p-Index From 2021 - 2026
19.115
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Ulul Albab: Jurnal Studi Islam LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Journal of Educational, Health and Community Psychology Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam AL-Fikr Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN Ta´dib Kalimah Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam An-Nuha : Jurnal Kajian Islam, Pendidikan, Budaya Dan Sosial Jurnal Studi Islam MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Medina-Te : Jurnal Studi Islam Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Syifa al-Qulub : Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama Jurnal Penelitian Ilmiah INTAJ AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism Risâlah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Journal of Islamic Architecture qolamuna : Jurnal studi islam Tasfiyah Substantive Justice International Journal of Law Jurnal Ilmiah AL-Jauhari Jurnal Studi Islam dan Interdisipliner Jurnal al-Ulum : Jurnal Pemikiran dan penelitian ke-Islaman Jurnal Ibn Abbas Tribakti: jurnal pemikiran keIslaman Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora AL-TANZIM : JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM AT-TURAS: Jurnal Studi Keislaman Aqlania TSAQAFAH Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Living Islam: Journal of Islamic Discourses RELIGIA Madinah: Jurnal Studi Islam Asy-Syariah Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Jurnal Penelitian Keislaman El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama Mutawasith: Jurnal Hukum Islam Studia Philosophica et Theologica Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Jurnal Filsafat Indonesia Jurnal Penelitian FiTUA : Jurnal Studi Islam Ulumuna Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam Psikobuletin: Buletin Ilmiah Psikologi TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education An-natiq: Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Kutubkhanah Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Sibatik Journal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Jurnal Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (JASIKA) Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Al-Qur'an Journal of Social Research COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an,Tafsirdan Pemikiran Islam Cakrawala: Jurnal Studi Islam Hunafa: Jurnal Studia Islamika Al Hikmah : Jurnal Studi Keislaman Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin ROSYADA: Islamic Guidance and Counseling Jurnal Pendidikan Islam Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Jurnal Indonesia Sosial Sains Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi) LECTURES: Journal of Islamic and Education Studies AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Islam Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Kartika: Jurnal Studi Keislaman Spiritualita : Journal of Ethics and Spirituality Islamika Inside: Jurnal Keislaman dan Humaniora Muslim Heritage Setyaki : Jurnal Studi Keagamaan Islam Religia : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Jurnal Konseling Pendidikan Islam JURNAL ILMIAH GEMA PERENCANA Al'Adalah JOUSIP Dinika: Academic Journal of Islamic Studies. Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman FATHIR: Jurnal Studi Islam Mu'asyarah Quranic Edu El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin Dan Filsafat Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman MOMENTUM : Jurnal Sosial dan Keagamaan Afeksi: Jurnal Psikologi Journal of Education and Teacher Training Innovation (JETTI) Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah Jurnal Riset Pendidikan dan Karakter Jurnal Konseling dan Psikologi Indonesia Midaduna: Journal of Islamic Studies Journal of Psychological Insight Al Fuadiy: Jurnal Hukum Keluarga Islam Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Journal of Islamic Thought and Contemporary Studies At Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Manusia (Al-Insan) Dalam Al-Qur’an Sebagai Khalifatullah Dengan Perspektif Kepribadian Sigmund Freud Rohmatin, Ilma Nur; Soleh, Achmad Khudori
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v5i2.3163

Abstract

Humans are an important object of study to be studied, where humans have various traits and personalities. In this case, human beings become objects as caliphs who will convey scientific and spiritual knowledge to other humans. The purpose of this study is to correlate the teachings in the Qur'an with psychological science, especially in terms of human personality. The methods used are the literature study method and maudhu'i. The results of this research are (1) Al-Insan is positioned as a khalifatullah who will spread knowledge, spirituality and intellectual. (2) As a khalifatullah, human attitudes can be connected with Fredu's personality theory, namely that there is an Id that comes from the desire or desire of humans to do something. The ego that will make man realize his desires with a good or bad response as a leader in making Superego decisions that come from his morality habits, which will shape his ego.
Hubungan Al-Ins dan Al- Jinn dalam Perspektif Al-Qur’an Umam, Reza Wasilul; Soleh, Achmad Khudori
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 1 (2023): APRIL - SEPTEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i1.19756

Abstract

Allah SWT dalam menciptakan makhluk, ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Di antara makhluk yang tampak ialah manusia, sedangkan makhluk yang tidak tampak ialah jin. Al-Qur‟an sendiri memberi perhatian yang besar terhadap jin dan manusia, terbukti banyak ayat yang menyebut kedua kata tersebut dan menjelaskan haliyah kedua makhluk tersebut. Selain itu, kedua kata tersebut dijadikan salah satu nama surat dalam al-Qur’an. Lebih-lebih jin sebagai makhluk gaib yang setiap orang bertakwa wajib mempercayainya. Kajian ini sangatlah penting untuk dipelajari lebih dalam karena merupakan hal yang harus diyakini dan dibedakan anatara fungsi manusia dan jin dimuka bumi. Tujan penelitian ini adalah melihat secara seksama hubungan antara jin dan manusia (lafadz al-ins dan al-jin) didalam al-Quran yang sering digadengkan. Metode yang digunakan dalam penelitian  ini adalah metode penelitian kepustakaan dengan menggunakan Al-ur’an dan tafsir sebagai rujukan utama dan jurnal penelitian terdahulu sebagai tambahan informasi. Hasil dari penelitian ini adalah (1) jin dan manusia merupakan makhaluk allah yang memiliki tugas yang sama dengan berbagai hubungan dan persamaan-persamaan sifat dari jin dan manusia. (2) manusia adalah makhluk allah yang sempura dengan dibekali akal dan menjalankan tugas sebagai khalifah dibumi. (3) jin adalah mahluk Allah yang akan menjadi penggiring manusia untuk lengah terhadap perintah Allah sampai hari kiamat.   Keywords: Jin, Manusia, Al-Qur’an
PEMIKIRAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS TENTANG ISLAMISASI BAHASA SEBAGAI LANGKAH AWAL ISLAMISASI SAINS Soleh, A. Khudori
LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 5, No 1 (2010): LiNGUA
Publisher : Laboratorium Informasi & Publikasi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/ling.v5i1.609

Abstract

Naguib’s Islamization of science is a response to negative impacts of modern science progress (the West) which according to him is not based on Islamic world view. This has an impact on epistemological aspects, so that it can not be used as a method of scientific development in Islamic science. Therefore, there should be reformation of ontology and epistemology to get harmony and usefullness for the development of Islamic sciences. According to Naguib, world view of Islam is monotheism, unity, integration between psyche and physical, spiritual and material, even the spiritual aspect is more important. Based on this, the source of knowledge is not just the material of objects but the meaning of the object, so that knowledge does not fall on positivistic, materialistic and empiric. The method of achieving knowledge is done through the power of observation, rational thought, interpretations of revelation and intuition. The methods are not contradictory but complementary. As the first step of Islamization of science, which change the aspect of metaphysics (world view) and epistemology, according to Naguib, can be started by Islamization of language
Mencermati Gagasan Islamisasi Ilmu Faruqi Soleh, Achmad Khudori
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v4i2.4630

Abstract

Due to the secular paradigm, modern (Western) knowledge becomes dry, even apart from the monotheistic or theological values. Consequently, modern science sees nature and man as mere material and incidental existence without God's interference, so that it can be exploited without calculation. This paper reviews the idea of Faruqi bringing together the secular and Western paradigm in the birth of modern monotheistic scholarship. The Islamization program of Faruqi science emphasizes on the total overhaul of western social science because it is considered Eurocentric. The steps of Islamization of the given science and its criticism of the reality of Islamic education is a major contribution to the reform of the Islamic education system. The ideas that need to be conveyed are first, the relevance of Islam in every field of science. Second, the principle of the unity of truth and knowledge. Thirdly, objective criteria in providing an epistemological basis for the natural and social sciences today are mistaken. Fourth, the discipline of science is not regulated and appears immediately. Akibat paradigma yang sekuler, pengetahuan modern (Barat) menjadi kering, bahkan terpisah dari nilai-nilai tauhid atau teologis. Akibatnya, sains modern melihat alam dan manusia hanya sebagai material dan insidental yang eksis tanpa interfensi Tuhan, sehingga ia bisa dieksploitir tanpa perhitungan. Tulisan ini mengulas gagasan Faruqi mempertemukan paradigma sekuler dan Barat dalam melahirkan keilmuan modern yang bertauhid. Program Islamisasi ilmu Faruqi menekankan perombakan total atas keilmuan sosial barat karena dianggap bersifat Eurosentris. Langkah-langkah Islamisasi ilmu yang diberikan dan kritiknya terhadap realitas pendidikan Islam merupakan sumbangan besar bagi perombakan sistem pendidikan Islam. Gagasan yang perlu di sampaikan adalah pertama, relevansi Islam di setiap bidang ilmu pengetahuan. Kedua, prinsip kesatuan kebenaran dan pengetahuan. Ketiga, kriteria objektif dalam memberikan basis epistemologi bagi ilmu alam dan sosial saat ini dirasa keliru. Keempat, disiplin ilmu tidak diatur dan muncul serta merta.
Konsep Seni dan Keindahan M. Iqbal Soleh, A. Khudori
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i1.4595

Abstract

Generally, art work is divided in two great sects: expressionism and functionalism. The first sect is based on the interest in the art itself, whereas the second sect links its work to others, such as social problem in the surroundings. The art concept of Iqbal seems to adopt two sects, expressionism and functionalism. With expressionism,-Iqbal asserted that an art must constitute a creation of creativities and be originally from the artist him/herself not from a repetition or imitation. On functionalism, Iqbal stated that an art is not free from the certain purposes which must be morally achieved.-Finally, based on his own concept, Iqbal maintains certain criteria and purposes which have to be in an art work. Those criteria are: 1) art must be a creative work, and 2) the creativities must be original and not the result of plagiarism. In addition, the purposes and the functions that must be guaranteed are: 1) to create the missing thing to the life in hereafter or immortality, 2) to give cultivation for human being in the world, and 3) to give motivation for people progression.  Umumnya, karya seni terbagi dalam dua sekte besar: ekspresionisme dan fungsionalisme. Sekte pertama didasarkan pada kepentingan dalam seni itu sendiri, sedangkan sekte kedua menghubungkan pekerjaannya dengan orang lain, seperti masalah sosial di sekitarnya. Konsep seni Iqbal tampaknya mengadopsi dua sekte, ekspresionisme dan fungsionalisme. Dengan ekspresionisme, -Iqbal menegaskan bahwa sebuah seni harus merupakan penciptaan kreativitas dan berasal dari seniman itu sendiri bukan dari pengulangan atau tiruan. Pada fungsionalisme, Iqbal menyatakan bahwa sebuah seni tidak terlepas dari tujuan tertentu yang harus dicapai secara moral.-Akhirnya, berdasarkan konsepnya sendiri, Iqbal mempertahankan beberapa kriteria dan tujuan yang harus ada dalam sebuah karya seni. Kriteria tersebut adalah: 1) seni harus menjadi karya kreatif, dan 2) kreativitas harus asli dan bukan hasil plagiarisme. Selain itu, tujuan dan fungsi yang harus dijamin adalah: 1) Menciptakan hal yang hilang bagi kehidupan di akhirat atau keabadian, 2) memberi kultivasi bagi manusia di dunia, dan 3) memberi motivasi bagi perkembangan orang. 
Teologi Antropomorfistik: Alternatif Pemikiran. Menyelesaikan Tindak Kekerasan Soleh, Achmad Khudori
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v4i3.5167

Abstract

Normatively, none of the religions advocate us to encourage their followers to engage in violence against their different peers and followers of other religions. However, historically-factually, violence is often a religious community. This paper tries to see the root of the problem that can encourage the occurrence of violence and provide alternative thought. Theocentric theological thinking has caused people to be ignorant of factual-empirical conditions, not knowing others, not even knowing themselves. This has caused the people  blindly defend their religious conceptions. Therefore, theocentric theology should be overhauled and drawn into anthropocentric theology (theology of humanity), so that the faithful can understand it, understand its environment, and pervade the pluralistic empirical conditions. At the same time, it is necessary also between the sacred normative region and the profane historical territory, so as to see where the standard teachings and which products of thought are changing and can be criticized. Thus the community can dialog and can cooperate with others well, open and wholeheartedly. Secara normatif, tidak ada satupun agama yang menganjurkan kita untuk mendorong pemeluknya untuk melakukan kekerasan, baik terhadap sesamanya yang berbeda pandangan maupun pada pengikut agama lain. Namun, secara historis-faktual, tidak jarang tindak kekerasan dilakukan komunitas yang agamis. Tulisan ini mencoba melihat akar persoalan yang bisa­ mendorong terjadinya tindak kekerasan dan memberikan pemikiran alternatifnya. Pemikiran teologis yang teosentris telah menyebabkan masyarakat tidak kenal kondisi faktual-empiris, tidak kenal orang lain, bahkan tidak kenal dirinya sendiri. Hal ini menyebabkan masyarakat pemeluknya secara membabi buta membela konsep-konsep keagamaaannya. Karena itu, teologi teosentris (ketuhanan) harus dirombak dan ditarik menjadi teologi antroposentris (teologi kemanusiaan), sehingga umat agama bisa memahami dlirinya, memahami lingkungannya clan mernahami kondisi empirik yang pluralistik. Bersamaan dengan itu, perlu pula antara wilayah normatif yang sakral dan wilayah historis yang profan, sehingga bisa melihat mana ajaran yang baku dan mana produk pemikiran yang berubah dan bisa dikritik. Dengan demikian masyarakat bisa berdialog clan bekerja sama clengan  orang lain  secara baik, terbuka clan lapang dada.
Synergy to Strengthen the Quality of Islamic Education in Achieving Sustainable Development Goals (SDGs) Chabibi, Chamim; Khudori Soleh, Achmad; Tharaba, M. Fahim; Asy'arie, Bima Fandi; Bunayar
Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education Vol. 6 No. 1 (2025): Integrative Islamic Education
Publisher : Pascasarjana Universitas KH. Abdul Chalim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/tijie.v6i1.1395

Abstract

This research aims to understand and analyze the leadership role of KH. Muhammad Tholhah Hasan is working to improve the quality of Islamic education to achieve sustainable development goals (SDGs). This research is field research with a multisite method and qualitative approach. There were 12 informants involved through interviews, with research locations at the Al-Ma'arif Foundation and the Sabilillah Foundation, Singosari District, Malang Regency, East Java. This research's findings include several roles: First, as the initiator, he sets long-term goals and manages change for educational sustainability. Second is the concept's role, where he carries out comprehensive planning and delegates responsibility to the next generation. Third, in reform, he leads decision-making through deliberation and considers risks to maintain the quality of education. Fourth, his organizational role involves "istikhoroh" and "riyadloh" before making big decisions. Fifth, as an actor, he carries out monitoring and cadre formation for leadership regeneration. Sixth, as a developer, he innovates the curriculum. He discusses with stakeholders how to adapt education to 21st-century skills and SDG goals, focusing on the quality of Islamic education and sustainability. This contribution can encourage the creation of an inclusive society, reduce inequality, and form a generation ready to face various global challenges in an era of rapid technological development.
Konsep Manusia Sebagai An-Nas dalam Al-Qur’an Magfiroh, Norma Hasanatul; Soleh, Achmad Khudori
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i1.521

Abstract

Humans, who are actually the most perfect created creatures, apparently have such complex meanings. Humans tend to be interpreted as social, psychological and biological creatures or even a combination of these things. The aim of this article is to study and explore the concept of humans as An-Nas in the Al-Qur'an. This research uses the literature review method with various sources and analysis used and the Maudhu'i interpretation method by interpreting the Al-Qur'an by collecting several verses that have the same theme and then interpreting them in detail. The writing results show (1) Lafadz An-Nas is mentioned in the Qur'an 251 times which is spread in 86 forms with the same writing model, namely An-Nas. (2) The context of the meaning of the lafadz An-Nas in the Qur'an is generally divided into three, namely showing social groups with their distinctive characteristics, some humans have low qualities, and humans are meant socially, not just individuals. (3) The concept of An-Nas in social society is described as being that humans are creatures that have many dimensions, so they should help each other, respect and help each other, especially in the Unitary State of the Republic of Indonesia.
Sakinah Mawaddah Warahmah Dalam Konsep Seni Islam Sayyed Hossein Nashr Wahyu, Wahyu; Soleh, Achmad Khudori
MU'ASYARAH: Jurnal Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 3, No 1 (2024): Maret
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mua.v3i1.4909

Abstract

Sakinah mawaddah dan warahmah merupakan konsep yang didambakan setiap keluarga, memiliki ketenangan, kasih sayang dan perhatian dari pasangan inilah hakikat dari relasi hubungan keluarga. Dalam seni Islam Sayyed Husein Nasr memiliki konsep diantaranya kedamaian (Tawajjjud), pembebasan jiwa (Tajarrud), penyucian diri (Tadzkiya al-nafs), Fungsi seni yang lain pula ialah untuk menyampaikan hikmah dan sebagai sarana efektif menyebarkan gagasan, pengetahuan, informasi yang berguna bagi kehidupan. dari konsep diatas ditemukan korelasi yang sama yang akan dijabarkan lebih dalam tulisan ini. tujuan Pada penelitian ini akan mengkolaborasikan konsep Sakinah, mawaddah dan warahmah dengan konsep seni Islam Sayyed Husaen Nasr yang kemudian disebut seni mencintai, Metode yang akan digunakan pustaka (library research) dengan pendekatan yang digunakan deskriptif kualitatif, Pada akhirnya hasil dari tulisan ini, (1). memudahkan seseorang atau pasangan untuk membangun relasi keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah kerena sudah menjalani seni Islam, (2). Perpaduan dua konsep ini diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi konflik internal di dalam kelaurga, mengingat kedua pasangan sudah mengaplikasikan seni Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hadirnya problematika keluarga kedua pasangan akan dengan mudah mengendalikan emosional dengan komunikasi dua arah, (3). keluarga akan lebih mendapatkan esensi kedamaian, cinta kasih saying dan tentu kebahagian sesuai dengan konsep Sakinah, mawaddah dan warahmah dalam relasi berkeluarga.
‘Iddah Laki-Laki Dalam Prespektif Integratif Multidisipliner Twin Towers Ahmad Nur Fauzi; Achmad Khudori Soleh
Asy-Syari’ah : Jurnal Hukum Islam Vol. 10 No. 1 (2024): Asy-Syari'ah: Jurnal Hukum Islam, Januari 2024
Publisher : LP3M Universitas Islam Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/assyariah.v10i1.1453

Abstract

Abstract This study discusses the redefinition of 'iddah which is intended for men, 'iddah if it only applies to women is discrimination for women, this is important to study because there has been a rapid development of science, and the feminism movement has spread massively throughout the world, so that this triggers a lot of resistance and demands for everything that discriminates against women. The purpose of this study was to look for the urgency of the presence of 'male iddah in the Twin Towers multidisciplinary integration review. This research method is library reaserch. With data analysis techniques using content analysis. The results of the study found that (1) With a multidisciplinary integration point of view, an approach to the integration paradigm emerged between religious sciences and general sciences, even so, religious science was still laid as the basic foundation. (2) In Islamic law 'iddah is compulsory for women and not compulsory for men, and some argue that the legal basis of 'iddah is a temporal proposition. (3) With a multidisciplinary integrative perspective, there is a function of reflection, and reconciliation. So that 'idddah in a multidisciplinary integrative perspective can apply to women as well as to men. Abstrak Penelitian ini membahas tentang pemaknaan ulang ‘iddah yang di peruntukan bagi laki-laki, ‘iddah jika hanya berlaku untuk perempuan ini merupakan deskriminasi bagi perempuan, hal ini penting untuk dikaji karena telah terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, dan gerakan feminisme telah tersebar secara massif di seluruh dunia, sehingga hal ini memicu banyaknya perlawanan dan tuntutan terhadap segala hal yang mendeskriminasikan perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari urgensi dari adanya ‘iddah laki-laki dalam tinjauan integrasi multidisipliner Twin Towers. Metode penelitian ini adalah library reaserch. Dengan tehnik analisi data menggunakan analisi conten. Hasil penelitian menemukan bahwa (1) Dengan cara pandang integrasi multidisipliner muncul pendeketan paradigma integrasi antara ilmu-ilmu agama serta ilmu-ilmu umum, walaupun demikian tetaplah ilmu agama diletakkan menjadi pondasi dasar. (2) Dalam hukum islam ‘iddah wajib dilaksanakan bagi perempuan dan tidak wajib bagi laki-laki, dan ada yang berpendapat bahwa dasar hukum ‘iddah merupakan dalil yang bersifat temporal. (3) Dengan cara pandang integrative multidisipliner, terdapat fungsi refleksi, dan rekonsiliasi. Sehingga ‘idddah dalam prespektif integratif multidisipliner bisa berlaku untuk perempuan dan juga untuk laki-laki.
Co-Authors Abd. Basid Abdillah, Muhammad Hanif Abdul Hafid Abdul Hakim Abdulloh, Mochammad Sayyid Achmad Beadie Busyroel Basyar Ahmad Barizi Ahmad Hidayat Buang Ahmad Hidayat Buang Ahmad Nadif Muhlisin Ahmad Nadif Muhlisin Ahmad Naweed Rahimi Khamoush Ahmad Nur Fauzi Ahsani, Muhammad Riyan Akbar, Yogi Muhammad Akhmad Sirojudin Munir Alfadhli Alfain, Shinta Nuriya Idatul Alfiesyahrianta Habibie Alfikri, Ahmad Faiz Shobir Ali Farhan, Zinedine Ali Murfi Alif Nur Fitriyani Amalia, Novi Husnatul Amaliya, Risma Nailul Amelia, Asti Anahdiah, Shofia Anindhya Faza Arzaqi Anisa Anisa Annisa Mukti Ningrum Aryani Pamukti Arzaqi, Anindhya Faza Asrori, Moh. Andi Assidiqi, Ali Hasan Asti Amelia Asti Amelia Asy'arie, Bima Fandi Asy-Syarifah, Chodijah Avita Aniqotul 'Athiyyah Azizah, Hana Malihatul Azmi Putri Ayu Wardani Bastomi, Riza Binti Ros Azman, Aina Sofea Bunayar, Bunayar Cahaya Zakia A’yunin Juwita Hanum Cahyati, Lia Camila, Humaida Ghevira Syavia Chabibi, Chamim Cholili, Abd Hamid Dhairobi, Ahmad Diah Qurrotul’ain El Yasmin, Yusroh Erik Sabti Rahmawati Ermawan, Mohamad Zakky Ubaid Erny Fitroh Nabila Muwafiqi Fadil Mas’ud FAHRUL KHARIS NURZEHA Faiqotul Faiqotul Himmah Faizah, Eka Zahrotul Fathurrahman. Mh, A. Fatmawati, Lailil Faza ‘Ainun Najah Fazary, M Fakhry Asa Fuadah, Makkis Ghina Nadia Hakim, Aunul Hakim, M Aunul Hakim, M Aunul Hamzah, Hakma Hanifah, Nor Hannani, Rohmatul Hasan Assidiqi, Ali Hasan, Nor Hasan Hasanah Harahap, Nurizka Hasna Ulfa Nur Laini Hidayatulloh, Muhammad Mahbub Humaida Ghevira Syavia Camila Humaida Ghevira Syavia Camila Imam Syarifudin Imroatus Sholikha Azzuhriyyah Indrawayanti, Rika Dwi Irwan Ahmad Akbar Islamy, Mohammad Fadil Akbar Isnaini, M. Agus jafar, zulkifli Joko Kristanto Karimah Darojat Kholidiyah Salma Lailil Fatmawati Lathifa Budiaty Mawaddah Lukman Hakim Rohim Luthfi, Muhammad Ilzam M Aunul Hakim M Aunul Hakim M Zainuddin M. Agus Isnaini M. Aunul Hakim M. Najich Syamsuddini M. Rifqi Aminul M M. Zainuddin M. Zainuddin, M. Zainuddin Magfiroh, Norma Hasanatul Maharani, Farah Diba Manggala, Kayan Marsuki Marsuki Marsuki Marsuki, Marsuki Maulana, Hafidz Fajar Mawaddah, Lathifa Budiaty Miftahul Huda Moch Yusuf Syakir Pratama Moh. Anang Khumaidi Moh. Andi Asrori Mohamad Zakky Ubaid Ermawan MOHAMMAD ALAUDIN ALEXUMEIN Mohammad Fadil Akbar Islamy Mohammad Nasih Al Hashas Morinawa, Salsabilla Muhammad Abdur Rozaq Muhammad Fahim Tharaba Muhammad Hanif Abdillah Muhammad Nurullah Erfany Muhammad Rafi Yamani Muhammad Riduwan Masykur Muhammad Ubaidilah Mujtahid Mujtahid Mulyadi Mulyadi Munirul Abidin Munirul Abidin Murman, Nawal Aulia Mursyid, Achmad Yafik Musyarrofah, Musyarrofah Mutammimah, Bidayatul Muthohar, Muhammad Amin Muwafiqi, Erny Fitroh Nabila Nada Shobah Nada, Alfaini Zulfa Nafia, Moh Fahmi Ilman Naila Shofia Naila Shofia Nailis Sa'adah Nanda Azzah Salsabila Nauval, Ach. Nauval Afandi Enhas Niki Sutoyib Noor, Rifqi Nazahah Nor Hanifah Nur Fatimah Nuriyyah, Habibatun Nurkhoiriyah, Siti Nurul Hidayah Andarini Pamukti, Aryani Poppy Rachman Rahmat Rahmat Nugroho Rahmat Rahmat Rahmawati, Rizkia Amalia Ramadhani Islami Putri Raya, Moch Khafidz Fuad Rihlatuz Zakiyah Rika Dwi Indrawayanti Riza Bastomi Rizamul Malik Akbar Rizka Lubaba Rodiallah, Alkaf Rohmatin, Ilma Nur Rosyida Nurul Anwar Sa'adah, Nayla Afna Sadiyah, Dini Salam, Nor Saleh Abdul Rahman Al-Senussi Youssef Al-Sanhaji Salim Al Idrus Samanta, Silva Sarah Nur Rahmawati Sayyidin Panatagama, Ahmad Dzulfikar Sayyidin Panatagama Sayyidin Shinta Nuriya Idatul Alfain Shofia Anahdiah Sidqu Halilintar Al Azkaa Siti Mahmudah Sofia, Naila Sugeng Santoso Syamsuddini, M. Najich Syihabuddin, Muhammad Tajuddin, M. Reivanut Tanjung, Wahyuditira Taufiqurrahman, Muh. Ula, Atik Halimatul Umam, Reza Wasilul Umam, Yaul Urgenadila, Aulia Vick Ainun Haq Wafi, Hasan Abdul Wahda, Maziya Rahma Wahyu Wahyu Wahyu Wajdi, Muhammad Fasih Wardah Wardah Nailul Qudsiyah Wardani, Azmi Putri Ayu Waty, Dwi Septiana Khofida Wulan Nur Diana Yadi Fajri Yamani, Muhammad Rafi Zainuddin Zainuddin Zainuddin, M Zakiyah, Rihlatuz Zaman, Jamrud Qomaruz ‘Afifah Nailur Rohmah ‘Aliyah Usman, Nurul