Claim Missing Document
Check
Articles

INHIBIN B MENURUNKAN KONSENTRASI FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus): UPAYA PENGEMBANGAN KONTRASEPSI HORMON PRIA BERBASIS PEPTIDA Muslim Akmal; Aulanni’am A; M. Aris Widodo; Sutiman B. Sumitro; Basuki B. Purnomo; Tongku Nizwan Siregar; Muhammad Hambal; Amiruddin A; Syafruddin S; Dwinna Aliza; Arman Sayuti; Mulyadi Adam; T. Armansyah; Erdiansyah Rahmi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.745 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2788

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B terhadap penurunan konsentrasi follicle stimulating hormone (FSH) di dalamserum pada tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 24 ekor tikus putih berjenis kelamin jantan dengan strain Wistar berumur 4 bulan dengan bobot badan 150-200 g. Tikus-tikus dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu KK0, KP1, KP2, dan KP3, masing-masing kelompok terdiri atas 6 ekor. Kelompok KK0 merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan phosphate buffer saline (PBS), sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis berturut-turut 25, 50, dan 100 pg/ekor. Injeksi inhibin B dilakukan secara intraperitoneum sebanyak 5 kali selama 48 hari dengan interval waktu 12 hari. Injeksi pertama inhibin B dilarutkan dengan0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s complete adjuvant (FCA). Injeksi kedua sampai kelima, inhibin B dilarutkan dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s incomplete adjuvant (FICA). Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis,lalu darah dikoleksi langsung dari jantung dan didiamkan hingga didapatkan serum untuk pemeriksaan konsentrasi FSH dengan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan konsentrasi FSH secara nyata (P0,05) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut, inhibin B berpeluang untuk dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria hormon berbasis peptida.
KINERJA REPRODUKSI KAMBING LOKAL YANG DIINDUKSI SUPEROVULASI DENGAN ANTISERUM INHIBIN Hamdan h; Dian Nurcahaya; Tongku Nizwan Siregar; budianto Panjaitan; Husnur rizal
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 1 (2012): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.984 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i1.345

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian antiserum inhibin terhadap kinerja reproduksi kambing lokal. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor kambing betina lokal yang dibagi dalam 2 kelompok, kelompok kontrol dan perlakuan (KI dan KII), masing-masing terdiri atas 5 dan 7 ekor kambing. Seluruh kambing diinjeksi dengan 0,5 ml PGF2α (LutalyzeTM) secara intramuskulus, 2 kali injeksi dengan interval 10 hari. Pada kelompok perlakuan (KII), kambing diinjeksi dengan 500 μg antiserum inhibin pada hari ke-9 siklus dan diikuti penyuntikan 0,5 ml PGF2α 48 jam kemudian. Inseminasi dilakukan 10 jam setelah awal berahi dan diulang 12 jam kemudian. Parameter yang diamati adalah persentase berahi, kebuntingan, kelahiran, kelahiran kembar, jumlah anak total, dan jumlah anak per kelahiran. Hasil penelitian menunjukkan semua kambing (100%) pada kedua kelompok memperlihatkan berahi. Persentase kebuntingan pada KI dan KII masing-masing adalah 60,0 dan 57,1%. Angka kelahiran KI dan KII masing-masing adalah 100% dan persentase kelahiran kembar masing-masing adalah 0,0 dan 50,0%. Total jumlah anak pada KI dan KII masing-masing adalah 3 dan 6, dan rata-rata jumlah anak per kelahiran masing-masing adalah 1,0 dan 1,5 ekor. Perlakuan dengan antiserum inhibin dapat meningkatkan kinerja reproduksi kambing lokal.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK HIPOFISA SAPI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS AYAM PETELUR PADA FASE AKHIR PRODUKSI Amiruddin A; Tongku Nizwan Siregar; Azhari A; Jalaluddi J; Zulkifli Z; Andre Afriadi Rahman; Hamdan H
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.364 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1267

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penyuntikan dan dosis optimal ekstrak hipofisa sapi terhadap peningkatan produktivitas ayam petelur fase akhir produksi. Sebanyak 60 ekor ayam petelur berumur 22-44 bulan yang telah mengalami penurunan produksi sekitar 50-60% yang terdapat pada peternakan ayam petelur Jantho Farm, Aceh Besar digunakan dalam penelitian ini. Seluruh ayam dibagi 6 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri atas 10 ekor ayam petelur. Kelompok I, II, III, IV, V, dan VI masing-masing disuntik dengan 0,1 ml NaCl fisiologis, 15 IU PMSG; 0,1 ml ekstrak hipofisa sapi; 0,2 ml ekstrak hipofisa sapi; 0,3 ml ekstrak hipofisa sapi; dan 0,4 ml ekstrak hipofisa sapi. Injeksi dilakukan secara intramuskular pada otot dada setiap dua minggu sekali selama enam minggu.Total rata-rata produksi telur pada kelompok I; II; III; IV; V; dan VI masing-masing adalah 5,81+1,10; 4,28+1,04; 4,60+2,04; 5,43+1,45; 6,29+1,34; dan 5,74+1,17 butir. Total rata-rata berat telur pada kelompok I; II; III; IV; V; dan VI masing-masing adalah 65,27+1,61; 63,66+1,86; 65,38+3,51; 64,01+3,91; 66,20+1,67; dan 65,21+1,91 g sedangkan total rata-rata ketebalan cangkang telur pada kelompok I; II; III; IV; V; dan VI masing-masing adalah 0,43+0,02; 0,42+0,03; 0,43+0,02; 0,42+0,02; 0,43+0,02; dan 0,42+0,02 mm. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak hipofisa sapi dapat meningkatkan produktivitas ayam petelur pada fase akhir produksi dan dosis optimal ekstrak hipofisa adalah 0,3 ml.
STUDI HISTOKIMIA LEKTIN PADA SEL-SEL SPERMATOGENIK TESTIS MUNCAK (Muntiacus muntjak muntjak) (Lectin Histochemical Study of Testicular Spermatogenic Cells in Muntjak (Muntiacus muntjak muntjak)) Sri Wahyuni; Srihadi Agungpriyono; I. Ketut Mudite Adnyane; Hamny Hamny; Muhammad Jalaluddin; Gholib Gholib; Muslim Akmal; Mulyadi Adam; Dwinna Aliza; Tongku Nizwan Siregar
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 1 (2016): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.962 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i1.3396

Abstract

The objective of this study was to identify the type of specific glycoconjugates and its distribution in testicular spermatogenic cells in muntjak (Muntiacus muntjak muntjak) based on lectins histochemistry. An adult male muntjak aged 4-5 years old in hard antler period was used in this study. Testicular tissue was fixed in Bouin solution and processed histologically. Histochemistry method was performed using six types biotinylated lectins such as peanut agglutinin (PNA), soybean agglutinin (SBA), wheat germ agglutinin (WGA), ricinus communis agglutinin (RCA), concanavalin A (Con A), and ulex europaeus agglutinin I (UEA I) with 20 µg/ml of concentration for PNA lectins and 15µg/ml for other type of lectins. The results showed that glycoconjugates were detected by all type of lectins except UEA I in testicular spermatogenic cells with variation in distribution pattern and also the intensity of lectins binding. Glycoconjugates β-galactose, β-glucose, mannose, Nacetylgalactosamine, N-acetylglucosamine and sialic acid were stained intensely by lectins in golgy-cap phase and acrosomal phase of spermatids. Glycoconjugate N-acetylgalactosamine was the sugar residues which distributed abundantly that marked by positive reaction with PNA, SBA, and RCA lectins. In conclusion, glycoconjugates are detected in testicular spermatids cells of muntjak indicated that glycoconjugates have an important role in spermatogenesis particularly in spermiogenesis. Key words: glycoconjugates, lectins, spermatid, spermatozoa, muntjak
GAMBARAN INVOLUSI UTERUS KAMBING KACANG (Capra sp.) BERDASARKAN PENGAMATAN DENGAN ULTRASONOGRAFI TRANSKUTANEUS Ginta Riady; Tongku Nizwan Siregar; Juli Melia; Hamdan H; Reni Ayunanda
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.402 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2780

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran involusi uterus kambing kacang berdasarkan pengamatan dengan ultrasonografi (USG) transkutaneus. Hewan yang digunakan adalah 1 ekor kambing kacang betina pascapartus dengan status melahirkan normal dan melahirkan satu ekor anak. Kambing diperiksa dalam posisi berbaring (lateral recumbency). Pengamatan involusi uterus dilakukan setiap hari, dimulai dari hari pertama pascapartus sampai tidak ada lagi pengurangan diameter lumen kornua uterus. Pada hari pertama sampai hari ke-7, gambaran karunkula (hypoechoic), lokia (anechoic), lapisan miometrium, dan endometrium (hypoechoic) yang dipisahkan oleh lapisan pembuluh darah (anechoic) terlihat jelas dengan diameter lumen kornua uterus menurun dari 87,6 menjadi 52,8 mm. Pada hari ke-8 diameter lumen 45,4 mm menurun menjadi 38,4 mm pada hari ke-14. Lokia dan lapisan miometrium masih terlihat sedangkan lapisan pembuluh darah dan karunkula sudah tidak terlihat. Pada hari ke-15 diameter lumen 35,5 mm menurun menjadi 19,3 mm pada hari ke-20 dengan lapisan uterus, lokia, lapisan pembuluh darah, dan karunkula sudah tidak terlihat. Ukuran diameter lumen kornua uterus mengalami penurunan setiap hari dan berhenti mengalami penurunan pada hari ke-20 dengan diameter 19,3 mm. Penelitian ini memperlihatkan bahwa proses involusi uterus kambing dapat diamati dengan metode USG transkutaneus.
The Administration of Epididymis Extract Increased the Testosterone Concentration without Affects the Dihydrotestosterone Concentration in Local Male Goat Nanda Yuliansyah; Muslim Akmal; Tongku Nizwan Siregar; Sri Wahyuni; Mahdi Abrar; Syafruddin Syafruddin; Gholib Gholib; Farida Athaillah
The International Journal of Tropical Veterinary and Biomedical Research Vol 2, No 2 (2017): Vol. 2 (2) November 2017
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.671 KB) | DOI: 10.21157/ijtvbr.v2i2.9469

Abstract

This study was aimed to determine the effect of epididymis extract (EE) on the testosterone and dihydrotestosterone (DHT) level of local male goat. An experimental study was performed using a completely randomized design (CRD) pattern of one-way analysis of variance (ANOVA). 15 local male goats aged 1.5 years with body weight 14-16 kg were used in this study. The K0 group as a control group, injected with only 1 ml physiological saline, while each KP1, KP2, KP3, and KP4 groups treated with multilevel EE dose, ie 1, 2, 3, and 4 ml / goat for 13 consecutive days. At the end of treatment (day 14th), testes, epididymis (caput, corpus, and cauda) and ductus deferens samples were taken through the close-castration method for examining the testosterone and DHT concentration by using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) technique. Data gathered were later analyzed using ANOVA followed by Tukey’s HSD in SPSS 16.0 for Windows. The result showed that the average concentration of testosterone on K0, KP1, KP2, KP3, and KP 4 in testis respectively were 10.00±2.64 ng/ml; 7.66±2.51 ng/ml; 10.00±6.55 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 11.66±7.37 ng/ml; caput epididymis; 5.00±1.73 ng/ml; 2.33±1.52 ng/ml; 5.00±2.64 ng/ml; 1.33±0.57 ng/ml; 5.66±1.15 ng/ml; corpus epididymis; 1.33±0.57 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 4.00±2.64 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 4.33±2.30 ng/ml; cauda epididymis: 1.00±0.00 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 1.66±0.57 ng/ml; 1.00 ± 0.00 ng/ml; 2.00±1.73 ng/ml; ductus deferens: 3.66±2.51 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 3.00±1.00 ng/ml; 1.00±0.00 ng/ml and 3.66±1.15 ng/ml. While the average concentration of DHT on K0, KP1, KP2, KP3, and KP 4 in testis respectively; 10.00±2.64 ng/ml; 7.66±2.51 ng/ml; 10.00±6.55 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 11.66±7.37 ng/ml; caput epididymis; 5.00±1.73 ng/ml; 2.33±1.52 ng/ml; 5.00±2.64 ng/ml; 1.33±0.57 ng/ml; 5.66±1.15 ng/ml; corpus epididymis; 1.33±0.57 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 4.00±2.64 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 4.33±2.30 ng/ml; cauda epididymis: 1.00±0.00 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 1.66±0.57 ng/ml; 1.00 ± 0.00 ng/ml; 2.00±1.73 ng/ml; ductus deferens: 3.66±2.51 ng/ml; 0.66±0.57 ng/ml; 3.00±1.00 ng/ml; 1.00±0.00 ng/ml and 3.66±1.15 ng/ml. Statistical analysis showed that the administration of EE only increased testosterone concentration in testes had significant effect (P 0.05). From this study, it can be concluded that the EE has the potential to improve spermatogenesis and sperm quality through increasing the testosterone concentration in the local male goats.
6. Administration of Centella Leaf Extract (Centella asiatica (L.) Urban) for Decreasing cAMP Responsive Element Modulator (CREM) Expression in Testicular Seminiferous Tubule of Male Rats (Rattus norvegicus) Susi Darmayanti; Sri Wahyuni; Muslim Akmal; Tongku Nizwan Siregar; Sugito Sugito
The International Journal of Tropical Veterinary and Biomedical Research Vol 1, No 2 (2016): Vol. 1 (2) November 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.092 KB) | DOI: 10.21157/ijtvbr.v1i2.6689

Abstract

The objective of this study was to determine the effect of centella leaf extract administration on decreased of the molecule cAMP responsive element modulator (CREM) expression in the testicular seminiferous tubules of male rats (Rattus norvegicus). Eight rats, aged 3.5 months with 150-250 grams of body weight (BW) were used in this study. All rats were divided randomly into four groups as if K0 as a control group whereas K1, K2, and K3 were given the centella leaf extract with doses 125, 250, and 500 mg / kg body weight respectivelly that given once daily for 30 days. At the end of the treatment, rats were sacrificed and their testes were collected and subsequently fixed in buffered neutral formalin (BNF) 10% as fixative solution for histological preparation. The CREMs expressions were detected using immunohistochemical methods. The results showed that the number of CREM expression in the seminiferous tubules significantly differ (P 0.05) between K0 and the treatment group (K1, K2, and K3). Conclusion, the administration of centella leaf extract with of the dose 125, 250, and 500 mg/kg BW can decreased CREM expression spermatids of testicular seminiferous tubules in male rat.
Respons Ovarium Kelinci Lokal Bunting Semu yang diinduksi dengan Kopulasi Tiruan Syafruddin Syafruddin; Bagus Setyawan; Mulyadi Adam; Roslizawaty Roslizawaty; Tongku Nizwan Siregar
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.21834

Abstract

Kelinci bunting semu diperlukan untuk kegiatan yang berkaitan dengan mekanisme endokrinologi, terapi, dan transplantasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui keberhasilan induksi bunting semu dengan metode kopulasi tiruan pada kelinci lokal. Penelitian ini mwnggunakan sembilan ekor kelinci betina lokal dan satu ekor kelinci jantan lokal, berumur 1–1,5 tahun, dan bobot badan 1,8–2,2 kg yang dibagi  dalam tiga kelompok perlakuan (n= 3), yakni, kelompok kelinci yang diinjeksi dengan 0,1 mL NaCl fisiologis dan tanpa perkawinan (K1, kontrol negatif), kelinci yang mendapat induksi dengan kopulasi tiruan (K2), dan kelinci yang mendapatkan injeksi 100 IU PMSG secara intramuskuluar dan dikawinkan dengan pejantan tiga hari kemudian dan diikuti dengan injeksi 75 IU hCG secara intravena (K3, kontrol positif). Hasil penelitian diamati jumlah dan ukuran folikel serta korpus luteum dengan pemeriksaan histologis menggunakan pewarnaan HE. Jumlah folikel pada kelompok K1; K2; dan K3 masing-masing adalah 5,9 ± 1,45; 0,63 ± 0,35; dan 2,06 ± 1,50 (P <0,05). Pada kelompok K1, tidak terdapat kelinci yang ovulasi. Namun, pada kelompok K2 dan K3 seluruh kelinci berhasil ovulasi. Pada kelompok K2 dan K3 yang berhasil ovulasi, terdapat perbedaan yang signifikan (P <0,05), yaitu jumlah korpus luteum pada K2 (4,83 ± 2,65) dan pada K3 (7,63 ± 0,57), sedangkan ukuran korpus luteum pada K2 adalah 0,68 ± 0,20 dan pada K3 adalah 1,38 ± 0,16 mm. Disimpulkan bahwa kopulasi tiruan dapat menginduksi bunting semu pada kelinci lokal.AbstractPseudo-pregnant rabbits are required for activities related to endocrinology, therapy, and transplantation mechanisms. This study aims to determine the success of pseudopregnancy induction with artificial copulation methods in local rabbits. In this study, 9 local female rabbits and 1 local male rabbit aged 1–1.5 years-old and 1.8–2.2 kg body weight were used, which were divided into three treatment groups (n= 3). The rabbit in group K1 (negative control) were injected with 0.1 mL of physiological NaCl and were not mated. The rabbits in K2 were induced with artificial copulation by inserting a cotton bud of 1 cm into vagina at five o'clock in the morning, while the rabbits in K3 (positive control) received injection of 100 IU PMSG intramuscularly and mated with males three days post injection and then followed by injection of 75 IU hCG intravenously. The number and size of follicles and corpus luteum were determined by histological examination with HE staining. The number of follicles in the K1 group; K2; and K3 were 5.9 ± 1.45; 0.63 ± 0.35; and 2.06 ± 1.50, respectively (P <0.05). There was no ovulation observed at rabbit in K1 but all rabbits ovulated successfully in K2 and K3. The number of CL (4.83 ± 2.65 and 7.63 ± 0.57) and the size of CL (0.68 ± 0.20 and 1.38 ± 0.16 mm) were significantly difference (P <0.05) in groups K2 and K3, respectively. It was concluded that artificial copulation could induce pseudopregnancy in local rabbits.
PENGARUH PEMBERIAN GETAH BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) DAN POVIDONE IODINE TERHADAP KESEMBUHAN LUKA KASTRASI PADA KUCING (Felis domestica) JANTAN Amiruddin -; Syafruddin -; Zuraidawati -; Riani Desky; Tongku Nizwan Siregar; Arman Sayuti; Abdul Harris
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2994

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian getah buah pepaya (Carica papaya, L.) dan povidone iodine terhadap kesembuhan luka kastrasi pada kucing (Felis domestica) jantan. Penelitian ini menggunakan enam ekor kucing yang dibuat luka kastrasi, dibagi dalam dua kelompok perlakuan. Kelompok I (K1) dioleskan dengan getah buah pepaya dan Kelompok II (K2) dioleskan povidone iodine dua kali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Parameter yang diamati adalah kesembuhan luka dengan memperhatikan tingkat kemerahan pada luka, kebengkakan, cairan radang, dan pertautan tepi luka. Pengamatan dilakukan setiap hari dan data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka kastrasi pada K1 lebih cepat sembuh yaitu pada hari ke 4-5 dibandingkan K2 yaitu pada hari 6-7. Getah buah pepaya bisa dijadikan alternatif pengobatan tradisional dalam penyembuhan luka terutama luka sayat.
ANGKA KEBUNTINGAN SAPI LOKAL SETELAH DIINDUKSI DENGAN PROTOKOL OVSYNCH (Conception Rates of Local Cows after Induction with Ovsynch Protocols) Mefrianti Efendi; Tongku Nizwan Siregar; Hamdan Hamdan; Dasrul Dasrul; Cut Nila Thasmi; Razali Razali; Arman Sayuti; Budianto Panjaitan
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 2 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i2.3804

Abstract

This study aims to know the effect of estrus synchronization using ovsynch method on local cow pregnancy rate. This study used 10 local cows without pregnant status and clinically healthy. All cows were divided into 2 treatment groups. Cows in group I (K1) were synchronized estrus using 5 mg/ml PgF2α intramuscularly with multiple injection patterns with intervals of 10 days. Group II (KII) was synchronized by ovsynch protocol, initiated with injection of 1ml GnRH on day-0. On the 7th day, the whole cows in K II were injected with 2 ml PgF2α then followed by re-injected with 1 ml of GnRH on the 9th day. Artificial insemination was performed 24 hours after GnRH last injection. The data were analyzed descriptively. The results showed that 3 cows in group I were diagnosed pregnant (60%), whereas in group II, 4 cows werediagnosed pregnant (80%). In conclusion, the estrus synchronization with ovsynch protocols provide a higher pregnancy rate than the conventional estrus synchronization.Key words: synchronization, ovsynch, GnRH, PgF2α
Co-Authors A, Aulanniam Abbas, Muhammadar Abdullah ABDELBAGI, MOHAMMED AHMED ELSHAREF Abdul Harris Adhea Prestiya Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Ahsan, Muhammad Maulana Aisyah Fadillah Tunnisa Akbar, Daffa Gustia Putra Al Azhar Al-Azhar - Amalia Sutriana Amiruddin - Amiruddin A Amiruddin A Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amiruddin Andre Afriadi Rahman Andre Afriadi Rahman Anwar Anwar Arie Febretrisiana, Arie Aris munandar Aris Munandar Arman Sayuti Arman Sayuti Arman Sayuti Aulanni'am, Aulanni'am Azhar A, Azhar Azhari A Azhari A Azhari Azhari Bagus Setyawan Basuki B. Purnomo Basuki B. Purnomo Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan budianto panjaitan Budianto Panjaitan Citra Chyntia Helwana Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi, Cut Nila Daisy Wowor, Daisy Dasrul Dasrul Dasrul Dasrul Delli Lefiana, Delli Dewi Ratna Sari Dewi Ratna Sari Dian Masyitah Dian Nurcahaya Dian Nurcahaya Dwinna Aliza Dwinna Aliza Dwinna Aliza Eka Meutia Sari Eka Meutia Sari Eka Meutia Sari Elfi Satria Suryani Erdiansyah Rahmi Erdiansyah Rahmi Fadli A. Gani Farida Athaillah Fauziah Fauziah Fuza Khoiriah Gani, Fadli A. Gholib G, Gholib Gholib Gholib Gholib Gholib, Gholib Ginta Riady Ginta Riady Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin, H HAFIZUDDIN, UMAR PUTEH Hafnati Rahmatan Hamdan . Hamdan h Hamdan h Hamdan H Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdani H, Hamdani Hamny H, Hamny Hamny Hamny Hamny Sofyan HANUM, FARAH FARIDA Hasanuddin Hasanuddin Hermawaty Tarigan Hermawaty Tarigan, Hermawaty Herri alfian Herrialfian . Herrialfian H Herrialfian Herrialfian Herrialfian, Herrialfian Husnur rizal Husnur rizal Husnurrizal Husnurrizal . Husnurrizal Husnurrizal Husnurrizal, Husnurrizal I. Ketut Mudite Adnyane, I. Ketut Mudite Idawati Nasution Idawati Nasution Iin Agustina Indah Kesuma Siregar Ira Khubairoh Marpaung Ira Khubairoh Marpaung, Ira Khubairoh Jalaluddi J Jalaluddi J Jalaluddin - Jannah, Raihatul Joharsyah J Joharsyah J, Joharsyah Juli Melia Juli Melia KARTINI ERIANI Ketut Adnyane Mudite Khairil Khairil Lilis Suryani M. Aris Widodo M. Aris Widodo Mahdi Abrar Mahdi Abrar Mauridatun Ramli Mefrianti Efendi Muhammad Adlim Muhammad Fathan Rizky Athallah Muhammad Hambal Muhammad Hambal Muhammad Jalaluddin Muhammad Jalaluddin, Muhammad Muhammad Rifki Muhammad Rifki Mulkan Mulkan Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam, Mulyadi Mulyadi M Mulyadi M, Mulyadi Muslim Akmal Muslim Akmal Muslim Akmal Muslim Akmal Nanda Yulian Syah Nazaruddin Nazaruddin Nellita Meutia Nellita Meutia, Nellita Novi Afriani Nur Afriani Nur Novika Ayuni Rambe Nuzul Asmilia Nuzul Asmilia Okta Hilda Kadar, Okta Hilda Putra, Dedi Fazriansyah R Roslizawaty R Roslizawaty, R Rahmandi r Rahmandi r Ramadhana, Cut Erika Rasmaidar . Rasmaidar Rasmaidar Razali Daud Razali Daud Razali Razali Reni Ayunanda Reni Ayunanda, Reni Riani Desky rina aulia barus Rinidar R Rinidar R, Rinidar Riski Ananda, Riski Roslizawaty r Roslizawaty R Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty, Roslizawaty Rosmaidar Rosmaidar, Rosmaidar Rusli Sulaiman S Syafrudddin Saifan Nur Satria Tanjung Siti Rizki Hardyana Siregar Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Sugito Sugito Sugito Sugito Suriadi S Suriadi S, Suriadi Susi Darmayanti Sutiman B. Sumitro Syafruddin - Syafruddin s Syafruddin S Syafruddin S Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin, S T Armansyah, T T. Armansyah T. Armansyah Tanjung, Satria Taufiq Purna Nugraha, Taufiq Purna Teuku Armansyah Teuku Armansyah Tria Deviana Putri Triva Murtina Lubis Wahyuni, Sri Wenny Novita Sari Wida Puspita Arum Yezi Gita Rahayu Yusmadi Yusmadi Yusmadi Yusmadi YUSRA YUSRA Zainuddin Z Zainuddin Z ZK Abdurahman Baizal Zuhrawati Zuhrawati Zulkifli Z Zulkifli Z Zuraidawati -