Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN KINERJA BERAHI KAMBING KACANG DAN KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) YANG MENGALAMI INDUKSI BERAHI DENGAN PGF2 ALFA (Comparison of Estrous Performance between Kacang and PE Goats Following Estrous Induction with PGF2 Alpha) Syafruddin Syafruddin; Juli Melia; Teuku Armansyah; Tongku Nizwan Siregar; Siti Rizki Hardyana Siregar; Ginta Riady; Dasrul Dasrul; Budianto Panjaitan; Hamdan Hamdan
Jurnal Medika Veterinaria Vol 10, No 1 (2016): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v10i1.4040

Abstract

The experiment was conducted to compare estrous performance between kacang and PE goats after estrous inducted with PGF2 alpha (PGF2α). Fifteen female goats were used in this study and divided into two groups. Characteristics of goat used are clinically healthy, never giving birth, 1,5-3,0 years of age, and have undergone at least two times the regular cycle. Group I (KI) consisted of 10 kacang goats and group II (KII) consisted of 5 PE goats. All goats in both groups were estrous synchronized with 1 ml PGF2a intramuscularly. Estrous observation was done visually three times a day at 8 a.m., 12 p.m., and 4 p.m. Assessment of estrous intensity based on scoring method. The data of intensity and onset were analyzed by Mann Whitney test and estrous duration analyzed by t test. The result showed that intensity, onset, and duration of estrous in KI vs KII were 2.47±0.21 vs 2.25±0.00, 38.20±2.39 vs 84.40±8.53 hours, and 40.40±2.27 vs 46.40±4.56 hours respectively. It concluded that there was different estrous performance between kacang and PE goats following estrous synchronized with PGF2α.
EFEK PEMBERIAN EKSTRAK HIPOFISA SAPI TERHADAP RESPONS SUPEROVULASI SAPI ACEH Wida Puspita Arum; Tongku Nizwan Siregar; Juli Melia
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 2 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i2.2932

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek pemberian ekstrak hipofisa sapi terhadap peningkatan  jumlah korpus luteum dan embri o sapi. Tiga ekor sapi aceh betina digunakan dalam penelitian ini dengan status tidak bunting, minimal 2 bulan pascapartus, umur 3-5 tahun, sudah pernah beranak, dan sehat secara klinis. Seluruh sapi diinjeksi dengan ekstrak hipofisa pada hari ke-9, 10, dan 11 siklus estrus dengan dosis menurun  yaitu 10, 8, dan, 6 ml secara intramuskular  pada beberapa titik lokasi  penyuntikan dan diikuti dengan penyuntikan 0,5 ml prostaglandin F2-alfa (PGF2α, Prostavet®., Virbac S.A) 24 jam kemudian. Sapi diinseminasi pada saat puncak berahi  (diam dinaiki pejantan) dan diulang 24 jam kemudian. Koleksi embrio dilakukan pada hari ke-7 setelah inseminasi secara non-surgical menggunakan kateter Foley. Parameter yang diamati adalah jumlah korpus luteum  dan embrio. Data hasil penelitian dilaporkan secara deskriptif. Rata-rata tiap ekor sapi menghasilkan 4 korpus luteum sedangkan persentase perolehan embrio adalah 25% dengan jumlah embrio layak transfer sebanyak 1. Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak hipofisa dapat meningkatkan respons superovulasi sapi aceh
PENGARUH PEMBERIAN PMSG DAN HCG TERHADAP PENINGKATAN JUMLAH KELAHIRAN HAMSTER CAMPBELL (Phodopus campbelli) (Effect of PMSG and hCG to Increase Birth Number in Campbell’s Hamsters (Phodopus campbelli)) Novi Afriani Nur Afriani Nur; Tongku Nizwan Siregar; Hamdan Hamdan; Idawati Nasution; Cut Nila Thasmi; Dasrul Dasrul
Jurnal Medika Veterinaria Vol 10, No 1 (2016): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v10i1.4041

Abstract

The aim of this study was to determine the effect of superovulation induction through Pregnant Mare’s Serum Gonadotropin (PMSG) and Human Chorionic Gonadotropin (hCG) injection to increased birth number in Campbell’s hamsters (Phodopus campbelli). This study used 10 unpregnant female Campbell’s hamster, aged 4-6 months, weighing of 25-30 grams. Hamsters were divided into K1 and K2, each consist of five hamsters. K1 injected with 1 ml physiologic NaCl, while K2 intraperitoneally injected with PMSG and hCG in 5 IU. Mating was held after injection. Male and female hamsters were put in one box with ration of 1:1. The observation of vagina plug was done in order to confirm whether the mating successes or not. The average amount of fetus birth through superovulation on K1 and K2 were 3.40±1.3 and 7.80±1.1, respectively. In conclusion, the superovulation induction using the combination of PMSG and hCG increase birth number on Campbell’s hamsters.
PROSES REGRESI CORPUS LUTEUM SAPI ACEH YANG DISINKRONISASI ESTRUS MENGGUNAKAN PROSTAGLANDIN F2 ALFA (PGF 2α) Juli Melia; Delli Lefiana; Tongku Nizwan Siregar; Jalaluddin -
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 1 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i1.2923

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui lama waktu proses regresi corpus luteum (CL) menggunakan teknik ultrasonografi (USG) pada sapi aceh yang disinkronisasi estrus dengan prostaglandin F2 alfa (PGF2α) secara intramuskular. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 ekor sapi aceh yang telah didiagnosis sehat secara reproduksi, umur 5-8 tahun, bobot badan 250-350 kg, dan mempunyai minimal 2 siklus regular dengan skor kondisi tubuh 3-4 pada skala skor 5. Pada hari ke-1 dilakukan diagnosis keberadaan CL, kemudian pada hari ke-2 dilakukan penyuntikan 25 mg PGF 2α secara intramuskular, dan pada hari ke-3 sampai hari ke-5 dilakukan pengamatan regresi CL. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk rataan dan simpangan baku. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rataan diameter CL setelah penyuntikan PGF2α masing-masing adalah 6,25±2,71; 4,50±1,77; 3,25±0,89 mm. Gambaran proses regresi CL yang diamati menggunakan USG mengalami penurunan dari hari ke-1 sampai hari ke-3 setelah penyuntikan dan akan diikuti dengan ovulasi. Dapat disimpulkan bahwa PGF2α  melisiskan CL selama tiga hari sampai terjadinya peristiwa ovulasi.
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS ESTRUS DENGAN KONSENTRASI ESTRADIOL PADA SAPI ACEH PADA SAAT INSEMINASI (Relation between Estrous Intensity and Estradiol Concentration on Local Cattle during Insemination) Mauridatun Ramli; Tongku Nizwan Siregar; Cut Nila Thasmi; Dasrul Dasrul; Sri Wahyuni; Arman Sayuti
Jurnal Medika Veterinaria Vol 10, No 1 (2016): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v10i1.4032

Abstract

This study aims to determine the relationship between the intensity of estrus and estradiol concentrations during insemination on local cattle. Ten cows were divided into two groups with each group consist of five cows with category: aged 5-8 years, weight 150-250 kg, clinically healthy, and not pregnant. Plasma samples for examination of the hormone estradiol concentrations were collected during insemination time from jugular vein. Prior to the collection of plasma samples, whole cow were estrus synchronized using prostaglandin F2 alpha (PGF2α) and Ovsynch protocol. The PGF2α were injected twice at intervals of 11 days. Examination of estradiol hormone concentration was performed with enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) using estradiol commercial kits. The results of this study indicate that statistically there is no relationship between estrous intensity and estradiol concentration.
Pemodelan Matematik untuk Menentukan Faktor-faktor Penyebab Repeat Breeding pada Sapi Aceh Sayuti, Arman; Cut Nila Thasmi; Tongku Nizwan Siregar; Husnurrizal; Sri Wahyuni
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.34-42

Abstract

Penelitian ini bertujuan membuat pemodelan untuk diagnosis repeat breeding (RB) pada sapi aceh berdasarkan intensitas estrus, profil hormonal, profil biokimia darah, dan jumlah infeksi bakteri pada saluran uterus. Hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah 16 ekor sapi aceh yang terdiri atas 7 ekor sapi aceh fertil dan 9 ekor sapi aceh RB, yang berumur 3-8 tahun dengan skor kondisi tubuh (BCS) 3-4. Seluruh sapi aceh fertil dan RB dilakukan sinkronisasi estrus menggunakan hormon PGF2α dengan pola penyuntikan ganda dengan interval 11 hari. Setelah penyuntikan PGF2α, intensitas estrus diamati 3 kali sehari yakni pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 WIB, masing-masing pengamatan selama 20 menit. Koleksi serum dilakukan pada pagi hari (jam 07.00-09.00 WIB). Koleksi serum dilakukan untuk pemeriksaan kadar hormon estradiol dan progesteron menggunakan teknik enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Selain itu, sampel darah juga digunakan untuk pemeriksaan profil biokimia darah. Koleksi sampel bakteri dilakukan dengan metode swab uterus. Hasil pemodelan diagnosis RB pada sapi aceh diperoleh model matematis regresi linear sebagai berikut : Y= a + bX1 + bX2 .............+ bX11S/C = -5.28 + 1,27X1 - 0,69X2 - 0,99X3 - 0,23X4 + 2,28X5 – 0,53X6 + 0,71X7 - 0,29X8 + 0,09X9 + 3,04X10 Berdasarkan hasil dari pemodelan diagnosis RB pada sapi aceh menunjukkan bahwa penyebab utama RB pada sapi aceh adalah infeksi bakteri pada uterus yang kemungkinan mengakibatkan sapi tersebut mengalami stres yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Selain itu, RB pada sapi aceh juga dipengaruhi oleh ketidakseimbangan nutrisi dan hormonal yang mengakibatkan intensitas estrus menjadi rendah.
Amelioration of Seminal Plasma Testosterone Concentration in Gembrong Goats after In Vivo Administration of PGF2α Hafizuddin, Hafizuddin; Husnurrizal, Husnurrizal; Siregar, Tongku Nizwan; Eriani, Kartini; Wahyuni, Sri; Ahsan, Muhammad Maulana; Sutriana, Amalia; Anwar, Anwar; Aliza, Dwinna
Jurnal Medik Veteriner Vol. 6 No. 2 (2023): October
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmv.vol6.iss2.2023.256-261

Abstract

The semen quality of Gembrong goats is lower than other goats and may be related to the low concentration of testosterone hormone. Implementation of reproductive technology using prostaglandin F2α (PGF2α) hormone is beneficial to increase the testosterone hormone in Gembrong goats. This study aimed to determine the effect of PGF2α injection on increasing testosterone levels in Gembrong goats. Male Gembrong goats (n=4), aged 2.5-4 years with similar body condition scores (BCS=3) were used in this study. Goats were divided into two treatment groups (n=2). Goats in group 1 (G1) were injected intramuscularly with 1 ml PGF2α (75 μg), while those in group 2 (G2) were injected with 1 ml physiological NaCl. Semen collection was carried out 30 minutes after treatment using an artificial vagina. Testosterone levels were measured using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). The collected data was tabulated and analyzed descriptively. The results showed that the average testosterone concentration of G1 was higher than G2 with respective concentrations of 6.41 ± 0.70 and 2.81 ± 1.75 ng/ml. It was concluded that administration of PGF2α in vivo could increase testosterone concentration in Gembrong goats.
Perubahan Morfologi dan Morfometri Saluran Reproduksi Kelinci Lokal Bunting Semu Hasil Induksi Menggunakan GnRH Sri Wahyuni; Syafruddin Syafruddin; Muhammad Fathan Rizky Athallah; Tongku Nizwan Siregar; Mulyadi Adam; Roslizawaty Roslizawaty
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.25377

Abstract

ABSTRACT. Bunting semu pada kelinci dapat terjadi karena adanya induksi secara hormonal dan stimulasi fisik yang dapat menyebabkan perubahan pada morfologi saluran reproduksi. Salah satu metode induksi bunting semu adalah melalui injeksi GnRH. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perubahan terhadap anatomi dan histologi saluran reproduksi pada kelinci lokal bunting semu yang diinduksi dengan penyuntikan GnRH. Dalam penelitian ini digunakan sembilan ekor kelinci betina lokal, berumur 1-2 tahun dengan bobot badan 1,8-2,2 kg. Kelinci yang dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan (n=3) yakni K1, K2, dan K3. Kelompok K1 (kontrol negatif), diinjeksi dengan 0,1 ml NaCl fisiologis tanpa perkawinan; K2 (kontrol positif), kelinci diinduksi dengan 100 IU PMSG, tiga hari kemudian dikawinkan dan diinjeksi 75 IU hCG; dan K3, kelinci diinduksi dengan penyuntikan 5 g GnRH secara intravena. Pada hari ke-8 setelah perlakuan seluruh kelinci disembelih lalu saluran reproduksi diambil untuk pengamatan morfologi dan morfometri oviduk, kornua uteri, serviks uteri dan vagina lalu diproses secara histoteknik dan diwarnai dengan pewarnaan hematoksilin dan eosin untuk pengamatan histologi dan histomorfometri. Panjang oviduk, kornua, dan vagina kelinci memperlihatkan perbedaan yang nyata (P0,05) antar K1 dan K2 dengan K3. Ketebalan lapisan muskularis ampula, lamina propia isthmus, lamina muskularis isthmus, tunika serosa isthmus memperlihatkan perbedaan yang nyata (P0,05) antara K1 dan K2 dengan K3. Tebal lapisan endometrium kornua uterus K2 berbeda sangat nyata (P0,05) dengan K3, namun tidak berbeda nyata (P0,05) dibandingkan K1. Lapisan serosa serviks uteri K1 dan K2 berbeda sangat nyata (P0,05) dengan K3. Histomorfometri vagina kelinci menunjukkan perbedaan yang nyata (P0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa induksi GnRH tidak menyebabkan perubahan morfologi dan morfometri saluran reproduksi kelinci lokal pada hari ke-8 setelah induksi.(Morphology and morphometry changes of reproductive tract in the pseudo pregnant doesusing GnRH)ABSTRAK. Pseudopregnancy in rabbits can occur due to hormonal induction and physical stimulation that can cause changes in the morphology of the reproductive tract. One method of hormonal induction is GnRH injection. This study aimed to determine the anatomical and histological changes of the reproductive tract in pseudo pregnant local rabbits induced by injection of GnRH. In this study, nine local female rabbits, aged 1-2 years with a body weight of 1.8-2.2 kg, were divided into three treatment groups (n=3), namely, K1 (negative control): injected with 0.1 ml of physiological NaCl without mating, K2 (positive control): injected with 100 IU PMSG and then mated with male rabbits after three days of injection and followed by injection of 75 IU Hcg; K3 injection 5g of GnRH intravena route. On the day-8 after treatment, all rabbits were slaughtered and the reproductive tract was collected for morphological and morphometric observation of the oviduct, uterine horn, uterine cervix, and vagina, and then processed histotechnically and stained with hematoxylin and eosin for histological and histomorphometric observation. The length of oviduct, uterine horn and vagina showed significant different (P0.05) between K1 and K2 with K3. The thickness of the lamina muscularis of ampulla, lamina propia of isthmus, lamina muscularis of isthmus, tunica serous of isthmus showed significant different (P0.05) between K1 and K2 with K3.The thickness of the endometrium of uterine horn was significant different (P0.05) between K2 and K3, but not significantly different (P0.05) with K1. The thickness of tunica serous of servical uterine K1 and K2 was significant different (P0.05) with K3. Vaginal histomorphometry of rabbits was not significantly different (P0.05). It can be concluded that the induction of GnRH did not changes the morphology and histology of the reproductive tract in the local rabbits on the day-8 after treatment.
The Effectiveness of Lugol on the Increasing of Pregnancy Rate in Aceh Cow with Endometritis Amalia Sutriana; Arman Sayuti; Budianto Panjaitan; Teuku Armansyah TR; Aisyah Fadillah Tunnisa; Juli Melia; Tongku Nizwan Siregar; Hafizuddin Hafizuddin; Dwinna Aliza
Jurnal Agripet Vol 21, No 2 (2021): Volume 21, No. 2, Oktober 2021
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v21i2.18513

Abstract

ABSTRACT. The objective of this study was to determine the effect of lugol on the increasing the pregnancy rate in repeat breeding (RB) Aceh cows due to endometritis. This study used six endometritiss cows, aged 5-7 years, weighed 150-250 kg which were divided into two groups (n=3), KI and KII. The cows in group 1 (K1) were injected with 5 ml PGF2, while the cows in group 2 (KII) were treated with 50 ml of 2% lugol intra-uterine and continued with an injection of 5 ml PGF2 after healing. The detection of estrus was performed twice a day following by artificial insemination (AI) about 10-16 hours after the onset of estrus. Determination of pregnancy was performed by ultrasonography (USG) on the 25th day after AI. The data obtained were analyzed descriptively. The results showed that all endometritis cows in KI and KII present estrous signs (100%). However, only one cow was recovered in K2, whereas in K1 did not. After AI, one pregnant cow was observed in KII (33.3%), while none of the pregnant cows was found in K1 (0.0%). It is concluded that the lugol treatment for endometritiss Aceh cows can improve the pregnancy rate.(Efektivitas larutan lugol untuk meningkatkan persentase kebuntingan pada sapi Aceh yang mengalami endometritis) ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian larutan lugol terhadap peningkatan persentase kebuntingan sapi Aceh yang mengalami RB. Dalam penelitian ini digunakan enam ekor sapi Aceh betina dewasa, umur 5-7 tahun, bobot badan 150-250 kg, sudah pernah beranak, dan didiagnosis mengalami endometritis. Seluruh sapi dibagi menjadi dua kelompok (n=3). Pada kelompok 1 (K1), sapi endometritis diterapi dengan 50 ml lugol 2% secara intra uteri dan setelah sembuh dilanjutkan dengan penyuntikan 5 ml PGF2. Sapi pada kelompok 2 (K2) hanya diinjeksi dengan 5 ml PGF2. Deteksi berahi dilakukan sebanyak dua kali per hari dan inseminasi buatan (IB) dilakukan sekitar 10-16 jam setelah awal berahi. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan dengan ultrasonografi (USG) pada hari ke-25 setelah IB. Data dianalisis secara deskriptif. Dari masing-masing kelompok, hanya satu ekor sapi pada K2 yang dinyatakan sembuh yaitu sapi pada kelompok kedua. Persentase sapi yang menjadi estrus pada kedua kelompok masing-masing adalah 100%. Dari tiga ekor sapi yang diinseminasi pada masing-masing kelompok, hanya satu ekor sapi pada K2 (33,3%) yang menunjukkan hasil positif bunting sedangkan pada K1 tidak terdapat sapi yang menunjukkan hasil positif (0,0%). Disimpulkan bahwa pemberian larutan lugol pada sapi Aceh yang mengalami endometritis dapat meningkatkan persentase kebuntingan sapi Aceh.
Pengaruh Pemberian PGF2 Sebelum Koleksi terhadap Peningkatan Kualitas Semen dan Level Testosteron Sapi Aceh Eka Meutia Sari; Saifan Nur; Mulkan Mulkan; Gholib Gholib; Cut Nila Thasmi; Tongku Nizwan Siregar
Jurnal Agripet Vol 21, No 1 (2021): Volume 21, No. 1, April 2021
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v21i1.17778

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian hormon PGF2 sebelum koleksi terhadap peningkatan kualitas semen dan level testosteron sapi Aceh di UPT. Hewan Coba Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan Maret 2019. Data hasil pemeriksaan kualitas semen dianalisis secara deskriptif. Dalam penelitian ini digunakan satu ekor sapi Aceh jantan sebagai kontrol dengan 2 perlakuan, yaitu P1 (tanpa pemberian PGF2 sebelum koleksi) dan P2 (pemberian PGF2 30 menit sebelum koleksi) dengan dosis 25 mg tiap perlakuan. Setiap perlakuan dilakukan sebanyak lima kali dan dilakukan secara bergantian setiap minggunya. Rata-rata volume (ml); konsentrasi (106 sel/ml); motilitas (%), viabilitas (%); abnormalitas (%); dan level testosteron (ng/ml) pada P1 vs P2 masing-masing adalah 5,21,30 vs 5,20,97 (P0,05); 145,436,58 vs 172,8 46,27 (P0,05); 63,876,44 vs 75,050,08 (P0,05); 69,300,22 vs 75,050,08 (P0,05); 16,900,08 vs 10,460,09 (P0,05); dan 28,0714,37 vs 24,196,11 (P0,05). Disimpulkan bahwa pemberian PGF2 30 menit sebelum koleksi dapat meningkatkan kualitas spermatozoa tetapi tidak dapat meningkatkan konsentrasi testosteron. (Case study the effect of giving pgf2 before the collection of the quality of Aceh cattle semen) ABSTRACT. This study aims to determine the effect of giving PGF2 hormone before collection to improve the quality of Acehnese semen in UPT. Hewan Coba Syiah Kuala University. This research was conducted from January to March 2019. Data on semen quality examination were analyzed descriptively. In this study, one Aceh cattle was used as a control with 2 treatments, namely P1 (without administration of PGF2 before collection) and P2 (administration of PGF2 30 minutes before collection) at a dose of 25 mg per treatment. Each treatment was carried out five times and carried out alternately every week. The results showed that the average volume of cement (ml) and pH P1 and P2 respectively 5.2 1.30 and 5.2 0.97, and 6.60.55 and 6.5 0.50. While the average concentration of spermatozoa (106 cells / ml) in P1 and P2 were 145.4 36.58 and 172.8 46.27 respectively. The average percentage (%) of progressive spermatozoa motility, circularity, non motility, viability, and abnormalities in P1 and P2 respectively: 63.87 6.44 and 73.63 9.42, 11.34 3, 70 and 9.0 7.01, 24.79 4.04 and 17.37 4.44, 69.30 0.22 and 75.05 0.08, 16.90 0.08 and 10.46 0.09. It was concluded that administration of PGF2 30 minutes before collection can increase the quality of spermatozoa but cannot increase the concentration of testosterone.
Co-Authors A, Aulanniam Abbas, Muhammadar Abdullah ABDELBAGI, MOHAMMED AHMED ELSHAREF Abdul Harris Adhea Prestiya Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Ahsan, Muhammad Maulana Aisyah Fadillah Tunnisa Akbar, Daffa Gustia Putra Al Azhar Al-Azhar - Amalia Sutriana Amiruddin - Amiruddin A Amiruddin A Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amiruddin Andre Afriadi Rahman Andre Afriadi Rahman Anwar Anwar Arie Febretrisiana, Arie Aris munandar Aris Munandar Arman Sayuti Arman Sayuti Arman Sayuti Aulanni'am, Aulanni'am Azhar A, Azhar Azhari A Azhari A Azhari Azhari Bagus Setyawan Basuki B. Purnomo Basuki B. Purnomo Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan budianto panjaitan Budianto Panjaitan Citra Chyntia Helwana Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi Cut Nila Thasmi, Cut Nila Daisy Wowor, Daisy Dasrul Dasrul Dasrul Dasrul Delli Lefiana, Delli Dewi Ratna Sari Dewi Ratna Sari Dian Masyitah Dian Nurcahaya Dian Nurcahaya Dwinna Aliza Dwinna Aliza Dwinna Aliza Eka Meutia Sari Eka Meutia Sari Eka Meutia Sari Elfi Satria Suryani Erdiansyah Rahmi Erdiansyah Rahmi Fadli A. Gani Farida Athaillah Fauziah Fauziah Fuza Khoiriah Gani, Fadli A. Gholib G, Gholib Gholib Gholib Gholib Gholib, Gholib Ginta Riady Ginta Riady Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin, H HAFIZUDDIN, UMAR PUTEH Hafnati Rahmatan Hamdan . Hamdan h Hamdan h Hamdan H Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdani H, Hamdani Hamny H, Hamny Hamny Hamny Hamny Sofyan HANUM, FARAH FARIDA Hasanuddin Hasanuddin Hermawaty Tarigan Hermawaty Tarigan, Hermawaty Herri alfian Herrialfian . Herrialfian H Herrialfian Herrialfian Herrialfian, Herrialfian Husnur rizal Husnur rizal Husnurrizal Husnurrizal . Husnurrizal Husnurrizal Husnurrizal, Husnurrizal I. Ketut Mudite Adnyane, I. Ketut Mudite Idawati Nasution Idawati Nasution Iin Agustina Indah Kesuma Siregar Ira Khubairoh Marpaung Ira Khubairoh Marpaung, Ira Khubairoh Jalaluddi J Jalaluddi J Jalaluddin - Jannah, Raihatul Joharsyah J Joharsyah J, Joharsyah Juli Melia Juli Melia KARTINI ERIANI Ketut Adnyane Mudite Khairil Khairil Lilis Suryani M. Aris Widodo M. Aris Widodo Mahdi Abrar Mahdi Abrar Mauridatun Ramli Mefrianti Efendi Muhammad Adlim Muhammad Fathan Rizky Athallah Muhammad Hambal Muhammad Hambal Muhammad Jalaluddin Muhammad Jalaluddin, Muhammad Muhammad Rifki Muhammad Rifki Mulkan Mulkan Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam Mulyadi Adam, Mulyadi Mulyadi M Mulyadi M, Mulyadi Muslim Akmal Muslim Akmal Muslim Akmal Muslim Akmal Nanda Yulian Syah Nazaruddin Nazaruddin Nellita Meutia Nellita Meutia, Nellita Novi Afriani Nur Afriani Nur Novika Ayuni Rambe Nuzul Asmilia Nuzul Asmilia Okta Hilda Kadar, Okta Hilda Putra, Dedi Fazriansyah R Roslizawaty R Roslizawaty, R Rahmandi r Rahmandi r Ramadhana, Cut Erika Rasmaidar . Rasmaidar Rasmaidar Razali Daud Razali Daud Razali Razali Reni Ayunanda Reni Ayunanda, Reni Riani Desky rina aulia barus Rinidar R Rinidar R, Rinidar Riski Ananda, Riski Roslizawaty r Roslizawaty R Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty Roslizawaty, Roslizawaty Rosmaidar Rosmaidar, Rosmaidar Rusli Sulaiman S Syafrudddin Saifan Nur Satria Tanjung Siti Rizki Hardyana Siregar Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Sugito Sugito Sugito Sugito Suriadi S Suriadi S, Suriadi Susi Darmayanti Sutiman B. Sumitro Syafruddin - Syafruddin s Syafruddin S Syafruddin S Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin, S T Armansyah, T T. Armansyah T. Armansyah Tanjung, Satria Taufiq Purna Nugraha, Taufiq Purna Teuku Armansyah Teuku Armansyah Tria Deviana Putri Triva Murtina Lubis Wahyuni, Sri Wenny Novita Sari Wida Puspita Arum Yezi Gita Rahayu Yusmadi Yusmadi Yusmadi Yusmadi YUSRA YUSRA Zainuddin Z Zainuddin Z ZK Abdurahman Baizal Zuhrawati Zuhrawati Zulkifli Z Zulkifli Z Zuraidawati -