p-Index From 2021 - 2026
15.592
P-Index
This Author published in this journals
All Journal DiH : Jurnal Ilmu Hukum Jurnal Panorama Hukum NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI DOKTRINA: JOURNAL OF LAW Pepatudzu : Media Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Rechtsregel : Jurnal Ilmu Hukum Jurnal el-Qanuniy: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesyariahan dan Pranata Sosial Jurnal Cahaya Mandalika Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Jurnal hukum IUS PUBLICUM Collegium Studiosum Journal Jurnal Communitarian Journal Evidence Of Law POLICY, LAW, NOTARY AND REGULATORY ISSUES (POLRI) QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Aurelia: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Begawan Abioso JUDGE: Jurnal Hukum Innovative: Journal Of Social Science Research Research Horizon Journal of Progressive Law and Legal Studies Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Birokrasi: Jurnal Ilmu Hukum dan Tata Negara Kultura: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Socius: Social Sciences Research Journal JUSTITIABLE - Jurnal Hukum Universitas Bojonegoro ANDREW Law Journal Journal Customary Law Journal of Contemporary Law Studies Indonesian Journal of Law and Justice Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan Media Hukum Indonesia (MHI) Jurnal Batavia Journal Social Sciences and Humanioran Review Retorika: Jurnal Komunikasi, Sosial dan Ilmu Politik Rechtsvinding International Journal of Education, Vocational and Social Science Media of Law and Sharia Civilia: Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan SIYASI: Jurnal Trias Politica J-CEKI Siber International Journal of Advanced Law LANCAH Jurnal Inovasi dan Tren Journal of Political and Governance Studies
Claim Missing Document
Check
Articles

Teori dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) oleh Hakim Pada Tingkat Kasasi Terkait Putusan Pengadilan Negeri Nomor: 796/Pid.B/2022/Pn.Jkt.Sel Vonis Mati yang Diubah Menjadi Penjara Seumur Hidup dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor: 813.K/Pid/2023) Adhitya, Muhammad Rendy; Alfatoni, Muhammad Sidiq; Irwanda, Tasya Gita; Raihani, Siti Rifqa; Triadi, Irwan
Media Hukum Indonesia (MHI) Vol 4, No 1 (2026): March
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.17919252

Abstract

Pretrial proceedings (praperadilan) constitute an important innovation within the Indonesian Criminal Procedure Code (KUHAP) as an instrument for protecting the rights of suspects against arbitrary actions by law enforcement officials. However, since the Decision of the South Jakarta District Court Number 796/Pid.B/2022/PN.Jkt.Sel, the authority of pretrial proceedings has undergone significant development through the expansion of its objects to include the determination of suspects. This decision marks the occurrence of legal discovery (rechtsvinding) by the judge, who interpreted Article 77 of the KUHAP progressively based on the principles of human rights protection and the due process of law. This study aims to analyze the decision from the perspective of theories of justice, particularly Aristotle’s concept of justice. The method used is normative juridical analysis of judicial decisions and their legal reasoning. The results of the study indicate that the decision reflects retributive justice moving toward a more rehabilitative and humanistic approach. However, within the framework of distributive and corrective justice, debates arise concerning the proportionality of the punishment, the defendant’s position as a former high-ranking police official, and public expectations of justice. The decision is legally valid, yet it still leaves moral and ethical questions in its implementation.
KEADAAN DARURAT DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT HUKUM INDONESIA Guntoro, Weko Satya; Utama, Anang Puji; Triadi, Irwan
ANDREW Law Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : ANDREW Law Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61876/alj.v4i2.119

Abstract

Filsafat dapat diartikan yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat semua yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Sedangkan darurat merupakan keadaan sukar tidak disangka yang memerlukan penanggulangan segera. Dari kedua istilah tersebut maka Filsafat Hukum memandang keadaan darurat merupakan hakikat dari keadaan sukar yang mendesak dan memerlukan penanggulangan segera. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Hukum Normatif. Dalam proses dan upaya penanggulangan tentu saja terdapat tindakan nyata dari para pengambil kebijakan, pengawas dan pelaksana mandat yang memerlukan peraturan jelas agar tidak terjadi pelanggaran dan penyalahgunaan, sehingga kebijakan serta tindakan yang dilaksanakan dapat menjadi solusi yang tepat guna. Peraturan tersebut termanifestasi dalam hukum yang diakui secara mutlak di wilayah kedaulatan suatu negara.  Khusus Negara Kesatuan Republik Indonesia, hukum keadaan darurat tertuang dalam Undang - Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 sebagai dasar konstitusi, serta diatur lebih rinci pada aturan tertentu. Namun dalam perkembangannya, keadaan darurat bukan hanya terbatas pada keadaan fisik semata, namun juga pada keadaan non fisik, sehingga perlu dikaji secara mendalam tentang esensi dari keadaan darurat tersebut, sehingga hukum yang diterapkan sesuai dengan keadaan dan tujuannya.
Pelibatan TNI Dalam Covid-19: Urgensi Pembentukan Peraturan Pelaksana Operasi Militer Selain Perang (OMSP) Putri, Agita Asmara Pratama; Utama, Anang Puji; Triadi, Irwan
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5, No 1 (2026): January 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v5i1.7816

Abstract

Pandemi COVID-19 sebagai bencana non-alam berskala nasional telah memaksa negara untuk mengerahkan seluruh sumber daya, termasuk pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam mendukung upaya penanggulangan. Pelibatan TNI ini dilakukan melalui skema Operasi Militer Selain Perang (OMSP) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Namun, pengaturan OMSP dalam undang-undang tersebut belum secara eksplisit dan komprehensif mencakup ketentuan mengenai perbantuan dalam konteks bencana non-alam. Di sisi lain, berbagai kebijakan pemerintah dalam merespons pandemi, seperti Keputusan Presiden dan Instruksi Presiden, telah menugaskan TNI untuk melaksanakan fungsi pengawasan, distribusi bantuan, serta mendukung pemerintah daerah, tanpa didahului oleh peraturan pelaksana yang memberikan batasan dan standar operasional yang jelas. Ketidakhadiran peraturan pelaksana OMSP yang mengatur keterlibatan TNI secara khusus menciptakan kekosongan hukum dan berpotensi menimbulkan tumpang tindih kewenangan serta ketidakpastian dalam pelaksanaan tugas. Artikel ini menekankan pentingnya perumusan peraturan pelaksana OMSP sebagai instrumen hukum yang tidak hanya menjamin kepastian hukum dan akuntabilitas pelibatan TNI, tetapi juga sebagai bentuk penguatan terhadap sistem pertahanan nirmiliter dalam menghadapi ancaman multidimensional di masa mendatang.
Papua Problems in the Review of Constitutional Law Triadi, Irwan
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 21 No. 1 (2022): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v21i1.4293

Abstract

The Papua problem is a dispute in the Papua region, Indonesia. beginning in 1961. In 1962, the Netherlands agreed to relinquish the temporary UN administrative area, signing the New York Agreement, which included provisions for a referendum to be held before 1969. On August 15, 1962, the New York Agreement was obtained which contained the handover of western Papua from the Netherlands via United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). On May 1, 1963, western Papua returned to Indonesia. In this scientific article, the type of research used is Normative Legal Research. Normative Legal Research is a scientific research approach that aims to find the truth based on scientific logic from a normative point of view. This approach involves researching various library materials, literature, and secondary data to produce legal rules, legal principles, and other legal doctrines. The implementation of terrorist status is in accordance with Law Number 5 of 2018 concerning Amendments to Law Number 15 of 2003 concerning Stipulation of Government Regulations in Lieu of Law Number 1 of 2002 concerning Eradication of Criminal Acts of Terrorism, where every organization or person who commits massive violence can be categorized as a terrorist. Every action carried out by the Armed Criminal Group, including the Papua dispute and the birth of the Free Papua Organization, whatever the name of the organization or the people affiliated with or involved with it, is a terrorist act. The Indonesian Government's political will to deal with Papua seriously began in 1999, which was marked by President Abdurrahman Wahid giving the name Papua to replace Irian Jaya). The government also designated Irian Jaya Province as a special autonomous region, which is explicitly stated in the MPR RI Decree Number IV/MPR/1999 concerning Outlines of State Policy for 1999-2004, Chapter IV letter G, point 2. Following up on the mandate of the MPR Decree, the DPR on October 22 2001 approved and enacted Law Number 21 of 2001 concerning Special Autonomy for Papua Province
Position of State Institutions in Indonesian Constitution Triadi, Irwan
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 21 No. 2 (2022): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v21i2.4295

Abstract

This research is about the position between state institutions, in this case the People's Consultative Assembly, the People's Representative Council, the Regional Representative Council, the Constitutional Court and the President as an important part of Constitutional Law. The Indonesian Constitution in this case is the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia (before amendments and after amendments) which is divided into a Preamble and Body and is based on and based on Pancasila which is the source of Indonesian legal order. The method used in this research is normative legal research, namely research by examining library materials or secondary data which includes research on legal principles and legal systematics, research on the synchronization of legislation from a vertical and horizontal angle, which is carried out as an effort to obtain data necessary in connection with the problem. Prior to the amendment to the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, the highest state power was in the hands of the People's Consultative Assembly, as the incarnation of the entire Indonesian people. The President must carry out State policy according to the broad lines established by the Assembly. After the amendment to the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, the People's Consultative Assembly maintained its existence and was positioned as a state institution, but its position was no longer as the highest institution but as a state institution that was on an equal footing with other existing state institutions, including the Regional Representative Council. as a new institution to optimize and confirm the understanding of popular sovereignty and the Constitutional Court which gives the authority to be the guardian of the constitution. This research aims to provide an explanation of the position of state institutions in this case the People's Consultative Assembly, the People's Representative Council, the Regional Representative Council, the Constitutional Court and the President in the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia (before amendments and after amendments)
Penafsiran Hakim dalam Tindak Pidana Siber: Dilema Asas Legalitas dan Perluasan Pertanggungjawaban Pidana Irena Puspa Mega; Triadi, Irwan
Media of Law and Sharia Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mls.v7i1.449

Abstract

Artikel ini menganalisis peran hakim dalam tindak pidana siber, khususnya terkait dilema antara asas legalitas dengan praktik judicial law-making yang berpotensi memperluas pertanggungjawaban pidana. Melalui pendekatan normatif dengan telaah undang-undang, putusan pengadilan, serta literatur akademik, penelitian ini menunjukkan bahwa pasal-pasal dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, terutama Pasal 27, 28, dan 29, memiliki norma yang kabur dan membuka ruang interpretasi luas. Dalam praktiknya, hakim sering menggunakan penafsiran teleologis dan sistematis untuk menyesuaikan hukum dengan perkembangan teknologi. Meskipun langkah ini memperlihatkan upaya rechtsvinding, terdapat risiko pelanggaran asas legalitas, ketidakpastian hukum, dan perluasan kriminalisasi yang mengancam kebebasan berekspresi. Kontribusi akademik artikel ini terletak pada pengayaan teori penemuan hukum dengan menekankan bagaimana interpretasi hakim dalam hukum pidana siber membentuk ruang baru bagi pertanggungjawaban pidana yang melampaui formulasi legislatif, sekaligus menawarkan refleksi normatif mengenai kebutuhan reformasi UU ITE.
Co-Authors A, Annisa Adam Ramadhan Adam, Chelsea Kairadinda Adhitya, Muhammad Rendy Adilla Putri, Sefrina Linda Afdhali, Dino Rizka Agus Ridwan Aini, Hanifah Qurrotu al anshari, Muhammad Faqih Alfatoni, Muhammad Sidiq Ali, Jovansyah ali, yusuf Alwan Davis Apriansyah, Mohammad Amanda, Nur Septiana Andreas Ramadhani, Renald Anshari, Muhammad Faqih Al Arafah, Rasya Ardian, Muhammad Fadhil Arfah, Azizah Aria, Muhammad Gustaf Ariapramuda, Cassis Aritonang, Christian Daniel Athallah, Rafli Akmal Audra, Rasyanda Aulia Adek Putri, Nabila Az Zanubiya, Siti Syafa Azra, Muhammad Arya Azzahra, Novita Fitria Bayu Setiawan Butar Butar, Frans Samuel Junero C, Chatrine Cahyono, Marsha Putri Damareka, Muhammad Darrell Danardono Darmawan, Abqary Faraz Darsono Darsono Darsono, Leandra Aurelrio Putra Dewi Rosalina, Maria Dewo Dharmawan, Nugroho Dhaniswara, Puandita Douglas, Jaury Elvira, Olga Fadhila, Rasya Aika Faidzuddin, Achmad Fattah, Akhmad Kautsar Febrian, Fazl Mawla Fiandie, Ursula Jacqueline Firda Amalia Fitriani, Maulida Furqon, Abdil Azizul Gubawan, Endy Guntoro, Weko Satya Hadi, Ilman Hafizar, Achmad Hafizhah, Nur Raima Haikal, Raka Hamdi, Muhammad Naufal Razzan Hantoro, Charissa Aulia Harahap, Aura Nasya Madhani Hariati, Retno Hasanah Pane, Khofifah Hia, Imelda Indah Putri Hudaya, Chintya Rachma Huurun Salma, Athifa Ikwanto, Mahia Albar Ilyas, Levi Christopher Indah, Reviana Mutiara Irawan Irawan Irena Puspa Mega IRVANDI, IRVANDI Irwanda, Tasya Gita Istimeisyah, Dian Joe, Cleo Patricia Joseph, Michael Geovani Joseph, Michael Giovanni Julio, Christopher Elia Julius, Tambok Justicyo, Rifky Kaban, Divany Harbina Emzilena Karimah, Nabila Kasih, Osihanna Meita Kayla Sidabutar, Jesamine Margareth Khairunnisa, Nasywa Khoiril Anam, Ahmad Kumor, Muhammad Setyo Damar Kumoro, Muhammad Damar Setyo Ledewedjo, Jessica Leonita Anabel Lewerissa, Samuel Suiq Lidowati, Alvina Maretia Limbong, Albert S. Liztha Maharani, Nabilah Lodewijk Peter, Daniel Lubis, Rachel Lubis, William Haposan Lufthi, Al Daffa Naufal Maaruf, Nefrisa Maharani, Aulia Cantika MALA HAYATI, MALA Manggala, Bayu Suryadi Maniari, Elsa Maretia Lidowati, Alvina Maryanto - Mawene, Marcha Jeanne Melati, Sekar Nabilla, Anissa Nafis, Abdul Haris Naibaho, Aldhy Wicaksana Nasir, Tomi Khoyron Nathaniella, Angelica Naufal Nabil, Tamam Naufaldho, Faiz Nur Pratama, Daya Oktaviani, Eka Putri Paksi, Arif Pujawangsa Pangaribuan, Kevin Angelo Panjaitan, Rachel Netanya Paradita, Silvi Aryana Paramesti, Nirwasita Zada Pardomuan, Jaury Douglas Parluhutan Sagala Parulian, Hendra Pradana, David Pratama, Daya Nur Pratistita, Made Wipra Priambodo, Rio Prihantono, Pradipta Priyantoro, Lucky Pujo Widodo, Pujo Purba, Diana Febri Nauli Purnama, Ismarini Della Puspitasari, Isti Putra Syawal Al Mahdi, Muhammad Putra, Gilang Putri, Agita Asmara Pratama Putri, Keshia Annisa Rachmat Setiawibawa Rahardi, Andriyan Rahayu, Cantika Tresna Rahmadhany, Vania Zachra Rahman, Hafizh Aulia Rahman, Naila Kamila Raihani, Siti Rifqa Ramadhan, Nawal Athaillah Ramelan, Michael Sanrio Rangoraja, Amudi Panigori Rasya, Harlin Sabrinda Reyhan, Maulana Arfidata Rifky Trihandoko, Ronaldindo Rilya, Muhammad Avin Athalla Rizka Afdhali, Dino Rizkisyah, Renofadli Rizky Akbar, Febrian Rizky, Gerry Putra Roring, Edward Benedictus Rosmaida, Erviyanti Rubianti, Vaganti Safa Sukma Ruli Agustin, Ruli Safira, Ishma Salsabila, Marsha Isnaini Satino Satino Setyawibawa, Rachmat Sianturi, Catherine Rosalina Siregar, Adhito Martogi Natanael Situmorang, Christian Immanuel Situmorang, May Laura Thecci Sofyan Sauri, Sofyan Sukendro, Achmed Sukrisno, Adi Sulaeman, Akhfa Kamilla Sumertha KY, I Gede Supadmo, Darto Suwarno, Panji Suwarsoyo, Namira Azzahra Syahputra, Rifky Justicyo Syahuri, Taufiqqrohman Syahuri Syaid, Ishma Safira Syalsabila, Khairunisa Syauqina, Naumy Syihab, M. Alvin Taher, Salsabila Tambunan, Joy Catherine Carina Tampubolon , Imagrace Triamorita Tampubolon, Imagrace Triamorita Tampubolon, Vernandito Sudharta Raftua Tarmizi, Rasyid Taufiqurrohman Syahuri Uksan, Arifuddin Utama, Anang Puji Wadi, Raines Wahdah, Azzhara Nikita Wicaksono Adi, Satrio Yanuarsyah, Dimas Yarly, Erfina Zahra Ajrina, Denanda Zahra, Devyta Ardiyaning Azz Zahratu, Nazwa Salsabila Zaki, Akmal Zevanya, Cristella Zybila, Agista