Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya berfokus pada mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak dan menyucikan jiwa (tazkiyat al-nafs). Pemikiran Imam Al-Ghazali menekankan integrasi ilmu, amal, dan nilai spiritual sebagai fondasi pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka deskriptif-analitis dengan menganalisis literatur klasik Al-Ghazali dan kajian kontemporer terkait pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa kurikulum PAI harus menyeimbangkan aspek kognitif, afektif, dan spiritual peserta didik. Penyusunan materi disesuaikan dengan klasifikasi ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah untuk mendukung tanggung jawab individu dan kebutuhan sosial. Strategi pembelajaran ideal menggabungkan teori dengan praktik, refleksi diri, dan proyek keagamaan, dengan guru berperan sebagai murabbi yang menjadi teladan spiritual. Evaluasi pendidikan dilakukan secara holistik, meliputi observasi perilaku, praktik ibadah, portofolio, dan refleksi peserta didik. Pendekatan ini membentuk peserta didik menjadi insan kamil yang seimbang secara intelektual, moral, dan spiritual. Kurikulum berbasis prinsip Al-Ghazali relevan untuk pendidikan kontemporer yang berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh. Dengan demikian, integrasi ilmu, amal, dan akhlak menjadi kunci dalam perancangan kurikulum PAI modern.Kata kunci: kurikulum PAI, Al-Ghazali, tazkiyat al-nafs, fardhu ‘ain, fardhu kifayah