Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika manajemen kas daerah pada BPKPD Provinsi Sulawesi Barat dalam merespons tekanan likuiditas operasional akibat ketidaktercapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun anggaran 2025. Penelitian ini bermaksud merumuskan strategi manajerial yang adaptif dan berkelanjutan guna menjaga resiliensi fiskal daerah. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis kebijakan deskriptif. Studi kasus dilakukan pada BPKPD Provinsi Sulawesi Barat dalam fungsinya sebagai Bendahara Umum Daerah (BUD). Data bersumber dari dokumen APBD Sulawesi Barat 2025, Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Sulawesi Barat 2025, dan Laporan Arus Kas (LAK) Sulawesi Barat tahun 2025, yang divalidasi melalui teknik triangulasi dokumen dan praktik manajerial di lapangan. Hasil Temuan penelitian menunjukkan bahwa tekanan likuiditas APBD tahun 2025 dipicu oleh rendahnya realisasi PAD yang hanya mencapai 77,12%, sehingga menyebabkan penurunan neto kas sebesar Rp36,10 miliar. Kondisi ini menciptakan timing mismatch antara penerimaan dan belanja wajib yang kaku. Strategi manajerial yang terbukti efektif dalam menjaga saldo kas akhir pada level aman (Rp5,09 miliar) adalah penerapan cash-constrained control melalui pengendalian Surat Penyediaan Dana (SPD) yang selektif, penetapan skala prioritas pembayaran, serta penjadwalan ulang belanja non-prioritas. Implikasi Secara praktis, penelitian ini membuktikan bahwa strategi yang telah diambil oleh BPKPD Sulawesi Barat telah menghindarkan APBD Sulawesi Barat 2025 dari defisit dan menjaga likuiditasnya sepanjang tahun. Meski begitu, penjadwalan ulang pembayaran kepada beberapa pihak ketiga.