harta benda yang diberikan sebagai modal pengantin ketika sudah menikah. Sedangkan fungsi sinamot zaman sekarang adalah alat pembayaran yang digunakan untuk membiayai pesta adat pernikahan. Sinamot saat ini digunakan untuk membiayai pesta pernikahan dan pemberian sinamot dilakukan berdasarkan kesepakatan kedua keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bentuk sinamot berubah dari harta benda menjadi berbentuk uang. Adapun penentuan jumlah sinamot dilakukan pada tahapan acara adat yang disebut marhata sinamot. Hingga saat ini pemberian sinamot bukan hanya ditujukan kepada perempuan melainkan diberikan kepada orangtua perempuan melalui proses kesepakatan dan negosiasi antara kedua keluarga.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R. Purba Asriaty R. Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Br Karo Sekali, Emmya kristina Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Damanik, Ramlan Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Manurung, Yohana Afriani Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Asriaty Purba, Asriaty R Purba, Asriaty R. Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur r purba, asriaty Rachel, Hilda Aura Safitri Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Sibarani, Tomson Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Nada Christin Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinaga, Warisman Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Rahel Theresia Rodame Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Flansius Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tifany Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga