Claim Missing Document
Check
Articles

Tinjauan Pustaka : Kebiasaan Merokok dan Paparan Ultraviolet Sebagai Faktor Risiko Katarak Senilis Ghaitsa Lulua; Himayani, Rani; Septiani, Linda; Berawi, Khairunnisa
Medula Vol 15 No 1 (2025): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i10.1419

Abstract

Cataract ranks second as the most common visual impairment and first as a cause of blindness, as the lens hardens and causes a decrease in sharp vision. Based on age, cataracts are divided into several types: congenital cataract, juvenile cataract and senile cataract. Senile cataract is a cataract that often occurs in older people. The classification of senile cataracts is based on the progression of the cataract's opacity, namely, incipient, immature, mature, and hypermature. Some of the risk factors for senile cataracts include a history of diabetes mellitus, family history, smoking, and exposure to ultraviolet light. Smokers have a higher risk of developing senile cataracts than non-smokers. Ingredients in cigarettes such as cyanate, nicotine and tar can cause changes and denaturation of proteins in the lens of the eye. Meanwhile, sunlight absorbed by the eye produces free radicals and affects the tissues in the lens of the eye, triggering oxidative reactions, causing changes in amino acid reactions and leading to senile cataracts.
Hubungan Rasionalitas Terapi Antidiabetes Terhadap Kontrol Gula Darah Puasa Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rahma, Cinta Alicia; Oktarlina, Rasmi Zakiah; Aditya, Muhammad; Berawi, Khairun Nisa
Jurnal Medika Malahayati Vol 9, No 2 (2025): Volume 9 Nomor 2
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v9i2.19096

Abstract

Diabetes merupakan penyakit metabolik kronik yang terjadi ketika pankreas tidak memproduksi insulin dalam jumlah cukup atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksinya secara efektif sehingga terjadi hiperglikemia. Penatalaksanaan terapi diabetes merupakan salah satu upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tersebut. Oleh karena itu, diperlukan penatalaksanaan terapi diabetes yang rasional berdasarkan kriteria 4T yaitu diagnosis yang akurat, tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat interval pemberian untuk mencapai kadar gula darah terkontrol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan rasionalitas terapi antidiabetik dengan pengendalian gula darah prandial. Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan menggunakan data rekam medis. Data tersebut kemudian dianalisis dengan uji univariat. Hasil penelitian menunjukkan distribusi rasionalitas pemberian obat berdasarkan tepat diagnosis sebanyak 63 pasien (100%) , tepat indikasi sebanyak 38 pasien (60,3%) dan tidak tepat indikasi sebanyak 25 pasien (39,7%),  tepat dosis sebanyak 63 pasien (100%) dan tepat interval pemberian obat sebanyak 63 pasien (100%).
Pengaruh Pemberian Salmeterol-Flutikason Terhadap Kualitas Hidup Pasien Pasca Tuberkulosis Latief, Adhi Nugroho; Dilangga, Pad; Berawi, Khairun Nisa; Messah, Anse Diana Valentiene; Soemarwoto, Retno Ariza S.; Herdato, M. Junus Didiek; Lyanda, Apri; Kusumajati, Pusparini; Gozali, Achmad
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i6.20152

Abstract

Pasien TB yang telah diobati kemungkinan akan tetap mengalami keluhan gejala pernapasan jangka panjang akibat komplikasi dari pasca TB yang memperburuk kualitas hidup. Penelitian Tae Hoon dkk, pemberian indakaterol inhalasi selama 8 minggu pada pasien pasca tuberkulosis yang mengalami sequele dan menyebabkan obstruksi mengalami perbaikan VEP1 sebesar 81,3mL. Tetapi belum ada penelitian yang menggunakan kombinasi bronkodilator dengan kortikosteroid pada pasien pasca tuberkulosis. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Penelitian ini menggunakan metode randomized controlled trial dengan pola uji klinis tahap 2 Kohort Prospektif., untuk menganalisis pengaruh pemberian salmeterol-flutikason terhadap kualitas hidup pasien pasca tuberkulosis. Sebanyak 30 pasien pasca tuberkulosis berumur 18-85 tahun yang dipilih secara acak. Kemudian pasien akan diberikan penjelasan mengenai prosedur dan meminta inform consent dilakukan pemeriksaan dan perlakuan uji. Pasien kemudian diberikan form kuesioner untuk mengisi secara mandiri dengan panduan. Pasien ditimbang berat badan, diukur tinggi badan, dilakukan pemeriksaan saturasi oksigen, spirometri dan pemeriksaan foto toraks.  Pasien pasca tuberkulosis diberikan obat salmeterol-flutikason DPI dosis 250 mcg/50 mcg. Pasien menggunakan obat uji selama 3 bulan sebanyak 1 dosis hisapan. Setelah 3 bulan pasien akan di lakukan kembali tes jalan 6 menit, dilakukan pemeriksaan saturasi oksigen, spirometri dan pemeriksaan foto toraks. Terdapat pengaruh pemberian salmeterol-flutikason terhadap kualitas hidup pasien pasca tuberkulosis.
Bacterial patterns and antibiotic sensitivity among neonatal sepsis patients in Dr. H. Abdul Moeloek Hospital, Lampung Ervina, Leni; Busman, Hendri; Berawi, Khairunnisa; Irawan, Bambang; Azizah, Nailul; Yolanda, Jennifer Ester
Paediatrica Indonesiana Vol. 65 No. 4 (2025): July 2025
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi65.4.2025.297-306

Abstract

Background Neonatal infections cause more than 550,000 deaths each year worldwide. Sepsis is a serious neonatal infection, defined as a severe form of infection that causes organ dysfunction. The incidence of neonatal sepsis in Dr. H. Abdul Moeloek Hospital, Lampung increased by 25% from 2017 to 2018 and by 30% from 2018 to 2019. Inappropriate use of antibiotics as therapy can lead to bacterial resistance to the medication. Understanding the most common bacterial patterns and using the guidance of antibiotic sensitivity tests can help health workers determine the empirical antibiotics needed to achieve optimal management, especially in neonatal sepsis patients. Objective To identify bacteria and their antibiotic sensitivity patterns in neonatal sepsis patients at Dr. H. Abdul Moeloek Hospital, Lampung between January and June 2024. Method  Descriptive study was conducted using medical record data from neonates suspected of having sepsis in Dr. H. Abdul Moeloek Hospital Lampung between January and June 2024. Blood culture data and antibiotic sensitivity testing was obtained from medical records. Results Of 65 blood culture of neonates suspected of having sepsis, 31 results were positive (47.6%). The most common microorganisms found were Klebsiella pneumoniae (23%), Burkholderia cepacia (19%), Acinetobacter baumannii (10%), Pseudomonas aeruginosa (10%), Enterococcus faecium (10%) Staphylococcus aureus (10%), Staphylococcus epidermidis (6%), Enterococcus faecalis (6%), Escherichia coli (3%), and Enterobacter cloacae (3%). Based on the sensitivity data calculated using weighted averages, ciprofloxacin (64.7%) and tigecycline (61.1%) showed highest sensitivity across more than five bacterial species. In contrast, ampicillin/sulbactam (96.0%), gentamicin (94.2%), and ceftriaxone (87.7%) had the highest resistance rates. Conclusion The most common bacteria causing neonatal sepsis were Klebsiella pneumoniae and Burkholderia cepacia. Among more than five bacterial species, the highest overall sensitivity was observed to ciprofloxacin and tigecycline, while the highest resistance rates were observed to ampicillin/sulbactam, gentamicin, and ceftriaxone.
Pengaruh regimen kombinasi transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) dan infra red radiation (IRR) dengan exercise therapy terhadap nyeri dan fungsional lutut pada petani penderita osteoartritis Kurniawan, Ryanda Masri; Berawi, Khairun Nisa; Suharmanto, Suharmanto; Pramesona, , Bayu Anggileo; Saftarina, Fitria
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1344

Abstract

Background: Osteoarthritis (OA) in farmers can cause significant functional impairment, which can be addressed with Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Infrared Radiation (IRIR), and exercise therapy.Purpose: To analyze the effect of a combination of transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) and infrared radiation (IRIR) with exercise therapy on knee pain and function in farmers with osteoarthritis.Method: This was an experimental study with a two-group pre-test and post-test design. The study was conducted at the Karang Pucung Community Health Center, South Lampung, from May to June 2025. The study population consisted of 68 farmers with osteoarthritis, representing the total sample. Thirty-four farmers with OA received 25 minutes of exercise therapy, and 34 farmers with OA received a combination of TENS and IRIR for 30 minutes. Pain measurements before and after the intervention were conducted using the Visual Analogue Scale (VAS) and the Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC). Analysis used the Wilcoxon test and the Mann-Whitney test.Results: The average age of farmers in the Exercise Therapy group was 45-50 years, while in the TENS & IRR group, it was 45-50 years. In the TENS & IRR with Exercise Therapy group, there were more women with a history of osteoarthritis. In the TENS & IRR group, lesions were more common on the right side, while in the Exercise Therapy group, farmers with osteoarthritis were more common on the left side. There were differences in average knee pain and functional scores before and after administration of analgesics, a combination of Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) and Infrared Radiation (IRR) with Exercise Therapy given to farmers with osteoarthritis. Conclusion: There was a difference in average pain scores before and after administration of exercise therapy in the Combined Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) and Infrared Radiation (IRR) group. However, there was a significant difference in the exercise group compared to the TENS & IRR group.Suggestion: Collaboration with relevant parties is recommended to organize educational programs and OA management for farmers using analgesics and exercise therapy. Keywords: Exercise Therapy; Farmers; Functional Knee; Infrared Radiation (IRR); Osteoarthritis Patients; Pain; Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).  Pendahuluan: Osteoartritis (OA) pada petani dapat menyebabkan gangguan fungsional yang signifikan, hal ini dapat diatasi dengan menggunakan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Infra Red Radiation (IRR) dan exercise therapy. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh regimen kombinasi transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) dan infra red radiation (IRR) dengan exercise therapy terhadap nyeri dan fungsional lutut pada petani penderita osteoartritis. Metode: Jenis penelitian ini eksperimental menggunakan pre and post test two group design. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Karang Pucung Lampung Selatan pada bulan Mei-Juni 2025. Populasi penelitian adalah petani penderita osteoatrritis sebanyak 68 petani OA dengan total sampling. 34 petani OA diberikan exercise therapy selama 25 menit dan 34 petani OA diberikan kombinasi TENS dan IRR selama 30 menit. Pengukuran sebelum dan setelah intervensi menggunakan skala nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) dan Western Ontario and Mcmaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC). Analisis menggunakan Wilcoxon test dan Mann Whitney test. Hasil: Mayoritas petani pada kelompok Exercise Therapy berusia rata – rata 45-50 tahun, sedangkan untuk kelompok TENS & IRR berusia 45-50 tahun. Pada kelompok TENS & IRR dengan Exercise Therapy, lebih banyak berjenis kelamin perempuan yang memeiliki riwayat penyakit osteoarthritis. Pada kelompok TENS & IRR lebih banyak pada lesi kanan, sedangkan pada kelompok Exercise Therapy petani mereka yang menderita osteoarthritis lebih banyak terkena pada lesi kiri. Ada tingkat rerata skor nyeri dan fungsional lutut sebelum dan sesudah diberikan Analgesik, Kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan Infra Red Radiation (IRR) dengan Exercise Therapy pada petani penderita Osteoarthritis. Simpulan: Terdapat perbedaan skor rata-rata nyeri sebelum dan sesudah diberikan pada kelompok Kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan Infra Red Radiation (IRR) dengan Exercise Therapy. Namun, pada kelompok Exercise terlihat selisih yang signifikan dari pada kelompok TENS & IRR. Saran: Agar menjalin kerjasama dengan pihak terkait untuk menyelenggarakan program edukasi dan penanganan OA pada petani menggunakan tindakan analgesik dan exercise therapy.   Kata Kunci: Exercise Therapy; Fungsional Lutut; Infra Red Radiation (IRR);  Nyeri; Penderita Osteoartritis; Petani; Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).
Hubungan Faktor Individu Dan Pekerjaan Terhadap Keluhan Work-Related Musculoskeletal Disorders (WRMSDs) Pada Petugas Kebersihan Ramadhan, Yasmine Aulia; Wardani, Dyah Wulan Sumekar rengganis; Komala, Ramadhana; Berawi, Khairunnisa
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.20636

Abstract

ABSTRACT Work-Related Musculoskeletal Disorders (WRMSDs) are complaints of muscles, fascia, nerves, tendons, joints, and spine related to exposure to risk factors in the workplace, such as sprains, pain, and inflammation. Cleaners are one of the jobs that often experience WRMSDs. WRMSDs complaints can be influenced by several main factors, namely individual factors and work factors. The purpose of this study was to determine the relationship between individual and work factors and WRMSDs complaints in cleaners at the University of Lampung. This study used a cross-sectional approach, conducted at the University of Lampung from July 2024 to January 2025. The subjects of the study were 130 cleaners. Data were collected through filling in personal data, exercise habit questionnaires and Nordic Body maps, and measuring work posters using the OWAS method. Bivariate analysis used the Spearman and Mann-Whitney tests. There is a relationship between gender (p = 0,05) and WRMSDs complaints, and there is a relationship between age (p < 0,001 and r = 0,355), work duration (p = 0,001 and r = 0,283), work posture (p = 0,001 and r = 0,289), and WRMSDs complaints with a weak correlation strength and positive direction. There is a relationship between work period (p < 0,001 and r = 0,400) and WRMSDs complaints with a moderate correlation level and a positive direction. There is a relationship between exercise habits (p = 0,009 and r = -0,299) with a weak correlation level and a negative direction. There is no relationship between BMI (p = 0,717) and WRMSDs complaints. Factors related to WRMSDs complaints are age, gender, exercise habits, work period, work duration, and work posture. Factors not related to WRMSDs complaints are BMI. Keywords: Musculoskeletal Disorders, Individual Factors, Occupational Factors  ABSTRAK Work-Related Musculoskeletal Disorders (WRMSDs) merupakan keluhan pada otot, fascia, saraf, tendon, sendi, dan tulang belakang yang terkait dengan paparan faktor risiko di tempat kerja, seperti terkilir ,nyeri dan inflamasi. Petugas kebersihan merupakan salah satu pekerjaan yang sering mengalami WRMSDs. Keluhan WRMSDs dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu faktor individu serta faktor pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara faktor individu dan pekerjaan terhadap keluhan WRMSDs pada petugas kebersihan Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional, dilakukan di Universitas Lampung pada bulan Juli 2024-Januari 2025. Subjek penelitian adalah 130 petugas kebersihan. Data dikumpulkan melalui pengisian data diri, kuesioner kebiasaan olahraga dan Nordic Body map, serta pengukuran poster kerja dengan metode OWAS. Analisis bivariat menggunakan uji Spearman dan Mann Whitney. Terdapat hubungan antara jenis kelamin (p = 0,05) dan keluhan WRMSDs, serta terdapat hubungan antara usia (p < 0,001 dan r = 0,355), durasi kerja (p = 0,001 dan r=0,283),  postur kerja (p = 0,001 dan r = 0,289) dan keluhan WRMSDs dengan kekuatan korelasi lemah dan arah yang positif. Terdapat hubungan antara masa kerja (p < 0,001 dan r = 0,400) dan keluhan WRMSDs dengan tingkat korelasi sedang dan arah yang positif. Terdapat hubungan antara kebiasaan olahraga (p = 0,009 dan r = -0,299) dengan tingkat korelasi lemah dan arah yang negatif. Tidak terdapat hubungan antara IMT (p = 0,717) dengan keluhan WRMSDs. Faktor yang berhubungan dengan keluhan WRMSDs adalah usia, jenis kelamin, kebiasaan olahraga, masa kerja, durasi kerja, serta postur kerja. Faktor yang tidak berhubungan dengan keluhan WRMSDs adalah IMT. Kata Kunci: Gangguan Muskuloskeletal, Faktor Indiviu, Faktor Pekerjaan
Hubungan antara Ketersediaan Tutup Penampung Air dan Frekuensi Pengurangan Penampung Air dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Rianto, Muhamad Arif; Suharmanto, Suharmanto; Berawi, Khairun Nisa; Susianti, Susianti; Pramesona, Bayu Anggileo
Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences Vol 6 No 2 (2025): Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences: October 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijnhs.v6i2.7377

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Wilayah kerja Puskesmas Banjarsari Kota Metro mengalami peningkatan signifikan kasus DBD, dari 5 kasus pada tahun 2022 menjadi 87 kasus pada tahun 2024. Faktor lingkungan, khususnya ketersediaan tutup penampung air dan frekuensi pengurasan, diduga menjadi faktor risiko utama kejadian DBD. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan tutup penampung air dan frekuensi pengurasan penampung air dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Banjarsari Kota Metro tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 389 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling, terdiri dari 57 kasus positif DBD dan 332 kasus negatif DBD. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang teruji validitas (nilai r berada pada rentang 0,467-0,786) dan reliabilitas nya (alpha Cronbach 0,97) dan observasi lapangan. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak memiliki tutup penampung air (47,8%) dan tidak melakukan pengurasan secara rutin (49,9%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara ketersediaan tutup penampung air dengan kejadian DBD (p-value = 0,018; OR = 2,080; 95% CI = 1,165-3,715). Responden yang tidak memiliki tutup penampung air berisiko 2,080 kali lebih tinggi mengalami DBD. Terdapat hubungan signifikan antara frekuensi pengurasan penampung air dengan kejadian DBD (p-value = 0,043; OR = 1,888; 95% CI = 1,057-3,371). Responden yang tidak menguras penampung air minimal satu kali seminggu berisiko 1,888 kali lebih tinggi mengalami DBD. Ketersediaan tutup penampung air dan frekuensi pengurasan penampung air merupakan faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Banjarsari Kota Metro. Diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat melalui program promosi kesehatan dan intensifikasi pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 4M Plus.
Analysis of The Influence of Nutritional Status Variables and Environmental Sanitation on The Event of Diarrhous to Children Astiti, Feni; Zuraida, Reni; Bakri, Samsul; Berawi, Khairunnisa
Journal of World Science Vol. 1 No. 11 (2022): Journal of World Science
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jws.v1i11.112

Abstract

Introduction: Diarrhea in 2019 became the second leading cause of death in children under five. The causes of diarrhoea include infection, malabsorption, and food and are influenced by several factors such as behavioural, nutritional, environmental, and socioeconomic factors. This study aimed to analyze the effect of variables on nutritional status and environmental sanitation on the incidence of diarrhoea in children under five in the South Lampung Regency. Method: This study is survey research with a cross-sectional design and uses binary logistic regression analysis. The samples taken were 380 toddlers aged 6-59 months. Result: 10 of the 21 predictor variables had a significant effect on the 5% significant level of the incidence of diarrhoea, where there were nine predictor variables, including poor/poor nutritional status, history of exclusive breastfeeding, clean water sources from BOR wells, clean water sources from PDAM. mountain spring drinking water sources, latrine facilities, septic tank facilities, managed waste management, and the floor of a ceramic house can reduce the incidence of diarrhea with odds ratio and [p=] values of 0.06[0.000], 0.33[0.017], 0.01[0.0000], 0.02[0.000], 0.02[0.004], 0.04[0.000], 0.01[0.025], 0.02[0.001], and 0.10[0.000]. Toddlers living in noncoastal areas have a 1.08 times higher chance of experiencing diarrhoea than coastal areas. In contrast, one variable, namely the age of toddlers, can increase the susceptibility to diarrhoea in toddlers with the odds ratio and [p=] values of 1.04 [0.007, respectively. Conclusion: This study shows that the influence of nutritional status variables and environmental sanitation has a great possibility to reduce the incidence of diarrhoea in children under five, namely in the group of nutritional status variables, including poor/poor nutritional status, age of toddlers, and history of exclusive breastfeeding.
Exploring Lactic Acid Bacteria and Metabolite-Target Interactions in Undernutrition Prevention: A Network Pharmacology and Molecular Docking Approach Prayogi, Norbertus Marcell; Berawi, Khairun Nisa; Irawati, Nur Ayu Virginia; Rukmono, Prambudi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i11.23016

Abstract

ABSTRACT Undernutrition is a major global issue, particularly in children, leading to stunting, wasting, and compromised immune function. Disruption of gut microbiota is a key factor in undernutrition, making probiotics, especially Lactic Acid Bacteria (LAB), a potential solution for improving nutritional status. This study explores the role of LAB and their metabolites in preventing undernutrition using network pharmacology and molecular docking approaches to identify potential molecular targets and related pathways. Network pharmacology tools like TargetNet, SEA, and SwissTargetPrediction were used to predict gene targets influenced by LAB metabolites. Cytoscape was used to build protein-protein interaction (PPI) networks, and molecular docking simulations evaluated the binding of LAB metabolites to key proteins associated with undernutrition. A total of 603 potential genes were identified, including human serum albumin (ALB), interleukin-6 (IL-6), and tumor necrosis factor alpha (TNF-α). Pathway analysis linked these proteins to immune response, nutrient absorption, and metabolic regulation. Molecular docking confirmed stable interactions with LAB metabolites. LAB and their metabolites show promise in managing undernutrition by modulating gut health and supporting nutrient absorption, providing a basis for future clinical applications. Keywords: Undernutrition, Lactic Acid Bacteria (LAB), Probiotics, Network Pharmacology, Molecular Docking
Pengelolaan Potensi Bahaya dan Risiko Kerja pada Pekerja Kampung Maggot Bandar Lampung Berawi, Khairun Nisa; Karima, Nisa; Zahra, Tsurayya Fathma; Siregar, Maulana Irfan Hazairin; Safira, Ditya Ananda; Nurhaliza, Suci; Rahmah, Azizah Nur; Padmadisastra, Jauzaa Faishal Ahmad; Shiddiq, Haikal; Christy, Angelica Philia; Murfi, Syahrani Alya
Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023): Oktober - Desember
Publisher : Pusat Penelitian & Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/pjpm.v4i4.2801

Abstract

Kampoeng Maggot is a subsidiary of Green Gunter Farm which operates in the livestock and fisheries sector which focuses on the BSF (Black Soldier Fly) maggot cultivation sector. The aim of this PKM is to identify potential hazards at Green Gunter Farm and increase workers' understanding of the importance of protective equipment and work compliance by providing interventions to control these potential hazards. The PKM method is carried out by identifying potential hazards and intervention in the form of counseling and creating work SOPs. The identification results show that the greatest risk of work hazards comes from potential ergonomic hazards due to the uneven terrain. Apart from that, workers are also not used to using complete personal protective equipment due to the lack of adequate SOPs. PKM results show an increase in workers' knowledge and attitudes about personal hygiene, PPE, and the work environment, as well as the availability of SOPs that guide safe work flows to minimize potential hazards and work risks.
Co-Authors Abimanyu Darmawan Adisti, Fransiska Admi Syarif Afifah, Syafira Hasna Agung, Leni Yulinda Kesuma Agus Wantoro Agustyas Tjiptaningrum Ahmad Arkan Ichsan Ahmad Arkan Ichsan Ahmad Farishal Akuba, Nanda Nurrohim Al Ghifari, Ghaza Ahmad Alicia Rahma, Cinta Alinta Ayuningtyas Alinta Amalia Tirzaningrum Amir, Anzela Andhika Mahatidanar Anggraeni Janar Wulan anggraini janar wulan Angraini, Dwi Indria Ani Yuli Yanti Puspitasari Anisa Adelia Annisa Adietya Pratama Annisa Fath Annisa Putri Perdani Apri Lyanda Aprilia, Sandrina Audy Arsistya Ayu Marella Asep Sukohar Asiah Nurul Izzah Assidiq, Hans Pratama Astiti, Feni Ayu Dinda Fatimah Azizah, Nailul Azizza, Zahra Qori Bayu Anggileo Pramesona Candra Kurniawan Chicy WIdya Morfi Christy, Angelica Philia CNA Qolbi Daulay, Suryani Agustina Dea Okta Pabiola Desty Marini Dewi Nur Fiana Dewi Nur Fiana Dewi Nur Fiana Dian Isti Anggraini Dian Isti Angraini Dian Isti Angraini Dian Syafitri Dian Syafitri Dian Syafitri Diana Mayasari Dilangga, Pad Dinda Annisa Fitria Diva Iole Humaira Dwita Oktaria Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani Eca Cania Edward Sintong Samosir Efrida Warganegara Ekki Pirmansyah Emantis Rosa Ester Krisdayanti Ety Apriliana Exsa Hadibrata Farhati, Soraya Fathia Radinda Salsabila Fathia Sabila Umar Fauzi Ahmad Muda Fauziyyah Nuur Al Azizah Fitria Putridewi Abidin Fitria Saftarina Frigandra Syahputri Ghaitsa Lulua Giska Tri Putri Gozali, Achmad Haikal Nirfandi Hanif, Fauziah Hanna Mutiara Happy, Terza Aflika Helmi Ismunandar Helmi Ismunandar Hendri Busman Heni Sulistiani Herdato, M. Junus Didiek Hj. Rahma Amtiria Ilham Nugroho Ilham Nugroho Indri Windarti Intan Kusumaningtyas Intanri Kurniati Irawati, Nur Ayu Virginia Iswandi Darwis Karima, Nisa Khalisah Nurjihany Salsabila Kurnia Muludi Kurniawan, Ryanda Masri Kurniawaty, Evi Kusumajati, Pusparini Latief, Adhi Nugroho Leni Ervina, Leni Lesilolo, Caroline Virgine Putri Liana Sidharti Liana Sidharti M Masykur Berawi M. Aqmal Hidayah M. Irfan zaki Rici Maharani, Atifah Fadilah Marcellia, Selvi Marzon, Mafalda Messah, Anse Diana Valentiene Mia Trihasna Asrizal Muhammad Aditya, Muhammad Muhammad Aditya, Muhammad Aditya Muhammad Farid Adityo Muhammad Maulana Muhammad Morsa Habibie Muhammad Ricky Ramadhian Muhammad Rifki Pratama Muhartono Muhartono Murfi, Syahrani Alya Neema Putri Prameswari Nelly Yuana Ni MAde Ida Damma Nisa Karima Nisa Karimah Nur Anggraini Nurhaliza, Suci Nurul Islamy Nurul Utami Oktadoni Saputra Oktafany, Oktafany Oktavia Ningtias, Nabila Padmadisastra, Jauzaa Faishal Ahmad Perdami, Roro Rukmi Windi Pertiwi, Nabila Rahma Prambudi Rukmono Pramesona, , Bayu Anggileo Prayogi, Norbertus Marcell Purnama, Dara Marissa Widya Puspaningrum, Dewi Ayu Putri Giani Purnamasari Qanita Arindia, Naifa Hana Rahma, Cinta Alicia Rahmah, Azizah Nur rahmawati, selvi Ramadhan Triyandi Ramadhan, Yasmine Aulia Ramadhana Komala Rani Himayani Rasmi Zakiah Oktarlina Ratna Dewi Puspita Sari Ratu Nirmala Wahyunindita Redi Bintang Pratama Reni Zuraida Rianto, Muhamad Arif Risti Graharti Riyan Wahyudo Roro Rukmi Windi Perdani, Roro Rukmi RR. Ella Evrita Hestiandari Rudiyanto, Waluyo Safira, Ditya Ananda Salma Khairunnisa Samsul Bakri Sangging, Putu Ristyaning Ayu Sembiring, Rinawati Septiani, Linda Setiawan, Gigih Setiorini, Anggi Sheira Indah Anjani Shiddiq, Haikal Shinta Nareswari, Shinta Siregar, Maulana Irfan Hazairin Smith Imanuel Saputra Soemarwoto, Retno Ariza S. Sowiyah Sowiyah Sri Ratna Sulistiyanti Suharmanto Suharmanto Suharmanto Suryadi Islami Susianti Susianti Susianti Susianti, Susianti Sutarto Sutarto Sutyarso Sutyarso Syahfira, Reisyah Syarel, Radin Ghefira Naura Ta Larasati TA Larasati Tasya Khariena Akbar Theodora Agverianti Theodorus, Emeraldha Verizka, Talitha Warsito Warsito Warsono Warsono Wibowo, Gatra Hadimuti Winda Trijayanthi Utama, Winda Trijayanthi Wiwi Febriani Wuryaningsih Dwi Sayekti Yoga, M. Agung Prasetya Adnyana Yolanda, Jennifer Ester Yulita Yulita Zahra, Tsurayya Fathma Zefanya, Ezekial