Claim Missing Document
Check
Articles

Konteks Upacara Maholi dalam Etnik Batak Toba Sinulingga, Jekmen; Hutajulu, Bella Angelica Br; Nurbi, Nurbi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis konteks Upacara Maholi dalam Etnik Batak Toba. Selain itu, penelitian ini bertujuan membahas lebih dalam proses dan makna tersirat dalam Upacara Maholi dalam Etnik Batak Toba. Upacara Maholi merupakan salah satu ritual adat dalam pernikahan Batak Toba dan memiliki sakral dan penting dalam kehidupan masyarakat etnik Batak Toba. Penelitian ini menyoroti tujuan, proses, dan makna budaya dari upacara Maholi sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan Teori Dell Hymes serta melibatkan wawancara mendalam dengan tokoh adat dan anggota masyarakat Batak Toba yang terlibat dalam pelaksanaan upacara Maholi. Penelitian ini akan mengungkapkan makna budaya yang terkandung dalam setiap tahapan upacara Maholi, termasuk simbol-simbol, makna, dan aturan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Batak Toba. Dengan memahami makna budaya dari upacara Maholi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat serta turut menjaga keberlangsungan warisan budaya suku Batak Toba. Dalam era kemajuan zaman dan globalisasi saat ini, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang upacara Maholi dalam konteks budaya suku Batak Toba, sekaligus memperkaya literatur mengenai keragaman budaya di Indonesia.
Konteks Upacara Erdemu Bayu dalam Etnik Batak Karo Sinulingga, Jekmen; Sinulingga, Theresia Margaretta; Hutauruk, Yesika
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upacara adat Erdemu Bayu merupakan bagian penting dari tradisi etnik Batak Karo di Indonesia. Erdemu Bayu merupakan upacara perkawinan dalam suku batak karo. Upacara ini memiliki nilai yang mendalam dan menjadi landasan bagi sistem sosial di kehidupan masyarakat Batak Karo dan mencerminkan kekayaan budaya mereka. Studi analisis wacana Batak terhadap upacara ini memberikan pemahaman yang dalam tentang makna simbolik, nilai budaya, dan peran sosial dari upacara adat ini. Melalui analisis wacana, dapat dipelajari bagaimana simbol-simbol dalam upacara ini menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan roh leluhur. Simbol-simbol seperti tarian, pakaian adat, dan persembahan memiliki makna mendalam yang menghubungkan masyarakat Batak Karo dengan warisan leluhur dan alam sekitar. Analisis wacana Batak juga mengungkapkan nilai budaya yang terkandung dalam upacara Erdemu Bayu. Nilai-nilai seperti kebersamaan, kejujuran, dan keterhubungan dengan alam menjadi bagian integral dari upacara ini. Seperti pengendesen luah yang melibatkan sistem kekerabatan yang terdiri dari 3 kelompok yaitu senina,kalimbubu, dan anak beru . Selain itu, dimensi spiritualitas dalam upacara ini juga tercermin melalui doa, mantra, dan praktik keagamaan yang dilakukan selama acara.
Kajian Masakan Khas Batak Toba Naniura dari Sudut Pandang Semiotik Sosial Sinulingga, Jekmen; Sitinjak, Ornelia; Sinaga, Angelica
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul kajian masakan khas batak toba naniura dari sudut pandang semiotik sosial. Naniura, yang popular sebegai hidangan ikan mentah yang dimarinasi dengan asam dan bumbu-bumbu tradisional tanpa proses memasak dengan panas, mempunyai makna dan simbolisme yang mendalam dalam budaya batak toba. Penelitian ini merumuskan apa saja bahan yang digunakan dalam memasak naniura, apa saja fungsi bahan tersebut, apa saja makan ikan naniura dalam acara adat batak toba, dan apa saja fungsi ikan naniura. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan semiotik sosial, yaitu Ferdinand Se Sausure. Teori f.d sausure membahas tentang tanda- tanda. Metodologi penelitian ini juga melibatkan analisis deskriptif kualitatif terhadap berbagai sumber, termasuk literatur, observasi, wawancara dengan para ahli kuliner tradisi batak, dan pengamatan langsung dalam acara-acara adat dan ritual di mana naniura disajikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naniura tidak hanya merupakan bagian integral dari budaya kuliner budaya batak toba, tetapi juga berperan dalam memperkuat ikatan sosial dan tradisi komunitas. Simbolis untuk penggunaaan bahan-bahan seperti andaliman, asam, dan rempah-rempah tradisional serta metode persiapan yang melibatkan ritus tertentu, menjelaskan hubungan yang mendalam antara masakan dan nilai dari budya. Dalam penelitian ini menjelaskan pemahaman tentang bagaimana makanan tradisional dapat digunakan sebagai wadah untuk mempertahankan warisan budaya dan bagaimana simbolisme yang ada di dalam masakan dapat merefleksikan struktur sosial dan dinamika komunitas. Hasil dari penelitian ini semoga dapat meningkatkan wawasan bagi orang-orang, terlebih bagi studi lintas budaya.
Status Sosial dalam Rumah Adat Siwaluh Jabu Batak Karo Sinulingga, Jekmen; Sitepu, Natanael; Siregar, Slamet Halomoan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah adat siwaluh jabu merupakan salah satu rumah adat yang ada dalam etnis atau suku batak karo, rumah adat tersebut biasanya dihuni oleh 8 keluarga, seperti namanya rumah siwaluh jabu yang berarti delapan ruangan, rumah adat ini terdiri dari 8 ruangan atau jabu yang dihuni berdasarkan aturan yang sudah ditetapkan, rumah adat ini sangat erat dengan hubungan atau interaksi sosialnya yang sangat tertata rapi sehingga dapat menciptakan hubungan sosial yang sulit untuk diterapkan, rumah adat ini biasanya tidak memiliki kamar dan semua anggota keluarga tidur di bagian jabu atau ruangan tanpa penyekat atau dinding, tetapi khusus untuk tempat tidur ayah dan ibu diberi penyekat berupa kain panjang yang biasanya bisa dilepas. Karena ruangan di dalam rumah adat ini tidak memiliki kamar, maka dari itu setiap keluarga memiliki satu ruangan untuk menyimpan harta benda mereka, ruangan tersebut mirip seperti gudang untuk menyimpan barang berharga. di dalam kasus ini peneliti menganalisis bagaimana status sosial didalam rumah siwaluh jabu dan bagaimana jika terjadi permasalahan di dalam rumah adat siwaluh jabu ini.
Peranan Gordang Sambilan sebagai Musik Pengiring dalam Upacara Horja Godang Mandailing Sinulingga, Jekmen; Nst, Nia Masniari; Harahap, Cory Amelia
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi peranan gordang sambilan sebagai musik pengiring dalam upacara adat horja godang Mandailing. Gordang sambilan, yang terdiri dari sembilan gendang dengan ukuran berbeda, biasanya dimainkan sebagai musik pengiring pada rangkaian upacara horja godang. Horja godang merupakan upacara perkawinan bagi keturunan raja-raja Mandailing Julu ( kini disebut Kotanopan) dalam adat Mandailing. Melalui metode kualitatif yang melibatkan observasi, wawancara, serta analisis literatur terkait, penelitian ini mengungkapkan bahwa gordang sambilan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam dalam konteks budaya dan spiritual. Musik yang dihasilkan dari gordang sambilan diyakini mampu menghubungkan dunia manusia dengan alam gaib, memperkuat solidaritas komunitas, serta meneguhkan identitas budaya Mandailing. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian gordang sambilan dalam menghadapi arus modernisasi dan globalisasi yang dapat mengancam keberlanjutan tradisi ini.
Wacana Batak: Kajian Struktural Pasahat Ulos Bere pada Pernikahan Adat Batak Toba Sinulingga, Jekmen; Siregar, Eka Silviana; Tambunan, Abel Rotua
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara struktural tradisi Pasahat Ulos Bere dalam adat Batak Toba. Tradisi Pasahat Ulos Bere merupakan salah satu upacara adat yang penting dalam masyarakat Batak Toba, yang melibatkan pemberian ulos oleh paman (hula-hula) kepada keponakannya (bere) sebagai simbol kasih sayang dan harapan. Kajian ini menggunakan pendekatan strukturalisme untuk memahami pola dan makna yang terkandung dalam tradisi ini. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara mendalam, dan analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Pasahat Ulos Bere memiliki struktur yang kompleks, mencerminkan hubungan sosial, nilai-nilai budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat Batak Toba. Studi ini berkontribusi dalam memperkaya pemahaman tentang budaya Batak Toba dan memperlihatkan pentingnya tradisi dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya.
Makna Simbolik Tortor Sombah pada Masyarakat Simalungun : Kajian Wacana Kritis Sinulingga, Jekmen; Saragih, Cristien Oktaviani; Batubara, Monica
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Batak Simalungun memiliki suatu karya yaitu ornamen, alat musik, busana, dan tari. Tortor sombah merupakan sebuah gerakan yang diciptakan oleh masyarakat. Pada tahun 1953 yang dahulunya tortor sombah menyambut raja dan seiring perkembangannya zaman, tortor sombah digunakan untuk acara perkawinan ,kematian dan acara rondang bittang dan acara marsombuh sihol. Penelitian tortor sombah menggunakan teori Van Dijk yang di mana menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut kedalam suatu wacana. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan cara melakukan mencari sumber data dengan mewawancarai beberapa narasumber simalungun dan menggunakan studi literature Dalam tortor sombah mempunyai jenis gerak tubuh baik yang di lakukan laki laki maupun perempuan antara lain: ondok , unjei , eol , serser, Lakkah sitolutolu dan unjei yang bertujuan untuk mempercantik gerak tari .tortor sombah berfungsi untuk menyambut tamu seperti raja tondong,pemimipin daerah dan juga Tuhan yang telah memberkati kita hingga pada saat ini. tortor sombah juga mempunyai makna agar kita hidup dalam situasi kebersamaan, saling menghormati dan agar tidak lupa dengan adat yang telah di buat .
Tradisi Bona Taon dalam Adat Batak Toba : Kajian Wacana Struktural Sinulingga, Jekmen; Simanjuntak, Reydwinata; Marpaung, Jonathan Halomoan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul kajian kultural Tradisi Bona Taon. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara struktural pada Tradisi Bona taon dalam adat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Bonataon adalah tradisi penting dalam masyarakat Batak Toba yang merayakan pergantian tahun dengan berbagai ritual dan simbol. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna, fungsi, dan dinamika tradisi bona taon dalam konteks budaya Batak Toba. Dan bertujuan untuk memahami pola dan makna yang terkandung dalam tradisi ini. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara mendalam, dan analisis teks. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi, penelitian ini menemukan bahwa bona taon memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya, mempererat hubungan sosial, dan sebagai sarana spiritual dan mencerminkan hubungan sosial, nilai-nilai budaya, dan sistem kepercayaan masyarakat Batak Toba. Studi ini berkontribusi dalam memperkaya pemahaman tentang budaya Batak Toba dan memperlihatkan pentingnya tradisi dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya. Namun, modernisasi membawa tantangan yang signifikan terhadap kelestarian tradisi ini.
Analisis Semiotika ada Busana Adat Batak Toba Sebagai Warisan Budaya Sinulingga, Jekmen; Manullang, Doan Yohanes; Manurung, Deny Marojahan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Busana adat Batak Toba merupakan bagian integral dari kekayaan budaya Indonesia yang mencerminkan identitas budaya, nilai-nilai tradisional, dan peran sosial dalam masyarakat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika untuk menganalisis makna simbolis dari setiap elemen busana adat, seperti ulos, suring-suring, bulang-bulang, sida-sida, hoba-hoba, tali-tali, dan igek-igek. Melalui analisis mendalam, penelitian ini membuka wawasan baru tentang kekayaan budaya dan sejarah yang terkandung dalam busana adat Batak Toba, serta pentingnya pelestarian warisan budaya untuk generasi mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap bagian dari pakaian adat mempunyai makna yang sangat penting dan berkaitan erat dengan kehidupan spiritual, status sosial, dan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Batak Toba. Selain itu, penelitian ini menekankan bagaimana pakaian tradisional berperan dalam upacara dan acara keagamaan yang meningkatkan kohesivitas dan solidaritas sosial dalam komunitas Batak Toba. Oleh karena itu, menjaga identitas budaya dan meningkatkan warisan budaya Indonesia secara keseluruhan bergantung pada pelestarian dan pemahaman terhadap pakaian tradisional.
Kajian Semiotika Pada Kuliner Adat dalam Prosesi Pernikahan Adat Etnik Toba Sinulingga, Jekmen; Tambunan, Abel Rotua; Siregar, Eka Silviana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suku Batak Toba, yang tinggal di sekitar Danau Toba di Sumatera Utara, Indonesia, memiliki tradisi dan budaya yang kaya, salah satunya adalah upacara pernikahan adat yang melibatkan berbagai makanan tradisional dengan makna simbolis. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika untuk menganalisis makna di balik makanan yang disajikan dalam prosesi pernikahan Batak Toba. Menggunakan metode etnografi, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan tokoh adat serta peserta upacara. Analisis semiotika mengidentifikasi bahwa makanan seperti Ikan Mas Arsik, Nasi Jambar, Sangsang, Dekke Si Mudur-Mudur, dan Lappet berfungsi sebagai tanda yang mengkomunikasikan nilai-nilai kemakmuran, kebersamaan, keberanian, kesucian, dan kebahagiaan dalam konteks budaya Batak Toba. Penelitian ini menyoroti pentingnya makanan tradisional sebagai alat komunikasi non-verbal yang memperkuat identitas budaya dan solidaritas komunitas.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R. Purba Asriaty R. Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Damanik, Ramlan Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Manurung, Yohana Afriani Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Asriaty Purba, Asriaty R Purba, Asriaty R. Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur r purba, asriaty Rachel, Hilda Aura Safitri Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Sibarani, Tomson Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Nada Christin Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinaga, Warisman Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Rahel Theresia Rodame Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Flansius Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tifany Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga