Articles
HUBUNGAN ANTARA PERAWATAN KAKI DENGAN RISIKO ULKUS KAKI DIABETES DI RUANG RAWAT INAP RSU KABUPATEN TANGERANG
Imas Yoyoh;
Imam Mutaqqijn;
Nurjanah nurjanah
Jurnal JKFT Vol 1, No 2 (2016): Jurnal JKFT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31000/jkft.v2i2.14
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronik yang terus menerus mengalami peningkatan jumlah yang signifikan dari tahun ke tahun. Komplikasi jangka panjang dari DM baik mikrovaskular dan makrovaskular dapat menyebabkan insufiensi aliran darah ke tungkai, yang dapat berujung pada infeksi, ulkus dan berakhir pada amputasi. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan perawatan kaki dengan risiko ulkus kaki diabetes di Ruang Rawat Inap RSU Kabupaten Tangerang. Desain penelitian ini adalah analitik korelasi dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional dengan jumlah sampel 54 responden, pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tentang perawatan kaki dan lembar observasi tentang risiko ulkus kaki diabetes. Uji analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian sebanyak 54 responden didapatkan data kategori perawatan kaki baik dengan risiko ulkus rendah sebanyak 14 responden (58,3%). Sedangkan kategori perawatan kaki kurang baik dengan risiko ulkus tinggi sebanyak 21 responden (70,0%). Hasil analisis diperoleh nilai OR = 3,267 artinya perawatan kaki yang kurang baik mempunyai peluang 3,267 kali untuk risiko tinggi ulkus. Hasil uji statistik menggunakan Chi-Square diperoleh p=0,036 dimana nilai p-value < 0,05, maka Ho ditolak artinya terdapat hubungan antara perawatan kaki dengan risiko ulkus kaki diabetes di Ruang Rawat Inap RSU Kabupaten Tangerang. Pasien DM dengan perawatan kaki yang kurang baik berpeluang untuk terjadinya risiko ulkus tinggi dibandingkan dengan pasien DM yang perawatan kakinya baik.
PENGARUH POLITICAL MARKETING MIX TERHADAP KEPUTUSAN MEMILIH PARTAI GERINDRA DI KOTA SEMARANG
Zulkifli -;
Joko Santoso
Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Vol 1 (2018): Volume 1 Tahun 2018
Publisher : KH. A. Wahab Hasbullah University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This study aimed to analyze the effect of the marketing mix (marketing mix) against the decision of choosing the party Gerindra in Semarang. This study uses as many as 108 respondents. Methods of analysis of this study using multiple linear regression, test the accuracy of measuring instruments used to test the validity, whereas to measure the extent to which the results of a measurement can be trusted, used the reliability test. In the classic assumption test, regression model multicoloniarity free, does not occur heteroskedastisitas, berditribusi normal and free from autocorrelation. Diproleh research results that the marketing mix (marketing mix) Positive Impact on the decision to choose, other results showed that the most influential variable in this study is the promotion while the most influential variable is the people. Keywords: Marketing Mix, Decision Choosing.
A Literature Review: Strategy Design of Transition Space Using Wind Potential
Andyka Dwi Acsazha;
I Gusti Ngurah Antaryama;
Vincentius Totok Noerwasito
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (621.715 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.49657
Transition space is a link between one space and another space where this space has a function of adaptation to changing conditions from the previous space to the next space, this study discusses some transition space design strategies in building skyscrapers and groundscrapers by utilizing wind potential through usable design building elements. By implementing a transitional space strategy in building skyscrapers or groundscrapers where buildings can adapt energy-efficient buildings. Energy savings can be applied through available natural elements, one of which is wind potential. This research phase requires literature review and transitional space theory to translate the role of transition space in buildings to achieve energy-efficient buildings by utilizing wind. The case study will provide a direct example of the building of transitional space functions to anticipate the wind. The results of this study will provide a transitional space design strategy through architectural passive elements that respond to wind so as to provide comfort for building users using natural ventilation so that energy use is more efficient.
Keatraktifan Galeri Seni di Kawasan Cagar Budaya Surabaya
Rizvanda Ryan Savero;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Sains dan Seni ITS (ISSN 2301-928X)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (687.094 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v1i1.1330
Galeri seni yang ada di Surabaya saat ini merupakan sebuah tempat yang digunakan untuk memamerkan karya-karya seni. Sayangnya, desain dari galeri yang ada cenderung kurang memperhatikan desain eksterior bangunan serta kualitas ruang yang dapat mendukung aktivitas dalam galeri itu sendiri. Padahal galeri seni juga harus bisa membuat pengunjung dapat menikmati dan merasakan keindahan karya seni, tidak hanya sekedar melihat karya didalamnya saja. Desain eksterior yang menarik dan kualitas desain ruang dalam yang baiklah yang dapat membuat pengunjung merasakan atmosfer galeri seni. Terlebih kesan atraktif dan tampil beda dalam desain galeri ini sehingga dapat menimbulkan daya tarik yang kuat terhadap penikmat dan pengunjung galeri. Galeri ini bertujuan sebagai tempat interaksi yang edukatif dan rekreatif agar dapat meningkatkan minat pengunjung dalam mengapresiasi seni.
Fungsional Versus Estetika: Inkubasi dalam Rancangan TPA
Yusuf Ariyanto;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Sains dan Seni ITS (ISSN 2301-928X)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2538.359 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v1i1.1335
Pertentangan fungsionalitas dan estetika sebuah bangunan TPA berasal dari penanganan sampah menjadi satu hal yang sangat perlu diperhatikan dalam pengelolaan kota, dengan kata lain sampah adalah bagian dari kota. Terkait hal tersebut, maka TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) memiliki peran aktif dalam mengatasinya, demikian dengan keberadaan lokasi TPA Benowo yang terletak dikawasan SSC (Surabaya Sport Center). Permasalahan yang timbul dari pertentangan antara fungsionalitas dan estetika dalam rancangan ini adalah bagaimana korelasi rancangan tempat pembuangan dengan tempat kunjungan edukasi dan kawasan ikon Surabaya dengan nilai estetika area SSC yang menurun akibat dari adanya kawasan pembuangan sampah tersebut. Perancangan ini memiliki tujuan dapat melahirkan gagasan untuk mewujudkan TPA (Tempat Pengolahan Sampah Akhir) Benowo tidak hanya sebagai tempat penampungan dan pengolahan sampah sebagai unsur fungsional, tetapi merupakan obyek rancang yang menampilkan keindahan rupa bangunan dengan detail utilitas dari unsur fungsionalitas tersebut serta menjadi bagian dari kawasan ikon Surabaya yaitu SSC. Ekspresi arsitektur yang menampakkan sisi fungsional bangunan, yaitu elemen utilitas bangunan dan elemen struktur sebagai unsur estetika.
Meng-‘abadi’-kan Arsitektur dalam Rancangan Gedung Konser Musik Klasik Surabaya
Fanny Florencia Cussoy;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Sains dan Seni ITS (ISSN 2301-928X)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1083.732 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v1i1.1337
Abadi dapat didefinisikan sebagai keadaan yang tak lekang oleh waktu dan tidak berubah. Keadaan yang tidak terpengaruh oleh waktu tersebut berusaha direpresentasikan dalam rancangan Gedung Konser Musik Klasik Surabaya melalui berbagai aspek arsitektural, sehingga objek rancang dapat hadir sebagai sesuatu yang ’abadi’. Konteks lingkungan yang berada di area cagar budaya menjadi tantangan tersendiri dalam proses merancang, terutama dalam hal menghilangkan keterikatan objek terhadap waktu pada sebuah area yang sangat terikat terhadap zaman perkembangannya. Area cagar budaya memiliki keterikatan yang sangat jelas terhadap waktu, terutama berkaitan dengan aspek kesejarahannya, sehingga untuk menghadirkan objek yang ’abadi’, perancang harus mempertimbangkan setiap keputusan desain agar tetap menghormati konteks lingkungan di mana ia berada dan di saat yang sama tetap merepresentasikan keabadian yang menjadi tema rancangan.
Struktur Arsitektur dalam Objek Rancang Pusat Komunitas Berperilaku Hijau Surabaya
Faranita Dwi Hapsari;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (881.147 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3410
Struktur merupakan unsur yang sangat penting dan harus diperhatikan dalam merancang sebuah arsitektur. Dengan struktur sebuah bangunan dapat dinilai kekohonnya. Struktur bukanlah sebuah pelengkap perancangan, namunseharusnya juga menjadi konsep utama dalam mewujudkan sebuah bentukan / wujud arsitektur. Struktur juga bisa menjadi unsur estetika sebuah bangunan. Pada Objek Pusat Komunitas Berperilaku Hijau Surabaya pengaplikasian struktur menjadi hal pokok dalam perancangan bangunan. Struktur yang digunakan pada objek rancang tidak hanya menjadi sebuah bagian demi menunjang kekokohan bangunan, namun juga menjadi unsur pembentuk estetika bangunan. Sistem struktur ruangmembantu tiap level bangunan untuk mengatasi permasalahan strukturnya sendiri, dibantu dengan kordan kolom untuk menopangnya. Hal itu demi mewujudkan konsep bangunan melayang pada objek rancang.
Penerapan Prinsip Adaptasi pada Desain Bangunan Ekowisata di Lahan Konservasi Mangrove Wonorejo
Rizky Rachmadanti;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1576.362 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3438
Keseimbangan ekologi lingkungan perairan pantai akan tetap terjaga apabila keberadaan mangrove dipertahankan. Oleh karena itu, keberadaan ekowisata mangrove di kawasan konservasi harusnya bisa menjadi wadah yang menyediakan informasi yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian, konservasi, dan penelitian mengenai ekosistem mangrove yang memanfaatkan mangrove menjadi daerah wisata alami tanpa melakukan gangguan signifikan terhadap keberadaan mangrove itu sendiri. Adaptasi merupakan cara organisme beradaptasi terhadap lingkungannya dengan mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti suhu, cahaya, panas, sehingga mudah merespon perubahan yang terjadi di lingkungannya. Dengan mengangkat tema adaptatif, bunglon dianalogikan sebagai hewan yang memiliki sifat adaptatif, prinsip adaptatif pada bunglon inilah yang akan diterapkan dalam perancangan ekowisata mangrove. Dengan prinsip adaptatif bangunan ekowisata mangrove wonorejo bisa menjadi contoh bangunan ekowisata diatas lahan konservasi yang dapat menjalankan fungsinya tanpa harus banyak merusak ekosistem itu sendiri karena sifatnya yang mampu beradaptasi baik terhadap lingkungan, ekosistem, maupun perubahan kondisi alam.
Keselarasan Ruang Luar dan Ruang dalam pada Perancangan Pusat Budaya Bali
Sofian Deo Ananto;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (997.637 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3586
Arsitektur tradisional Bali mengenal tipologi bangunan bale yang berupa naungan dan keberadaan natah yang berupa ruang terbuka sebagai pusat orientasi dalam arsitektur tradisional Bali. Kedua elemen arsitektur ini menghasilkan kesan ambigu antara ruang dalam dan ruang luar di dalam rumah tradisional Bali. Dua elemen arsitektur ini juga menjadi ciri khas arsitektur Bali. Dalam perancangan arsitektur Bali yang mengkini maka diperlukan eksplorasi yang lebih dalam tentang hal-hal yang menjadi ciri khas arsitektur Bali diantaranya adalah keberadaan natah dan bale yang menghasilkan ambiguitas ruang luar dan dalam. Kenangan pengalaman ruang di dalam arsitektur tradisional Bali dapat dihadirkan kembali di dalam arsitektur Bali kontemporer dengan menggali kembali kebudayaan yang berkembang dengan tetap berakar pada kebudayaan tradisional Bali. Natah dan Bale di dalam arsitektur tradisional Bali dapat diinterpretasikan dalam bentuk yang berbeda tetapi dengan pengalaman ruang yang hampir sama. Diharapkan dengan proses merancang yang mengadopsi pengalaman ruang arsitektur tradisional Bali ini akan dihasilkan arsitektur yang dapat memberi suasana selaras antara ruang luar dan ruang dalam bangunan sama seperti pengalaman ruang yang dirasakan pada arsitektur tradisional Bali.
Penjelajahan Ruang dalam Space Frame Raksasa
Emiria Krisanda;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2525.49 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6523
Space frame merupakan aplikasi dari sistem struktur rangka batang, dimana rangka batang merupakan struktur yang rigid dalam menerima gaya eksternal. Pada umumnya, space frame hanya digunakan sebagai rangka atap atau pengaku bentang lebar. Dalam obyek rancang ini, space frame diaplikasikan sebagai struktur utama bangunan hotel berkategori middle rise building dengan ketinggian 9 lantai. Kekhasan dari obyek rancang ini adalah ruang-ruang yang terbentuk di antara batang space frame dipertegas menjadi sebuah ruangan tertutup yang fungsional, sehingga space frame menjadi berukuran raksasa karena terdapat standar aktivitas di dalamnya. Hal ini berdampak pada impresi dan pengalaman yang dirasakan oleh pengamat