Claim Missing Document
Check
Articles

Comparison Of The Lyrics Of The Song Rudang-Rudang Kegeluhen Of The Karo Batak Ethnic With The Song Margogo Ijur Bari Of The Toba Batak Ethnic Hutauruk, Febri Ola; Saragih, Dinda Apriani; Sitompul, Yulia Saftania; Sinulingga, Jekmen
JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Vol 10, No 2 (2025): JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala (Juni)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jupe.v10i2.8947

Abstract

This study aims to examine the intrinsic elements and identify the similarities and differences in the lyrics of the song Rudang-Rudang Kegeluhen Ethnik Batak Karo with the lyrics of the song Margogo Ijur Bari Ethnik Batak Toba. This study is included in the type of qualitative descriptive research with a comparative literature approach. The data collection technique used is the reading and note-taking technique. The researcher read both song lyrics and noted the similarities and differences between the two song lyrics. The data analysis technique uses an interactive technique that includes the process of data reduction, data display and drawing conclusions. The results of the study show that the two songs have similarities and differences. The similarities between the two songs lie in the character values of a child expressing gratitude and appreciation for their parents for their love and sacrifice. The differences between the two songs can be seen in terms of the story that the lyrics of the song Rudang-rudang kegeluhen tell more about a child who realizes how important the role of parents is in his life. In addition, the lyrics of the song Margogo Ijur Bari tell of a child expressing gratitude for the love, sacrifice, and character that has been given by his parents. 
BULANG (WOMEN’S HEAD COVERING) SIMALUNGUN BATAK ETHNIC damanik, ramlan; sinaga, warisman; r purba, asriaty; sinulingga, jekmen; herlina
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Language and Literature Studies
Publisher : LP2M IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v6i1.7568

Abstract

This article was written to reveal the meaning of the head covering for women or bulang for the Simalungun Batak community. The use of bulang or head coverings for women and what the meaning and function are for millennials, especially those who live in urban areas, has very little understanding. Therefore, the author created this article for describing the types of bulang and what the function and meaning of bulang are for the Simalungun Batak ethnic community. This research uses a qualitative approach and descriptive method and uses semiotic theory by Charles Sanders Pierce and data collection is carried out by observation, interviews and literature study. Data analysis was carried out using data reduction, translation and conclusions and suggestions. There are 4 types of bulang, namely Bulang Sulappei, Bulang Teget, Bulang Suyuk /Gijang and Bulang Hurbu Salalu. Bulang is for head cover and for giving identity. The meaning of wearing this bulang is as a symbol of maturity for Simalungun women.
Menggali Tulang-Menggali Makna: Interpretasi Budaya dalam Upacara Mangokkal Holi Batak Toba Sinulingga, Jekmen; Siregar, Anita Mawarni; Situmorang, Najwa Zafira; Situmorang, Revelina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.27693

Abstract

Upacara Mangokkal Holi merupakan tradisi adat Batak Toba yang melibatkan penggalian tulang leluhur sebagai bentuk penghormatan dan pemeliharaan nilai-nilai budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna filosofis, sosial, dan simbolik yang terkandung dalam ritual tersebut serta tantangan pelestariannya di era modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, partisipasi langsung, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mangokkal Holi tidak hanya sebagai ritual penguburan ulang, tetapi juga berfungsi sebagai sarana penguatan identitas budaya, rekonsiliasi keluarga, dan media pemersatu sosial. Namun, generasi muda menghadapi tantangan dalam memahami dan meneruskan tradisi ini karena perubahan sosial dan nilai-nilai modern. Penelitian ini merekomendasikan revitalisasi makna adat secara kontekstual agar upacara tetap relevan dan berkelanjutan. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam pelestarian budaya lokal dan pengembangan kajian antropologi budaya Indonesia.
Kearifan Lokal Rumah Adat Karo Si Sepuluh Dua Jabu di Desa Lingga Kabupaten Karo Sinulingga, Jekmen; Pasaribu, Niken Kirey; Sihombing, Patar Kristian; Simamora, Devina C; Silaban, Immanuel
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.27895

Abstract

Dengan menggunakan teori kearifan lokal Robert Sibarani, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kearifan lokal yang terkandung dalam simbol-simbol Rumah Adat Karo Si Sepuluh Dua Jabu di Desa Lingga, Kabupaten Karo. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara dengan orang-orang yang memahami nilai-nilai budaya Karo, terutama yang berkaitan dengan Rumah Adat Si Sepuluh Dua Jabu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Adat Si Sepuluh Dua Jabu mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang menciptakan kedamaian dan kemakmuran bagi masyarakat Karo. Sembilan elemen utama kearifan lokal ditemukan: (1) Rasa syukur, yang ditunjukkan oleh ornamen Beraspati ni Taneh sebagai tanda perlindungan spiritual; (2) Kesopansantunan, yang ditunjukkan oleh desain Pintu Jabu yang mengajarkan penghormatan dan kerendahan hati; (3) Kerukunan dan penyelesaian konflik, yang terlihat dalam penggunaan bersama Daliken atau tungku; (4) Kesetiakawanan sosial, yang terlihat dalam gotong royong masyarakat saat mendirikan rumah adat, seperti pemasangan Sendi; (5) Pelestarian dan kreativitas budaya, yang terlihat dalam ornamen Ayou yang mengabadikan cerita rakyat seperti cerita Beru Ginting; (6) Peduli lingkungan, yang terlihat dari penggunaan atap ijuk sebagai bahan alami yang ramah lingkungan. Menurut penelitian ini, simbol-simbol di Rumah Adat Si Sepuluh Dua Jabu memiliki tujuan selain tujuan estetika dan struktural, tetapi juga berisi nilai-nilai filosofis dan moral yang menjadi pedoman bagi masyarakat Karo dalam hidup mereka. Kearifan lokal ini sangat penting untuk membangun masyarakat yang harmonis, bertanggung jawab, dan selaras dengan alam dan sesama manusia. Diharapkan jurnal ini akan membantu dalam pelestarian budaya lokal dan memberikan inspirasi untuk penelitian tentang kearifan lokal di tempat lain.
Interaksi Simbol dan Struktur dalam Arsitektur Rumah Adat Batak Toba : Analisis Semiotika Roland Barthes Sinulingga, Jekmen; Tampubolon, Juwita Paramita; Pandiangan, Johannes; Sinaga, Lastiur; Silaban, Immanuel
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28257

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi simbol dan struktur dalam arsitektur rumah adat Batak Toba menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan mengidentifikasi elemen-elemen arsitektur seperti atap, ukiran, dan susunan ruang sebagai tanda dan makna dalam sistem budaya Batak Toba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah adat Batak Toba bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai representasi simbolik dari hierarki sosial, hubungan dengan alam, dan nilai-nilai leluhur. Elemen-elemen struktural rumah ini membentuk suatu sistem makna yang mendalam dan mencerminkan kearifan lokal. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang peran simbolisme dalam arsitektur tradisional dalam mempertahankan identitas budaya.
Tradisi Pasahat Mandar Hela Pada Upacara Pernikahan dalam Masyarakat Batak Toba : Kajian Tradisi Lisan Simatupang, Nori Marta Marsalina Br.; Harefa, Eveline; Saragih, Cristien Oktaviani; Pandiangan, Johannes; Sigiro, Doni; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28302

Abstract

Penelitian ini mengkaji tradisi Pasahat Mandar Hela dalam upacara pernikahan masyarakat Batak Toba sebagai bagian dari warisan tradisi lisan yang sarat nilai budaya dan simbolik. Tradisi ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian adat pernikahan Batak Toba yang melibatkan penyerahan kain kepada pihak mempelai pria, sebagai simbol pengakuan dan penghormatan dari keluarga pihak wanita. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur dan studi kasus terhadap praktik Pasahat Mandar Hela dalam beberapa komunitas Batak Toba. Data diperoleh melalui telaah terhadap karya-karya ilmiah, dokumentasi budaya, serta sumber-sumber tertulis yang merekam narasi-narasi lisan dan praktik adat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Pasahat Mandar Hela memiliki makna mendalam dalam memperkuat hubungan kekerabatan (dalihan na tolu), menjaga keseimbangan sosial, serta sebagai media transmisi nilai-nilai adat dan etika Batak Toba kepada generasi muda. Kajian ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi lisan sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup dan dinamis di tengah perubahan zaman.
Analisis Cerita Rakyat Sibontar Mudar Etnik Batak Toba dengan Cerita Rakyat Putri Dewa Gunung Lumut Etnik Batak Pakpak Kajian : Sastra Bandingan Situmorang, Putri Adelina Br; Sibarani, Tidora Putri; Marpaung, Jonathan Halomoan; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28505

Abstract

Penelitian ini menganalisis perbandingan dua cerita rakyat dari etnik Batak yang berbeda, yaitu Sibontar Mudar dari Batak Toba dan Putri Dewa Gunung Lumut dari Batak Pakpak. Melalui pendekatan sastra bandingan, penelitian bertujuan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan struktural, tematik, dan nilai budaya dalam kedua cerita. Metode analisis deskriptif komparatif digunakan untuk mengkaji unsur intrinsik meliputi alur, tokoh, latar, tema, serta unsur ekstrinsik berupa nilai sosial, budaya, dan moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun berasal dari sub-etnik berbeda, kedua cerita memiliki kesamaan struktur naratif dan nilai universal seperti kepahlawanan, cinta kasih, dan keadilan. Namun, terdapat perbedaan dalam penyampaian pesan moral dan penggambaran karakter yang mencerminkan keunikan budaya masing-masing etnik. Penelitian ini diharapkan memperkaya khazanah sastra Nusantara dan memberikan pemahaman mendalam tentang kearifan lokal masyarakat Batak dalam konteks pelestarian warisan budaya tradisional.
Makna dan Simbolisme dalam Upacara Adat Kematian Saur Matua: Kajian Semiotika Sosial Batubara, Monica Uli; Sibarani, Tidora Putri; Simamora, Devina C; Situmorang, Putri Adelina Br; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28570

Abstract

Upacara Saur Matua dalam tradisi Batak merepresentasikan fenomena unik di mana kematian dipandang sebagai perayaan pencapaian hidup sempurna. Penelitian ini menganalisis makna dan simbolisme upacara melalui pendekatan semiotika sosial untuk memahami konstruksi makna kolektif dan fungsi sosial-budaya ritual tersebut. Metode etnografi digunakan dengan observasi partisipan dan wawancara mendalam dari lima upacara di Sumatera Utara. Analisis menggunakan kerangka semiotika sosial Halliday dengan metafungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual. Hasil menunjukkan upacara memiliki struktur tiga tahap dengan elemen simbolis material (ulos, gondang, sesajen) dan gestural (manortor, tata ruang kosmologis). Metafungsi ideasional merepresentasikan worldview Batak tentang kematian sebagai transformasi spiritual, metafungsi interpersonal memperkuat hierarki sosial melalui sistem Dalihan Na Tolu, dan metafungsi tekstual menciptakan kohesi identitas budaya. Dalam modernisasi, upacara beradaptasi teknologi namun mempertahankan esensi makna sebagai penguat identitas sosial. Penelitian berkontribusi pada pemahaman konstruksi makna budaya lokal dan relevansi semiotika sosial dalam analisis praktik budaya Indonesia.
Perbandingan Lirik Lagu Duri Ni Dap-Dap Etnik Batak Simalungun dengan Lirik Lagu Aut Boi Nian Etnik Batak Toba Simatupang, Nori Marta Marsalina Br.; Harefa, Evelina; Saragih, Cristien Oktaviani; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.28771

Abstract

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat terungkap elemen-elemen yang serupa maupun berbeda dalam lirik lagu Duri Ni Dap-Dap karya Damma Silalahi (etnik Batak Simalungun) dengan lagu Aut Boi Nian karya Viky Sianipar (etnik Batak Toba). Penelitian ini memanfaatkan pendekatan sastra bandingan dalam kerangka metode deskriptif kualitatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan teknik dengar,simak dan catat terhadap kedua lirik lagu. Dalam menganalisis data, peneliti melalui serangkaian tahap, yaitu reduksi data, penyajian data secara sistematis, dan penarikan kesimpulan berdasarkan temuan. Berdasarkan hasil analisis, terdapat kesamaan antara kedua lagu dilihat dari segi latar belakang tokoh, nada, emosi, status sosial, dan sosok "aku" yang mengalami cinta yang terhalang oleh faktor eksternal. Tokoh laki-laki dalam kedua lagu sama-sama mencintai seorang perempuan, namun hubungan mereka tidak dapat bersatu karena tidak direstui atau terhalang kondisi ekonomi maupun status sosial . Perbedaan utama terdapat pada penyebab konflik lirik lagu Duri Ni Dap-Dap menyoroti penolakan dari pihak keluarga perempuan karena kekhawatiran akan kehidupan yang miskin setelah menikah, sedangkan lirik lagu Aut Boi Nian menggambarkan tokoh laki-laki yang memilih mundur karena menyadari keterbatasan ekonominya dan ingin kekasihnya hidup bahagia bersama lelaki lain.
The Simalungun Script in the Development of Cultural Heritage and Local Wisdom Learning Plans Damanik, Ramlan; Sinaga, Warisman; Herlina; Purba, Asriaty r; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 3 (2025): Mei 2025
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v4i3.745

Abstract

The Simalungun script is one of the intangible cultural heritages of the Simalungun Batak community, possessing significant historical, linguistic, and symbolic value. However, modern developments and the dominance of the Latin alphabet have led to a significant decline in its usage. This article aims to examine the role of the Simalungun script in cultural heritage development through a community-based preservation and revitalization approach. Utilizing Laurajane Smith’s (2006) theory of heritage preservation and an ecolinguistic perspective, this study analyzes strategies for strengthening the Simalungun script through education, digitalization, and integration into creative media. The research employs a descriptive method with a qualitative approach. The findings reveal that the Simalungun script can serve as a contextual and educational tool for cultural transformation and identity formation among younger generations. School involvement programs, the development of local curriculum, and the implementation of technology-based initiatives using the script have proven effective in raising awareness and enhancing cultural literacy skills. The study also identifies that the Simalungun script consists of 19 ina ni surat (main letters): a, ha/ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, i, and u. These characters are typically curved and angular, and are written from left to right on media such as tree bark, bamboo, or bone. Additionally, eight anak ni surat (derived letters) are recognized: haluan, haboritan, hatalingan, sihorlu, hamisaran, hatulungan, hajoringan, and panongon. Therefore, preserving the Simalungun script is not merely an act of conservation, but a dynamic strategy for the development of cultural heritage that is adaptive to the times.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R. Purba Asriaty R. Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Damanik, Ramlan Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Manurung, Yohana Afriani Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Asriaty Purba, Asriaty R Purba, Asriaty R. Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur r purba, asriaty Rachel, Hilda Aura Safitri Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Sibarani, Tomson Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Nada Christin Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinaga, Warisman Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Arjuna Junifer Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Rahel Theresia Rodame Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Flansius Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tifany Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga