Claim Missing Document
Check
Articles

Keunikan Rumah Bolon pada Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika Purba, Anggriano; Simangunsong, Martin; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah Bolon adalah penamaan bagi rumah adat yang berasal dari Sumatera Utara,tepatnya dari sub-etnik Batak Toba.Rumah adat ini mencerminkan nilai-nilai kebudayaan dan ciri khas dari masyarakat.Keunikan tersebut bisa ditemukan pada ornamen dan simbol yang ada pada rumah bolon.Hal ini menandakan bahwa rumah bolon bukan sekadar bangunan fisik,tapi juga menunjukkan struktur sosial,identitas masyarakat,dan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat Batak Toba.Tangga,ornamen dan ukiran khas atau disebut gorga menjadi visual yang menandakan kekayaan kebudayaan pada masyarakat Batak Toba.Jenis-jenis rumah yang ada dalam satu perkampungan juga tidak sama semuanya,masing-masing memiliki makna tersendiri.Data dalam jurnal ini didapatkan dengan observasi,melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan juga melakukan analisa mendalam terhadap dokumen yang relevan dengan topik.Hasil yang diperoleh adalah setiap bagian dari Rumah Bolon memiliki makna yang mendalam,seperti bagaimana kedudukan seseorang di suatu wilayah dan bagaimana setiap anggota di rumah tersebut saling berkomunikasi.Penelitian ini adalah untuk memberikan pernyataan bahwa Rumah Bolon adalah salah satu peninggalan kebudayaan yang kaya nilai-nilai kebudayaan dan berperan penting dalam menjaga identitas suku Batak di era sekarang.
Upacara Martumpol Etnik Batak Toba : Kohesi Leksikal Analisis Struktural Sinulingga, Jekmen; Siahaan, Ayu; Hutagalung, Faivh
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya ilmiah ini bertujuan untuk mendeskripsikan upacara martumpol etnik batak toba. Teori yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah teori kohesi leksikal yang dikemukakan oleh Halliday dan Hasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari berbagai literatur, termasuk buku, artikel jurnal, situs web, dan sumber informasi lainnya yang tersedia secara online seperti video di YouTube. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu ditemukannya kohesi leksikal yang terdapat dalam upacara martumpol etnik batak toba. Hasil ini diperoleh melalui pengidentifikasian unsur-unsur kebahasaan kohesi leksikal. Unsur kebahasaan yang dipakai dalam kohesi leksikal diantaranya; Repetisi atau pengulangan, sinonim, hiponimi, dan antonim. Kesimpulan dari penelitian ini adanya hubungan yang kuat di antara kalimat-kalimat atau gagasan-gagasan dalam teks tersebut dalam konteks martumpol adat batak, kohesi leksikal dapat membantu mempertahankan keaslian dan kekayaan bahasa adat batak, serta menggambarkan nilai-nilai budaya yang ingin disampaikan melalui teks tersebut. Penggunaan kata-kata atau frasa-frasa khas Batak dengan makna yang terkait erat dengan konteks adat juga dapat memperkuat identitas budaya dalam penulisan tersebut.
Evolusi Alat dan Bahan Tenun Ulos Etnik Batak Toba Boru Raja Silahisabungan Sinulingga, Jekmen; Gea, Ester; Sihombing, Jessica Valencia
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini ialah menganalisi perubahan alat dan bahan tenun ulos etnik Batak Toba Boru Raja Silahisabungan. Metode yang di gunakan penulis ialah metode deskriptif kualitatif berdasarkan hasil analisis interpretatif dengan teknik pengumpulan data melalui penelitian langsung berupa observasi, wawancara dan dokuentasi. Dalam mengenalisis perubahan alat dan bahan tenun ulos berdasarkan pada data, penulis menggunakan teori modernisasi yang di populekan oleh Alex Inkeles. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa alat dan bahan tenun ulos yang di gunakan oleh Etnik Batak Toba mengalami perubahan, dari waktu ke waktu. Simpulan dari penelitian ini ialah alat dan bahan pembuatan ulos Etnik Batak Toba Silahisabungan mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman dan modernisasi yang terjadi di dalam masyarakat Batak Toba Boru Raja Silahisabungan.
Upacara Saur Matua di Desa Meat Etnik Batak Toba : Wacana Kritis Sinulingga, Jekmen; Sibarani, Tidora Putri; Simamora, Devina C
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tahapan acara adat saur matua perubahan yang terdapat dalam upacacara adat saur matua, dan dampak dalam upaccara adat saur matua etnik Batak Toba di DESA di Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba. Masalah yang di teliti adalah tahapan menjalankan upacara adat saur matua di desa Meat, perubahan apa saja yang terjadi pada upacara adat saur matua yang ada di desa Meat, dan dampak sosial apa saja yang terjadi dengan adanya adat saur matua bagi masyarakat yang ada di desa Meat. Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teori analisis wacana kritis yang dikemukakan oleh Norman Fairclough (2001). Metode pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Dengan hasil yang didapat dari penelitian ini adalah tahapan pada upacara saur matua di desa meat etnik Batak Toba yaitu : 1.) Pangarapoton ( musyawarah) 2.) parmoppoon (memasukkan orang yang meninggal ke petinya, memberikan ulos saput bagi orang yang meninggal dan ulos sampe tua bagi istri atau suami dari orang yang meninggal ) 3.) Ulaon huria (Ibadah singkat) 4.) panortoron ( acara menari ) 5.) paampuhon ( pihak hula-hula memberi berkat ) 6.) Manaruhon Tuudean (Pemakaman). Dampak sosial adanya rasa kerja sama antara masyarakat desa Meat dengan pelaksana acara adat saur matua. Saur matua ialah penamaan bagi orang yang telah meninggal baik laki-laki maupun perempuan yang telah memiliki anak laki-laki dan anak perempuan yang telah menikah dan telah memiliki cucu dari pihak anak lai-laki dan dari pihak anak perempuan.
Fungsi dan Makna Gorga pada Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika Sinulingga, Jekmen; Sibarani, Tidora Putri; Simamora, Devina C
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memfokuskan tentang simbol dan makna Gorga pada Etnik Batak Toba. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan simbol dan makna Gorga pada Etnik Batak Toba. Teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori semiotika yaitu simbol yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik penelitian lapangan dengan metode pengumpulan data (1). Observasi (2). wawancara secara langsung (3). Dokumentasi. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini terdapat empat jenis Gorga yaitu : (1). Andor Marudur (2). Gorga Simardengke dengke (3). Gorga Cicak (4). Gorga Tarus. Makna yang terdapat pada empat jenis gorga itu adalah (1). Gorga Andor Marudur memiliki makna yaitu menandakan bahwa seseorang dapat berbaur dengan siapa pun dan dimanapun tanpa merasa dirinya rendah dibandingkan dengan yang lain sama seperti ubi jalar yang dapat menjalar kemana-mana (2). Gorga Simardengke-Dengke memiliki makna yaitu permintaan doa sang nelayan supaya mendapat ikan yang banyak saat pergi menjala (3). Gorga cicak memiliki makna yaitu menandakan pencapaian dan berkecukupan baik dan telah memiliki anak perempuan dan anak laki-laki (4). Gorga Tarus Makna nya menandakan sumber kehidupan bagi orang lain.
Upacara Mangongkal Holi pada Masyarakat Batak Toba : Kajian Wacana Struktural Sinulingga, Jekmen; Sigiro, Dony; Pandiangan, Johannes
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adapun permasalahan yang di bahas adalah tentang upacara mangokal holi dalam tradisi batak toba. mangongkal holi adalah proses menggali kembali tulang belulang dari kubur yang sifatnya sementara dan selanjutnya akan ditempatkan kedalam ketempat yang baru ,biasanya terbuat dari semen yang dikenal dengan istilah batu napir atau tugu marga . Mangongkal holi berlangsung dalam rangkaian upacara adat, baik sebelum, saat, dan setelah makam digali dan tulang belulang dikumpulkan. Upacara Holi Mangokal ini selain berfungsi sebagai ritual penghormatan kepada leluhur, juga berfungsi sebagai integrasi sosial antar keluarga yang mengadakan upacara. Penggunaan kerbau dalam ritual ini karena memberikan kesan religius yang magis kerbau telah dikenal sebagai hewan pembawa berkah kesuburan dan kemakmuran masyarakat serta sebagai simbol status Indonesia. Orang Kerbau yang sedang melakukan upacara Mangokal Holi. Hasil dari penelitian ini untuk mengetahui nilai nilai yang terkandung dalam tradisi mangokal holi suku Batak Toba , mengetahui prosesi dari tradisi mangongkal holi suku Batak Toba.
Suntiang Gadang Etnik Minangkabau Kajian Semiotika Sinulingga, Jekmen; H, Nazwa Rivasha; Khairani, Riva
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini berjudul suntiang gadang etnik minangkabau kajian semiotika. Suntiang gadang minangkabau adalah salah satu mahkota Tradisional minangkabau, suntiang sering kali digunakan dalam acara adat seperti pernikahan, pengangkatan adat, hingga upacara keagamaan, suntiang minangkabau memliki berat 3 hingga 5 kilogram. Berat suntiang melambangkan peralihan status perempuan dari remaja ke dewasa. Suntiang asli terbuat dari bahan emas, perak dan tembaga.Ungkapan Minangkabau "sunitang gadang" menggambarkan hidangan besar atau rumit yang disediakan selama pertemuan atau perayaan. Istilah ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan hidangan tertentu yang disajikan selama acara tersebut sering kali, ini mencakup berbagai makanan termasuk nasi, rendang, ayam goreng, sayuran, dan makanan lainnya. Dalam tradisi Minangkabau, Suntiang Gadang merupakan simbol penting dari kebahagiaan dan keramahan saat memberikan sambutan hangat kepada tamu atau memperingati acara penting.
Makna Mangulosi dalam Pernikahan Batak Toba: Kajian Wacana Kritis Sinulingga, Jekmen; Simarmata, Tioara Monika; Tampubolon, Juwita Paramita
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis terhadap tradisi mangulosi dalam pernikahan Batak Toba menyoroti ketaatan beragama dan sikap masyarakat Batak Toba terhadap tradisi tersebut. Bagi mereka, mangulosi bukan sekedar wali upacara, tapi juga bagian penting dari identitas keagamaan mereka. Tradisi ini disajikan secara ringan dan dipahami sebagai ungkapan cinta dan pengabdian. Selain itu, mangulosi juga menghilangkan nilai-nilai seperti kesetiaan, kerjasama tim, dan kepentingan diri sendiri dalam hubungan interpersonal dan komunitas. Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini antara lain pentingnya pemahaman tradisi mangulosi, dampak pelaksanaan ritual terhadap hubungan keluarga, dan nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam ritual yang dimaksud. Dalam analisis ini, kami juga menggunakan teknik berpikir kritis untuk menyelidiki aspek signifikansi keagamaan, perspektif partisipasi, dinamika keluarga, dan perubahan sosial terkait kepercayaan tradisional dalam pernikahan Batak Toba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangulosi merupakan tradisi yang dilestarikan dengan baik dari nenek moyang. Ini merupakan bagian penting dalam persiapan pernikahan Batak Toba di Desa Hatoguan, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir. Tradisi ini dilakukan setelah upacara pemakaman orang yang meninggal. Sebelum memasuki tahap mangulosi, acara diawali dengan penandatanganan kedua utusan dari masing-masing kedua pihak atau dengan menggunakan hukum kuno yang dikenal dengan Raja Parhata. Penyambutan ini dilakukan dengan menggunakan bahasa Batak Toba yang berisi ucapan salam dari keluarga pria dan ucapan terima kasih dari kelompok wanita kepada keluarga pria karena dianggap mempunyai rasa kesetiaan dan persahabatan yang kuat. Setelah itu, ada “jambar” (upacara inisiasi daging dimana anggota keluarga pria diperkenalkan kepada wanita. Setelah itu, ritual ini dilakukan dengan mangulosi, yaitu yang lebih tua memberikan yang lebih muda sebagai tanda hormat dan tetua memberikan sisanya kepada kedua tetua.
Makna Ulos Saput dalam Upacara Kematian Adat Batak Toba di Kecamatan Palipi : Kajian Semiotika Sinulingga, Jekmen; Simarmata, Tioara Monika; Tampubolon, Juwita Paramita
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan identitas suku Batak Ulos Toba, yang menggunakan ulos dalam semua upacara adat mereka. Studi ini berfokus pada Ulos Saput, yang digunakan dalam upacara kematian di wilayah Palipi, dan meminta generasi milenial untuk memperhatikan budaya mereka. Penelitian semiotika menggunakan data langsung dari lapangan. Penulis menggunakan pendekatan Charles Sanders Pierce untuk menganalisis makna semiotika Ulos Saput. Seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian, jalan-jalan tidak lepas dari kehidupan suku Batak Toba di Kecamatan Palipi. Dalam upacara kematian Batak Toba, ulos saput digunakan untuk menutupi jenazah hingga liang kubur. Di wilayah Palipi, Ulos Saput mengandung nilai-nilai keberkahan, kasih sayang, rasa hormat, iman, dan harapan. Ulos Saput juga merupakan nilai-nilai luhur dan tradisi yang dihormati dan dihormati oleh masyarakat Batak Toba dan merupakan penanda identitas budaya yang membedakan mereka dari suku lain di Indonesia.
Analisis Wacana Konteks dalam Upacara Mambosuri pada Etnik Batak Toba Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua; Sitinjak, Willy Panahatan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada etnis batak toba ada banyak sekali upacara adat yang dapat kita temukan, salah satunya yaitu upacara mambosuri. tradisi Mambosuri adalah upacara adat saat hamil yang masih sering dilakukan dalam tradisi Batak Toba. Istilah Mambosuri 'membuat kenyang' adalah ritual pemberian makanan kepada orang tua istri kepada calon ibu yang kandungannya telah memasuki usia tujuh bulan. Secara simbolis, tradisi ini memberi makna untuk menjaga kesehatan dan keselamatan calon ibu dan bayi yang dikandungnya, serta anggota keluarga lainnya yang ditampilkan dalam berbagai upacara adat. Penelitian ini bermaksud untuk memaparkan unsur unsur konteks wacana yang terdapat pada upacara mambosuri dalam adat batak toba. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode ini adalah metode yang berfokus pada pengamatan yang lebih mendalam. Sehingga penggunaan metode kualitatif pada penelitian ini dapat memperoleh kajian dari suatu fenomena yang lebih komprehensif. Penelitian kualitatif yang megamati humanisme atau individu manusia dan kebiasaan perilaku manusia adalah hasil kesadran bahwa semua akibat Tindakan manusia berpengaruh pada aspek aspek internal individu. Adapun aspeknya yaitu seperti kepercayaan, pandangan politik dan latar belakang sosial dari individu yang terlibat. Pada penelitian ini mengunakan teori yang dikemukakan oleh Dell Hymes. Dell Hymes merupakan seorang ahli Bahasa dan antropologi yang terkenal karena kontribusinya terhadap teori Bahasa dan teori konteks sosial yang terkait dengan Bahasa. Dell mengemukakan salah satu teori yang banyak digunakan sampai saat ini yaitu teori konteks yang dikenal dengan SPEAKING, (Sudarsono, 2023) SPEAKING berfungsi sebagai kajian untuk memperluas konsep Bahasa menjadi konsep yang lebih menyeluruh dan lebih luas. Hasil dari penelitian ini yaitu adanya delapan unsur unsur konteks wacana yang terdapat dalam upacara mambosuri dalam adat batak toba . Adapun unsur unsur konteks wacana tersebut yaitu latar (setting), peserta (participants), hasil (end), rangkaian tindakan (Act), cara (key), alat (Instrumentalities), norma (norms), jenis (genre).
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R. Purba Asriaty R. Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Damanik, Ramlan Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Manurung, Yohana Afriani Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Asriaty Purba, Asriaty R Purba, Asriaty R. Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur r purba, asriaty Rachel, Hilda Aura Safitri Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Sibarani, Tomson Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Nada Christin Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinaga, Warisman Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Rahel Theresia Rodame Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Flansius Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tifany Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga