Claim Missing Document
Check
Articles

Jenis dan Fungsi Oles pada Etnik Batak Pakpak : Kajian Kearifan Lokal Toruan, Khaterine A. Lumban; Sibarani, Robert; Sinulingga, Jekmen; Tampubolon, Flansius; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan jenis-jenis oles dan kearifan lokal yang terdapat pada setiap oles etnik Batak Pakpak. Teori yang digunakan adalah teori kearifan lokal oleh Robert Sibarani. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan model interaktif. Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat 7 jenis oles pada etnik Batak Pakpak, yakni Oles Perdabaitak, Oles Sorisori Sampur, Oles Pelangpelang, Oles Takaltakal, Oles Perbunga Mbacang, Oles Cumancuman, Oles Sidosdos. Fungsi yang terdapat dalam oles etnik Batak Pakpak antara lain ialah (1).Oles Perdabaitak berfungsi sebagai pemberian berkat dalam bentuk “upah puhun” pada upacara adat merbayo “pernikahan” dan sebagai ucapan terima kasih pada upacara adat males bulung sampula , (2) Oles Sorisori Sampur berfungsi sebagai ucapan terima kasih dalam bentuk “kaing siso siat” pada upacara merbayo “pernikahan” dan sebagai pemberian berkat pada upacara mengrumbang, (3) Oles Pelangpelang berfungsi sebagai pemberian dan ucapan terima kasih dalam bentuk upah turang “ saudara laki-laki perempuan” pada upacara merbayo “pernikahan”, dan ucapan terima kasih dalam bentuk penelangken mbellen “saudara perempuan tertua dari ayah” pada upacara merbayo “pernikahan”, (4). Oles Takaltakal berfungsi sebagai pemberian mas kawin dalam bentuk takal ujuken “pemberian kepada pihak perempuan” pada upacara merbayo “pernikahan”, (5). Oles Perbunga Mbacang berfungsi sebagai ucapan terima kasih dalam bentuk upah mendedah “saudara perempuan dari ayah” pada upacara merbayo “pernikahan”, (6). Oles Cumancuman berfungsi sebagai tanda perpisahan dalam bentuk upah anak manjae pada upacara merbayo “pernikahan”, (7). Oles Sidosdos pemberian berkat dalam bentuk upah empung pada upacara merbayo “pernikahan”. Nilai-nilai Kearifan lokal yang terdapat pada Oles etnik Batak Pakpak ialah kerja keras, kesehatan, amanah, dan rasa syukur.
Gaya Bahasa Pada Umpasa Marhata Sinamot Etnik Batak Toba: Kajian Stilistika Togatorop, Julhayati; Purba, Asriaty; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Gaya Bahasa Pada Umpasa Mahata Sinamot Etnik Batak Toba: Kajian Stilistika. Umpasa adalah salah satu jenis yang berbentuk pantun atau syair yang mengandung makna seperti makna restu, harapan, doa ataupun nasehat yang dimiliki etnik Batak Toba dan dituturkan di upacara adat Batak Toba dan disampaikan oleh raja parhata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa atau majas pada umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba. Teori majas sesuai untuk penelitian ini adalah teori Stilistika oleh henry Guntur Tarigan 2013. Penelitian ini menggunakan adalah metode kualitatif bersifat deskriptif. Sumber data dalam adalah studi pustaka dan narasumber/raja parhata dalam upacara marhata sinamot. Dari penelitian ini hasil yang diperoleh adalah: Pada umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba ialah: 1). Gaya bahasa pengulangan terdapat 4 jenis yaitu Asonansi, Mesodilopsis, Antanaklasis, anafora. 2). Gaya bahasa perbandingan terdapat 4 jenis yaitu: Perumpamaan, defersonifiksi, pleonasme, perifeasis. 3). Gaya bahasa pertentangan terdapat 4 jenis yaitu: oksimoron, ironi, inuendo, sarkasme. 4). Gaya bahasa pertautan terdapat 2 jenis yaitu: metonimia dan antonomasia. Makna dari umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba adalah berupa ungkapan pengharapan, nasehat, dan penderitaan pada setiap kalimat umpasa marhata sinamot upacara adat etnik Batak Toba.
Ornamen Makam Raja Sidabutar : Kajian Semiotika Panjaitan, Novita Marlina; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Siahaan, Jamorlan; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makam adalah tempat peristirahatan terakhir seseorang yang sudah meninggal dunia. Salah satunya makam Raja Sidabutar yang merupakan makam tertua di Tomok, raja Sidabutar ini adalah orang yang pertama berada di Tomok dan memiliki banyak sejarah kehidupan raja-raja Sidabutar yang dikenal dengan kesaktiannya. Raja Sidabutar ini sebelum meninggal mereka sudah mempersiapkan makam nya. Makam raja Sidabutar ini dibuat dari batu alam yang diukir berbentuk kepala yang ukiran dipahat oleh tangan (gorga) yang menjadi simbol spiritual orang Batak Toba dengan tiga warna yaitu: merah artinya keberanian, putih artinya kesucian, hitam artinya kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk simbol yang ditemukan dalam makam Raja Sidabutar, mendeskripsikan fungsi dan makna simbol yang terdapat pada makam Raja Sidabutar. Teori yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian ini merupakan teori semiotik yaitu simbol yang dikemukakan oleh Peirce dan makna yang dikemukan oleh Ogden dan Richard. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol yang terdapat pada makam Raja Sidabutar memiliki 13 bentuk Simbol, fungsi simbol dan makna simbol yang meliputi simbol peralatan, simbol mantra. Makam Raja Sidabutar memiliki 10 jenis simbol peralatan antara lain : Ulos, Pintu masuk makam Raja Sidabutar, cicak "Boras Pati", payudara "Odap-odap", makam Raja Sidabutar (Ompu Soribuntu Sidabutar), makam Raja Sojoloan Sidabutar (Ompu Na Ibatu), anting malela boru Sinaga, rambut panjang "Simba", Dalihan Na Tolu, bendera Batak Toba.1 jenis simbol mantra yaitu : bunga dan air. 3 jenis simbol peralatan antara lain : panglima Tengku Muhammad Said, makam Ompu Solompoan Sidabutar, pintu keluar makam Raja Sidabutar. Setiap simbol memiliki fungsi dan makna yang tertentu terhadap makam Raja Sidabutar. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa makam Raja Sidabutar masih memiliki tradisi yang hingga saat ini dilakukan dan dilaksanakan. Sehingga peninggalan sejarah raja Sidabutar tidak hilang dan masih memiliki simbol dan fungsi serta makna yang terdapat pada makam Raja Sidabutar.
Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja: Kajian Psikologi Sastra Simanjutak, Sadrak; Tampubolon, Flansius; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah unsur-unsur intrinsik dan aspek psikologi tokoh yaitu: id, ego, dan superego, pada tokoh Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengguanakan teori kepribadian psikoanalisis Sigmund Freud. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan, yakni: 1. Unsur intrinsik pada Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja: tema, alur, latar/setting, perwatakan, sudut pandang, dan amanat. 2. Selain itu, penelitian juga menghasilkan struktur kepribadian id, ego, dan superego, yang terdapat pada tokoh Raja Sumba, Sorbadibanua, Raja Sobu, Naipospos, dan Siboru Pareme, dalam Legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja. Dalam legenda Raja Sumba di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja ada tokoh Raja Sumba yang menunjukkan kepribadian id, ego, superego. Peran id yang mengepresikan keinginan dan kebutuhan yang mendalam, ego menunjukkan kemampuan untuk berpikir realistis dan dapat di terima secara sosial, dan superego bagian moral dan kepribadian yang mewakili nilai-nilai atau aturan sosial yang di tanamkan melalui pendidikan, lingkungan dan budaya. Superego bekerja sebagai suara hati yang menilai apakah tindakan itu benar.
Ndilo Wari Udan Pada Etnik Batak Karo Kajian : Semiotika Sosial Gultom, Frendy Hendrico; Sinaga, Warisman; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Ndilo Wari Udan pada Etnik Batak Karo Kajian : Semiotika Sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja bentuk symbol, fungsi simbol dan makna simbol yang terdapat pada Ndilo Wari Udan etnik Batak Karo. Ndilo Wari Udan adalah salah satu istilah dalam budaya etnik Batak Karo yang berkaitan dengan tradisi atau kepercayaan masyarakat setempat. Secara harfiah, istilah ini terdiri dari kata "Ndilo" yang berarti "mengundang" atau "memanggil", "Wari" yang artinya "hari", dan "Udan" yang berarti "hujan". Jika digabungkan, Ndilo Wari Udan dapat diartikan sebagai memanggil hujan pada hari tertentu, kegiatan ini dilaksanakan ketika musim kemarau panjang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori semiotika sosial yang dikemukakan oleh Haliday. Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan sebanyak 20 bentuk simbol, simbol peralatan sebanyak 8 bentuk dan simbol makanan ada sebanyak 12 bentuk simbol.
Panaek Bungkulan Pada Etnik Batak Angkola/Mandailing: Kajian Kearifan Lokal Gultom, Pelix Gabriel; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul “Panaek Bungkulan Pada Etnik Batak Angkola/Mandailing: Kajian Kearifan Lokal”. Adapun tujuan dari artikel ini adalah untuk mendeskripsikan tahapan pada panaek bungkulan, dan mendeskripsikan nilai kearifan lokal pada panaek bungkulan. Dalam penulisan artikel ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam artikel ini adalah teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan panaek bungkulan yang dimulai dari musyawarah kaum kerabat, megundang pihak dalihan natolu(pihak mora,kahanggi an boru),peletakan batu pertama,mengoleskan santan ke bubungan kayu, membungkus bubungan kayu dengan ulos abit godang, menaikkan bubungan kayu, menaikkan pisang, menaikkan tebu, menaikkan kelapa, menaikkan kundur, menanam pohon pisang, dan makan bersama. Dan terdapat 11 nilai kearifan lokal pada panaek bungkulan yaitu kesopansantunan, kesetiakawanan sosial, komitmen, rasa syukur, kerja keras, disiplin, pelestarian dan kreativitas budaya, dan peduli lingkungan.
Deskripsi Sistem Kekerabatan dan Sapaan Pada Etnik Batak Simalungun Sihotang, Kristina; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul " Deskripsi Sistem Kekerabatan dan Sapaan Pada Etnik Batak Simalungun’’. Penelitian ini tertuju pada kerabatan dalaman bentuk sistem kekerabatan dan sapaan, fungsi sistem kekerabatan, dan sapaan, dan makna sistem kekerabatan dan sapaan pada etnik Batak Simalungun. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori sosiolinguistik dari Abdul Chaer dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk sistem kekerabtan pada etnik Batak Simalungun terjadi karena tiga jalur, yakni : (1) tuturan manorus ‘langsung’ (2) tuturan holmouan ‘kelompok’ (3) tuturan natipak ‘kehormatan’. Bentuk sapaan pada etnik Batak simalungun ada 6, yaitu (1) bentuk sapaan dalam hubungan kekerabatan, (2) bentuk sapaan kepada orang yang lebih tua di luar hubungan kerabat, (3) bentuk sapaan sebaya di luar hubungan kerabat, (4) bentuk sapaan kepada orang yang lebih muda, (5) bentuk sapaan kata ganti, dan (6) bentuk sapaan nama marga. Fungsi sistem kekerabatan pada etnik Batak Simalungun, yakni: (1) menentukan peran sosial dan status, (2) regulasi pernikahan dan keluarga, (3) warisan dan keturunan, (4) hubungan sosial, dan (5) identitas budaya. Fungsi sapaan pada etnik Batak Simalungun ada 5, yaitu: (1) memberi perhatian lawan bicara, (2) mempersantun bahasa (3) mempertegas lawan bicara (4) menambah keakraban, dan (5) mempertegas identitas. Makna dari sistem kekerabatan pada etnik Batak Simalungun adalah sebagai landasan utama yang mengatur hubungan sosial, identitas, dan peran individu dalam masyarakat. Makna sapaan pada etnik Batak Simalungun ada 5, yaitu: (1)penegasan hierarki sosial, (2) penghormatan kekerabatan, (3) penerapan etika dan adat, (4) penyesuaian dengan konteks sosial, dan (5) makna budaya dan simbolis.
Psikosastra Legenda Pangulu Balang Pada Masyarakat Batak Toba di Desa Huta Godang Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara Tambunan, Wati; Damanik, Ramlan; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Legenda yang ada di Desa Huta Godang, Kecamatan. Muara, Kabupaten. Tapanuli Utara. Pendeskripsian legenda Pangulu Balang dengan menggunakan kajian psikosastra berdasarkan teori Sigmund Freud. Adapun unsur intrinsik yang di dapat dari legenda ini adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang, dan amanat serta id, ego, superego. Serta keperibadian tokoh yaitu, empati, emosional, bersifat keras, tidak tenang, suka menolong, pantang menyerah, ingatan baik, teliti, muda mengerti, dan lain sebagainya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini tentang sejarah Legenda Pangulu Balang dalam masyarakat. Dalam legenda maupun dalam masyarakat masing-masing memiliki struktur yang menjaga sistem yang selalu seimbang untuk menjaga untuk menjaga kenyamanan masyarakat. Legenda ini menceritakan sebuah patung Pangulu Balang yang merupan sebuah patung penjaga kampung dan antar marga, demi kenyamana masyarakata yang ada di kampung tersebut patung ini menjadi penolong bagi masyarakat yang ada di Desa Huta Godang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Legenda Pangulu Balang juga memberikan nilai yang positif bagi masyarakat serta mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan segala hal didalam kampung tersebut.
Legenda Danau Sidihoni Etnik Batak Toba : Kajian Psikologi Sastra Sibarani, Tidora Putri; Simamora, Devina C; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji legenda Danau Sidihoni yang terletak di Desa Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Danau Sidihoni merupakan salah satu danau vulkanik yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Batak Toba. Menurut legenda yang berkembang, danau ini terbentuk dari air mata seorang putri bernama Siti Honi yang menangis karena ditinggal mati kekasihnya. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Danau Sidihoni mengandung nilai-nilai moral yang fundamental dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, meliputi: (1) kesetiaan dalam percintaan, (2) kekuatan pengorbanan, (3) harmonisasi hubungan manusia dengan alam, dan (4) penghormatan terhadap leluhur. Legenda ini juga memiliki fungsi sosial sebagai: (1) media pewarisan nilai-nilai budaya, (2) penguat identitas kultural, (3) sarana pendidikan karakter, dan (4) daya tarik wisata budaya. Dampak keberadaan legenda ini bagi masyarakat teridentifikasi dalam beberapa aspek: (1) aspek sosial-budaya berupa penguatan kohesi sosial dan pelestarian tradisi, (2) aspek ekonomi melalui pengembangan pariwisata, (3) aspek lingkungan berupa kesadaran pelestarian alam, dan (4) aspek pendidikan sebagai sumber pembelajaran nilai-nilai moral. Tantangan yang dihadapi dalam pelestarian legenda ini meliputi modernisasi, perubahan pola pikir masyarakat, dan kebutuhan keseimbangan antara pengembangan wisata dengan pelestarian nilai budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa legenda Danau Sidihoni merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai penting dalam membentuk karakter dan identitas masyarakat Batak Toba. Diperlukan upaya pelestarian yang berkelanjutan melalui kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam legenda ini.
Analisis Tokoh dalam Cerita Batu Umang Etnik Batak Karo Karya Ikwanuddin Nasution Kajian Psikosastra Hutauruk, Febri Ola; Purba, Roma Hotni Uhur; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian psikologi sastra terhadap buku yang berjudul Batu Umang karya Ikwanuddin Nasution. Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis unsur-unsur intrinsik dan mendeskripsikan aspek id, ego, superego serta menganalisis nilai-nilai sosial masyarakat pada cerita Batu Umang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan hasil analisis data dengan cara studi pustaka. Penelitian ini menggunakan teori psikologi sastra struktur kepribadian Sigmund Freud. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa cerita Batu Umang menceritakan tentang makhluk gaib yang berada di Desa Durian tani. Oleh Sebab itu Penelitian ini dapat membantu dan memahami serta memperkaya nilai-nilai sosial masyarakat hingga pengkajian unsur intrinsik dan id, ego, superego dalam cerita Batu Umang.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R. Purba Asriaty R. Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Damanik, Ramlan Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Manurung, Yohana Afriani Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Asriaty Purba, Asriaty R Purba, Asriaty R. Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur r purba, asriaty Rachel, Hilda Aura Safitri Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Sibarani, Tomson Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Nada Christin Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinaga, Warisman Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Rahel Theresia Rodame Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Flansius Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tifany Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga