Humor kerap menjadi medium bagi masyarakat untuk mengekspresikan keresahan. Dalam praktiknya, humor tidak jarang memanfaatkan kebohongan secara simbolik sebagai strategi komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menyingkap arti tanda dan simbol kritik politik yang muncul dalam pertunjukan Mens Rea (2025) karya Pandji Pragiwaksono 2025 melalui pendekatan semiotika Umberto Eco. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan analisis semiotika. Data penelitian dihimpun dengan teknik transkripsi data dan observasi melalui melalui teknik transkripsi dan observasi terhadap segmen audio pertunjukan Mens Rea yang mengandung unsur kebohongan simbolik, seperti ironi, hiperbola, dan permainan realitas. Analisis dilakukan dengan mengacu pada konsep semiotics of the lie untuk memahami bagaimana tanda-tanda humor diproduksi dan dimaknai dalam konteks sosial-politik Indonesia. Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kebohongan dalam humor Pandji tidak berfungsi sebagai bentuk penipuan, melainkan strategi retoris untuk menyampaikan kritik terhadap realitas ekonomi dan relasi kekuasaan. Tanda dan simbol yang digunakan tidak bekerja pada tataran literal, tetapi membuka ruang negosiasi makna antara komika dan audiens. Dengan demikian, humor dalam Mens Rea berfungsi sebagai medium kritik politik yang aman dan reflektif, sekaligus menegaskan peran humor sebagai teks semiotik yang mengandung niat dan strategi makna yang terselubung.