Claim Missing Document
Check
Articles

Upacara Adat Mambere Tungkot Pakon Duda-Duda Etnik Simalungun : Wacana Kritis Sinulingga, Jekmen; Purba, Roma Hotni Uhur; Simatupang, Nori Marta M Br.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peneliti mengambil sebuah kajian yang berjudul Upacara Adat Mambere Tungkot Pakon Duda-duda Etnik Simalungun. Masalah yang diteliti adalah tahapan menjalankan upacara adat mambere tungkot pakon duda-duda, faktor yang mempengaruhi perubahan upacara adat mambere tungkot pakon duda-duda, serta modal sosial didalam acara. Metode yang dipakai pada kajian ini adalah deskriptif kualitatif teori Vand Dijk. Metode pengumpulan data (1) Observasi (2) Wawancara langsung (3) Dokumentasi. Berkenaan dengan hasil yang didapat dari penelitian ini adalah tahapan pada upacara mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun yaitu: (1) marpangir (2) ibadah singkat (3) memberikan simalum-malum (4) menyerahkan tungkot pakon duda-duda (5) makan bersama . Adapun dampak dalam upacara ini adalah memberikan dampak positif bagi masyarakat Simalungun. Yang disebut mambere tungkot pakon duda-duda yaitu memberikan ucapan syukur terhadap kedua orang tua yang sudah membesarkan anak-anak nya sebagai bukti rasa hormat mereka. Upacara mambere tungkot adalah suatu hal yang didambakan setiap orang tua dari anak-anak nya. Masyarakat Simalungun melaksanakan upacara adat mambere tungkot pakon duda-duda telah membentuk kultur dari bebuyutan serta dilakukan oleh masyarakat Simalungun di Desa Merek Raya Kabupaten Simalungun.
Pasahat Napuran dalam Upacara Pernikahan Etnik Batak Toba : Kajian Wacana Struktural Sinulingga, Jekmen; Hutauruk, Febri Ola; Harefa, Evelina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui suatu konteks Pasahat Napuran Dalam Upacara Pernikahan Etnik Batak Toba kajian Wacana Struktural.Terkait pada konteks dapat diuraikan pada suatu makna dan fungsi yang ditekankan oleh teori SPEAKING Dell Hymes.Metode pengumpulan data kualitatif deskriptif dari hasil penelitian secara Observasi,Wawancara,Dan Dokumentasi menjadi data primer,Lokasi pengambilan data di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Sumatera Utara.Sedangkan data sekunder dari studi literatur.Pasahat Napuran dalam Upacara Pernikahan Etnik Batak Toba menjadi suatu tradisi yang sudah lama sejak Nenek Moyang orang Batak.Makna dalam suatu Napuran (Sirih) adalah suatu bentuk ucapan terima kasih,kasih sayang,serta bentuk persatuan pada saat menjalani suatu acara adat termasuk saat upacara pernikahan.Sehingga di setiap tradisi sangatlah penting untuk mengetahuinya serta dapat menjaga dan melestarikan norma dan nilai budaya pada peningkatan keberlanjutan tradisi adat Batak Toba.
Bentuk dan Fungsi Ulos Passamot Etnik Batak Toba Kajian Semiotika Sinulingga, Jekmen; Hutauruk, Febri Ola; Harefa, Evelina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kain ulos pada Batak Toba menjadi pusaka budaya yang selalu dibanggakan.khususnya,pada Ulos Passamot yang memiliki nilai dan makna yang sangat mendalam.kain ulos merupakan warisan budaya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Batak Toba.Itu sebabnya dalam penelitian ini berfokus memahami Bentuk Dan Fungsi Ulos Passamot Etnik Batak Toba.Teori yang dipakai pada pendekatan Roland Barthes.Serta penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.Pada penggumpulan data menggunakan sumber data sekunder dari studi literatur serta dokumen yang berkaitan pada topik yang dibahas.Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Ulos Passamot adalah ulos yang diserahkan oleh orang tua dari pihak perempuan kepada orang tua pihak laki-laki sebagai fungsi upacara pernikahan adat Batak Toba.Serta warna,ukuran,motif pada bentuk ulos.Ulos Passamot yang mengandung makna dalam memberikan suatu rezeki serta kedekatan agar kedua keluarga menjadi rukun dan satu.
Fungsi dan Makna Tombuan dalam Upacara Adat Marhajabuan Etnik Simalungun: Kajian Semiotika Sinulingga, Jekmen; Purba, Roma Hotni Uhur; Simatupang, Nori Marta M Br.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memfokuskan tentang fungsi dan makna tombuan dalam upacara adat marhajabuan etnik simalungun. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan tahapan pelaksanaan, bentuk, fungsi, dan makna tombuan dalam upacara adat marhajabuan etnik simalungun. Teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori semiotika yaitu fungsi dan makna yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data yakni: (1) Observasi (2) Wawancara langsung dengan informan (3) Dokumentasi. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat tahapan pelaksanaan yaitu (1) Pra-pelaksanaan adat dan pelaksanaan adat, terdapat fungsi dan makna tombuan dalam upacara adat marhajabuan untuk memenuhi syarat dalam pelaksanaan upacara marhajabuan dan sebagai tanda kehormatan dalam adat Simalungun.
