This study aims to describe the strategy for developing emotional intelligence through moral education at the 17 Agustus Samplagan Gianyar Bali Islamic Boarding School Foundation. The focus of the study is on how moral values are integrated into the learning process, habituation, and daily activities of students so as to form emotional intelligence comprehensively. The method used is a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the Islamic boarding school implements several main strategies, including teacher role models in daily behavior, habituation of manners and morals from waking up to going to bed again, spiritual strengthening through routine worship activities, and the integration of moral values into co-curricular and extracurricular activities. Arts, sports, debate, scouting, and student organizations are effective forums for developing communication skills, self-confidence, emotional resilience, and the ability to work together. Through these various activities, students learn to manage emotions, understand themselves, respect others, and resolve conflicts wisely. Overall, this study concludes that moral education implemented holistically in Islamic boarding schools plays a significant role in shaping students' emotional intelligence. The strategies implemented not only instill moral knowledge but also internalize these values through direct experience in Islamic boarding school life. Thus, the 17 Agustus Samplagan Gianyar Bali Islamic Boarding School Foundation has succeeded in creating an educational environment conducive to the development of mature, noble-minded students with strong emotional intelligence. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pengembangan kecerdasan emosional melalui pendidikan akhlak di Yayasan Pondok Pesantren 17 Agustus Samplagan Gianyar Bali. Fokus penelitian terletak pada bagaimana nilai-nilai akhlak diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, pembiasaan, dan kegiatan keseharian santri sehingga mampu membentuk kecerdasan emosional secara komprehensif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren menerapkan sejumlah strategi utama, meliputi keteladanan guru dalam perilaku sehari-hari, pembiasaan adab dan moral sejak bangun hingga tidur kembali, penguatan spiritual melalui kegiatan ibadah rutin, serta pengintegrasian nilai akhlak ke dalam kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan seni, olahraga, debat, pramuka, dan organisasi santri menjadi wadah efektif untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, ketahanan emosional, dan kemampuan bekerja sama. Melalui berbagai aktivitas tersebut, santri belajar mengelola emosi, memahami diri, menghargai orang lain, serta menyelesaikan konflik secara bijaksana. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan akhlak yang diterapkan secara holistik di pesantren berperan signifikan dalam membentuk kecerdasan emosional santri. Strategi-strategi yang dijalankan tidak hanya menanamkan pengetahuan akhlak, tetapi juga menginternalisasikan nilai-nilainya melalui pengalaman langsung dalam kehidupan pesantren. Dengan demikian, Yayasan Pondok Pesantren 17 Agustus Samplagan Gianyar Bali berhasil menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi pembentukan karakter santri yang matang, berakhlak mulia, dan memiliki kecerdasan emosional yang kuat.