Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Masakan Khas Batak Toba Naniura dari Sudut Pandang Semiotik Sosial Sinulingga, Jekmen; Sitinjak, Ornelia; Sinaga, Angelica
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul kajian masakan khas batak toba naniura dari sudut pandang semiotik sosial. Naniura, yang popular sebegai hidangan ikan mentah yang dimarinasi dengan asam dan bumbu-bumbu tradisional tanpa proses memasak dengan panas, mempunyai makna dan simbolisme yang mendalam dalam budaya batak toba. Penelitian ini merumuskan apa saja bahan yang digunakan dalam memasak naniura, apa saja fungsi bahan tersebut, apa saja makan ikan naniura dalam acara adat batak toba, dan apa saja fungsi ikan naniura. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan semiotik sosial, yaitu Ferdinand Se Sausure. Teori f.d sausure membahas tentang tanda- tanda. Metodologi penelitian ini juga melibatkan analisis deskriptif kualitatif terhadap berbagai sumber, termasuk literatur, observasi, wawancara dengan para ahli kuliner tradisi batak, dan pengamatan langsung dalam acara-acara adat dan ritual di mana naniura disajikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naniura tidak hanya merupakan bagian integral dari budaya kuliner budaya batak toba, tetapi juga berperan dalam memperkuat ikatan sosial dan tradisi komunitas. Simbolis untuk penggunaaan bahan-bahan seperti andaliman, asam, dan rempah-rempah tradisional serta metode persiapan yang melibatkan ritus tertentu, menjelaskan hubungan yang mendalam antara masakan dan nilai dari budya. Dalam penelitian ini menjelaskan pemahaman tentang bagaimana makanan tradisional dapat digunakan sebagai wadah untuk mempertahankan warisan budaya dan bagaimana simbolisme yang ada di dalam masakan dapat merefleksikan struktur sosial dan dinamika komunitas. Hasil dari penelitian ini semoga dapat meningkatkan wawasan bagi orang-orang, terlebih bagi studi lintas budaya.
Status Sosial dalam Rumah Adat Siwaluh Jabu Batak Karo Sinulingga, Jekmen; Sitepu, Natanael; Siregar, Slamet Halomoan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah adat siwaluh jabu merupakan salah satu rumah adat yang ada dalam etnis atau suku batak karo, rumah adat tersebut biasanya dihuni oleh 8 keluarga, seperti namanya rumah siwaluh jabu yang berarti delapan ruangan, rumah adat ini terdiri dari 8 ruangan atau jabu yang dihuni berdasarkan aturan yang sudah ditetapkan, rumah adat ini sangat erat dengan hubungan atau interaksi sosialnya yang sangat tertata rapi sehingga dapat menciptakan hubungan sosial yang sulit untuk diterapkan, rumah adat ini biasanya tidak memiliki kamar dan semua anggota keluarga tidur di bagian jabu atau ruangan tanpa penyekat atau dinding, tetapi khusus untuk tempat tidur ayah dan ibu diberi penyekat berupa kain panjang yang biasanya bisa dilepas. Karena ruangan di dalam rumah adat ini tidak memiliki kamar, maka dari itu setiap keluarga memiliki satu ruangan untuk menyimpan harta benda mereka, ruangan tersebut mirip seperti gudang untuk menyimpan barang berharga. di dalam kasus ini peneliti menganalisis bagaimana status sosial didalam rumah siwaluh jabu dan bagaimana jika terjadi permasalahan di dalam rumah adat siwaluh jabu ini.
Peranan Gordang Sambilan sebagai Musik Pengiring dalam Upacara Horja Godang Mandailing Sinulingga, Jekmen; Nst, Nia Masniari; Harahap, Cory Amelia
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi peranan gordang sambilan sebagai musik pengiring dalam upacara adat horja godang Mandailing. Gordang sambilan, yang terdiri dari sembilan gendang dengan ukuran berbeda, biasanya dimainkan sebagai musik pengiring pada rangkaian upacara horja godang. Horja godang merupakan upacara perkawinan bagi keturunan raja-raja Mandailing Julu ( kini disebut Kotanopan) dalam adat Mandailing. Melalui metode kualitatif yang melibatkan observasi, wawancara, serta analisis literatur terkait, penelitian ini mengungkapkan bahwa gordang sambilan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam dalam konteks budaya dan spiritual. Musik yang dihasilkan dari gordang sambilan diyakini mampu menghubungkan dunia manusia dengan alam gaib, memperkuat solidaritas komunitas, serta meneguhkan identitas budaya Mandailing. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian gordang sambilan dalam menghadapi arus modernisasi dan globalisasi yang dapat mengancam keberlanjutan tradisi ini.
Wacana Batak: Kajian Struktural Pasahat Ulos Bere pada Pernikahan Adat Batak Toba Sinulingga, Jekmen; Siregar, Eka Silviana; Tambunan, Abel Rotua
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara struktural tradisi Pasahat Ulos Bere dalam adat Batak Toba. Tradisi Pasahat Ulos Bere merupakan salah satu upacara adat yang penting dalam masyarakat Batak Toba, yang melibatkan pemberian ulos oleh paman (hula-hula) kepada keponakannya (bere) sebagai simbol kasih sayang dan harapan. Kajian ini menggunakan pendekatan strukturalisme untuk memahami pola dan makna yang terkandung dalam tradisi ini. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara mendalam, dan analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Pasahat Ulos Bere memiliki struktur yang kompleks, mencerminkan hubungan sosial, nilai-nilai budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat Batak Toba. Studi ini berkontribusi dalam memperkaya pemahaman tentang budaya Batak Toba dan memperlihatkan pentingnya tradisi dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya.
Makna Simbolik Tortor Sombah pada Masyarakat Simalungun : Kajian Wacana Kritis Sinulingga, Jekmen; Saragih, Cristien Oktaviani; Batubara, Monica
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Batak Simalungun memiliki suatu karya yaitu ornamen, alat musik, busana, dan tari. Tortor sombah merupakan sebuah gerakan yang diciptakan oleh masyarakat. Pada tahun 1953 yang dahulunya tortor sombah menyambut raja dan seiring perkembangannya zaman, tortor sombah digunakan untuk acara perkawinan ,kematian dan acara rondang bittang dan acara marsombuh sihol. Penelitian tortor sombah menggunakan teori Van Dijk yang di mana menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut kedalam suatu wacana. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan cara melakukan mencari sumber data dengan mewawancarai beberapa narasumber simalungun dan menggunakan studi literature Dalam tortor sombah mempunyai jenis gerak tubuh baik yang di lakukan laki laki maupun perempuan antara lain: ondok , unjei , eol , serser, Lakkah sitolutolu dan unjei yang bertujuan untuk mempercantik gerak tari .tortor sombah berfungsi untuk menyambut tamu seperti raja tondong,pemimipin daerah dan juga Tuhan yang telah memberkati kita hingga pada saat ini. tortor sombah juga mempunyai makna agar kita hidup dalam situasi kebersamaan, saling menghormati dan agar tidak lupa dengan adat yang telah di buat .
Tradisi Bona Taon dalam Adat Batak Toba : Kajian Wacana Struktural Sinulingga, Jekmen; Simanjuntak, Reydwinata; Marpaung, Jonathan Halomoan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul kajian kultural Tradisi Bona Taon. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara struktural pada Tradisi Bona taon dalam adat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Bonataon adalah tradisi penting dalam masyarakat Batak Toba yang merayakan pergantian tahun dengan berbagai ritual dan simbol. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna, fungsi, dan dinamika tradisi bona taon dalam konteks budaya Batak Toba. Dan bertujuan untuk memahami pola dan makna yang terkandung dalam tradisi ini. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara mendalam, dan analisis teks. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi, penelitian ini menemukan bahwa bona taon memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya, mempererat hubungan sosial, dan sebagai sarana spiritual dan mencerminkan hubungan sosial, nilai-nilai budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat Batak Toba. Studi ini berkontribusi dalam memperkaya pemahaman tentang budaya Batak Toba dan memperlihatkan pentingnya tradisi dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya. Namun, modernisasi membawa tantangan yang signifikan terhadap kelestarian tradisi ini.
Analisis Semiotika ada Busana Adat Batak Toba Sebagai Warisan Budaya Sinulingga, Jekmen; Manullang, Doan Yohanes; Manurung, Deny Marojahan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Busana adat Batak Toba merupakan bagian integral dari kekayaan budaya Indonesia yang mencerminkan identitas budaya, nilai-nilai tradisional, dan peran sosial dalam masyarakat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika untuk menganalisis makna simbolis dari setiap elemen busana adat, seperti ulos, suring-suring, bulang-bulang, sida-sida, hoba-hoba, tali-tali, dan igek-igek. Melalui analisis mendalam, penelitian ini membuka wawasan baru tentang kekayaan budaya dan sejarah yang terkandung dalam busana adat Batak Toba, serta pentingnya pelestarian warisan budaya untuk generasi mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap bagian dari pakaian adat mempunyai makna yang sangat penting dan berkaitan erat dengan kehidupan spiritual, status sosial, dan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Batak Toba. Selain itu, penelitian ini menekankan bagaimana pakaian tradisional berperan dalam upacara dan acara keagamaan yang meningkatkan kohesivitas dan solidaritas sosial dalam komunitas Batak Toba. Oleh karena itu, menjaga identitas budaya dan meningkatkan warisan budaya Indonesia secara keseluruhan bergantung pada pelestarian dan pemahaman terhadap pakaian tradisional.
Kajian Semiotika Pada Kuliner Adat dalam Prosesi Pernikahan Adat Etnik Toba Sinulingga, Jekmen; Tambunan, Abel Rotua; Siregar, Eka Silviana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suku Batak Toba, yang tinggal di sekitar Danau Toba di Sumatera Utara, Indonesia, memiliki tradisi dan budaya yang kaya, salah satunya adalah upacara pernikahan adat yang melibatkan berbagai makanan tradisional dengan makna simbolis. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika untuk menganalisis makna di balik makanan yang disajikan dalam prosesi pernikahan Batak Toba. Menggunakan metode etnografi, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan tokoh adat serta peserta upacara. Analisis semiotika mengidentifikasi bahwa makanan seperti Ikan Mas Arsik, Nasi Jambar, Sangsang, Dekke Si Mudur-Mudur, dan Lappet berfungsi sebagai tanda yang mengkomunikasikan nilai-nilai kemakmuran, kebersamaan, keberanian, kesucian, dan kebahagiaan dalam konteks budaya Batak Toba. Penelitian ini menyoroti pentingnya makanan tradisional sebagai alat komunikasi non-verbal yang memperkuat identitas budaya dan solidaritas komunitas.
Legenda Aek Sipaulak Hosa di Kecamatan Silahisabungan Kajian Sosiologi Sastra Sinulingga, Jekmen; Giawa, Puji Syukur; Tarigan, Sarah Nathasia Br.; Siahaan, Wahyu Satria Boy; Siagian, Samuel Alexander
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Legenda Aek Sipaulak Hosa merupakan salah satu cerita prosa rakyat yang berkembang di desa Silahibungan, kecamatan Silalahi Nabolak, kabupaten Dairi. Pada penelitian ini teori yang digunakan adalah sosiologi sastra. Metode yang dipakai pada penelitian ini merupakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah unsur-unsur intrinsik serta nilai-nilai sosial yang terkandung dalam cerita. Hasil dari pembahasan pada penelitian ini, didapati sebanyak enam unsur-unsur intrinsik, antara lain: tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang dan amanat. Kemudian, untuk nilai-nilai yang terkandung pada cerita, penulis menjelaskan empat nilai yang terkandung. Pertama, kasih sayang yang terdapat pada cerita Aek Sipaulak Hosa, yang menunjukkan adanya cinta kasih pada sifat masing-masing tokoh. Kedua, tanggungjawab yang merupakan bentuk kewajiban dari para tokoh untuk menjalankan tugasnya sebagai seseorang pada perannya masing-masing dalam cerita. Ketiga, rasa hormat yang dimiliki para tokoh menunjukkan kerendahan hati yang tulus. Keempat, sistem kekerabatan yang terdapat pada cerita menjelaskan bahwa tokoh Putri Pinggan Matio menganut sistem kekerabatan yang patrilinear dan Raja Silaisabungan memegang teguh sistem kekerabatan Batak yaitu Dalihan Natolu yang salah satunya bermakna menghormati Hulahula atau pihak pemberi perempuan.
Legenda Nauli Basa di Kecamatan Silahisabungan Kajian Sosiolinguistik Sinulingga, Jekmen; Naibaho, Dewes Agustina; Pasaribu, Niken Kirey; Aritonang, Rebecca Saulina; Entelina, Santi Monica
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam artikel ini penulis menganalisis Legenda Nauli Basa pada masyarakat Batak Toba yang ada di daerah kecamatan Silahisabungan Sumatera Utara. Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan nilai-nilai karakter yang terdapat pada cerita legenda melalui pendekatan sisiologi sastra. Legenda didefinisikan sebagai suatu cerita yang berkembang dalam masyarakat yang diwariskan secara lisan. Legenda ini bercerita tentang awal mula adanya tempat sakral yang dikenal dengan nama Nauli Basa. Analisis legenda ini berfokus pada pembahasan unsur-unsur intrinsik dan nilai-nilai sosial yang ditemukan dalam cerita dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk menganalisis masalah dalam penelitian dengan data yang diperoleh dari wawancara narasumber atau dikenal dengan teknik penelitian lapangan. Hasil dari penelitian dengan teori sosiosastra ini ditemukan tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, amanat, juga nilai-nilai sosial yaitu nilai religius dan nilai moral yang terdiri dari nilai kesopanan, kejujuran, tanggung jawab. Artikel ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana Legenda Nauli Basa dapat dipertahankan dan diwariskan dalam masyarakat.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Br Karo Sekali, Emmya kristina Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dewes Agustina Naibaho Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Erica Yulia Citra Sitorus Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur Rachel, Hilda Aura Safitri Ramlan Damanik Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simamora, Mei Lisriani Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga