Claim Missing Document
Check
Articles

Pemodelan Matematik untuk Menentukan Faktor-faktor Penyebab Repeat Breeding pada Sapi Aceh Sayuti, Arman; Cut Nila Thasmi; Tongku Nizwan Siregar; Husnurrizal; Sri Wahyuni
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.34-42

Abstract

Penelitian ini bertujuan membuat pemodelan untuk diagnosis repeat breeding (RB) pada sapi aceh berdasarkan intensitas estrus, profil hormonal, profil biokimia darah, dan jumlah infeksi bakteri pada saluran uterus. Hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah 16 ekor sapi aceh yang terdiri atas 7 ekor sapi aceh fertil dan 9 ekor sapi aceh RB, yang berumur 3-8 tahun dengan skor kondisi tubuh (BCS) 3-4. Seluruh sapi aceh fertil dan RB dilakukan sinkronisasi estrus menggunakan hormon PGF2α dengan pola penyuntikan ganda dengan interval 11 hari. Setelah penyuntikan PGF2α, intensitas estrus diamati 3 kali sehari yakni pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 WIB, masing-masing pengamatan selama 20 menit. Koleksi serum dilakukan pada pagi hari (jam 07.00-09.00 WIB). Koleksi serum dilakukan untuk pemeriksaan kadar hormon estradiol dan progesteron menggunakan teknik enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Selain itu, sampel darah juga digunakan untuk pemeriksaan profil biokimia darah. Koleksi sampel bakteri dilakukan dengan metode swab uterus. Hasil pemodelan diagnosis RB pada sapi aceh diperoleh model matematis regresi linear sebagai berikut : Y= a + bX1 + bX2 .............+ bX11S/C = -5.28 + 1,27X1 - 0,69X2 - 0,99X3 - 0,23X4 + 2,28X5 – 0,53X6 + 0,71X7 - 0,29X8 + 0,09X9 + 3,04X10 Berdasarkan hasil dari pemodelan diagnosis RB pada sapi aceh menunjukkan bahwa penyebab utama RB pada sapi aceh adalah infeksi bakteri pada uterus yang kemungkinan mengakibatkan sapi tersebut mengalami stres yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Selain itu, RB pada sapi aceh juga dipengaruhi oleh ketidakseimbangan nutrisi dan hormonal yang mengakibatkan intensitas estrus menjadi rendah.
Amelioration of Seminal Plasma Testosterone Concentration in Gembrong Goats after In Vivo Administration of PGF2α Hafizuddin, Hafizuddin; Husnurrizal, Husnurrizal; Siregar, Tongku Nizwan; Eriani, Kartini; Wahyuni, Sri; Ahsan, Muhammad Maulana; Sutriana, Amalia; Anwar, Anwar; Aliza, Dwinna
Jurnal Medik Veteriner Vol. 6 No. 2 (2023): October
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmv.vol6.iss2.2023.256-261

Abstract

The semen quality of Gembrong goats is lower than other goats and may be related to the low concentration of testosterone hormone. Implementation of reproductive technology using prostaglandin F2α (PGF2α) hormone is beneficial to increase the testosterone hormone in Gembrong goats. This study aimed to determine the effect of PGF2α injection on increasing testosterone levels in Gembrong goats. Male Gembrong goats (n=4), aged 2.5-4 years with similar body condition scores (BCS=3) were used in this study. Goats were divided into two treatment groups (n=2). Goats in group 1 (G1) were injected intramuscularly with 1 ml PGF2α (75 μg), while those in group 2 (G2) were injected with 1 ml physiological NaCl. Semen collection was carried out 30 minutes after treatment using an artificial vagina. Testosterone levels were measured using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). The collected data was tabulated and analyzed descriptively. The results showed that the average testosterone concentration of G1 was higher than G2 with respective concentrations of 6.41 ± 0.70 and 2.81 ± 1.75 ng/ml. It was concluded that administration of PGF2α in vivo could increase testosterone concentration in Gembrong goats.
Perubahan Morfologi dan Morfometri Saluran Reproduksi Kelinci Lokal Bunting Semu Hasil Induksi Menggunakan GnRH Sri Wahyuni; Syafruddin Syafruddin; Muhammad Fathan Rizky Athallah; Tongku Nizwan Siregar; Mulyadi Adam; Roslizawaty Roslizawaty
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.25377

Abstract

ABSTRACT. Bunting semu pada kelinci dapat terjadi karena adanya induksi secara hormonal dan stimulasi fisik yang dapat menyebabkan perubahan pada morfologi saluran reproduksi. Salah satu metode induksi bunting semu adalah melalui injeksi GnRH. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perubahan terhadap anatomi dan histologi saluran reproduksi pada kelinci lokal bunting semu yang diinduksi dengan penyuntikan GnRH. Dalam penelitian ini digunakan sembilan ekor kelinci betina lokal, berumur 1-2 tahun dengan bobot badan 1,8-2,2 kg. Kelinci yang dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan (n=3) yakni K1, K2, dan K3. Kelompok K1 (kontrol negatif), diinjeksi dengan 0,1 ml NaCl fisiologis tanpa perkawinan; K2 (kontrol positif), kelinci diinduksi dengan 100 IU PMSG, tiga hari kemudian dikawinkan dan diinjeksi 75 IU hCG; dan K3, kelinci diinduksi dengan penyuntikan 5 g GnRH secara intravena. Pada hari ke-8 setelah perlakuan seluruh kelinci disembelih lalu saluran reproduksi diambil untuk pengamatan morfologi dan morfometri oviduk, kornua uteri, serviks uteri dan vagina lalu diproses secara histoteknik dan diwarnai dengan pewarnaan hematoksilin dan eosin untuk pengamatan histologi dan histomorfometri. Panjang oviduk, kornua, dan vagina kelinci memperlihatkan perbedaan yang nyata (P0,05) antar K1 dan K2 dengan K3. Ketebalan lapisan muskularis ampula, lamina propia isthmus, lamina muskularis isthmus, tunika serosa isthmus memperlihatkan perbedaan yang nyata (P0,05) antara K1 dan K2 dengan K3. Tebal lapisan endometrium kornua uterus K2 berbeda sangat nyata (P0,05) dengan K3, namun tidak berbeda nyata (P0,05) dibandingkan K1. Lapisan serosa serviks uteri K1 dan K2 berbeda sangat nyata (P0,05) dengan K3. Histomorfometri vagina kelinci menunjukkan perbedaan yang nyata (P0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa induksi GnRH tidak menyebabkan perubahan morfologi dan morfometri saluran reproduksi kelinci lokal pada hari ke-8 setelah induksi.(Morphology and morphometry changes of reproductive tract in the pseudo pregnant doesusing GnRH)ABSTRAK. Pseudopregnancy in rabbits can occur due to hormonal induction and physical stimulation that can cause changes in the morphology of the reproductive tract. One method of hormonal induction is GnRH injection. This study aimed to determine the anatomical and histological changes of the reproductive tract in pseudo pregnant local rabbits induced by injection of GnRH. In this study, nine local female rabbits, aged 1-2 years with a body weight of 1.8-2.2 kg, were divided into three treatment groups (n=3), namely, K1 (negative control): injected with 0.1 ml of physiological NaCl without mating, K2 (positive control): injected with 100 IU PMSG and then mated with male rabbits after three days of injection and followed by injection of 75 IU Hcg; K3 injection 5g of GnRH intravena route. On the day-8 after treatment, all rabbits were slaughtered and the reproductive tract was collected for morphological and morphometric observation of the oviduct, uterine horn, uterine cervix, and vagina, and then processed histotechnically and stained with hematoxylin and eosin for histological and histomorphometric observation. The length of oviduct, uterine horn and vagina showed significant different (P0.05) between K1 and K2 with K3. The thickness of the lamina muscularis of ampulla, lamina propia of isthmus, lamina muscularis of isthmus, tunica serous of isthmus showed significant different (P0.05) between K1 and K2 with K3.The thickness of the endometrium of uterine horn was significant different (P0.05) between K2 and K3, but not significantly different (P0.05) with K1. The thickness of tunica serous of servical uterine K1 and K2 was significant different (P0.05) with K3. Vaginal histomorphometry of rabbits was not significantly different (P0.05). It can be concluded that the induction of GnRH did not changes the morphology and histology of the reproductive tract in the local rabbits on the day-8 after treatment.
The Effectiveness of Lugol on the Increasing of Pregnancy Rate in Aceh Cow with Endometritis Amalia Sutriana; Arman Sayuti; Budianto Panjaitan; Teuku Armansyah TR; Aisyah Fadillah Tunnisa; Juli Melia; Tongku Nizwan Siregar; Hafizuddin Hafizuddin; Dwinna Aliza
Jurnal Agripet Vol 21, No 2 (2021): Volume 21, No. 2, Oktober 2021
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v21i2.18513

Abstract

ABSTRACT. The objective of this study was to determine the effect of lugol on the increasing the pregnancy rate in repeat breeding (RB) Aceh cows due to endometritis. This study used six endometritiss cows, aged 5-7 years, weighed 150-250 kg which were divided into two groups (n=3), KI and KII. The cows in group 1 (K1) were injected with 5 ml PGF2, while the cows in group 2 (KII) were treated with 50 ml of 2% lugol intra-uterine and continued with an injection of 5 ml PGF2 after healing. The detection of estrus was performed twice a day following by artificial insemination (AI) about 10-16 hours after the onset of estrus. Determination of pregnancy was performed by ultrasonography (USG) on the 25th day after AI. The data obtained were analyzed descriptively. The results showed that all endometritis cows in KI and KII present estrous signs (100%). However, only one cow was recovered in K2, whereas in K1 did not. After AI, one pregnant cow was observed in KII (33.3%), while none of the pregnant cows was found in K1 (0.0%). It is concluded that the lugol treatment for endometritiss Aceh cows can improve the pregnancy rate.(Efektivitas larutan lugol untuk meningkatkan persentase kebuntingan pada sapi Aceh yang mengalami endometritis) ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian larutan lugol terhadap peningkatan persentase kebuntingan sapi Aceh yang mengalami RB. Dalam penelitian ini digunakan enam ekor sapi Aceh betina dewasa, umur 5-7 tahun, bobot badan 150-250 kg, sudah pernah beranak, dan didiagnosis mengalami endometritis. Seluruh sapi dibagi menjadi dua kelompok (n=3). Pada kelompok 1 (K1), sapi endometritis diterapi dengan 50 ml lugol 2% secara intra uteri dan setelah sembuh dilanjutkan dengan penyuntikan 5 ml PGF2. Sapi pada kelompok 2 (K2) hanya diinjeksi dengan 5 ml PGF2. Deteksi berahi dilakukan sebanyak dua kali per hari dan inseminasi buatan (IB) dilakukan sekitar 10-16 jam setelah awal berahi. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan dengan ultrasonografi (USG) pada hari ke-25 setelah IB. Data dianalisis secara deskriptif. Dari masing-masing kelompok, hanya satu ekor sapi pada K2 yang dinyatakan sembuh yaitu sapi pada kelompok kedua. Persentase sapi yang menjadi estrus pada kedua kelompok masing-masing adalah 100%. Dari tiga ekor sapi yang diinseminasi pada masing-masing kelompok, hanya satu ekor sapi pada K2 (33,3%) yang menunjukkan hasil positif bunting sedangkan pada K1 tidak terdapat sapi yang menunjukkan hasil positif (0,0%). Disimpulkan bahwa pemberian larutan lugol pada sapi Aceh yang mengalami endometritis dapat meningkatkan persentase kebuntingan sapi Aceh.
Pengaruh Pemberian PGF2 Sebelum Koleksi terhadap Peningkatan Kualitas Semen dan Level Testosteron Sapi Aceh Eka Meutia Sari; Saifan Nur; Mulkan Mulkan; Gholib Gholib; Cut Nila Thasmi; Tongku Nizwan Siregar
Jurnal Agripet Vol 21, No 1 (2021): Volume 21, No. 1, April 2021
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v21i1.17778

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian hormon PGF2 sebelum koleksi terhadap peningkatan kualitas semen dan level testosteron sapi Aceh di UPT. Hewan Coba Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan Maret 2019. Data hasil pemeriksaan kualitas semen dianalisis secara deskriptif. Dalam penelitian ini digunakan satu ekor sapi Aceh jantan sebagai kontrol dengan 2 perlakuan, yaitu P1 (tanpa pemberian PGF2 sebelum koleksi) dan P2 (pemberian PGF2 30 menit sebelum koleksi) dengan dosis 25 mg tiap perlakuan. Setiap perlakuan dilakukan sebanyak lima kali dan dilakukan secara bergantian setiap minggunya. Rata-rata volume (ml); konsentrasi (106 sel/ml); motilitas (%), viabilitas (%); abnormalitas (%); dan level testosteron (ng/ml) pada P1 vs P2 masing-masing adalah 5,21,30 vs 5,20,97 (P0,05); 145,436,58 vs 172,8 46,27 (P0,05); 63,876,44 vs 75,050,08 (P0,05); 69,300,22 vs 75,050,08 (P0,05); 16,900,08 vs 10,460,09 (P0,05); dan 28,0714,37 vs 24,196,11 (P0,05). Disimpulkan bahwa pemberian PGF2 30 menit sebelum koleksi dapat meningkatkan kualitas spermatozoa tetapi tidak dapat meningkatkan konsentrasi testosteron. (Case study the effect of giving pgf2 before the collection of the quality of Aceh cattle semen) ABSTRACT. This study aims to determine the effect of giving PGF2 hormone before collection to improve the quality of Acehnese semen in UPT. Hewan Coba Syiah Kuala University. This research was conducted from January to March 2019. Data on semen quality examination were analyzed descriptively. In this study, one Aceh cattle was used as a control with 2 treatments, namely P1 (without administration of PGF2 before collection) and P2 (administration of PGF2 30 minutes before collection) at a dose of 25 mg per treatment. Each treatment was carried out five times and carried out alternately every week. The results showed that the average volume of cement (ml) and pH P1 and P2 respectively 5.2 1.30 and 5.2 0.97, and 6.60.55 and 6.5 0.50. While the average concentration of spermatozoa (106 cells / ml) in P1 and P2 were 145.4 36.58 and 172.8 46.27 respectively. The average percentage (%) of progressive spermatozoa motility, circularity, non motility, viability, and abnormalities in P1 and P2 respectively: 63.87 6.44 and 73.63 9.42, 11.34 3, 70 and 9.0 7.01, 24.79 4.04 and 17.37 4.44, 69.30 0.22 and 75.05 0.08, 16.90 0.08 and 10.46 0.09. It was concluded that administration of PGF2 30 minutes before collection can increase the quality of spermatozoa but cannot increase the concentration of testosterone.
Efektivitas Pemberian Beberapa Preparat Hormon Prostaglandin Komersial terhadap Persentase Berahi Sapi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara Novika Ayuni Rambe; Tongku Nizwan Siregar; Teuku Armansyah TR; Gholib Gholib; Budianto Panjaitan; Mulyadi Adam; Dasrul Dasrul
Jurnal Agripet Vol 20, No 2 (2020): Volume 20, No. 2, Oktober 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i2.16317

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan PGF2 analog terhadap persentase berahi sapi di Labuhanbatu Selatan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil UPSUS SIWAB tahun 2017. Dalam penelitian ini digunakan data 2.547 ekor sapi yang memiliki variasi breed dan umur, dengan skor kondisi tubuh baik. Sapi-sapi dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan preparat sinkronisasi berahi yang digunakan. K1= kelompok sapi yang diinjeksi dengan 5 ml PGF2-1 (dinoprost tromethamine 5 mg/ml dan benzil alkohol 1,65%) berjumlah 1.300 ekor. K2= kelompok sapi yang diinjeksi dengan 5 ml PGF2-2 (dinoprost tromethamine 5,5 mg/ml dan benzil alkohol 12,0 mg/ml) berjumlah 600 ekor. K3= kelompok sapi yang diinjeksi dengan 2 ml PGF2-3 (cloprostenol 75 mg/ml dan chlorocresol 1,0 mg/ml) berjumlah 647 ekor. Penyuntikan dilakukan secara intramuskulus, dua kali dengan interval 10 hari. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann Withney. Hasil analisis menunjukkan persentase berahi pada kelompok 1; 2; dan 3 masing-masing 80,7%; 50% dan 61,8% (P0,01). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa PGF2-1 mempunyai efektivitas lebih baik dibandingkan PGF2-2 dan PGF2-3 dalam induksi sinkronisasi berahi pada sapi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara.(Effectiveness of different commercial prostaglandin hormone administration on the percentage of estrous in cattles in South Labuhanbatu, North Sumatera)ABSTRACT. The aim of this study was to determine the effect of differences PGF2 analogues on the percentage of estrus in cattles in South Labuhanbatu. The sample used in this study was the 2017 SIWAB UPSUS data. Data of 2,547 cattles with various breed and age as well as in good body condition scores were selected. The cattles were grouped into three data groups based on the hormone used for estrus synchronization. The cattles in data group I (1300 cows) were injected with 5 ml PGF2-1 (dinoprost tromethamine 5 mg/ml and benzyl alcohol 1.65%). The cattles in data group II (600 cows) were injected with 5 ml PGF2-2 (5.5 mg/ml dinoprost tromethamine and 12.0 mg/ml benzyl alcohol). The cattles in data group III (647) were injected with 2 ml of PGF2-3 (cloprostenol 75 g/ml and chlorocresol 1.0 mg/ml). Injections were carried out intramuscularly, twice at 10-day intervals. The data obtained were then analyzed Kruskal Wallis and continued with Mann Withney test. The results showed that the percentage of estrus in groups I; II; and III were 80.7%; 50% and 61.8% (P0.01). From the results of the study it can be concluded that Lutalyse has better effectiveness than Capriglandin and Sincrovall in the induction of synchronization estrus in cattle in South Labuhanbatu, North Sumatera.
Peningkatan Motilitas Spermatozoa Kambing Nubian Setelah Pemberian PGF2 dalam Pengencer Andromed Adhea Prestiya; Tongku Nizwan Siregar; Husnurrizal Husnurrizal; Sri Wahyuni; Eka Meutia Sari; Hafizuddin Hafizuddin; Budianto Panjaitan
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15509

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian PGF2 dalam pengencer semen komersial (Andromed) terhadap peningkatan motilitas spermatozoa kambing Nubian. Penelitian ini menggunakan sampel semen yang dikoleksi dari 3 ekor kambing Nubian berumur 2-3 tahun menggunakan vagina buatan dan dievaluasi kualitasnya secara makroskopis dan mikroskopis. Setelah dievaluasi, sampel semen ditambahkan pengencer Andromed lalu dibagi atas 3 kelompok perlakuan, yaitu: P1; P2; dan P3 yang masing-masing ditambahkan NaCl fisiologis; 37,5 g PGF2; dan 75 g PGF2. Seluruh sampel disimpan dalam refrigerator selama 4 jam dan dilakukan pemeriksaan motilitas spermatozoa. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam pola satu arah (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa motilitas spermatozoa (%) kambing Nubian pada P1; P2; dan P3 masing-masing adalah 26,335,5; 62,03,5; dan61,810,13 (P0,05). Disimpulkan bahwa penambahan PGF2 pada pengencer Andromed dapat meningkatkan motilitas spermatozoa kambing Nubian.(The improvement of sperm motility in Nubian goat after PGF2 administration in andromed semen diluents)ABSTRACT. The study aims to determine the administration effect of PGF2 in a commercial semen diluents (Andromed) on improvement of Nubian goat sperm motility. This study used semen samples that collected from three Nubian goats aged 2-3 using artificial vagina and their quality evaluated macroscopically and microscopically. After evaluated, semen samples were added with Andromed diluents then divided into three groups (P1, P2, and P3) where each group was then added with 0,9% physiologic NaCl, 37.5 g PGF2, and 75 g PGF2, respectively and stored in a refrigerator for 4 hours and subsequently spermatozoa motility was examined. The data obtained were analyzed by one-way analysis of variance (ANOVA) and followed by Duncan test. The results showed that the spermatozoa motility (%) of Nubian goats at P1, P2, and P3 were 26.335.5, 62.03.5, and 61.810.13, respectively. Based on the statistical tests showed that the administration of PGF2 at P2 and P3 had a significant effect (P0,05) on the motility of spermatozoa of Nubian goats, but the motility decreased in P1. The conclusion of this study is the addition of PGF2 to Andromed diluents can increase the motility of spermatozoa of Nubian goats.
Hubungan Kadar Progesteron pada Fase Awal Luteal dengan Kematian Embrio pada Sapi Aceh Budianto Panjaitan; Citra Chyntia Helwana; Nellita Meutia; Yusmadi Yusmadi; Tongku Nizwan Siregar; Dasrul Dasrul; Teuku Armansyah TR
Jurnal Agripet Vol 19, No 2 (2019): Volume 19, No. 2, Oktober 2019
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v19i2.14881

Abstract

ABSTRAK. Progesteron merupakan hormon yang berperan penting dalam proses pemeliharaan kebuntingan dan dihasilkan oleh corpus luteum. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kadar hormon progesteron pada fase awal luteal dengan kematian embrio pada sapi Aceh. Dalam penelitian ini digunakan empat ekor sapi betina dewasa berumur 3-5 tahun, bobot badan 150-250 kg, sehat secara klinis, dan memiliki reproduksi normal. Sapi disinkronisasi menggunakan 5ml prostaglandin F2 alfa (PGF2) dengan pola penyuntikan ganda berinterval 11 hari. Koleksi sampel darah untuk pengukuran konsentrasi progesteron dilakukan pada hari ke-5, 6, dan 7 pasca inseminasi. Pengukuran konsentrasi progesteron dilakukan menggunakan metode enzymelinked-immunoassay (ELISA), pemeriksaan kebuntingan dan kematian embrio menggunakan metode transrektal ultrasonografi pada hari ke-25 pasca inseminasi. Pemeriksaan diulang setiap 10hari sampai hari ke-55 pasca inseminasi. Puncak sekresi progesteron pada sapi bunting dengan embrio yang bertahan hidup terdapat pada hari ke-7 (2,082 ng/ml), pada sapi Late Embryonic Mortality (LEM) di hari ke-5 (8,209 ng/ml) dan pada sapi tidak bunting di hari ke-7 (3,0511,157 ng/ml). Sekresi progesteron sapi LEM pada hari ke-5 sampai dengan ke-7 cenderung menurun sedangkan pada sapi yang bertahan hidup cenderung meningkat.(Correlation between progesterone levels in early luteal phase and embryonic death in Aceh cattle)ABSTRACT. Progesterone is an important hormone that functions to maintain pregnancy and is produced by the corpus luteum. The aim of this study was to see a correlation between progesterone and the incidence of embryonic death in Aceh cattle. This study used four adult female cows, 3-5 years old, 150-250 kg body weight, clinically healthy, and have a normal reproduction. The synchronized with 5 ml prostaglandin F2 alfa hormone, and double injection pattern with 11-day intervals. The blood was collected for progesterone measurements on 5th, 6th, 7th day post artificial insemination. Measurement of progesterone concentration was carried out using an enzymelinked-immunoassay (ELISA), while pregnancy and embryo mortality was performed using the trans-rectal ultrasonography method on the 25th day after insemination. The examination was repeated every 10 days until day 55th after insemination. Progesterone secretion peaks in pregnant cows were on day 7th (2.082 ng/ml), in cattle Late Embryonic Mortality (LEM) on day 5th (8.209 ng/ml) and in cattle not pregnant on day 7th (3.0511.157 ng/ml). The pattern of LEM progesterone secretion on days 5th to 7th tends to decrease while those that survive tend to increase.
Tampilan Reproduksi Kambing Lokal Yang Mengalami Kombinasi Sinkronisasi Berahi Dengan Prostaglandin F2-Alfa dan KEhadiran Pejantan Tongku Nizwan Siregar
Jurnal Agripet Vol 2, No 2 (2001): Volume 2, No. 2, Oktober 2001
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v2i2.3149

Abstract

ABSTRACT.The objective of this study is to know the effectivity of oestrus syncronizination and male effect combination in local does. A research was carried out of ten healthy female local does, 2.5-3.5 years old and non in oestrus or gravid condition. Does are divided in to groups, which consist of 5 does. Oestrus was synchronize by intramuscular injection of 125 u cloprostenol (estroplan TM). The does were injected twice at on interval of 10 days. After second group introduce with one male while at first group without male ever. The second injection was accoplished after the does revealed the charactristic oestrus sign alliwed mating naturally. The percentage of does revealed oestrus after synchronize and male effect combination process (100% vs 100%) with onset of oestrus showed not significantly difference (38.4 9.37 vs 34.4 9.53). All female does were become gravid(100% vs 100%)with average of number of kids was notsignificantly (1.2 0.45 vs 1.8 0.45).
Freshwater Shrimp (Decapoda) in Aceh: A Promising Resource for Aquaculture Development Putra, Dedi Fazriansyah; Abbas, Muhammadar Abdullah; Siregar, Tongku Nizwan; Wowor, Daisy
Heca Journal of Applied Sciences Vol. 3 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Heca Sentra Analitika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60084/hjas.v3i2.316

Abstract

Freshwater shrimp of the genus Macrobrachium represent an underutilized resource in Aceh Province, Indonesia, despite the region’s rich freshwater ecosystems and the global economic value of shrimp aquaculture. This study presents the first integrative assessment of the aquaculture potential of 13 Macrobrachium species collected from 27 freshwater sites across Aceh. Species were evaluated using morphological identification, ecological field surveys, literature reviews, and key biological parameters, including egg size, larval development, salinity tolerance, and local consumption. Most species exhibited r-strategist reproductive traits and prolonged larval stages, requiring brackish or marine environments, which limited their suitability for closed freshwater systems. However, M. lanchesteri displayed abbreviated larval development and completed its life cycle in freshwater, making it a strong candidate for sustainable aquaculture. M. idae was assessed as moderately suitable due to extensive supporting literature and local use. These findings highlight both the constraints and opportunities for freshwater shrimp cultivation in Aceh, providing a foundation for future research and development in aquaculture diversification and local food security.
Co-Authors A, Aulanniam Abbas, Muhammadar Abdullah Abdul Harris Adhea Prestiya Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Ahsan, Muhammad Maulana Aisyah Fadillah Tunnisa Al Azhar Al-Azhar - Amalia Sutriana Amiruddin - Amiruddin A Amiruddin A Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amiruddin Andre Afriadi Rahman Andre Afriadi Rahman Anwar Anwar Anwar Anwar Arie Febretrisiana Aris munandar Aris Munandar Arman Sayuti Arman Sayuti Arman Sayuti Aulanni'am, Aulanni'am Azhar A, Azhar Azhari A Azhari A Azhari Azhari Bagus Setyawan Basuki B. Purnomo Basuki B. Purnomo Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan budianto panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Citra Chyntia Helwana Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi, Cut Nila Daffa Gustia Putra Akbar Daisy Wowor, Daisy Dasrul Dasrul Dasrul Dasrul Delli Lefiana Dewi Ratna Sari Dewi Ratna Sari Dian Masyitah Dian Nurcahaya Dian Nurcahaya Dwinna Aliza Dwinna Aliza Dwinna Aliza Eka Meutia Sari Eka Meutia Sari Eka Meutia Sari Elfi Satria Suryani Erdiansyah Rahmi Erdiansyah Rahmi Fadli A. Gani Farida Athaillah Fauziah Fauziah Fuza Khoiriah Gani, Fadli A. Gholib G, Gholib Gholib Gholib Gholib Gholib, Gholib Ginta Riady Ginta Riady Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin, H Hafnati Rahmatan Hamdan . Hamdan h Hamdan H Hamdan h Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdani H, Hamdani Hamny H, Hamny Hamny Hamny Hamny Sofyan Hasanuddin Hasanuddin Hermawaty Tarigan Hermawaty Tarigan, Hermawaty Herri alfian Herrialfian . Herrialfian H Herrialfian Herrialfian Husnur rizal Husnur rizal Husnurrizal Husnurrizal . Husnurrizal Husnurrizal Husnurrizal Husnurrizal Husnurrizal, Husnurrizal I. Ketut Mudite Adnyane, I. Ketut Mudite Idawati Nasution Idawati Nasution Iin Agustina Indah Kesuma Siregar Ira Khubairoh Marpaung Ira Khubairoh Marpaung, Ira Khubairoh Jalaluddi J Jalaluddi J Jalaluddin - Jannah, Raihatul Joharsyah J Joharsyah J, Joharsyah Juli Melia Juli Melia KARTINI ERIANI Ketut Adnyane Mudite Khairil Khairil Lilis Suryani M. Aris Widodo M. Aris Widodo Mahdi Abrar Mahdi Abrar Mauridatun Ramli Mefrianti Efendi Muhammad Adlim Muhammad Fathan Rizky Athallah Muhammad Hambal Muhammad Hambal Muhammad Jalaluddin Muhammad Jalaluddin, Muhammad Muhammad Rifki Muhammad Rifki Mulkan Mulkan Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam, Mulyadi Mulyadi M Mulyadi M, Mulyadi Muslim Akmal Muslim Akmal Muslim Akmal Muslim Akmal Nanda Yulian Syah Nazaruddin Nazaruddin Nellita Meutia Nellita Meutia, Nellita Novi Afriani Nur Afriani Nur Novika Ayuni Rambe Nuzul Asmilia Nuzul Asmilia Okta Hilda Kadar, Okta Hilda Putra, Dedi Fazriansyah R Roslizawaty R Roslizawaty, R Rahmandi r Rahmandi r Ramadhana, Cut Erika Rasmaidar . Rasmaidar Rasmaidar Razali Daud Razali Daud Razali Razali Reni Ayunanda Reni Ayunanda, Reni Riani Desky Rinidar R Rinidar R, Rinidar Riski Ananda, Riski Roslizawaty r Roslizawaty R Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty, Roslizawaty Rosmaidar Rosmaidar, Rosmaidar Rusli Sulaiman S Syafrudddin Saifan Nur Satria Tanjung Siti Rizki Hardyana Siregar Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Sugito Sugito Sugito Sugito Suriadi S Suriadi S, Suriadi Susi Darmayanti Sutiman B. Sumitro Syafruddin - Syafruddin S Syafruddin S Syafruddin s Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin, S T Armansyah, T T. Armansyah T. Armansyah Tanjung, Satria Taufiq Purna Nugraha, Taufiq Purna Teuku Armansyah Teuku Armansyah Tria Deviana Putri Triva Murtina Lubis Wahyuni, Sri Wenny Novita Sari Wida Puspita Arum Yezi Gita Rahayu Yusmadi Yusmadi YUSRA YUSRA Zainuddin Z Zainuddin Z ZK Abdurahman Baizal Zuhrawati Zuhrawati Zulkifli Z Zulkifli Z Zuraidawati -