Claim Missing Document
Check
Articles

Motif Ulos Bintang Maratur Etnik Toba Kajian Semiotika Siregar, Helda; Sitorus, Oliviya Sera; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14153

Abstract

Artikel ini berjudul " Motif Bintang Maratur Etnik Batak Toba." Kajian Semiotik. Ulos Bintang Maratur memiliki makna yang dalam dan simbolis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan motif yang ada di Ulos Bintang Maratur, lambang Batak Toba, serta fungsi dan artinya dari simbol-simbol yang terdapat pada Ulos Bintang Maratur. Teori yang digunakan dalam pemeriksaan temuan penelitian ini adalah pendekatan semiotik, yang didasarkan pada simbol dan dikembangkan yang ditulis oleh Charles Sanders Pierce. Dalam penelitian ini, metode ini digunakan kualitatif. Berdasarkan hasil dari penelitian, Makna ulos Bintang Maratur sebagai ucapan selamat atau kabar baik yang diberikan kepada individu yang menerima berkat atau rezeki, terdapat enam motif dalam Ulos Bintang Maratur yaitu Zig-Zag, Ketupat, Lingkaran, Tugu, Wajik yang Berjejer, dan Ketupat Susun. Selain jenis motif, terdapat lima fungsi dalam ulos Bintang Maratur yaitu Keanggunan dan Keindahan, Kemakmuran, Kepatuhan, Harmoni dan Persatuan Keluarga dan Penghargaan dan Prestise.
Fungsi dan Motif Ulos Mangiring pada Etnik Batak Toba Kajian Semiotika Karosekali, Emmya Kristina br; Sihombing, Patar Kristian; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14154

Abstract

Ulos mangiring merupakan salah satu kain khas dari etnik Batak Toba yang sering digunakan dalam Tradisi Adat pernikahan, upacara adat dan sebagainya. Artikel ini menganalisis Fungsi dan Motif ulos mangiring pada etnik Batak Toba dengan menggunakan kajian semiotika Menurut Charles Sander Pierce, semiotika merupakan studi tentang tanda-tanda dan bagaimana tanda-tanda tersebut memberikan makna yang terkandung di dalam. Masalah yang diteliti adalah motif pada ulos mangiring etnik Batak Toba dan fungsi dari ulos magiring etnik Batak toba serta makna dari ulos mangiring. Metode yang digunakan didalam tulisan ini yaitu Metode deskriptif kualitatif. Tujuan dari ulos mangiring pada etnik Batak Toba adalah untuk menjadi simbol keberuntungan, perlindungan, serta sebagai bagian dari tradisi adat dan upacara keagamaan masyarakat Batak. Sumber data yang diperoleh melalui sosial media. Tehnik pengumpulan data yaitu dengan menyimak dan mencatatat data melalui sumber internet.
Semiotika Analisis pada Ulos Mangiring Batak Toba Margareth, Ruth Anggina; Sijabat, Carissa Margaret; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14155

Abstract

Indonesia dengan keberagaman budayanya, memancarkan kekayaan dalam tradisi dan seni. Suku Batak Toba di Sumatera Utara, melalui Ulos Mangiring menjadi salah satu wujud keindahan budaya yang unik. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam terhadap simbol-simbol dan makna dalam Ulos Mangiring menggunakan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes. Pendekatan deskriptif digunakan dengan memusatkan pada Ulos Mangiring. Data sekunder diambil dari literatur dan dokumen terkait budaya Batak Toba. Ulos Mangiring memiliki makna denotatif melalui motif Mangiring Padang Ursa dan warna-warna dominan. Pada tingkat konotatif, Ulos Mangiring melambangkan kesuburan, kesepakatan, dan identitas sosial. Dalam dimensi mitos, kain ini menjadi hadiah untuk anak pertama dengan harapan kelahiran yang baik. Analisis semiotika Roland Barthes membuka pemahaman mendalam terhadap kekayaan simbolik dalam Ulos Mangiring. Kesimpulan penelitian ini adalah Ulos Mangiring bukan hanya pakaian adat, melainkan sistem tanda dengan makna mendalam. Simbol ini mencerminkan asumsi, norma, dan harapan simbolis masyarakat Batak Toba. Peningkatan pelestarian dan edukasi perlu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan tradisi ini.
Penerapan Teknologi Mesin Penggulung Benang untuk Pengrajin Ulos Ragi Hotang di Desa Patumbak Ginting, Rendy; Barus, Emelia br; Pardede, Renita Cristin; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14156

Abstract

Patumbak ialah salah satu kampung yang menggunakan alat tradisional di Kabupaten Deli Serdang untuk pembuatan ulos. Adapun alat tradisional bertenun yang dipakai secara manual hingga sekarang yakni seperti Benang dibuat dari kapas melalui proses yang disebut pemintalan kapas, atau saraha. Fungsi sandaran ini adalah untuk menahan benang dan memasukkan pengait. Garis yang akan dipintal distabilkan dengan bantuan pagabe. Pemisahan benang menjadi tombak dilakukan dengan hatulungan. Setelah senar dibelah menjadi bentuk seperti tombak, papan digunakan untuk penggulungan. Pewarna direndam dalam pot tanah liat. Anian digunakan untuk pengikatan benang sehingga memudahkan pembuatan ulos. alat kayu berisi tongkat pendek yang ditempelkan, tergantung ukuran yang ingin dibuat. Untuk mengatasi permasalahan di atas maka dilakukanlah penerapan teknologi mesin penggulung bahkan sampai peroses tahap finising dibuat secara mudah. Adapula proses memintal benang dibagi menjadi beberapa tahap yaitu desain serta uji kinerja untuk mesin. Mesin pada benang otomatis akan diberikan kepada pemilik usaha agar dapat meningkatkan tingkat efisiensi pada proses penggulungaan serta dapat membantu pengrajin tenun dalam melakukan penggulungan benang tenun ini. Pada setiap proses ini menunjukkan bahwa bantuan dari mesin penggulung benang secara otomatis membuat mudah dan juga pemilik usaha lebih ringan untuk kinerja kain tenun ragi hotang.
Analisis Semiotik Makna dalam Uis Beka Buluh Pakaian Adat Suku Batak Karo Tampubolon, Aditia; Mahulae, Grecya Elisabeth; Tarigan, May Grace Karennina; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14157

Abstract

Informasi paling penting yang harus saya miliki adalah ini, beserta metode optimalnya. Anda tidak perlu khawatir dengan keadaan di rumah Anda. Metode penetrasi sebelumnya juga dapat digunakan. Analisis semiotik ini mengidentifikasi jenis Kain Uis Beka Buluh. Tersedia berbagai macam benda yang dimanfaatkan di bagian lain rumah dengan menggunakan berbagai bahan dengan berbagai tema yang mengandung berbagai bahan. Kain Uis Fungsi Bagi nenek moyang Suku Batak Karo yang diperuntukkan bagi generasi muda. Makna Uis Beka Buluh sendiri sangat erat kaitannya dengan sifat kepuasan, kekokohan, dan keanggunan. Putra Karo ditampilkan bermartabat dan kuat dengan jubah adatnya. Kain Uis ditandai dengan gorga, rukun, bintang, garis, warna, dan tikar. Arti penting cinta yang mempererat ikatan persaudaraan, itulah yang disimpulkan para peneliti. Selanjutnya peneliti mengolah hasil perolehan data tersebut dan menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara, dengan memanfaatkan literatur unggulan yang terdapat di website dan kamus budaya. Oleh karena itu, inilah rangkaian kajian kualitatif semiotika kain Uis Beka Buloh yang merupakan gambaran kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya suku Batak Karo, salah satu dari berbagai peradaban yang terdapat di seluruh pulau.
Motif dan Makna Motif Tenun Ulos Sadum Batak Mandailing di Sumatera Utara dalam Kajian Semiotik Ritonga, Salsabila Amelia; Sipayung, Jay Benhard Novrijal; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14158

Abstract

Seni tenun Ulos Sadum Batak Mandailing dari Sumatera Utara menjadi pusaka budaya yang kaya akan makna dan motif. Meskipun saat ini masih banyak yang belum mengenal secara mendalam bentuk dan kegunaan ulos tenun Batak Mandailing, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan keindahan dan filosofi yang terdapat di dalamnya. Metode kualitatif diterapkan dalam penelitian ini dengan memanfaatkan studi pustaka dan pencarian daring untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulos tenun Batak Mandailing, khususnya Ulos Sadum, memiliki bentuk geometris dan dekoratif yang memikat. Meskipun beragam jenis ulos yang ada, setiap motif dan warna yang dihasilkan memiliki makna yang mendalam. Salah satu makna yang terkandung dalam motif tenun Batak Mandailing adalah dorongan untuk terus membaur dalam kebahagiaan dalam setiap aktivitas sehari-hari, khususnya dalam lingkup keluarga. Dengan menggali keunikan dan filosofi ulos tenun Batak Mandailing ,diharapkan artikel ini dapat membantu pembaca mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keanekaragaman budaya Indonesia. Pemeliharaan dan pemahaman terhadap seni tenun ini menjadi penting dalam menjaga warisan budaya yang kaya dan kompleks, serta mengajak generasi saat ini untuk terus menghargai dan melestarikan kekayaan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Batak Mandailing.
Kajian Feminisme: Eksistensi Perempuan Batak Toba dalam Pelestarian Ulos Sihotang, Anggraeni Permata; Valencia, Rachel; Sirait, Naomi Sephania; Silitonga, Mega Uli Arta; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14160

Abstract

Keanekaragaman budaya di Nusantara dipengaruhi oleh banyak hal, dan perbedaan kondisi geografis adalah salah satu yang paling signifikan. Melalui pengaruhnya sehingga melahirkan perbedaan warisan kebudayaan antara suku-suku. Melihat kondisi demikian, masing-masing suku memiliki identitasnya tersendiri dan mudah dikenali oleh khalayak ramai. Salah satu identitas hasil perkembangan peradaban paling terkenal dari Sumatera Utara adalah kain Ulos yang diagungkan oleh masyarakat suku Batak. Kain ulos adalah salah satu kain tradisional Indonesia yang memiliki banyak corak serta motif dengan arti yang berbeda. Ulos biasanya digunakan dalam upacara-upacara adat dan dipersiapkan oleh pihak perempuan. Dalam upaya pelestariannya, maka peran perempuan dibutuhkan dalam hal ini. Namun, kehidupan masyarakat Batak tak lekang oleh suatu isu sistem yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Posisi perempuan masih seringkali dinomorduakan. Hal ini erat kaitannya dengan isu gender dan patriarki. Maka, untuk menganalisa penelitian ini dibutuhkan kajian feminis dengan metode deskriptif kualitatif untuk menilik langsung isu yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Batak dan kaitannya dengan peranan perempuan dalam pembuatan Ulos. Dari hasil analisa yang ditemukan, perempuan memegang peranan penting dalam menjaga kesinambungan budaya dan menjadi pilar utama dalam mewariskan kain Ulos ke generasi yang akan datang.
Semiotika Ulos Bintang Maratur pada Acara Adat Pitu Bulanan dalam Adat Batak Toba Afrilla, Shafa Della; Istahsina, Fadia Nur; Pardede, Billy Christian; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14161

Abstract

Indonesia merupakan negara kaya akan keberagaman suku bangsa, salah satunya yaitu suku batak toba yang memiliki berbagai macam tradisi dalam upacara adat. Salah satu tradisi ini melibatkan pemberian atau penggunaan ulos sebagai simbol penghormatan kepada mereka yang mengikuti adat dan sebagai bentuk penghargaan kepada tamu. Tradisi ini telah ada sejak zaman nenek moyang dan diteruskan hingga sekarang. Dalam adat Batak Toba, terdapat acara adat Pitu Bulanan yang menggunakan Ulos Bintang Maratur sebagai ungkapan kegembiraan atas usia kehamilan tujuh bulan sang ibu. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengamati makna dan nilai yang terdapat dalam Ulos Bintang Maratur pada acara adat Pitu Bulanan suku Batak Toba. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi nilai dan makna dalam Ulos Bintang Maratur dalam acara Pitu Bulanan suku Batak Toba, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan teknik analisis semiotika oleh Charless Sanders Peirce. Hasilnya menunjukkan bahwa Ulos Bintang Maratur menjadi simbol kegembiraan yang tak terpisahkan dari kehidupan suku Batak Toba, dan diharapkan dapat meningkatkan pemahaman, terutama di kalangan generasi muda, mengenai makna semiotika Ulos Bintang Maratur dalam Acara Adat Pitu Bulanan budaya Batak Toba.
Eksistensi Ulos Tujung pada Upacara Kematian Adat Batak Toba Rachel, Hilda Aura Safitri; Pakpahan, Elysa Masdalifah; Simanjuntak, Jolie Rachel; Hutajulu, Delma Novia D; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14162

Abstract

Abstrak ini mengulas tentang eksistensi Ulos Tujung, sebuah kain tradisional suku Batak Toba, dalam konteks upacara kematian adat mereka. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi peran serta makna yang terkandung dalam penggunaan Ulos Tujung selama prosesi pemakaman. Disebut Ulos Tujung sebab ditujung atau diletakkan diatas kepala pada saat proses pemasangan. Ulos Tujung diberikan kepada suami atau istri yang ditinggalkan pasangannya meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki anak yang belum menikah. Ulos Tujung dipasangkan oleh orang tua dari pasangan tersebut yang sedang berduka. Ini memberikan makna bahwasannya suami atau istri yang ditinggalkan tidak dapat menikah lagi kecuali dilaksanakkannya upacara adat yang lainnya. Metode penelitian melibatkan pengamatan langsung serta wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh adat dan anggota komunitas Batak Toba yang terlibat dalam upacara kematian. Hasilnya menunjukkan bahwa Ulos Tujung tidak hanya berfungsi sebagai pakaian seremonial, tetapi juga memiliki nilai simbolis yang mendalam dalam mewarisi identitas budaya, menghormati leluhur, dan memperkuat ikatan sosial di dalam masyarakat Batak Toba. Selain itu, Ulos Tujung mampu beradaptasi dengan perubahan zaman serta kain ini juga mampu mengalami evolusi yang memungkinkannya tetap relevan dalam kehidupan modern meskipun tetap mempertahankan akar tradisionalnya. Dalam perubahan zaman diharapkan keberadaan Ulos Tujung mampu melestarikan identitas budaya suku Batak Toba, dari sisi simbolisme, kontinuitas nilai budaya, hingga kemampuannya beradaptasi dengan dinamika zaman.
Analisis Semiotika UIS Beka Buluh Karo Sirait, Lenni Herawati; Lubis, Balqis Azwar; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14163

Abstract

Cara Memahami Organisasi dari Internet dan KBBI Terbaru. Menurut KBBI, tekstil adalah kerajinan berupa bahan (kain) yang dibuat dengan cara memasukkan benang (kapas, sutra, dan lain-lain) secara mendatar ke dalam benang lusi (alat). Artikel ini menjelaskan tentang panjang, lebar, jenis dan kegunaan Uis Beka Buluh Karo. Uis Beka Buluh Kain kotak-kotak uis beka buluh, topi tradisional pria kotak-kotak, uis beka buluh juga merupakan simbol kewibawaan dan martabat serta sering dipakai sebagai mahkota hari raya adat. Uis Beka Buluh juga dipakai oleh pria Karo sebagai penutup kepala atau bulang-bulang di saat pernikahan. Beka Buluh juga dipakai oleh ibu dari kedua mempelai dan juga mempelai wanita. Mempelai wanita dan kedua ibu mempelai memakai uis beka buluh bukan sebagai selendang atau selempang, sedangkan sebagai lapis tudung atau jilbab yang dibuat dari kain yang berwarna hitam. Umumnya Uis Beka Buluh menandakan ketegasan dan kegembiraan dikarenakan warna umum Uis Beka Buluh seperti warna merah.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R. Purba Asriaty R. Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Br Karo Sekali, Emmya kristina Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Damanik, Ramlan Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Manurung, Yohana Afriani Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Asriaty Purba, Asriaty R Purba, Asriaty R. Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur r purba, asriaty Rachel, Hilda Aura Safitri Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Sibarani, Tomson Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simamora, Mei Lisriani Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Nada Christin Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinaga, Warisman Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Rahel Theresia Rodame Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Flansius Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tifany Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga