Penelitian ini mengkaji konsep bahasa sebagai sistem simbol dan tanda dalam pemikiran linguistik klasik dan kontemporer. Kajian difokuskan pada tradisi linguistik Arab klasik yang diwakili oleh Sibawaih dan Al-Khalil, serta pemikiran modern Barat yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, dan Umberto Eco. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-kualitatif dan analisis komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam tradisi klasik, bahasa dipahami sebagai sistem yang terstruktur dan normatif dengan legitimasi otoritatif dalam menjaga stabilitas makna, khususnya dalam konteks teks keagamaan. Sebaliknya, pendekatan modern memandang bahasa sebagai sistem tanda yang bersifat arbitrer dan relasional, di mana makna dibentuk melalui konvensi sosial dan dinamika ideologis. Pemikiran Barthes dan Eco memperluas fungsi tanda linguistik dalam analisis budaya, media, dan wacana, sehingga bahasa dipahami sebagai mekanisme produksi dan negosiasi makna dalam masyarakat. Sintesis kedua pendekatan tersebut menawarkan kerangka konseptual yang relevan bagi pengembangan pedagogi bahasa, terutama dalam membangun literasi kritis, kesadaran simbolik, dan kemampuan interpretatif peserta didik. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan kurikulum bahasa Arab yang lebih integratif, reflektif, dan kontekstual sesuai tuntutan abad ke-21. Kata Kunci: Bahasa, Sistem Tanda, Linguistik Klasik, Semiotika, Pendidikan Bahasa