Claim Missing Document
Check
Articles

Lirik Lagu Mauliate Ma Inang Etnik Batak Toba dengan Lirik Lagu Inang Pangguruan Etnik Batak Simalungun: Kajian Sastra Bandingan Alpiani Lubis; Trynanda Sianipar; Jefri Harniko Pasaribu; Jekmen Sinulingga
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol 15 No 3 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i3.3211

Abstract

Penelitian ini membandingkan lirik lagu tradisional Mauliate Ma Inang (Batak Toba) dan Inang Pangguruan (Batak Simalungun) dengan pendekatan sastra bandingan melalui perspektif struktural dan sosiokultural. Keduanya merepresentasikan penghormatan mendalam terhadap sosok ibu serta hubungan anak dan orang tua dalam budaya Batak. Data diperoleh melalui studi pustaka dan dianalisis berdasarkan aspek linguistik, makna simbolik, struktur naratif, serta konteks sosial budaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun berasal dari sub-etnik berbeda, kedua lagu memiliki kesamaan tematik berupa rasa syukur dan penghormatan kepada ibu. Perbedaannya terletak pada dialek bahasa, gaya metrik, dan ekspresi emosional. Lagu Batak Toba cenderung lebih ekspresif, sedangkan lagu Simalungun bersifat reflektif terhadap peran ibu sebagai pendidik. Kedua lagu mencerminkan nilai-nilai Batak seperti hagabeon (keturunan), hamoraon (kekayaan), dan hasangapon (kehormatan). Perbedaan historis dan geografis memengaruhi gaya artistik masing-masing. Penelitian ini memperkaya pemahaman tentang sastra lisan Batak dan menekankan pentingnya pelestarian budaya melalui dokumentasi akademik, serta menunjukkan keberagaman ekspresi budaya dalam satu rumpun etnik yang sama.
Contextualization of the Sayur Matua Tradition in Regional Language Learning: A Semiotic Analysis of Simalungun Cultural Values Manik, Fransiska; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R.; Sinaga, Warisman; Herlina
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 4 (2025): Juli 2025
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v4i4.762

Abstract

This study aims to examine the Sayur Matua funeral ceremony in the Batak Simalungun community as a medium for learning cultural values through Charles Sanders Peirce's semiotic approach. The Sayur Matua ceremony is the highest form of respect given to individuals who die in a perfect state, namely after marrying off all their children and having grandchildren. This tradition is full of cultural symbols that function as a reflection of social, spiritual, and moral values. This study employs a descriptive qualitative approach, incorporating observation, interview, and documentation techniques within the community of Gajapokki Village, Simalungun Regency. The analysis was carried out using Peirce's semiotic theory, which distinguishes signs into icons, indices, and symbols. The results of the study identified 14 ritual stages involving 22 cultural symbols, 18 symbolic functions, and 18 symbolic meanings that reflect the value structure in Simalungun society. This article suggests the integration of Sayur Matua in a local wisdom-based learning curriculum to strengthen students' character education, especially in the aspects of responsibility, solidarity, and respect for ancestors. Thus, Sayur Matua not only functions as a sacred tradition but also as a contextual learning resource in shaping the identity and cultural awareness of the younger generation.
Makna Simbolis Upacara Adat Nurun-Nurun Dalam Sistem Kepercayaan Masyarakat Batak Karo Pasaribu, Jefri Harniko; Trynanda Sianipar; Alpiani Lubis; Jekmen Sinulingga; Lusiani Sitorus
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i2.7272

Abstract

Upacara Nurun-Nurun merupakan salah satu ritual penting dalam kehidupan masyarakat Batak Karo yang mengandung dimensi spiritual, sosial, dan simbolik. Upacara ini dipraktikkan sebagai bentuk pemulihan keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia roh, yang diyakini sebagai elemen saling terkait dalam kosmologi Karo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji secara mendalam makna simbolis dari berbagai elemen dalam pelaksanaan upacara Nurun-Nurun, serta menempatkannya dalam kerangka sistem kepercayaan tradisional masyarakat Batak Karo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan pelaku ritual, serta studi literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol seperti air suci (la sura), dedaunan tertentu, asap kemenyan, mantra, dan struktur partisipan dalam upacara memiliki fungsi sebagai medium penyembuhan, penghubung antara manusia dan leluhur, serta sebagai cerminan sistem nilai dan struktur sosial masyarakat Batak Karo. Upacara ini tidak hanya berperan dalam menyembuhkan secara spiritual, tetapi juga menegaskan identitas budaya kolektif dan memperkuat relasi antar kelompok kekerabatan seperti kalimbubu, anak beru, dan senina. Namun, praktik ini mengalami tantangan akibat modernisasi dan pergeseran nilai di kalangan generasi muda. Kajian ini merekomendasikan pelestarian simbolisme Nurun-Nurun melalui pendidikan budaya dan dokumentasi antropologis yang berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam memahami dinamika simbolisme budaya lokal sebagai warisan tak benda yang bernilai tinggi.
Horja Pabuat Boru dan Haroan Boru Etnik Batak Angkola Kajian: Kearifan Lokal Immanuel Pedro Hutagalung; Herlina Herlina; Asriaty R. Purba; Jekmen Sinulingga; Warisman Sinaga
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 15 No. 3 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i3.3268

Abstract

Indonesia memiliki keistimewaan dalam keragaman etnis, agama, dan budayayang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Sumatra Utara merupakan salah satu provinsi dengan populasi 14.936.148 jiwa (BPS, 2021) yang kaya akan keanekaragaman etnis, termasuk Batak, Melayu, Pesisir, dan Nias. Dalam konteks ini, etnik Batak Angkola–Mandailing menjadi menarik untuk dikaji, khususnya tradisi horja sebagai bentuk perayaan adat yang sarat nilai kearifan lokal. Tradisi horja memiliki dua bentuk utama, yaitu horja siriaon (pesta sukacita) dan horja siluluton (pesta dukacita), yang masing-masing dilaksanakan dengan aturan adat yang ketat. Fokus penelitian ini adalah pada horja pabuat boru dan horja haroan boru yang dilaksanakan dalam perkawinan etnik Batak Angkola–Mandailing. Tujuan penelitian adalah (1) mengidentifikasi tahapan-tahapan pelaksanaan horja pabuat boru dan haroan boru, serta (2) mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, serta studi dokumentasi di Kelurahan Sorik, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan. Analisis dilakukan dengan teori kearifan lokal Robert Sibarani yang menekankan dimensi kesejahteraan dan kedamaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan horja tidak hanya berfungsi sebagai ritus sosial, tetapi juga mengandung nilai gotong royong, kesopansantunan, kesetiakawanan, disiplin, serta rasa syukur. Dengan demikian, tradisi horja berperan penting dalam memperkuat identitas budaya, menjaga harmoni sosial, serta melestarikan kearifan lokal masyarakat Batak Angkola–Mandailing.
Lirik Lagu Mauliate Ma Inang Etnik Batak Toba dengan Lirik Lagu Inang Pangguruan Etnik Batak Simalungun: Kajian Sastra Bandingan Alpiani Lubis; Trynanda Sianipar; Jefri Harniko Pasaribu; Jekmen Sinulingga
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 15 No. 3 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i3.3211

Abstract

Penelitian ini membandingkan lirik lagu tradisional Mauliate Ma Inang (Batak Toba) dan Inang Pangguruan (Batak Simalungun) dengan pendekatan sastra bandingan melalui perspektif struktural dan sosiokultural. Keduanya merepresentasikan penghormatan mendalam terhadap sosok ibu serta hubungan anak dan orang tua dalam budaya Batak. Data diperoleh melalui studi pustaka dan dianalisis berdasarkan aspek linguistik, makna simbolik, struktur naratif, serta konteks sosial budaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun berasal dari sub-etnik berbeda, kedua lagu memiliki kesamaan tematik berupa rasa syukur dan penghormatan kepada ibu. Perbedaannya terletak pada dialek bahasa, gaya metrik, dan ekspresi emosional. Lagu Batak Toba cenderung lebih ekspresif, sedangkan lagu Simalungun bersifat reflektif terhadap peran ibu sebagai pendidik. Kedua lagu mencerminkan nilai-nilai Batak seperti hagabeon (keturunan), hamoraon (kekayaan), dan hasangapon (kehormatan). Perbedaan historis dan geografis memengaruhi gaya artistik masing-masing. Penelitian ini memperkaya pemahaman tentang sastra lisan Batak dan menekankan pentingnya pelestarian budaya melalui dokumentasi akademik, serta menunjukkan keberagaman ekspresi budaya dalam satu rumpun etnik yang sama.
Nada yang Merawat Identitas: Perbandingan Lirik Lagu Tanoh Simalungun dan O Tano Batak Roma Hotni Uhur Purba; Tioara Monika Simarmata; Lastiur Sinaga; Jekmen Sinulingga
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 15 No. 3 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i3.3390

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian sastra bandingan terhadap lirik lagu Tanoh Simalungun karya St. A.K. Saragih dan O Tano Batak karya Siddik Sitompul, yang sama-sama mengangkat tema cinta dan kerinduan mendalam terhadap tanah kelahiran. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik baca, catat, dan dengar melalui media digital, dilengkapi analisis strukturalisme Lévi-Strauss dan pendekatan sastra bandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanoh Simalungun menonjolkan keindahan alam, adat istiadat, dan nilai kebersamaan masyarakat Simalungun melalui metafora, idiom lokal, dan simbol budaya. Lagu ini bersifat normatif-edukatif dengan fokus kolektif, mengajak generasi muda untuk menjaga adat dan identitas etnik. Sebaliknya, O Tano Batak menggunakan gaya bahasa lugas dan repetitif, berfokus pada ekspresi emosional dan spiritual perantau terhadap kampung halaman. Nuansa yang dihadirkan bersifat personal-kontemplatif tanpa banyak simbol budaya eksplisit. Meskipun berbeda dalam gaya, keduanya memiliki fungsi sosial penting: Tanoh Simalungun sebagai media edukasi dan pelestarian budaya, sedangkan O Tano Batak sebagai sarana katarsis emosional. Temuan ini menegaskan bahwa lirik lagu daerah berperan strategis dalam mengartikulasikan identitas budaya dan memperkuat ikatan generasi terhadap warisan leluhur.
Efforts to Raise Local Residents Awareness of Environmental Cleanliness in Dokan Tourism Village, Karo Regency Sinulingga, Jekmen; Tampubolon, Flansius
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2021): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.465 KB) | DOI: 10.32734/abdimastalenta.v6i2.4949

Abstract

Environmental cleanliness in tourist villages, especially in Dokan Village, is the main factor that needs to be considered to increase tourist visits. A clean environment will make visitors feel comfortable, besides that it will also create a healthy and clean environment. A tourist village is a village or area that has an unusual natural wealth, the village has natural resources that other villages may not have. The tourist village area is one of the places where environmental pollution most often occurs, which is carried out by the surrounding community and the outside community. The lack of public attention to the environment is very familiar, especially in today's era. Most of them think individually and only think about themselves. So we can see for ourselves how the impact of such a people's lifestyle on the environment in the tourist village of Dokan. Garbage that is disposed of improperly causes environmental pollution which will have a negative impact on the community itself. Therefore, environmental cleanliness also needs to be considered, not just talking about environmental cleanliness and how to overcome environmental pollution problems. So, if we can keep the environment clean and preserve the natural resources that are around us, it will certainly create a comfortable, clean, and beautiful living environment. In this case, it will be discussed about the role of the Dokan village community in implementing environmental cleanliness in the tourist village area. Environmental cleanliness in the tourist village area needs to be discussed because the area is a gathering place for people from inside and outside the village. This approach is intended so that the community has an attitude of caring about environmental cleanliness and preserving the natural resources in the surrounding villages.
Socialization of Efforts to Increase Environmental Awareness in Pangambatan Village as A Tourist Attraction in Karo Regency Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2021): ABDIMAS TALENTA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.497 KB) | DOI: 10.32734/abdimastalenta.v6i1.5395

Abstract

This service aims to provide environmental care socialization in Pangambat village. As a tourist village, Pangambaten village has problems in dealing with environmental challenges related to environmental cleanliness, so there is a need to educate and inform the community about environmental problems. One of the commitments of the international community and government in protecting the earth from pollution and damage is through the implementation of Environmental Education, which is the key to preparing people with knowledge, expertise, values ​​and a caring attitude so that they can actively participate in solving environmental problems. The counseling on environmental care in this service program is intended as an initial step in building a character that cares about the environment in the community. This service was carried out in Pangambaten, Tanah Karo Regency, North Sumatra Province. This service is carried out in two methods, namely the interactive presentation method. This service activity is carried out in the following stages: 1) Equalization of Community Group Perceptions, 2) Group coaching, 3) Counseling on understanding about fostering environmental concern for environmental cleanliness by reviving the tradition of mutual cooperation.
Motif Ulos Bintang Maratur Etnik Toba Kajian Semiotika Siregar, Helda; Sitorus, Oliviya Sera; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14153

Abstract

Artikel ini berjudul " Motif Bintang Maratur Etnik Batak Toba." Kajian Semiotik. Ulos Bintang Maratur memiliki makna yang dalam dan simbolis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan motif yang ada di Ulos Bintang Maratur, lambang Batak Toba, serta fungsi dan artinya dari simbol-simbol yang terdapat pada Ulos Bintang Maratur. Teori yang digunakan dalam pemeriksaan temuan penelitian ini adalah pendekatan semiotik, yang didasarkan pada simbol dan dikembangkan yang ditulis oleh Charles Sanders Pierce. Dalam penelitian ini, metode ini digunakan kualitatif. Berdasarkan hasil dari penelitian, Makna ulos Bintang Maratur sebagai ucapan selamat atau kabar baik yang diberikan kepada individu yang menerima berkat atau rezeki, terdapat enam motif dalam Ulos Bintang Maratur yaitu Zig-Zag, Ketupat, Lingkaran, Tugu, Wajik yang Berjejer, dan Ketupat Susun. Selain jenis motif, terdapat lima fungsi dalam ulos Bintang Maratur yaitu Keanggunan dan Keindahan, Kemakmuran, Kepatuhan, Harmoni dan Persatuan Keluarga dan Penghargaan dan Prestise.
Fungsi dan Motif Ulos Mangiring pada Etnik Batak Toba Kajian Semiotika Karosekali, Emmya Kristina br; Sihombing, Patar Kristian; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14154

Abstract

Ulos mangiring merupakan salah satu kain khas dari etnik Batak Toba yang sering digunakan dalam Tradisi Adat pernikahan, upacara adat dan sebagainya. Artikel ini menganalisis Fungsi dan Motif ulos mangiring pada etnik Batak Toba dengan menggunakan kajian semiotika Menurut Charles Sander Pierce, semiotika merupakan studi tentang tanda-tanda dan bagaimana tanda-tanda tersebut memberikan makna yang terkandung di dalam. Masalah yang diteliti adalah motif pada ulos mangiring etnik Batak Toba dan fungsi dari ulos magiring etnik Batak toba serta makna dari ulos mangiring. Metode yang digunakan didalam tulisan ini yaitu Metode deskriptif kualitatif. Tujuan dari ulos mangiring pada etnik Batak Toba adalah untuk menjadi simbol keberuntungan, perlindungan, serta sebagai bagian dari tradisi adat dan upacara keagamaan masyarakat Batak. Sumber data yang diperoleh melalui sosial media. Tehnik pengumpulan data yaitu dengan menyimak dan mencatatat data melalui sumber internet.
Co-Authors Afrilla, Shafa Della Al Trio Boy Beyto Lumban Gaol Alpiani Lubis Alya Saqinah Apuilina, Theresia Widya Aritonang, Rebecca Saulina Artika, Mutiara Romi Asni Barus Asriaty R Purba Ayu Andari Nainggolan Baharuddin Baharuddin Bahri, Melati Nifri Bancin, Rasefi Lestarina Barus, Emelia br Batubara, Monica Batubara, Monica Uli Batubara, Monika Uli Bento Reymondo Sirait Br Karo Sekali, Emmya kristina Butar-Butar, Bertha Buulolo, Dwi Utama Emanueli Damanik, Oleg Isuando Daniel Permadi Marbun Depari, Edi Dewes Agustina Naibaho Dinda Syabrina Dirham Pasaribu Edi Winarto Sihombing Endang Hutasoit Entelina, Santi Monica Erica Yulia Citra Sitorus Ethelin, Santi Monica Fadlin Fadlin Fahmi, Lisan Shidqi Zul Febbylia Dwi Flansius Tampubolon Fransiska, Natalia Gea, Ester Giawa, Puji Syukur Ginting, Rendy Gulo, Filtri Marni Gultom, Frendy Hendrico Gultom, Pelix Gabriel H, Nazwa Rivasha Harahap, Cory Amelia Hardio Hasugian Harefa, Evelina Harefa, Eveline Harniko, Jefri Hasugian, Yulianti Br Herlina herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hum, M. Hutagalung, Faivh Hutagalung, Irfan Hutagalung, Irfan Hamonangan Hutahaean, Enjel Hutajulu, Bella Angelica Br Hutajulu, Delma Novia D Hutauruk, Febri Ola Hutauruk, Yesika Immanuel Pedro Hutagalung Islamy, Mutiara Istahsina, Fadia Nur Jamorlan Siahaan Jamorlan Siahaan Jefri Harniko Pasaribu Julius Renaldi Tampubolon Karosekali, Emmya Kristina br Khairani, Riva Khairiyya, Nadhira Lastiur Sinaga Limbong, Raihan Ghani Alghifary Lubis, Balqis Azwar Lusiani Sitorus Mahulae, Grecya Elisabeth Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina Manik, Fransiska Manik, Priska Ulina Setriani Manro Berutu Manullang, Doan Yohanes Manullang, Doan Yohannes Manurung, Deny Marojahan Manurung, Evita Manurung, Lasmaria Margareth, Ruth Anggina Marpaung, Jonathan Halomoan Martaria Naibaho Mery Grace Jenita Naibaho, Dewes Agustina Naibaho, Dina Natalia Br Nasrani, Mita Natasya, Sarah Nathasia Br Tarigan Nst, Nia Masniari Nurbi, Nurbi Pakpahan, Angeli Pakpahan, Elysa Masdalifah Pakpahan, Siti Annisah Pandiangan, Johannes Panjaitan, Novita Marlina Panjaitan, Santi Monica Entelina Parasian, Nehemia Anugrah Pardede, Billy Christian Pardede, Daniel Stephen Pardede, Renita Cristin Pasaribu, Eva Pasaribu, Friska Yulianti Pasaribu, Jefri Harniko Pasaribu, Niken Kirey Puji, Puji Syukur Giawa Purba, Anggriano Purba, Raysa Purba, Roma Hotni Uhur Rachel, Hilda Aura Safitri Ramlan Damanik Rasmi Rasmi, Rasmi Ritonga, Salsabila Amelia Robert Sibarani, Robert Roma Hotni Uhur Purba Rosita Ginting Rozanna Mulyani Sagala, Erosima Saragi, Mery Grace Saragi, Mery Grace Jenita Saragih, Cristien Oktaviani Saragih, Dinda Apriani Sekali, Emmya Kristina Br Karo Sekali, Emmya Kristina Karo Sembiring, Sugihana Sembiring, Teresia Anjelina Siagian, Anggi Novita Siagian, Fitri Yanna Siagian, Samuel Alexander Siahaan, Ayu Siahaan, Jamorlan Siahaan, Patrick Siahaan, Rachel Pratiwi Siahaan, Wahyu Satria Boy Siallagan, Intan Putri Sianipar, Trynanda Sibarani, Thomson Sibarani, Tidora Putri Siboro, Bintang Efraim Sigiro, Doni Sigiro, Dony Sihombing, Jessica Valencia Sihombing, Patar Kristian Sihombing, Sulastri Tiur L. Sihotang, Alexander Sihotang, Anggraeni Permata Sihotang, Kristina Sijabat, Carissa Margaret Silaban, Immanuel Silaban, Joyce Silaban, Ridho Wahyu C Silaban, Robin M Silitonga, Mega Uli Arta Simamora, Aprianto Simamora, Devina C Simamora, Eveline Simamora, Eveline Mangerbang Simamora, Mei Lisriani Simangungsong, Depi Simangunsong, Martin Simanjuntak, Jolie Rachel Simanjuntak, Reydwinata Simanjuntak, Sulthan Abdharu Simanjutak, Sadrak Simarmata, Tioara Monika Simatupang, Nori Marta M Br. Simatupang, Nori Marta Marsalina Br. Simbolon, Marta Enjelina Simbolon, Selvi Sinaga, Angelica Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua Sinaga, Lastiur Sinaga, Parade Sinulingga, Tania Erlikasna br Sinulingga, Theresia Margaretta Sipayung, Jay Benhard Novrijal Sirait, Lenni Herawati Sirait, Naomi Sephania Sirait, Yuyun Efraim Siregar, Anita Mawarni Siregar, Eka Silviana Siregar, Helda Siregar, Nomi Supitri Siregar, Slamet Halomoan Sitanggang, Binarwan Halim Sitanggang, Johanes Sitepu, Natanael Sitinjak, Ornelia Sitinjak, Willy Panahatan Sitompul, Yulia Saftania Sitorus, Olivia Sera Sitorus, Oliviya Sera Situmorang, Najwa Zafira Situmorang, Putri Adelina Situmorang, Putri Adelina Br Situmorang, Revelina Stephanie Grace Ester Harahap Switno Rajagukguk Tambunan, Abel Rotua Tambunan, Putri Indah Agustina Tambunan, Wati Tampubolon, Aditia Tampubolon, David Hasudungan Tampubolon, Juwita Paramita Tampubolon, Rahul Betran Tarigan, Adam Wijaya Tarigan, May Grace Karennina Tarigan, sarah nathasia Tarigan, Sarah Nathasia Br. Tioara Monika Simarmata Togatorop, Julhayati Tomson Sibarani Torang Naiborhu Toruan, Khaterine A. Lumban Trynanda Sianipar Ulfa, Sarlia Valencia, Rachel Vero Risnawati Limbong Warisman Sinaga