Claim Missing Document
Check
Articles

SEMIOTIKA TAHAPAN MOSSAK BATAK TOBA Pakpahan, Angeli; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 1 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i1.106

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan sebelum melakukan bela diri (marmossak), di mana tahapan itu ada dua yaitu: Mandi jeruk purut, dan memakan ayam napinadar, kedua tahapan ini harus dijalankan saat sebelum melakukan mossak. Mendeskripsikan simbol jurus yang ada pada mossak, serta simbol ramuan dan peralatan yang terdapat pada mossak, dan mendeskripsikan fungsi dan makna terhadap simbol ramuan dan peralatan yang terdapat pada beladiri mossak Etnik Batak Toba. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif, teori yang digunakan adalah  teori semiotik yaitu simbol yang dikemukakan oleh Pierce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian terdapat dua tahapan dan tujuh jurus mossak, dan terdapat tujuh belas bentuk simbol peralatan dan ramuan, fungsi dan makna yang meliputi simbol ramuan dan simbol peralatan pada ritual mossak. Yang di mana simbol ramuan yaitu: Silinjuang atau kelinjuang, Sipilit atau gandarasa, bane-bane atau kemangi, Hariara na bontar atau beringin putih, Napuran  atau daun sirih,  gambir na bontar  atau gambir putih, hapur  kapur sirih, pangir atau jeruk purut, boras atau beras, Haminjon  atau kemenyan,  pira ni manuk kampung atau telur ayam kampung. Dan simbol peralatan antara lain: Ulos Sibolang, ulos sitolu tuho, kain sampe-sampe, tali bolit, dan mahkota kepala.
Analisis Kohesi Leksikal Lirik Lagu Mauliate Ma Inang : Kajian Wacana Struktur Saragi, Mery Grace Jenita; Siallagan, Intan Putri; Pasaribu, Niken Kirey; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 2 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i2.194

Abstract

Dalam artikel ini akan membahas tentang analisis wacana struktural yang terdapat pada sebuah lagu berbahasa Batak Toba dengan judul Mauliate Ma Inang yang diciptakan oleh seorang musisi Batak bernama Tagor Tampubolon. Lagu ini bercerita tentang ungkapan terima kasih anak kepada ayah dan ibunya atas segala pengorbanan yang diberikan demi kesuksesan anak-anaknya. Analisis wacana dalam lagu ini berfokus pada pembahasan untuk menetapkan kohesi-kohesi leksikal apa saja yang terkandung dalam lagu Batak Mauliate Ma Inang dengan menggunakan metode penelitian kulitatif deskriptif dengan data bersumber dari YouTube. Hasil dari penelitian ini ditemukan adanya kohesi leksikal yaitu 1) repetisi yang terdiri dari (1) Repetisi tautotes meliputi kalimat Ditaon ho do udan lasni ari  dan Lao manomu ari na naeng ro. (2) Repetisi epistrofa meliputi kalimat Dang boi tarbalos au dan kalimat Nang sipata salah au. (3) Repetisi utuh meliputi kalimat  Mauliate ma inang dan Mauliate Ma Amang,  2) sinonim (persamaan) meliputi kata dainang bersinonim dengan inang; kata anak bersinonim dengan kata gelleng, 3) antonim (lawan kata) meliputi kata udan >< lasni ari, inang><amang, 4) hiponim meliputi kata anak, gelleng, inang, amang, dan 5) ekuivalensi (kesepadanan) meliputi kata gellengmi dan gellengmon.
Pergeseran Makna dan Fungsi Sinamot Pada Upacara Pernikahan Etnik Batak Toba Naibaho, Dewes Agustina; Ethelin, Santi Monica; Sitorus, Olivia Sera; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 2 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i2.195

Abstract

Pernikahan yang sah harus dilakukan sesuai dengan hukum agama dan kepercayaan yang dianutnya. Jurnal ini bertujuan untuk mengetahui pengertian dan makna sinamot; mengetahui pergeseran makna dan fungsi sinamot; mengetahui penyebab terjadinya pergeseran makna dan fungsi sinamot. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dimana pengumpulan data yang dilakukan melalui analisis data, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penulis memperoleh hasil bahwa pengertian sinamot pada etnik Batak Toba adalah maskawin yang diserahkan oleh pihak laki-laki (paranak) kepada pihak keluarga perempuan (parboru) pada saat akan melangsungkan pernikahan. Selanjutnya, fungsi sinamot pada zaman dahulu adalah untuk menjamin hak perempuan berupa harta benda yang diberikan sebagai modal pengantin ketika sudah menikah. Sedangkan fungsi sinamot zaman sekarang adalah alat pembayaran yang digunakan untuk membiayai pesta adat pernikahan. Sinamot saat ini digunakan untuk membiayai pesta pernikahan dan pemberian sinamot dilakukan berdasarkan kesepakatan kedua keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bentuk sinamot berubah dari harta benda menjadi berbentuk uang. Adapun penentuan jumlah sinamot dilakukan pada tahapan acara adat yang disebut marhata sinamot. Hingga saat ini pemberian sinamot bukan hanya ditujukan kepada perempuan melainkan diberikan kepada orangtua perempuan melalui proses kesepakatan dan negosiasi antara kedua keluarga.
KOHESI DAN KONTEKS PADA LAGU MADEKDEK MA GAMBIRI: KAJIAN ANALISIS Puji, Puji Syukur Giawa; Siahaan, Wahyu Satria Boy; Sihombing, Patar Kristian; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 2 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i2.196

Abstract

Lagu Madekdek Ma Gambiri adalah sebuah lagu daerah Tapanuli, Sumatera Utara yang bercerita tentang ungkapan hati seseorang kepada pujaan hatinya. Adapun penelitian ini akan mengangkat wacana dari lirik lagu Madekdek Ma Gambiri untuk dianalisis secara struktural. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kohesi leksikal apa saja yang ada dalam wacana lirik lagu Madekdek Ma Gambiri, mengetahui kohesi gramatikal apa saja yang terdapat dalam wacana lirik lagu Madekdek Ma Gambiri, dan mengetahui konteks apa yang terdapat dalam wacana lirik lagu Madekdek Ma Gambiri. Metode yang digunakan dalam tulisan ini yaitu metode kualitatif deskriptif. Sumber data diperoleh melalui media sosial YouTube. Teknik pengumpulan data ialah dengan menyimak dan mencatat data melalui sumber internet. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kohesi leksikal dan gramatikal dalam wacana lirik lagu Madekdek Ma Gambiri meliputi sinonim sebanyak 3 data dan reiterasi sebanyak 13 data, sedangkan konteks yang terdapat dalam wacana lirik lagu Madekdek Ma Gambiri meliputi setting, participants, ends, act sequences, key, instrumentalities, norm, dan genres.
Upacara Adat Kematian Cawir Metua Batak Karo : Kajian Wacana Kritis Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan; Sekali, Emmya Kristina Karo; Aritonang, Rebecca Saulina; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 2 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i2.197

Abstract

Peneliti mengangkat sebuah artikel tradisi yang berjudul  upacara adat kematian cawir metua Batak Karo untuk dianalisis dalam wacana secara kritis. Masalah yang diteliti yaitu menjalankan upacara adat kematian cawir metua, faktor memengaruhi perubahan yang terdapat didalam upacara adat kematian cawir metua dan perubahan upacara kematian adat cawir metua serta  modal sosial didalam upacara kematian cawir metua. Metode yang digunakan didalam tulisan ini yaitu metode kualitatif. Sumber data yang diperoleh melalui sosial media. Tehnik pengumpulan data dengan menyimak dan mencatat data melalui sumber internet. Penelitian memaparkan hasil analisis pada Upacara kematian adat cawir metua dengan analisisi wacana kritis. Yang disebut cawir metua ialah yang sudah tiada, dan dapat juga disebut semua anak-anaknya sudah menikah (berkeluarga) serta telah memiliki cucu dari anak laki-laki dan perempuannya. Cawir metua adalah tingkat upacara adat kematian yang didambakan pada setiap masyarakat etnik Batak Karo karena dapat dikatakan tanggung jawabnya di dunia ini sudah selesai guna mendidik anak-anaknya sampai semua anak-anaknya berkeluarga. Masyarakat Karo melaksanaan upacara adat kematian cawir metua sudah menjadi tradisi adat-istiadat turun temurun yang dilakukan bagi kerabat yang sudah meninggal apalagi sudah berada di fase  cawir metua.
Wacana Durhaka pada Legenda Lau Kawar Kajian Analisis Wacana Kritis oleh Teun A. Van Dijk Tarigan, Adam Wijaya; Silaban, Joyce; Simamora, Eveline; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 2 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i2.198

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan makna durhaka dari legenda Lau Kawar. Selain itu peneliti menggunakan analisis wacana kritis dengan menggunakan metode AWK oleh Teun A. Van Dijk, yang terdiri dari tiga analisis, yaitu analisis teks, analisis kognisi, dan analisis sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis Teun A. Van Dijk. Subyek penelitian ini adalah legenda Danau Lau Kawar. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca artikel atau cerita legenda, mengklasifikasikan wacana dan menganalisis informasi yang tersedia.Wacana durhaka dalam legenda Lau Kawar memperlihatkan analisis tekstual yang maksudnya wacana durhaka akibat dari perlakuan atau ucapan yang tidak pantas sehingga melukai dan menyakiti perasaan orang tua sang anak. Terkhusus ibu, yang membesarkan, mendidik dan melahirkan seorang anak ke dunia. Seorang anak tidaklah boleh ingkar dengan peraturan atau perintah yang sudah diikatkan dengan janji terhadap orang tuanya, sehingga tidak menyakiti perasaan orang tuanya, seperti anak dalam legenda Lau Kawar tersebut. Analisis sosial memperlihatkan bahwa wacana durhaka pada masyarakat Karo zaman dahulu melalui legenda Lau Kawar sebagai bentuk ketakutan jika melanggar dan ingkar dengan perintah orang tua, kelak akan mendapatkan bala dari sang pencipta. Pada masa kini sudah direvitalisasi menjadi norma kesusilaan.
ANALISIS WACANA DESKRIPTIF DALAM UPACARA MAMONGOTI BAGAS (MEMASUKI RUMAH BARU) MASYARAKAT BATAK TOBA Hutagalung, Irfan; Siagian, Samuel Alexander; Sitanggang, Johanes; Sinulingga, Jekmen
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 2 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i2.200

Abstract

Penelitian in membahas tentang tradisi lisan mamongoti bagas (memasuki rumah baru) dalam masyarakat Batak Toba. Teori yang digunakan adalah teori teks, koteks dan konteks dan kearifan lokal. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Datanya adalah serangkaian acara memasuki rumah baru masyarakat Batak Toba. Hasilnya menunjukkan bahwa teks dalam acara memasuk rumah baru dalam masyarakat Batak Toba memilik makna pembentukan hubungan sosial yang baru. Koteks mengandung unsur prosemik dimana ada jeda diantara penutur, sehingga kita tahu apa posis seseorang dalam acara memasuk rumah baru dalam masyarakat Batak Toba. Konteks yang terdapat adalah konteks situasi, sosial dan tempat. Acara memasuk rumah baru mengandung tiga kearifan lokal, yaitu ucapan syukur, kerukunan dan kedamaian, serta peduli lingkungan. Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tradisi memasuk rumah baru dalam masyarakat Batak Toba mengandung kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan sebaga tradisi lisan masyarakat Batak Toba.
ANALISIS SEMIOTIKA PADA ULOS HARUNGGUAN MUARA Parasian, Nehemia Anugrah; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 17 No 1 (2024): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v17i1.215

Abstract

UHM merupakan salah satu ulos etnik Batak Toba. Ulos yang berasal dari Muara ini memiliki motif yang tergabung dari motif ulos yang dimiliki oleh etnik Batak Toba dan komodifikasi dilakukan sebagai pengembangan dari ulos ini. UHM memiliki kain dengan motif yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat Batak Toba yang hidup di sekitar Danau Toba. Motif ini memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat Batak Toba, karena melambangkan keberanian dan semangat juang untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk simbol, fungsi, makna yang terdapat pada UHM dan mendeskripsikan komodifikasi yang terdapat pada UHM. Teori yang digunakan dalam menganalisis data merupakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce dan teori komodifikasi yang dikemukakan oleh Mosco. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data penelitian dihasilkan dari penelitian lapangan dan penelitian sekunder. Pada penelitian ini ditemukan hasil simbol, yakni 22 bentuk simbol motif antara lain: topi, simarpusoran, ragi ambasang, bolean, suri suri, hait masusang, maratur, bola bola anduri, pucca, sibolang, ragi hotang, pinunsaan, ragi singkam, mangiring, situtur, ragi hidup, runjat, suri suri sanggar, gatip gatip, sibolang maranak, maratur toba, dan sitolu tuho. Dari hasil penelitian terhadap fungsi simbol, ditemukan 2 fungsi, yakni: (1) fungsi simbolis dan (2) fungsi praktis. Berdasarkan maknanya, ditemukan 2 makna, yakni: (1) makna konotasi dan (2) makna denotasi, serta komodifikasi yang terdapat yakni: (1) komodifikasi fungsi dan penggunaan UHM dan (2) komodifikasi fungsi dan bentuk UHM.
Ulaon Parbogasonalap Jualetnik Batak Toba: Kajian Analisis Wacana Kritis Nasrani, Mita; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Syntax Fusion Vol 2 No 06 (2022): Jurnal Syntax Fusion: Jurnal Nasional Indonesia
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/fusion.v2i02.154

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ulaon parbogason alap jual Etnik Batak Toba. Teori yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah teori analisis wacana kritis yang dikemukakan oleh Norman Fairclough (2001). Ada dua metode yang digunakan dalam penelitian ini, data 1: Pengumpulan data, 2: Analisis data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif sesuai dengan Manurung (2010). Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu perubahan dalam ulaon parbogason alap jual mencakup perubahan tahapan ulaon parbogason alap jual, tahapan tersebut antara lain: 1) mangaririt, 2) marhori-hori dinding, 3) marhusip, 4) marhata sinamot, 5) martumpol, 6) martonggo raja, 7) manjalo pasu-pasu parbogason.(1) Wacana yang berubah dalam ulaon parbogason alap jual adalah wacana marhata sinamot (2) Faktor yang menyebabkan perubahan tersebut adalah: 1) faktor sosial, 2) status sosial, 3) faktor ekonomi, 4) agama dan 5) perkembangan zaman. (3) Dampak dari perubahan ini memiliki 2 dampak yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak Positif Upacara ulaon parbogason alap jual ini terlihat lebih mewahdan juga indah sedangkan dampak negatifnya ulaon parbogason alap jual ini sudah tidak asli lagi karena perkembangan zaman sudah semakin maju, solusi upaya yang dilakukan antara lain 1) Pemerintah Daerah, 2) Toko Adat, 3) Agama, 4) Ekonomi. Kesimpulan dari penelitian ulaon parbogason alap jual ini adalah bahwa ulaon parbogason alap jual ini sudah ada terjadi perubahan, bergeser, bertambah, dan berkurang. Baik dari segi bahasa, musik, parhobas, marhusip, dan mangaririt.
Form and Function of Pakpak Traditional House as Cultural Results Material of Cultural Heritage in Pakpak Community Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 4, No 4 (2021): Budapest International Research and Critics Institute November
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v4i4.2789

Abstract

The purpose of this research to describe the form and function of the Pakpak traditional house in Pakpak Bharat Regency, North Sumatra Province. The form and function of the Pakpak traditional house is described and interpreted from Pakpak language to Indonesian with a semiotic approach to find the meaning and function as well as the cultural value of each ornament that symbolizes the philosophical value of the Pakpak ethnic community through its traditional house. The method used in this study is a qualitative descriptive method with an ethnographic model that is carried out by collecting data carrying out ethnographic activities, namely the main focus of ethnography is to collect data by observation and interviews; work with key informants. The theoretical framework used is a semiotic approach, namely the science that examines signs in human life, the meaning obtained from a sign at the mimetic level cannot be used to express its meaning. This theory is indeed suitable for research that discusses the disclosure of the meaning of the results of material culture in the form of signs on Pakpak traditional houses.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R. Purba Asriaty R. Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Damanik, Ramlan Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Manurung, Yohana Afriani Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Asriaty Purba, Asriaty R Purba, Asriaty R. Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur r purba, asriaty Rachel, Hilda Aura Safitri Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Sibarani, Tomson Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Nada Christin Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinaga, Warisman Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Rahel Theresia Rodame Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Flansius Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tifany Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga