Articles
Resiliensi: Narasi melalui Ruang
Tiara Kartika Rini;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (476.361 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6524
Kelahiran dan kematian merupakan peristiwa alami yang dialami setiap makhluk hidup. Setiap adat dan keyakinan memiliki caranya sendiri dalam melaksanakan penghormatan terakhir kepada yang meninggal. Salah satunya upacara pembakaran mayat atau kremasi. Perubahan sosial dan budaya di masyarakat modern dengan pemikiran praktis orang modernis akan makin menipisnya lahan untuk pemakaman sampai kesulitan dalam membayar uang kavling pemakaman yang berdampak pada penggusuran melatarbelakangi pembangunan krematorium dewasa ini. Akan tetapi, tidak banyak perancang yang memahami peran krematorium tidak hanya untuk mewadahi sebuah kegiatan, lebih dari itu krematorium memliki peran yang kuat terhadap psikologis seseorang. Tidak sedikit kasus syok maupun trauma yang terjadi pada fasilitas umum ini. Pemilihan tema resiliensi diambil dari kamus psikologi, mengangkat bahwa sebenarnya arsitektur dapat berbicara lebih daripada kehadiran sebuah bangunan. Melalui tema ini, perancang bertujuan untuk membangkitkan psikologi pengunjung yang dituangkan ke dalam alur perjalanan seseorang ketika melaksanakan upacara kremasi
Arsitektur Nokturnal: Menghadirkan Ruang Gelap dalam Terang
Theodorus Mulyanandrio Wicaksono;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (475.273 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6740
Permasalahan intensitas cahaya lingkungan pada stasiun pengamatan antariksa menjadi isu yang sering dijumpai pada fasilitas penelitian ini. Penataan tata ruang yang tidak baik, semakin mendukung permasalahan tersebut. Selain itu, kebiasaan peneliti yang bekerja secara aktif di malam hari dan beristirahat di siang hari (nokturnal), menjadi satu pokok masalah yang unik untuk diangkat dalam penyelesaian desain. Terhadap permasalahan tersebut pendekatan tematik dengan metode metafora dipilih untuk menjawab permasalahan tersebut. Hasilnya ialah konsep desain yang kontradiktif dengan menghadirkan ruang gelap dalam terang. Konsep ini diwujudkan dengan pemanfaatan teknologi yang dapat mengatur kuantitas cahaya.
Superimposisi Tiga Pemaknaan Ruang Sebagai Pemicu Interaksi pada Ruang Publik
Arabela Grania Chaniago;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (990.729 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17861
Arsitektur pada hakikatnya selalu hadir karena adanya kebutuhan manusia yang lekat oleh fungsi waktu. Dengan demikian merupakan suatu hal yang umum jika ketika arsitektur tersebut tidak lagi berfungsi sesuai dengan kebutuhan pada zaman nya, arsitektur akan menghilang, digantikan dan membusuk seiring berjalanya waktu. Munculah pertanyaan besar manusia akan persepsi dari makna arsitektur bagi pengguna nya, selayaknya waktu, mungkinkah arsitektur abadi?. Untuk mencapai kualitas tersebut, Arsitektur sebagai variabel tempat hendaknya memberikan kesempatan pada user untuk berinterpretasi dan memberikan persepsi baru terhadap fungsi dan pengalaman arsitektur dalam suatu konteks. Pendekatan desain production of space oleh Henri Levebfre yang diarahkan kepada metoda desain superimposisi, menumpukkan ketiga layer dari pemahaman atau pemaknaan ruang oleh manusia [conceived, perceived, lived] akan mempengaruhi konsep desain sehingga ruang yang di produksi secara tiga dimensional dapat memicu interaksi
Konsep Defamiliarisasi pada Desain Museum Tambang Pasir Sungai Brantas
Septi Triana;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (590.852 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18945
Aktivitas penambangan pasir tradisional di Sungai Brantas telah menjadi bagian dari budaya yang dikenal oleh masyarakat sekitar. Meski sempat tergeser oleh adanya modernisasi peralatan penambangan pasir, teknik tradisional ini kembali digalakkan sebagai respon permasalahan hilangnya karakteristik kawasan tersebut akibat kegiatan penambangan pasir modern. Arsitektur merupakan cara untuk membentuk identitas pada suatu kawasan, salah satunya dengan menerapkan pendekatan Regionalisme Kritis yang mengacu pada masa depan perkembangan suatu kawasan. Hal-hal terkait dengan budaya tambang pasir yang telah ada dihidupkan kembali secara aktif dan dijadikan bagian dari kebudayaan universal dalam bentuk yang baru dan berbeda. Artikel ini bertujuan untuk menginterpretasi ulang nilai-nilai dalam proses penambangan pasir tradisional di Sungai Brantas. Metoda desain Precedent digunakan untuk memperoleh abstraksi dari nilai-nilai tersebut kemudian menerapkannya ke dalam obyek arsitektur. Perwujudkan konsep Defamiliarisasi telah mampu dihadirkan dalam tatanan massa dan pola sirkulasi dalam ruang pada obyek desain Museum Tambang Pasir.
Penerapan Metode Hybrid Architecture dalam Perancangan Pasar
Hugo Cantona;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (259.483 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19019
Eksistensi kaum marginal di perkotaan sering kali terabaikan sehingga kebutuhan dasar mereka cenderung dinomorduakan, padahal sebagian dari penduduk kota besar di Indonesia adalah kaum marginal. Salah satu kebutuhan tersebut adalah tempat tinggal dan tempat untuk bekerja setiap harinya. Untuk itu, diperlukan suatu sarana yang khusus dirancang dan diperuntukkan bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah dengan segala rutinitas keseharian dan aktivitas yang mereka miliki. Sebuah pasar tradisional dengan hunian bagi para penjual di dalamnya dirasa mampu merepresentasikan potrait kehidupan kaum marginal yang hidup di perkotaan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Selain itu, pengalihfungsian lahan menjadi pasar malam di lain waktu dirasa dapat menjadi salah satu solusi untuk memfasilitasi kebutuhan hiburan bagi masyarakat marginal yang tinggal di dalamnya. Dengan pendekatan perilaku, penerapan metode hibrid pada sirkulasi berbentuk ramps yang mengelilingi badan bangunan dan program ruang dalam sebuah perancangan pasar merupakan salah satu contoh sarana yang dapat memfasilitasi kebutuhan aktivitas sosial ekonomi masyarakat marginal yang hidup di dalamnya.
Arsitektur Titik Balik: Participatory Design dan Memori Kolektif
Mahdi Irfani Muhammad;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (405.005 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20784
Kenangan adalah ingatan yang akan menjadi cerminan manusia dalam menghadapi keadaan kedepannya. Sehingga, momen akan kenangan itu sendiri harus dibangkitkan. Arsitektur sebagai media membangkitkan momen tidak hanya sebatas intrusi ruang semata. Namun, juga mengajak pengguna dan penghuni untuk berpartisipasi dalam membangkitkan momen tersebut. Karena ruang bukanlah sesuatu yang statis melalui material yang disajikannya. Selama ini, kita tidak pernah menyadari bahwa arsitektur yang kita alami sehari-hari selalu menjadi bagian dari kenangan hidup kita. Dari permasalahan ini penulis menyadari perlu adanya sesuatu dari rancangan yang membuat user menyadari bahwa mereka sedang merakit kenangan mereka sendiri. Rancangan yang dapat disempurnakan oleh penggunanya, seperti baju jemuran yang menjadi elemen estetika, sirkulasi yang diberi pekerasan sendiri oleh penggunanya, dan material yang bersifat temporer yang diganti secara berkala, akan memberi kesadaran secara penuh kepada penggunanya bahwa mereka sedang merajut kenangan mereka terhadap tempat tinggal mereka.
Conflicting Factors in the Design of Naturally Ventilated Apartment in Warm Humid Tropics
Putri Melati Dewi;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (718.098 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i1.22619
One of the most effective strategies in designing a passive ventilation apartment in the warm humid tropical clime is to maximize airflow in a building. However designing such kind of apartment often contradicts with socio-economic aspects such as land usage, privacy and security. The reason for that is on one hand naturally ventilated apartment means maximizing openings as much as possible, on the other hand middle-upper income class people need high security and privacy. Method used for designing this apartment is Evidence Based Design, which makes use of current best evidence from research and precedent in the topic of thermal comfort and residential buildings. This passive design apartment seeks optimum solution to overcome contradictory aspects of thermal comfort and socio-economy, by integrating the main concept of maximizing airflow and maintaining privacy through architectural elements.
Mengaburkan Batas dan Orientasi dalam Susunan Program Ruang di KBRI Singapura
Hera Monica;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (651.555 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26336
Desain pada bangunan kedutaan memberikan sebuah perhatian kepada beberapa aspek, salah satunya adalah aspek keamanan. Dari sudut pandang arsitektur, keamanan sering kali direpresentasikan dalam wujud pengolahan batas. Batas tersebut menjadikan desain kedutaan mempunyai karakter desain yang khas. Namun desain khas yang mengamankan tersebut seringkali memudahkan orang dalam mengenal pola susunan tempat (mudah ditebak hierarkinya). Hal ini membuat pengamanan kasat mata maupun tidak kasat mata, harus ekstra keras dalam menjalankan tugas mereka untuk mengamankan kedutaan. Salah satu cara merancang desain kedutaan yang tetap memenuhi aspek keamanan adalah menghadirkan susunan bentuk acak dalam mengaburkan orientasi. Hal ini juga sejalan dengan representasi sebuah kedutaan Indonesia yang terkesan ramah terhadap negara lain. Maka diusulkan sebuah rancangan kedutaan berkonsep Chaos, dengan menggunakan metode Surrealist Devices sebagai parameter dalam mengacak. Rancangan kedutaan yang berada di Singapura tersebut, menghasilkan tiga massa yang terlihat menyatu. Pola bentuk pada bangunan maupun lanskapnya ditata distorsi, yang diharapkan mampu mendistraksi orang yang berada di sekitar kedutaan tersebut.
Pola Fraktal sebagai Pemberi Bentuk Arsitektur Apartemen yang Menenangkan
Sadida Aghnia;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1038.855 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.27312
Pertumbuhan penduduk secara terus menerus di kawasan perkotaan, menyebakan berbagai dampak pada masyarakat kota salah satunya adalah tingkat stress yang meningkat. Untuk menjawab permasalahan tersebut, desain ini bertujuan untuk penyembuhan khususnya tingkat stress manusia dimana apartemen sebagai objek eksplorasi dalam desain secara tidak sadar. Karena banyaknya hal yang dipikirkan manusa perkotaan juga keterbatasan waktu membuat otak secara sadar tak ingin diberi ruang untuk bekerja lebih lagi. Fraktal dengan rentang dimensi 1.3-1.5 digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara menerapkan pola tersebut pada ekplorasi bentuk dan tatanan. Eksplorasi tersebut dipengaruhi oleh penentuan posisi-posisi paling optimal dari parameter yang memiliki banyak irisan. Penerapan pola fraktal ini menghasilkan arsitektur apartemen yang terdiri dari dua tower yang membesar di sisi atas dan halaman ditengahnya, dimana memungkinkan manusia bisa berinteraksi dengan elemen arsitektur secara visual. Dengan adanya interaksi visual tersebut, manusia dapat merasa lebih tenang karena melihat sebuah pola yang konfigurasinya dapat menurunkan tingkat stress manusia.
Pengalaman Meruang di Kampung Kalimas dengan Konsep Inversi Museum
Hanum Soraya;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.27462
Kota Surabaya adalah kota metropolitan yang masih memiliki kampung-kampung padat di dalamnya dan kampung menjadi salah satu identitas dari Kota Surabaya. Banyak kampung yang sudah menjadi kampung wisata yang nyaman dikunjungi, namun masih banyak kampung-kampung yang menarik dan berpotensi yang belum menjadi kampung wisata.Salah satu kampung yang memiliki potensi untuk dijadikan kampung wisata ialah Kampung Kalimas di jalan Kalimas Timur yang merupakan perbatasan tiga daerah kota tua dan memiliki bangunan cagar budaya, yakni Menara Syahbandar yang dulunya dipakai untuk mengawasi kapal yang masuk lewat Kalimas.Kampung di Surabaya kebanyakan memiliki sifat yang ramah kepada wisatawan agar wisatawan merasa diterima dan nyaman berada di kampung tersebut, namun hal tersebut kurang nampak di kampung Kalimas ini, hospitalitas menjadi sebuah isu. Permasalahan desain yang dihadapi adalah bagaimana obyek arsitekur dapat dihadirkan di sebuah kampung yang padat dan tidak memunyai lahan kosong. Metode yang digunakan adalah metode untuk membuat Peta Nolli yakni perekaman jalan dan ruang publik dan Responses to Site- Contextualism oleh Kari Jormakka untuk menemukan bentuk kemudian diubah menjadi bentukan yang baru dengan karakteristik yang sama dengan kampung Konsep inversi dari museum membalikkan posisi kotak kaca yang biasanya digunakan untuk menyelubungi benda pameran sekarang digunakan untuk menyelubungi manusia agar kampung tersebut dapat dinikmati seperti museum raksasa.