Makna Ikan Mas Arsik pada Pesta Pernikahan Adat Batak Toba : Kajian Semiotik Sinulingga, Jekmen; Bancin, Rasefi Lestarina; Hasugian, Yulianti Br
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan arsik merupakan salah satu masakan tradisional Batak yang paling terkenal di Indonesia. Dari banyaknya deretan makanan khas batak toba ikan mas arsik lah yang paling sering muncul dalam acara adat istiadat pernikahan batak toba. Hidangan ini biasanya terbuat dari ikan mas yang diolah dengan bumbu khas Batak seperti andaliman, bawang merah, bawang putih, dan cabai. Saat mengolah ikan mas arsik harus dibalurin dangan bumbu pada seluruh bagian dari ikan mas tanpa terkecuali dan disusun pada kuali terlebih dahulu sebelum di masak di tungku kayu bakar. Hidangan ikan arsik memiliki kombinasi unik antara pedas dan gurih yang akan menggugah selera. Selain itu, ikan mas arsik memilik protein dan nutrisinya selama pemrosesan, sehingga bergizi tinggi. Ikan tersebut tidak dihidangkan untuk dijadikan makanan pelengkap saja, namun ikan mas arsik memiliki makna simbolis yang sangat mendalam. Kajian semiotik ini bertujuan untuk mengungkap makna dan peran ikan mas arsik dalam pernikahan adat batak toba.
Motif Gorga Batak Toba Kajian Semiotika Sosial Sinulingga, Jekmen; Buulolo, Dwi Utama Emanueli; Siboro, Bintang Efraim
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Motif Gorga Batak Toba adalah elemen ornamen tradisional yang berasal dari suku Batak Toba di Indonesia. Motif ini dikenal dengan keindahan dan keunikan bentuknya yang sering digunakan dalam berbagai produk kerajinan, seperti batik dan kain. Gorga Batak Toba memiliki ciri khas geometris yang simetris, presisi, dan detail, serta memiliki inspirasi dari gaya art deco yang dapat dimaksimalkan dengan teknik block printing menggunakan teknologi laser cut. Dalam penelitian ini, motif Gorga Batak Toba dikembangkan dengan menggunakan prinsip repetisi dasar seperti translation, rotation, dan reflection untuk menciptakan komposisi motif yang berpotensi untuk direalisasikan ke lembaran kain. Penelitian ini membandingkan ornamen yang ada di huta siallagan dan Museum TB Silalahi yang berupa pengkajian dengan menggunakan teori yang berisi ornament gorga batak toba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif Gorga Batak Toba dapat digunakan dalam berbagai aplikasi desain, seperti interior hotel, fashion, dan kerajinan, serta memiliki potensi untuk menjadi simbol budaya dan identitas suku Batak Toba.
Kohesi Leksikal dalam Upacara Marhata Sinamot Etnik Batak Toba Sinulingga, Jekmen; Fransiska, Natalia; Sinaga, Parade
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya ilmiah ini bertujuan untuk mendeskripsikan kohesi leksikal yang terdapat dalam upacara marhata sinamot dalam etnik batak toba. Teori kohesi leksikal ini dikemukakan oleh halliday dan hasan yang pertama kali dikemukakan dalam buku terkenal yaitu yang berjudul,” cohesion in english” (1976). Teori ini menggambarkan bagaimana kata-kata dalam sebuah teks saling terkait dan membentuk kesatuan makna. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan mendokumentasikan dan study literature. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Tradisi upacara marhata sinamot dalam batak toba ini yaitu salah satu tradisi penting dalam budaya suku batak toba yang dimana tradisi ini dapat mencerminkan nilai-nilai dan keyakinan masyarakatnya. Upacara ini kaya akan penggunaan bahasa, khususnya dalam hal penggunaan kohesi leksikal. Yang dimana kohesi leksikal ini mengacu pada hubungan makna antara kata-kata salam teks, yang membantu menciptakan koherensi dan pemahaman yang lebih baik bagi pembaca atau pendengar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kohesi leksikal dalam teks upacara marhata sinamot terwujud dalam berbagai bentuk, seperti repetisi, sinonim, hiponim, antonim dan kolokasi. Penggunaan sinonim dan hiponim memperkaya makna teks dan membantu pembaca atau pendengar memahami konsep-konsep tersebut dengan lebih baik. Antonim digunakan untuk membedakan antara konsep yang berlawanan, seperti “ baik” dan “ buruk”, “ benar” dan “ salah “, “ hidup” dan “mati”. Kolokasi membantu pendengar atau pembaca memahami makna kata-kata tertentu dengan lebih baik dengan melihat kata-kata yang sering muncul. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kohei leksikal memainkan peran penting dalam menciptakan koherensi dan pemahaman yang lebih baik bagi pembaca teks upacara marhata sinamot.
Kain Ulos Motif Ragi Hidup Etnik Batak Toba : Kajian Semiotik Sosial Sinulingga, Jekmen; Limbong, Raihan Ghani Alghifary; Pardede, Daniel Stephen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi kain ulos dengan motif Ragi Hidup, yang merupakan warisan budaya etnik Batak Toba, melalui pendekatan semiotik sosial. Kain ulos tidak hanya berfungsi sebagai kain tradisional, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Pendekatan semiotik sosial digunakan untuk mengkaji tanda-tanda dan simbol-simbol yang terdapat dalam motif Ragi Hidup, serta bagaimana makna-makna tersebut diinterpretasikan dan diterapkan dalam konteks sosial dan budaya. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi dan menginterpretasikan tanda-tanda semiotik dalam motif Ragi Hidup serta memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Ragi Hidup pada kain ulos mengandung simbol-simbol kehidupan, kesuburan, dan keberlanjutan yang menjadi representasi dari filosofi hidup masyarakat Batak Toba. Selain itu, penggunaan kain ulos dalam berbagai ritual adat menegaskan pentingnya ulos sebagai sarana komunikasi sosial dan identitas budaya. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami peran penting kain ulos dalam mempertahankan dan mentransmisikan nilai-nilai budaya Batak Toba melalui kajian semiotik sosial.
Keunikan Rumah Bolon pada Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika Purba, Anggriano; Simangunsong, Martin; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah Bolon adalah penamaan bagi rumah adat yang berasal dari Sumatera Utara,tepatnya dari sub-etnik Batak Toba.Rumah adat ini mencerminkan nilai-nilai kebudayaan dan ciri khas dari masyarakat.Keunikan tersebut bisa ditemukan pada ornamen dan simbol yang ada pada rumah bolon.Hal ini menandakan bahwa rumah bolon bukan sekadar bangunan fisik,tapi juga menunjukkan struktur sosial,identitas masyarakat,dan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat Batak Toba.Tangga,ornamen dan ukiran khas atau disebut gorga menjadi visual yang menandakan kekayaan kebudayaan pada masyarakat Batak Toba.Jenis-jenis rumah yang ada dalam satu perkampungan juga tidak sama semuanya,masing-masing memiliki makna tersendiri.Data dalam jurnal ini didapatkan dengan observasi,melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan juga melakukan analisa mendalam terhadap dokumen yang relevan dengan topik.Hasil yang diperoleh adalah setiap bagian dari Rumah Bolon memiliki makna yang mendalam,seperti bagaimana kedudukan seseorang di suatu wilayah dan bagaimana setiap anggota di rumah tersebut saling berkomunikasi.Penelitian ini adalah untuk memberikan pernyataan bahwa Rumah Bolon adalah salah satu peninggalan kebudayaan yang kaya nilai-nilai kebudayaan dan berperan penting dalam menjaga identitas suku Batak di era sekarang.
Upacara Martumpol Etnik Batak Toba : Kohesi Leksikal Analisis Struktural Sinulingga, Jekmen; Siahaan, Ayu; Hutagalung, Faivh
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya ilmiah ini bertujuan untuk mendeskripsikan upacara martumpol etnik batak toba. Teori yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah teori kohesi leksikal yang dikemukakan oleh Halliday dan Hasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari berbagai literatur, termasuk buku, artikel jurnal, situs web, dan sumber informasi lainnya yang tersedia secara online seperti video di YouTube. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu ditemukannya kohesi leksikal yang terdapat dalam upacara martumpol etnik batak toba. Hasil ini diperoleh melalui pengidentifikasian unsur-unsur kebahasaan kohesi leksikal. Unsur kebahasaan yang dipakai dalam kohesi leksikal diantaranya; Repetisi atau pengulangan, sinonim, hiponimi, dan antonim. Kesimpulan dari penelitian ini adanya hubungan yang kuat di antara kalimat-kalimat atau gagasan-gagasan dalam teks tersebut dalam konteks martumpol adat batak, kohesi leksikal dapat membantu mempertahankan keaslian dan kekayaan bahasa adat batak, serta menggambarkan nilai-nilai budaya yang ingin disampaikan melalui teks tersebut. Penggunaan kata-kata atau frasa-frasa khas Batak dengan makna yang terkait erat dengan konteks adat juga dapat memperkuat identitas budaya dalam penulisan tersebut.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Br Karo Sekali, Emmya kristina Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dewes Agustina Naibaho Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Erica Yulia Citra Sitorus Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur Rachel, Hilda Aura Safitri Ramlan Damanik Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simamora, Mei Lisriani Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga