Claim Missing Document
Check
Articles

Alih Kode Pada Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Balige Kabupaten Toba Kajian : Sosiolinguistik Pasaribu, Eva; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Damanik, Ramlan; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Alih Kode Pada Interaksi Jual-Beli Di Pasar Tradisional Balige Kabupaten Toba: Kajian Sosiolinguistik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis alih kode, fungsi alih kode, dan faktor-faktor terjadinya alih kode dalam interaksi jual-beli di Pasar Tradisional Balige, Kabupaten Toba. Teori yang menjadi panduan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik yang dikemukakan oleh Suwito. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah adanya variasi jenis alih kode intern: Alih kode dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia. Jenis alih kode ekstern: Alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Fungsi alih kode meliputi: Untuk menghormati penutur, untuk menegaskan atau meyakinkan suatu hal, untuk membuat percakapan lebih santai. Faktor terjadinya alih kode meliputi: Kehadiran orang ketiga, penutur, perubahan topik pembicaraan, lawan tutur, untuk sekedar bergensi, untuk membangkitkan rasa humor.
Turi-Turian Ultop Si Jonaha Etnik Batak Toba: Kajian Sosiologi Sastra Simamora, Eveline Mangerbang; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Herlina, Herlina; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul "Turi-Turian Ultop Si Jonaha Etnik Batak Toba: Kajian Sosiologi Sastra." Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan elemen-elemen intrinsik dan nilai-nilai sosiologi sastra dalam cerita "Turi-Turian Ultop Si Jonaha." Teori yang digunakan adalah teori sosiologi sastra dari) (Ratna, 2004), dengan metode penelitian kualitatif deskriptif yang diuraikan oleh (Sugiyono, 2012).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa unsur-unsur intrinsik dalam cerita ini mencakup tema utama tentang tipu daya dan kelicikan, yang direpresentasikan oleh tokoh Jonaha yang menggunakan kecerdikannya untuk menipu orang lain demi keuntungannya sendiri. Alur cerita bergerak maju secara kronologis, mulai dari pengenalan karakter, mencapai puncak cerita dengan peristiwa sumpit sakti, dan berakhir dengan resolusi yang menegaskan tema utama. Latar cerita yang beragam, seperti rumah Jonaha, arena judi, dan hutan, memberikan konteks yang memperkaya perkembangan plot dan karakter. Karakter-karakter seperti Jonaha, istrinya, Parenggabulu, dan Sobur, memperlihatkan konflik internal yang memperdalam narasi. Cerita ini disampaikan dari sudut pandang orang ketiga serba tahu, yang memungkinkan pemahaman mendalam terhadap kompleksitas karakter dan alur cerita secara keseluruhan. Pesan moral dari cerita ini menekankan bahwa kecerdikan dan strategi berpikir Jonaha dapat membantu menghadapi situasi sulit, meskipun tidak selalu dengan cara yang etis. Namun, pengalaman Jonaha juga mengingatkan kita akan dampak negatif dari kebohongan, yang dapat merusak kepercayaan dan hubungan sosial. Selain itu, analisis sosiologi sastra dalam penelitian ini mengungkapkan nilai-nilai sosial, sistem nilai ide, dan alat budaya sosial dalam masyarakat Batak Toba yang tercermin dalam cerita tersebut.
Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika Simbolon, Selvi; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif berlokasi di Desa Parhabinsaran Janji Matogu, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba. Hasil penelitian upacara adat mangongkal holi menjadi 3 tahapan. Tahapan pertama yaitu pra upacara adat mangongkal holi terbagi menjadi dua acara yaitu manopot angka hula-hula ni si ongkalon (menjumpai para marga dari pihak istri yang akan digali) dan martonggo raja (musyawarah tokoh adat Batak). Tahap kedua yaitu pelaksanaan mangongkal holi, terbagi dua acara yaitu acara penggalian tulang belulang (mangongkal holi), mata ni horja (pesta adat). Tahap ketiga, pasca mangongkal holi terbagi dua acara menguburkan kembali dan manambak (pesta tambak). Ada 25 simbol-simbol : Pinahan Lobu, Dekke Sitio-tio, Tambak : tugu, Gorga Simata Ni Ari, Gorga Ipon-Ipon, Gorga Gaja Dompak, Gorga Sompi-sompi, Ulos Ragidup, Gorga Jogia, Gorga Batu Assimun, Gorga Sigumang, Gorga Pinarhalak Boru, Gorga Pinarhalak Bawa, Gorga Lipan-Lipan, Ulos Sadum Panoropi, Uang, Air jeruk purut dan Kunyit, Ruma-ruma : Peti kecil, Demban Tiar, Sortali Boru, Sortali Bawa, Kerbau, Somba Marhula-Hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu
Pembelajaran Aksara Batak Toba melalui Huling-Huling Ansa sebagai Pembentukan Karakter Sagala, Erosima; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Pembelajaran Aksara Batak Toba Melalui Huling-huling Ansa Sebagai Pembentukan Karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran Aksara Batak Toba melalui huling-huling ansa sebagai pembentukan karakter dan menjelaskan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam pembelajaran aksara Batak Toba melalui huling-huling ansa sebagai pembentukan karakter. Teori yang digunakan dalam menganalisis data pada penelitian ini ada dua yaitu teori pembelajaran konstrukstivisme yang dikemukakan oleh Sigit Mangun Wardoyo dan teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini ditemukan hasil metode pembelajaran yang digunakan yaitu menggunakan metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) melalui pendekatan huling-huling ansa, dan melaksanakan tujuh komponen sebelum memulai kegiatan pembelajaran, yaitu: konstrukstivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan pemodelan nyata. Selain itu, enam langkah-langkah yang diterapkan yaitu: tahap pengenalan, tahap pengaitan, tahap penafsiran, tahap implementasi, tahap refleksi ,dan tahap evaluasi. Selanjutnya ditemukan nilai-nilai karakter yang terdapat pada pembelajaran, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.
Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar Kajian: Semiotika Simangungsong, Depi; Damanik, Ramlan; Herlina, Herlina; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diberi judul ``Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar, Kajian Semiotika''. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagian-bagian Ruma Bolon, jenis-jenis Gorga, bentuk Gorga, fungsi dan makna Gorga pada masyarakat Batak Toba. Teori yang digunakan untuk analisis adalah semiotika.(Charles Sanders Peire) menggemukakan Semiotika adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku pada pengguna tanda. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Ada 12 bagian ruma bolon di Kecamatan Sigumpar. yaitu batu ojahan atau pondasi rumah, bahasi atau tiang rumah, rasang, balatuk atau tangga, jendela rumah, bara atau kolong rumah. sokkor, tartaring atau tempat masak, lantai rumah, dinding ruma bolon, pintu ruma bolon, dan atap ruma bolon, 2) terdapat 17 gorga beserta fungsi dan maknanya yaitu Gorga Siture -Ture, Gorga Boraspati, Gorga Adop- Adop atau Susu, Gorga Singa Singa, Gorga Ipon Ipon, Gorga Sompi, Gorga Mataniari atau Matahari, Gorga Desa Na Ualu atau delapan penjuru mata angin, Gorga Simarogung-ogung atau Gong, Gorga Ulupaung, Gorga iran-iran, Gorga Silintong, Gorga Sitangan-tangan, Gorga Simeol Eol, Gorga Dalihan Na Tolu, Gorga Gaja Dompak, Gorga jorngom atau jenggar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Gorga merupakan ukiran atau ukiran tradisional yang biasa terdapat pada dinding luar rumah atau pada rumah adat atau disebut juga Gorga yang menjelaskan tentang bentuk, fungsi dan makna Gorga Ruma bolon. Hal ini menandakan mengandung unsur mistis. Terletak di Kecamatan Sigumpar.
Pengenalan Aksara Batak Simalungun bagi Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan Kecamatan Panombean Panei Kabupaten Simalungun Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R; Tampubolon, Flansius; Herlina, Herlina; Mulyani, Rozanna; Fadlin, Fadlin; Baharuddin, Baharuddin; Sembiring, Sugihana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari aksara Latin yang biasa digunakan dalam sistem pendidikan nasional. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam membaca serta menulis aksara Batak Simalungun di kalangan generasi muda dapat mengancam keberlangsungan aksara ini. Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang lebih kompleks dan artistik, dengan garis-garis yang lebih meliuk-liuk dan berpola. Kesan ornamen dan hiasan tampak jelas dalam aksara ini. Aksara ini digunakan dalam naskah-naskah adat, cerita rakyat, dan seni ukir oleh suku Simalungun. Aksara Simalungun hanya memiliki 19 huruf dan harus menggunakan 8 tanda bacanya dalam penulisan. Oleh karena itu, pengenalan dan pembelajaran aksara Batak Simalungun di sekolah dasar sangatlah penting. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan aksara Batak Simalungun kepada siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan., meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal., membekali siswa dengan keterampilan dasar membaca dan menulis aksara Batak Simalungun. Kegiatan ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasil Pengabdian ini yakni terdapat 19 induk surat. Dalam Pelaksanaan Pengabdian ini Mengenalkan Aksara Batak Simalungun kepada Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan, Meningkatkan Kesadaran Siswa Akan Pentingnya Melestarikan Warisan Budaya Lokal, Membekali Siswa dengan Keterampilan Dasar Membaca dan Menulis Aksara Batak Simalungun. Dengan pengabdian inidiharap mendapatkan dukungan dari pihak sekolah serta masyarakat, diharapkan siswa dapat mengenali, memahami, dan mencintai aksara Batak Simalungun sebagai bagian dari identitas mereka. Upaya ini tidak hanya akan memperkaya wawasan budaya siswa, tetapi juga menjaga keberlangsungan aksara Batak Simalungun di masa depan.
Rurun Merga Silima dalam Etnik Batak Karo : Kajian Semiotika Sosial Depari, Edi; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1). Mendeskripsikan rurun merga silima dalam etnik Batak Karo. (2). Mendeskripsikan fungsi rurun merga silima dalam etnik Batak Karo. (3). Mendeskripsikan makna rurun merga silima dalam etnik Batak Karo. Teori yang digunakan dalam penelitian ini merupakan teori semiotika sosial oleh Pateda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Adapun hasil yang didapatkan penulis dari penelitian ini adalah rurun merga silima dalam etnik Batak Karo antara lain sebagai berikut: untuk Karo-karo memiliki 17 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu sekali Riong, kemit Logos, samura Tabong, sitepu Ganding, sinulingga Mangkok, sinuraya Tabong, sinuhaji Logos, sinukaban Cinor, surbakti Gajah, kacaribu Mitut, barus Cinor, bukit Logos, kaban Cinor, ujung Logos, purba Lagat, ketaren Kolam dan gurusinga Pabelo. Untuk Ginting memiliki 16 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu babo Gajut, sugihen Nangkul, suka Mburak, beras Mbayak, anjartambun Kapor, garamata Mburak, jandibata Canggah, pase Gudam, munte Mburak, manik Mangat, sinusinga Mburak, seragih Mburak, jawak Lajor, tumangger Lajor, capah Ciak dan gurupatih Gurah. Untuk Tarigan memiliki 14 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu bondong Batu, jampang Lumbung, gersang Mondan, gana-gana Gombong, pekan Kawas, tambak Turah, purba Batu, sibero Batu, silangit Segar, tegur Batu, tambun Mondan, tua Mondan, gerneng Kawas, dan tendang Kawas. Untuk Sembiring memiliki 19 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu kembaren Ropo, keloko Daram, sinulaki Rontang, sinupayung Ropo, brahmana Kawar, pandia Gobang, colia Kuliki, gurukinayan Pagoh, keling Gawah, pelawi Talah, depari Togong, busuk Jambe, bunuaji Baji, meliala Jemput, maha Pasir, muham Bugan, pandebayang Jemput, sinukapur Bugan dan tekang Jambe. Dan perangin-angin memiliki 18 sub merga, masing-masing memiliki rurun merga yaitu mano Mundong, sebayang Rabun, pencawan Jambor, sinurat Tangko, perbesi Rabun, ulunjandi Ramban, penggarun Guni, pinem Jaren, uwir Sagu, laksa Batonggan, singarimbun Kerangen, keliat Teger, kacinambun Njorang, bangun Teger, tanjung Tuluk, manjerang Batok, namohaji Gudong dan sukatendel Gantang. Fungsi rurun merga silima dalam etnik Batak Karo yaitu memudahkan memanggil seseorang dan pengenalan asal-usul merga seseorang. Makna rurun merga silima dalam etnik Batak Karo berupa pengenalan karakter dari merga seseorang.
Simbol Pada Abit Sabe-Sabe Etnik Batak Angkola/Mandailing : Kajian Semiotika Siagian, Anggi Novita; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Simbol Pada Abit Sabe-Sabe Etnik Batak Angkola/Mandailing Kajian Semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja simbol motif yang terdapat pada abit sabe-sabe, apa saja fungsi simbol yang terdapat pada abit sabe-sabe, apa saja makna yang terdapat pada abit sabe-sabe. Penulis menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, dan lokasi penelitian ini di Desa Paranjulu, Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa motif simbol pada abit sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing di Kabupaten Tapanuli Selatan Sipirok terdiri dari 18 motif yaitu rambu, manik-manik simata, sirat, pusuk robung, luslus, tutup mumbang, iran-iran, jojak mata-mata, yok yok mata pune, ruang, sijobang, singap, horas tondi madingin sayur matua bulung, bunga, suri-suri, dalihan natolu, tugu. Bentuk dari motif simbol pada Abit Sabe-sabe Batak Angkola/Mandailing ialah berbentuk geometris dan dekoratif. Sumber inspirasi dari motif tenun simbol pada abit sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing ialah makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Makna konotasi dan makna denotasi yang terkandung dalam motif tenun Abit Sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing yaitu berupa nasehat, harapan, dan doa serta silsilah keluarga Masyarakat Batak Angkola/Mandailing.
Jenis dan Fungsi Oles pada Etnik Batak Pakpak : Kajian Kearifan Lokal Toruan, Khaterine A. Lumban; Sibarani, Robert; Sinulingga, Jekmen; Tampubolon, Flansius; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan jenis-jenis oles dan kearifan lokal yang terdapat pada setiap oles etnik Batak Pakpak. Teori yang digunakan adalah teori kearifan lokal oleh Robert Sibarani. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan model interaktif. Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat 7 jenis oles pada etnik Batak Pakpak, yakni Oles Perdabaitak, Oles Sorisori Sampur, Oles Pelangpelang, Oles Takaltakal, Oles Perbunga Mbacang, Oles Cumancuman, Oles Sidosdos. Fungsi yang terdapat dalam oles etnik Batak Pakpak antara lain ialah (1).Oles Perdabaitak berfungsi sebagai pemberian berkat dalam bentuk “upah puhun” pada upacara adat merbayo “pernikahan” dan sebagai ucapan terima kasih pada upacara adat males bulung sampula , (2) Oles Sorisori Sampur berfungsi sebagai ucapan terima kasih dalam bentuk “kaing siso siat” pada upacara merbayo “pernikahan” dan sebagai pemberian berkat pada upacara mengrumbang, (3) Oles Pelangpelang berfungsi sebagai pemberian dan ucapan terima kasih dalam bentuk upah turang “ saudara laki-laki perempuan” pada upacara merbayo “pernikahan”, dan ucapan terima kasih dalam bentuk penelangken mbellen “saudara perempuan tertua dari ayah” pada upacara merbayo “pernikahan”, (4). Oles Takaltakal berfungsi sebagai pemberian mas kawin dalam bentuk takal ujuken “pemberian kepada pihak perempuan” pada upacara merbayo “pernikahan”, (5). Oles Perbunga Mbacang berfungsi sebagai ucapan terima kasih dalam bentuk upah mendedah “saudara perempuan dari ayah” pada upacara merbayo “pernikahan”, (6). Oles Cumancuman berfungsi sebagai tanda perpisahan dalam bentuk upah anak manjae pada upacara merbayo “pernikahan”, (7). Oles Sidosdos pemberian berkat dalam bentuk upah empung pada upacara merbayo “pernikahan”. Nilai-nilai Kearifan lokal yang terdapat pada Oles etnik Batak Pakpak ialah kerja keras, kesehatan, amanah, dan rasa syukur.
Gaya Bahasa Pada Umpasa Marhata Sinamot Etnik Batak Toba: Kajian Stilistika Togatorop, Julhayati; Purba, Asriaty; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Gaya Bahasa Pada Umpasa Mahata Sinamot Etnik Batak Toba: Kajian Stilistika. Umpasa adalah salah satu jenis yang berbentuk pantun atau syair yang mengandung makna seperti makna restu, harapan, doa ataupun nasehat yang dimiliki etnik Batak Toba dan dituturkan di upacara adat Batak Toba dan disampaikan oleh raja parhata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa atau majas pada umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba. Teori majas sesuai untuk penelitian ini adalah teori Stilistika oleh henry Guntur Tarigan 2013. Penelitian ini menggunakan adalah metode kualitatif bersifat deskriptif. Sumber data dalam adalah studi pustaka dan narasumber/raja parhata dalam upacara marhata sinamot. Dari penelitian ini hasil yang diperoleh adalah: Pada umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba ialah: 1). Gaya bahasa pengulangan terdapat 4 jenis yaitu Asonansi, Mesodilopsis, Antanaklasis, anafora. 2). Gaya bahasa perbandingan terdapat 4 jenis yaitu: Perumpamaan, defersonifiksi, pleonasme, perifeasis. 3). Gaya bahasa pertentangan terdapat 4 jenis yaitu: oksimoron, ironi, inuendo, sarkasme. 4). Gaya bahasa pertautan terdapat 2 jenis yaitu: metonimia dan antonomasia. Makna dari umpasa marhata sinamot etnik Batak Toba adalah berupa ungkapan pengharapan, nasehat, dan penderitaan pada setiap kalimat umpasa marhata sinamot upacara adat etnik Batak Toba.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Br Karo Sekali, Emmya kristina Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dewes Agustina Naibaho Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Erica Yulia Citra Sitorus Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur Rachel, Hilda Aura Safitri Ramlan Damanik Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simamora, Mei Lisriani Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga