Claim Missing Document
Check
Articles

Paebathon Pahompu Pada Etnik Batak Toba: Kajian Tradisi Lisan Pasaribu, Friska Yulianti; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Paebathon Pahompu Pada Etnik Batak Toba : Kajian Tradisi Lisan”. Paebathon pahompu merupakan sebagian dari tradisi yang ada di masyarakat Batak Toba. Kegiatan ini merupakan memperkenalkan atau mendekatkan diri kepada keluarga dan kerabat dari pihak keluarga ibu. Penelitian ini tertuju pada performansi, teks, ko-teks, dan konteks dalam paebathon pahompu, nilai yang ada dalam tradisi lisan paebathon pahompu, beserta norma yang terdapat pada tradisi lisan paebathon pahompu. Teori yang diterapkan guna menganalisis data dalam penelitian ini mengacu pada teori tradisi lisan yang diajukan melalui Robert Sibarani, berdasarkan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini meliputi : performansi terdiri dari 3, yakni (1). teks yaitu teks verbal dan teks non-verbal pada paebathon pahompu, (2). Ko-teks dalam paebathon pahompu terdapat 4 unsur ko-teks, yaitu unsur paralinguistik, unsur kinetik, unsur proksemik, dan unsur material, dan (3) konteks yaitu konteks sosial budaya, konteks situasi, dan konteks ideologi yang terdapat pada paebathon pahompu. Terdapat 7 nilai dalam tradisi lisan paebathon pahompu yaitu : (1) nilai kejujuran, (2) nilai kesetiakawanan sosial, (3) nilai komitmen, (4) nilai pikiran positif, (5) nilai kerja keras, ( 6) nilai disiplin, dan (7) nilai gotong royong. Norma dalam tradisi lisan paebathon pahompu terdapat 5, yaitu: (1) norma penghormatan, (2) norma kesopansantunan, (3) norma kewajiban, (4) norma pendidikan dan, (5) norma pewarisan adat.
Bentuk Lokusi Pada Film Nariti Romansa Danau Toba Karya Deden Bagaskara Sirait, Yuyun Efraim; Purba, Asriaty R; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul “Lokusi Dan Fungsi Pada Film Nariti Romansa Danau Toba Karya Deden Bagaskara”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk tindak tutur lokusi dan mendeskripsikan fungsi tindak tutur pada film Nariti Romansa Danau Toba karya Deden Bagaskara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik yang dikemukakan oleh Searle. Dalam film Nariti Romansa Danau Toba karya Deden Bagaskara, film yang berkisah tentang seorang gadis yang bernama Nariti dan berasal dari pesisir Danau Toba. Pada awalnya ada dua pria yang bersaing mendapatkan hati Nariti, namun Nariti lebih menjatuhkan hatinya kepada pemuda yang bernama Jefry. Namun, hubungan mereka tidak direstui oleh salah satu orangtua dari kedua belah pihak, karena pihak orangtua gadis tidak suka dengan latar belakang orangtua dari pihak pemuda dan tidak hanya itu, Jefry dan Nariti masih memiliki hubungan sedarah atau mereka masih saudara kandung. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, terdapat bentuk tindak tutur lokusi sebanyak dua puluh empat (24) teks.
Sapo Adat Jojong Sipitu Ethnic Pakpak Semiotic Study Jekmen Sinulingga; Manro Berutu
International Journal of Law Analytics Vol. 2 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : MultiTech Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59890/ijla.v2i1.1452

Abstract

This title "Sapo Adat Jojong Sipitu Ethnic Pakpak Semiotic Study". Tree from study focuses on Sapo Adat Jojong Si Pitu, with use theory semiotics by Charles Pierce. Study This use method study qualitative, that is something procedure research that produces descriptive data in the form of words, pictures, and not figures , of people or behavior that can observed . Research result This found 23 symbols found in the Sapo Adat Jojong Sipitu among them namely: Jojong Marcaban, Jojong Mbinangun, Gerga Parsulimbat and so on. Every symbol own its function and meaning separately, for example Gerga Perhembun Kumeke own function as ward off aji-aji and its meaning that is protector.
Gorga Carving Art is A Creative Product of Economic Value to Increase Youth Production in Pansur Napitu Village, Siatas Barita District, North Tapanuli Regency Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen
Journal of Community Research and Service Vol. 8 No. 1: January 2024
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jcrs.v8i1.50871

Abstract

This dedication aims to overcome the decline in youth's interest and understanding of gorga carving in Pansur Napitu Village and develop the economic potential of traditional art. This decline in interest is due to a lack of knowledge, skills, and understanding of the economic value of gorga carving. This proposal will actively engage youth through training and empowerment programs. Training will focus on an introduction to gorga carving, carving techniques, and the application of creative design. Youth will be given knowledge about cultural values, history, and the importance of preserving the art of gorga carving. In addition, youth will be trained in aspects of product development and marketing. They will be taught about the use of quality materials, the development of attractive designs, and effective marketing strategies. With this understanding, the youth in Pansur Napitu Village will be able to produce gorga carving products that have high economic value. In implementing the program, cooperation with local governments, cultural institutions, and creative industry players will be a key factor. Support and synergy with related parties will facilitate access to resources, market opportunities, and networks that can support the development of gorga carving products, Program evaluation and monitoring will be carried out regularly to measure the success and impact that has been achieved. With effective training and empowerment, it is expected that the youth's interest in gorga carving will increase, their skills will be improved, and creative products of economic value will be produced, thus having a positive impact on the youth and the Pansur Napitu Village community.
Nilai Kedamaian Dan Kesejahteraan Pada Makna Gerga Yang Terdapat Dalam Rumah Adat Siwaluh Jabu Etnik Batak Karo: Kajian Kearifan Lokal sinulingga, jekmen; Siahaan, Wahyu Satria Boy; Panjaitan, Santi Monica Entelina; Tarigan, sarah nathasia; Silaban, Immanuel
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i1.6423

Abstract

Penelitian ini membahas nilai-nilai kedamaian dan kesejahteraan yang tercermin dalam makna gerga yang terdapat pada rumah adat Siwaluh Jabu, yang dimilik masyarakat etnik Batak Karo. Rumah adat ini bukan hanya sekadar tempat tinggal, melainkan juga simbol kearifan lokal yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk mengungkap makna simbolis dan filosofi gerga dalam tradisi masyarakat Karo.Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerga mengandung pesan moral yang kuat mengenai solidaritas, gotong royong, dan keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut mencerminkan upaya menciptakan kedamaian dalam hubungan antarmanusia serta kesejahteraan melalui kebersamaan. Selain itu, rumah adat Siwaluh Jabu merepresentasikan kearifan lokal yang mampu menjadi inspirasi dalam membangun harmoni di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks.Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian budaya lokal serta menjadi referensi dalam upaya mengintegrasikan nilai-nilai tradisional ke dalam kehidupan masyarakat saat ini.
TAMBAR 'KUNING' SEBAGAI REPRESENTASI EKOLOGIS DALAM BUDAYA BATAK KARO: KAJIAN EKOLINGUISTIK Br Karo Sekali, Emmya Kristina; Herlina, Herlina; Sinulingga, Jekmen; Damanik, Ramlan; Tampubolon, Flansius
NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa Vol. 6 No. 4 (2025): NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/nivedana.v6i4.2033

Abstract

This study aims to examine tambar kuning, a traditional medicine in the Batak Karo community, as an ecological representation through an ecolinguistic approach. Tambar kuning consists of two main types: kuning melas (hot balm) and kuning mbergeh (cold balm), each used according to bodily conditions and environmental factors. The research was conducted in Gurusinga Village, Karo Regency, using a descriptive qualitative method. Data were obtained through observation, interviews, and literature study. The findings show that tambar kuning not only functions as a healing agent but also reflects the Karo people's local knowledge in utilizing natural resources. Its composition is based on local flora, selected for their warming or cooling effects. This practice demonstrates a strong interrelation between language, culture, and ecology. Furthermore, the lexical items related to tambar kuning serve as verbal representations of the community's ecological knowledge system. The study concludes that tambar kuning is an intangible cultural heritage containing ecological and linguistic values that should be preserved as part of the collective identity of the Karo people.
Representasi Ekologis dalam Tradisi Tawar Penggel (Pengobatan Patah Tulang) Etnik Batak Karo: Suatu Kajian Ekolinguistik Tarigan, Sarah Nathasia; Herlina, Herlina; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 7 No 2 (2025): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v7i2.479

Abstract

This study examines the practice of Tawar Penggel as a traditional healing system of the Batak Karo community in North Sumatra, in the form of a herbal oil remedy (minak) made from 28 local plant species used to treat bone fractures and musculoskeletal disorders. The research employs a descriptive qualitative method through participatory observation, in-depth interviews, and field documentation conducted in Suka Julu Village, Karo Regency. The findings indicate that the practice of Tawar Penggel is still actively preserved by the Batak Karo community in Suka Julu Village, Berastagi District, Karo Regency. The practice involves 28 local plant species as the main ingredients in the preparation of minak, including leaves, roots, stems, tubers, sap, and spices. All materials are sourced from the surrounding environment, both from wild-growing plants and those cultivated in a simple manner by the community. This study contributes to the documentation of local wisdom and the development of ecolinguistic studies grounded in tradition and environmental context.
Lanskap Linguistik Kawasan Istana Sisingamangaraja Di Kabupaten Humbang Hasundutan Simamora, Mei Lisriani; Sibarani, Robert; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan
Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 20, No 2: November 2025
Publisher : Indonesian literature Program, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nusa.20.2.163-177

Abstract

This study analyzes the linguistic landscape of the Sisingamangaraja Palace area in Humbang Hasundutan Regency as a representation of cultural identity, language ideology, and strategies for preserving cultural heritage in public space. The study is grounded in Landry and Bourhis’s linguistic landscape theory and Stuart Hall’s perspective of cultural representation. A descriptive qualitative method was employed through visual observation, photographic documentation, and interviews with key informants. Data were interpretively analyzed to examine the use of Indonesian, Batak Toba language, English, and Batak script across various visual media. The findings indicate that the linguistic landscape functions not only informationally but also symbolically, representing historical legitimacy, cultural authority, and spirituality, while serving as a site of negotiation between locality, nationality, and globality in strengthening the collective memory of the Batak community.
BULANG (WOMEN’S HEAD COVERING) SIMALUNGUN BATAK ETHNIC ramlan damanik; warisman sinaga; asriaty r purba; jekmen sinulingga; herlina
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Language and Literature Studies
Publisher : LP2M UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v6i1.7568

Abstract

This article was written to reveal the meaning of the head covering for women or bulang for the Simalungun Batak community. The use of bulang or head coverings for women and what the meaning and function are for millennials, especially those who live in urban areas, has very little understanding. Therefore, the author created this article for describing the types of bulang and what the function and meaning of bulang are for the Simalungun Batak ethnic community. This research uses a qualitative approach and descriptive method and uses semiotic theory by Charles Sanders Pierce and data collection is carried out by observation, interviews and literature study. Data analysis was carried out using data reduction, translation and conclusions and suggestions. There are 4 types of bulang, namely Bulang Sulappei, Bulang Teget, Bulang Suyuk /Gijang and Bulang Hurbu Salalu. Bulang is for head cover and for giving identity. The meaning of wearing this bulang is as a symbol of maturity for Simalungun women.
Representasi Ilokusi dalam Tradisi Mangupa pada Horja Godang Etnis Batak Angkola: Telaah Pragmatik Dewes Agustina Naibaho; Warisman Sinaga; Jekmen Sinulingga; Flansius Tampubolon; Asriaty r Purba
Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Universitas PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to reveal the representation of illocutionary speech acts in the Mangupa tradition during the Horja Godang ceremony of the Batak Angkola community. Mangupa is a verbal expression of blessings and hopes delivered by traditional leaders within the sacred context of customary rituals. This research employs a descriptive qualitative approach, utilizing observation, interviews, and documentation methods. Data analysis is based on Searle's theory of illocutionary acts, which includes five categories: representative, directive, expressive, commissive, and declarative. The findings show that the utterances in Mangupa contain various types of illocutionary acts functioning to guide, bless, and affirm social status within the community. These utterances not only carry linguistic meaning but also hold social and cultural power that reinforces the value system of the Batak Angkola people. Furthermore, the structure of Mangupa utterances is highly influenced by customary norms and the Dalihan Na Tolu principle. This study confirms that the Mangupa tradition is a complex form of indigenous communication practice that embodies noble values. It contributes to the development of culturally-based pragmatic studies and supports the preservation of Indonesia’s oral cultural heritage.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Br Karo Sekali, Emmya kristina Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dewes Agustina Naibaho Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Erica Yulia Citra Sitorus Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur Rachel, Hilda Aura Safitri Ramlan Damanik Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simamora, Mei Lisriani Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga