This study emmployed a descriptive qualitative method using critical discourse analysis (CDA) whitin a socio-pragmatic framework to examine syntactic constructions in contemporary Indonesian film dialogues that reflect gender ideologies. Data were collected through documentation, field notes, and purposive sampling from five gender-themed films released between 2021—2023: Yuni; Before, Now, & Then; Bismillah Kunikahi Suamimu; Budi Pekerti; and Susuk: The Curse of Beauty. Data analysis adapted Milles & Huberman’s interactive model, including data reduction, display, and conclusion drawing using Sara Mills’s CDA approach. Finding reveal that syntactic structures is contemporary Indonesian films reflect complex gender ideologies, where active, passive, imperative, and evaluative forms are used to construct female agency, powerlessness, or emotional positioning. Analysis of five films –Yuni (2021); Before, Now, & Then (2022); Bismillah Kunikahi Suamimu (2023); Budi Pekerti (2023); and Susuk: Kutukan Kecantikan (2023)– reveals that while active and motivational syntax often portrays women as agent of resistance, passive, and directive forms requently frame them as submissive or emotionally burdened. Imperatives serve both as tools of social enforcement and empowerment. Evalauative verbs and negation subtly encode internalized norms and limitations. These patterns demonstrate that syntax is ideologically loaded, not neutral. The findings have implications for gender-aware scriptwriting, curriculum development in language and media education, and media policy interventions aimed at promoting inclusive narrative practices. Abstrak Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatid dengan pendekatan analisis wacana kritis (AWK) berbasis sosiopragmatik untuk menganalisis struktur sintaksis dalam dialog film Indonesia kontemporer yang merepresentasikan ideologi gender. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, catatan lapangan, dan purposive sampling dari lima film bertema gender yang dirilis antara tahun 2021—2023: Yuni, Before, Now, & Then, Bismillah Kunikahi Suamimu; Budi Pekerti, dan Susuk: Kutukan Kecantikan. Teknik analisis data mengadaptasi model interaksi Miles & Huberman, meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan kerangka analisisi wacana Sara Mills. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sintaksis dalam film-film Indonesia kontemporer merepresentasikan ideologi gender yang kompleks, yang bentuk aktif, pasif, imperatif, dan evaluatifnya digunakan untuk membingkai agensi, ketidakberdayaan, atau posisi emosional tokoh perempuan. Analisis terhadap lima film –Yuni (2021); Before, Now, & Then (2022); Bismillah Kunikahi Suamimu (2023); Budi Pekerti (2023); dan Susuk: Kutukan Kecantikan (2023)– menunjukkan bahwa kalimat aktif dan motivasional sering menampilkan perempuan sebagai agen perlawanan, sedangkan bentuk pasif dan direktif kerap membingkai mereka dalam posisi tunduk atau terbebani secara emosional. Kalimat imperatif digunakan baik untuk menegakkan norma sosial maupun memberdayakan. Verba evaluatif dan negasi mengungkap norma yang terinternalisasi secara halus. Temuan ini menunjukkan bahwa sintaksis sarat ideologi dan tidak bersifat netral. Implikasinya mencakup pelatihan penulisan naskah berbasis kesadaran gender, pengembangan kurikulum bahasa dan media, serta kebijakan media yang mendorong praktik naratif yang lebih inklusif.